Perumpamaan Baru dan Lama
Pembacaan Alkitab:
Lukas 5:27-39; Matius 9:9-17
Pada suatu hari, ketika Tuhan sampai di suatu tempat, Dia melihat Matius di kantor cukai. Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Tuhan. Coba kita renungkan, jika ada orang yang asing bagi kita dan ia berkata kepada kita, “Ikutlah aku.” Apakah kita akan pergi mengikuti dia? Tentu tidak! Namun, di sini ada seorang yang bernama Matius, dia seperti besi yang tertarik pada magnet; dia tidak bisa tidak meninggalkan kehidupannya yang lama, harta yang lama, dan segala sesuatu yang lama untuk mengikut Tuhan. Kita tidak mengerti mengapa perkataan Tuhan demikian berwibawa dan berkekuatan, sehingga begitu Matius mendengar panggilan-Nya, ia tidak dapat tidak meninggalkan dosa-dosanya dan segala sesuatunya. Di sini ada satu orang. Siapa saja yang bertemu dengan Dia, segera bertobat dan beroleh selamat; siapa saja yang mendengar suara-Nya, segera beroleh hayat; dan siapa saja yang mendengar panggilan-Nya, segera pergi mengikuti Dia.
Setelah Matius menjawab panggilan Tuhan, ia lalu mempersiapkan perjamuan untuk menyambut Tuhan. Saat itu datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa untuk makan bersama Tuhan dan murid-murid-Nya. Ketika mereka sedang menikmati perjamuan, orang-orang Farisi dan ahliahli Taurat merasa tidak senang. Pikir mereka, “Mengapa Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya suka makan minum dan bahkan makan minum bersama para pemungut cukai dan orang berdosa?” Tetapi mereka tidak berani secara terangterangan menyalahkan Tuhan Yesus; karena itu mereka bertanya kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Murid-murid tidak mampu menjawab, mungkin mereka juga tidak mengerti mengapa Tuhan Yesus berbuat demikian.
Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Dan kata-Nya pula, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk. 5:32). Inilah tujuan kedatangan Tuhan. Dia bukan secara kebetulan datang ke rumah pemungut cukai untuk makan, juga bukan melihat situasi lalu mengambil keputusan untuk berkumpul bersama pemungut cukai dan orang berdosa untuk makan. Tujuan-Nya tercatat dalam Matius 9:12-13, “Bukan . . . tetapi . . . melainkan . . .” Ini menunjukkan kedatangan-Nya mempunyai tujuan. Ia datang ke dunia dan menjadi manusia dengan satu tujuan. Sebab itu, baik Ia berjalan atau menyembuhkan orang sakit, selalu ada tujuan-Nya. Ia bukannya dengan sembarangan melakukan suatu perkara, bukannya dengan sembarangan berbicara. Kehidupan-Nya seumur hidup tidaklah sembarangan. Maksud Tuhan mengatakan semua itu ialah, “Kamu mengira karena orang berdosa dan pemungut cukai mengundang Aku makan, maka Aku baru berhubungan dengan mereka. Sesungguhnya tujuan kedatangan-Ku dari surga adalah untuk ini. Aku datang untuk memanggil orang berdosa supaya mereka bertobat. Untuk inilah Aku datang. Aku tidak pernah mengubah tujuan-Ku yang sebermula.”
SEBAB MUSABAB PERUMPAMAAN TUHAN
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Mengapa Tuhan berkata demikian? Ini dikarenakan banyak orang tidak mengerti apakah tujuan hukum Taurat. Kita harus tahu bahwa Allah memberikan hukum Taurat kepada manusia bukanlah untuk dipelihara, melainkan supaya manusia sadar bahwa diri mereka tidak mampu memeliharanya. Dalam Galatia 3:19 dikatakan, “Hukum itu ditambahkan karena pelanggaran-pelanggaran.” Allah telah mengetahui bahwa manusia itu berdosa, namun manusia sendiri tidak mengetahuinya. Karena itu, Allah memberikan hukum Taurat supaya manusia mengenal dirinya sendiri, supaya manusia mengetahui bahwa dirinya tidak mampu memelihara hukum Taurat. Apakah Tuhan kita tidak mengetahui hal ini? Kalaupun hukum Taurat akan membuat manusia mengetahui bahwa dirinya tidak mampu melaksanakannya, lalu apakah Anak Allah datang ke dunia malah bertujuan menyuruh manusia memelihara hukum Taurat yang tidak bisa mereka lakukan? Kalaupun hukum Taurat tidak dapat membuat manusia tidak berbuat dosa, lalu apakah Anak Allah malah datang untuk menyuruh manusia melakukan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan? Kalaupun hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan manusia, lalu apakah Allah melalui Anak-Nya menyelamatkan manusia, namun manusia tetap tidak bisa beroleh selamat?
Allah mengutus Anak-Nya datang ke dunia, supaya oleh-Nya manusia bisa diselamatkan. Asalnya kita semua adalah orang yang sakit. Apa yang dilakukan oleh Allah? Allah memiliki dua cara: Pertama, membuat manusia mengetahui bahwa dirinya adalah orang yang sakit. Kedua, membuat manusia mengundang dokter untuk menyembuhkan sakitnya.
Misalnya, ada seorang mengidap penyakit paru-paru, namun ia tidak mengakuinya. Dia malah berkata, “Bukankah tubuhku besar dan gemuk, mana mungkin terkena penyakit paru-paru?” Kalau Anda menasihatinya, “Keadaanmu setiap hari menunjukkan gejala dini dari penyakit paru-paru. Kalau tidak cepat diobati, nanti setelah parah akan sulit diobati.” Tetapi dia tetap dengan tegas menyangkal telah mengidap penyakit paru-paru. Apakah dia benar-benar tidak mengidap penyakit itu? Tidak. Bukan karena dia tidak mengidap penyakit itu, melainkan dia yang tidak mengakui bahwa dirinya sakit. Penyakit orang yang demikian tidak akan dapat disembuhkan. Demikian pula halnya dengan keselamatan kita. Bukannya Allah tidak berdaya dan tidak bisa menyelamatkan, namun kesulitannya ialah manusia tidak mengetahui bahwa dirinya adalah orang berdosa. Sebab itu, terlebih dulu Allah memberikan hukum Taurat, supaya manusia mengetahui bahwa dirinya adalah orang berdosa. Hukum Taurat membuat manusia mengenal dosa, hukum Taurat membuat manusia mengenal dirinya sendiri. Hukum Taurat tidak bisa membuat manusia memperoleh kebenaran, hukum Taurat tidak bisa membuat manusia beroleh selamat.
Prosedur Allah menyelamatkan manusia adalah terlebih dulu memberikan hukum Taurat, setelah itu baru mengutus Tuhan Yesus datang — karunia datang. Ketika dokter menyembuhkan penyakit orang, terlebih dulu ia membuat seseorang mengetahui dirinya mengidap penyakit apa, kemudian baru membuka resep untuknya. Allah memberikan hukum Taurat adalah supaya manusia mengenal bahwa dirinya adalah manusia berdosa; Tuhan menyuruh kasih karunia datang — yaitu menyuruh Tuhan Yesus datang — adalah supaya manusia beroleh kesembuhan. Kalau ada orang dengan tegar tengkuk berkata, “Aku tidak sakit, aku tidak berdosa.” Tuhan Yesus akan berkata, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar” (orang yang menganggap diri sendiri benar). Artinya, Tuhan membiarkan mereka yang menganggap dirinya benar itu memelihara hukum Taurat, menjadi orang Farisi. Manusia harus menerima pertolongan yang pertama baru bisa mendapatkan pertolongan yang kedua. Kalau manusia tidak mau menerima kesaksian yang diberikan oleh hukum Taurat, kalau manusia tidak bisa mendapatkan pertolongan dari hukum Taurat, maka manusia juga tidak bisa mendapatkan pertolongan dari kasih karunia dan kebenaran. Asalnya aku menganggap diri sendiri paling sehat, tetapi setelah dokter datang memeriksa, mengukur suhu badanku, meneliti dengan cermat, ia memberi tahu bahwa aku sedang sakit. Dulunya aku menganggap diri sendiri adalah orang baik, sekarang begitu bertemu dengan hukum Taurat, hukum Taurat memberi tahu bahwa aku adalah orang dosa. Amanat hukum Taurat ialah membuat manusia mengenal bahwa dirinya adalah orang yang sakit, membuat manusia mengenal bahwa dirinya adalah manusia yang berdosa.
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Ini merupakan prinsip pokok. Apakah di dalam Anda ada penyakit? Apakah Anda memiliki penyakit yang tersembunyi? Apakah Anda memiliki penyakit yang tidak tampak dari luar, yaitu penyakit yang tidak bisa Anda utarakan kepada orang lain? Apakah di dalam hati Anda ada dosa yang tersembunyi, yaitu dosa yang tidak bisa diketahui oleh orang lain? Ketahuilah, siapa saja yang mempunyai dosa yang tersembunyi, sakit yang tidak kelihatan, akan dihakimi oleh Allah. Orang yang sangat kasihan ialah orang yang keadaan dirinya di hadapan Allah telah tertelanjangi, telah terbuka semuanya, namun dia masih tetap berkecimpung di dalam dosa yang najis itu, bahkan dia masih ingin menyembunyikan diri dan menutup-nutupinya. Pikirnya, kalau pada suatu hari perbuatannya sudah lebih baik sedikit, barulah ia mau percaya Tuhan Yesus. Konsepsi yang demikian ini berarti kalau ia sudah sembuh baru mau mencari dokter. Ini adalah suatu pikiran yang bodoh, pikiran yang salah. Kalau sekarang tidak mau berterus-terang mengakui bahwa dirinya adalah orang berdosa, dia takkan bisa memperoleh kesembuhan.
Ada satu syair nyanyian yang mengatakan, “Adaku ini kasihan, Tuhan kudatang pada-Mu.” Nyanyian ini ditulis oleh seorang saudari yang berusia dua puluh tahun lebih. Sejak kecil saudari itu telah mempunyai perasaan, bahwa dirinya adalah orang berdosa. Orang seperti dia ini bagaimana bisa berjumpa dengan wajah Allah? Dia telah sering memasuki gedung-gedung kebaktian, dan menemui banyak pendeta. Dia bertanya kepada mereka, “Apa yang harus kuperbuat agar beroleh selamat?” Banyak orang memberi tahu dia, “Tunggu hingga Anda berbuat baik, berbuat lebih baik, baru percaya Tuhan Yesus.” Juga ada yang menganjurinya, “Banyakbanyaklah berdoa, membaca Alkitab.” Ada juga orang yang menganjurinya agar banyak berbuat amal, berbuat bajik. Banyak pula orang yang memberitahunya, bahwa ia harus berbuat ini, harus berbuat itu. Setelah lewat tujuh atau delapan tahun kemudian, keadaannya malah lebih jelek daripada keadaan sebelumnya. Akhirnya ia berjumpa dengan seorang penginjil tua, ia bertanya kepadanya, “Apa yang harus kuperbuat agar aku bisa mendekati Allah dan beroleh selamat?” Orang tua itu menumpangkan kedua tangannya ke atas kedua bahunya serta berkata, “Dengan keadaan inilah engkau datang kepada Allah.” Dengan rasa terkejut dan heran ia mundur serta berkata, “Apakah saya tidak perlu berbuat baik? Apakah aku tak perlu memperbaiki diriku dulu, baru kemudian percaya Tuhan Yesus?” Penginjil tua itu berkata, “Tidak perlu! Dengan keadaan inilah engkau datang kepada Tuhan.” Sejak hari itu ia baru mengerti, ia baru tahu bahwa dengan keadaannya yang sekarang inilah ia boleh datang kepada Tuhan. Perempuan muda ini memberitahukan keadaan sakitnya kepada dokter yang Allah utus, Yesus Kristus; lalu ia mendapatkan kesembuhan. Setelah itu ia pulang dan menggubah sebuah kidung yang berbunyi, “Adaku ini tak layak, . . . Tuhan kudatang pada-Mu.” Jadi, apakah yang disebut kasih karunia? Kasih karunia ialah sesuai dengan apa adaku, tidak perlu diubah, aku datang kepada Tuhan. Tuhan Yesus menghendaki orang berdosa membawa keadaan asalnya datang kepada Tuhan, bersandar kepada-Nya.
Ketika Tuhan Yesus berkata demikian, orang Farisi langsung mengajukan sebuah pertanyaan. Maksud mereka, “Kami bukan mempersoalkan entah itu orang sakit atau orang sehat, tetapi kalian adalah orang-orang yang rakus, suka makan.” Sebab itu tanya mereka, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Pertanyaan mereka itu mengandung dua maksud, yang pertama: Kami berpuasa dua kali seminggu (Luk. 18:12), namun murid-murid-Mu selalu makan selama tujuh hari seminggu; ini dari segi luaran. Kedua: Kami tidak seperti murid-murid-Mu makan dan minum, kami mempunyai perbuatan yang terpuji dalam agama, yaitu melakukan sesuatu yang sukar dicapai oleh manusia. Mereka makan makanan yang nabati saja, dan mereka menganggap diri mereka lebih unggul daripada orang lain. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang Farisi yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang awam. Melalui perbuatan itu mereka mendapat nama baik, yaitu sebagai orang yang beribadah kepada Allah.
Karena pertanyaan mereka mengandung dua maksud, maka Tuhan Yesus membagi jawaban terhadap mereka menjadi dua. Jawaban yang pertama, yaitu dari segi luaran, Tuhan Yesus berkata, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Maksud Tuhan, Akulah Mempelai Laki-laki itu. Murid-murid-Nya adalah sahabat-sahabat Mempelai Laki-laki. Ketika Mempelai Laki-laki bersama sahabat-sahabat-Nya, mereka tidak perlu berpuasa. Inilah sebabnya murid-murid-Nya tidak berpuasa: karena Tuhan Yesus belum disingkirkan. (Diambil dari mereka berarti disingkirkan). Maksud Tuhan, ketika Ia disingkirkan, murid-murid perlu berpuasa. Tetapi sebelum Tuhan ditolak manusia dan disalibkan, murid-murid tidak perlu berpuasa. Inilah jawaban tentang berpuasa.
Jawaban yang kedua adalah dengan perumpamaan, yang baru dan yang lama tidak bisa dibaurkan. Mengapa Tuhan Yesus memakai perumpamaan ini? Karena orang Farisi mengira bahwa mereka harus berbuat baik; karena orang Yahudi berpikir bahwa mereka harus melakukan perbuatan baik di aspek agama, yaitu sekuatnya memelihara hukum Taurat Allah, supaya diperkenan Allah. Sebab itu, Tuhan Yesus memakai perumpamaan ini untuk menunjukkan kepada orang-orang Farisi bahwa segala sesuatu yang dibawa-Nya datang tidak dapat dipersatukan dengan segala liturgi Taurat. Kasih karunia yang Ia bawa tidak dapat dicampur dengan hukum Taurat. Arti dari perumpamaan ini adalah hukum Taurat tidak dapat dibaurkan dengan kasih karunia. Kalau dibaurkan, hukum Taurat tidak lagi merupakan hukum Taurat, dan kasih karunia tidak lagi menjadi kasih karunia. Sekarang kita akan melihat perumpamaan Tuhan tentang yang baru dan yang lama.
KAIN YANG BELUM SUSUT DITAMBAHKAN PADA BAJU YANG TUA
Matius 9:16 mengatakan, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.”
Di sini Tuhan memperlihatkan kepada kita sebuah perumpamaan, yaitu menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua. Perkara ini bagi kita mungkin biasa, tetapi Tuhan Yesus berkata, perkara ini mempunyai selukbeluknya; karena kalau menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, maka kain itu akan mencabik baju itu sehingga koyaknya makin besar. Dalam Alkitab, baju menyatakan perbuatan kebenaran kita di hadapan Allah. Baju yang terkoyak berarti aib manusia ternyata. Mungkin kita mengira baju kita baik. Tetapi ada seseorang, baik di tempat tersembunyi atau di tempat terbuka, Ia bisa melihat Anda, dan Ia berkata bahwa baju Anda koyak. Anda tak mungkin bisa menutupi dosa dan aib Anda. Kalau Anda meninjau kembali sejarah Anda yang lalu, entah betapa najisnya, betapa penuh dosa, sehingga tidak mungkin diberitahukan kepada orang lain. Anda menyimpannya di hati Anda. Tetapi di hadapan Tuhan Anda takkan bisa menutupinya. Allah melalui Putra-Nya berkata bahwa baju Anda koyak. Dalam terang hukum Taurat kebenaran Anda seperti baju yang koyak, tidak bisa menutupi aib Anda di depan Allah. Sekarang masalahnya bukanlah membuktikan baju Anda itu koyak atau tidak, melainkan baju Anda memang sudah koyak. Lantas bagaimana? Kalau menurut cara kita, kita akan menambalnya.
Kain yang belum susut (baru), dalam bahasa Yunani bukan ditujukan kepada baru atau lamanya suatu benda, melainkan berarti belum selesai, belum rampung. Kain yang baru berarti bahwa kain itu belum rampung penggarapannya, prosedurnya belum selesai. Kain yang demikian kalau dipakai untuk menambal baju yang tua, akan membuat baju yang tua itu semakin rusak. Ketahuilah, banyak orang menerima Tuhan Yesus namun masih belum menerima apa yang telah dirampungkan Kristus Yesus di atas salib. Banyak orang memberi jawaban yang bermacam-macam bila ditanya, “Siapakah Tuhan Yesus itu?” Menurut mereka, Tuhan Yesus adalah seorang moralis besar, atau seorang ahli agama yang besar. Yesus adalah satu teladan, kita hanya meneladani Dia saja. Inilah perkataan orang yang tidak mempercayai khasiat darah Kristus. Inilah kain yang belum susut, kain yang belum rampung prosedurnya.
Ada orang berkata, Yesus bukan dilahirkan oleh gadis perawan Maria, Ia bukan Anak Allah. Berdarah-Nya bukan untuk penebusan dosa, Dia memang telah mati tetapi belum bangkit. Dia mati dan tak pernah bangkit. Perbuatan yang dilakukan-Nya sebelum Dia mati hanyalah sebagai teladan bagi kita. Kematian-Nya tidak terlalu berkaitan dengan kita. Demikianlah pendapat mereka; mereka hanya mengingini perbuatan Tuhan Yesus selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi itu saja, mereka tak tampak bahwa Anak Manusia perlu ditinggikan (Yoh. 3:14). Mereka melihat kematian Tuhan Yesus sama dengan kematian orang biasa. Mereka tak melihat kematian Tuhan Yesus sebagai kematian Anak Allah. Mereka tak mengerti, kalau Tuhan tidak mati, maka mereka pasti binasa. Mereka hanya ingin mengambil pengajaran Tuhan Yesus sebagai “kain yang baru”, yang boleh dipotong sedikit lalu dipakai untuk menambal baju tua mereka yang koyak.
Ada orang yang meskipun tidak berkata demikian, tetapi dalam hatinya juga berpikiran demikian. Ada seorang saudara memberi sejilid kitab Perjanjian Baru kepada seseorang. Setelah membaca keempat kitab Injil, dia tetap tidak mengakui bahwa dirinya adalah orang berdosa; dia hanya mengakui bahwa perbuatannya tidak sebaik Tuhan Yesus. Dan dia akan belajar dari Tuhan Yesus. Tidak saja orang luar bersikap demikian, orang Kristen pun banyak yang demikian. Kalau ditanya, “Apakah perbuatan Anda sebaik Tuhan Yesus?” Dia akan menjawab, “Tidak.” Kalau ditanya lagi, “Kalau begitu bagaimana sebaiknya?” Dia akan berkata, “Aku akan memberikan lebih banyak uang kepada gereja, atau aku akan lebih banyak berbuat amal kebaikan.” Mereka mengakui bajunya sudah koyak, tetapi yang mereka lakukan ialah, mereka ingin menggunting sedikit kain yang belum susut untuk ditambahkan pada tempat yang koyak itu. Tetapi Tuhan berkata, kalau dengan kain yang belum susut menambal baju yang tua, koyaknya akan semakin besar.
Ada orang yang berpikir, bajuku telah koyak, telah berlubang, telah robek. Di depan Allah aku adalah orang berdosa, maka dalam seminggu aku akan berpuasa dua kali. Ada yang berpikir, bajuku telah robek. Lalu bagaimana? Nanti waktu aku pulang, dari penghasilanku akan kuberikan sebagian untuk pembangunan gedung gereja. Ada pula yang berpikir, aku telah berdosa, lalu bagaimana? Aku akan bangun tiap pagi dan membaca satu pasal Alkitab dan bahkan dengan berlutut membacanya. Orang-orang lainnya berpikir, aku telah berdosa, aku mau menambalnya dengan hal-hal itu. Dengan mengambil sepotong-sepotong, yaitu dengan semua hal di atas, mereka menambalnya. Tetapi Tuhan Yesus berkata, kalau demikian maka koyaknya akan lebih besar. Semakin Anda menambalnya, semakin besarlah koyaknya.
Mungkin Anda mengira tidak mungkin demikian, tetapi faktanya demikian. Orang sering berbohong, lalu ia bertekad untuk tidak berbohong. Ia menentukan, “Kalau saya berbohong akan saya catat dalam buku harian saya.” Kemudian ia menemukan, semakin bertekad, buku hariannya semakin banyak catatan lingkaran hitam. Hasil dari penambalan itu ternyata semakin memperbesar koyaknya, semakin nyata kepada orang lain. Demikianlah faktanya. (Perhatikan baik-baik, saya bukan berkata jangan berpuasa, jangan membaca Alkitab, jangan mempersembahkan uang, melainkan kalau menganggap semua itu sebagai jasa untuk menambal baju yang robek supaya diperkenan Allah, itu tidak berguna).
BAJU YANG BARU UNTUK MENAMBAL BAJU YANG TUA
Yang diperlihatkan Injil Lukas kepada kita berlainan dengan yang terdapat dalam Injil Matius dan Markus. Lukas 5:36 mengatakan, “Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka: ‘Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.” Misalnya, ada orang memiliki dua helai baju, yang satu baru dan yang lainnya sudah tua. Kalau ia melihat baju yang tua itu robek, lalu diambilnya gunting dan dipotongnya secarik kain dari baju yang baru dan ditambalkannya ke baju yang robek itu, kita mengatakan bahwa orang itu sungguh bodoh. Menurut fakta, dalam hal-hal materi perkara yang demikian itu tak akan dilakukan oleh siapa pun, tetapi secara rohani, perkara ini sering dilakukan oleh orang Kristen.
Kain baru yang belum susut yang dikatakan oleh Matius mengacu pada pekerjaan Tuhan Yesus yang belum genap, yakni sebelum Tuhan mati. Tetapi setelah Tuhan Yesus mati, pekerjaan-Nya sudahlah genap. Menjelang wafat-Nya Tuhan Yesus berkata, “Sudah genap!” Kematian-Nya sudah menggenapkan karya penebusan. Kehidupan-Nya di bumi sebelum disalib, masih belum menggenapkan karya penebusan. Yang dikatakan oleh Lukas bukanlah kain yang belum susut yang belum selesai prosesnya, melainkan kain yang sudah selesai prosesnya. Orang yang ingin menambal baju yang robek dengan kain yang sudah dirampungkan Tuhan Yesus, sama seperti orang yang ingin dengan sekuatnya berbuat baik, bila ia tidak mampu melakukannya, barulah memanggil Tuhan Yesus untuk membantunya. Ada orang Kristen berkata, “Kita harus melakukan sepuluh hukum Taurat.” Kalau Anda bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah melakukannya? Apakah kamu telah mencapainya?” Maka jawabnya, “Kalau aku tidak bisa, aku akan mohon Tuhan membantuku.” Tetapi Tuhan Yesus berkata, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua.” Kita tidak bisa berbuat baik, karena itu lebih baik membuang baju yang tua dan mengenakan baju yang baru.
Kita tidak bisa menyelamatkan diri kita, kita hanya bisa mengakui dosa kita. Tidak ada satu cara pun dari semua cara kita yang bisa menghapus dosa kita sehingga kita diperkenan Allah. Hanya ada satu jalan, yaitu menyingkirkan kebaikan daging dan apa yang dianggap baik oleh dunia, yaitu baju tua milik kita, dan hanya mengakui Tuhan Yesus adalah Juruselamat, serta mengakui karya penebusan yang telah dirampungkan Tuhan di atas salib. Ia mati terpaku di atas salib dan hal ini sudah memuaskan tuntutan keadilbenaran Allah. Perkara yang Ia berikan adalah yang baru dan sempurna, tidak perlu ditambal apa pun. Tuhan Yesus di atas salib telah berkata, “Sudah genap!”
Banyak orang tidak mengetahui bahwa penebusan Allah sudah genap. Mereka selalu berpikir, kalau mereka ingin beroleh selamat, maka mereka harus berbuat lebih baik lagi. Kalau tidak berbuat lebih baik, mereka tidak bisa beroleh selamat. Pikiran mereka ini ternyata seperti mengoyakkan baju yang baru dan menambalkannya pada baju yang tua. Ini adalah perbuatan yang bodoh. Alkitab memperlihatkan kepada kita, bukan kita sendiri yang memperbaiki diri kita, melainkan Tuhan sudah mengerjakannya. Yesus Kristus di atas salib sudah menanggung dosa kita dan di sana pula Dia berkata, “Sudah genap!” Ia telah merampungkannya hingga tuntas. Sekarang kita tidak perlu melakukan perkara yang lain, kita hanya perlu mengakui baju kita sudah koyak, rusak. Kita tidak mampu berbuat baik. Kita hanya mohon Tuhan memberi kita baju yang baru. Kalau Anda berkata bahwa Anda ingin berbuat baik, maka Anda perlu secara berulang-ulang bertekad. Ketahuilah, hanya bersandar pada penebusan yang telah Tuhan rampungkan barulah Anda beroleh selamat. Selain itu tidak ada jalan.
“Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan ikut koyak dan pada yang tua itu pun tidak cocok kain penambal yang dikoyakkan dari baju yang baru itu.”
Mengoyakkan kain yang baru berarti merusakkan pekerjaan yang telah dirampungkan Tuhan Yesus. Lagi pula yang baru dengan yang lama tidaklah cocok. Misalnya, di sini ada sebuah jubah hitam yang telah robek. Kalau jubah yang telah robek ini kita tambal dengan kain putih, maka warnanya tidak serasi. Dilihat sekilas saja sudah ketahuan. Kalau mau menambal baju haruslah dengan warna yang hampir sama. Kalau menambal baju dengan kain yang baru, warnanya pasti tidak sama, dan akan kelihatan jeleknya. Orang lain yang memandang pun merasa ini tidak cocok, tidak sepadan.
Ketahuilah, karunia keselamatan yang Allah berikan kepada kita sama sekali tidak sepadan dengan baju tua kita. Anda ingin menyuruh Tuhan Yesus menambal apa yang Anda lakukan, apa yang kurang pada diri Anda; itu tidak sepadan. Kalau Anda percaya Tuhan Yesus, Anda harus sepenuhnya menerima baju yang baru. Kalau hanya menerima sedikit, akan lebih jelek dipandang. Hari ini, kita mempunyai baju yang baru, yaitu kebenaran Allah. Kalau Anda menerima Tuhan Yesus, kebenaran Allah akan menutupi aib Anda. Kalau Anda ingin dari baju yang baru — kebenaran Allah — mengambil sedikit untuk menambal, hal ini malah akan menunjukkan kejelekan Anda.
Ajaran Tuhan Yesus hanyalah kain yang belum susut, yang tidak dapat menyelamatkan Anda. Tetapi penebusan Tuhan Yesus yang sempurna dapat membuat Anda beroleh selamat. Tetapi kita tidak boleh dan tidak bisa hanya mengambil sebagian dari penebusan-Nya untuk menambal perbuatan kita yang serupa dengan baju yang robek. Kita hanya perlu menanggalkan semua perbuatan yang kita anggap paling baik dan memakai baju baru yang Allah berikan. Allah menghendaki kita membuang baju yang tua dan mengenakan baju yang baru. Baju yang dimiliki oleh semua orang adalah baju yang telah robek. Tetapi puji syukur kepada Allah, Dia mempunyai baju yang baru. Tak ada seorang pun mempunyai alasan yang cukup untuk tidak menerima Dia, menerima baju yang baru. Haleluya! Penebusan Kristus cukup untuk menyelamatkan kita.
Manusia tidak beroleh selamat bukan karena ia tidak bisa menambal baju atau tidak ada baju baru, melainkan karena manusia tidak mau memakai baju baru. Orang beroleh selamat bukan karena perbuatan mereka, melainkan karena ia percaya dan menerima karya yang telah dirampungkan Tuhan Yesus. Keselamatan seseorang bukan berdasarkan apakah dulu ia seorang yang baik atau jahat, melainkan tergantung apakah hari ini ia menerima atau menolak Tuhan Yesus. Siapa saja yang menerima Yesus Kristus, ia beroleh selamat. Injil Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Haleluya! Inilah satu fakta. Hari ini Anak Allah telah mati. Baju baru telah tersedia. Asal Anda mau memakainya, maka masalah beroleh selamat bukan karena perbuatan Anda bernilai, melainkan karena salib Tuhan yang sangat bernilai. Terhadap hal beroleh selamat, perbuatan kita sama sekali tak ada nilainya, hanya kematian Tuhan Yesus di atas salib baru bernilai.
ANGGUR YANG BARU
“Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua . . . “ “Baju” mengacu kepada pekerjaan Injil di aspek lahiriah yang bisa dilihat oleh orang, sedang anggur merupakan pekerjaan di aspek batiniah yang tidak bisa dilihat oleh orang. Injil Allah, di satu pihak berarti mengambil Kristus sebagai kebenaran kita, supaya kita dengan kebenaran ini bisa hidup di depan Allah tanpa perlu menambah apa-apa lagi, karena Tuhan Yesus sudah merampungkan tuntutan kebenaran Allah. Anda ingin menambah sesuatu? Ini tidak mungkin. Perbuatan baik Anda pun bukan menjadi alasan Anda diperkenan Allah; hanya Tuhan Yesus yang telah mati dan bangkit itulah yang diperkenan Allah. Aku berada di dalam Kristus, maka Allah melihat aku sama seperti Kristus. Keselamatan yang kuterima bukan karena aku berbeda dengan orang lain, melainkan karena aku di dalam Kristus. Jadi, aku bisa datang ke hadapan Allah, bisa diperkenan Allah, karena aku di dalam Kristus, mengenakan Kristus. Kedua, Kristus hidup di dalamku supaya aku bisa hidup di depan orang dunia. Secara rohani, aku hidup di depan Allah, namun secara jasmani aku hidup di depan manusia. Pakaian, yaitu Kristus yang Allah berikan kepada kita sebagai kebenaran kita, membuat kita bisa hidup di depan Allah. Anggur, yaitu Kristus yang Allah berikan kepada kita sebagai hayat, menjadi motivasi kita, supaya di bawah kendali-Nya dan bersandar Dia kita hidup di depan orang dunia.
Ada orang berkata, “Aku memang telah beroleh selamat dan dosaku telah diampuni, tetapi hidupku sampai sekarang ini tetap masih belum baik; bagaimana ini?” Ingatlah, Tuhan tidak saja memberi kita baju baru untuk kita pakai, tetapi juga memberi kita anggur yang baru di dalam kita. Bukan saja di luar ada baju baru untuk menutupi kita, menghiasi kita, bahkan di dalam pun ada satu kekuatan seperti kekuatan anggur baru yang bisa mengoyakkan segala yang usang. Ketahuilah, perihal beroleh selamat meliputi dua aspek, yang satu aspek objektif, yaitu di depan Allah; yang satu lagi aspek subjektif, yaitu di depan kita. Dengan kata lain, di satu pihak kita dibenarkan; di pihak lain, kita dilahirkan kembali. Tidak ada orang yang dibenarkan tanpa dilahirkan kembali. Dibenarkan berarti kita di hadapan Allah memiliki satu kedudukan yang baru, dilahirkan kembali berarti kita memiliki satu hayat yang baru. Ada orang hanya mementingkan dibenarkan, tetapi tidak mempedulikan dilahirkan kembali. Ada juga orang yang hanya mementingkan dilahirkan kembali, tetapi tidak mempedulikan dibenarkan. Dilahirkan kembali dan dibenarkan itu menurut perkiraan mereka terjadinya tidak bersamaan. Ini berat sebelah. Seharusnya dilahirkan kembali dan dibenarkan itu seimbang.
Dalam Injil Yohanes pasal 3 terdapat beberapa kata “harus”. Sekarang kita akan melihat dua saja. Yohanes 3:7 mengatakan, “Kamu harus dilahirkan kembali.” Sedang Yohanes 3:14 mengatakan, “Anak Manusia harus ditinggikan.” Kata “harus” dalam kedua ayat ini dalam bahasa aslinya adalah kata yang sama. Kata “harus” dalam ayat 14 adalah pada aspek objektif. Tuhan Yesus harus ditinggikan agar dosa kita diampuni dan supaya kita dibenarkan. Kata “harus” dalam ayat 7 adalah pada aspek subjektif, yaitu agar kita dilahirkan kembali dan mendapat hayat yang baru. Dibenarkan bertujuan agar kita di depan Allah mendapatkan kebebasan, sedang dilahirkan kembali bertujuan agar kita memperoleh satu hayat yang baru.
Ada orang berpikir, “Kalau aku datang ke hadapan Allah, itu adalah perkara yang menakutkan. Aku tidak yakin apakah Allah menyelamatkan aku atau tidak. Atau mungkin Allah akan berkata, ‘Hai kamu orang yang jahat, pergilah!’ Karena aku adalah orang berdosa, maka kalau aku datang ke hadapan Allah, aku tidak tahu apakah Allah menerima aku atau tidak.” Tetapi ketahuilah, “Jangan takut, Tuhan Yesus sudah datang. Dia telah mati bagi kita. Dia sudah bangkit. Dia sudah merampungkan kehendak Allah. Hari ini siapa yang datang ke hadapan Allah bersama Tuhan Yesus, ia pasti beroleh selamat.” Tuhan berkata, “Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum” (Yoh. 3:18). Dalam Kisah Para Rasul 13, Paulus juga berkata, “Di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa dan dibenarkan, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa” (Tl). Ketahuilah, kita semua boleh datang kepada Allah, hati nurani kita tak perlu dihinggapi rasa takut. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1).
Anda sudah mengetahui bahwa Anda adalah orang yang telah beroleh selamat, namun Anda masih merasa sengsara. Anda berkata, “Aku dapat sering bertekad, namun aku tak mampu melakukannya. Aku melihat kaum beriman lainnya, mereka ada perubahan; namun diriku sendiri sama sekali tidak ada perubahan. Dalam hal beroleh selamat aku dengan mereka sama, namun mengapa aku tak ada perubahan sama sekali? Mengapa hidupku dan perbuatanku tidak berbeda jauh dengan yang dulu?” Demikianlah Anda merasakan kegagalan Anda, Anda merasa kecewa dan menangis. Lalu Anda berpikir, “Aku telah beroleh selamat; aku pun telah beroleh hidup yang kekal. Namun apakah aku benar-benar telah beroleh selamat? Aku merasa tak yakin. Karena itu aku bertekad untuk berbuat lebih baik, membaca Alkitab, berdoa, mengurus diriku sendiri agar Allah berkenan kepadaku.” Tetapi berbuat demikian itu sia-sia. Dalam tiga atau lima hari mungkin masih dapat Anda lakukan, tetapi dalam tiga atau lima bulan, sudah tak terlihat hasilnya lagi. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dengan menambal baju yang tua dan koyak dengan kain yang baru. Kita tak seharusnya berbuat demikian. Kalaupun kita telah beroleh selamat, kita memerlukan anggur yang baru, yaitu kekuatan hayat baru untuk melawan segala yang merepotkan di luar kita. Anggur baru di dalam kita membuat kita mempunyai hayat yang baru, mempunyai kekuatan untuk hidup.
Semua orang yang dibenarkan adalah orang yang dilahirkan kembali. Orang yang mempunyai baju baru pasti memiliki anggur baru. Haleluya! Allah telah menaruh hayat-Nya ke dalam kita, hayat yang kita peroleh melalui kelahiran kembali. Sejak hari ini kita adalah orang yang baru. Anggur baru melambangkan kekuatan yang baru, supaya kita dengan kekuatan yang baru mempunyai hidup yang menang. Namun masalahnya, Anda menaruh anggur itu di mana.
KANTONG YANG BARU DAN KANTONG YANG TUA
Tuhan Yesus juga berkata, “Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” Mengapa anggur yang baru tidak dapat disimpan ke dalam kantong kulit yang lama? (Kebiasaan orang Yahudi, anggur selalu disimpan dalam kantong kulit). Karena anggur baru mempunyai daya rangsang yang kuat, maka kalau anggur baru disimpan dalam kantong kulit yang tua, kantong itu akan pecah dan anggurnya akan terbuang percuma.
Apa artinya kantong kulit yang tua? Ada orang yang berpendapat, kantong kulit yang tua adalah diri kita. Pendapat yang demikian ini tidak benar. Kalau baju lama bukan diri kita, bagaimana kantong yang lama adalah diri kita? Kita harus membaca konteksnya. Kalau baju yang lama mengacu pada kebenaran manusiawi kita, maka keterangan berikutnya, yaitu kantong kulit yang tua mengacu pada perbuatan baik alamiah kita. Kantong kulit yang tua berhubungan dengan hal berpuasa pada kalimat di atasnya. Berpuasa bisa membuat kita bermegah, menganggap diri kita tidak seperti pemungut cukai itu. Seminggu aku berpuasa dua kali. Kalau aku karena hal-hal itu bermegah di depan Allah, itulah kantong kulit yang tua.
Kantong kulit yang tua ialah, ketika kita belum percaya Tuhan Yesus, kita menganggap perbuatan kita lebih baik daripada orang lain. Kantong kulit yang tua juga berarti setelah kita percaya Tuhan Yesus dan beroleh selamat, kita lalu bersandar diri kita melakukan perbuatan yang baik. Keadaan yang demikian ini berarti kita sebagai orang Kristen kembali menjadi orang Galatia yang ingin diperkenan Allah melalui memelihara hukum Taurat. Ingin memperoleh perkenan Allah bersandar kekuatan diri sendiri. Inilah yang dikatakan Paulus dalam Galatia 3:3, “Apakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya di dalam daging?” Siapa saja yang memulai dengan bersandar Kristus Yesus dan kemudian menggenapi dan mengakhirinya dengan kekuatan diri sendiri, itu berarti menaruh anggur baru di dalam kantong kulit yang tua.
Dari dulu sampai sekarang tidak ada orang yang menyejajarkan agama Kristen dengan agama Yahudi, sehingga keduanya hingga hari ini tetap ada. Kalau dicampurkan, maka agama Kristen tidak akan menjadi seperti agama Kristen, dan agama Yahudi tidak akan menjadi seperti agama Yahudi. Keduanya tidak mirip. Allah tidak mau keadaan yang demikian itu. Namun Roma Katolik mencampurkan agama Yahudi dengan agama Kristen. Mereka memakai adat istiadat dalam Perjanjian Lama, namun di samping itu mereka juga menggantungkan merek Perjanjian Baru. Apakah itu agama Kristen? Bukan! Apakah agama Yahudi? Juga bukan! Agama Kristen ditambah agama Yahudi hasilnya menjadi tidak karuan.
Anggur baru hanya bisa diisikan ke dalam kantong kulit yang baru. Kantong yang baru, barulah memiliki kekuatan dan memiliki fungsinya. Anggur baru hanya bisa bersandarkan prinsip Perjanjian Baru melakukan perkara yang diperkenan Allah. Adanya anggur baru di dalam Anda membuat Anda memiliki kekuatan yang bisa menguasai diri Anda. Kalau Anda bukan orang yang telah beroleh selamat, Anda takkan memiliki pengalaman, juga takkan ada perubahan. Kalau Anda orang yang beroleh selamat, Anda pasti merasa bahwa di dalam Anda ada suatu hukum yang menguasai Anda.
Ada seorang ibu yang bersikap sangat hati-hati terhadap perkataannya. Tetapi anaknya sangat cerewet dan banyak bicara. Setiap kali pergi ke rumah sanak keluarganya, ibu itu selalu berpesan, “Kalau kamu nanti banyak bicara, ibu akan menarik lengan bajumu. Kamu harus tahu, bicaramu jangan diteruskan lagi. Berhentilah berbicara.” Namun, setiap kali berbincang-bincang, anaknya tetap berbicara dengan tak henti-hentinya. Meskipun sang ibu sudah menarik lengan bajunya, tetap tidak berguna.
Tetapi, satu hal yang mengherankan, seorang Kristen meskipun dia seorang diri, tak ada orang di samping yang akan mengingatkannya, namun ketika ia berbicara dan bicaranya itu semakin lama semakin tinggi dan bersemangat, tiba-tiba di dalam dirinya ada satu perasaan yang menariknya serta berkata, “Cukup! Kalau engkau bicara lagi, engkau tidak akan mirip dengan orang Kristen, bukan orang yang beribadah.” Jika mendengar teguran yang di dalam itu, dan langsung berhenti berbicara, maka di dalam dirinya timbul perasaan damai dan sukacita. Apakah ini? Inilah anggur baru.
Bisakah anggur yang baru disimpan dalam kantong kulit yang tua? Tidak bisa. Kalau Anda menaruh Firman di dalam hati Anda, itu benar; tetapi kalau menaruh Firman itu di dinding, kemudian tiap hari kita melihat dan melakukannya sesuai dengan yang tertulis, itulah kantong kulit yang tua. Dengan kata lain, bersandar diri sendiri melakukan semua perkara itu. Hukum Taurat dalam Perjanjian Lama berada di luar, namun hukum Taurat dalam Perjanjian Baru berada di dalam hati kita. Inilah perbedaan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Orang Perjanjian Lama tidak bisa melakukan sepuluh hukum Taurat, orang Kristen juga tidak mampu melakukannya. Perjanjian Lama ditulis di atas loh batu, kita tidak mempunyai kekuatan melakukannya. Perjanjian Baru ditulis di dalam hati supaya kita mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Puji Tuhan! Kita tidak perlu dengan catatan di kertas mengingatkan kita, karena di dalam kita ada sesuatu yang memperingatkan kita.
Anggur yang baru tidak bisa disimpan dalam kantong kulit yang tua, anggur yang baru hanya bisa disimpan dalam kantong kulit yang baru. Allah tidak menyuruh kita memelihara hukum Taurat yang di luar, Ia menghendaki kita memelihara hukum Taurat yang di dalam. Hukum Taurat yang di hati kita bukannya mati, melainkan hidup. Surat Roma pasal 8 membicarakan tentang hukum Roh pemberi-hayat. Hukum ini di dalam kita membuat kita bisa melakukan hukum Taurat Allah. Kita tidak saja mempunyai baju baru di luar kita, juga mempunyai anggur baru di dalam kita. Kita tidak saja mempunyai kebenaran, kita pun mempunyai hayat baru. Anggur baru disimpan dalam kantong yang baru, supaya kita bisa menempuh hidup yang baru.
ANGGUR YANG LAMA
“Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik” (Luk. 5:39). Inilah pendapat umum orang-orang dunia. Orang-orang yang pernah menikmati rasa anggur yang tua, tidak ingin minum anggur yang baru. Tetapi yang diberikan Allah kepada kita bukanlah anggur yang tua. Orang Yahudi menolak Tuhan Yesus yang diberikan kepada mereka, karena mereka telah minum terlalu banyak anggur yang tua. Otak kita sama dengan otak orang-orang yang minum anggur yang tua. Kita ingin berbuat baik, kita kira asal kita memperbaiki sedikit sudahlah cukup. Sebenarnya, orang-orang yang minum anggur yang tua tidak mempunyai kekuatan yang baru, tidak ada daya rangsang yang baru. Kalau orang tidak minum anggur yang baru, lewat setahun bahkan sampai sepuluh tahun tetap tidak ada hasilnya. Siapa saja yang ingin bersandar kekuatan sendiri memperoleh perkenan Allah, itu tidaklah berguna. Hanya bersandar Tuhan Yesus Kristus, minum anggur yang baru, barulah bisa diperkenan Allah.
Setelah kita selesai melihat dan membahas perumpamaan baru dan lama, kita jelas bahwa hukum Taurat dan kasih karunia tidak bisa dicampur-baurkan. Jangan sekali-kali menambal baju kita yang usang dengan kebenaran Kristus. Memakai Tuhan Yesus itu saja sudahlah cukup. Jangan berpikiran, setelah beroleh selamat lalu ingin bersandar diri sendiri berbuat baik. Asal kita percaya bahwa Tuhan adalah hayat kita dan membiarkan Kristus tertampil, itu sudahlah cukup.