← Daftar isi Kristus yang Almuhit · bab 16/16

Bab 16

Kesudahan Tanah Itu -- Bait Suci dan Kota

Pembacaan Alkitab :

Ulangan 12:5-7, 17-18; 8:7-9; Efesus 1:22, 23; 2:19-22.

Kita telah membahas tidak sedikit tentang pengalaman-pengalaman atas Kristus. Mulai dari anak domba Paskah, manna harian, batu karang terpukul yang memancarkan air, Tabut kesaksian berikut perluasannya, Kemah Pertemuan, berbagai jenis korban persembahan, imam dan sistem imamat, dan pasukan tentara yang kudus. Akhimya kita tiba di tanah itu, tanah yang almuhit. Tanah ini merupakan segala sesuatu bagi Allah maupun umat Allah. Lukisan ini sangat jelas.

PENGALAMAN KITA MENINGKAT

SELANGKAH DEMI SELANGKAH

Dari anak domba hingga ke tanah itu, setiap butirnya merupakan lambang Kristus. Wujud setiap lambang adalah sempurna dan lengkap. Tetapi lambang terakhir ini --- tanah itu --- merupakan lambang terbesar dan almuhit. Memang anak domba Paskah sebagai lambang Kristus sudah sempurna dan lengkap, tetapi kadar lambang ini sangat kecil. Ditinjau dari aspek Tuhan sendiri, memang Dia tidak terbatas. Tetapi ditinjau dari aspek pengalaman kita atas Kristus, memang ada keterbatasan yang sedemikian itu. Tatkala kita datang ke hadiratNya menerima Dia sebagai Penebus kita, Dia adalah Kristus yang utuh, sempurna, dan lengkap; tetapi, ditinjau dari segi pengalaman kita, kadar kita sangat kecil yakni sekecil seekor anak domba.

Mulai dari sini -- mengalami Kristus sebagai anak domba -- pengalaman kita terus maju ke depan dan semakin menikmati Dia. Ini tidak berarti Kristus berubah menjadi semakin besar. Tidak, Kristus itu tetap sama. Tapi menurut pengalaman kita dari hari ke hari, kita merasa Dia semakin membesar. Ketika kita mencapai butir terakhir, maka Kristus bagi kita akan menjadi sangat besar, tak terukur dan tak terbatas. Dia adalah sebidang tanah yang luas. Ukuran tanah ini ialah lebar, panjang, dalam, dan tinggi; baik lebar dan panjang maupun dalatn dan tinggi tidak terbatas dan tidak terukur. Tidak ada seorang pun yang dapat memberitahu kita berapa besamya Kristus -- lebar dan luasNya tidak terukur. Itulah tanah yang kita masuki. Butir-butir lainnya masih dapat diukur; ciri-ciri dan pengalaman- pengalaman atas Kristus yang dilambangkan mereka masih ada suatu batas. Tetapi, tanah itu tidak. Kristus yang dilambangkan tanah itu tidak terukur dan tak habis dipakai.

KEMATANGAN DAN PEKERJAAN

Tatkala kita menikmati Kristus sebagai anak domba, Allah memerintahkan kita menghentikan segala pekerjaan, tak seorang pun boleh bekerja pada hari Paskah (Kel.12:16). Selain menikmati Kristus, tidak ada apa pun yang boleh dikerjakan. Darah terpercik di ambang pintu, daging anak domba dimakan di dalam rumah. Prinsip yang sama berlaku pula dalam hal makan manna. Manna turun dari sorga untuk mereka nikmati, selain mereka ke luar mengumpulkannya dan kemudian menikmatinya, tiada lainnya yang perlu dilakukan. Demikian pula kita menikmati Kristus. Ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat dan sebagai suplai makanan setiap hari, tak perlu kita melakukan apa-apa, melainkan hanya menerima saja dengan cuma-curna apa yang telah disediakan bagi kita itu. Setiap pekerjaan kita yang mana pun hanya akan menghambat kenikmatan kita atas Kristus pada aspek-aspek ini, bahkan merupakan penghinaart terhadap Allah.

Tetapi ketika kita datang ke Tabut Perjanjian, kisahnya menjadi lain lagi. Di sini ada sesuatu yang harus kita kerjakan. Hal yang berkaitan dengan pengalaman atas Kristus sebagai Tabut Perjanjian ialah pembangunan Kemah Pertemuan. Ketika kita datang ke tanah itu, aspek- aspek pekerjaan kita menjadi semakin nyata/kuat. Sebab kecuali kita bekerja tanah itu takkan menghasilkan apa-apa bagi kita. Tanah itu benar-benar berbeda dengan anak domba dan manna. Manna turun dari sorga bersamaan dengan embun pagi (Bil. 11:9), asal kita bangun pagipagi memungutnya lalu menikmatinya, sudah cukup, tak perlu bekerja apa-apa. Tetapi ketika orang Israel masuk ke tanah itu, dan mulai menikmati keindahannya, manna sorgawi itu segera berhenti, dan hasil tanah itulah yang mengganti posisinya untuk menjadi suplai makanan mereka (Yos. 5:12). Kita harus mempunyai kesan yang dalam terhadap perbedaan ini : ingin menikmati manna tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun, tetapi ingin menikmati hasil tanah itu sangat berkaitan dengan pekerjaan kita. Di sini sama sekali berbeda.

Ketika baru beroleh selamat dan kerohanian kita masih sangat hijau, kita memang menikmati Kristus. Alangkah baiknya dan alangkah ajaibnya Kristus bagi kita! Kristus adalah anak domba kita, manna kita setiap hari, dan batu karang kita yang memancarkan air, sungguh baik sekali, Dia telah menjadi segala-gala kita! Tetapi setelah kita berangsur-angsur dewasa di dalam Tuhan, kita lalu. menyadari bahwa kita harus menanggung sedikit kewajiban, kita harus bekerja.

Misalkan dalam sebuah keluarga ada anak kecil, bayi, atau anak balita yang baru belajar bedalan, mereka tidak perlu berbuat apa-apa, mereka hanya senantiasa menikmati apa yang disediakan bagi mereka. Akan tetapi setelah mereka agak besar sedikit, mereka harus menanggung sedikit tugas yang diberikan kepada mereka. Mungkin mereka ditugaskan untuk mengawasi adik-adik yang lebih kecil, atau mengerjakan hal-hal yang tidak begitu penting. Dan setelah mereka lebih dewasa lagi, maka tugas kewajiban yang diserahkan kepada mereka akan lebih berat lagi. Setelah mereka berusia 20 ke atas, mereka bahkan harus mencari nafkah untuk menghidupi mereka sendiri.

Dalam hal rohani pun serupa. Bila kita memasuki Kristus yang almuhit, selain kita lebih banyak menikmati Dia, kita pun akan menerima lebih banyak tugas atau kewajiban. Tetapi bila kita semakin bekerja di atas diri Kristus, kita akan semakin menghasilkan Kristus. Semakin menikmati Kristus, semakin memiliki Kristus untuk dibagi-bagikan kepada orang lain, dan semakin banyak Kristus yang kita persembahkan kepada Allah.

Hal ini mutlak tergantung pada usaha penggarapan kita di atas diri Kristus. Pokoknya ketika kita masuk ke tanah itu kita harus bekerja!

Saudara saudari, kapan kalian baru meregistrasikan perusahaan kalian di kota kalian? Perusahaan apa? Perusahaan Kristus! Perusahaan Kristus di Los Angeles! Perusahaan Kristus di San Francisco! Perusahaan Kristus di Sacramento! Bila setiap organisasi kaum imani ingin menjadi menifestasi lokal dari Tubuh Kristus, mereka harus menjadi sebuah Perusahuan, sebuah pabrik yang memproduksi Kristus secara massal. Kita wajib bekerja di atas Kristus setiap hari untuk memproduksi Kristus. Kita wajib menganggap Kristus sebagai usaha industri kita. Kalau ada orang bertanya kepada kita apa usaha kita, kita wajib menjawab, Kristus. Perusahaan kita ialah Perusahaan Kristus! Kita pun ingin melihat perusahaan kita ini memiliki cabang-cabangnya di setiap kota di seluruh dunia. Alangkah indahnya bila ke mana saja kita pergi di situ ada satu realitas ini, yakni ada segolongan orang yang usaha atau bisnisnya adalah Kristus! Di London ada Perusahaan Kristus! Di Paris ada Perusahaan Kristus! Di Tokyo ada Perusahaan Kristus! Adakalanya kita boleh mengadakan sebuah pameran. Perusahaan Kristus di Taipei memamerkan produk Kristus mereka, perusahaan Kristus di Hongkong pun mernamerkan produk Kristus mereka. Anak-anak Allah dari berbagai kota boleh memamerkan Kristus yang mereka produksi, untuk memamerkan segala kekayaanNya. Sernoga kita berkumpul bersama-sama mengadakan sebuah pameran Kristus! Kita tidak mengatakan organisasi manusia, melainkan orangorang yang benar-benar terbangun di dalam Kristus. Satu-satunya tujuan mereka ialah bekerja di atas Kristus, memproduksi Dia, menikmati Dia, membagi-bagikan Dia, dan mengekspresikan Dia. Itulah pekerjaan kita yang sesuai dengan kehendak Allah.

Renungkanlah lagi kisah bani Israel di masa lampau. Setelah mereka menggarap tanah permai itu, setahun membajak lahan pertanian, menabur benih, menyiram dan memelihara pepohonan, tibalah hari raya Pondok Daun. Dari seluruh penjuru tanah itu, dari berbagai kota dan desa berhimpunlah mereka ke Yerusalem dengan membawa sepersepuluh dari produksi tanah itu berikut buah bungarnya. Di sana mereka mengadakan suatu pameran dari berbagai jenis hasil produksi tanah Kanzan tersebut. Namun, hari raya yang mereka adakan bersama umat Allah dan Allah sendiri ini sama sekali tergantung pada ketekunan usaha mereka.

Kita sekarang sedang menikmati Kristus sebagai realitas dari tanah permai, ini sungguh merupakan kasih karunia Allah. Ia mengaruniakan sebidang tanah yang seindah ini kepada kita. Akan tetapi hal ini melibatkan kerja sama kita yang mutlak. Kita harus bekerja sama dan berkoordinasi dengan Allah. Allah telah menyediakan dan membekali kita sebidang tanah ini, berarti Allah telah mengaruniakan Kristus kepada kita. Allah pun telah menurunkan hujan dari sorga ke atas tanah ini, berarti Allah telah mengaruniakan Roh Kudus kepada kita. Tanah melambangkan Kristus, hujan melambangkan Roh Kudus. Tetapi, di sini perlu kerja sama kita; kita wajib bekerja sama dengan Allah, baru kita dapat menghasilkan. Sejauh manakah kerja sama kita dengan Allah? Inilah segala permasalahannya.

Anda tak dapat melihat produksi tanah permai apa pun di kalangan tertentu yang disebut "gereja". Mereka hanya dapat memberikan anak domba Paskah dan manna harian, tidak dapat mensuplaikan Kristus sebagai tanah permai, sebab mereka sendiri tak pernah masuk ke tanah permai itu. Tetapi dalam persidangan gereja-gereja lokal, Anda dapat melihat ada suatu pameran yang berlimpah, yang mempertunjukkan berbagai produk Kristus. Mengapa? Sebab mereka telah masuk ke tanah permai dan mereka berusaha dengan tekun di atas Kristus. Mereka benar-benar mempunyai banyak produk barang-barang yang indah, yang mereka hasilkan dari diri Kristus.

KORBAN KESELAMATAN

Kita harus memperhatikan lagi : setiap orang Israel diwajibkan membawa hasil mereka ke suatu tempat yang dipilih Allah, selain beribadah kepada Allah juga bersama-sama menikmati hasil itu dengan Allah. Hasil mereka adalah lambang dari Kristus, dan yang mereka persembahkan kepada Allah juga Kristus. Hasil itu dipersembahkan kepada Allah, dan dinikmati bersama di hadapan Allah, serta dinikmati bersama Allah.

Di antara korban-korban persembahan umat Allah pada masa itu ada satu korban yang berbeda dan istimewa, yaitu korban keselamatan. Korban ini ada yang dinikmati orang itu sendiri, ada yang dinikmati orang lain, dan ada yang dinikmati Allah. Andaikata saya mempersembahkan korban keselamatan, di antaranya ada sebagian untuk saya sendiri, ada sebagian untuk orang lain, dan ada sebagian untuk Allah. Bacalah kitab Imamat 7, di situ Anda nampak jelas bahwa korban keselamatan dinikmati oleh si pelaku itu sendiri, juga dinikmati bersama orang lain dan Allah.

Saudara saudari, setiap kali kita berhimpun di dalam Kristus, kita membawa Kristus dan beribadah kepada Allah melalui Kristus, itu berarti kita mempersembahkan Kristus sebagai korban keselamatan. Dan Kristus ini ada sebagian dinikmati Allah, ada sebagian dinikmati kita sendiri, dan ada sebagian dinikmati orang lain. Kita dengan Allah dan di hadapan Allah saling menikmati Kristus. Itulah peribadahan yang sejati, dan itu pun berarti menumpuk keaiban dan kehinaan ke atas diri Iblis.

BAIT SUCI

Kita harus menaruh kesan yang dalam kepada firman yang tercantum dalam kitab Ulangan 12, sebab ia merupakan firman yang sangat penting. Kita wajib membawa hasil kita ke tempat yang dipilih Allah. Tempat apakah itu? Itu tak lain tempat kediaman Allah. Anda harus membawa Kristus ke titik sentral ini, dan di situlah kita di hadapan Allah bersama-sama Allah menikmati Kristus. Akibatnya ialah tempat kediaman Allah didirikan. Kita wajib nampak, bila kita tidak saja menikmati Kristus secara individu, tetapi juga secara korporat, maka pasti akan terjadi satu akibat, yakni tempat kediaman Allah muncul. Itu berarti Allah di atas bumi ini dan dalam masa atau zaman ini, memperoleh satu tempat yang boleh Ia huni.

Saudara saudari, bila kita menikmati Kristus sampai suatu tingkat tertentu, dan ketika kita berhimpun bersama menikmatiNya di hadapan Allah dan bersama Allah, maka terbitlah fakta ini -- kita menjadi tempat kediaman Allah; Allah bersemayam di antara kita. Pada saat ini, jika ada yang bertanya di manakah Allah berada, kita dapat menjawab mereka, "Mari datang dan lihatlah di sini". Jika kita ingin mencari seorang saudara atau saudari, kita harus pergi ke rumahnya, di sana kita akan menjumpainya, dan kita dapat berdialog dengannya. Hari ini orang-orang bertanya di manakah Allah? Mereka berkata, "Kalian selalu membicarakan Allah, tetapi di manakah Allah itu?" Jika kita menikmati Kristus sebagai tanah permai sampai suatu tingkat, sehingga kita bersama-sama berada di atas tumpuan keesaan, saling menikmati Kristus bersama Allah, kita adalah gereja yang tepat dan sejati. Jika kondisi demikian ada pada kita, bila orang bertanya di mana Allah berada, kita dapat menjawab, "Silakan datang dan lihat. Allah berada di dalam rumahNya. Sekarang Allah di sini telah mempunyai satu tempat kediaman."

Misalkan Anda pergi ke suatu kota, dan sepanjang hari Anda berkelana di kota itu, tidak ada satu tempat tinggal tertentu, sulitlah bagi kita untuk mencari Anda, kantor pos pun sukar menyampaikan surat-surat yang kita kirim kepada Anda. Tetapi jika Anda telah beroleh tempat tinggal yang tetap di daerah anu, di jalan anu, sehingga Anda mempunyai satu alamat yang pasti, maka. siapa pun mudah mencari Anda.

Kita selalu membicarakan Allah, tetapi orang-orang yang tidak percaya selalu bertanya, "Di manakah Allah? Kalian telah membicarakan hal-hal tentang Allah begitu banyak, tapi di manakah sebenarnya Allah itu?" Mungkin Anda menjawab, "Allah itu maha agung, Allah itu ada di mana-mana". Tetapi ketika kita menikmati Kristus secara korporat sampai suatu taraf tertentu, Allah akan menjadi terlokalisasi dengan sangat pasti dan dil. Allah akan memiliki satu alamat yang pasti di bumi ini. Anda dapat berkata kepada teman-teman Anda, "Mari datang melihat Allah. Datanglah ke tempat kediaman Allah; datanglah ke rumah Allah". Rumah Allah adalah tempat "Perusahaan Kristus" berdomisili. Ke mana pun Anda pergi, jika Anda dapat menemukan "Perusahaan Kristus", itulah rumah Allah. Dalam 1 Korintus 14 diwahyukan kepada kita, bila orang-orang Kristen berhimpun dalam kondisi yang tepat, maka orang yang masuk ke dalam sidang mereka akan bersujud sambil mengaku bahwa Allah benar-benar ada di antara mereka. Dengan perkataan lain, mereka akan mengakui itulah tempat kediaman Allah.

Dengan apakah Allah membangun tempat kediaman dan rumah ini? Dibangun dengan kaum imani yang berbaur dengan Kristus. Kristus adalah segala sesuatu mereka. Dialah tanah yang almuhit. Kristus adalah makanan dan minuman mereka.

Sebagai contoh, seorang pemuda Amerika yang sehat, setiap sel dalam tubuhnya adalah milik negara Amerika. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Amerika, seluruh insannya tersusun dari hasil negara Amerika; seluruh kehidupannya diperoleh dari hasil bumi Amerika. Ia makan telur ayam Amerika, daging sapi dan ayam Amerika, kentang, jeruk, apel ... Amerika. Ia setiap hari makan Amerika; Amerika pun setiap hari tercema dan berbaur dengannya. Ia telah menjadi sebagian dari Amerika. Ia seratus persen sebagai Amerika.

Pada prinsipnya kita pun demikian. Scorang Kristen adalah orang Kristus. Seorang Kristen adalah seorang yang setiap hari makan Kristus, minum Kristus, mencemakan Kristus, dan berbaur dengan Kristus. Pada suatu saat, Kristus dalam tahap tertentu akan menjadi orang ini.

Kalau Anda seorang Amerika, Anda tak perlu mengatakannya kepada orang lain, sebab di sebagian besar dari tempat yang Anda kunjungi di dunia ini, orang akan mengenali Anda, bahwa Anda berasal dari Amerika. Ada ciri-ciri tertentu yang berbeda yang menunjukkan Anda sebagai orang Amerika, di antaranya ialah makanan Anda. Demikian pula kalau Anda seorang Tionghoa, semua orang pun dapat mengetahui. Jika Anda mengetahui makanan orang Tionghoa, asalkan Anda menggunakan indra pencium Anda, pasti Anda dapat mengenali asal mula dan racikannya. Tetapi sangat sukar kita membedakan antara orang Tionghoa dengan orang Jepang. Tetapi jika Anda mengetahui makanan kedua bangsa tersebut, Anda dapat membedakan dengan indra penciuman Anda. Orang Jepang memakan sejenis inakanan yang berbau tertentu, dan orang Tionghoa memakan makanan yang berbeda, yang mengeluarkan bau yang berbeda. Dengan kata lain, Anda menjadi apa yang Anda makan, Anda pun dikenal orang karena makanan Anda. Bagaimana seorang Amerika adalah milik negara Amerika, demikian pula, seorang Kristen juga menjadi milik Kristus.

Pagi ini ia telah menyantap Kristus, malam ini ia menyantap Kristus lagi. Dari hari ke hari ia menyantap Kristus, minum Kristus, maka Kristus berangsur-angsur tercerna dan terbaur dengannya, akhirnya ia dengan Kristus menjadi satu. Kemudian, tatkala ia berhimpun dengan orang-orang Kristen yang serupa, ia membawa Kristus, mereka pun membawa Kristus, Kristus menjadi segala-gala mereka, dan Kristus menjadi konstruksi mereka. Ke mana saja mereka pergi, mereka selalu membawa Kristus. Ketika mereka bersidang, mereka mempersembahkan Kristus kepada Allah, mereka menikmati Kristus bersama, dan mereka pun memamerkan Kristus. Kristus diekspresikan dalam setiap tutur kata mereka. Segala-galanya adalah Kristus. Inilah tempat kediaman dan rumah Allah.

Sangat jelas bahwa inilah gereja yang sejati, ekspresi Tubuh Kristus yang sejati. Segolongan manusia ini berbaur dengan Kristus, diresapi Kristus, dan tiap hari menikmati Kristus. Dalam perhimpunan mereka tiada yang lain kecuali Kristus. Mereka saling menikmati Kristus, menikmati Kristus di hadapan Allah, dan menikmati Kristus bersama Allah. Karenanya Allah berada di tengah-tengah mereka. Pada saat itulah mereka adalah tempat kediaman Allah, rumah dan keluarga Allah. Tempat kediaman Allah adalah bait Allah. Jika kita memiliki bait Allah, kita pun memiliki penyertaan Allah, dan memiliki ibadah kepada Allah.

KOTA

Namun, bait Allah ini perlu diperluas. Bagaimana ia dapat diperluas? Melalui Kristus menjadi wewenang Allah. Kita tidak saja perlu Kristus menjadi kenikmatan, kita pun perlu Kristus menjadi wewenang Allah. Ini suatu perkara yang sangat penting. Ketika kita bersama-sama menikmati Kristus dengan cara yang sewajamya, wewenang Kristus akan muncul di antara kita. Dalam kenikmatan yang demikian, dan hasil dari kenikmatan itu pasti membuat kita sangat taat kepada Allah, juga saling menaati. Kita akan penuh dengan ketaatan.

Percayakah Anda, tatkala kita menikmati Kristus sedemikian kita masih bisa saling bertengkar, atau saling membenci? Itu mustahil! Mungkinkah jika kita telah tersusun menjadi pasukan tentara untuk berperang melawan musuh, tetapi kita saling berkelahi di dalam pasukan? Hal itu mungkin terjadi kalau kita bukan satu pasukan, atau j ika kita adalah sekelompok pembajak atau perampok; sebab di situ tiada ketaatan. Tatkala kita menikmati Kristus sampai ke tingkat ini, kita pasti dapat saling menaati, mustahil tidak taat. Kasih yang sejati terkandung di dalam ketaatan. Bila kita saling menaati, barulah kita saling mengasihi dengan sejati. Kasih yang sejati tidak berada di dalam seleraku, pilihanku, atau kegemaranku, melainkan di dalam ketaatanku. Jika di antara kita ada ketaatan, maka wewenang Kristus pasti ada di antara kita. Justru wewenang Kristus itulah yang memperluas tempat kediaman atau bait Allah.

Apakah pula perluasan bait Allah? Itulah kota Allah. Wewenang Kristus tidak saja memperluas gereja menjadi rumah Allah, juga menjadi kota Allah. Di situ tidak saja terdapat penyertaan Allah, bahkan kerajaan dan wewenang Allah. Ketika orang masuk ke sini; ia tidak saja akan merasakan penyertaan Allah, iajuga akan merasakan wewenang Allah. Ia akan berkata, Ini bukan hanya rumah Allah, juga kerajaan Allah" Jika kita berada dalam kondisi yang demikian, haleluya, kita mempunyai rumah Allah plus kota Allah. Kita berada di dalam rumah Allah, juga di dalam kerajaan Allah. Setiap orang yang mengunjungi kita akan merasakan penyertaan dan kedaulatan Allah. Mereka akan berkomentar, "Allah tidak saja berada di sini, Allah pun memerintah di sini".

Saudara saudari, inilah yang dituntut Allah hari ini. Di atas bumi ini, yakni di tempat Anda berdomisili, Allah ingin menemukan situasi dan kondisi seperti ini. Andaikata Anda tinggal di kota San Francisco. Di kota ini Allah justru ingin memperoleh realitas tersebut. Jika Anda tinggal di kota Sacramento, di kota ini pun Allah damba memperoleh rumahNya yang sedemikian. Entah kita berdomisili di mana pun, Allah justru ingin beroleh rumah dan kerajaanNya; bait dan kotaNya. Namun kita wajib mengalami Kristus, mulai dari anak domba Paskah terus mengalami berbagai macam pengalaman. Kita wajib bersama kaum saleh memasuki tanah itu, yakni Kristus yang aimuhit. Kemudian kita harus berusaha dengan tekun di atas tanah itu demi menghasilkan kelimpahan kekayaan Kristus. Kita harus menjadi Perusahaan Kristus yang menghasilkan Kristus, menikmati Kristus, membagi-bagikan Kristus, mempersembahkan Kristus, dan menjadi sekelompok manusia yang beribadah kepada Allah. Segala sesuatu kita haruslah Kristus. Inilah ekspresi yang riii dari Tubuh Kristus, dan di sinilah rumah dan kerajaan Allah. Jika kita, memiliki realitas demikian, kita akan memiliki tanah, bait dan kota.

Saat ini kita tak dapat membahas bait dan kota dengan terinci, tapi kita sudah mengetahui sedikit mengenai tanah itu; bagaimana cara kita memasukinya, bagaimana menikmati dan hidup di dalamnya, bagaimana berusaha menggarap di atasnya, bagaimana beribadah kepada Allah di dalamnya, dan bagaimana memiliki bait dan kota yang terbangun di dalamnya. Kita telah mengetahui dengan jelas, bahwa tanah itu adalah Kristus itu sendiri, sedang bait dan kota adalah kepenuhan Kristus. Kristus adalah kepala, kepenuhan Kristus adalah Tubuh, yakni gereja. Dalam serangkaian berita ini kita selalu membicarakan tanah berikut bait dan kota. Itulah Kristus dan gereja. Gereja adalah TubuhNya, kepenuhan Dia, yang memenuhi segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu.

Inilah yang hendak diperoleh Allah hari ini. Semoga kita setia kepadaNya, dengan bersandar kepada kasih karuniaNya belajar menikmati Kristus, mengalami Kristus dan memanfaatkan Kristus ke dalam hidup sehari-hari kita. Dengan demikian kita akan didewasakan terus dalam pengalaman dan kenikmatanNya, hingga kita beserta dengan semua orang saleh masuk ke tanah itu, berusaha di atasnya, agar bait dan kota terwujud.

PERIHAL

ALLAH TRITUNGGAL – BAPA, PUTRA, dan ROH

"Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian."

2 Korintus 13:13

PERIHAL

ALLAH TRITUNGGAL BAPA, PUTRA, dan ROH

MISTERINYA MISTERI

Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh, merupakan suatu misteri, bahkan misterinya misteri. Manusia yang sangat kecil ini mana mungkin dapat memahami-Nya dengan tuntas, apalagi menjelaskan-Nya secara rinci. Banyak hal yang bersangkutan dengan soal hayat yang tidak mungkin terjangkau oleh pikiran manusia. Manusia paling banyak hanya dapat mengerti secara kasarnya saja. Misalnya saja, walaupun kita ini hidup di dalam jasmani kita, namun dalam hal ini kita pun tidak mampu menjelaskannya dengan tuntas, inilah suatu misteri. Lebih-lebih mengenai adanya roh yang berhuni di dalam kita, tentunya merupakan sebuah teka-teki yang sulit kita pecahkan. Hayat manusia itu apa? Dan roh manusia itu apa? Tidak ada seorang pun dapat menjelaskannya dengan gamblang. Untuk memberi penjelasan mengenai misteri manusia yang kecil ini saja kita tidak mampu, lebih-lebih mengenai Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh. Banyak hal dalam alam semesta yang belum bisa dipahami. Yang mudah saja mengenai listrik. Pada satu aspek, dengan otak kita yang terbatas ini kita tahu listrik itu demikian-demikian, tetapi dari aspek lain kita tidak mengerti mengapa bisa demikian. Kalau soal listrik saja tidak bisa kita pahami secara tuntas, apalagi terhadap Allah Tritunggal.

KITA TIDAK MENGERTI,

TETAPI KITA DAPAT MENIKMATINYA

Walaupun kita tidak mengerti akan misteri ketritunggalan Allah, tetapi kita dapat menikmati Allah yang serba misterius. Kita tidak mengerti, tetapi kita dapat menikmati-Nya! Dahulu, manusia tidak memiliki pengetahuan mengenai vitamin-vitamin, tetapi mereka menikmati vitamin-vitamin itu dengan limpahnya. Puji Tuhan! Allah Tritunggal itu bukan untuk dipahami, tetapi untuk dinikmati. Segala hakiki Allah itu untuk kita nikmati, terwahyu dalam Alkitab, dan dengan sederhana sekali kita dapat menikmati-Nya seturut apa yang terwahyu dalam Alkitab. Walaupun kita tidakpaham sepenuhnya, tetapi kita dapat menerima-Nya sesuai dengan segala apa yang dicantumkan di dalam Alkitab.

Misalnya, Yohanes 1:1 mengatakan, "Firman itu bersama-sama dengan Allah" dan selanjutnya mengatakan, "Firman itu adalah Allah." Berdasarkan kalimat "Firman itu bersama-sama dengan Allah," jelaslah bagi kita bahwa Firman dan Allah adalah dua Persona. Tetapi dari kalimat berikutnya yang mengatakan, "Firman itu adalah Allah", jelas menunjukkan bahwa Firman dengan Allah itu satu. Kalau demikian, Mereka itu dua atau satu? Kita tidak mungkin bisa menjelaskan misteri ini! Kita hanya bisa menerima begitu saja akan apa yang Alkitab katakan.

Ada lagi, dalam 2 Korintus 3:17 dikatakan, "Tuhan adalah Roh", kemudian dikatakan pula "Roh Tuhan". Dari kalimat "Tuhan itu Roh," tahulah kita bahwa Tuhan dengan Roh itu satu. Tetapi dari kata "Roh Tuhan" kita mengerti bahwa kata ini merupakan sebuah kata majemuk yang merangkaikan dua kata (benda) menjadi sebuah benda (sebuah pengertian). Roh Tuhan artinya Roh milik Tuhan atau Roh dari Tuhan, dengan demikian menurut pengertian kita Roh itu Roh, Tuhan itu Tuhan, atau Tuhan dan Roh itu dua Persona. Sesungguhnya kita tidak mungkin mengerti dengan jelas, kita cukup menerima saja apa yang Alkitab katakan.

ALLAH ITU ESA

Berkali-kali dan dengan berbagai cara, Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah itu esa. Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, banyak ayat yang mengatakan demikian. Mari kita pilih beberapa di antaranya:

1 Korintus 8:4 — "Tidak ada Allah lain selain Allah yang esa."

Yesaya 45:5 — "Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah." Kata-kata yang sama tertera pula dalam ayat 6, 21, 22 dan 46:9; 44:6-8.

Dalam ayat-ayat ini berulang-ulang Allah berkata, "Kecuali Aku tidak ada Allah." Allah tidak mengatakan, "Kecuali Kami tidak ada Allah," melainkan mengatakan, "Kecuali Aku tidak ada Allah." "Aku" itu tunggal. Pernyataan ini berulang-ulang, membuktikan dengan kuat bahwa Allah itu esa.

Mazmur 86:10 — "Engkau sendiri saja Allah." Di sini tidak dikatakan, "Kamu sekalian saja Allah!" tetapi "Engkau sendiri saja Allah." Ini membuktikan juga bahwa Allah itu esa.

Allah itu esa, jelas dan merupakan wahyu yang tak tergoyah dalam Alkitab. Tetapi selain pengajaran dan interpretasi murni berdasarkan wahyu Alkitab, dalam dunia kekristenan masih ada pengungkapan lain yang mengatakan, "Ada tiga Allah — Bapa satu Allah, Putra satu Allah, Roh satu Allah; dan ketiga-tiga-Nya menjadi satu Allah korporat. Individualnya ada tiga, korporatifnya hanya satu." Ada juga yang mengatakan ada dua Allah — Bapa satu Allah, Putra satu Allah, sedang Roh itu bukan; karena Bapa mempunyai Persona, Putra juga mempunyai Persona, sedang Roh hanya berupa daya, seperti listrik yang tidak memiliki Persona.

Pernyataan-pernyataan yang menyangkut adanya tiga Allah atau dua Allah itu sungguh berlawanan sekali dengan wahyu azasi Alkitab, karena itu, jangan sekalikali kita menerimanya. Kita harus secara mutlak berdiri pada wahyu Alkitab dan percaya bahwa Allah itu esa.

ALLAH MENYEBUT DIRINYA "AKU",

SERING JUGA "KITA"

Dalam Yesaya 6:8 Allah berfirman, "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Kita" (T1.). Kata "Kita" dalam Alkitab bahasa Indonesia ditulis dengan "Aku," ini tidak tepat menurut bahasa aslinya. Allah menyebut diri-Nya - "Aku," sering juga "Kita". Ini membuktikan bahwa "Aku" ialah "Kita", dan "Kita" juga "Aku", atau "Aku" dan "Kita" itu identik. Kalau begitu Allah itu tunggal juga jamak? Bila Anda menyebut Dia jamak, Dia akan menyebut-Nya "Aku". Sebaliknya, bila Anda menyebutnya Dia Tunggal, Dia akan menyebut-Nya "Kita". Justru inilah misteri yang sulit kita pahami. Karenanya kita hanya menerima saja apa yang terwahyu dalam Alkitab.

Lebih lanjut disebutkan dalam Kejadian 1:26, 3:22 dan 11:7, bahwa Allah berkata kepada diri-Nya sendiri "Kita". Allah yang unik di dalam firman kudus-Nya, sering menyebut diri-Nya "Kita". Hal ini sungguhsungguh merupakan misteri yang sulit kita pecahkan. Tetapi kita harus yakin, ini disebabkan oleh tiga Persona Allah, yakni kaitan Bapa, Putra, dan Roh.

SELUK BELUK MENGENAI BAPA, PUTRA, DAN ROH

Dalam Injil Matius 28:19 — "Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak (Putra), dan Roh Kudus." Dengan jelas sekali Tuhan mengatakan tiga Persona — Bapa, Putra, dan Roh. Tetapi dalam bahasa aslinya ketika Tuhan mengucapkan nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, kata"nama" yang dipakai ialah dalam bentuk kata tunggal. Ini berarti walaupun Bapa, Putra, dan Roh itu tiga Persona, tetapi hanya mempunyai satu nama. Ini sungguh suatu misteri — satu nama untuk tiga persona. Inilah sebabnya adanya pernyataan: tiga dalam satu atau Tritunggal.

Sesuai dengan ucapan Tuhan, ". . . dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus", mungkin kita lalu bertanya, "Kalau begitu nama ini "Bapa", "Putra" atau "Roh Kudus"? Jawabnya memang sulit. Kita hanya dapat mengatakan bahwa nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus itu ialah "Bapa, Putra, Roh Kudus". Nama itu mengandung ketiga-tiga-Nya — Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ini bermakna bahwa Allah itu tiga di dalam satu. Walaupun Allah itu esa, tetapi dalam seluk-beluknya ada tiga — Bapa, Putra, dan Roh.

Dalam Yohanes 14:23 Tuhan berkata, "Jika seseorang mengasihi Aku . . . Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia." Dalam 17:11 Dia juga berkata, "Bapa yang kudus . . . supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita." Dalam dua ayat ini Tuhan menyebut diri-Nya dan Bapa dengan sebutan Kami (Kita). Ini juga merupakan seluk-beluk Bapa, Putra, dan Roh.

Seluk beluk Bapa, Putra, dan Roh paling banyak diwahyukan dalam Injil Yohanes, yang memperlihatkan kepada kita :

(1) Bapa itu sumber (13:3), Allah belum pernah terlihat oleh siapa pun (1:18, 5:37), segala sesuatu yang ada pada Bapa, Putra yang punya (16:15). Bapa terekspresi oleh Putra (14:7-11). Bapa yang diam di dalam Anaklah yang melakukan pekerjaan-Nya (14:10). Bapalah yang tersembunyi di dalam, sedang Putra terekpresi di luar; tetapi yang terekspresi di luar itu justru yang tersembunyi di dalam. Dua juga satu (10:30)! Alangkah misteriusnya!

(2) Putra yang mengekspresikan Bapa (1:18), Dialah Allah sejak azali dan yang juga bersama-sama dengan Allah (1:1-2), sama dengan Allah (5:18, 23), satu dengan Bapa (10:30), Ia datang dari Allah (13:3, 7:29), menyatakan Bapa (14:8, 9), hidup oleh Bapa (6:57), menjadi manusia (1:14) dan sebagai Putra Domba Allah (1:29), kemudian disalib mengucurkan darah bagi pengampunan (19:34), mati dan bangkit, jadilah Dia Roh yang dihembuskan ke dalam murid-murid-Nya (20:22), sehingga Dia menjadi Hayat mereka (10:10), dan Dia menjadi Roti Hayat yang boleh mereka makan dan nikmati agar mereka hidup oleh Dia (6:35, 57).

(3) Roh itu adalah masuknya Putra ke dalam kita yang telah percaya kepada Putra dan menjadi realitas Putra di dalam kita (14:16-20). Dia akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang diterima dari persekutuan-Nya dengan Putra (16:13-15). Bapa itu di dalam Putra (14:10-11). Putra menjadi Roh untuk kita minum sebagai air hayat (7:37-39, 4:10, 14). Roh masuk ke dalam kita dan menyertai kita, agar kita dapat menikmati Putra (14:17-18). Roh di dalam kita ialah Putra di dalam kita (14:17, 20, 17:23, 26). Di dalam Roh ini kita menjadi satu dengan Allah Tritunggal (17:21-23).

Jadi, Injil Yohanes dengan jelas menampakkan kepada kita Bapa itu sumber segala sesuatu, Putra itu ekspresi Bapa, dan Roh itu masuknya Putra. Allah sebagai Bapa di atas surga tidak dapat kita lihat, tetapi yang terekspresi di antara manusia itu Putra; sedang ketika Dia masuk ke dalam manusia, Dia itulah Roh. Bapa terekspresi di antara manusia di dalam Putra, dan Putra menjadi Roh untuk masuk ke dalam manusia. Bapa di dalam Putra, dan Putra itu menjadi Roh — ketiga-tiga-Nya adalah Satu Allah.

Seluk beluk mengenai Bapa, Putra, dan Roh sebagai Allah Tritunggal tidak dapat kita pahami dengan otak kita. Ketika Tuhan masih mengenakan tubuh daging, dengan jelas Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa masih banyak hal yang belum Dia katakan pada waktu itu, karena mereka belum kuat menanggungnya; baru setelah nantinya Roh kebenaran (Roh realitas) datang, Dia akan memimpin mereka masuk ke dalam seluruh kebenaran atau realitas (Yoh. 16:12-13). Maksud Tuhan ialah pada waktu itu Dia belum menjadi Roh, sehingga tidak bisa masuk ke dalam mereka; Dia hanya bisa berada di luar mereka. Sudah sering kali Dia mengatakan kepada mereka, kalau Dia mengatakan lebih banyak lagi, mereka tidak akan dapat memahaminya. Tetapi bila Dia telah bangkit dari kematian dan menjadi Roh yang kemudian masuk ke dalam mereka, Dia akan berdiam di dalam mereka dan memimpin mereka ke dalam kebenaran atau realitas untuk menikmati Allah Tritunggal. Karena itu, tidak mungkin kita mengerti akan misteri Bapa, Putra, dan Roh dengan otak kita. Berdasarkan analisis otak, kita akan berkesimpulan bahwa Bapa itu satu, Putra itu satu, dan Roh itu pun satu; jadi Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Allah. Inilah jalan pikiran manusia. Tetapi bila Anda memeriksanyadengan pengalaman Anda sendiri, Anda pasti dapat mengatakan bahwa Tuhan yang berdiam di dalam Anda itu sesungguhnya hanya satu. Seturut pengertian otak Anda, Allah ada tiga, tetapi seturut pengalaman Anda, Allah itu satu. Karena itu janganlah memandangnya dengan pengertian otak Anda, tetapi pandanglah dengan pengalaman Anda. Bila Anda mengikuti jalan pi-khan Anda, Anda akan bingung; tetapi bila Anda memahami-Nya dengan pengalaman Anda, jelaslah bagi Anda bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Persona dari satu Allah.

Sebenarnya masalah "tiga persona" memang tidak ada di dalam Alkitab, ini hanya keterangan tambahan manusia. Karena manusia tidak dapat mengatakan bahwa ketiga-tiga-Nya — Bapa, Putra, dan Roh — ialah tiga Allah, bagaimana lagi harus dikatakan? Karena itu "tiga persona" yang dipakai. Tetapi sebenarnya pemakaian istilah "tiga persona" untuk Bapa, Putra, dan Roh juga tidak begitu tepat, karena "tiga persona" sesungguhnya berarti tiga oknum. Griffith Thomas (penulis eksposisi Kitab Roma yang tenar) dalam buku "azas-azas theologia" ia menerangkan ketritunggalan Allah sebagai berikut : "Mengenai istilah tiga persona ini sering juga ditentang oleh sebagian orang, karena istilah itu tidak lain ialah ungkapan bahasa manusia, yang kadang-kadang tidak tepat, bahkan bisa menimbulkan salah pengertian. Sebaliknya jangan terlalu ditekankan, bisa-bisa menimbulkan Tritheisme. Bila kita terpaksa menggunakan istilah persona, janganlah kita samakan dengan personalitas manusiawi. Kebenaran dan pengalaman mengenai ketritunggalan ini tidak bergantung pada peristilahan Theologia." Karena itu, janganlah kita terlalu menekankan lebih jauh, karena dengan demikian bisa menimbulkan Tritheisme.

Masalah ketritunggalan Bapa, Putra, dan Roh juga sudah diwahyukan dalam Alkitab Perjanjian Lama :

1. "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1:1). Dalam bahasa aslinya kata "Allah" sebagai subyek dalam ayat ini berbentuk jamak rangkap tiga, sedang predikatnya berbentuk kata kerja tunggal. Ini berarti bahwa Allah itu tiga di dalam satu.

2. Bila kita sampai pada Kejadian 1:26, tidak saja bentuk kata Allah ditulis dengan kata jamak rangkap tiga, bahkan Allah menyebut diri-Nya, "Kita". Demikianlah untuk selanjutnya. Kitab Perjanjian Lama beberapa kali mengetengahkan kesan yang sama, sebagaimana yang telah kita bicarakan sebelumnya. Jelas di sini mengatakan bahwa persona Allah itu jamak. Tetapi kata "gambar" Allah yang dipakai dalam Kejadian 1:26 berbentuk kata tunggal. Walaupun Allah itu jamak — Kita, namun gambar "Kita"-Nya adalah tunggal, satu. Jadi, ini berarti juga bahwa Allah itu tiga di dalam satu.

3. Dalam Keluaran 3:6, Tuhan berkata kepada Musa, "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Ayat ini mewahyukan bahwa Allah sebagai Allah kepala keluarga adalah tiga ganda. Sebagai Allah Abraham, menekankan Allah Bapa, sebagai Allah Ishak, menekankan Allah Putra, dan sebagai Allah Yakub, menekankan Allah Roh. Karena itu nama sebutan yang Allah wahyukan untuk diri-Nya dalam ayat ini berarti "tiga di dalam satu". Walaupun Dia itu Allah yang esa, tetapi seluk-beluk-Nya tiga, persona tiga ganda — Bapa, Putra, dan Roh.

4. Dalam Bilangan 6:24-26, Tuhan memerintahkan para imam dalam Perjanjian Lama untuk mencurahkan tiga pemberkatan kepada bangsa Israel. Tidak diragukan lagi karena Dia, Allah yang mencurahkan berkat ialah tiga Persona yang tunggal. Di bagian pertama; "memberkati engkau dan melindungi engkau" jelas menerangkan sebagai pekerjaan Allah Bapa; di bagian kedua "menyinari engkau" dan "memberi engkau kasih karunia" menyatakan pekerjaan Allah Putra; sedang di bagian ketiga "menghadapkan wajah-Nya kepadamu" dan "memberi engkau damai sejahtera" tidak ragu-ragu lagi bisa kita katakan itulah pekerjaan Allah Roh. Ini berarti bahwa Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — dapat memberkati, mengaruniai, dan memberikan damai sejahtera kepada umat pilihan-Nya.

5. Dalam Perjanjian Lama tidak saja disebutkan bahwa para imam mencurahkan berkat tiga ganda kepada umat Allah demi nama-Nya, bahkan dalam Kitab Yesaya 6:3 dikatakan bahwa Serafim yang di surga memuji tiga kali kepada Allah, "Kudus, kudus, kuduslah." Alasan mengapa Serafim itu mengulangi "kudus" sampai tiga kali, tanpa ragu-ragu dapat kita katakan karena Allah yang mereka puji ialah tiga di dalam satu. Selanjutnya dalam ayat 8 ditulis bahwa Allah yang mereka puji itu memanggil diri-Nya sendiri dengan kata ganti "Kita" (menurut bahasa aslinya). Ini juga berarti Dia itu Persona tiga ganda.

6. Alkitab Perjanjian Lama berulang-ulang menerangkan bahwa Malaikat Tuhan yang mengenakan bentuk manusia (yang dalam Perjanjian Baru ialah Kristus yang mengenakan tubuh daging) ialah Yehova sendiri. (Kel. 3:2-6; Hab. 6:11-24; 13:15-24; Zak. 1:11-12; 2:8-11). Seakan-akan Malaikat Tuhan dan Tuhan sendiri itu dua Persona, tetapi sebenarnya hanyalah satu. Ini juga merupakan seluk-beluk adanya tiga Persona ke-Allahan, sama seperti Kristus dan Allah dalam Perjanjian Baru yang walaupun dua, tetapi satu adanya.

7. Dalam Mazmur 110 Daud berkata, "Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku. Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." TUHAN yang pertama kali Daud sebut tentunya Allah, dan yang satunya lagi yang Daud sebut tuanku ialah mengacu kepada Tuhan Yesus, seperti yang Tuhan katakan sendiri dalam Matius 22:42-45. Dengan demikian Mazmur 110 membicarakan Allah dan Tuhan Yesus. Allah memanggil diri-Nya sendiri dengan sebutan "Ku", dan kepada Tuhan Yesus dengan "mu". Tuhan Yesus adalah Allah, tetapi di sini dikatakan bahwa Allah berfirman kepada dia, dan di antara Allah dengan dia ada perbedaan sebutan "Ku" dan "mu". Dia dengan Allah itu satu, tetapi Mereka adalah dua. Ini juga merupakan seluk-beluk tiga Persona ke-Allahan.

8. Dalam Perjanjian Lama bahkan mengungkapkan tiga sebutan — Bapa, Putra, dan Roh. Dua Samuel 7:14 membicarakan Bapa dan Putra. Yesaya 9:5 membicarakan Putra dan Bapa. Mazmur 2:7 membicarakan Putra. Yehezkiel 36:27, 37:14, 39:29, Yoel 2:28-29, dan lain-lain membicarakan Roh. Seturut dengan ayat-ayat tadi kita tahu bahwa (1) Bapa sebagai sumber, karena Putra berasal dari Bapa (2) Putra itu manifestasi-Nya, karena Putra diberikan kepada kita dan datang kepada kita, dan (3) Roh itulah yang masuk ke dalam kita, karena Roh itulah yang ditaruh di dalam kita dan yang bisa kita miliki dan kita nikmati. Ini mutlak sama dengan inti yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru.

Walaupun demikian, apa yang diwahyukan oleh Perjanjian Lama mengenai ketritunggalan ini — Bapa, Putra, dan Roh — masih tidak jelas di dalam pemikiran kita. Sampai pada kitab pertama Perjanjian Baru, Kitab Mathis pasal terakhir, barulah dengan jelas Tuhan mengutarakan tiga Persona — Bapa, Putra, dan Roh, dengan satu "sebutan tunggal". Mengapa hal ini baru terbuka pada waktu ini? Sebab justru pada waktu inilah, setelah kematian dan kebangkitan Tuhan, Sang Putra telah menyempurnakan semua rencana Bapa dan Roh Kudus pun telah datang untuk memasukkan apa yang Tuhan rampungkan ke dalam manusia. Karena itu, kini kita dapat membaptiskan orang ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh; yang berarti membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal. Dialah Allah yang merencanakan, Allah yang merampungkan, dan Allah yang diberikan ke dalam kita. Dialah Allah yang tiga di dalam satu, juga satu di dalam tiga, — Bapa, Putra, dan Roh.

Perkataan Andrew Murray dalam bukunya "Roh Kristus" bab 20, bisa menegaskan atau membuktikan apa yang kita bicarakan. Ia berkata, "Di dalam Bapa, kita memiliki Allah yang tidak terlihat, Pencipta alam semesta. Di dalam Putra, Allah terwahyu, terekspresikan dan terbawa dekat dengan manusia, Dialah wujud luar Allah. Di dalam Roh Allah, kita memiliki Allah yang berhuni di dalam kita: yakni kuat kuasa Allah berhuni di dalam diri manusia dan mengerjakan apa adanya Bapa dan Putra untuk kita . . . Apa yang telah Allah rencanakan dan apa yang telah Putra rampungkan, baru bisa bermanfaat dan bisa mendatangkan pengaruh nyata ke atas diri kita sebagai anggota Tubuh Kristus yang masih hidup di dalam daging ini, kalau ada intervensi dan pekerjaan Roh Kudus yang berkesinambungan di dalam kita."

Dalam kekekalan lampau yang tak bermula itu, Allah Bapa telah berencana seturut kehendak-Nya, kemudian Allah Putra yang merampungkan dalam waktu. Pertama-tama Dia merampungkan penciptaan. Setelah penciptaan dan manusia jatuh dalam dosa, Dia datang menjadi seorang manusia, untuk menebus manusia yang telah jatuh. Pada pihak negatifnya, Dia mati untuk menebus manusia; pada pihak positifnya, Dia bangkit dari kematian dan melepaskan hayat-Nya untuk menghasilkan banyak anak bagi Allah Bapa, dengan demikianlah Dia merampungkan rencana Allah Bapa. Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menjadi Allah Roh yang masuk ke dalam roh kita, sambil membawa Allah tritunggal ke dalam kita, tidak hanya untuk bersatu dengan kita, bahkan berbaur esa dengan kita. Sampai pada tahap inilah terasa betapa misterinya, betapa lengkap sempurnanya Allah itu. Hari ini, bila kita memberitakan Injil, kita harus berkata bahwa manusia memerlukan Allah semacam ini, manusia memerlukan-Nya sebagai Juruselamat, hayat dan segala-galanya. Bila seseorang percaya, kita baptis orang itu kedalam Allah tritunggal ini. Inilah seluk-beluk Bapa, Putra, dan Roh.

Selain Matius 28:19 dan Injil Yohanes, petikan-petikan selanjutnya dari Perjanjian Baru juga mewahyukan kepada kita tentang ketritunggalan Allah secara tegas dan mutlak.

1) Matius 6:9-10. Dalam ayat-ayat ini Tuhan mengajar murid-murid-Nya berdoa dengan memberi tekanan pada tiga macam permohonan. Ini juga memberi fakta yang jelas bahwa Allah yang kepada-Nya Tuhan Yesus menyuruh murid-murid berdoa, ialah tiga di dalam satu. Nama yang terkandung dalam doa pertama menyangkut Allah Bapa; kerajaan yang terkandung dalam doa kedua menyangkut Putra; kehendak yang ada dalam doa ketiga menyangkut Roh Kudus. Hal ini akan mudah kita pahami dengan pengajaran bagian lain dalam Alkitab.

2) Satu Korintus 12:4-6. Di sini kita baca "Roh" karunia, "Tuhan" pelayanan, dan "Allah" yang mengerjakan, ketiga-tiga-Nya menyangkut inspirasi Allah ke atas kita.

3) Dua Korintus 13:13 mengatakan bahwa anugerah "Tuhan Yesus", kasih "Allah" dan persekutuan "Roh Kudus" — ketiga-tiga-Nya — menyertai kita dalam waktu yang bersamaan.

4) Satu Petrus 1:2. Terbaca oleh kita bahwa pilihan Allah "Bapa", pengudusan oleh "Roh" dan percikan darah "Yesus Kristus" — ketiga-tiga-Nya menyebabkan kita beroleh keselamatan.

Ayat-ayat di atas, baik yang menyangkut inspirasi Allah kepada kita, atau ucapan pemberkatan rasul ke atas kita, ataupun keselamatan yang kita peroleh, telah merangkum Allah, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus menjadi satu. Ini tidak saja membuktikan bahwa ketigatiga-Nya adalah Allah, bahkan ketiga-tiga-Nya itu adalah satu. Mereka adalah tiga di dalam satu.

5) Dalam wahyu 1:4-5 kita baca (1) "dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang." (2) "dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya." dan (3) "dari Yesus Kristus", saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Ayat-ayat ini jelas mewahyukan bahwa Allah itu tiga di dalam satu.

6) Kemudian dalam Wahyu 4:8 tertulis bahwa keempat makhluk hidup itu memuji Allah: "Kudus, kudus, kuduslah . . ." Dalam Perjanjian Lama, imam-imam di atas bumi memberkati umat Allah dengan berkat tiga ganda, dan serafim di surga memuji Allah dengan berseru: Kudus, tiga kali; demikian juga dalam Perjanjian Baru, umat Allah berdoa dengan menekankan tiga macam permohonan, sedang keempat makhluk hidup di surga pun memuji dan menyeru, "Kudus!" tiga kali. Ini jelas karena Allah yang kepada-Nya mereka berdoa dan yang mereka puji ialah tiga di dalam satu.

KETIGA-TIGA-NYA —

BAPA, PUTRA, DAN ROH — IALAH ALLAH

1. Bapa ialah Allah. Satu Petrus 1:2 mengatakan, "Allah Bapa kita." Efesus 1:17 menyatakan, "Allah . . . Bapa yang mulia." Ayat ini mengatakan kepada kita, bahwa Bapa ialah Allah.

2. Putra ialah Allah. Ibrani 1:8 mengatakan : ". . . tentang Putra Ia berkata . . . ya Allah." Yohanes 1:1 mengatakan, "Firman itu adalah Allah." Ini jelas mengatakan bahwa Putra ialah Allah.

3. Roh ialah Allah. Kisah Para Rasu1 5:3-4 mengatakan ". . . engkau mendustai Roh Kudus . . . Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah."

Demikian jelas sekali Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa ketiga-tiga-Nya — Bapa, Putra, dan Roh — ialah Allah. Ini sama sekali bukan berarti Mereka itu tiga Allah. Kita sudah nampak dengan jelas, bahwa Alkitab mengatakan hanya ada satu Allah. Walaupun ada tiga — Bapa, Putra, dan roh — tetapi ketiga-tiga-Nya bukan tiga Allah, melainkan satu. Ini sungguh suatu misteri! Tak mungkin kita pahami dengan tuntas. Tetapi puji Tuhan, dengan sederhana kita terima dan kita nikmati Sang Esa yang misteri ini seturut dengan apa yang Alkitab wahyukan.

PUTRA ADALAH BAPA,

PUTRA JUGA ADALAH ROH

Yesaya 9:5 mengatakan, "Seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; . . . nama-Nya disebut . . . Allah yang Perkasa; Bapa yang kekal . ." Dalam ayat ini Allah yang perkasa dibandingkan dengan Putra. Memang la itu Putra, tetapi Ia juga Allah yang perkasa. Putra yang terlahir di dalam palungan di kota Betlehem adalah Allah yang Perkasa. Karena Putra dan Allah yang perkasa itu satu, demikian juga Putra dengan Bapa yang kekal itu pun satu. Putra itulah Bapa yang kekal. Memang ini sungguh sulit kita jelaskan dengan tuntas, tetapi Alkitab telah mengatakan demikian, "seorang Putra telah diberikan kepada kita . . . nama-Nya disebut Bapa yang kekal." Tidakkah inisudah sangat jelas mengatakan bahwa Putra itu ialah Bapa? Kalau Putra itu bukan Bapa, mana mungkin Putra itu disebut "Bapa"? Jika kita mengakui bahwa "Putra" yang dikatakan dalam ayat ini adalah "Allah yang perkasa," maka kita juga harus mengakui bahwa "Putra" di sini adalah "Bapa yang kekal"; kalau tidak, berarti kita tidak mau mempercayai apa yang sudah jelas diwahyukan oleh Alkitab. Tetapi kami dengan seyakin-yakinnya percaya akan apa yang terwahyu dalam ayat ini, bahwa Tuhan Yesus yang menjadi Putra, ialah Allah yang Perkasa, sedang Tuhan Yesus sebagai Putra, ialah Bapa yang kekal. Tuhan kita itu Putra, namun Dia juga Bapa. Haleluya!

Yohanes 14:7-11 mengatakan "Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia. Kata Filipus kepada-Nya, 'Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.' Kata Yesus kepadanya, 'Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata : Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanpekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri." Dalam ayat-ayat ini Tuhan membukakan misteri, bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Dia di dalam Bapa, Bapa di dalam Dia. Ketika Dia berbicara, Bapalah yang melakukan pekerjaan-Nya; ketika manusia melihat Dia, manusia melihat Bapa; bila mereka mengenal Dia, mereka mengenal Bapa, karena Dia adalah Bapa dan Dia dengan Bapa itu satu (Yoh. 10:30).

Dua Korintus 3:17 mengatakan, "Tuhan adalah Roh." Tuhan yang dikatakan dalam ayat ini jelas ditujukan kepada Tuhan Yesus, dan "Roh" dengan sendirinya ialah Roh Kudus. Tidakkah ini jelas dan pasti mengatakan kepada kita, bahwa Tuhan Yesus adalah Roh Kudus? Tuhan kita adalah Roh Kudus. Dia adalah Bapa, dan Dia adalah Roh. Dia adalah segala-galanya!

Banyak saudara saudari yang memiliki Alkitab J.N. Darby terjemahan baru. Boleh dikata J.N. Darby adalah orang yang paling mengenal Alkitab pada abad yang lampau, bahkan ada yang menamakan dia Raja Penelaah Alkitab. Dalam terjemahan barn Alkitab Perjanjian Baru, dia menaruh ayat-ayat sebelum 2 Korintus 3:17, yaitumulai ayat 7-16 di dalam tanda kurung ( ), ini menunjukkan bahwa ayat 17 langsung mengikuti ayat 6. Kalimat terakhir ayat 6 mengatakan, "Roh menghidupkan," kemudian dalam ayat 17 dikatakan "Tuhan adalah Roh." Jadi menurut kesimpulan Darby, Tuhan itu adalah Roh yang memberikan hidup, dan Roh ini adalah Roh Kudus sebagaimana tercantum dalam ayat 6. Karena itu, ini membuktikan Darby tahu benar bahwa Tuhan Yesus itu juga adalah Roh Kudus.

Selain Darby, sepengetahuan kita ada beberapa tokoh yang dalam tulisannya menerangkan bahwa mereka mengakui Tuhan Yesus adalah Roh Kudus berdasarkan 2 Korintus 3:17 ini.

1. Dalam bukunya yang berjudul "The Spirit of Christ" bab 25, Andrew Murray berkata: Ketika Tuhan Yesus ditinggikan ke dalam Roh kehidupan, jadilah Dia Tuhan Sang Roh .. . Murid-murid mengenal Yesus lama sekali, tanpa mengenal Dia itu justru Tuhan Roh . . . Dalam suatu ministri mungkin sudah banyak diberitakan mengenai Tuhan Yesus yang tersalib, tanpa mengatakan Dia itu adalah Tuhan Sang Roh . . . Hanya setelah di dalam gereja ada pengenalan dan mengakui Kristus adalah Tuhan Sang Roh, barulah ministri di antara kaum beriman itu hidup dan bertenaga — ini Baru ministri rohani.

2. Dean Alford (pemegang hak mengartikan bahasa Gerika dalam Alkitab Perjanjian Baru) dalam "The New Testament for English Readers" volume II, hal 265 mengatakan, "Tuhan yang dikatakan di sini (2 Kor. 3:17), adalah Kristus sang Roh yang identik dengan Roh Kudus. — Kristus, disini ialah Roh Kristus."

3. Marvin R. Vincent dalam bukunya "Word Studies in the New Testament" volume III, hal 308, mengatakan Tuhan Kristus ayat 16 ialah Roh yang meliputi dan yang menghidupi Perjanjian Baru.

4. J. Oswald Sandess dalam bukunya "Spiritual Maturity" (terbitan Moody Press), hal 144 mengatakan : William Barclay memberi catatan kaki atas "Tuhan yang adalah Roh" dalam 2 Korintus 3:18, Paulus menganggap Tuhan yang bangkit itu dengan Roh Kudus adalah satu. Di sini Paulus tidak membicarakan Theologia, is mengetengahkan pengalamannya. Dari pengalaman kehidupan orang Kristen, nyata bahwa pekerjaan Roh dan pekerjaan Tuhan yang telah bangkit itu adalah sama, bahkan esa. Kekuatan, sorotan, dan perlindungan yang kita terima datangnya serempak dari Roh dan juga Tuhan yang telah bangkit. Ini sama sekali tidak tergantung pada cara mengatakannya, tetapi tergantung pada pengalaman.

Kita bukanlah orang satu-satunya yang telah nampak dari 2 Korintus 3, yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah Roh; bahkan banyak tokoh rohaniwan nampak demikian. Kristus Tuhan yang telah bangkit itu hari ini telah menjadi Roh yang memberi hayat. Itulah sebabnya mengapa rasul Paulus menyebut-Nya - "Tuhan yang adalah Roh" (2 Kor. 3:18). Dia bukan saja Tuhan, bahkan Tuhan Sang Roh.

Lebih lanjut, 1 Korintus 15:45 menerangkan, "Adam yang akhir menjadi Roh yang menghidupkan (Roh pemberi hayat)." Adam yang akhir sudah pasti mengacu kepada Tuhan Yesus yang berinkarnasi, dan Roh yang menghidupkan (Roh pemberi-hayat) sudah tentu ialah Roh Kudus. Tidak ada Roh pemberi-hayat lainnya, kecuali Roh Kudus. Demikian ayat ini dengan jelas menerangkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus ialah Roh Kudus. Tuhan dijadikan tubuh daging dan menjadi Adam yang akhir, setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menjadi Roh yang menghidupkan.

Perkataan Tuhan dalam Yohanes 14:16-20 juga menyangkut hal ini. Di sini Tuhan mengatakan kepada kita, setelah Dia melalui kematian dan kebangkitan, Dia akan menjadi Penolong yang lain, yaitu Roh kebenaran, Yang akan datang menyertai kita dan menetap di dalam kita. Dalam ayat 17 Tuhan mengatakan bahwa Roh kebenaran (Roh realitas) akan menyertai kita. Kemudian dalam ayat 18 Dia berkata, "Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu." Tiga puluh tahun lebih yang lampau di Shanghai, ketika Saudara Watchman Nee menerangkan pasal ini kepada kami, dia menunjukkan dan menegaskan bahwa "Dia" (Roh Kudus) dalam ayat 17 ialah "Aku" (Tuhan) dalam ayat 18. Tuhan seolah berkata, "Ketika Dia datang, Aku datang. Dia adalah Aku, dan Aku adalah Dia." Roh Kudus adalah Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus itu juga Roh Kudus. Dalam ayat 17 Tuhan berkata, "Roh kebenaran . . . diam di dalam kamu", dan dalam ayat 20 Tuhan berkata, "Aku di dalam kamu," ini membuktikan juga bahwa Roh Kudus yang ada di dalam kita ialah Tuhan yang sudah mati dan bangkit dari kematian, dan yang kini diam di dalam kita.

Dalam Roma 8:9-10 menunjukkan kepada kita bahwa "Roh Allah" itu ialah "Roh Kristus," dan "Roh Kristus" sudah tentu ialah "Kristus" sendiri. Jadi "Rohyang memberi hidup" dalam Roma 8:2 ialah Kristus yang ada di dalam roh kita dan menjadi pengalaman kita.

Jadi, dengan jelas Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa Putra adalah Bapa, dan Putra itu juga Roh. Kalau tidak, bagaimana mungkin ketiga-tiga-Nya bisa menjadi satu Allah? Lima tahun yang lalu, saya pernah mengajukan pertanyaan ini kepada orang yang tidak setuju bahwa Putra adalah Bapa juga Roh. Jawabnya, Bapa itu satu Allah, Putra itu satu Allah, dan Roh juga satu Allah; dan ketiga-tiga-Nya bergabung menjadi satu Allah korporatif. Langsung saja saya menegur dia, agar jangan sekali-kali berkata demikian. Itu sungguh bidat. Dia menjawab, "Tidakkah dalam Mazmur digunakan istilah "para allah?" Saya jawab, "Para allah dalam Mazmur 82:1 ditujukan kepada para malaikat." Jika seseorang mempunyai konsepsi bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Allah, bagaimana mungkin ia mengakui wahyu Alkitab yang mengatakan bahwa Putra itu ialah Bapa, dan Putra itu juga Roh? Kita harus mau menerima keseluruhan wahyu Alkitab dan mengakuinya sedemikian. Dalam salah satu syair lagu gubahannya, Saudara Watchman Nee menulis :

Dikau Tuhan, kami panggil Bapa,

Tapi kini Roh Kudus adanya.

Dalam lagu ini, ia menyebut Tuhan tidak saja Roh Kudus, juga Sang Bapa. Ini tentunya didasarkkan pada 2 Korintus 3:17 dan Yesaya 9:5.

Saudara saudari, membaca Alkitab itu mudah, tetapi tidak mudah untuk memahaminya. Sesungguhnya, Alkitab itu bukan untuk kita pahami, melainkan untuk kita terima dan kita nikmati. Tuhan Yesus berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat. 4:4). Firman yang keluar dari mulut Allah ialah firman dalam Alkitab, sepertilah makanan. Makanan itu bukan untuk kita pahami, tetapi untuk kita terima, makan dan nikmati. Sebab itu, ketika kita membaca Alkitab, janganlah kita terlalu memeras otak kita untuk menganalisis sehingga paham, cukuplah kita menerima apa saja yang dikatakan. Bila kita ingin menganalisis Alkitab dengan otak kita, bisa-bisa kita terjerumus ke dalam kesalahan, sehingga salah menafsir firman Tuhan. Contohnya : Kita baca dalam Kitab Wahyu mengenai tujuh Roh Allah (1:4; 3:1; 4:5; 5:6). "Tujuh Roh" dalam teks aslinya berarti "tujuh (buah) Roh". Kalau demikian, saya ingin bertanya, apakah Roh Allah itu ada tujuh? Bila Andaberkata bahwa Allah mempunyai tujuh Roh, ini suatu bidat besar. Tetapi di pihak lain, bila Anda mengatakan bahwa Roh Allah itu bukan tujuh Roh, berarti Anda tidak setuju dengan apa yang dijelaskan Alkitab, karena Kitab Wahyu dengan jelas mengatakan "ketujuh Roh Allah". Kalau begitu Roh Allah itu tujuh atau satu? Janganlah kita terlalu memaksakan otak kita untuk menelaah dan menerangkannya. Bila Allah mengatakan hanya ada satu Roh, memang Roh itu satu, bila Allah mengatakan ada tujuh Roh, ya ada tujuh.

Demikian juga mengenai Bapa, Putra, dan Roh, ketiganya adalah satu, ini hampir mirip dengan tujuh Roh yang adalah satu juga. Ini justru menyebabkan kita sulit menerangkannya. Selama dua ribu tahun sudah banyak orang hendak menyingkapkan dengan otak mereka, namun gagal semuanya. Menghadapi seluk-beluk yang misterius ini, paling baik kalau kita mau mengesampingkan alasan-alasan kita. Kalau kita tetap mau menganalisisnya, yang satu mengatakan "tujuh," yang lain mengatakan "satu", akibatnya kita akan berbantahan dan terpecah-belah. Sepanjang dua ribu tahun, timbulnya perbantahan dan perpecahan dalam gereja tak lain disebabkan adanya perbedaan pendapat mengenai doktrin Alkitab.

Bentuk kaki dian dalam Perjanjian Lama sungguh unik: bagian bawah ada sebuah kaki lampu, sedang di bagian atas ada tujuh buah lampu (Kel. 25:31-37). Kaki lampunya cuma satu, tetapi lampunya tujuh; lampunya tujuh, tetapi kakinya satu. Gambaran yang sama juga tertera dalam Zakharia 4:2. Karena itu, tidak salah kalau dikatakan hanya ada satu kaki lampu, sebaliknya benar juga kita katakan ada tujuh lampu. Demikian juga halnya Roh Allah. Tidak perlu diragukan lagi, Dia itu satu Roh; tetapi Dia juga disebut "ketujuh Roh", yaitu Roh tujuh ganda, Roh yang diperkuat tujuh kali.

Seprinsip dengan ini, Allah kita yang unik mempunyai tiga Persona — Bapa, Putra, dan Roh — janganlah kita lalu beranggapan bahwa ketiga-tiga-Nya ialah tiga Allah. Walaupun mereka ada tiga, tetapi satu Allah; meskipun satu Allah, tetapi ada tiga Persona — Bapa, Putra, dan Roh. Inilah Allah unik yang kita layani dan kita sembah! Ini juga satu-satunya Tuhan yang kita percayai dan kita cintai! Haleluya!

PUTRA YANG BERDOA IALAH BAPA

YANG MENDENGARKAN DOA

Mungkin ada yang ingin bertanya, "Dalam Injil Yohanes 17, Tuhan berdoa kepada Bapa — kalau mengatakan Putra itu ialah Bapa, lalu bagaimana Putra bisa berdoa kepada Bapa?" Penjelasannya tidak sulit. Dalam bagian pertama Keluaran 3:2-12 dengan jelas dikatakan, "Malaikat Tuhan" yang menampakkan diri kepada Musa, tetapi kemudian dikatakan bahwa yang berbicara ialah "TUHAN". Banyak penelaah Alkitab mengatakan bahwa "Malaikat Tuhan" di sini mengacu kepada Kristus, Persona kedua dari Allah Tritunggal. Memang ini benar. Tetapi dalam ayat 6 dikatakan bahwa Dialah "Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub." Telah kita tunjukkan bahwa Allah Abraham dititikberatkan pada Dia adalah Bapa; Allah Ishak dititikberatkan pada Dia adalah Putra; sedang Allah Yakub dititikberatkan pada Dia adalah Roh. Jadi, Dia tidak saja satu Persona kedua dari Allah Tritunggal, Dia juga Allah keseluruhannya. Dia adalah Persona pertama — Bapa, Dia adalah Persona kedua — Putra, dan Dia juga Persona ketiga — Roh. Malaikat Tuhan ini justru benar-benar Allah Tritunggal. Allah Tritunggal ialah yang mengutus Malaikat, dan Malaikat yang dia utus justru adalah Dia sendiri. Tuhan yang mengutus Malaikat ialah Sang Pengutus; Sang Pengutus dengan Yang Diutus adalah satu. Dalam Hakim-hakim 6:11-24 dan 13:15-24 juga mengungkapkan bahwa Malaikat Tuhan (yang tentu juga ditujukan untuk Kristus) ialah Tuhan sendiri. Kitab Zakharia 12:8b membuktikan pula bahwa Malaikat Tuhan ialah Tuhan Allah. Ini berarti Tuhan Allah mengutus diri-Nya sendiri sebagai Malaikat Tuhan. Bila kita sudah mengerti prinsip ini, tentu tidak akan ada lagi pertanyaan yang menanyakan bagaimana mungkin Putra berdoa kepada Bapa, kalau Putra itu sendiri juga Bapa. Yang berdoa dan yang mendengarkan doa, Putra yang berdoa dan Bapa yang mendengarkan doa, adalah satu.

Selanjutnya, yang dikatakan dalam Zakharia 2:8-11 juga memperkuat hal ini — "Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus Aku . . . sesungguhnya Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka . . . TUHAN semesta alam yang mengutus Aku . . . sesungguhnya Aku datang dan diam di tengah-tengahmu, demikianlah firman TUHAN; dan banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada TUHAN pada waktu itu dan akan menjadi umat-Ku dan Aku akan diam di tengahtengahmu. Maka engkau akan mengetahui, bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus Aku kepadamu." Ayat 8 dikatakan oleh TUHAN semesta alam, tetapi dalam ayat 9, 11 TUHAN semesta alam berkata, "TUHAN semesta alam yang mengutus Aku." Ini berarti TUHAN semesta alam mengutus TUHAN semesta alam. Karena itu dalam ayat 8 dikatakan, "Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam . . . telah mengutus Aku." Sesungguhnya, siapa mengutus siapa? Siapakah "Dia"? Dan siapa pula "Aku"? Bagaimanapun kita membacanya, takkan mengerti. Bahkan para penerjemah Alkitab pun merasa bingung; karenanya ada sebagian yang dalam terjemahannya, menambah keterangan "Dia" di belakang kata "Aku," dan di belakang kata "Dia" ditambahkan kata "Aku". Sebenarnya di sini Dia adalah Aku, dan Aku adalah Dia. TUHAN semesta alam adalah "Dia", juga adalah "Aku". TUHAN semesta alam itu yang mengutus, juga yang diutus. Kalau TUHAN semesta alam itu yang mengutus juga yang diutus, mengapa tidak mungkin kalau Tuhan Sang Putra yang berdoa juga Sang Bapa yang mendengarkan doa? Bapa yang sedang mendengarkan doa ialah Putra yang sedang berdoa; dan Putra yang sedang berdoa ialah Bapa yang sedang mendengarkan doa. Andrew Murray pernah berkata, "Doa yang paling baik ialah doa yang dipanjatkan oleh Kristus yang berhuni di dalam kita kepada Kristus yang bertakhta di surga." Sesungguhnya, "Yang" berdoa dan "Yang" mendengarkan doa ialah Kristus sendiri.

Secara doktrinal, ini memang sulit diterangkan, tetapi dalam pengalaman, kenyataan memang demikian. Dalam masa-masa permulaan hidup kekristenan saya, kalau saya berdoa seturut dengan konsepsi umumnya, saya berdoa kepada Tuhan di surga. Tetapi beberapa waktu kemudian, saya merasa bahwa Tuhan yang di atas surga telah datang dan tinggal di dalam saya. Saya tidak tahu bahwa pada waktu yang demikian ini, sebenarnya Dia sedang di surga untuk mendengarkan doa saya, ataukah sedang tinggal di dalam saya dan berdoa di dalam saya. Memang ini dapat dikatakan bahwa Roh Kudus di dalam saya yang sedang membantu saya berdoa (Rm. 8:26). Tetapi sesungguhnya Roh Kudus yang di dalam saya membantu saya berdoa, juga adalah Tuhan yang berada di surga. Jadi, Yang berdoa di dalam saya adalah Yang mendengarkan doa saya di surga; dua-dua-Nya identik.

Roma 8, selain mengatakan bahwa hari ini Tuhan itu berada di surga (ayat 34), juga mengatakan bahwa Dia berada di dalam kita (ayat 10). Ini tidak saja hari ini benar demikian, karena Tuhan telah menjadi Roh; bahkan ketika Dia masih di dalam tubuh daging, juga demikian. Pada waktu itu Dia berkata kepada Nikodemus, bahwa Dialah yang turun dari surga, tetapi juga yang berada di surga (Yoh. 3:13). Karena itu ketika Dia berdoa dalam Yohanes 17, Dia berada di bumi, tetapi pada saat itu pula Dia sedang berada di surga. Dialah yang berdoa di bumi, dan pada saat yang bersamaan, Dia pulalah yang mendengarkan doa-Nya di surga.

Arus listrik berada dalam bola lampu yang menyala, di samping itu juga berada di dalam generatornya. Pada saat yang bersamaan berada dalam dua tern-pat yang berbeda. Arusnya tidak berbeda, tetap satu. Arus listrik di dalam generator ialah pembangkit daya, sedang yang ada di dalam bola lampu ialah penyorot sinar. Syukur kepada Tuhan, di surga Dia adalah Bapa, dan di bumi Dia adalah Putra; di surga Dia adalah Bapa, di bumi Dia adalah Putra; di surga Dia adalah yang mendengarkan doa, dan di bumi Dialah yang memanjatkan doa. Dialah yang serempak memanjatkan doa di bumi dan mendengarkan doa di surga.

Lebih lanjut dalam Ibrani 1:8-9 dikatakan, "Tentang Anak la berkata, 'Takhta-Mu ya Allah.'" Ayat 8 dikatakan, "Tentang Putra Ia berkata . . . ya Allah." Ini berarti Putra itu adalah Allah. Tetapi ayat 9 dikatakan, "Allah-Mu". Ini sulit dijelaskan. Semulanya Putra disebut "Ya Allah," mengapa kemudian dikatakan "Allah-Mu"? Menurut otak alamiah, kita akan berkesimpulan bahwa ini berarti "Allahnya Allah". Dengan alasan inilah tidak heran kalau beberapa waktu yang lampau saya pernah menerima buku yang isinya mengatakan ada dua Allah. Tetapi sebenarnya di sini tidak dikatakan ada dua Allah, tetapi satu Allah dalam aspek yang berbeda. Dari aspek Putra sebagai Allah, Dialah Allah, karena itu dikatakan ya Allah; dan dari aspek Putra sebagai Manusia, Allah itu Allah, karena itu dikatakan "Allah-Mu". Kita harus nampak beberapa macam aspek Tuhan kita. Di satu pihak Dia adalah Allah, dan di lain pihak Dia adalah manusia. Sebagai Allah, Dialah Allah; sebagai manusia Allah itu Allah-Nya. Di satu pihak Dialah yang berdoa, di pihak yang lain Dia juga yang mendengarkan doa. Dia adalah kedua-duanya.

Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — mempunyai aspek "tiga dalam satu", juga aspek "satu di dalam tiga". Sebagai "tiga di dalam satu" Dia adalah "Aku"; sebagai "satu di dalam tiga," Dia adalah "Kita". Dari aspek tiga di dalam satu, "Firman adalah Allah"; dari aspek satu di dalam tiga, "Firman itu bersamasama dengan Allah" (Yoh. 1:1). Dari aspek tiga di dalam satu, "Tuhan itu adalah Roh"; dari aspek satu di dalam tiga, ialah "Roh Tuhan" (2 Kor. 3:17). Dari aspek tiga di dalam satu, Putra dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30,14:7-11); dari aspek satu di dalam tiga, Putra bersamasama dengan Bapa (Yoh. 1:1-2), Putra menyatakan kemuliaan-Nya bersama-sama dengan Bapa (Yoh. 17:5), Putra itu adalah yang Bapa kasihi (Yoh. 17:24), Putra itu menjadi satu dengan Bapa (Yoh. 17:11, 21-22), dan Putra melakukan pekerjaan yang sama dengan yang Bapa lakukan (Yoh. 14:23).

PENYEBAB BAPA MENJADI TIGA

DI DALAM SATU

Dua Korintus 13:13 — "Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian." Di sini ada tiga kata nama benda yang diketengahkan: anugerah, kasih, dan persekutuan. Mengapa anugerah diketengahkan terlebih dulu? Sebab titik-berat 2 Korintus ialah mengenai kasih karunia Allah. Pasal 12:9 mengatakan, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu." Pasal 1:12 mengatakan, ". . . bahwa hidup kami di dunia ini . . . oleh kekuatan anugerah Allah." Kitab 2 Korintus ini membicarakan anugerah Tuhan, karena itu ketika sampai pada akhir surat, pertama-tama diketengahkan anugerah Tuhan, kemudian kasih Allah, dan yang terakhir persekutuan Roh Kudus. Ini juga menampakkan penyebab mengapa Allah itu tiga di dalam satu, dan justru dengan jalan inilah Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, menggarapkan diri-Nya ke dalam kita untuk kita nikmati dan menjadi segala-gala kita. Kasih Allah ialah kasih Bapa sebagai sumber. Anugerah Kristus ialah kasih karunia Putra, yang merupakan keluarnya kasih Bapa. Dan persekutuan Roh Kudus ialah masuknya anugerah Putra bersama-sama dengan kasih Bapa ke dalam kita, untuk kita nikmati. Ini dapat dibuktikan melalui pengalaman kita. Persekutuan Roh Kudus di dalam kita merupakan tersalurnya kasih karunia Putra ke dalam kita. Sedang anugerah Putra di dalam kita merupakan kecapan dan kenikmatan yang sederhana dan praktis terhadap kasih Bapa. Kasih Bapa itu sumbernya, anugerah Putra itu manifestasinya, dan persekutuan Roh Kudus itu salurannya yang menyalurkan anugerah Allah ke dalam kita. Hasilnya, tiga Persona Bapa, Putra, dan Roh — menjadilah kenikmatan kita. Anda memiliki persekutuan Roh Kudus di dalam Anda, semakin Anda hidup di dalam persekutuan ini, Anda semakin mendapatkan anugerah Kristus; semakin Anda mendapatkan anugerah Kristus, Anda semakin menikmati kasih Allah. Persekutuan Roh Kudus mendatangkan anugerah Kristus, dan di dalam anugerah Kristus terdapat kasih Allah. Karena itu, kasih Bapa, anugerah Putra, dan persekutuan Roh Kudus bukan merupakan tiga benda yang berbeda, tetapi hanya merupakan tiga tahap satu benda untuk kita miliki dan kita nikmati. Sepertinya Bapa, Putra, dan Roh juga bukannya tiga Allah, melainkan tiga "tahap" Allah untuk kita miliki dan kita nikmati. Contohnya, es batu menjadi air dan air menjadi uap, satu zat berubah dalam tiga bentuk. Ketika tercapai tahap penguapan, mudahlah untuk kita hirup. Jadi, segala sesuatu Bapa yang ada pada Putra, dan segala sesuatu Putra yang diterima oleh Roh Kudus, akan dibawa masuk ke dalam kita untuk kita nikmati (Yoh. 16:14-15).

BAPA, PUTRA, DAN ROH KUDUS,

SEMUA DI DALAM KITA

1. Bapa ada di dalam kita. Efesus 4:6 berkata, "Allah dan Bapa dari semua . . . di dalam semua."

2. Anak di dalam kita. Kolose 1:27 mengatakan, "Kristus ada di tengah-tengah kamu." Juga di dalam Yohanes 14:20 Tuhan berkata, "Aku di dalam kamu."

3. Roh berada juga di dalam kita. Yohanes 14:17 mengatakan, "Roh kebenaran . . . diam di dalam kita."

Dengan demikian, Alkitab jelas menegaskan bahwa Bapa di dalam kita, Putra di dalam kita, Roh pun di dalam kita. Pengalaman kita menyatakan bukan tiga yang di dalam kita, melainkan satu saja. Bapa di dalam Putra tinggal di dalam kita, dan Putra yang tinggal di dalam kita adalah Roh. Roh Kudus di dalam kita ialah Putra di dalam kita, dan Bapa di dalam Putra tinggal di dalam kita. Karena itu, selama kita memiliki Roh, selama itu pula kita memiliki Putra dan Bapa. Satu Yohanes 2:23 mengatakan, "Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa." Roma 8:9-10 selanjutnya mewahyukan, bahwa Roh Kudus yang di dalam kita itu adalah Kristus. Karena itu, bila kita memiliki Roh, kita memiliki Putra; dan bila kita memiliki Putra, kita juga memiliki Bapa. Bapa di dalam Putra dan Putra ialah Roh yang masuk ke dalam kita, sehingga kita bisa memiliki dan menikmati Allah Tritunggal semacam ini. Secara harfiah memang tiga, tetapi dalam pengalaman hanya satu. Ini sungguh suatu misteri.

"KRISTUS ADALAH ROH" — PENGUCAPAN ALKITAB

Hari ini umat Kristen mempunyai cara tradisional dalam pengucapan "Kristus berada di dalam Roh Kudus." Tetapi Alkitab tidak mempunyai bentuk penyataan yangdemikian; dalam seluruh Alkitab tidak ada satu ayat pun yang mengatakan "Kristus berada di dalam Roh Kudus." Alkitab mengatakan, Putra dalam Bapa dan Bapa di dalam Putra (Yoh. 14:10-11, 20), tetapi tidak pernah mengatakan bahwa Putra di dalam Roh. Ini disebabkan karena Bapa ternyata di dalam Putra, dan Putra yang masuk ke dalam kita itu adalah Roh. Jadi bukannya Putra yang masuk ke dalam kita adalah "di dalam" Roh, melainkan Putra yang masuk ke dalam kita adalah Roh. Karena itu "Kristus berada di dalam Roh Kudus" adalah pengucapan tradisional, sedang Kristus adalah Roh adalah pernyataan Alkitab. Alkitab berkata, "Tuhan adalah Roh" (2 Kor. 3:17). Sayang sekali hari ini ada sebagian orang Kristen yang masih mempertahankan pengucapan tradisional ini, sebaliknya menuduh bahwa pengucapan Alkitab tidak sesuai dengan kebenaran, dan salah. Semoga Tuhan memberikan Roh hikmat dan wahyu kepada kita agar kita bisa membedakan hal-hal yang berasal dari wahyu Allah.

SEMUANYA ADALAH KISAH ROH

Allah Tritunggal adalah kisah Roh. Pertama, unsur-Nya, Dia adalah Roh. Yohanes 4:24 mengatakan, "Allah itu Roh." Ini menyangkut unsur Allah. Contoh : Unsur (bahan) meja kayu ialah kayu, kita bisa mengatakan bahwa meja tersebut ialah kayu. Allah itu Roh, unsur Allah adalah Roh. Kedua, di dalam ekspresi-Nya, Allah adalah Bapa, Putra, dan Roh (Mat. 28:19). Allah mempunyai ekonomi, dan di dalam ekonomi-Nya itu, Bapa yang berencana, Putra yang merampungkan dan Roh yang menerapkan. Akhir dari ekonomi Allah ialah di dalam Roh. Ketiga, di dalam penebusan-Nya, Adam yang akhir menjadi Roh yang menghidupkan (1 Kor. 15:45). Tuhan datang menjadi Adam yang akhir, merampungkan penebusan, dan dibangkitkan menjadi Roh pemberi-hayat. Hari ini Tuhan yang kita nikmati adalah Roh itu (2 Kor. 3:17), dan Roh itu justru adalah Allah Tritunggal. Unsur-Nya adalah Roh. Akhir ekonomi-Nya di dalam Roh dan penebusan-Nya juga menuntun kepada Roh. Kesimpulannya, Tuhan yang kita miliki, kita nikmati, dan kita alami hari ini adalah Roh. Allah yang berencana sejak azali dan yang mencipta pada waktunya, kemudian menjadi seorang manusia, mati disalib, merampungkan penebusan, dibangkitkan dan terangkat, kemudian turun kembali untuk masuk ke dalam kita — adalah Allah yang adalah Roh. Banyak sekali yang bisa dikatakan mengenai Roh ini. Roh ini terlampau kaya! Di dalam Roh ini ada Allah, di dalam Roh ini juga ada manusia. Di dalam Roh ini ada kekuatan pembunuhan yang efektif dari salib, di dalam Roh ini ada kebangkitan, hayat kebangkitan, dan kekuatan kebangkitan. Di dalam Roh ini ada kenaikan ke surga dan yang melampaui segalanya, di dalam Roh ini ada kemuliaan, takhta, kekuasaan raja, dan kerajaan. Haleluya, Roh ini meliputi segala-galanya!

Roh ini Roh yang memberi hidup (Rm. 8:2), seperti udara yang dihembuskan ke dalam kita (Yoh. 20:22) untuk menjadi hayat kita. Roh ini juga Roh Kuasa (Kis. 1:8), seperti angin yang meniup kita (Kis. 2:2, 4) untuk menjadi kekuatan kita. Roh ini Roh yang menghidupkan (1 Kor. 15:45, 2 Kor. 3:6), Roh pertolongan yang serba cukup (Flp. 1:19), Roh yang memerdekakan kita (2 Kor. 3:17), Roh yang menguduskan (1 Ptr. 1:2), Roh pengubah (2 Kor. 3:18), Roh yang memimpin dan membantu kita dan berdoa bagi kita (Rm. 8:14, 26) dan Roh untuk aneka ragam daya guna. Roh ini melahirkan kita kembali (Yoh. 3:5-6), mengurapi kita, memeteraikan kita (2 Kor. 1:21-22; Ef. 1:13, 4:30) dan kini di dalam kita menjadi "Allah adalah jaminan bagian kita sampai selama-lamanya" (Ef. 1:14, 2 Kor. 5:5). Roh ini juga sebagai buah bungar (sulung) yang merupakan pencicipan pembebasan tubuh kita ke dalam kemuliaan yang Allah inginkan (Rm. 8:23). Kita semua telah dibaptis ke dalam Roh ini, dan kini kita diberi minum dari satu Roh (1 Kor. 12:13).

Roh yang meliputi segala-galanya dan Mahakuasa ini, telah masuk ke dalam Roh kita (2 Tim. 4:22) dan berbaur dengan roh kita menjadi satu roh (1 Kor. 6:17). Karena itu kita harus kembali ke dalam roh kita. Hari ini bila kita ingin mengalami dan menikmati Tuhan sebagai segala-gala kita, kita harus kembali ke dalam roh kita.

Tetapi tidaklah cukup bagi kita untuk hanya belajar kembali ke dalam roh. Di dalam kehidupan sehari-hari kita harus hidup dan bertindak menurut roh. Agak sulit untuk mengatakan roh ini adalah Roh Kudus atau roh kita, karena roh ini adalah perbauran kedua roh (Roh Kudus dengan roh kita). Janganlah kita hidup dan bertindak menurut emosi, pikiran atau tekad kita, tetapi menurut roh ini. Segala pembicaraan, perilaku, penghidupan sehari-hari, aktivitas, dan pekerjaan kita harus sesuai dengan roh ini (Rm. 8:4-6, Gal. 5:16, 25). Bila kita senantiasa memikirkan roh ini dan bertindak menurut roh ini, kita akan menjadi orang yang hidup di dalam roh, dan Roh Tuhan akan mapan di dalam kita terusmenerus dan kita pun akan senantiasa hidup bersama dengan Roh Tuhan. Roh Tuhan akan menjadi kehidupan dan segala-gala kita, dan kita pun akan dapat menikmati segala kekayaan Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh. Kita akan hidup di dalam TUBUH yang telah dibaptis dan dipenuhi oleh Roh (1 Kor. 12:13, Ef. 4:4) dan inilah gereja, yang menjadi tempat tinggal Allah di dalam roh (Ef. 2:22), dan terisi sepenuhnya oleh Allah, sehingga Allah mendapatkan kemuliaan di dalamnya (Ef. 3:19, 21).