Daftar isi Dua Belas Bakul (2) · bab 11/12

Hati dan Terang

Pembacaan Alkitab:

Matius 5:8; 6:21, 23; 2 Korintus 3:16; Mazmur 73:1, 13, 16, 25

Ayat-ayat Alkitab yang kita baca di atas semuanya menyinggung tentang hati dan terang. Marilah kita lihat bersama, sebenarnya apa hubungan antara hati dan terang.

Matius 5:8 mengatakan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Perkataan melihat di sini berarti “tampak”. Melihat erat hubungannya dengan terang. Ada penglihatan, pasti ada terang; kalau tidak ada terang, pasti tidak dapat melihat. Di sini bahkan dikatakan, “Mereka akan melihat Allah.” Allah adalah terang, karena itu melihat Allah berarti juga melihat terang. Hati yang suci adalah syarat untuk melihat terang. Orang yang suci hatinya adalah orang yang dapat melihat terang.

Matius 6:21-23 mengatakan, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Di sini juga disinggung hubungan antara hati dan terang. Kalau hati Anda mengikuti harta duniawi, hati Anda tidak akan tulus, maka Anda berada dalam gelap, tidak dapat melihat terang.

Dalam 2 Korintus 3:16 dikatakan, “Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari orang itu.” Apakah yang dimaksud dengan selubung itu? Selubung adalah sesuatu yang menutupi seseorang sehingga ia tidak dapat melihat. Bila hati Anda tertuju kepada Tuhan, saat itu juga hati Anda berada dalam posisi yang benar, sehingga selubung yang di dalam Anda tersingkap, dan di dalam Anda ada terang.

Mazmur 73:1 mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” Ayat ini adalah sebuah kalimat utama. Selanjutnya pemazmur berkata, dalam sejangka waktu, dia melihat kelancaran dan kebesaran orang-orang fasik, ia hampir terpeleset jatuh, tetapi ia tidak sampai jatuh, karena hatinya masih memiliki sedikit kesucian; sampai ketika dia masuk ke tempat kudus Allah, mengertilah ia. Pemazmur berkata, sebelum dia tampak terang, dia seperti hewan yang bodoh dan tidak memiliki pengertian. Begitu dia masuk ke tempat kudus, ia tampak dan berkata, “Selain Tuhan, siapa gerangan ada padaku di surga? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi” (Tl.). Inilah pengalaman seseorang yang tampak terang setelah terlepas dari kepekatan kegelapan. Dalam kepekatan kegelapan, dia tidak sampai jatuh, karena masih ada sedikit kesucian dalam hatinya; masih ada kesempatan untuk mendapatkan berkat Tuhan, dan ia pun mendapatkan terang.

Dari keempat bagian ayat Alkitab di atas, kita dapat melihat bahwa hati yang suci dapat melihat Allah. Kalau hati murni, di dalam menjadi terang; hati berpaling kepada Tuhan, selubung akan tersingkap; hati suci tidak akan jatuh, bahkan dapat lebih mengenal Allah. Karena hubungan antara hati dan terang demikian besar, maka kalau kita ingin memperoleh terang, kita harus menanggulangi hati lebih dulu.

Apakah yang dimaksud dengan hati? Hati sebenarnya ditujukan kepada apa? Memang tidak mudah menguraikan ini. Alkitab membagi diri manusia menjadi tiga bagian: Bagian luar adalah tubuh jasmani, bagian terdalam adalah roh, di antara tubuh dan roh terdapat jiwa. Lalu, hati berada di dalam roh atau di dalam jiwa? Sungguh sukar menguraikannya. Tetapi dapat dikatakan demikian: Hati meliputi hati nurani (Ibr. 10:22, 1 Yoh. 3:20-21), pikiran (Yoh. 12:40; Luk. 2:35), emosi (Yoh. 14:1; Luk. 24:32), dan tekad (Kis. 11:23). Pikiran ditujukan kepada angan-angan kita, emosi adalah perasaan kita, tekad adalah kemauan kita. Dengan kata lain: hati bergandengan dengan roh, juga bergandengan dengan jiwa. Kalau Anda mengatakan dalam hati terdapat bagian pikiran, itu benar, tetapi bukan berarti hati itu pikiran; Anda mengatakan dalam hati terdapat tekad, itu benar, tetapi bukan berarti hati itu tekad. Hati adalah suatu benda yang terdapat di antara roh dan jiwa. Hati menduduki tempat yang sangat penting di dalam diri manusia. Kehidupan kita tergantung pada hati kita. Hati kita bagaimana, kehidupan kita juga bagaimana (Ams. 4:23).

Apakah terang itu? 1 Yohanes memberi tahu kita, “Allah adalah terang.” Hanya Allah adalah terang. Mustahil kita mendapat terang tanpa berjumpa dengan Allah. Allah adalah Bapa segala terang (Yak. 1:17). Allah adalah sumber terang. Karena itu kalau Anda mengatakan bahwa Anda melihat terang, itu berarti Anda telah berjumpa dengan Allah. Karena Anda berjumpa dengan Allah, maka Anda beroleh terang.

Hati yang bagaimana dapat melihat Allah? Orang yang suci hatinya dapat melihat Allah. Apakah suci hati itu? Suci hati berarti hati Anda hanya mau Allah, hati Anda tertuju kepada Allah. Dalam alam semesta ini, selain Allah tiada barang yang lain berada dalam hati Anda. Hanya hati yang demikianlah baru dapat berjumpa dengan Allah dan beroleh terang.

Saudara saudari yang kekasih, tentunya kalian pernah melihat ada beberapa saudara atau saudari jatuh. Mengapa mereka bisa jatuh? Alkitab menampakkan satu prinsip kepada kita, yaitu setiap orang yang jatuh, pasti berada dalam kegelapan. Kalau orang jatuh pada siang hari, ia pasti tidak melihat benda yang membuatnya jatuh, hal ini sama dengan berada di dalam kegelapan. Jatuhnya manusia membuktikan bahwa manusia berada dalam kegelapan. Karena itu, saudara-saudari, tidak peduli betapa tepat alasan Anda mengenai jatuhnya Anda, Anda tetap berada dalam kegelapan.

Satu Yohanes 2:10-11 mengatakan, “Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi siapa yang membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan . . . “ Dari sini kita tampak, jika manusia berada dalam terang, ia pasti tidak dapat jatuh. Kalau terjatuh, itu berarti tidak di dalam terang, melainkan di dalam gelap. Kalau hati Anda hanya mau Allah tidak mau yang lainnya, maka tidak akan ada satu perkara apa pun yang sanggup membuat Anda jatuh. Meskipun semua orang salah paham terhadap Anda, memandang rendah Anda, menentang Anda, Anda tidak akan jatuh, karena hati Anda tidak mengharapkan orang lain memahami Anda, menjunjung tinggi Anda, mengerti perasaan Anda, memuji Anda; hati Anda hanya mau Allah. Kalau Anda ingin mendapatkan pengertian orang lain, sanjungan orang lain, maka ketika orang lain salah paham atau memandang rendah Anda, pastilah Anda jatuh. Tetapi jika hati Anda hanya mau Allah, meskipun keadaan yang Anda hadapi lebih hebat sepuluh kali lipat dari sekarang, Anda tetap tidak akan jatuh. Hanya satu macam orang yang dapat jatuh, yaitu orang yang hatinya tidak tertuju kepada Allah, hatinya condong kepada hal-hal selain Allah. Orang-orang demikian adalah orang-orang yang diam di dalam kegelapan.

Umpamanya, Allah adalah matahari, kita adalah cermin. Kalau cermin ini mau memantulkan sinar matahari, cermin ini harus mengarah kepada matahari. Begitu cermin ini mengarah ke arah yang salah, ia segera kehilangan terang. Bila hati Anda salah arah, perkataan Anda juga akan salah arah, segera pula Anda mengeluarkan kata-kata yang kasar, makian, mencari-cari kesalahan orang, menggerutu. Ini adalah bukti yang serius bahwa Anda berada di dalam gelap, Anda tidak berada di dalam terang. Orang yang berada di dalam terang adalah orang-orang yang tidak dapat tersandung jatuh. Ada saudara saudari walaupun mengalirkan air mata, tetapi tetap dapat memuji; mereka sangat sedih, tetapi mereka tetap dapat memuji. Ini dikarenakan hati mereka tertuju kepada Allah, mereka berada dalam terang, sehingga tidak ada perkara apa pun yang dapat menjatuhkan mereka.

Misalnya, hati Anda tertuju kepada Allah dan tidak tertuju kepada pakaian Anda, maka walaupun orang lain membuat kotor pakaian Anda atau merobeknya, Anda bisa tidak marah, bisa tidak mencela orang lain. Tetapi kalau hati Anda tidak tertuju kepada Allah, melainkan tertuju kepada pakaian Anda, begitu pakaian Anda dirusak sedikit saja, hati Anda segera terjamah, Anda segera menggerutu. Kalau demikian, Anda berada di dalam gelap. Jika hati Anda tertuju kepada Allah, Anda tidak akan dapat dijamah oleh pakaian, Anda akan beroleh terang dan penglihatan.

Kalau hati Anda tertuju kepada anak Anda, mencintai anak Anda lebih dari mencintai Allah, maka Anda tinggal dalam kegelapan. Ini tidak berarti orang tua tidak seharusnya mencintai anaknya, tetapi kalau hati orang tua terampas oleh anaknya, mereka memandang anaknya lebih besar daripada Allah, maka mereka tidak akan beroleh terang. Ada beberapa saudara saudari pandai menangani urusan, tetapi sangat memanjakan anak mereka. Terhadap anaknya, meskipun tidak ada alasan pun dapat muncul alasan-alasan. Saudara saudari yang demikian berada dalam kegelapan. Jika hati mereka tertuju kepada Allah, anak mereka tidak akan dapat menjamah hati mereka, dan mereka bisa beroleh terang, beroleh penglihatan.

Ada saudara saudari yang hatinya mencintai uang. Orang demikian pasti berada dalam kegelapan. Karena dengan tegas Tuhan pernah berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Jika Anda menaruh uang di depan mata Anda, Anda pasti tidak dapat melihat Allah, Anda tidak tampak terang malahan berada di dalam gelap. Kalau hati Anda terlepas dari uang, barulah ada terang.

Ketika Anda berselisih dengan orang lain, Anda harus bertanya, apakah Anda langsung berhubungan dengan orang tersebut? Atau terlebih dahulu melalui Allah? Ketika berhubungan dengan orang itu, apakah hati Anda tertuju kepada Allah? Kalau hati Anda tertuju kepada Allah, barulah ada terang, dan Anda akan mempunyai pandangan yang tepat; kalau tidak, perkataan Anda akan sembarangan, alasan Anda juga sembarangan, selalu menganggap orang lain yang salah dan Anda yang benar. Kalau hati Anda berpaling kepada Allah, banyak perselisihan tidak akan menjadi masalah lagi.

Tidak hanya demikian, orang-orang yang belajar melayani Allah masih harus memperhatikan satu hal: Jangan katakan manusia, benda, perkara, bahkan pekerjaan pelayanan, karunia-karunia yang Allah anugerahkan kepada kita, bakatbakat yang Allah berikan kepada kita, juga dapat menjadi kegelapan kita. Tidak peduli berapa besar daya fungsi, karunia, kekuatan yang Allah berikan kepada Anda, semuanya itu sangat mudah memutuskan hubungan Anda dengan Allah. Begitu hati kita melekat pada pekerjaan, begitu hati kita melekat pada karunia-karunia, begitu hati kita melekat pada hasil pekerjaan, ketahuilah, saat itu kita telah berada dalam keadaan yang paling berbahaya, karena semuanya itu dapat dengan mudah menjatuhkan kita ke dalam kegelapan. Kesemuanya itu bukan terang, hanya Allah saja adalah terang; di luar Dia tidak ada terang. Kalau Anda mengarahkan hati Anda kepada hal-hal selain Allah, entah yang baik atau yang jahat, Anda tetap tidak dapat melihat Allah. Karena itu, hati kita tidak seharusnya terjamah oleh pekerjaan, tidak terjajah oleh karunia, tidak tercengkeram oleh hasil pekerjaan; hati kita harus terarah kepada Allah, supaya kita beroleh terang, beroleh penglihatan.

Saudara saudari, hati kalian harus benar. Hati kalian harus bersih. Hati kalian harus tertuju kepada Allah. Kalau hati kalian tidak tertuju kepada Allah, kalian pasti berada di dalam kegelapan, sungguh kasihan. Ketika hati Anda tertuju kepada Allah, Anda akan tampak terang; begitu Anda beroleh terang, keadaan Anda yang tidak benar dengan sendirinya akan terlepas dari diri Anda. Hati benar, muncullah terang; begitu ada terang, sedikitnya pasti akan membuat Anda terlepas dari sedikit kesalahan. Semakin banyak pancaran terang, semakin banyak kelepasan. Kalau Anda dapat terlepas dari kesalahan-kesalahan, ini membuktikan bahwa Anda adalah orang yang berada dalam terang.

Setiap orang yang ingin beroleh terang, harus menanggulangi hatinya lebih dulu.