PENDENGAR YANG BAIK
Kehidupan pribadi seorang pekerja Tuhan sangat erat hubungannya dengan pekerjaannya. Oleh karena itu, kita harus mempertimbangkan perkara-perkara karakter, kebiasaan, dan tingkah-laku mereka ketika membahas syarat-syarat yang diperlukan untuk berada dalam pekerjaan Allah. Ini berhubungan dengan konstitusi karakter dan pembentukan kebiasaan. Seseorang bukan hanya harus memiliki sejumlah pengalaman rohani tertentu, tetapi juga konstitusi tertentu dalam wataknya; Tuhan harus menyusun watak tertentu di dalamnya. Banyak hal yang perlu dibangun, digarap, dan dikembangkan ke dalam kebiasaan di dalam diri seorang pekerja. Hal-hal ini lebih banyak berkaitan dengan manusia luaran kita daripada manusia batiniah kita. Pada saat hal-hal ini mencetak manusia luaran kita ke dalam bentuk yang tepat, kita akan bisa dipakai untuk keperluan Tuhan. Untuk ini dibutuhkan kasih karunia dan belas kasihan Allah; karena karakter tidak dibangun dalam sehari. Tetapi jika Tuhan memberi seseorang terang yang cukup dan jika Ia cukup sering berbicara kepadanya, elemen-elemen alamiah dan yang tak diinginkan dari dirinya akan dibakar habis; hal-hal ini tidak akan diijinkan untuk tetap tinggal atau bertumbuh. Dengan belas kasihan-Nya, Allah akan menyusun kembali karakter baru di dalamnya melalui kebangkitan. Marilah sekarang kita membicarakan beberapa hal yang telah dialami dan dipahami pelayan-pelayan Tuhan yang matang. Kekurangan satu hal saja dari hal-hal di bawah ini akan mengakibatkan kegagalan dalam pelayanan.
SATU
Hal pertama yang ingin kita bicarakan adalah kemampuan untuk mendengarkan orang lain. Seorang pekerja Tuhan harus membangun kebiasaan mendengarkan orang lain dalam hidupnya sehari-hari. Maksud saya bukan supaya ia mendengarkan dalam arti mematuhi mereka. Maksud saya adalah ia seharusnya mendengarkan orang lain dalam arti mampu mendengarkan apa yag sedang mereka katakan dan memahami apa yang telah ia dengar. Sikap ini benar-benar perlu terbangun dalam kehidupan pribadi seorang pekerja. Tidak ada seorang pekerja Tuhan yang dapat bekerja dengan baik apabila ia hanya dapat berbicara kepada orang lain namun tidak dapat mendengarkan mereka. Seorang pekerja hanya berguna sedikit bagi Allah apabila ia hanya dapat berbicara kepada orang lain, apabila ia hanya dapat berceloteh tak putus-putusnya seperti petasan. Tidak ada seorang pekerja Tuhan yang boleh berbicara tak putus-putusnya. Jika ia hanya dapat berbicara kepada orang lain, tetapi tidak dapat mendengarkan mereka dan menyadari masalah mereka melalui percakapan, maka kegunaannya sangat terbatas. Jika seorang Kristen berpaling kepada seorang pelayan Tuhan untuk minta bantuan, pekerja itu seharusnya mampu membedakan tiga aspek dari perkataan saudaranya sementara ia sedang mendengarkan : kata-kata yang sedang diucapkan, kata-kata yang tertahan, dan kata-kata yang tersirat jauh di lubuk roh saudara itu.
Pertama, Anda harus sepenuhnya memahami orang macam apakah yang sedang berkata-kata itu. Ini berarti Anda perlu menjadi orang yang tenang di hadapan Tuhan. Pikiran Anda harus jernih dan roh Anda harus tenang. Keadaan batiniah Anda haruslah seperti selembar kertas kosong di hadapan Tuhan. Anda tidak seharusnya memiliki prasangka, konsep atau kecenderungan. Anda seharusnya tidak menentukan apapun dalam pikiran Anda atau memberikan penilaian apapun. Anda seharusnya tetap sepenuhnya tenang di hadapan Tuhan. Ketika orang lain membuka mulutnya dan bercerita, Anda seharusnya belajar mendengarkan. Sewaktu Anda mendengarkan dengan tenang, Anda akan tahu apa yang sedang ia bicarakan.
Mendengarkan bukanlah perkara yang mudah. Ketika seorang saudara sedang mencoba menjelaskan masalahnya, sejauh manakah Anda memahami apa yang sedang ia katakan? Kadang-kadang ketika banyak orang mendengarkan orang yang sama pada waktu yang sama, maka kesan atas masalah orang itu timbul sebanyak jumlah pendengarnya. Anda mungkin mempunyai satu kesan, dan yang lain mungkin memiliki kesan lain. Banyak kesan yang terbentuk. Bila terdapat banyak perbedaan kesan dalam hal kebenaran tentu akan celaka. Mendengarkan orang lain adalah latihan yang sangat dasar, dan merupakan salah satu persyaratan dasar bagi seorang pekerja untuk memiliki kemampuan memahami apa yang sedang dikatakan oleh orang lain. Orang lain datang kepada Anda dengan membawa beban; mereka mencoba menumpahkan masalah mereka kepada Anda dan mengharapkan bantuan Anda. Apa yang akan terjadi jika Anda salah paham terhadap kata-kata mereka atau jika anda tidak mengetahui keseluruhan masalah dan memberikan jawaban berdasarkan apa yang ada dalam benak Anda dua hari yang lalu? Beberapa orang bisa memiliki pikiran tentang sesuatu hal dalam beberapa hari. Ketika seorang saudara yang sakit mendatangi mereka, mereka membicarakan perkara yang sedang mereka renungkan karena pikiran mereka dipenuhi oleh perkara itu. Ketika seorang saudara yang sehat datang kepada mereka, mereka tetap mengajukan buah pikiran yang sama. Ketika seorang saudara lain yang sedang dalam keadaan tertekan atau sukacita datang, mereka tetap memberitahukan hal yang sama. Mereka tidak dapat duduk dengan tenang untuk mendengarkan apa yang akan diutarakan orang lain. Jika seorang pekerja Tuhan tidak dapat mendengarkan apa yang akan dikatakan orang lain, bagaiamana ia dapat memberikan bantuan kepada orang lain? Ketika orang lain sedang berbicara, kita harus mendengarkan dengan hati-hati. Kita harus memahami apa yang sedang mereka bicarakan. Pekerjaan kita lebih sulit daripada pekerjaan seorang dokter yang mendiagnosa seorang pasien. Setidak-tidaknya ia memiliki laboratorium tempat ia mengadakan tes-tes untuk membantu pasien dalam mendiagnosa berbagai kasus, sedangkan kita harus membuat diagnosa tanpa alat bantu apapun. Misalnya seorang saudara datang dan berbicara pada kita selama setengah jam, mengutarakan berbagai masalahnya kepada kita. Kita mungkin tidak memiliki bayangan sama sekali tentang cara hidupnya selama ini, apa latar belakang keluarganya atau kondisinya di hadapan Tuhan. Sepuluh menit, dua puluh menit atau setengah jam adalah waktu yang lama. Jika kita tidak dapat mendengarkan apa yang sedang ia katakan, bagaimana kita dapat memberikan bantuan yang tepat kepadanya? Setiap pekerja Tuhan harus membangun kebiasaan yang tepat; kita harus memiliki kapasitas dan kemampuan untuk duduk mendengarkan dan memahami apa yang sedang dikatakan oleh orang lain. Ini sangat penting, dan kita harus menaruh banyak perhatian pada latihan ini. kita harus belajar memahami apa yang sedang dikatakan orang lain begitu mereka mulai membuka mulutnya. Kita harus sangat jelas tentang kondisi mereka, dan kita harus memiliki diagnosa yang jelas tentang kasus mereka. Kita harus memiliki daya pembeda dan keyakinan yang jelas. Dengan demikian barulah kita tahu apakah kita bersyarat untuk menangani keperluannya. Kadang-kadang kita tahu bahwa kondisi seorang saudara berada di luar kemampuan kita untuk membantu, dan kita harus memberitahu dia dengan jujur bahwa kita bukanlah orang yang tepat untuk menolongnya. Tetapi kita harus tahu di mana posisi dia dan di mana posisi kita begitu ia mulai berbicara. Ini adalah hal pertama yang harus kita lakukan; kita harus mendengar dan memahami apa yang sedang dikatakan orang lain.
Kedua, kita harus mendengar dan memahami apa yang tidak dikatakan orang lain. Kita harus mampu membedakan di hadapan Tuhan apa yang tidak ingin dikatakannya. Kita harus mengetahui apa yang tidak dikatakannya, yaitu hal-hal yang seharusnya ia beritahukan kepada kita tetapi ternyata dia menyimpannya.. Secara alamiah, memang lebih sulit untuk mendapatkan persepsi yang jelas dari kata-kata yang tak terucapkan daripada kata-kata yang terucapkan. Setelah kata-kata jenis pertama terucapkan, kita masih harus mendengarkan jenis yang kedua, yaitu yang tak terucapkan. Ketika orang-orang datang untuk berbicara dengan seorang pekerja tentang urusan-urusan mereka, bukannya tidak lazim mereka menceritakan kisahnya separuh saja dan tidak mengungkapkan separuhnya lagi. Ini menguji kemampuan si pekerja. Seorang pekerja yang tidak cakap tidak akan mampu memahami apa yang tidak diutarakan. Ia bahkan mungkin memperoleh gambaran yang sebenarnya tidak pernah ada di hati si pembicara. Masalah ini muncul di pikirannya, bukan dari pikiran si pembicara. Mungkin dalam pikirannya sudah ada beberapa konsep dan ia mungkin menerapkan konsep-konsep ini ke dalam orang lain, meskipun mereka belum pernah mengucapkan hal demikian, baik dari dalam hati mereka maupun dari mulut mereka. Kita harus melatih daya pembeda yang jelas di hadapan Tuhan untuk mengetahui apa yang telah atau tidak dikatakan seseorang. Seringkali seseorang mengutarakan hal-hal diluar pokok pembicaraan dengan menghilangkan hal-hal yang penting tentang pokok pembicaraan itu. Bagaimana mungkin mengetahui ada kata-kata penting yang tertinggal? Kita hanya akan mengetahuinya setelah kita mengalami penanggulangan yang cukup dari Tuhan. Ketika seorang saudara datang dan mengatakan sesuatu kepada kita, kita bukan hanya harus jelas tentang apa yang akan ia katakan, tetapi juga tentang apa yang tidak ia katakan. Kita harus mengetahui sekilas apa yang tersirat ketika dia menahan sesuatu di balik kata-katanya. Kemudian kita akan memiliki keyakinan di hadapan Allah, dan kita akan mengetahui bagaimana menolong, menasihati atau menegur saudara itu. Jika kita tidak yakin dalam diri kita akan segala sesuatu dan tidak dapat mendengarkan apa yang sedang mereka katakan, sebaliknya selalu menunggu kesempatan untuk berbicara, maka kita hanya akan dibebani dengan apa yang hendak kita katakan. Kita tidak akan tahu apa yang sedang dikatakan orang lain dan tidak bisa memberi bantuan pada mereka. Sudah terbukti bahwa pendengar yang buruk seringkali adalah para pekerja yang kurang berguna. Ini adalah masalah yang serius di antara banyak orang; mereka hanya tidak dapat mendengarkan orang lain. Mereka tidak dapat menangkap apa yang tertahan di dalam diri mereka karena mereka sangat tidak peka. Tidaklah mungkin mengharapkan orang-orang seperti itu untuk "memberi...makan tepat pada waktunya" (Mat. 24:45).
Ketiga, kita harus mampu mendeteksi apa yang sedang dikatakan orang lain di dalam roh mereka. Jauh di atas perkataan yang mungkin diutarakannya dan perkataan yang mungkin dengan sengaja ditahannya, kita harus mengacu pada perkataan-perkataan yang dikatakan oleh rohnya. Ketika seseorang membuka mulutnya dan berbicara, rohnya juga turut berbicara. Fakta bahwa ia bersedia berbicara memberikan kita kesempatan untuk menjamah rohnya Jika bibirnya terkunci, rohnya terikat, sulitlah untuk mengetahui apa yang sedang diucapkan rohnya. Tetapi rohnya akan menemukan ukuran tertentu tatkala ia membuka mulutnya sebatas ia mencoba mengisi dirinya sendiri. Kemampuan kita untuk membedakan apa yang sedang dikatakan rohnya tergantung pada ukuran latihan kita di dalam Tuhan. Jika kita terlatih, kita akan mampu membedakan kata-kata yang telah ia utarakan, kata-kata yang tertahan untuk diutarakan, dan bahkan kata-kata dari dalam rohnya. Ketika dia berbicara, kita akan mengetahui perkataan mana yang berasal dari rohnya. Kita akan mampu membedakan kesulitan intelektual seperti kesulitan rohani yang sedang ia hadapi. Kita juga akan memiliki keyakinan untuk menawarkan perbaikan spesifik untuk kasusnya. Jika kita tidak begitu terlatih, kita mungkin mendengarkan masalah seorang saudara selama setengah jam tanpa menyadari kesulitan yang sebenarnya dan perbaikan untuknya.
Ini tentunya merupakan keperluan yang mendesak dari mereka yang terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Sungguh disayangkan hanya sedikit pekerja Kristen yang merupakan pendengar yang baik. Beberapa orang dapat menggunakan satu jam penuh berbicara kepada seorang kaum beriman. Namun, pada akhirnya ia mungkin masih sangat kabur tentang apa yang telah diucapkan. Kemampuan mendengarkan kita terlalu buruk. Jika kita tidak dapat mendengarkan apa yang sedang dikatakan orang lain, bagaimana kita dapat mendengarkan apa yang sedang Allah katakan? Ketika seseorang duduk di hadapan kita, perkataannya seharusnya jelas bagi kita. Namun jika kita tidak dapat memahami apa yang diucapkan, saya dengan serius mempertanyakan kemampuan kita dalam memahami perkataan Allah di dalam kita. Jika kita tidak dapat mengerti perkataan yang dapat didengar dari manusia, bagaimana kita dapat memahami perkataan-perkataan yang Allah ucapkan pada kita dalam roh kita?
Jika kita tidak mampu mendiagnosa kesulitan, penyakit atau problem dari seorang saudara yang bermasalah, kata-kata apa yang dapat kita berikan kepadanya? Saudara saudari, janganlah kita mempertimbangkan hal ini sebagai hal yang sepele.. Jika kita tidak menanggulangi perkara ini dan belajar mendengarkan, kita tidak akan mampu menolong seorang saudara yang membutuhkan bahkan walaupun kita adalah seorang pembaca Alkitab yang hebat, pengajar Alkitab yang hebat atau pekerja yang berkuasa. Kita tidak boleh menjadi pengkhotbah yang hanya berbicara; kita juga harus menjadi orang yang dapat memecahkan masalah orang lain. Namun bagaimana hal ini dapat terjadi jika kita tidak dapat mendengarkan apa yang sedang dikatakan orang lain? Kita harus menyadari betapa seriusnya perkara ini. Saudara saudari, berapa banyak waktu yang telah Anda gunakan untuk belajar mendengarkan orang lain? Sudahkah Anda menggunakan waktu yang cukup untuk belajar hal ini? Kita harus meluangkan waktu untuk belajar mendengarkan orang lain, untuk mendengarkan apa yang dia katakan, apa yang tidak mereka katakan, dan apa yang ada di dalam rohnya. Perkataan yang keluar dari mulut seseorang mungkin tidak sesuai dengan rohnya. Banyak orang mengatakan sesuatu dengan mulutnya, tetapi rohnya mempersaksikan hal yang berbeda. Akhirnya, mulut tidak dapat lagi menutupi roh. Cepat atau lambat rohnya akan tersingkap, dan ketika ia tersingkap, Anda akan tahu kondisi seseorang yang sebenarnya. Tanpa daya pembeda demikian, maka akan sulit memberi bantuan kepada orang lain. Ada sebuah lelucon tentang seorang dokter tua yang seluruh persediaan obatnya hanya terdiri dari dua hal: minyak jarak dan pil kina. Tidak peduli apa yang dikeluhkan para pasiennya, ia tetap menuliskan satu resep obat yang ini atau yang satunya lagi. Ia menerapkan kedua macam obat ini terhadap setiap macam penyakit. Banyak saudara memperlakukan "pasien-pasien" mereka dengan cara yang sama. Mereka hanya memiliki satu atau dua macam resep kesayangan, dan tidak peduli betapa bervariasinya penyakit pasien yang mencari mereka, mereka berbicara menurut alur khusus yang satu ini atau yang lainnya. Pekerja-pekerja seperti ini tidak dapat menjadi bantuan nyata bagi orang lain. Setiap orang yang memegang kepercayaan dan amanat Allah memiliki satu kemampuan yang umum - ia mengetahui apa yang sedang dikatakan orang lain begitu mereka membuka mulut. Tanpa kemampuan demikian, seseorang tidak dapat menanggulangi penyakit orang lain.
DUA
Bagaimana kita dapat memperoleh kemampuan untuk mendengarkan dan memahami?
Pertama, kita tidak boleh subyektif. Ingatlah bahwa subyektivitas adalah salah satu alasan utama yang menyebabkan orang menjadi pendengar yang buruk. Setiap orang yang subyektif menemukan kesulitan untuk memahami apa yang sedang diucapkan orang lain. Jika kita memiliki konsep dan ide subyektif mengenai orang lain, ini akan menyulitkan kita mendengarkan apa yang dikatakan orang lain karena pikiran kita sudah penuh. Kita dapat menjadi begitu tersusun dengan pendapat kita sehingga pendapat orang lain tidak dapat meresapi pikiran kita. Ini adalah situasi kebanyakan orang yang subyektif. Mereka begitu kuat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan mereka sendiri. Tidak ada apapun yang dapat menggoyahkan pikiran, pendapat, dan pandangan mereka. Mereka telah memutuskan untuk memberikan "minyak jarak" kepada setiap orang, tidak perduli betapa bervariasinya kebutuhan mereka. Satu-satunya resep mereka hanyalah "minyak jarak". Bagaimana mereka dapat mendengarkan apa yang dikatakan orang lain? Ketika kaum saleh yang lemah datang kepada mereka, mereka tidak memiliki hati untuk menemukan masalahnya. Sebagai gantinya, pikiran mereka sudah tersusun pada saat mereka hendak berkata-kata, dan yang mereka ungkapkan tidak lain adalah nasihat-nasihat yang sudah disiapkan sebelumnya. Mereka sangat yakin kepada diri mereka sendiri, juga sepenuhnya mengabaikan masalah orang lain. Bagaimana orang-orang seperti ini dapat bekerja bagi Tuhan? Kita harus berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, semoga aku tidak mempunyai praduga ketika aku berbicara dengan orang lain. Semoga aku tidak memaksakan diagnosaku sendiri atas orang lain. Aku seharusnya tidak menjadi orang yang menentukan penyakit mereka. Tuhan, Engkau harus memperlihatkan penyakit mereka." Kita harus belajar menyerahkan subyektivitas kita, mendengarkan dengan hati-hati, mendengarkan apa yang sedang dikatakan orang lain, dan menemukan masalah mereka.
Kedua, pikiran kita tidak boleh mengembara. Banyak orang beriman belum pernah menggunakan pikirannya dengan tepat. Pikiran mereka mengalir tak putus-putusnya siang dan malam. Pikiran mereka tidak pernah terfokus. Mereka membiarkan pikiran mereka menerawang tak jelas arahnya. Mereka mengumpulkan begitu banyak hal di dalam pikiran mereka sehingga tidak tersisa satu ruang pun untuk hal lainnya ketika orang lain mencoba menyampaikan pikiran mereka kepadanya. Banyak orang yang terlalu aktif dalam pikirannya. Mereka memiliki kapasitas hanya bagi pikiran mereka sendiri dan tidak memiliki kapasitas untuk menerima pikiran orang lain. Akibatnya, mereka tidak akan pernah memahami cara berpikir orang lain. Mereka tidak dapat menerima pikiran orang lain karena mereka belum pernah belajar menjadi tenang dalam pikiran mereka. Agar kita dapat mendengar apa yang sedang dikatakan orang lain, pertama-tama pikiran kita harus dilatih. Jika pikiran kita selalu berputar seperti baling-baling, maka tidak akan ada yang dapat dikaitkan padanya. Dalam hal mendengarkan orang lain, seorang pekerja Tuhan harus menstabilkan pikirannya sendiri. Ia bukan hanya harus menolak segala kesubyektifan; ia juga harus belajar menenangkan pikirannya. Kita harus belajar ikut berpikir sewaktu orang lain berpikir dan memahami apa yang sedang orang lain katakan. Kita juga harus belajar menangkap makna tersembunyi di balik perkataan mereka. Jika kita tidak dapat melakukan ini, kita tidak akan bisa banyak berguna bagi Tuhan.
Ketiga, kita harus belajar memasuki perasaan orang lain. Persyaratan mendasar untuk memahami perkataan orang lain adalah kemampuan untuk berempati dengan perasaan mereka. Kita tidak dapat memahami apa yang sedang dikatakan orang lain hanya melalui perkataannya saja. Jika seseorang mendatangi kita dalam keadaan tertekan berat dan bermasalah dan kita tetap bersikap dingin, tidak tersentuh oleh kedukaannya, kita tidak akan pernah mampu menolongnya, tidak perduli selama apapun kita mendengarkan perkatannya. Jika perasaan kita tidak dapat sesuai dengan perasaannya, kita tidak akan memahami apa yang sedang ia hadapi. Mereka yang belum pernah ditanggulangi emosinya tidak akan pernah merasakan apa yang dirasakan orang lain. Seseorang dengan perasaan yang keras tidak dapat memasuki perasaan orang lain, dan ia tidak dapat memahami apa yang dikatakan orang lain. Jika kita belum pernah ditanggulangi Allah, kita tidak akan mampu bernyanyi "haleluya" ketika orang lain mengekspresikan kegembiraannya, dan kita tidak akan mampu berbagian dengan kedukaan mereka ketika mereka mengekspresikan kesedihannya. Kita akan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perasaan mereka, dan perasaan mereka tidak akan pernah menjamah kita. Inilah sebabnya kita harus memahami perkataan mereka.
Bagaimana kita dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain? Untuk dapat melakukan hal ini, kita harus menjadi sangat obyektif dengan perasaan kita sebelum kita dapat memiliki kapasitas untuk merasakan apa yang ia rasakan. Tetapi jika kita terlalu sibuk dengan perasaan kita, kita tidak akan menjadi cukup sensitif untuk mempertimbangkan perasaan-perasannya. Kita harus ingat bahwa kita kita adalah hamba-hamba kaum saleh bagi Kristus semata. Bukan saja kita seharusnya memberikan waktu dan kekuatan kita bagi mereka; kita seharusnya menyediakan kasih sayang kita bagi mereka pula. Ini adalah perkara yang sangat penting. Bukan hanya kita seharusnya menolong memecahkan masalah mereka; kita juga seharusnya beriringan dengan perasaan mereka. Perasaan kita seharusnya tersedia untuk berbagian dengan perasaan orang lain. Inilah yang dimaksudkan kitab suci yang mengatakan Tuhan Yesus, yang dicobai sama dengan kita, dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (Ibr. 4:15).
Saudara saudari, emosi kita harus ditanggulangi oleh Tuhan sehingga dapat menjadi bebas. Jika emosi kita terlalu aktif dan kita telah lebih dahulu diduduki oleh perasaan kita, kita tidak mungkin mampu memasuki perasaan orang lain. Maka kita bukan saja harus memberikan waktu kita bagi orang lain tetapi juga emosi kita. Ini berarti kasih, sukacita, dan kesedihan kita seharusnya tidak diduduki, tapi menjadi bebas, ketika orang lain sedang berbicara kepada kita. Jika seluruh diri kita dijenuhi oleh perasaan tertentu, maka tidak akan ada lagi tempat di dalam diri kita bagi perasaan orang lain; kita tidak akan memiliki kapasitas untuk memenuhi keperluan orang lain. Jika kita tidak memiliki sukacita atau kesedihan sendiri, tetapi sepenuhnya bebas di hadapan Tuhan, kita akan mampu memasuki perasaan orang lain. Jika kita terus-menerus sibuk dengan perasaan kita sendiri, kita akan menjadi terlalu diduduki lebih dulu sebelum kita merasakan orang lain ketika mereka datang kepada kita.
Allah memiliki standar yang sangat tinggi bagi mereka yang melayani Dia. Seorang hamba Tuhan tidak ada waktu untuk merasa gembira atau menyesali dirinya sendiri. Jika kita memanjakan diri dengan tawa dan air mata kita sendiri dan dalam kesukaan dan ketidaksenangan sendiri, di dalam diri kita tidak ada ruangan bagi keperluan orang lain. Kita harus ingat bahwa seorang hamba Tuhan harus menjadi kosong di dalamnya. Jika kita melekat pada suka dan duka diri kita sendiri, tidak rela melepaskan hal ini dan itu, kita akan menjadi terlalu penuh untuk memperhatikan orang lain. Kita akan menjadi sebuah ruangan yang penuh dengan perabotan; tidak ada tempat kosong untuk memuat hal lainnya. Banyak saudara dan saudari tidak dapat bekerja bagi Tuhan karena mereka telah mencurahkan seluruh kasih mereka terhadap diri sendiri dan tidak ada lagi yang tersisa bagi orang lain. Kita perlu menyadari bahwa kekuatan jiwa kita terbatas sama seperti kekuatan fisik kita. Tenaga emosional bukannya tidak terbatas. Jika kita menghabiskan jiwa kita pada satu hal, kita tidak akan memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pada hal lainnya. Untuk alasan inilah, setiap orang yang memiliki banyak kasih sayang bagi orang lain tidak dapat menjadi pelayan Tuhan. Tuhan sendiri berkata, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan,... ia tidak dapat mejadi murid-Ku" (Luk. 14:26). Ini disebabkan karena ketika kita mengasihi hal-hal ini, kasih kita dihabiskan untuk mereka. Kita harus mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati kita, segenap jiwa kita, segenap pikiran kita, dan segenap kekuatan kita (Mrk. 12:30). Ini berarti kita harus memberikan segenap kasih kita kepada Allah. Bila kita menemukan bahwa kita terbatas dalam segala hal, itu baik. Kita harus menyadari bahwa kapasitas kita terbatas. Bejana kita terbatas. Jika kita mengisinya dengan hal-hal lain, kita tidak akan memiliki tempat kosong lagi. Kita dibatasi oleh kapasitas kita. Untuk memasuki perasaan orang lain, kita harus membuat perasaan kita tersedia. Pikiran dan emosi kita harus tersedia sebelum kita dapat menyesuaikan diri dengan perasaan orang lain. Jika tangan kita dipenuhi dengan tugas-tugas, kita tidak dapat menerima permintaan apapun dari orang lain. Jika hati kita diberatkan dengan beban kita sendiri, orang lain tidak dapat membagikan beban mereka kepada kita. Maka, siapapun yang membuat dirinya paling tersedia berarti sanggup menerima paling banyak. Mereka yang sangat mengasihi diri sendiri atau keluarga mereka memiliki sedikit kasih bagi saudara-saudara. Kapasitas seseorang bagi kasih hanya sebesar itu; ia harus melepaskan semua kasih yang lain sebelum ia dapat mengasihi saudara-saudara dan memahami makna kasih persaudaraan. Baru kemudian ia akan mampu bekerja bagi Tuhan.
Persyaratan mendasar bagi setiap orang yang terlibat dalam pekerjaan Tuhan adalah mengenal salib. Seseorang yang tidak mengenal salib tidak berguna dalam pekerjaan Tuhan. Jika Anda tidak mengenal salib, Anda akan selalu menjadi subyektif. Pikiran Anda akan menerawang tanpa henti, dan Anda akan terus-menerus hidup dalam perasaan Anda. Anda harus kembali kepada pengenalan akan salib. Tidak ada jalan yang murah dan mudah. Anda harus menerima penganggulangan mendasar dari Tuhan. Tanpa penanggulangan-penanggulangan ini, secara rohani Anda akan menjadi tidak berarti. Semoga Tuhan membelaskasihani kita dan menanggulangi kita sehingga kita tidak akan lagi tetap puas dalam kesubyektifan kita. Kita tidak mau memiliki pikiran yang belum diperiksa, juga tidak sensitif dengan perasaan kita. Seorang pekerja harus membuka dirinya untuk menerima masalah orang lain. Jika kita melakukan hal ini, kita akan mengetahui apa yang sedang dikatakan orang begitu mereka datang kepada kita. Kita akan mengetahui perkataan yang belum mereka katakan, sama halnya dengan perkataan yang ada dalam roh mereka.
TIGA
Hal pertama yang harus dipelajari seorang pekerja Tuhan adalah mendengarkan orang lain. Ketika seorang saudara atau saudari sedang berbicara atau seorang yang belum percaya sedang berbicara, kita harus belajar mendengarkan. Kita harus belajar memiliki jalan pikiran seperti ia, dan merasakan apa yang ia rasakan. Kita harus mengetahui apa yang ia belum katakan dan keadaan rohnya. Jika kita mempraktekkan hal ini, kemampuan pendengaran kita akan berkembang pesat. Perlahan-lahan, kita akan memahami apa yang sedang dikatakan orang lain. Pada akhirnya, orang lain hanya perlu membuka mulut mereka, dan kita akan segera tahu apa yang sedang mereka katakan. Kita harus ingat bahwa batin kita harus menjadi seperti selembar kertas kosong yang tak bernoda agar orang lain dapat menulis di atasnya. Kita harus benar-benar tenang, mencegah pikiran kita sendiri, pendapat subyektif kita sendiri, dan perasaan kita sendiri, agar kita dapat mendengarkan orang lain dengan tenang dan memahami apa yang sedang mereka katakan. Hal terpenting yang berhubungan dengan seorang pekerja bukanlah ukuran pengetahuannya tetapi diri pekerja itu sendiri. Diri kita adalah instrumen kita. Allah sedang menggunakan diri kita untuk mengukur orang lain. Jika diri kita sudah salah, Allah tidak dapat memakai kita. Kita tidak dapat mengukur orang lain dengan sesuatu yang fisik. Akan jauh lebih mudah bila kita memiliki sesuatu yang istimewa yang dapat digunakan untuk mengukur orang lain. Sebuah termometer dapat mengukur suhu tubuh seseorang. Tetapi dalam pekerjaan Tuhan, satu-satunya "termometer" adalah diri kita. Kita harus menemukan sendiri kondisi orang lain. Oleh karena itu jenis orang macam apakah kita sangat menentukan. Jika diri kita sudah salah, tidak ada apapun yang akan berhasil. Kita adalah bejana-bejana Allah. Jika sebuah bejana tidak berfungsi dengan tepat, Allah tidak dapat menggunakannya untuk menanggulangi orang lain. Mendengarkan adalah perkara yang sangat penting. Jika kita dapat mendengarkan orang lain, mengenali keadaan mereka, dan masuk ke dalam pikiran dan perasaan mereka, kita akan memiliki jalan untuk menolong mereka.
Seandainya seseorang datang kepada Anda dan menumpahkan semua kesedihannya. Jika Anda belum pernah ditanggulangi oleh Tuhan, Anda pasti segera ingin memberikan banyak pengajaran kepadanya. Sebenarnya, inilah kebiasaan kita. Ketika orang lain datang kepada kita, kita segera membuka mulut kita dan memberikan beberapa pengajaran, bahkan sebelum mencoba menyadari penyakit mereka atau memahami kesulitan mereka. Banyak orang terlalu tidak sabar membiarkan orang lain selesai berbicara. Mereka tidak dapat menunggu orang lain selesai berbicara sebelum mereka menemukan pemecahannya. Orang lain hanya perlu berbicara sepatah dua patah kata, sebelum mereka menawarkan ajaran-ajaran dan koreksi mereka. Hasilnya, orang lain tidak menerima bantuan yang tepat.
Ini bukan berarti kita seharusnya membiarkan orang berbicara tiga sampai lima jam sementara kita duduk diam dan menyimak. Beberapa orang mengharapkan orang lain mendengarkan mereka tiga sampai lima jam. Mereka ingin kita mendengarkan mereka. Kita sebaiknya menghentikan mereka yang bicara tak henti-hentinya. Namun, pada umumnya, kita seharusnya memberikan cukup waktu bagi orang lain untuk berbicara, dan kita seharusnya memberi diri kita waktu yang cukup untuk mendengarkan. Jika seseorang memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam perkara ini dan jelas di dalam dirinya, jika ia dapat membedakan keadaan orang lain begitu mereka berbicara, dan jika ia mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, ia dapat menghentikan pembicaraan yang tak henti-hentinya ini. Jika tidak, ia seharusnya menggunakan sejumlah waktu yang memadai untuk mendengarkan mereka. Saya bukan mengatakan bahwa ia harus menghabiskan tiga sampai lima jam utuk mendengarkan orang lain, maksud saya ialah ia sebaiknya menyediakan waktu yang cukup untuk memahami kondisi mereka. Kita harus menyadari kompleksitas pekerjaan kita; kita sedang berhubungan dengan manusia yang hidup, dan kita sedang menangani masalah yang hidup. Kita ada di sini untuk menangani masalah seseorang di hadapan Tuhan. Jika kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan masalah orang lain, kita tidak akan mampu berkata banyak. Tidaklah mungkin membuat penilaian sebelum sepenuhnya memahami apa yang tercakup dalam masalah orang lain. Kita sedang berurusan dengan manusia yang hidup, jadi kita sedang berurusan dengan masalah yang hidup pula. Pada saat kita menangani masalah seseorang di hadapan Tuhan, kita seharusnya tetap diam dan tenang untuk dapat menerima sesuatu dari Tuhan. Apabila kita tidak melakukan ini, kita akan menghadapi masalah-masalah sewaktu memberikan bantuan kepada mereka. Banyak orang tidak dapat memberikan bantuan kepada orang lain karena mereka tidak mengetahui bagaimana mendengarkan mereka lebih dahulu. Kita perlu meminta kasih karunia dari Tuhan sehingga kita dapat duduk dan mendengarkan orang lain ketika mereka berbicara. Kita perlu mendengarkan dengan tenang, cermat, dan penuh perhatian sampai kita sepenuhnya paham. Begitu kita memahami apa yang sedang mereka katakan, tugaspun selesai. Kita harus belajar mendengarkan, dan kita harus mendengarkan sampai kita mengerti. Bukanlah hal yang mudah untuk berbicara, dan mendengarkan juga tidak kurang sulitnya. Banyak pengkhotbah terbiasa berbicara, tetapi mereka merasa sulit untuk duduk dan mendengarkan. Namun, kita harus mempelajari hal ini dengan baik.
Dalam diri kita perlu diterangi. Kita perlu menggunakan waktu yang cukup untuk belajar mendengarkan dan menjamah perasaan orang lain. Jika kita tidak belajar hal ini dengan baik, kita akan menemukan kesulitan dalam pelayanan kita. Kita harus berusaha sekuatnya untuk mendengarkan. Ketika seseorang sedang berbicara, dapatkah kita mendengarkan apa yang sedang ia katakan? Apakah kita mengerti perkataannya? Untuk dapat memahami perkataan orang lain, kita tidak cukup dalam keadaan tidak terganggu secara luaran. Tuhan harus menanggulangi kita secara mendasar. Subyektivitas, pikiran, dan perasaan kita harus ditanggulangi. Kita dapat melewati banyak hal, tetapi kita tidak akan pernah dapat melewati penganggulangan mendasar, yang tanpanya seseorang tidak akan dapat melayani Tuhan dengan tepat. Tanpa mengalami penanggulangan-penanggulangan dasar, kita bahkan tidak dapat membaca Alkitab dengan tepat. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk membaca Alkitab. Seseorang tidak dapat hanya melatih pikirannya. Dibutuhkan lebih dari sekadar pikiran yang cerdas untuk membaca Alkitab. Penanggulangan-penanggulangan dasar itu mutlak harus ada. Tanpa penanggulangan-penanggulangan sedemikian, seseorang secara luaran dapat mendengarkan setiap kata yang sedang dikatakan orang lain, tetapi di dalamnya ia akan berada dalam kegelapan total; ia tidak akan memahami apapun. Seorang saudara mungkin berbicara kepadanya selama satu jam penuh, namun ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Bagaimana ia dapat diharapkan untuk memberikan bantuan apapun? Kita adalah bejana Allah. Kita seharusnya tahu ketika seseorang sedang panas atau dingin, sehat atau sakit. Kita adalah tongkat pengukur. Tetapi ketika kita sedang redup, kita memberikan analisa yang salah.
Ada konsep salah yang umum di kalangan pekerja Kristen yaitu bahwa hal yang paling penting adalah kemampuan untuk berbicara. Jauhkanlah itu! Pekerjaan Tuhan berhubungan dengan roh kita, bukan hanya dengan kata-kata kita. Kita harus mengenali masalah-masalah rohani yang menyusahkan saudara saudari, dan kita harus tahu bagaimana menanggulanginya. Jika dalam diri kita tidak jelas, kita tidak akan memahami keadaan batiniah mereka. Bagaimana kita dapat memberikan bantuan kepada mereka? Bagaimana kita dapat mengetahui apakah seorang berdosa diselamatkan ketika kita mengabarkan Injil kepadanya? Apakah kita menilai hanya berdasarkan kata-kata yang keluar dari mulutnya? Apakah kata-katanya adalah satu-satunya sarana untuk menjelaskan keadaannya? Tidak, kita mengetahui keadaannya melalui pencatatan batiniah kita. Bagaimana kita tahu apakah seseorang berasal dari Tuhan? Apakah kita menilainya semata-mata berdasarkan beberapa patah kata, seperti "Aku percaya dalam Yesus; Aku diselamatkan" ? Apakah kita membaptis orang hanya karena ia telah menghafalkan formula tertentu? Tidak, kita membuat penilaian berdasarkan pencatatan batiniah kita. Kita adalah tongkat pengukur. Kita menguji seorang yang belum percaya menurut tongkat pengukur ini, dan kita juga menguji seorang anak Allah menurut tongkat pengukur ini. Bagaimana kita mengetahui keadaan rohani seorang anak Allah sehat atau tidak? Jika kita berjalan dalam terang Tuhan, kita akan tahu. Saudara saudari, kita harus ditanggulangi oleh Tuhan sampai pada titik kita menjadi tongkat pengukur-Nya. Jika batin kita redup, kita akan dengan mudah membuat penilaian yang salah, dan pada saat kita membuat penilaian yang salah, kita akan merusak pekerjaan-Nya. Inilah alasannya kita harus berjalan dalam terang secara batiniah; kita harus memiliki terang yang murni. Betapa mengenaskannya banyak saudara dan saudari bukan hanya gelap di batinnya, tetapi mereka juga bahkan tidak mampu duduk dan mendengarkan orang lain. Saudara saudari, kita harus belajar menjadi tenang. Kita harus belajar mendengarkan apa yang sebenarnya sedang dikatakan orang lain. Kita harus membuka diri kita dan membiarkan urusan-urusan orang lain masuk ke dalam hati kita. Kita harus memiliki pencatatan batiniah yang tajam agar kita dapat membedakan masalah orang lain yang sebenarnya. Hanya dengan demikian kita dapat memberi mereka bantuan yang tepat.