Daftar isi Dua Belas Bakul (2) · bab 2/12

Dua Jenis Kurban

Pembacaan Alkitab:

Kejadian 3:7, 21; 2:15; 4:1-8; Roma 8:6-8; Filipi 3:3-4

Kejadian pasal 2 sampai dengan pasal 4 merupakan pasalpasal yang sangat kita kenal. Sering kali, kita memakai beberapa pasal ini untuk memberitakan Injil. Tetapi sebenarnya dalam pasal-pasal ini Allah lebih banyak berbicara kepada anak-anak-Nya daripada berbicara kepada orang-orang yang tidak percaya. Melalui beberapa pasal ini Allah menghendaki kita tampak, sebenarnya jalan apakah yang ditentukan-Nya untuk kita tempuh.

BERUSAHA MENDAPATKAN PERKENAN ALLAH

Setelah Adam berdosa, dia segera mempunyai satu jalan sendiri, mempunyai satu cara untuk menolong dirinya sendiri, yaitu dia mengambil daun-daun pohon ara dan membuat cawat bagi diri sendiri. Daun-daun pohon ara adalah sesuatu yang tumbuh dari tanah, adalah hasil dari pemeliharaan Taman Eden oleh Adam dan Hawa. Dengan perkataan lain, mereka menggunakan hasil karya mereka sendiri untuk menutupi rasa malu mereka. Manusia yang mengetahui bahwa dirinya telah jatuh, mengetahui bahwa dirinya telah berdosa, akan dengan cepat, berdasarkan diri sendiri berpikir untuk menutupinya. Perkara pertama yang dilakukan manusia setelah mereka berdosa adalah ingin berkelakuan lebih baik.

Ketika kita baru percaya Tuhan, kita tidak tampak betapa besar dan dalamnya ruang lingkup kelakuan. Kita mengira bahwa kelakuan adalah harapan manusia untuk berbuat sesuatu guna menyelamatkan diri sendiri. Makna sesungguhnya dari kelakuan di hadapan Allah ialah setelah manusia berdosa, manusia lalu bersandarkan apa yang terbaik yang keluar dari diri sendiri ingin memuaskan hati Allah. Manusia tahu bahwa dirinya itu telanjang, dia tahu bahwa dirinya memalukan, dia tahu bahwa di hadapan Allah dirinya tidak diperkenan, lalu dia bersandarkan diri sendiri mencari akal untuk menutupi diri, dia berusaha berbuat baik demi diri sendiri untuk memuaskan hati Allah.

Ketika manusia sedang berusaha bersandarkan dirinya sendiri, Allah memberikan satu wahyu kepada manusia. Wahyu Allah ialah menggunakan kulit untuk membuat pakaian dan memakaikannya kepada mereka. Di sini Allah tidak saja memperlihatkan kepada manusia bahwa penebusan manusia memerlukan darah, penebusan manusia memerlukan oknum lain yang mati bagi manusia. Allah juga menampakkan kepada manusia bahwa kelakuan manusia tidak dapat menutupi rasa malu manusia di hadapan Allah, kelakuan manusia tidak dapat memuaskan hati Allah. Setelah manusia berdosa, hanya ada satu cara agar manusia dapat diselamatkan yaitu salib, mati.

Pakaian dari kulit, tidak saja menampakkan kepada kita kematian Tuhan Juruselamat, juga menampakkan kepada kita kematian orang dosa. Dua Korintus 5:14 dengan jelas memberi tahu kita, “Jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.” Di sini tidak dikatakan, jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka tidak perlu mati lagi; tetapi di sini mengatakan, “Jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.” Allah membuat pakaian dari kulit untuk dipakaikan kepada Adam dan Hawa; ini berarti di atas diri mereka ada satu kematian. Pada hari Paskah, darah domba dioleskan pada ambang pintu, Allah berkata, “Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu” (Kel. 12:13). Allah membuat pakaian dari kulit untuk dipakaikan kepada Adam dan Hawa, ini memperlihatkan kepada kita bahwa persoalannya tidak hanya mencakup kematian, keselamatan jiwa, pengampunan dosa-dosa kita, juga mencakup kematian orang dosa, beroleh selamatnya orang dosa.

Beroleh selamat tidak hanya berarti dosa kita dibereskan, tetapi juga manusia kita dibereskan. Allah tidak hanya menanggulangi dosa, Allah juga menanggulangi diri manusia kita. Adam dan Hawa makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, itu disebut dosa; Adam dan Hawa mengenakan daun-daun pohon ara untuk membuat cawat, itu disebut kelakuan yang baik dari mereka. Kita harus tahu, “makan buah” adalah hal yang ditolak Allah, demikian pula, “membuat cawat” juga merupakan hal yang ditolak Allah. Manusia berdosa, tidak memperoleh perkenan Allah, manusia bersandarkan diri sendiri melakukan perbuatan baik, juga tidak dapat memperoleh perkenan Allah. Yang diperlukan manusia tidak saja darah, juga kematian.

KURBAN KAIN DAN KURBAN HABEL

Kalau kita memahami Kejadian pasal 3, dengan sendirinya kita akan memahami Kejadian pasal 4. Setelah Adam berdosa, ia menggunakan hasil karyanya — daun pohon ara — membuat cawat untuk menutupi diri sendiri. Apa yang dilakukan Kain, anak Adam, dan apa yang dilakukan Adam adalah sama prinsipnya. Kain mengambil hasil pertaniannya — hasil bumi — untuk dipersembahkan kepada Allah. Apa yang dilakukan Kain juga merupakan apa yang dilakukan Adam. Hanya, yang satu dilaksanakan di atas diri sendiri, yang lainnya dipersembahkan kepada Allah; yang satu ingin bersandarkan kelakuan diri sendiri menutupi diri sendiri, supaya menjadi manusia yang baik, yang lain adalah mengambil hasil pertanian untuk dipersembahkan kepada Allah, supaya mendapatkan perkenan Allah. Secara prinsip, apa yang dilakukan Adam dan Kain adalah sama.

Di pihak lain, dalam Kejadian pasal 3, Allah membuat pakaian dari kulit untuk dipakaikan kepada Adam dan Hawa, ini berarti, salib akan tertimpa atas diri-Nya, kematian akan bekerja atas diri-Nya. Inilah yang diwahyukan Allah kepada Adam. Dalam Kejadian pasal 4, Habel berjalan pada jalan ini. Habel mengambil anak sulung kambing dombanya yakni lemak-lemaknya untuk dipersembahkan kepada Allah. Keistimewaan Habel ialah dia mengenal keperluan salib. Dia mengenal, manusia telah berbuat dosa, manusia harus mati; kalau manusia tidak mati, maka manusia tidak dapat diperkenan di hadapan Allah.

Bagaimanakah hasil persembahan Kain dan Habel? Alkitab memberi tahu kita, “Maka TUHAN mengindahkan Habel dan kurban persembahannya itu, tetapi Kain dan kurban persembahannya tidak diindahkan-Nya.” Mengapa Allah berkenan kepada Habel dan persembahannya, tetapi tidak berkenan kepada Kain dan persembahannya? Ini dikarenakan yang satu adalah menurut cara penyelamatan yang didirikan oleh Allah mendapat perkenan Allah, sedangkan yang lainnya adalah bersandarkan tubuh daging sendiri mendapatkan perkenan Allah.

Persembahan Kain berarti: Meskipun manusia berdosa, jatuh, tetapi tidak perlu mati; aku bersandarkan diri sendiri berbuat, bersandarkan hasil karya diri sendiri mencari perkenan Allah. Pikiran manusia adalah dengan daun-daun pepohonan yang ditanam oleh manusia, manusia dapat menutupi malunya sendiri, dengan hasil pertanian manusia mempersembahkan kepada Allah untuk mendapatkan perkenan-Nya. Kain bersandarkan kelakuan diri sendiri datang ke hadapan Allah, dia tidak melalui mati. Kain mengira dengan bersandar kelakuan ini dapat diperkenan Allah. Tetapi Allah tidak mengindahkan ini, tidak menerima ini.

Persembahan Habel berarti: Ya Allahku, kulit yang Kautentukan, membuat aku bisa menjadi seorang manusia; hari ini aku mengambil lemak yang ada di bawah kulit untuk mendapatkan perkenan-Mu; kulit untukku, lemak untuk-Mu. Kulit dan lemak merupakan hasil adanya kematian, hanya dengan adanya kematian, Habel bisa memperoleh kulit untuk pakaiannya; dan hanya dengan adanya kematian pula, Habel bisa memperoleh lemak untuk dipersembahkan kepada Allah.

BUKAN DI DALAM DAGING, MELAINKAN DI DALAM ROH

Roma 8:7 mengatakan, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Orang yang menuruti keinginan daging, yaitu manusia alamiah, manusia asal, manusia yang terlahir itu, tidak takluk kepada hukum Allah, juga memang tidak mungkin baginya. Tetapi, firman Allah tidak hanya memberi tahu kita bahwa orang milik daging berdosa, juga memberi tahu kita bahwa manusia milik daging ingin berbuat baik; karena dalam ayat 8 masih ada satu perkataan, yaitu “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Ini dengan jelas menyatakan bahwa manusia milik daging juga berusaha mendapatkan perkenan Allah. Tetapi walaupun manusia milik daging berusaha mendapatkan perkenan Allah, sampai akhirnya tetap tidak dapat memperoleh perkenan Allah. Bagaimanapun orang bersandarkan daging melayani Allah, hasilnya tetap tidak dapat memperoleh perkenan Allah. Seperti persembahan Kain, bagaimanapun juga Allah tidak akan berkenan. Hanya satu persembahan yang diperkenan Allah, yaitu salib Anda, kematian Anda, ini di hadapan Allah seperti lemak yang menjadi kurban yang harum.

Karena itu, pelayanan terbesar kita di hadapan Allah, bukanlah berapa banyak kita dapat bekerja untuk Allah, bukanlah berapa banyak keberhasilan pekerjaan untuk Allah, melainkan berapa banyak kita dapat mati. Tetapi ini merupakan hal yang tidak dapat diterima oleh banyak orang yang merasa dirinya benar. Manusia sering menggunakan pekerjaannya sendiri untuk mengukur segala sesuatu, yang mengira bila aku dapat berbuah, bila aku dapat membantu banyak orang bertobat dan percaya kepada Tuhan, maka aku dapat membawa semua ini untuk dipersembahkan kepada Allah. Tetapi kita harus tahu satu hal: Kita tidak dapat bersandarkan pekerjaan kita melayani Allah. Persembahan kurban manusia di hadapan Allah adalah di atas mezbah, dan apa yang ada di atas mezbah adalah mati. Di manakah ada persembahan yang diperkenan Allah tetapi tanpa melalui mezbah? Di manakah ada persembahan yang telah melalui mezbah tetapi masih tetap hidup? Kita harus tahu, kurban-kurban yang dipersembahkan kepada Allah, semuanya telah melalui kematian.

Saudara saudari, mungkin yang kita titik-beratkan adalah kebangunan, banyak orang bertobat, banyak pekerjaan besar. Memang perkara-perkara itu penting, tetapi semua itu bukan yang utama, semuanya itu merupakan kelanjutan, merupakan yang kedua. Yang pertama haruslah saya di hadapan Allah dengan sungguh-sungguh berkata, “Tuhan, aku tahu bahwa aku tidak berguna, aku tahu bahwa aku lemah, aku tahu bahwa aku najis, aku tahu bahwa diriku ini penuh dengan aktivitas nafsu darah daging; karena itu, Tuhan, hanya Kaulah harapanku, perkenan-Mu yang ingin kudapatkan di hadapan-Mu ialah aku rela kalau diriku ini ditaruh di atas mezbah-Mu menjadi satu kurban bakaran.”

Mengambil hasil pekerjaan untuk menggantikan pengenalan akan salib, itulah Kain. Kain memang benar-benar berhasil, benar-benar berbuah, tetapi satu-satunya syarat bagi kurban yang dapat diterima Allah hanyalah mati, dan ini tidak dimiliki oleh Kain. Firman Allah mengatakan, “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Anda boleh saja mencoba mendapatkannya, tetapi pasti tidak akan dapat memperolehnya. Kain boleh mempersembahkan kurban itu, tetapi tidak memperoleh perkenan Allah. Mencari perkenan Allah yang dikatakan beberapa orang, tak lain hanyalah daging; di dalamnya tidak ada tanda salib, tidak ada luka kematian. Tetapi masih ada beberapa saudara saudari yang benar-benar mengenal salib, ketika Anda bersentuhan dengan mereka, Anda dapat merasakan bahwa di sini ada seorang yang telah diremukkan, telah dilukai. Di atas orang ini ada tanda salib, ada suatu pengenalan subjektif, ada suatu tanda pukulan, orang dengan tanda sedemikian adalah orang yang dikehendaki Allah.

Karena itu, yang diperkenan Allah bukanlah pekerjaan, bukan gairah, juga bukan hasil pekerjaan, melainkan semua yang berasal dari Roh Kudus. Allah tidak dapat menerima apa yang dilakukan manusia bagi Allah, Allah hanya dapat menerima apa yang dikerjakan-Nya sendiri. Allah tidak dapat menerima hasil kerajinan manusia untuk-Nya, Allah hanya dapat menerima hasil dari bersandarnya manusia kepada-Nya. Karena itu kita hanya bertelut di hadapan-Nya sambil berkata, “Hamba hanyalah sebatang pipa. Tuhan, hamba harap Engkau mau lewat melalui hamba.” Kalau Anda demikian, Anda akan tampak di sini ada berkat, di sini ada yang diterima Allah.

Paulus berkata, “Sebab kitalah orang-orang bersunat yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak bersandar pada daging” (Tl.). Ini menampakkan kepada kita, saat itu banyak orang yang menggunakan daging beribadah kepada Allah. Adalah mungkin beribadah kepada Allah dengan daging, dan Kain adalah orang yang demikian. Tetapi Allah tidak dapat menerima ibadah daging, Allah hanya dapat menerima ibadah manusia dalam roh.

Kesalahan kita adalah menilai Allah menerima atau tidak dengan baik buruknya pekerjaan. Tetapi Allah tidak bertanya baik atau jelek, Allah bertanya apakah itu berasal dari-Nya. Tidak salah, banyak tujuan anak-anak Allah adalah untuk Allah, tetapi kekuatannya adalah kekuatan mereka. Mereka memiliki satu tujuan yang rohani, tetapi masih menggunakan kekuatan dunia untuk mencapai tujuan itu. Tujuan Kain mempersembahkan kurban adalah benar, seperti Habel, ingin mendapat perkenan Allah. Perbedaan Kain dan Habel terletak pada apa yang dipersembahkan. Kalau kita mengira asal bertujuan untuk Allah, mendapatkan perkenan Allah, melakukan pekerjaan Allah, membuat anak-anak Allah mendapatkan kebangunan, maka segala cara dapat dipakai, — walaupun dalam perkataan tidak dikatakan demikian, tetapi kenyataannya adalah demikian — ini adalah kesalahan yang sangat besar. Kita menggunakan kekuatan diri sendiri untuk melayani Allah, inilah yang disebut daging. Daging adalah kekuatan manusia sendiri, daging adalah kekuatan yang asalnya ada pada manusia. Kalau kita menggunakan kekuatan ini untuk melayani Allah, berarti sama dengan apa yang dipersembahkan oleh Kain.

Jangan mengira tujuan Habel lebih tinggi daripada tujuan Kain. Kita harus tahu, tujuan Habel dan tujuan Kain sama, yaitu mempersembahkan kurban. Perkenan Allah yang diperoleh Habel bukanlah karena tujuannya lebih tinggi daripada tujuan Kain, melainkan karena apa yang dipersembahkan adalah baik. Kurban Habel menyatakan, manusia di hadapan Allah tidak mempunyai kedudukan, manusia tidak dapat berbuat apa-apa, manusia patut mati, manusia tidak seharusnya hidup, manusia di hadapan Allah harus takut dan gentar, manusia di hadapan Allah harus tidak ada sesuatu yang diandalkan. Kurban Habel berkata kepada Allah, “Ya Allah, hamba tahu segala sesuatu yang berasal dari diri hamba sendiri tidak berarti apa-apa, hamba tidak dapat melayani Dikau, hamba hanya dapat bersandar pada hayat-Mu, hamba hanya bisa bersandar kepada Roh-Mu, hamba hanya bisa bersandar kepada hukum hayat dan Roh.” Di bawah keadaan yang demikianlah Habel mempersembahkan kurban, inilah kurban harum yang dapat diterima Allah.

Karena itu saudara saudari, melayani Allah tidak tergantung pada berapa banyak pekerjaan yang dapat kita kerjakan. Anda bekerja belum tentu semuanya untuk melayani Allah, melayani Allah juga tidak berarti perlu bekerja seperti Anda. Yang paling diperlukan dalam melayani Allah ialah salib. Semua masalah ada di sini, “Yang beribadah oleh Roh Allah . . . tidak bersandar pada daging.” Inilah perkataan yang dikatakan Paulus. Perkataan ini, mungkin telah kalian hafal karena sering mendengarnya, tetapi saudara saudari, hari ini sebenarnya kalian berdiri pada posisi apa? Di bawah keadaan apa? Kurban apa yang kalian persembahkan? Saya bukan bertanya, kalian mempersembahkan atau tidak, melainkan apa yang kalian persembahkan. Semua kurban yang diperkenan Allah harus melalui mati. Yang tidak melalui mati tidak dapat dibilang sebagai kurban. Kurban yang tidak melalui mati tidak dapat diperkenan Allah.

PERLU MEMILIKI PENGALAMAN SALIB

Semuanya ini bukanlah berarti, kalau kita datang ke hadapan Allah, kita cukup membawa sikap yang berharap, percaya, menunggu, dan bersandar kepada-Nya saja. Kita harus tahu, sikap kita tidak dapat menggantikan pekerjaan Allah. Mungkin sekali ada saudara atau saudari begitu mendengar berita tentang salib, mereka segera mengubah sikap mereka, yaitu kali lain di hadapan Allah mau belajar sedikit rendah hati, sedikit lembut, sedikit bersandar kepada Allah. Ini belum dapat dikatakan atas dirinya ada tanda kematian. Kita harus tahu, salib adalah satu pekerjaan Allah di atas diri kita. Suatu hari, Tuhan membelaskasihani kita, menerangi kita. Karena penerangan inilah, kita tidak dapat bangun; karena ada penerangan ini, tertinggallah tanda yang kekal di atas diri kita. Hari-hari kemudian, meskipun seolah-olah kita masih dapat bergerak bangun, tetapi setiap kali bergerak, kita merasa sakit, kita merasa tidak mempunyai kekuatan. Sampai pada suatu hari, salib telah melakukan pekerjaannya atas diri kita, membuat kita tidak dapat seperti dulu lagi, yaitu dengan bersandarkan daging ingin mendapat perkenan Allah.

Karena itu, perubahan sikap tidak ada gunanya, harus benar-benar ada pengalaman salib baru berguna. Banyak orang berkeputusan mengubah sikap mereka, tetapi perubahan itu tidak tahan lama, sebentar saja sudah dilupakannya. Begitu masalah datang, kegagahannya kembali muncul; begitu orang-orang memujinya, wajahnya kembali timbul; begitu dia bekerja sedikit baik, dia kembali berjalan dalam kabut. Apakah Anda telah tampak? Apa gunanya berubah sikap sebentar? Memiliki sikap salib, tetapi tidak memiliki pengalaman salib, tidak ada gunanya. Kita harus tahu, terlebih dulu harus ada pengalaman salib barulah menghasilkan sikap itu.

Paulus berkata, “Aku . . . dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar” (1 Kor. 2:3). Dia adalah orang yang mengenal salib, karena itu dia dapat bersikap demikian. Kalau kita berperan seolah sangat lemah, sangat takut dan gentar, lewat tiga sampai lima hari akan lenyap, bahkan diri sendiri pun terlupakan. Kita sungguh mudah jatuh sampai suatu taraf, yaitu memiliki sikap salib, bahkan juga membicarakan teori salib, tetapi tidak ada pengalaman salib. Karena itu, setelah lewat beberapa hari, judulnya pun terlupakan.

Ada seorang saudara berkata, “Dahulu aku juga menyampaikan berita tentang salib, tidak tahu apa sebabnya, sepuluh bulan belakangan ini aku tidak memberitakan judul ini lagi.” Anehkah? Tidak aneh. Kalau hanya sebuah judul saja, setelah lewat beberapa hari akan terlupakan. Kalau Allah di atas diriku telah melakukan satu pekerjaan, Allah sejenak menjamah aku, hasilnya secara wajar aku menjadi orang yang lemah. Bukannya aku berbuat sehingga menjadi seorang yang lemah, melainkan aku adalah seorang yang lemah. Bukannya beberapa hari ini aku meniru Paulus menjadi seorang yang takut dan gentar, melainkan aku adalah orang yang takut dan gentar. Ada satu tanda salib atas diriku, aku telah menjadi seorang yang lain. Orang ini di hadapan Allah ada kurban, orang ini dapat diperkenan Allah.

Seperti pengalaman Yakub di Pniel waktu itu. Sekali pangkal pahanya terpelecok, seumur hidupnya ia timpang. Tetapi banyak orang Kristen walaupun telah jatuh, namun tidak terluka. Mereka sering jatuh tetapi ketika bangun masih dapat berlari. Ketika jatuh ia adalah orang yang demikian; ketika bangun orangnya tetap demikian. Sampai pada suatu kali salib benar-benar bekerja atas dirinya, dia jatuh dan tidak dapat bangun kembali; dan ketika dia bangun kembali, bagaimanapun dia bekerja tidak dapat seperti dulu lagi, ada satu tanda yang tak terhapuskan pada dirinya. Selanjutnya kalau dia mau besar juga tidak dapat menjadi besar. Seorang Kristen yang telah sungguh-sungguh dijamah Allah, tidak dapat lagi bersandarkan diri sendiri menjadi kepala, tidak dapat lagi sombong. Allah mempunyai satu pekerjaan di atas dirinya, dan dia berdasarkan ini mempersembahkan kurban kepada Allah. Inilah yang disebut mati, inilah yang disebut salib.

Terakhir, sekali lagi kukatakan, salib bukan satu doktrin, salib bukan satu ajaran, salib adalah penerangan dari Tuhan. Ketika Allah membuat Anda tampak, Anda tidak akan dapat hidup, inilah salib. Dalam Perjanjian Baru, seperti Petrus, Yohanes, Paulus; dalam Perjanjian Lama, seperti Ayub, Yakub, Daniel, Yesaya, Yehezkiel; semuanya pernah mengalami penerangan Allah secara total. Ketika mereka tampak, mereka tidak dapat hidup lagi, hidup mereka selanjutnya tidak dapat seperti dulu lagi. Inilah salib. Karena terang Allah, Anda tampak diri sendiri, Anda tidak dapat hidup sebagai Anda yang dulu lagi. Inilah salib. Ketika Anda tampak bahwa bahan yang berasal dari diri Anda tidak ada satu pun yang dapat memperoleh perkenan Allah, Anda akan hanya dapat bertelut di tanah. Inilah yang disebut salib. Dengan inilah kita melayani Allah. Bukan dengan yang berasal dari daging, tidak bersandar pada kelakuan diri sendiri, melainkan berasal dari Roh Kudus, bersandar hayat Allah.

Semoga kita semua dapat diselamatkan, terlepas dari doktrin, sungguh-sungguh membiarkan salib bekerja di atas diri kita, sehingga kita dapat mempersembahkan kurban yang dapat diperkenan Allah, menjadi orang yang diperkenan Allah.