← Daftar isi Bilangan (1) · bab 2/26

DIBENTUK MENJADI PASUKAN (1)

Pembacaan Alkitab: Bilangan 1

Gambaran yang dilukiskan dalam Bilangan 1 memperlihatkan kepada kita seluruh Perjanjian Baru, dari inkarnasi Allah Tritunggal menjadi manusia, hidup dan tinggal di antara manusia, sampai pada perampungan inkarnasi, Yerusalem Baru.

Tidak mudah melihat inkarnasi Allah Tritunggal dalam Bilangan 1, karena kita tidak memiliki konsepsi yang demikian. Jika kita mau melihat inkarnasi Allah Tritunggal dalam pasal ini, kita perlu memikirkan perihal Kemah Pertemuan dengan tabutnya. Dalam Kemah Pertemuan terdapat tabut, dan di dalam tabut terdapat hukum. Hukum ini disebut “kesaksian” (Bil. 17:4, 10 Tl.). Hukum itu adalah kesaksian Allah karena hukum itu mempersaksikan dan memperlihatkan Allah kepada kita. Jadi, Allahlah yang sebenarnya menjadi pusat. Bagaimanapun, di sini kita tidak hanya memiliki Allah dalam diri-Nya sendiri, tetapi Allah di dalam sebuah tabut yang terbuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas. Tabut ini, sebagai satu kesatuan dari dua unsur, kayu dan emas, melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya dan keilahian-Nya.

Kata “inkarnasi” tidaklah terdapat dalam Bilangan 1, tetapi gambarannya ada di sana. Dalam gambaran Kemah Pertemuan dan tabutnya ini, kita melihat Allah Tritunggal berinkarnasi menjadi manusia dan tinggal di antara manusia. Kemah Pertemuan dibangun dengan mempergunakan 48 buah papan. Pertama, angka 48 terbentuk dari angka 6 dikalikan 8, yang menandakan manusia (6) dalam kebangkitan (8). Kedua, 48 terbentuk dari 12 dikalikan 4, yang menandakan Allah Tritunggal (terdapat dalam angka 12, yang terdiri dari 3 dikalikan 4) dalam ciptaan-Nya (4). Karena itu, gambaran ini memperlihatkan Allah Tritunggal berinkarnasi menjadi manusia, dan tinggal di antara manusia. Di sini kita melihat Allah Tritunggal, melihat manusia, dan melihat Allah Tritunggal tinggal di antara manusia.

Gambaran tentang Yerusalem Baru dalam Bilangan 1 berkaitan dengan perkemahan kedua belas suku Israel di sekeliling Kemah Pertemuan. Yerusalem Baru mempunyai 12 pintu gerbang, masing-masing 3 pintu gerbang pada keempat sisinya, dengan nama-nama kedua belas suku Israel di atasnya (Why. 21:12-13). Dalam Kitab Bilangan, kedua belas suku diatur menjadi suatu urutan yang memperlihatkan sebuah gambar kepada kita. Dalam urutan ini, 3 suku, masing-masing suku adalah satu pasukan, diberi tempat perkemahan di tiap sisi pada keempat sisi Kemah Pertemuan. Di sebelah timur, ke arah matahari terbit, adalah perkemahan Yehuda, terdiri dari laskar-laskar Yehuda, Isakhar, dan Zebulon (Bil. 2:2-9). Di sebelah barat, di bagian belakang, adalah perkemahan Efraim, terdiri dari laskar-laskar Efraim, Manasye, dan Benyamin (Bil. 2:18-24). Di selatan adalah perkemahan Ruben, terdiri dari laskar-laskar Ruben, Simeon, dan Gad (Bil. 2:10-16). Di sebelah utara adalah perkemahan Dan, terdiri dari laskar-laskar Dan, Asyer, dan Naftali (Bil. 2:25-31). Perkemahan bani Israel ini merupakan suatu gambar dari Yerusalem Baru.

Sekarang kita dapat memahami bagaimana Bilangan 1 memberi kita suatu gambaran dari Perjanjian Baru mulai dari inkarnasi sampai kepada Yerusalem Baru. Sebenarnya ini merupakan ringkasan sejarah gereja, yang dimulai dari inkarnasi dan akan rampung dengan Yerusalem Baru. Dalam perlambangan, sejarah Israel dari Kitab Bilangan sampai Kitab Maleakhi, yang meliputi hal-hal yang sangat baik, yang memberikan dorongan, maupun hal-hal yang sangat kasihan, yang menyedihkan, melukiskan sejarah gereja.

Dalam gambar yang terdapat dalam Kitab Bilangan, Allah merupakan pusat; yaitu, Allah ada di dalam tabut, di dalam Kristus. Allah tidak lagi hanya berada di langit; Ia juga berada di bumi dalam seorang manusia yang merupakan penjelmaan-Nya. Manusia ini, yang merupakan penjelmaan Allah, adalah Yesus Kristus (Kol. 2:9). Manusia ini tersusun dari dua unsur, unsur emas dan unsur kayu. Dia adalah manusia “emas kayu”, manusia-Allah.

Sekarang Sang ajaib ini, Allah Tritunggal, berinkarnasi menjelma menjadi manusia, telah meluas, menyebar, dan membesar. Dalam perluasan dan pembesaran-Nya, Kristus telah menjadi Kemah Pertemuan, tempat kediaman Allah. Sebagai kemah yang demikian, Ia dapat dimasuki. Ketika Allah hanya berada di dalam Kristus, tidak seorang pun dapat masuk ke dalam Dia. Tanpa perluasan Kristus, tidak seorang pun dapat masuk ke dalam Allah. Namun, sekarang, dalam perluasan-Nya menjadi Kemah Pertemuan, Kristus tidak hanya merupakan tempat tinggal Allah, melainkan juga tempat di mana kita bisa masuk ke dalam Allah. Hari ini kita bisa masuk ke dalam Allah, menerima Kristus sebagai hayat kita, sehingga Dia bisa menjadi makna kehidupan kita. Karena Dia adalah hayat kita untuk menjadi makna kehidupan kita, Dia adalah kesaksian kita. Kita memperhidupkan Dia, mengekspresikan Dia, memperlihatkan Dia dalam semua aspek dan dalam segala arah. Kemudian dengan spontan Dia menjadi pusat kita. Karena itu, hari ini Kristus adalah makna kehidupan kita, kesaksian kita, dan pusat kita.

Kristus, perwujudan Allah, telah diperbesar menjadi suatu tempat kediaman di mana Allah tinggal dan ke dalamnya kita masuk. Dalam Tubuh Kristus yang diperbesar ini, Allah mempunyai tempat kediaman, dan kita mempunyai tempat di mana kita dapat masuk ke dalam Allah, berjumpa dengan Allah, dan bahkan berbaur dengan Allah. Allah ini tidak bermaksud untuk turun, berinkarnasi di Betlehem, dan kemudian diam di situ. Selama lebih dari 2000 tahun, Sang terkasih ini terus bergerak. Hari ini Ia di sini bergerak bersama kita. Dalam pergerakan-Nya, Dia adalah pemimpin. Dia adalah pemimpin satu-satunya, karena hanya Dia sendiri yang memenuhi syarat untuk memimpin. Kristus adalah pemimpin kita, jalan kita, dan sasaran kita. Pada saat kita memiliki Kristus, kita mempunyai kepemimpinan. Ketika kita mengikuti Kristus, kita mengikuti pemimpin kita. Ketika kita mengikuti Dia secara langsung, kita pun menjadi pemimpin. Kepemimpinan tergantung pada Dia; kepemimpinan adalah Dia. Kristus bukan hanya pemimpin kita, tetapi juga jalan yang kita tempuh hari ini. Jalan kita ialah Kristus, dan sasaran kita juga Kristus. Membawa Kristus ke suatu tempat tertentu haruslah dihormati. Namun, jika kita membawa sesuatu selain Kristus, itu haruslah dihakimi.

Pada akhirnya gambaran dalam Kitab Bilangan memperlihatkan kepada kita bahwa Allah dan umat pilihan-Nya berbaur bersama menjadi satu kesatuan untuk mengalahkan musuh di bumi. Musuh memperalat dan menduduki seluruh bumi yang diciptakan Allah bagi diri-Nya sendiri dan bagi tujuan-Nya. Bagaimana Allah bisa mendapatkan bumi kembali? Allah tidak akan mendapatkan bumi secara langsung oleh diri-Nya sendiri sebagai Allah yang berkuasa, Pencipta. Dalam ekonomi Perjanjian Baru, Allah tidak akan pernah mengerjakan hal ini sendiri. Dia harus berinkarnasi menjadi manusia, yaitu Kristus, dan Kristus ini harus disuplaikan kepada orang dosa untuk membuat mereka semua menjadi perluasan Kristus. Sebagai hasilnya, di bumi terdapat perbauran Allah Tritunggal dengan manusia tripartit, sehingga Allah bisa bergerak di bumi dan mendapatkannya kembali. Pergerakan ini dimulai dari Yerusalem sebagai pusatnya, melintasi Yudea dan Samaria, menyebar ke ujung bumi, dan hari ini berada di sini. Sekarang kita adalah bagian dari ini, bagian dari Allah Tritunggal yang berinkarnasi menjadi manusia, hidup di antara manusia untuk menyebarkan diri-Nya ke dalam orang-orang pilihan-Nya, membuat mereka semua berbaur dengan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ini adalah karya Allah dari ciptaan baru di dalam ciptaan lama. Perampungan akhir dari karya ini adalah Yerusalem Baru, yaitu Allah Tritunggal yang telah melalui proses berbaur dengan manusia tripartit yang telah diubah. Inilah Bilangan 1. Setelah mempunyai gambaran yang sedemikian di depan kita, sekarang mari kita mulai melihat bagaimana umat Allah dibentuk menjadi satu pasukan.

I. BANI ISRAEL DIBENTUK MENJADI SATU KESATUAN

UNTUK BERPERANG BAGI ALLAH DAN MELAYANI ALLAH,

BAGI PERAMPUNGAN KEHENDAK ALLAH

Bani Israel dibentuk menjadi satu kesatuan untuk berperang bagi Allah sebagai laskar-laskar dan melayani Allah sebagai imam-imam bagi perampungan kehendak Allah. Kehendak Allah ialah mendapatkan Yerusalem Baru, membaurkan diri-Nya sendiri dengan umat tebusan-Nya. Pembentukan bani Israel menjadi satu kesatuan untuk berperang bagi Allah dan melayani Allah melambangkan kaum beriman Perjanjian Baru dibangun menjadi Tubuh Kristus yang organik untuk berperang bagi Allah, agar dalam hal pelayanannya kepada Allah melaksanakan ekonomi kekal Allah.

II. BANI ISRAEL DIBENTUK MENJADI SATU PASUKAN,

MAMPU BERPERANG UNTUK MELINDUNGI KESAKSIAN ALLAH

(TABUT DALAM KEMAH PERTEMUAN)

Bani Israel dibentuk menjadi satu pasukan, mampu berperang untuk melindungi kesaksian Allah (tabut dalam Kemah Pertemuan). Ini menunjukkan bahwa dalam arti yang sangat riil, gereja hari ini berperang untuk melindungi Allah yang berinkarnasi. Dalam diri-Nya sendiri, Allah tidak memerlukan perlindungan, tetapi Allah dalam penjelmaan-Nya perlu dilindungi oleh peperangan gereja.

A. Kitab Bilangan Menitikberatkan Kesaksian Allah

Kitab Bilangan menitikberatkan kesaksian Allah melebihi Kitab Imamat. Kata “kesaksian” digunakan lebih sering dalam Kitab Bilangan daripada dalam Kitab Imamat.

B. Perkara Jemaat yang Terbentuk, bukan Individu

Pasukan Allah yang melindungi kesaksian Allah adalah perkara jemaat yang terbentuk, bukan individu. Hari ini sebagian orang Kristen menekankan kerohanian individu. Namun, dalam pandangan Allah, kerohanian perseorangan, kerohanian yang terpisah, tidak ada artinya. Allah mendambakan Tubuh Kristus yang terbentuk dan terkoordinasi.

III. MELALUI DIHITUNG

Bani Israel dibentuk menjadi pasukan perang dengan cara dihitung menurut kaum dan pemimpin mereka (Bil. 1:1-16), dan menurut umur mereka (Bil. 1:20-46).

A. Menurut Kaum dan Pemimpin Mereka

Bani Israel dihitung menurut kaum dan pemimpin mereka, yaitu, dihitung menurut sumber hayat, serta di bawah kepemimpinannya (kekuasaan). Kaum (keluarga) mengacu kepada sumber hayat. Dalam sejarah kerohanian kita, haruslah terdapat sumber hayat. Bahkan dalam hidup gereja hari ini, kita harus mempunyai keluarga. Siapakah yang membawa Anda kepada Kristus? Siapa yang memperanakkan Anda dalam Kristus? Dengan kata lain, siapakah bapak rohani Anda? Dalam hal ini Alkitab sangat seimbang. Tentu saja Allah adalah Bapak ilahi kita. Walaupun demikian, Paulus memberi tahu kaum beriman di Korintus bahwa mereka mungkin “mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapak”, karena dalam Kristus Yesus ia telah menjadi bapak mereka oleh Injil yang diberitakannya (1Kor. 4:15), menyuplaikan hayat ilahi ke dalam mereka, sehingga mereka menjadi anak-anak Allah dan anggota (Tubuh) Kristus. Dengan demikian, kaum beriman tersebut milik “keluarga” Paulus. Mereka mendengar Injil, bertobat, dan percaya dari dia sebagai bapak rohani mereka, sumber mereka. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita semua mempunyai 3 macam bapak: bapak secara lahiriah, bapak rohani, dan Bapak ilahi. Perhitungan hari ini tergantung pada sumber hayat.

Para pemimpin dalam Bilangan 1 mengacu kepada kepemimpinan di bawah kekuasaan Kristus dalam Tubuh-Nya. Sama seperti adanya susunan dalam tubuh jasmani kita, di antara anggota dalam hidup gereja juga pasti ada susunan yang teratur. Pastilah terdapat semacam kepemimpinan. Tanpa kepemimpinan, tidak mungkin ada situasi yang tepat. (Mereka yang menyatakan bahwa seharusnya tidak boleh ada kepemimpinan dalam gereja, pada akhirnya merebut kepemimpinan dan bahkan menjadi pemimpin-pemimpin paling dominan). Untuk dibentuk menjadi pasukan perang, gereja memerlukan sumber hayat dan juga kepemimpinan dalam hayat.

B. Menurut Umur

Pencatatan itu juga dilakukan menurut umur, menurut kematangan dalam hayat. Di samping sumber hayat dan kepemimpinan dalam hayat, masih perlu kematangan dalam hayat. Ketiga hal ini haruslah digabung bersama sebagai suatu ikatan yang kuat. Hari ini, sebagian orang hanya memperhatikan kerohanian, hanya memperhatikan kematangan; bagaimanapun kita tidak seharusnya hanya memperhatikan kematangan hayat, tetapi juga sumber hayat dan kekuasaan hayat.

1. Dari Dua Puluh Tahun ke Atas

Yang dihitung adalah semua laki-laki yang berumur 20 tahun ke atas (Bil. 1:2-3). Ini mengacu kepada mereka yang mampu maju berperang.

2. Tidak Termasuk Semua Perempuan dan Laki-laki di Bawah Dua Puluh Tahun

Perhitungan ini tidak mencakup semua perempuan dan laki-laki di bawah 20 tahun. Perempuan menandakan mereka yang lebih lemah secara rohani, dan laki-laki di bawah 20 tahun menandakan mereka yang tidak dewasa secara rohani. Para saudari dalam gereja hari ini tidak perlu merasa disingkirkan oleh hal ini, karena secara rohani mereka mungkin laki-laki, yang lebih kuat. Apa yang terhitung di sini bukanlah status alamiah kita melainkan sifat rohani diri kita. Mereka yang lebih lemah dan yang tidak matang tidaklah memenuhi syarat untuk maju berperang.

3. Anak Sulung Dicatat Sejak Saat Dilahirkan

dan Laki-laki Kaum Lewi Dicatat

dari yang Berumur Satu Bulan

Semua anak sulung Israel, yang merupakan milik Allah, dicatat sejak dilahirkan (Bil. 3:13). Selain itu, setiap laki-laki kaum Lewi, yang melayani Kemah Pertemuan, dicatat sejak berumur satu bulan ke atas (Bil. 3:15).

4. Usia Untuk Nazar dan Usia Untuk Berperang

Untuk bernazar kepada Allah, seorang laki-laki Israel dituntut berusia antara 20 tahun dan 60 tahun (Im. 27:3). Namun, untuk berperang, seorang laki-laki Israel haruslah berusia 20 tahun atau lebih, tanpa batas. Bahkan pada usia 85, Kaleb masih menjadi seorang laskar, mampu berperang bagi bangsa Israel (Yos. 14:10-11).

C. Diakui oleh para Penguasa

Pencatatan bani Israel diakui oleh para penguasa dalam tiga aspek: pertama, oleh Musa, melambangkan Kristus sebagai Kepala yang menjalankan kekuasaan-Nya; kedua, diakui oleh Harun, melambangkan Kristus sebagai Imam Besar melaksanakan jabatan imam-Nya; dan ketiga, diakui oleh para pemimpin dari kedua belas suku, melambangkan para penatua gereja-gereja yang memegang pimpinan di antara umat Allah. Jika kita mengatakan tidak ada kepemimpinan dalam gereja, kita menyangkal, mengesampingkan para penatua yang merupakan kepemimpinan yang riil dan sebenarnya dalam gereja hari ini. Gereja kemudian akan menjadi anarki, akan menjadi tanpa hukum, sama sekali tanpa pemerintahan.

D. Orang Lewi Tidak Dicatat

Bersama-sama Pasukan Israel

Orang Lewi tidak dicatat bersama-sama pasukan Israel (Bil. 1:47-54; 2:33). Mereka dipilih untuk melayani Kemah Kesaksian Allah dan berkemah di sekelilingnya untuk menjaga Kemah Kesaksian supaya tidak dijamah oleh bani Israel.

E. Bangsa Israel yang Berperang Melindungi Orang Lewi yang Melayani

Bangsa Israel yang berperang merupakan perlindungan luar bagi orang Lewi yang melayani, yang adalah bagi kesaksian Allah. Orang Lewi berkemah di sekeliling Kemah Pertemuan, dan mereka dikelilingi oleh kedua belas suku yang melindungi mereka.

F. Bangsa Israel yang Dibentuk Menjadi Pasukan

Melambangkan Gereja

Bangsa Israel yang dibentuk menjadi pasukan melambangkan gereja. Kitab Efesus, sebuah kitab tentang gereja, mewahyukan bahwa gereja adalah suatu laskar korporat yang berperang bagi kesaksian Allah (Ef. 6:10-20). Gereja juga tersusun dari orang-orang yang melayani Allah sebagai kaum Lewi. Untuk berperang, kita adalah laskar-laskar yang korporat dan untuk melayani kita adalah kaum Lewi, bahkan imam-imam.