PERJALANAN (2)
Pembacaan Alkitab: Bilangan 10:11-36
Dalam berita yang lalu kita membahas pimpinan yang diberikan kepada bani Israel. Dalam berita ini kita akan membahas perkara keberangkatan mereka.
II. KEBERANGKATAN
Bilangan 10:11-36 menggambarkan bagaimana bani Israel berangkat, bagaimana mereka menempuh perjalanan mereka.
A. Pimpinan Awan
Bangsa itu berangkat menurut pimpinan awan. Pada tanggal dua puluh bulan kedua di tahun kedua (Bil. 10:11a), awan naik dari atas kemah kesaksian, dan bani Israel berangkat pada perjalanan mereka dari padang gurun Sinai (Bil. 10:11b-12a). Bilangan 10:12b memberi tahu kita bahwa awan tinggal di padang gurun Paran. Ini adalah keberangkatan mereka kali pertama menurut titah TUHAN melalui Musa (Bil. 10:13).
B. Urutan Keberangkatan
Bilangan 10:14-28 kita membicarakan tentang keberangkatan. Dalam urutan ini, panji perkemahan bani Yehuda menjadi pemimpin (Bil. 10:14-16), berangkat pertama dengan pasukan mereka. Mereka diikuti, bukan oleh perkemahan lain, tetapi oleh bani Gerson dan bani Merari, orang-orang Lewi yang mengangkut Kemah (Bil. 10:17). Lalu, mereka diikuti oleh perkemahan kedua, perkemahan Ruben (Bil. 10:18-20). Orang Kehat, orang Lewi yang mengangkut barang-barang tempat kudus, yang berangkat selanjutnya, dan Kemah Suci dipasang sebelum mereka datang (Bil. 10:21). Perkemahan bani Efraim berangkat pada giliran ketiga (Bil. 10:22-24), dan perkemahan bani Dan, di belakang dari semua perkemahan, berangkat paling akhir.
C. Bersandar kepada Manusia
Bilangan 10:29-32 memberi kita catatan tentang Musa mengajak mertuanya, orang Midian yang tua dan berpengalaman, menyertai mereka (Bil. 10:29), tetapi mertuanya menolak (Bil. 10:30). Kemudian Musa memohon dia menyertai mereka supaya dia dapat menjadi petunjuk mereka, sebab mereka, akan berkemah di padang gurun (Bil. 10:31-32). Musa mengira mertuanya akan menjadi bantuan besar baginya, tetapi kedaulatan Allah tidak mengizinkan seorang pun untuk masuk. Maka, Musa dan bani Israel harus meletakkan kepercayaannya dalam Tuhan. Catatan Musa bersandar kepada manusia ini disisipkan di sini untuk membandingkan pimpinan manusia dengan pimpinan tabut dalam ayat-ayat berikutnya.
D. Pimpinan Tabut—Kristus yang Tersalib dan Bangkit dalam Kebangkitan-Nya
Ayat-ayat lain dalam Bilangan 10 mewahyukan pimpinan tabut, Kristus yang tersalib dan bangkit dalam kebangkitan-Nya (Bil. 10:33-36). Hari ini, Sang pemimpin di antara gereja-gereja adalah Kristus yang tersalib dan bangkit, yang adalah tabut.
1. Bani Israel Berangkat dari Gunung TUHAN
Tiga Hari Perjalanan, dan Tabut Perjanjian TUHAN
Berjalan di Depan Mereka untuk Mencari
Tempat Perhentian bagi Mereka
“Lalu berangkatlah mereka dari gunung TUHAN dan berjalan tiga hari perjalanan jauhnya, sedang tabut perjanjian TUHAN berangkat di depan mereka dan berjalan tiga hari perjalanan jauhnya untuk mencari tempat perhentian bagi mereka” (Bil. 10:33). Di sini kita melihat bahwa bani Israel berjalan tiga hari perjalanan jauhnya. Jalannya tidak rata, lembu berjalan lamban, dan perjalanan untuk kereta sangat sulit. Namun, tabut (Kristus) perjanjian TUHAN berjalan di depan mereka untuk mencari tempat perhentian. Tabut, dengan semua isi Kemah, termasuk mezbah, meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan, adalah tanggung jawab orang Kehat dan dipikul oleh mereka. Orang Kehat harus berangkat setelah perkemahan Ruben; walaupun demikian, tabut berjalan di depan untuk memimpin. Ada perbedaan antara membimbing dengan memimpin. Istilah “membimbing” dipakai berkenaan dengan awan dan meniup sangkakala, tetapi mengenai tabut kita memakai istilah “memimpin”. membimbing bersifat umum; memimpin bersifat khusus. Awan dan sangkakala membimbing bani Israel secara umum. Namun, tabut tidak memberi bimbingan secara umum, melainkan memimpin secara khusus. Jadi, tabut menjadi pemimpin, menuntun ke tempat perhentian.
Selama empat puluh tahun bani Israel mengembara di padang gurun, tidaklah mudah mencari tempat perhentian untuk dua juta orang. Hari ini kehidupan kristiani kita adalah perjalanan panjang pada jalan yang tidak datar, tidak rata. Saat kita berjalan pada jalan yang tidak datar ini, tidak mudah kita beristirahat. Tuhan Yesus, Pelopor, telah membuka jalan (Ibr. 6:20), tetapi Dia tidak meratakan jalan. Dia melewati jalan yang tidak datar, dan sekarang kita mengikuti jejak kaki-Nya pada jalan ini. Kita perlu tempat perhentian. Di sini tidak seorang pun, bahkan termasuk orang yang tua dan lebih berpengalaman, dapat membantu kita. Mengenai hal ini, kita tidak boleh bersandar kepada manusia. Satu-satunya “orang” yang bisa kita sandari adalah Kristus sebagai tabut. Dia adalah Pemimpin, dan Dia memimpin kita ke tempat perhentian yang tepat. Dia tidak hanya memimpin kita secara umum, tetapi juga membimbing kita secara khusus.
Dalam Bilangan 10, pemimpin yang sejati bukan Musa. Pada saat itu, bahkan Musa tidak memadai. Tabut memimpin bani Israel secara khusus, seperti perahu kecil yang membimbing kapal besar melalui jalur sempit dan melaju cepat ke pelabuhan. Tabut itu bukan hanya tabut yang hidup tetapi juga batu karang hidup yang mengikuti orang Israel (Kel. 17:6; 1Kor. 10:4). Di padang gurun Kristus mengikuti orang Israel sebagai batu karang untuk menyuplai mereka dengan air hidup. Sebagai tabut, Dia adalah Pemimpin mereka, memimpin untuk menemukan tempat perhentian bagi mereka melalui bagian yang sulit dari perjalanan mereka.
Bani Israel dipimpin bukan oleh manusia (mertua Musa), tetapi oleh tabut (Kristus) perjanjian Allah. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristus adalah setia. Kepemimpinan ini tidak menurut emosi atau perasaan, tetapi menurut perjanjian. Allah membuat perjanjian dengan Abraham dan keturunannya untuk membawa mereka masuk ke tanah permai (Kej. 12). Akhirnya, perjanjian Allah ditempatkan di dalam tabut, dan tabut disebut tabut perjanjian (Bil. 10:33). Jadi, Kristus adalah Kristus perjanjian, Kristus dari kesetiaan Allah. Kristus harus memimpin kita ke tempat perhentian, karena Dia adalah Kristus dari perjanjian Allah.
2. Awan TUHAN di Atas Mereka pada Siang Hari ketika Mereka Berangkat dari Perkemahan
Bilangan 10:34 memberi tahu kita awan TUHAN ada di atas bani Israel pada siang hari ketika mereka berangkat dari perkemahan.
3. Perkataan Musa ketika Tabut Berangkat
“Apabila tabut itu berangkat, berkatalah Musa: ‘Bangkitlah, TUHAN, supaya musuh-Mu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu’” (ayat 35). Kita bukan musuh Allah atau pembenci Allah; kita adalah pasukan-Nya dan pencinta-Nya. Hakim-hakim 5:31 mengatakan, “Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya.” Karena kita mengasihi Allah, kita tidak melarikan diri dari hadapan Dia; sebaliknya, kita seperti matahari terbit dalam kemegahannya. Kita mungkin tidak banyak, tetapi kita ada di sini sebagai pasukan-Nya dan pencinta-Nya.
4. Perkataan Musa ketika Tabut Berhenti
Ketika tabut berhenti, Musa berkata, “Kembalilah, TUHAN, kepada umat Israel yang beribu-ribu laksa ini” (Bil. 10:36). Apakah artinya ini? Dalam mengkaji ayat ini, kita perlu menyadari bahwa kadang-kadang nabi-nabi Perjanjian Lama tidak tahu makna sepenuhnya dari apa yang mereka katakan. Kita mungkin menerapkan prinsip ini kepada perkataan Musa di sini. Sebaliknya, ketika dia mengucapkan perkataan ini, Musa jelas bahwa tabut melambangkan TUHAN yang berinkarnasi. Hari ini kita menyadari bahwa tabut dan TUHAN tidak dapat dipisahkan. Namun, Musa mungkin merasa bahwa TUHAN terpisah dari tabut. Maka, ketika tabut berhenti, dia berkata, “Kembalilah, TUHAN.” Ini adalah penerapan logika dari perkataan yang diucapkan Musa. Namun, harus ada juga makna yang penting dari perkataan Musa. Untuk memahami perkataan demikian, kita perlu seluruh Alkitab, karena kadang-kadang pembicaraan nabi-nabi digenapkan jauh di kemudian hari.
Bilangan 10:35 dikutip dalam Mazmur 68:2. Kemudian dalam Efesus 4:8-10 Paulus menerapkan perkataan dalam Mazmur 68 pada kenaikan Kristus. Efesus 4:8 memakai kata “tempat tinggi”. Dalam kutipan Mazmur 68:19, tempat tinggi mengacu kepada Bukit Sion (Mzm. 68:16-17), melambangkan langit tingkat tiga, di mana Allah tinggal (1Raj. 8:30). Mazmur 68:2 menyiratkan bahwa dalam tabut Allah naik ke Bukit Sion setelah tabut memperoleh kemenangan. Kutipan dari Bilangan 10:35, Mazmur 68:2 menunjukkan bahwa latar belakang mazmur ini adalah pergerakan Allah dalam Kemah Suci dengan tabut sebagai intinya. Ke mana saja tabut, lambang Kristus, pergi, kemenangan akan diperoleh. Akhirnya tabut ini naik dengan jaya ke puncak Bukit Sion. Ini menggambarkan bagaimana Kristus memperoleh kemenangan dan naik dengan jaya ke surga. Jadi, “bangkitlah” dalam Bilangan 10:35 mengacu kepada bangkit ke surga dalam kenaikan Kristus.
Karena itu, kata “kembalilah” yang dikatakan oleh Musa dalam ayat 36 tentu mengacu kepada kedatangan Kristus kali kedua. Jika “bangkitlah” dalam ayat 35 mengacu kepada kenaikan Kristus, maka “kembalilah” dalam ayat 36 tentu mengacu kepada kedatangan-Nya kali kedua. Kristus meninggalkan kita melalui kenaikan-Nya, dan Dia akan kembali kepada kita melalui kedatangan-Nya kali kedua.
Dari sini kita melihat bahwa perkataan yang diucapkan oleh nabi besar Allah harus ditafsirkan oleh seluruh Alkitab, khususnya oleh Mazmur 68 dan Efesus 4. Jika kita meletakkan seluruh gambar ini, kita akan melihat pandangan penuh dari ekonomi Allah.
Ekonomi Allah adalah Allah Tritunggal berinkarnasi menjadi tabut. Karena itu, tabut menyiratkan Trinitas, inkarnasi Kristus, dan kehidupan insani-Nya. Betapa banyak yang disampaikan tabut kepada kita! Dalam Bilangan 10 tabut bangkit. Pemahaman Musa mungkin ketika tabut berangkat, Allah yang diwujudkan dalam tabut bangkit. Namun, Mazmur 68 menerapkan kebangkitan ini kepada kenaikan Kristus (lihat ayat 19), seperti yang Paulus lakukan dalam Efesus 4. Penerapan Bilangan 10:35 dalam Mazmur 68 dan Efesus 4 menunjukkan bahwa perkataan Musa dalam Bilangan 10:36 tentu mengacu kepada kedatangan Kristus kali kedua. Jadi, mengenai perkataan Musa dalam Bilangan 10, ada satu penerapan pada zaman Musa, juga ada penerapan dalam rencana ekonomikal Allah.
Ketika umat Allah keluar berperang, tabut juga keluar untuk berperang. Dalam Mazmur 68 tabut keluar ke medan peperangan, dan setelah memperoleh kemenangan, tabut kembali ke puncak Bukit Sion. Paulus menafsirkan ini dan menerapkannya kepada Kristus, yang pertama turun melalui inkarnasi dan melalui masuk ke alam maut, dan yang kemudian naik dari alam maut ke bumi dalam kebangkitan-Nya dan dari bumi ke surga dalam kenaikan-Nya (Ef. 4:9-10). Hari ini Kristus masih ada di surga. Suatu hari Dia akan kembali. Karena itu, Musa berdoa, “Kembalilah, TUHAN.” Ini tentu mengacu kepada kedatangan Kristus kali kedua. Ini adalah cara untuk memahami perkataan besar yang dikatakan oleh nabi Allah yang besar. Melalui ini kita dapat melihat gambaran penuh ekonomi Allah, dari inkarnasi Kristus sampai kedatangan-Nya kali kedua.