← Daftar isi Ibrani (2) · bab 13/17

BERUSAHA MAJU, MENCAPAI KEMATANGAN; MENGIKUTI PERINTIS MELARIKAN DIRI DAN BERSAUH DALAM

TEMPAT PERLINDUNGAN

BERUSAHA MAJU, MENCAPAI KEMATANGAN

Surat Ibrani merupakan surat yang membahas masalah kematangan. Untuk berusaha maju dan mencapai kematangan, kita perlu menyeberang sungai. Setiap kali kita menemukan rintangan-rintangan atau sesuatu yang menghambat kita untuk maju ke depan, itulah saatnya kita menyeberang sungai. Sama seperti orang Israel telah menyeberangi Laut Merah dan Sungai Yordan, kita pun harus menyeberangi sungai demi sungai.

Apakah artinya matang? Kita telah bertahun-tahun nampak bahwa jika kita hidup dalam diri sendiri atau tetap bersikap individualistis, kita masih belum matang. Begitu pula jika kita mencoba hendak berusaha menjadi suci, rohani, atau menang, berarti kita belum mencapai kematangan. Kematangan yang sejati tidak saja berada dalam roh kita, lebih-lebih berada dalam hidup gereja. Hidup gereja adalah tanda kematangan kita. Dari hasil pengamatan dan penyelidikan saya selama lebih dari 50 tahun, saya berani mengatakan bahwa di luar hidup gereja orang mustahil bisa mencapai kematangan yang sejati. Kematangan yang sejati hanya bisa dicapai di dalam hidup gereja.

Kaum beriman Ibrani penerima surat ini, selalu bimbang tidak menentu dalam kehidupan kekristenan mereka. Mereka selalu mondar-mandir dalam pikiran, dan tidak tahu harus maju ke depan atau harus berbalik ke belakang. Pada saat-saat demikianlah surat ini ditulis, untuk mendorong agar mereka maju ke depan.

Melupakan segala-galanya adalah cara yang paling baik untuk maju ke depan. Asalkan kita mau melupakan segala-galanya, kita akan maju ke depan. Mungkin kita telah membuang banyak waktu untuk memikirkan keadaan sekitar kita, masa lampau kita, masa depan kita, dan segala hal yang berhubungan dengan itu, namun kita tidak mau menggunakan waktu satu jam untuk maju ke depan. Sering kali saya didatangi kaum saleh, mereka bertanya tentang masa lampau, masa kini, masa depan, dan banyak hal lainnya. Saya jadi terkenal karena tidak pernah mau menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Saya hanya memberi mereka satu jawaban, “Majulah saja ke depan. Jangan membicarakan dan jangan mengingat-ingat masa yang lampau. Yang sekarang pun harus Anda lupakan, lebih-lebih yang akan datang. Bila Anda benar-benar ingin maju ke depan, maju saja!” Orang yang dapat melupakan segala-galanya adalah orang yang bisa maju ke depan paling baik. Lihatlah pelari-pelari yang sedang berlomba, mereka tidak ada waktu memikirkan urusan lain, kecuali satu hal, berlari terus ke depan.

Di sini kita nampak satu prinsip dasar: bila ada orang telah menyimpang dari jalannya, atau berhenti, namun kemudian ia tergugah untuk berlari ke depan lagi, ia tidak usah ragu-ragu atau was-was, cukup lari saja ke depan. Ketika tergerak bangkit lagi untuk menempuh jalan Tuhan, ada orang muda yang berpikir apakah yang harus ia lakukan sebelum ia maju ke depan; ia khawatir apakah Tuhan mau mengampuninya dan berkenan kepadanya. Jika Anda berpikir demikian, Anda pasti sukar untuk maju ke depan bersama Tuhan. Bila Anda sungguh-sungguh terhadap Tuhan, maju saja bersama Dia. Entah Ia mengampuni dan berkenan kepada Anda atau tidak, jangan Anda pikirkan dan jangan membuang waktu dalam hal itu. Berlarilah hingga Anda mencapai sasaran dan menerima pahala. Benar atau salah, jangan Anda pikirkan, maju saja ke depan!

Menurut Ibrani 6, maju ke depan tidak perlu meletakkan dasar lagi. Misalnya, saudara-saudara telah meletakkan fondasi untuk membangun balai sidang yang baru, tetapi karena sesuatu hal pekerjaan itu dihentikan. Kemudian, mereka tergerak untuk membangunnya lagi, apakah mereka harus memulai dari semula dan meletakkan fondasi lagi? Tidak, mereka tidak sedungu itu. Seandainya hal itu mereka lakukan berulang-ulang, seluruh lokasi pembangunan itu akan penuh dengan fondasi, tanpa dinding, atap, atau bangunan. Walau perbuatan demikian sangat dungu, namun banyak orang Kristen (termasuk saya sendiri), justru telah melakukan hal itu dalam kehidupan kekristenan mereka yang lampau. Pada permulaan hidup saya sebagai orang Kristen, saya pernah meletakkan banyak pondasi. Setiap kali saya beroleh kebangunan, sering saya berangsur-angsur merosot lagi. Setelah saya tergerak dan dibangunkan lagi, saya selalu bertekad untuk kembali ke tempat semula, lalu kembali bertobat dan mengaku dosa seperti semula. Itulah artinya “bertobat sekali lagi”, juga berarti meletakkan lagi dasar pertobatan (6:6). Tidak lama kemudian, saya mengulanginya lagi dan saya bertobat lagi dari semula. Akhirnya saya bosan, tetapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Pada suatu hari, ketika saya membaca Ibrani 6, barulah sadar betapa bodohnya saya ini. Sebenarnya saya tidak perlu bertobat lagi atas apa yang telah saya akui, juga tidak perlu mengaku dosa sekali lagi seperti semula; yang saya perlukan hanyalah maju ke depan.

Kebanyakan dari apa yang disebut kebangunan rohani di kalangan orang Kristen dewasa ini hanyalah merangsang orang untuk kembali meletakkan fondasi (dasar). Seorang pengkhotbah yang ternama datang, orang-orang menerima kebangunan rohani dan meletakkan dasar. Beberapa bulan kemudian, mereka mulai merosot lagi, dan perlu seorang pengkhotbah lain untuk datang merangsang mereka lagi, dan meletakkan dasar lagi. Tiap kali kaum beriman menerima kebangunan, mereka meletakkan dasar sekali lagi. Jadi, banyak orang Kristen yang berulang-ulang meletakkan dasar yang serupa. Itulah sebabnya kita perlu Ibrani 6.

Kita tidak perlu meletakkan dasar lagi, yang kita perlukan hanyalah maju ke depan. Jangan memikirkan apakah Tuhan mau mengampuni Anda atau tidak, melainkan maju saja menuju ke sasaran Anda. Bila Anda tergerak dan ingin maju lagi bersama Tuhan, Anda tidak perlu terlalu banyak bertobat. Masalah pertobatan telah ditekankan oleh kekristenan yang suka kebangunan rohani dewasa ini secara berlebih-lebihan. Hampir setiap ahli kebangunan rohani mengetahui atau menguasai tehnik ini, yaitu menggerakkan orang untuk bertobat. Namun, sekarang saya harus berkata kepada Anda, Anda tidak perlu bertobat demikian banyak. Tuhan telah bosan dengan pertobatan Anda yang sebanyak itu; Tuhan sudah cukup banyak mendengar doa pertobatan. Tuhan lebih suka melihat Anda maju ke depan daripada melihat Anda berulang-ulang bertobat atas hal yang sama. Maju ke depan berarti menyeberang sungai, dari sisi yang satu ke sisi yang lain, dari tahap ini ke tahap lain, dan dari kedudukan ini ke kedudukan lain. Jangan banyak bicara, jangan banyak berpikir, majulah saja. Tinggalkan konsepsi usang, pengenalan usang, doktrin usang, dan ajaran usang, dan maju saja ke depan. Lebih cepat Anda maju tentu lebih baik.

I. MENINGGALKAN ASAS-ASAS PERTAMA DARI AJARAN TENTANG KRISTUS

Bila kita mau maju ke depan, kita harus meninggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus (6:1). Hal ini berarti kita harus meninggalkan tahap peletakan dasar, tahap menyusu, dan tahap bayi. Seperti telah kita bahas dalam berita terdahulu, asas-asas pertama dari ajaran Kristus adalah susu bagi bayi-bayi dalam Kristus. Jadi, untuk maju ke depan, kita perlu meninggalkan asas-asas pertama dari ajaran-ajaran yang kita terima dan jangan lagi memakan makanan bayi. Kita harus meninggalkan tahap bayi dan menuju ke tahap kematangan melalui makan makanan keras, yaitu firman kebenaran (5:13-14) yang disuplaikan kepada kita dalam surat ini.

II. JANGAN MELETAKKAN DASAR LAGI

A. Dasar telah Diletakkan,

Tidak Perlu Meletakkan Lagi

Dasar telah diletakkan, tidak perlu meletakkannya lagi (6:1). Dasar ini mencakup enam hal: bertobat dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang mati, percaya kepada Allah, ajaran tentang berbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal (ayat 1-2). Semua itu merupakan dasar kehidupan kekristenan kita yang telah diletakkan ketika kita beroleh selamat. Karena telah diletakkan, maka tidak perlu meletakkannya lagi. Bila kita jatuh sesudah kita beroleh selamat, kita tidak usah kembali bertobat atas hal-hal yang telah kita sesali dahulu. Bila kita kembali mengulangi pertobatan itu, berarti kita meletakkan dasar lagi. Jika kita jatuh dan bangun lagi, lalu ingin maju bersama Tuhan, cukup maju saja ke depan, tanpa mengulangi pertobatan kita yang lampau. Kita pakai lagi perumpamaan membangun balai sidang. Seandainya fondasi balai sidang telah diletakkan dan kemudian terhenti, kini akan dibangun lagi, maka tidak perlu meletakkan fondasi lagi. Tukang-tukang itu cukup membangun di atas fondasi yang telah ada. Misalnya lagi, para atlet yang jatuh dalam perlombaan, mereka tentu tidak perlu kembali ke tempat start, mereka cukup melanjutkan perlombaan mereka dari tempat di mana mereka terjatuh. Kehidupan kekristenan kita juga seperti orang membangun rumah dan perlombaan. Kalau kita jatuh ketika sedang berlari, kita tidak perlu kembali ke tempat permulaan untuk melakukan start lagi; kita cukup melanjutkannya dari tempat di mana kita jatuh.

B. Tidak Mungkin Memperbarui Lagi Pertobatan

Ayat 4-6a selanjutnya mengatakan, “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang, namun murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi supaya bertobat.” Entah berapa banyak pengajar yang salah menafsirkan atau pengkhotbah yang menyalahgunakan ayat-ayat ini. Mereka mengira apa yang dikatakan dalam Ibrani 6 ini berarti bila seseorang percaya Tuhan kemudian berdosa lagi, ia tidak mungkin bertobat lagi dan tidak mungkin diampuni lagi. Bukan demikian yang dimaksud ayat ini. Sesungguhnya ayat ini berarti bila Anda pernah bertobat dan sekarang digerakkan Tuhan untuk maju ke depan, Anda tidak perlu bertobat lagi. Dalam pandangan Tuhan, hal itu tidaklah mungkin. Kalau dasar telah diletakkan sekali, tidak perlu dan tidak mungkin diletakkan lagi. Mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi, dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang, telah meletakkan dasar dengan baik ketika mereka percaya. Walau mereka kemudian jatuh dan pulih kembali, mereka tidak perlu meletakkan dasar lagi. Mereka cukup bangkit, maju ke depan, dan mencapai tahap kematangan. Tidak perlu mengulangi pertobatan, sebab “tidak mungkin dibarui sekali lagi supaya bertobat”. Ayat 1 menunjukkan tidak perlu (janganlah), ayat 6 mengatakan tidak mungkin, ayat 7-8 menunjukkan bahwa hal itu tidak benar. Dengan demikian terbukti bahwa ayat tersebut bukan berarti bila orang beriman berdosa lagi ia tidak mungkin diampuni, melainkan bila seorang Kristen jatuh, ia tidak perlu mengulangi pertobatannya yang semula, sebab dalam pandangan Allah hal itu tidaklah mungkin.

Karunia surgawi yang dikatakan dalam ayat 4 mengacu kepada pemberian hal-hal surgawi oleh Allah, seperti: pengampunan, pembenaran, hayat Allah, damai sejahtera, dan sukacita pada saat kita bertobat dan percaya. Pada ayat 5 “firman” dalam bahasa Yunani ialah “rhema”, berarti firman Allah yang seketika. Firman yang baik dari Allah di sini mengacu kepada asas-asas pertama dari ajaran Kristus yang disinggung dalam ayat 1, yang adalah susu yang dikecap kaum beriman Ibrani ketika mereka percaya Tuhan. Sekarang mereka harus maju terus ke firman yang lebih dalam, yaitu firman kebenaran (5:13). Firman ini terutama bukan mengenai penebusan Allah, melainkan mengenai jalan ekonomi-Nya, yang adalah makanan keras yang dengannya mereka dapat mencapai kesempurnaan, kematangan (ayat 1).

Istilah “kuasa” dalam ayat 5 mengacu kepada kuat kuasa ilahi, dan “dunia yang akan datang” mengacu kepada zaman kerajaan yang akan datang. Kuat kuasa ilahi kerajaan yang akan datang memulihkan, memperbarui, dan membangunkan kembali hal-hal yang telah usang (Mat. 19:28). Pada saat orang beriman dilahirkan kembali (Tit. 3:5), ia mengecap kuat kuasa ilahi ini, dan dipulihkan, diperbarui, dan dibangunkan kembali.

Kebanyakan guru dalam kekristenan mengatakan bahwa orang yang murtad di sini berarti orang Kristen palsu. Namun bagaimana mungkin orang yang pernah diterangi hatinya, pernah mengecap karunia surgawi, dan pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan kuasa-kuasa dunia yang akan datang itu adalah orang Kristen palsu? Mereka mengatakan demikian sebab mereka (guru-guru Alkitab) tidak mengenal masalah pahala dan hukuman, maka mereka membuat kekeliruan besar. Menurut konteksnya, orang yang murtad itu adalah orang Kristen sejati. Ia tidak mungkin binasa, tetapi dari keterangan ayat 8, ia akan mengalami suatu hukuman. Karena itu, ia perlu berbalik dan maju ke depan. Untuk maju, ia tidak perlu kembali meletakkan dasar lagi. Sekalipun ia ingin meletakkan dasar lagi, ia tidak mungkin bisa, sebab apa yang dilakukannya tidaklah terhitung di hadapan Allah.

C. Menyalibkan Kembali Anak Allah,

Menghina-Nya di Depan Umum

Kata “murtad” dalam ayat 6 tadi mengacu kepada fakta bahwa orang-orang Kristen Ibrani telah menyimpang dari kepercayaan kristiani yang murni dengan kembali kepada agama Yahudi mereka yang tradisional dan usang. Dalam prinsipnya, ini dapat diterapkan kepada semua orang Kristen yang menyimpang dari jalan Allah yang benar.

Ayat ini juga mengatakan tentang “menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di depan umum”. Kata “menyalibkan” dan “menghina” menerangkan predikat “dibarui”. Dibarui sekali lagi hingga bertobat berarti mengulangi pertobatan yang telah dibuat, ini tidak diperlukan. Melakukan ini berarti menyalibkan lagi Putra Allah dan menghina-Nya di depan umum. Maka, andaikata kita kembali kepada pertobatan kita yang semula, di satu pihak berarti meletakkan dasar lagi, di pihak lain, dalam pandangan Allah berarti menyalibkan kembali Tuhan. Tuhan telah tersalib bagi kita, dan kali pertama kita bertobat, fakta tersebut telah kita terima. Maka bila kita kembali kepada pertobatan kita yang semula, bukankah itu berarti menyalibkan-Nya lagi dan menghina-Nya di depan umum? Janganlah sekali-kali kita berbuat hal yang demikian!

D. Tidak Benar bila Meletakkan Dasar Lagi

Meletakkan dasar pertobatan lagi tidaklah benar, bahkan merupakan pemborosan. Seperti halnya saudara-saudara yang meletakkan dasar sekali lagi balai sidang itu tidak saja salah, bahkan suatu pemborosan.

Dalam butir ini kita perlu membaca ayat 7-8, “Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau menghasilkan semak duri dan rumput duri, tanah itu tidak berguna dan sudah dekat pada kutuk yang berakhir dengan pembakaran.” Mereka yang kembali mengulang-ulangi pertobatan yang semula itu seperti tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya,

namun tidak menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang wajar. “Air hujan” dalam ayat 7 mengacu kepada kelima jenis hal yang baik yang telah disinggung dalam ayat 4-5. Menghasilkan tumbuh-tumbuhan adalah suatu ilustrasi dari sekuatnya maju dan mencapai kesempurnaan, kematangan (ayat 1). Kaum beriman, sepertilah ladang, digarap oleh Allah agar mereka dapat menghasilkan Kristus, sebagaimana ladang menghasilkan tumbuh-tumbuhan, hingga mencapai kesempurnaan, kematangan. Dengan demikian, mendapatkan berkat dari Allah. Kristus adalah tumbuh-tumbuhan yang tepat. Menghasilkan semak duri dan rumput duri tanpa menghasilkan Kristus, itulah pemborosan semata.

Orang berdosa yang tidak beriman benar-benar terkutuk, tetapi orang Kristen yang menghasilkan semak duri dan rumput duri sudah dekat pada kutuk. Sesungguhnya semak duri dan rumput duri dalam ayat 8 mengacu kepada hal-hal tradisional dari agama usang kaum beriman Ibrani. Frase “tidak berguna” dapat juga diterjemahkan “tidak diperkenan”, “tidak memenuhi syarat”, “terhitung tidak berguna”. Jika seorang beriman tidak mau sekuatnya maju untuk mencapai kesempurnaan, kematangan, malah sebaliknya, berbalik kepada hal-hal yang usang, dia tidak akan diperkenan Allah dan terhitung sebagai yang tidak berguna. Begitu diselamatkan kaum beriman tidak akan pernah menjadi suatu kutukan yang sesungguhnya. Walau demikian, jika kita tidak maju, menumbuhkan Kristus, malahan sebaliknya berpegang kepada hal-hal yang tidak menyenangkan Allah, kita sudah dekat pada kutuk, mengalami penghukuman pemberesan pemerintahan Allah (lihat ganjaran dalam pasal 12:7-8). Ganjaran mutlak berbeda dengan hukuman kebinasaan kekal; yang terakhir merupakan kutuk yang sesungguhnya.

Tanah itu sendiri tidak akan terbakar, namun apa yang tumbuh di atasnya itulah yang akan terbakar. Demikian pula, orang-orang beriman tidak akan terbakar, namun sesuatu yang mereka hasilkan, yakni segala yang tidak sesuai dengan ekonomi Allah, itulah yang akan terbakar. Orang beriman adalah ladang Allah. Bila hasil usaha mereka berupa kayu, jerami, atau rumput kering, tentu akan terbakar (1Kor. 3:9, 12). Bila ladang dibakar, itu tidak berarti binasa, hanya berarti ditanggulangi.

Kata-kata dalam Ibrani 6 adalah firman kebenaran, bukan kata-kata yang berselaput gula, yang digemari kebanyakan orang Kristen. Apakah pembakaran yang disinggung dalam firman Allah di sini, saya sendiri tidak tahu, saya hanya tahu Allah berfirman demikian. Dan kata-kata itu agak mirip dengan catatan 1Korintus 3:12-15, yaitu segala kayu, jerami, dan rumput kering akan terbakar; walau orang itu diselamatkan, tetapi “seperti dari dalam api”. Ini bukan firman anugerah, firman kehidupan, atau firman yang baik, melainkan firman yang serius dan fir-man yang berat, yaitu firman kebenaran.

III. BERUSAHA MAJU, MENCAPAI KESEMPURNAAN, KEMATANGAN

Penulis tidak dari awal surat ini menganjuri kaum beriman Ibrani maju ke depan. Sebelum ia mengatakan, “Marilah kita . . . beralih (berusaha menuju) kepada perkembangannya yang penuh (kematangan)”, ia telah lebih dulu memakai 5 pasal untuk membahas banyak hal yang indah. Jalan untuk menuju ke tahap kematangan terdapat dalam kelima pasal tersebut.

A. Berbagian dalam Pencapaian Kristus

Untuk mencapai tahap kematangan, kita perlu berbagian dalam apa yang telah dicapai oleh Kristus (1:9; 3:14). Kita adalah mitra-Nya, dan berbagian dalam pengurapan-Nya. Jalan untuk berbagian dalam segala yang telah dicapai oleh Kristus ialah iman. Kita tidak perlu mengerti terlalu banyak, yang penting kita harus percaya firman-Nya, yaitu berita kesukaan yang disampaikan kepada kita hari ini, dan berkata, “Puji Tuhan, aku adalah teman sekutu-Nya (mitra-Nya). Aku memiliki kedudukan dan hak untuk berbagian dalam pengurapan-Nya.” Jangan berkata bahwa Anda tidak memiliki perasaan berbagian dalam pengurapan-Nya. Semakin Anda mengatakan tidak memiliki perasaan, Anda akan semakin tidak memiliki perasaan. Iman selalu membuat apa yang tidak ada menjadi ada. Kita percaya kepada perkataan yang Allah katakan, tidak peduli merasakannya atau tidak. Firman Allah telah mengatakan bahwa kita adalah mitra Kristus, sebab itu kita harus pula berkata, “Amin, aku adalah mitra Kristus!” Firman Allah juga mengatakan Ia telah menerima pengurapan, dan sebagai mitra-Nya, kita juga mengambil bagian dalam pengurapan-Nya. Dalam hal ini kita harus berkata, “Amin, aku mengambil bagian dalam pengurapan-Nya!”

B. Berusaha Memasuki Perhentian

Hari Sabat yang Tersedia

Bila kita ingin mencapai tahap kematangan, kita harus berusaha memasuki perhentian hari Sabat yang tersedia (4:9, 11). Seperti kita nampak, perhentian hari Sabat yang tersedia hari ini adalah hidup gereja. Kita tidak perlu terlalu banyak merisaukan masalah kerajaan yang akan datang, kita hanya perlu menceburkan diri ke dalam hidup gereja hari ini. Jangan berkata, “Oh, aku sangat teledor di masa lalu, sekarang aku ingin bersungguh-sungguh, agar kelak aku dapat masuk ke dalam kerajaan.” Anda harus melupakan masa-masa lalu Anda, dan jangan hiraukan masa depan, masuklah ke dalam hidup gereja hari ini. Musuh sangat licik, saya takut masih banyak di antara kita yang selalu membicarakan masa lalu atau mengharap-harapkan masa kelak. Lupakanlah keduanya itu, sekarang juga bertindaklah memasuki hidup gereja dan perlombaan hari ini!

C. Menghampiri Takhta Anugerah, Menerima Rahmat, dan Menemukan Anugerah

Kita juga harus menghampiri takhta anugerah supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah (4:16). Bertumbuh di dalam hayat, berusaha maju mencapai kesempurnaan, kematangan, memerlukan rahmat dan anugerah Allah. Pertumbuhan tidak mungkin tercapai dengan mengandalkan diri sendiri, melainkan demi rahmat Allah yang jauh jangkauannya dan anugerah-Nya yang serba cukup. Sedangkan jalan untuk menerima rahmat dan menemukan anugerah ialah menghampiri takhta anugerah. Syukur kepada Allah, karena takhta-Nya hari ini bagi kita ialah takhta anugerah. Kita semua harus berlatih menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya.

D. Memakan Makanan Keras,

Menikmati Kristus sebagai Imam Besar

Kita yang Menurut Aturan Melkisedek

Bila kita ingin mencapai kematangan, kita perlu meninggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus, meninggalkan makanan bayi, dan memakan makanan keras, yakni firman kebenaran, agar kita dapat menikmati Kristus sebagai Imam Besar kita, yang menurut aturan Melkisedek (5:9-10, 14). Kita telah menerima Kristus sebagai Penebus dan Juruselamat, dan Ia telah menjadi hayat di dalam kita. Kristus yang telah kita terima sebagai hayat di batin kita juga adalah Imam Besar kita menurut aturan Melkisedek di surga, yang bukan berfungsi mempersembahkan kurban karena dosa, melainkan menyuplaikan kelimpahan Allah kepada kita. Bila kita ingin mencapai tahap kematangan, kita perlu menikmati Kristus Penyuplai Allah yang sedemikian, supaya kita beroleh bagian dalam unsur ilahi yang kaya limpah. Inilah yang dimaksud makanan keras, bukannya susu makanan bayi. Kebanyakan orang Kristen berhenti pada tahap bayi yang menyusu, mereka enggan memakan makanan keras dan enggan mengalami suplai Kristus sebagai Melkisedek mereka. Kitab ini mendorong kita maju ke depan dengan memakan makanan keras serta menikmati Kristus yang surgawi, agar kita boleh menerima unsur Allah yang kaya itu, sehingga kita bertumbuh mencapai kematangan.

Permulaan pasal 6 merupakan kesimpulan yang kuat yang mendorong kita untuk mempraktekkan semua yang telah kita dengar dan pelajari dalam kelima pasal sebelumnya. Kalau kita melaksanakannya dan maju terus, kita akan mencapai sasaran, dan matang. Sangat sederhana! Mari kita semua maju!

MENGIKUTI PERINTIS, MELARIKAN DIRI DAN

BERSAUH KE DALAM TEMPAT PERLINDUNGAN

Sekarang kita akan melihat masalah mengikuti Perintis melarikan diri dan bersauh ke dalam tempat perlindungan (6:9-20). Hal ini merupakan puncak tertinggi dari berita-berita yang telah kita bahas.

I. TEMPAT PERLINDUNGAN

Ayat 18 mengatakan, “Kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk berpegang pada pengharapan yang terletak di depan kita.” Pernahkah Anda mendengar Perjanjian Baru menyuruh kita lari ke dalam tempat perlindungan? Bahasa Yunani yang diterjemahkan “mencari perlindungan” berarti sekuatnya melarikan diri. Dalam bahasa aslinya, istilah ini sama dengan “menyingkirkannya” Paulus ke Likaonia (lihat Kis. 14:6. Dalam bahasa aslinya adalah “melarikan diri”). Walau tambahan kata “perlindungan” di sini tidak salah, tetapi lebih baik tidak diberi tambahan kata ini, cukup “melarikan diri” saja.

Kita bukan hanya penyeberang sungai, juga orang-orang yang melarikan diri. Melarikan diri dari apa? Dari segala hal yang di luar Kristus dan hidup gereja. Kita harus lari dari dunia, agama, bahkan diri kita sendiri. Kita harus lari diri dari toko-toko serba ada, arus zaman, agama, konsepsi usang, dan berbagai macam tradisi. Kita harus lari dari segala sesuatu yang bisa menceraikan kita dengan Kristus. Untuk ayat ini saya telah memeriksa banyak terjemahan, di antaranya ada versi yang mengatakan, “melarikan diri dari dunia”. Kita harus melarikan diri dari kedudukan kita yang usang, ambisi dan rasa sayang diri. Kita harus lari dari setiap hal. Tidak usah diragukan bahwa penulis surat ini sangat mengharapkan agar kaum beriman Ibrani melarikan diri dari agama Yahudi yang usang. Sebab bila mereka tetap berdiam di sana, sangatlah berbahaya, maka mereka harus cepat-cepat melarikan diri. Dalam bahasa aslinya juga mengandung arti melarikan diri ke tempat yang aman, itulah sebabnya mengapa penerjemah menambah kata “perlindungan”. Di sini penulis seolah berkata, “Hai kaum beriman Ibrani, situasi kalian sangat berbahaya, kalian harus cepat-cepat melarikan diri ke tempat yang aman!”.

Di manakah tempat yang aman itu? Ke manakah kita harus melarikan diri? Ke dalam roh kita, ke dalam gereja, dan ke dalam alam surgawi. Apakah yang ada dalam alam surgawi? Tempat maha kudus di belakang tabir. Kaum beriman Ibrani berada dalam bahaya terseret kembali ke dalam perkemahan. Mereka harus melarikan diri ke belakang tabir. Penulis seolah-olah berkata, “Larilah ke belakang tabir, ke dalam tempat maha kudus, ke dalam roh. Jangan bimbang di dalam jiwamu. Keluarlah dari pikiranmu yang berkelana itu. Larilah ke dalam rohmu, baru aman.” Walaupun kita sukar untuk memastikan apa sebenarnya tempat perlindungan itu, namun kita boleh katakan itulah alam surgawi di mana Tuhan Yesus hari ini berada.

II. SAUH

Dalam 6:9-20 penulis menggunakan istilah “sauh” menyatakan bahwa kita sedang berada di atas laut yang berbadai. Karena kita memang sedang berlayar di atas laut yang berbadai, kita perlu sebuah sauh. Sudah pasti, tempat untuk kita berteduh ialah pelabuhan, dan pelabuhan ini berada di dalam roh kita, di dalam hidup gereja, dan di dalam tempat maha kudus di mana Tuhan Yesus berada. Bila kita ingin tinggal di pelabuhan ini, kita perlu sebuah sauh, dan sauh ini adalah pengharapan kita (ayat 18-19) yang terbentuk dari dua hal yang tidak berubah selama-lamanya; janji Allah dan sumpah Allah (ayat 12-18). Janji Allah diteguhkan oleh sumpah Allah. Janji Allah ialah firman Allah, sumpah Allah ialah ketetapan-Nya yang terakhir. Maka demi janji dan sumpah Allah, yang tidak dapat berubah itu, kita beriman dan sabar, sehingga timbullah pengharapan kita, yaitu sauh jiwa kita. Pengharapan kita bagaikan sauh yang kuat dan aman telah dilabuhkan ke dalam tempat maha kudus di belakang tabir, dan kini di dalam roh kita dapat masuk ke dalamnya (10:19-20). Karena itu, kita kini dapat berlabuh di dalam tempat maha kudus melalui sauh pengharapan tersebut. Tanpa sauh, kapal kita akan kandas (1Tim. 1:19).

Kita harus melarikan diri dari situasi apa pun. Setiap situasi merupakan laut yang berbadai. Anda kaya? Kekayaan anda adalah laut yang berbadai. Anda miskin? Kemiskinan anda adalah laut yang berbadai. Mengatakan bahwa setiap situasi adalah laut yang berbadai berarti setiap situasi bisa menghempas Anda, membuat Anda tidak dapat masuk ke dalam perhentian hari ini. Itulah bahayanya. Ingatlah lambang keluarnya orang Israel dari Mesir. Walaupun yang keluar mungkin berjumlah dua juta, namun hanya dua orang saja yang dapat masuk ke dalam perhentian, yang lainnya telah menyimpang. Bukankah kita hari ini juga menghadapi kemungkinan yang serupa? Tidak ada satu hal pun yang tidak menghambat kita. Bahkan jabatan penatua dalam gereja juga dapat menyebabkan Anda terhempas. Wahai para penatua, larilah dari jabatan penatua Anda. Kita semua adalah orang-orang yang melarikan diri. Bahkan kita harus melarikan diri dari kampung halaman dan lokalitas kita sendiri. Dalam hal melarikan diri, penulis telah mencakupkan dirinya, karena ia memakai istilah “kita” dalam ayat 18. Setelah mengutarakan sekian banyak hal indah pada pasal-pasal terdahulu, ia lalu menyimpulkannya dengan istilah “melarikan diri”.

III. PERINTIS

Penulis kini memberi tahu kita bahwa Kristus bukan hanya Pemimpin keselamatan, Ia pun Perintis kita. Sebagai Perintis, Tuhan Yesus mengambil pimpinan untuk melewati laut yang berbadai dan masuk ke dalam pelabuhan surgawi guna menjadi Imam Besar bagi kita menurut aturan Melkisedek. Sebagai Perintis yang demikian, Dia adalah Pemimpin keselamatan kita (2:10). Sebagai Perintis, Dia telah membuka jalan kepada kemuliaan; dan sebagai Pemimpin, Dia telah masuk ke dalam kemuliaan, masuk ke dalam tempat maha kudus di belakang tabir. Untuk masuk ke dalam tempat maha kudus, Tuhan Yesus telah melarikan diri dari segala sesuatu. Dia melarikan diri dari ibu dan saudara-saudaraNya (Mat. 12:46-50). Ia pun telah lari dari agama Yahudi dan masuk ke belakang tabir. Di sini tidak dikatakan Tuhan Yesus masuk ke dalam surga atau melintasi semua langit, melainkan masuk ke belakang tabir. Ia telah masuk ke dalam hadirat Allah. Ia telah melarikan diri dari segala sesuatu dan masuk ke dalam hadirat Allah di belakang tabir, tempat kita melabuhkan sauh pengharapan dengan penuh jaminan (ayat 19, 11).

Setelah membahas sekian banyak berita dalam Pelajaran Hayat Surat Ibrani, kita harus memperhatikan satu hal, yakni melarikan diri. Kita harus melarikan diri dari segala hal, sebab segala hal itu berbahaya. Larilah dari konsepsi usang Anda, larilah dari hidup Anda yang tanpa gereja. Bila Anda tidak menempuh hidup gereja, Anda berada di atas laut yang berbadai, tanpa perlindungan. Pikiran Anda yang berkelana adalah laut yang berbadai. Larilah ke dalam roh, ke dalam hidup gereja, supaya Anda beroleh tempat perlindungan yang aman. Melarikan diri adalah menyeberang sungai yang sesungguhnya. Saya khawatir banyak di antara pembaca berita ini enggan melarikan diri dan enggan menyeberang sungai. Marilah kita melarikan diri ke dalam roh kita, ke dalam hidup gereja. Marilah kita melarikan diri ke belakang tabir, ke dalam tempat maha kudus!