Daftar isi Dua Belas Bakul (2) · bab 6/12

Simpati Imam Besar

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahankelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa. Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.”

Ibrani 4:15-16

Ketika Tuhan Yesus menempuh hidup di bumi, Dia pernah mengalami berbagai macam pencobaan. Saat Dia menderita, Dia bisa merasakan sengsara; saat Dia disalahpahami orang, Dia bisa merasa sedih, Dia pernah mengalami banyak sengsara, Dia pernah mengalami banyak aniaya. Ketika Dia mengalami berbagai pencobaan, Dia juga memiliki perasaan yang sama dengan kita. Sebab itu, Dia juga turut merasakan kelemahan-kelemahan kita.

Tuhan turut merasakan atau bersimpati kepada kelemahan-kelemahan manusia, tetapi Tuhan tidak pernah bersimpati kepada dosa (Ibr. 4:15). Kalimat “hanya saja Ia tidak berbuat dosa” seharusnya diterjemahkan, “selain dosa”. Tuhan Yesus pernah dicobai dalam berbagai macam perkara, sama seperti kita, kecuali dosa. Dia tidak pernah berkata, “Aku bersimpati kepada kamu yang berdosa, sebab itu, Aku mengampuni kamu,” melainkan Dia menaruh simpati kepada kelemahan daging manusia. Apa yang disebut kelemahan daging manusia? Itu adalah kelemahan bagian jiwa kita. Terhadap kelemahan semacam ini, Dia bisa menaruh simpati. Kita mempunyai penderitaan dalam daging, kita mempunyai penderitaan dalam jiwa, penderitaan-penderitaan semacam ini, bisa mendapatkan simpati Tuhan.

“Turut merasakan kelemahan-kelemahan”, dengan kata lain adalah “menaruh belas kasihan” atau “bersimpati”. Artinya, Dia merasakan apa yang kita rasakan. Pernahkah Anda merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain? Apakah Anda pernah merasa simpati kepada orang lain? Sering kali Anda mungkin membantu orang lain, tetapi Anda tidak merasa simpati kepadanya, Anda tidak merasakan kesengsaraan orang lain. Mungkin ketika Anda melihat kekurangan orang lain, Anda bisa membantu mereka, tetapi Anda tidak merasakan kesengsaraan hidup mereka. Anda melihat orang sakit, Anda mungkin memberi dia makanan, pakaian, melayani dia, tetapi Anda tidak merasakan kesengsaraannya. Di lahir kelihatannya ada kasih karunia, tetapi di batin mungkin sekali tidak ada rasa simpati, tidak merasakan apa yang dia derita.

Tuhan adalah Tuhan perahmat, juga Tuhan yang penuh simpati. Dalam Alkitab ada dua sebutan terhadap Tuhan, satu adalah “Juruselamat” orang berdosa, yang satu lagi adalah “Sahabat” orang berdosa (Mat. 11:19). Juruselamat menyatakan Dia menebus orang berdosa; teman atau sahabat menyatakan Dia berhubungan dengan orang berdosa. Dia turut merasakan segala penderitaan yang dirasakan oleh orang berdosa.

Puji syukur kepada Allah! Tuhan Yesus tidak hanya menjadi Juruselamat orang berdosa, juga menjadi Sahabat orang berdosa! Di sini kita tampak sedikit kekayaan kemuliaan-Nya. Adakalanya Anda mengalami kesulitan, Anda merasa sendirian, banyak wajah orang sekeliling yang membuat Anda kikuk dan serba salah, banyak suara membuat Anda sedih; keadaan di sekeliling Anda, seolah semua berwarna kelabu. Tetapi ketahuilah, saat air bah dan gelombang besar menimpa Anda, Tuhan tidak saja menjadi Juruselamat Anda, juga menjadi Sahabat Anda! Dia bersama Anda merasakan kesulitan, Dia bersimpati kepada Anda, Dia bersama Anda melewati segala situasi.

Bersimpati adalah ciri khas Tuhan ketika hidup di bumi. Dalam Alkitab berkali-kali tercatat Tuhan Yesus bersimpati kepada manusia. Dia bersimpati kepada orang sakit, lalu menyembuhkan mereka. Dia bersimpati kepada orang-orang yang lapar, lalu memecah-mecahkan roti dan mengenyangkan 5.000 dan 4.000 orang. Ketika Dia mendengar orang berteriak, “Anak Daud, kasihanilah aku,” Dia lalu menyembuhkan orang yang buta itu. Ketika Dia melihat keluarga orang yang mati itu menangis, sedih, Dia lalu menyuruh orang yang mati itu bangkit. O, kalau hati kita terbuka, kita akan melihat betapa simpati Tuhan tercurah ke atas diri kita. Sebelum menjadi Juruselamat orang berdosa, terlebih dulu Dia menjadi Sahabat orang berdosa. Kita harus tahu bahwa Tuhan kita datang ke bumi adalah untuk mati. Kalau ini terjadi atas diri kita, kita pasti akan berpikir, amanatku ke sini adalah untuk mati. Asal aku merampungkan amanat untuk mati itu, perkara lain boleh tidak perlu aku urus. Tetapi Tuhan tidak demikian. Meskipun salib sudah lebih dulu dibentangkan di depan-Nya, tetapi sebelum tiba waktu-Nya, ketika Dia menuju ke jalan maut itu, terhadap orang-orang yang Dia temui, yang penuh dengan keperluan itu, Dia selalu menyatakan simpati. O, Tuhan sungguh rahmani!

Untuk menyatakan simpatinya kepada orang lain, seseorang sedikitnya harus memiliki pengalaman. Kalau Anda ingin menyatakan simpati kepada orang lain, Anda harus terlebih dulu pernah mengalami apa yang dialaminya. Kalau Anda tidak pernah sakit, Anda tidak bisa menyatakan simpati kepada orang yang sakit. Kalau Anda tidak pernah sakit gigi, Anda tidak bisa menyatakan simpati kepada orang yang sakit gigi. Kalau Anda tidak pernah sakit kepala, Anda tidak bisa merasakan kesengsaraan orang yang sakit kepala. Kalau diri Anda sendiri tidak pernah merasakan suatu penderitaan, Anda tidak bisa merasakan perasaan yang sama terhadap orang yang merasakannya, Anda tidak bisa turut merasakan kesengsaraan mereka. Sebab itu, kita harus mempunyai pengalaman. Pengalaman membantu kita bersimpati kepada orang lain.

Ada seorang saudari berkata, “Aku mempunyai banyak kesulitan yang susah diatasi, aku mengalami banyak kegagalan. Akhirnya aku meminta petunjuk kepada beberapa orang beriman yang lebih baik daripadaku, tetapi mereka tidak bisa memahami kesulitanku. Seolah-olah mereka terlahir untuk menjadi orang-orang kudus, seolah-olah mereka belum pernah merasakan penderitaan orang yang gagal.” Ini menunjukkan, orang yang tidak mempunyai pengalaman, tidak bisa bersimpati kepada orang lain.

Mengapa Tuhan kita tidak langsung menjadi orang dewasa, begitu Dia datang dari surga? Mengapa harus melalui kandungan seorang perawan, mengalami perawatan orang dan pelan-pelan menjadi dewasa? Untuk apa Dia melewati 30 tahun lebih di bumi, yang penuh penderitaan? Mengapa Dia tidak lahir di bumi tiga hari saja, lalu tersalib merampungkan penebusan-Nya? Semua itu tak lain karena Dia mau bersimpati kepada kita, sehingga Dia mengalami berbagai pembatasan dan penderitaan, Dia disalahpahami, dianiaya, disesah, dipermalukan, diludahi, terakhir mati di atas salib. Dia menderita semuanya ini, untuk mengalami “pahit getir hidup manusia”, sehingga Dia dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan manusia.

Selama 30 tahun lebih Dia hidup sebagai manusia, kemudian ditambah lagi 3 tahun lebih, pergi ke mana-mana memberitakan Injil. Semuanya itu bukan hanya untuk merampungkan amanat dan pekerjaan-Nya, juga untuk menaruh belas kasihan kepada kita, bersimpati kepada kita. Dia harus demikian, baru bisa turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Saat ini, kalau Anda adalah orang yang berhati hancur, penuh dengan bekas-bekas luka; Tuhan kita, saat ini juga bersimpati kepada Anda, turut merasakan kelemahan-kelemahan Anda. Dia tahu kesengsaraan Anda. Dia tidak saja memiliki kasih karunia untuk menolong Anda, Dia pun memiliki hati yang bersimpati kepada Anda. Dia juga merasakan perasaan Anda.

Untuk menyatakan simpati kepada orang, kalau hanya mempunyai pengalaman saja masih kurang. Masih perlu yang kedua, yaitu mempunyai kasih. Ada orang yang sakit bertahun-tahun lamanya; 3 hari rebah, 2 hari istirahat, dia tahu penderitaan sakit. Tetapi dia tidak bisa menyatakan simpati kepada semua orang yang sakit di dunia ini. Dia hanya bisa menyatakan simpati kepada orang yang dikasihinya. Ia memang mempunyai pengalaman, tetapi kekurangan kasih, sehingga tidak bisa menyatakan simpati kepada semua orang. Ketika Tuhan di bumi, Dia bisa menyatakan simpati kepada semua orang, karena Dia tidak saja mempunyai pengalaman, tetapi juga mempunyai kasih.

Pernah sekali, ketika Tuhan Yesus turun dari sebuah bukit, datanglah seorang yang sakit kusta, ia mohon kepada-Nya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat melahirkan aku.” Ketika itu juga, Tuhan mengulurkan tangan-Nya menjamah orang itu dan berkata, “Aku mau, jadilah tahir” (Mat. 8:1-3). Dalam hati-Nya ada tempat bagi orang yang sakit kusta, Dia merasakan sengsaranya sakit kusta. Sebab itu, Dia mengulurkan tangan menjamah orang itu. Tuhan tidak saja mempunyai pengalaman, bahkan hati Tuhan juga penuh kasih.

Setelah ada pengalaman dan kasih, masih belum cukup, perlu yang ketiga, yaitu diri sendiri harus tidak ada perkara, tidak ada urusan; artinya, tidak ada urusan yang terlebih dulu menguasai kita. Sering kali atas diri sendiri terlebih dulu sudah banyak urusan yang menyumbat hatinya sehingga tidak bisa menaruh simpati kepada orang lain. Ada orang berkata, “Bebanku sendiri tidak kuat kupikul, mana mungkin aku menyatakan simpati kepada orang lain?”

Ketika Tuhan Yesus di bumi, Dia mempunyai satu ciri khusus, yaitu Dia melupakan keperluan diri-Nya sendiri. Apa yang tidak Tuhan kerjakan, lebih ajaib dan lebih berarti daripada yang Tuhan kerjakan. Ketika Dia lapar, Dia tidak mengubah batu menjadi roti untuk mengenyangkan diri-Nya. Ketika musuh menangkap Dia, Dia tidak memohon kepada Bapa untuk mengutus dua belas pasukan malaikat menjaga Dia. Hati-Nya tidak pernah memikirkan perkara-Nya sendiri. Dia tidak pernah terjajah oleh urusan-Nya sendiri, sehingga tidak bisa menyatakan simpati-Nya kepada orang. Sering kali diri kita sendiri penuh dengan beban berat, merasakan sengsara. Ketika melihat kesengsaraan orang lain, tidak dapat berbuat apa-apa lagi, hanya membiarkan dia lewat. Tuhan kita tidak demikian, kalau Dia hanya memikirkan diri-Nya sendiri akan tersalib dan betapa berat sengsara salib, Dia setiap hari akan tercengkeram oleh kesengsaraan itu sehingga tidak bisa menaruh simpati kepada orang. Kalau Dia hanya memikirkan bahwa diri-Nya akan mengalami penderitaan yang paling besar, beban penderitaan yang paling berat, maka Dia tidak akan bisa membantu orang lain atau memikirkan orang lain. Tetapi Tuhan sepertinya tidak ada masalah apa-apa. Sehari lewat sehari, kalau bertemu dengan orang sakit, Dia menyembuhkan mereka; bertemu dengan orang miskin, Dia menyampaikan Injil; sepertinya tidak ada beban urusan. Dia sepenuhnya bersimpati kepada orang. Tiap kali Dia bersimpati kepada orang, hati-Nya seperti “kertas yang putih”, coretan apa saja, gambar apa saja, bisa ternyata di atas-Nya. Puji syukur kepada Tuhan, hati-Nya kosong, hati-Nya untuk orang lain.

Dia tidak saja bersimpati kepada orang pada zaman itu, hari ini tetap sama, bersimpati kepada kita. Dia menjadi Imam Besar kita, sekarang di surga Dia turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Apa yang Dia alami lebih sulit berlaksa kali daripada yang kita alami. Kita boleh bersandar kepada-Nya dan memohon kepada-Nya. Ketika Anda mempunyai kesulitan, Dia bersama Anda merasakannya. Dia akan dengan kasih karunia-Nya menunjang Anda, supaya hati Anda mendapatkan damai. Ibrani 4:16 mengatakan, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.”

Sering kali Anda merasakan orang lain tidak menganggap masalah Anda sebagai masalah, juga tidak bisa datang bersimpati dan menghibur Anda. Saat itu, Anda merasakan betapa beratnya beban Anda, betapa pahitnya penderitaan Anda. Tetapi ketahuilah, di surga ada Seorang yang bersimpati kepada Anda. Anda boleh dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, datang kepada-Nya. Di sana ada Orang yang bersimpati dan membelaskasihani Anda, juga merasakan beban Anda. Dia ingin membuat beban berat Anda menjadi ringan. Teman-teman di bumi adakalanya memang bisa membantu meringankan beban berat Anda. Tetapi Teman yang di surga ini, setiap hari siap memikul beban berat Anda. Dia tidak saja dalam perasaan ikut memikul beban berat Anda, bahkan secara riil memikul beban berat Anda. Dia bersimpati kepada Anda, Dia juga memberi karunia kepada Anda. Di surga seolah-olah hanya Anda yang Dia gemari. Dia sangat memperhatikan perkara Anda. Dia adalah Tuhan yang sedemikian! Puji syukur kepada Tuhan, kita mempunyai Tuhan yang demikian.

Terakhir, saya ingin mengatakan, karena Tuhan bersimpati kepada Anda, karena Dia sendiri merasakan apa yang Anda rasakan, maka Dia tidak mungkin membiarkan Anda memikul beban yang tidak bisa Anda pikul. Anda harus ingat, di mana saja Anda berada, Dia selalu beserta dengan Anda, satu perasaan dengan Anda, dan Dia siap memberkati Anda. Dia sangat merasakan setiap kesulitan Anda, Dia bersimpati atas setiap tetes air mata Anda. Sebagaimana Anda tidak tahan, Dia pun merasakan ketidaktahanan Anda.

Marilah kita percaya dan bersandar kepada-Nya, menerima perhentian dari-Nya. Dia mau bersimpati kepada kita, Dia mau merasakan bersama kita. Hari ini, meskipun secara jasmani Dia tidak berada di sini, tetapi ketahuilah, hati-Nya tetap tersedia untuk kita.