← Daftar isi Kristus yang Almuhit · bab 1/16

Bab 1

Prakata

Pembacaan Alkitab :

Kejadian 1:1, 2, 9-12, 26, 27, 29; 7:17; 8:1, 13, 22; 12:1,7; Keluaran 18; 6:8; Yehezkiel 20:40-42; 1Korintus 1:30; Kolose 2:6,7,16,17; 3:11; Efesus 2:12 ; Galatia 5:4.

Dalam serangkaian berita ini kita akan membahas tentang tanah Kanaan. Tanah Kanaan adalah lambang Kristus yang almuhit. Kita pun akan membahas betapa kota dan bait yang dibangun di tanah Kanaan adalah lambang kepenuhan Kristus, yaitu TubuhNya, gereja. Dengan kata lain, yang akan kita bahas ialah Kristus yang almuhit; dari dalamNya dan di atas diriNya, kepenuhan Kristus, gereja, -- dapat dibangunkan. Harus kita ingat, ini bukan hanya Kristus dan gereja, melainkan Kristus yang almuhit dan kepenuhanNya, yakni TubuhNya, gereja.

KRISTUS SEBAGAI REALITAS SEGALA SESUATU

Pertama kita harus mengerti, menurut wahyu Alkitab, setiap benda yang berwujud, yang dapat dilihat, dijamah dan dinikmati oleh kita bukanlah benda yang sejati. Mereka hanya merupakan bayang-bayang dan lambang dari benda yang sejati. Setiap hari kita berhubungan dengan banyak benda : kita makan makanan, minum air, mengenakan pakaian, menghuni rumah, mengendarai kendaraan dan sebagainya. Kita harus mengerti dan harus ingat, benda-benda tersebut semuanya bukanlah yang sejati, melainkan bayang-bayang atau lambang belaka. Makanan yang kita makan setiap hari bukan makanan yang sejati, ia hanya suatu lambang dari makanan yang sejati. Air yang kita minum pun bukan air sejati. Terang yang ada di depan mata kita pun bukan terang sejati; semua itu hanya merupakan lambang yang mencerminkan benda lain.

Kalau begitu apakah benda yang sejati? Saudara saudari, demi kasih karunia Allah, saya beritahu kalian, bahwa yang sejati itu tak lain ialah Kristus sendiri. Kristus adalah makanan kita yang sejati, Kristus adalah air yang sejati, Kristus adalah terang yang sejati, ya, Kristus itulah realitas segala-galanya. Bahkan kehidupan jasmani kita pun bukan kehidupan yang sejati, melainkan hanya sebuah lambang yang mengacu kepada Kristus. Kristuslah hidup kita yang sejati. Tanpa Kristus, Anda tidak ada kehidupan. Anda boleh mengatakan bahwa Anda hidup, dalam tubuh Anda ada kehidupan. Namun Anda harus tahu, kehidupan itu bukan kehidupan yang sejati, itu hanya merupakan bayang-bayang dari kehidupan sejati, yaitu Kristus itu sendiri.

Sewaktu saya dari hari ke hari tinggal di rumahku, saya menyadari bahwa ini bukan tempat tinggalku yang sejati. Pada suatu hari saya berkata kepada Tuhan, "Oh Tuhan, ini bukan tempat kediamanku, ini bukan rumah yang sejati, ini tak terbilang apa-apa. Oh Tuhan, Dikau sendirilah tempat kediamanku." Ya, Dia barulah tempat kediaman kita yang sebenarnya.

Sekarang saya ingin menanyakan satu soal kepada Anda. Soal ini mungkin sejak dulu tak pernah Anda pikirkan. Boleh jadi Anda sangat jelas tentang Kristus sebagai makanan, air hidup, terang atau hidup Anda. Namun pemahkah Anda menyadari, bahwa Kristus justru adalah sebidang tanah yang Anda tempati? Kristus itulah tanah itu! Mungkin Anda merasa, setiap hari Anda tinggal di bumi dan hidup di atas tanah ini. Tetapi Anda harus menyadari, bahwa bumi ini bukanlah tanah Anda yang sejati, ia pun hanya merupakan lambang Kristus saja. Kristus itulah tanah kita yang sejati! Makanan merupakan satu lambang, air merupakan satu lambang, terang merupakan satu lambang, hidup kita merupakan satu lambang, dan tanah ini pun merupakan satu lambang pula. Kristus itulah bumi atau tanah kita yang sebenarnya. Ketahuilah, saya telah menjadi orang Kristen lebih dari tiga puluh tahun lamanya, namun hingga tahun-tahun terakhir ini saya baru mempunyai satu pemikiran yang demikian, yaitu Kristus adalah tanahku. Kalau dulu saya hanya tahu Kristus bagiku adalah hidup, terang, makanan, dan segala sesuatu tetapi saya belum mengetahui Dia pun adalah tanah itu.

Beberapa tahun yang lalu, Tuhan telah memimpin saya lebih banyak mengalamiNya. Sebelum Tuhan memperlihatkan kepadaku, bahwa Ia adalah tanah kita, Ia lebih dulu memperlihatkan kepadaku, bahwa Ia adalah tempat kediaman kita. Selama dua puluh tahun lebih saya membaca Alkitab setiap hari, tetapi tak pernah memperhatikan Kristus itu sebagai tempat kediaman kita. Pada suatu hari dari Mamur 90 saya beroleh wahyu. Pada ayat pertamanya, Musa berkata, "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun." Maka hari itu Tuhan mencelikkan mataku, sehingga saya nampak Dia adalah tempat kediamanku. Pada saat itu, saya lebih banyak mengenal apa adanya Tuhan. Tetapi selang dua atau tiga tahun kemudian, Tuhan mencelikkan mataku lebih lebar lagi, sehingga saya nampak, bagiku Tuhan tidak saja tempat kediaman, bahkan Ia adalah tanahku. Mulai saat itu Tuhan memperlihatkan padaku banyak fakta dalam Alkitab. Sejak saat itu, saya mulai mengerti mengapa dalam kitab Perjanjian Lama Tuhan terus menyinggung sebidang tanah. Allah memanggil Abraham keluar, lalu mengatakan kepadanya bahwa Ia akan membawanya ke suatu tempat, yaitu tanah Kanaan. Anda boleh mengenanglean kembali, mulai dari Kejadian 12 sampai pada akhir Perjanjian Lama, entab berapa kali Tuhan menitikberatkan tentang tanah itu. Allah berulang-ulang menjanjikan mereka akan tanah itu; tanah itu tanah yang dijanjikanNya kepada Abraham, tanah yang dijanjikanNya kepada Ishak, tanah yang dijanjikanNya kepada Yakub, ... tanah yang ... tanah ... tanah .....

INTI RENCANA KEKAL ALLAH

Inti atau fokus Perjanjian Lama terletak pada bait di dalam kota itu, sedang bait yang ada di dalam kota itu dibangun di atas sebidang tanah. Itu pun merupakan pemikiran Allah yang paling sentral. Dengan kata lain, yang terutama tersirat dalam pikiran Allah adalah tanah itu berikut bait dan kotanya.

Jika kita mengenal Alkitab dan memiliki terang ilahi, kita akan paham, bahwa inti rencana kekal Allah menurut tipologinya ialah tanah beserta bait dan kotanya. Maka mulai dari Kejadian 1, tanah itulah yang selalu menjadi fokusnya, dan masalah yang bertalian dengan tanah itu dibahas terus-menerus.

Mari kita baca Kejadian 1. Mungkin Anda sangat hafal dengan pasal ini, namun ada suatu perkara yang mungkin tersembunyi bagi Anda. Dalam Kejadian 1 ada satu perkara yang sangat penting yang tersembunyi di bawah permukaan, yaitu tanah. Coba Anda pikir, menurut catatan Kejadian 1, apakah yang menjadi sasaran penciptaan Allah? Sebenarnya tak lain ialah memulihkan tanah atau. bumi. Allah berkehendak memulihkan bumi, dan kemudian melakukan sesuatu di atasnya. "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Bagaimanakah bumi itu? Kacau-balau. Di permukaan bumi kosong, gelap-gulita, terbenam di bawah air yang dalam. Lalu Allah datang dan bekerja, Ia mulai memulihkan bumi. Ia memisahkan terang dari gelap, memisahkan air yang ada di bawah cakrawala dari air yang ada di atasnya, kemudian memisahkan pula air darl daratan, sehingga muncullah daratan dari dalam air pada hari ketiga. Pada hari ketiga pula Tuhan Yesus Kristus bangkit dari alam maut. Maka Anda nampak, hal ini adalah suatu lambang. Pada had ketiga Allah mengeluarkan bumi dari dalam air maut. Dari lambang ini Anda dapat memahami bahwa bumi atau tanah merupakan suatu lambang Kristus.

Setelah daratan atau tanah muncul, apakah yang terjadi? Oh, berbagai jenis kehidupan muncullah --- rumput hijau, sayur-mayur yang berbiji dan pohon-pohon yang berbuah. Sekarang Anda telah nampak lukisan ini. Setelah Kristus bangkit, yaitu setelah Tuhan dikeluarkan dari maut, Ia lalu memproduksi kehidupan yang kaya melimpah. Ya, Dialah produksi yang penuh dengan kehidupan. Setelah itu di tanah yang penuh kehidupan inilah manusia tercipta. Manusia tercipta menurut gambar dan rupa Allah, kuasa Allah pun diserahkan kepadanya. Demikian pula, setelah Tuhan keluar dari maut, muncullah kehidupan yang kaya, dan dalam kehidupan yang kaya ini, ada satu manusia telah diciptakan. Manusia ini adalah wakil Allah yang memiliki gambar dan rupa Allah serta kuasaNya. Semua ini terjadi di atas diri Kristus, tanah itu.

Sekarang Anda sudah mengetahui apakah makna tanah itu. Tanah itu suatu lambang yang menyatakan bahwa Kristus menjadi segala kita. Segala sesuatu yang Allah sediakan untuk manusia semua terpusat di atas sebidang tanah ini. Manusia tercipta untuk mendiami bumi dan menikmati segala yang Allah sediakan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia terhimpun di tanah, sedang tanah melambangkan Kristus. Maka segala sesuatu yang Allah sediakan bagi kita terpusat di dalam Kristus.

Nanti Anda akan nampak bagaimana Allah memimpin umatNya memasuki tanah perjanjian itu, dan bagaimana umatNya tinggal serta menikmati segala kekayaannya. Hasil dari kenikmatan itu ialah terbangunnya kota dan bait. Kota dan bait adalah hasil kenikmatan atas tanah itu. Apa artinya kota dan bait? Kota ialah inti kekuasaan dan kerajaan Allah, sedang bait ialah inti rumah atau tempat kediaman Allah. Jadi, baik kerajaan Allah maupun rumah Allah, adalah hasil kenikmatan atas tanah itu. Ketika umat Allah menikmati tanah itu hingga suatu taraf, muncullah kekuasaan Allah dan penyertaanNya; dengan ungkapan lain, muncullah kerajaan dan rumah Allah. Jika kita memiliki Kristus, tanah itu dan menikmati segala kekayaanNya hingga suatu taraf, maka muncullah gereja dan kerajaan Allah, yaitu bait di dalam kota.

Sekarang Anda boleh menerapkan seluruh hal itu ke dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Baru. Pada prinsipnya, semua yang tercantum dalam Perjanjian Lama sama dengan Perjanjian Baru, sedikit pun tak berbeda. Kehendak Allah yang diwahyukan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah Kristus menjadi tanah kita. Kita memiliki kedudukan untuk menikmati segala kelimpahan Kristus. Allah telah mengaruniakan kedudukan ini kepada kita. Setelah kita menikmati kekayaanNya hingga suatu taraf, muncullah sesuatu, yaitu kerajaan dan rumah Allah, gereja dan kerajaan. Itulah konsepsi inti rencana kekal Allah.

BERPERANG DEMI TANAH ITU

Bila Anda membaca Alkitab dengan seksama, Anda akan nampak adanya suatu aktivitas yang sangat serius dan hebat, yang sedang berlangsung. Iblis, musuh Allah, pernah dan kini tetap berusaha dengan sekuat daya-upayanya untuk menghalangi umat Allah menikmati tanah itu. Ia sedapat mungkin merusak kenikmatan manusia atas Kristus, tanah itu. Bacalah Alkitab. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, agar manusia dapat menikmati bumi im, tetapi tak lama kemudian, Iblis datang menghalangi dan menggangguNya. Hal itu menyebabkan Allah menghakimi alam semesta, dan karena penghakiman itu, bumi terkubur di bawah samudra raya. Setelah itu Allah datang bekerja. Ia memulihkan bumi dari dalam samudra raya. Di atas bumi yang telah terpulih itu terbitlah kehidupan yang kaya, dan akhimya terbitlah kehidupan yang mengandung rupa Allah serta mengemban kekuasaan Allah. Tetapi kita pun tahu, tak lama setelah itu musuh datang lagi. Ia datang menggoda manusia, sehingga menempatkan Allah pada suatu posisi di mana Ia harus menjatuhkan hukurnan sekali lagi ke atas bumi. Maka bumi yang telah terpulih itu sekali lagi tergenang di bawah samudra raya; air bah menggenangi seluruh bumi. Menurut tipologi, peristiwa ini berarti manusia tersekat atau terisolir dari kenikmatan atas tanah, yaitu Kristus.

Ingatkah Anda, dalam surat Efesus ada perkataan yang berbunyi : "Tanpa (tak bersangkut-paut dengan) Kristus?" (2:12). Semua orang yang berada di bawah hukuman air bah melambangkan orang-orang yang tanpa Kristus. Menurut tipologi, terisolir dari bumi berarti terisolir dari Kristus. Tetapi melalui penebusan bahtera, Nuh beserta seisi keluarganya kembali memperoleh hak untuk memiliki tanah itu dan menikmati segala kekayaannya. Bahtera mengembalikan mereka kepada kenikmatan atas tanah itu. Air bah mengisolirkan menusia dari bumi, tetapi bahtera mengembalikan manusia ke bumi, sehingga manusia sekali lagi memiliki tanah dan menikmati segala kekayaannya. Tetapi tidak lama kemudian, musuh lagi-lagi mengadakan aksi untuk merusak kenikmatan atas bumi, Karenanya, dari antara suku bangsa yang durhaka, yang tertipu oleh Iblis, Allah memanggil Abraham. Allah memberitahu kepadanya bahwa Ia ingin membawanya ke suatu tanah.

Sekarang Anda dapat memahami bahwa Allah senantiasa berusaha memulihkan tanah itu, sedang usaha musuh senantiasa ingin menghalangi, merusak dan menjerumuskan tanah itu ke dalam kekacauan. Kini Tuhan sekali lagi membawa umat pilihanNya kembali ke tanah itu. Tetapi ingatlah, tak lama kemudian, bahkan orang pilihan inipun berangsur-angsur mengembara ke tanah Mesir. Syukur kepada Allah, Allah telah mengembalikannya lagi ke tanah itu. Namun kemudian seluruh anak cucunya, umat Israel, meninggalkan tanah itu untuk menetap di Mesir. Setelah melewati sejangka waktu yang sangat panjang, Tuhan membawa mereka kembali lagi ke tanah itu. Dan setelah lewat sejangka waktu, musuh beraksi kembali, mengutus orang Kasdim, yaitu bala tentara Babilon untuk merusak tanah itu serta menawan umat Allah. Tujuh puluh tahun kemudian barulah Tuhan memulangkan mereka ke tanah ini.

Demikianlah sejarah Perjanjian Lama. Berapa kali Tuhan memulihkan tanah itu? Setidaknya 5 sampai 6 kali. Tuhan menciptakan bumi, musuh datang merusak. Tuhan datang memulihkan, musuh lalu dengan cara yang lain mengadakan perlawanan. Tuhan bekerja lagi untuk memulihkan, namun musuh datang menentang lagi. Oh, perselisihan sedang berlangsung, peperangan sedang berkecamuk!

Coba Anda pikir, sebenarnya apakah tujuan peperangan yang tercatat dalam Perjanjian Lama? Untuk maksud apakah mereka berperang? Anda harus nampak, semua peperangan tersebut sepenulmya terpusat pada tanah itu. Musuh datang menyerang dan menjajah tanah itu, dan kernudian Allah datang berperang bagi umatNya untuk memulihkan tanah itu. Maka semua peperangan dalam Perjanjian Lama bersangkut-paut dengan sebidang tanah itu.

KADAR PENGALAMAN KITA ATAS KRISTUS

Apakah artinya sebidang tanah itu? Jangan sekali-kali dilupakan, tanah itu tak lain ialah Kristus yang almuhit. Bukan hanya Kristus, melainkan Kristus yang almuhit. Seandainya saya bertanya kepada Anda, apakah Anda memiliki Kristus, Anda tentu akan menjawab, "Puji Tuhan, saya sudah memiliki Kristus!" Namun saya ingin bertanya kepada Anda, Kristus yang bagaimanakah yang sebenarnya Anda miliki? saya kuatir jangan-jangan dalam pengalaman Anda hanya memiliki satu Kristus yang sangat kecil, satu Kristus yang miskin, bukan Kristus yang meliputi segala sesuatu, yaitu Kristus yang almuhit.

Saya ingin memberitahu Anda sebuah cerita nyata. Tak lama setelah saya beroleh selamat, saya membaca Alkitab, dan nampak bahwa anak domba Paskah adalah lambang Kristus. Ketika mengetahui hal ini, saya benar-benar memuji Tuhan. Saya berkata, "Oh Tuhan, saya memuji Dikau. Engkau adalah anak domba itu. Engkau adalah anak domba yang tersembelih bagiku!" Akan tetapi, sekarang saya minta kalian mernbandingkan anak domba dengan tanah itu. Anak domba yang kecil tidak sebanding dengan sebidang tanah yang luas. Apakah anak domba itu? Anda tentu mengatakan itulah Kristus. Tetapi ketahuilah, itu adalah satu Kristus yang kecil, dan itu bukan sasaran yang disediakan Allah bagi umatNya. Allah tak pernah berkata kepada mereka, "Asalkan kalian memiliki anak domba, sudahlah cukup." Tidak, pada hakekatnya Allah memberitahu mereka, Ia mengaruniakan anak domba kepada mereka, dengan tujuan untuk membawa mereka masuk ke tanah itu. Jadi anak domba Paskah adalah untuk tanah itu.

Sudahkah Anda memiliki Kristus? Ya, Anda memiliki Kristus. Tetapi Kristus macam manakah yang Anda miliki? Seekor anak domba atau sebidang tanah? Pada hari Paskah, seluruh umat Israel di Mesir memiliki anak domba, tetapi maaf, hanya sedikit orang yang memasuki tanah itu; hanya sedikit orang yang memiliki tanah itu.

Setelah saya beroleh selamat satu dua tahun lamanya, saya diberi pengajaran bahwa manna yang dinikmati bani Israel di padang belantara juga adalah lambang Kristus. Pada saat itu saya merasa sangat gembira. Kataku, "Tuhan, Engkau adalah makananku. Bagiku Engkau bukan hanya Anak Domba. Engkau juga manna yang kumakan tiap hari." Tetapi apakah manna itu adalah tujuan atau sasaran Allah? Apakah Allah menyelamatkan umatNya keluar dari Mesir hanya untuk menikmati manna di padang gurun? Tidak! Tujuan dan sasaranNya ialah tanah itu. Sudahkah Anda menikmati Kristus sebagai tanah itu? Saya sangsi, dan saya berani mengatakan, bahkan Anda sendiri pun sangsi. Anda mungkin mengatakan Anda menikmati Kristus sebagai Anak Domba Paskah, dan menikmati Tuhan sebagai manna setiap hari, tetapi sangat sedikit yang dapat berkata dengan tegas, bahwa dirinya sudah menikmati Kristus Sang Almuhit sebagai tanah itu.

Dalam Kolose 2 dikatakan, bahwa kita berakar di dalam Kristus. Coba renungkan, kalau kita bisa berakar di dalam Kristus, lalu apakah Kristus itu bagi kita? Betul, Kristus bagi kita adalah tanah atau bumi. Sebatang pohon atau tetumbuhan tentu berakar di dalam tanah. Demikian pula, kita telah berakar di dalam Kristus. Saya kuatir Anda sejak dulu tak pernah menyadari bahwa bagi Anda Kristus itulah tanah. Anda adalah sebatang pohon kecil yang berakar di dalam sebidang tanah ini. Saya harus mengakui, konsepsi yang sedemikian tidak ada padaku 5 atau 6 tahun yang lalu. Saya menelaah Alkitab dan menghabiskan banyak waktu dalam mempelajari surat Kolose, tetapi saya tak pernah beroleh terang ini. Walau berulang-ulang kubaca surat tersebut, saya tak pernah menyadari bahwa Kristus itulah tanah atau bumiku. Mataku baru tercelik dalam beberapa tahun terakhir ini.

Saya benar-benar merasa, sebagian anak-anak Allah masih tertinggal di Mesir. Mereka hanya mengalami Paskah. Mereka hanya menerima Tuhan sebagai Anak Domba. Mereka pernah tertebus oleh darah Anak Domba, tetapi mereka belum lagi diselamatkan dari dunia. Ada beberapa yang telah kduar dari Mesir, yaitu diselamatkan dari dunia, namun mereka masih tetap mengembara di padang gurun. Mereka memang lebih banyak menikmati Kristus, mereka menikmatiNya sebagai manna setiap hari. Mereka merasa bangga, karena mereka menikniati Kristus sebagai makanan, dan mereka merasa kenyang. Tetapi cukupkah itu? Kukira ketika kita berjumpa dengan orang-orang yang menikmati Kristus sebagai manna. setiap hari, kita tentu sangat bersukacita. Puji Tuhan, di sini ada sekelompok saudara saudari yang benar-benar menikmati Kristus sebagai manna mereka setiap hari! Akan tetapi kita harus sadar, hal tersebut masih jauh dari sasaran Allah. Sasaran Allah tidak saja agar kita menikmati sedikit Kristus, melainkan menghendaki Kristus menjadi Sang Almuhit bagi kita. Bacalah ayat berikut ini : "Kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita. Karena itu hendaklah kamu berjalan di dalam Dia." (Kolose 16, terjemahan lain). Ia merupakan suatu wilayah atau alam lingkungan, dan kita dapat berjalan di dalamNya. Ia tidak saja merupakan sedikit makanan atau air, melainkan suatu lingkungan dan sebidang tanah yang dapat kita jalani. Karenanya kita wajib berjalan di dalamNya. Dialah bumi kita, Dialah tanah kita, Dialah kerajaan kita, kini kita berjalan di dalamNya.

Aku percaya, lukisan ini sangatlah jelas. Di Mesir Dialah Anak Domba, di padang belantara Dialah Manna, dan di hadapan umat Israel Dialah tanah Kanaan. Itulah sasaran; tanah itulah sasaran Allah yang harus kita masuki, sebab itulah bagian kita, dan itulah hadiah almuhit yang Allah karuniakan kepada kita. Maka kita harus pergi untuk memperoleh tanah itu. Tanah itu memang milik kita, tetapi kita harus menikmatinya.

Pada hari-hari ini kita telah banyak membicarakan masalah gereja dan ekspresi Tubuh Kristus. Namun Anda dan saya harus menyadari, bila kita tak dapat memperoleh Kristus Sang Almuhit dan mengalami Dia, tidak mungkin ada realitas gereja di antara kita. Anda dan saya harus menyadari, bahwa kita telah berakar di dalam Kristus, bagaikan sebatang pohon yang berakar di dalam tanah. Kita harus memperoleh Kristus sebagai segala sesuatu kita, tidak hanya dalam perkataan atau teorinya saja, tetapi dalam realitas pelaksanaannya. Bagaimana tanah merupakan segalanya bagi tetumbuhan, Kristus pun merupakan segala sesuatu bagi kita. Hal ini benar- benar perlu kita sadari, sampai kita dapat mengalami Kristus. Anda dan saya telah berakar, namun kita belum lagi memahami faktanya, kita pun belum memperoleh fakta tersebut.

Surat Kolose menunjukkan kepada kita, kalau kita telah berakar, kita akan dibangun di dalamNya bersama semua orang. Tanpa pengalaman berakar dalam Kristus, bagaimanakah kita dapat dibangun bersama orang lain? Justru karena itulah pernbangunan gereja di antara umat Allah hampir-hampir tak ada sama sekali. Bila bani Israel masih mengembara di padang gurun, mana mungkin mereka memiliki sebuah bait dan sebuah kota? Mereka mustahil memiliki bait dan kota, karena mereka belum memperoleh dan menempati tanah itu. Bagaimanakah gereja bisa terbangun dengan sesungguhnya? Bagaimana pula Tubuh Kristus bisa terekspresi dengan sesungguhnya? Hanya ada satu jalan, yaitu melalui mengenal dan menikmati Kristus sebagai segala sesuatu kita. Saudara saudari, semoga Tuhan mencelikkan mata kita.

CONTOH-CONT0H YANG PRAKTIS

Setiap hari kita mengucapkan banyak perkataan. Tahukah Anda, bahwa segala perkataan kita seharusnya Kristus? Adakah Anda membicarakan Kristus? Sudahkah Kristus menjadi perkatam Anda? Jika tidak, perkataan Anda sia-sia. Mungkin Anda akan bertanya, "Apa maksudmu?" Maksudku, jika Anda telah menerima penerangan dan menyadari bahwa dalam kehendak Allah Kristus adalah segala-galanya, maka Roh Kudus akan membawa Anda ke suatu taraf, sehingga Anda nampak, bahkan percakapan Anda setiap hari seharusnya adalah Kristus. Anda harus menerapkan pekerjaan salib ke atas mulut dan tutur-kata Anda. Dengan kata lain, tutur-kata Anda harus diperbarui. Anda harus mengalami Kristus sedemikian rupa, sehingga Anda dapat berkata, "Tuhan, jika kata-kata yang ingin kuucapkan bukan berasal dariMu, saya tidak akan mengucapkannya. saya ingin memanfaatkan salib di atas mulutku, agar Engkau memperbarui perkataanku."

Satu contoh lagi: Setiap kali kita hendak memakan makanan, batin kita harus segera merasa bahwa Kristus itulah makanan kita yang sejati. Kita harus berkata, "Tuhan, ini bukan makananku yang sejati; Engkaulah makanan sejati yang menghidupkan saya. Manusia sesungguhnya bukan hidup oleh makanan ini, melainkan oleh diriMu. Saya ingin menggunakan lebih banyak waktuku untuk memakan diriMu, daripada memakan benda-benda ini." Ketika ingin beristirahat, kita harus berkata, "Tuhan, Engkaulah perhentianku yang sejati." Apapun yang ingin kita lakukan, atau yang kita nikmati dan alami, kita harus menyadari, bahwa Kristuslah hal itu.

Saudari-saudari sering berbelanja. Pernahkah Anda berpikir bahwa Kristus itu barang-barang yang akan Anda beli? Saya yakin, tidak banyak yang pernah berpikir demikian. Mungkin Anda pernah mendengar khotbah yang mengatakan, bahwa Kristus itulah segala sesuatu kita. Dalam sidang, Anda pun menyanyi haleluya. Namun setelah itu Anda sudah melupakan semuanya. Bila Anda pernah menerima penerangan Tuhan yang sebenarnya, Roh Kudus pasti mewahyukan Kristus dengan praktis hari demi hari dan tahap demi tahap. Ia akan menunjukkan kepada Anda, bahwa setiap benda yang akan Anda beli adalah suatu lambang dari Kristus, sehingga Anda tak sudi membuang harga untuk membeli segala benda di luar Kristus. Anda akan berkata, "Saya hanya ingin memperoleh Kristus, saya ingin memperoleh Kristus lebih banyak." Anda dapat menerapkan Kristus dalam segala perkara.

Para pemuda, ketika Anda pergi ke sekolah, Anda boleh berkata, "Tuhan, Engkaulah buku pelajaranku yang sebenarnya saya ingin membaca dan mempelajariMu. Ya, saya ingin membacaMu lebih sering daripada buku-buku ini. Sekarang ini, saat saya belajar, saya ingin memanfaatkan Dikau"

Berlatihlah demikian tiap hari. Anggaplah Kristus sebagai tanah itu, sebagai segala sesuatu Anda, tidak sekadar sebagai makanan, terang, tempat kediaman, bahkan tanah yang almuhit. Anda harus nampak, bagi Anda, Kristus itulah Sang Almuhit. Anda wajib berlatih mengalami Kristus, dan memanfaatkanNya dalam setiap perkara. Setelah itu, saya yakin pasti akan timbul sesuatu dari dalam Anda, yakni pembangunan gereja dalam kerajaan Allah, bait di dalam kota. Itulah sasaran Allah.