← Daftar isi Lukas (3) · bab 29/29

KENAIKAN MANUSIA-PENYELAMAT (4)

Pembacaan Alkitab:

Ef. 1:22, 10; Kol. 1:18; Ef. 1:23; 3:19b;

Ibr. 4:14; 7:26; 2:2; 8:6; 9:15-16; Why. 1:13; 2:1

Dalam berita ini kita akan memberikan satu perkataan kesimpulan tentang aspek subyektif kenaikan Manusia-Penyelamat. Kita telah nampak bahwa di dalam kenaikan-Nya Kristus telah diberikan sebagai Kepala atas segala sesuatu kepada gereja supaya segala sesuatu dapat dipersatukan di bawah satu Kepala di dalam Dia (Ef. 1:22, 10). Sekarang kita akan melanjutkan membahas bahwa Kristus yang naik ini adalah Kepala gereja dan juga Imam Besar di surga.

KEPALA GEREJA, TUBUH-NYA,

UNTUK MENGEKSPRESIKAN ALLAH

DALAM KEPENUHAN-NYA

Dalam kenaikan-Nya Kristus dijadikan Kepala gereja, Tubuh-Nya, untuk mengekspresikan Allah dalam kepenuhan-Nya. Kolose 1:18 mengatakan, ”Dialah Kepala Tubuh, yaitu jemaat.” Menurut Efesus 1:23, Tubuh-Nya adalah kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu. Dalam Efesus 3:19 Paulus membicarakan tentang kita ”dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Semua ke-penuhan ini tinggal di dalam Kristus (Kol. 1:19; 2:9). Melalui penghunian-Nya di dalam kita, Kristus menyalurkan ke-kayaan-Nya yang tidak terduga ke dalam diri kita, supaya akhirnya kita dipenuhi seluruh kepenuhan Allah. Hal ini membuat kita menjadi ekspresi Allah, inilah keadaan gereja yang seharusnya.

Keesaan Kepala dan Tubuh

Sebagai Kepala gereja, Tubuh-Nya, Kristus jelas bersatu dengan Tubuh. Sama seperti di dalam satu tubuh jasmani, kepala dan tubuh adalah satu, demikian juga Kristus — Kepala dan gereja —Tubuh-Nya, keduanya adalah satu. Adalah hal yang tidak masuk akal bila menganggap kepala seseorang tidak berhubungan dengan tubuhnya. Demikian juga, adalah satu hal yang salah bila mengira bahwa sebagai Kepala, Kristus jauh terpisah dari Tubuh. Namun, ada orang yang mengira Kristus jauh dari kita, anggota-anggota Tubuh-Nya. Menurut konsepsi ini, Kepala ada di surga, dan Tubuh ada di bumi. Bagi orang-orang yang memegang kon-sepsi ini, merasa ada satu jarak yang jauh antara Kepala di surga dan Tubuh di bumi. Lalu, bagaimana Kepala dan Tubuh itu dihubungkan? Pemahaman tentang Kepala dan Tubuh yang demikian ini tidak masuk akal.

Di dalam kenaikan-Nya Kristus dijadikan Kepala gereja. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Kepala ada di surga dan Tubuh, gereja, ada di bumi, jauh dari Kepala? Menurut Alkitab, Kepala tidak sendirian di surga tanpa TubuhNya, dan Tubuh tidak berada di bumi tanpa Kepala. Tubuh tanpa Kepala itu menakutkan.

Tidak diragukan lagi, Alkitab mewahyukan bahwa Kristus, Kepala telah naik ke surga. Kita, tentunya, ada di bumi. Lalu, di manakah Kepala dan Tubuh ini — di surga atau di bumi? Kepala dan Tubuh adalah satu dan mem-bentuk satu manusia universal. Tetapi, manusia universal ini ada di surga atau di bumi? Jika Anda mengatakan bahwa Kepala ada di surga dan Tubuh ada di bumi, Anda melakukan satu kesalahan yang serius. Jika demikian keadaannya, apakah yang menggabungkan Kepala dengan Tubuh? Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa Kepala dan Tubuh keduanya ada di surga dan di bumi. Tetapi apakah artinya ini? Apakah ini berarti bahwa kita kadang-kadang ada di surga dan pada waktu lainnya kita ada di bumi?

Dalam menjawab pertanyaan mengenai lokasi Kepala dan Tubuh ini, kita perlu menyadari bahwa hal ini tidak melibatkan unsur ruang dan waktu. Hal-hal materi terikat oleh unsur-unsur ini. Tetapi hal-hal yang ilahi tidak terikat oleh unsur ruang dan waktu. Kristus menjadi Kepala gereja, Tubuh-Nya, jelas bukanlah hal materi; ini mutlak hal ilahi. Hal ilahi tidak terikat oleh unsur ruang maupun waktu. Karena itu, kita perlu nampak bahwa di dalam hayat ilahi dan Roh ilahi, kita, kaum beriman, adalah satu dengan Kristus.

Tubuh adalah satu dengan Kepala di dalam hayat ilahi dan Roh ilahi. Mengenai Kepala dan Tubuh, kita tidak boleh melibatkan ruang dan waktu, karena di sini unsur-unsur itu tidak berlaku. Sebagai anggota-anggota Tubuh di dalam hayat ilahi dan Roh ilahi, kita tidak terpisah oleh ruang atau waktu. Sekarang kita semua ada di dalam Tubuh.

Kita ingin menekankan fakta bahwa hal-hal materi terikat oleh ruang dan waktu, tetapi hal-hal yang ilahi tidak terikat oleh unsur-unsur ini. Misalnya, Tuhan Yesus ber-kata, ”Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia, yang tetap ada di surga” (Yoh. 3:13, Tl.). Di sini Tuhan mengatakan bahwa meskipun Dia telah turun dari surga, namun Dia tetap ada di surga. Ini berarti sewaktu Dia ada di bumi, Dia tetap ada di surga. Menurut tubuh jasmani-Nya, Dia ada di bumi ketika Dia mengucapkan kata-kata ini. Tetapi menurut keilahian-Nya, yang tidak terikat oleh unsur ruang dan waktu, Dia tetap ada di surga.

Dalam kehidupan gereja kita tidak boleh memandang Kepala dan Tubuh dari sudut pandang jasmani. Sebaliknya, kita perlu memandang Kepala dan Tubuh dari sudut pandang ilahi. Menurut sudut pandang ilahi, kita adalah satu dengan Kristus yang naik, dan kenaikan-Nya juga kenaikan kita (Ef. 2:6). Di sini dalam kenaikan, kita mengekspresikan Dia dalam kepenuhan-Nya.

Kepenuhan Kristus Menjadi Ekspresi-Nya

Efesus 3:19 membicarakan tentang kita dipenuhi menjadi seluruh kepenuhan Allah, dan 1:23 mengatakan bahwa gereja, Tubuh-Nya, adalah kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu. Kita sudah sering kali menunjukkan bahwa kepenuhan ini adalah hasil, akibat dari menikmati kekayaan Kristus (Ef. 3:8). Melalui menikmati kekayaan Kristus, kita menjadi kepenuhan-Nya untuk mengekspresikan Dia. Bila kita menikmati Kristus, maka akan ada satu hasil dari kenikmatan ini. Hasil dari menikmati Kristus adalah kepenuhan, dan kepenuhan ini adalah kehidupan gereja yang tepat. Dalam kehidupan gereja, yang adalah kepenuhan Kristus, gereja mengeks-presikan Kristus. Ekspresi Kristus di dalam gereja ini ada di dalam sifat ilahi dan ruang lingkup ilahi.

Dari hal ini kita nampak bahwa kenaikan Kristus sangat berhubungan dengan kita. Di dalam kenaikan-Nya, kita menjadi satu dengan Dia. Lagi pula, di dalam kenaikan-Nya, bukan hanya dalam kebangkitan-Nya, Dia adalah Kepala kita dan kita adalah Tubuh-Nya. Perjanjian Baru tidak mengatakan bahwa di dalam kebangkitan Kristus Allah menjadikan Dia Kepala gereja. Melainkan, Alkitab mewahyukan bahwa di dalam kenaikan-Nya Allah menjadikan Kristus Kepala gereja, Tubuh-Nya.

IMAM BESAR DI SURGA

Dalam kenaikan-Nya Kristus juga dijadikan Iman Besar di surga. Ibrani 4:14 mengatakan, ”Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah.” Tuhan datang dari Allah kepada kita melalui inkarnasi, dan kemudian Dia pergi kem-bali kepada Allah dari kita melalui kebangkitan dan kenaikan untuk menjadi Imam Besar kita untuk memikul kita di hadirat Allah dan memenuhi semua keperluan kita (Ibr. 2:17-18; 4:15). Karena itu, Ibrani 7:26 mengatakan, ”Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga.” Di dalam kenaikan-Nya Kristus telah melampaui segala langit; sekarang Dia bukan hanya ada di surga (Ibr. 9:24), tetapi juga jauh lebih tinggi daripada surga, jauh di atas semua langit (Ef. 4:10). Di dalam kenaikan-Nya Dia dilantik ke dalam tugas keimaman-Nya. Ketika Dia ada di bumi, Dia tidak melaksanakan ministri keimaman-Nya seperti yang sekarang sedang dilakukan-Nya di surga.

Merawat Gereja-gereja

Adalah bermakna bahwa dalam kitab Wahyu Kristus mula-mula tidak diwahyukan sebagai Pelaksana pemerintahan melainkan sebagai Imam. Wahyu 1:13 mengatakan, ”Di tengah-tengah kaki pelita itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki.” Di satu pihak, Kristus adalah Imam Besar yang menjadi juru syafaat di surga bagi gereja-gereja (Ibr. 7:25-26; Rm. 8:34); di pihak lain, Dia adalah Imam Besar yang berjalan di antara gereja-gereja untuk merawat mereka. Dalam Wahyu 1:13 Kristus digambarkan sebagai Imam Besar, seperti yang diperlihatkan oleh jubah yang panjangnya sampai kaki, yaitu jubah seorang imam (Kel. 28:33-35).

Visi pertama tentang Kristus dalam kitab Wahyu yang tercatat dalam pasal 1 adalah tentang Imam Besar berpakaian jubah imam. Sebagai Imam Besar, Kristus sedang be-jalan di antara kaki-kaki dian dan merawat mereka, khususnya memperhatikan cahaya dian-diannya. Kemudian dalam pasal 8 Kristus diwahyukan sebagai Imam yang mempersembahkan ukupan di atas mezbah emas: ”Seorang malaikat lain datang, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Kepadanya diberikan banyak dupa untuk dipersembahkan bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu” (ay. 3). Jadi, dalam Wahyu 1 Kristus diwahyukan sebagai Imam yang memperhatikan kaki-kaki dian, dan dalam pasal 8 Dia diwahyukan sebagai Imam yang mempersem-bahkan ukupan kepada Allah. Tentu, dalam pasal 5 Dia diwahyukan sebagai pelaksana pemerintahan atas alam semesta ini. Bagi alam semesta ini Kristus bukanlah Imam; Dia adalah Pelaksana pemerintahan. Tetapi bagi gereja Kristus adalah Imam Besar. Sebagai Dia yang telah naik ke surga, Dia sekarang hidup, bekerja, dan melayani sebagai Imam.

Memikul Kita dan Menopang Kita

Imam Besar dalam Perjanjian Lama melambangkan Kristus sebagai Imam Besar kita. Menurut kitab Keluaran, Imam Besar ini membawa nama-nama kedua belas suku Israel pada bahu dan dadanya: ”Haruslah kauambil dua permata krisopras dan mengukirkan nama para anak Israel pada permata itu, enam dari nama mereka itu pada permata yang pertama dan keenam nama lagi pada permata yang kedua, menurut urutan kelahirannya . . . Harun membawa nama mereka di atas kedua tutup bahunya menjadi tanda peringatan” (Kel. 28:9-10, 12). Nama-nama dari kedua belas suku itu juga diukirkan pada dua belas batu yang ada pada tutup dada emas yang dipakai oleh Imam Besar: ”Sesuai dengan nama para anak Israel, permata itu haruslah dua belas banyaknya; dan pada tiap-tiap permata haruslah ada, diukirkan seperti meterai, nama salah satu suku dari yang dua belas itu . . . Demikianlah di atas jantungnya harus dibawa Harun nama para anak Israel pada tutup dada pernyataan keputusan itu, apabila ia masuk ke dalam tempat kudus, supaya menjadi tanda peringatan yang tetap di hadapan TUHAN” (Kel. 28:21, 29). Nama-nama yang diukirkan pada batu krisopras dan batu-batu pada tutup dada menandakan bahwa Imam Besar selalu membawa nama-nama umat pilihan Allah di hadapan Allah. Hari ini Kristus ada-lah Imam Besar kita, dan kita ada pada bahu-Nya dan pada dada-Nya. Dia ada di surga sebagai Imam Besar yang memi-kul kita dan menopang kita.

Sebagai Imam Besar, Kristus juga sedang mengasuh kita. Dia itu ”Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah” (Ibr. 2:17), Imam Besar yang dapat ber-simpati kepada kelemahan-kelemahan kita (Ibr. 4:15).

Meskipun Kristus sebagai Imam Besar sedang mengasuh kita, tetapi kita memiliki pemikiran dan perasaan kita sendiri mengenai bagaimana Dia seharusnya mengasuh kita. Misalnya, kita ingin sehat dan panjang umur. Bahkan kita mungkin tidak puas jika kita hidup sampai seratus tahun. Jika kita mencapai usia seratus tahun, kita mungkin mendambakan untuk hidup sampai seratus dua puluh tahun. Namun, sering kali cara Tuhan merawat kita itu berbeda dengan apa yang kita dambakan. Karena itu, kita mungkin mengeluh dan berkata, ”Tuhan, mengapa kelihatannya Engkau tidak memperhatikan kesehatanku? Aku sakit dan aku berdoa untuk kesembuhan. Tuhan di manakah kekuatan-Mu? Di manakah penyembuhan-Mu? Tuhan mengapa Engkau tidak mendengar aku?” Tuhan mungkin tidak men-jawab doa untuk kesembuhan. Dalam pengasuhan-Nya terhadap seseorang, Dia mungkin mengizinkan orang itu meninggal karena penyakitnya. Kita tidak tahu apa yang baik bagi kita, tetapi Tuhan tahu. Dia tahu apa yang diperlukan bagi kehidupan kita di bumi ini.

Kita semua memiliki kedambaan dalam kehidupan kita. Kita mungkin damba menjadi kaya dan memiliki banyak hal materi. Tetapi Tuhan mungkin membiarkan kita menjadi miskin dan mengambil banyak hal dari kita. Demikian juga, kita mungkin damba memiliki anak-anak yang mengasihi Tuhan dan melayani Dia. Orang-orang yang memiliki anak-anak perempuan mungkin berharap agar mereka kelak menikah dengan saudara-saudara yang terbaik dalam gereja. Namun, keadaan anak-anak kita mungkin jauh berbeda dengan apa yang kita dambakan. Jika kita bertanya kepada Tuhan tentang hal ini, Dia mungkin berkata, ”Kamu tidak tahu apa yang terbaik bagimu. Aku tahu inilah jalan yang seharusnya kamu tempuh.”

Mungkin Anda mengira bahwa hal-hal seperti ini tidak berhubungan dengan kenaikan Kristus. Namun, kenaikan Kristus sesungguhnya berhubungan dengan hal-hal ini. Kenaikan Tuhan meliputi keimaman-Nya. Sebagai Dia yang telah naik, Dia adalah Imam Besar yang memikul kita, menopang kita, dan mengasuh kita. Namun, apa yang baik bagi kita bukanlah hal yang berasal dari penafsiran kita, melainkan berasal dari Dia. Misalnya, Anda mungkin membeli sebuah mobil baru, berharap mobil itu dapat dipakai selama bertahun-tahun. Tetapi pendapat Tuhan tentang hal ini ada-lah mobil Anda harus rusak dalam waktu yang sangat singkat. Jika Anda datang kepada saya dan berkata, ”Aku membeli sebuah mobil baru. Namun beberapa minggu kemudian, terjadi kecelakaan. Mengapa hal ini terjadi? Tidak-kah Tuhan tahu bahwa saya akan mengalami kecelakaan dan mobilnya akan rusak? Karena Dia tahu hal ini, mengapa Dia membiarkan aku membelinya? Mengapa Dia tidak menghentikan aku?” Tentunya, saya tidak dapat menjelaskan mengapa demikian. Hanya Tuhan yang tahu alasannya; karena Dia adalah Imam Besar.

Umumnya bila saya menerima surat-surat dari kaum saleh yang menanyakan kepada saya mengenai keadaan mereka, saya mengesampingkan surat-surat itu. Alasan saya mengesampingkan surat-surat itu adalah saya bukan Imam Besar, dan saya tidak tahu apa yang di hati Tuhan mengenai kaum saleh ini. Saya tidak dapat mengatakan apa-apa kepada-Nya tentang hal-hal itu. Jika saya berusaha mengatakan sesuatu, saya sebenarnya tidak akan dapat membantu kaum saleh ini. Tahun 1930-an, saya memberikan jawaban yang panjang lebar bila ditanya dengan pertanyaan-per-tanyaan yang demikian. Saya banyak berkata-kata karena saya tidak tahu apa-apa, dan karenanya saya berbicara banyak hal dengan takabur. Tetapi sekarang, semakin me-miliki pengalaman terhadap Tuhan dan semakin mengenal-Nya, saya semakin sedikit berkata-kata.

Meskipun demikian, saya dapat mengatakan hal ini: asuhan Tuhan terhadap kita itu selalu positif. Satu hari, kita akan melihat Dia dan menyembah Dia. Ada orang mungkin berkata kepada-Nya, ”Tuhan Yesus, ampunilah aku karena mengeluh kepada-Mu tentang keadaanku. Sekarang aku ta-hu bahwa kehendak Allah itu baik bagiku.” Imam Besar kita mengasuh kita semua dengan baik.

Memperhatikan Kedambaan Allah

Kristus yang naik ini bukan hanya memperhatikan kita dan keselamatan kita, tetapi juga memperhatikan kedambaan Allah. Imam Besar ini lebih memperhatikan kebutuhan Allah daripada kebutuhan kita. Allah menghendaki kaki-kaki dian. Karena itu, Tuhan mendirikan kaki-kaki dian dan membereskan dian-diannya bagi ekspresi Allah (Why. 1:13; 2:1). Pekerjaan ini meliputi pembinaan-Nya terhadap orang-orang kudus dan pembangunan-Nya terhadap gereja. Tuhan sekarang sedang membangun satu kesaksian Yesus yang hidup.

Pelaksana Perjanjian Baru

Sebagai Imam Besar di surga, Tuhan adalah jaminan dan Pengantara dari perjanjian yang lebih baik dan Pelaksana Perjanjian Baru ini. Ibrani 7:22 mengatakan, ”Itulah sebabnya Yesus telah menjadi jaminan dari suatu perjanjian yang lebih baik.” Kristus itu telah menjadi jaminan dari satu perjanjian yang lebih baik berdasarkan fakta bahwa Dia adalah Imam Besar. Ibrani 8:6 mengatakan, ”Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia.” Selain itu, Ibrani 9:15-16 mengatakan, ”Karena itu, Dialah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima warisan kekal yang dijanjikan, sebab sudah ada yang mati untuk menebus pelanggaran-pe-langgaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang per-tama. Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu.”

Dalam ayat 15 terdapat kata ”perjanjian”, dan dalam ayat 16, kata ”wasiat”. Dalam bahasa Yunani kata yang sama dipakai untuk perjanjian dan wasiat. Perjanjian adalah suatu persetujuan yang berisi janji-janji untuk merampungkan hal-hal tertentu bagi orang yang menerima janji, sedangkan wasiat adalah suatu surat mengenai hal-hal yang sudah rampung, yang diwariskan kepada ahli waris. Perjanjian yang baru yang dirampungkan dengan darah Kristus bukan hanya suatu perjanjian, lebih-lebih suatu wasiat yang diwariskan kepada kita dengan semua hal yang telah dige-napkan oleh kematian Kristus. Mula-mula Allah memberikan janji bahwa Dia akan membuat satu perjanjian yang baru (Yer. 31:31-34). Kemudian Kristus mencurahkan darah-Nya untuk mengabsahkan perjanjian itu (Luk. 22:20). Karena ada fakta-fakta yang telah digenapkan di dalam perjanjian ini, maka perjanjian ini juga adalah suatu wasiat. Wasiat ini telah diteguhkan dan diberlakukan oleh kemati-an Kristus, dan sekarang perjanjian ini sedang dilaksanakan oleh Kristus dalam kenaikan-Nya.

Imam Besar kita sedang mendirikan kaki-kaki dian dan membereskan dian-diannya. Di dalam pendirian dan pem-beresan ini, Dia juga sedang melaksanakan Perjanjian Baru bagi kita. Perjanjian Baru memiliki banyak warisan, semuanya itu adalah berkat-berkat ilahi yang diwariskan kepada gereja-gereja.

Dalam Alkitab kata ”perjanjian” sama dengan kata modern ”surat wasiat”. Karena itu, Perjanjian Baru adalah satu surat wasiat yang baru bagi warisan kita. Surat wasiat yang baru ini adalah untuk mewarisi berkat-berkat ilahi, termasuk Persona Kristus dan pekerjaan penebusan-Nya yang almuhit. Dia yang mengabsahkan surat wasiat yang baru ini adalah Yesus Kristus, yang telah mati bagi penetapan surat wasiat itu. Sekarang apa pun yang telah Dia tetapkan, telah diwariskan kepada kita dan tersedia bagi kita.

Penetapan suatu surat wasiat dan semua yang diwariskan di dalamnya memerlukan kematian orang yang mem-buat surat wasiat itu. Pada waktu pembuat surat wasiat itu mati, warisan-warisan di dalam surat wasiat itu tersedia bagi orang-orang yang mewarisinya. Puji Tuhan, bahwa Kristus telah mati untuk mengabsahkan surat wasiat itu dan bahwa Dia sekarang ada di surga sebagai Pelaksana yang hidup dari surat wasiat yang telah diwariskan-Nya kepada kita! Bagaimanakah Dia melaksanakan surat wasiat ini? Dia melaksanakan surat wasiat yang baru ini dengan mendirikan gereja-gereja sebagai kaki-kaki dian dan membereskan semua diannya.

Pada saat ini Kristus yang naik itu sedang mendirikan kaki-kaki dian dan merapikan dian-diannya. Saya dapat bersaksi bahwa setiap hari saya berada di bawah pemberesan-Nya karena saya perlu banyak dibereskan. Saya juga menyadari bahwa Dia sedang berjalan di antara gereja-gereja lokal, bahwa Dia sedang mendirikan kaki-kaki dian emas. Dengan melakukan hal ini Dia sedang melaksanakan, menyelenggarakan Perjanjian Baru dengan riil. Setiap ber-kat dalam Perjanjian Baru adalah satu warisan yang diterapkan kepada kita oleh Kristus yang hidup, bangkit, dan naik ini. Inilah Kristus dalam kenaikan-Nya. Puji Dia bahwa kita dapat menikmati Dia dengan cara demikian!

Ministri Kristus sebagai Imam Besar di surga memiliki satu sasaran — Yerusalem Baru. Yerusalam Baru ini akan menjadi perampungan pekerjaan Kristus dalam kenaikan-Nya. Apa pun yang sekarang sedang Kristus kerjakan dalam kenaikan-Nya akan rampung dalam Yerusalem Baru yang akan datang.

?