PERJALANAN (1)
Pembacaan Alkitab: Bilangan 9:15—10:10
Setelah bani Israel dibentuk menjadi pasukan, mereka siap untuk menempuh perjalanan berperang bagi Allah, supaya Allah bisa memperoleh tumpuan di bumi untuk membangun kerajaan-Nya dan rumah-Nya. Pergerakan mereka bukan tergantung pada mereka sendiri, melainkan sepenuhnya menurut pimpinan Tuhan. Mereka tidak bergerak ketika mereka ingin bergerak, tetapi ketika Tuhan memimpin mereka untuk bergerak. Dalam berita ini kita akan mulai membahas perjalanan umat Allah.
I. PIMPINAN
Bani Israel berangkat menurut pimpinan Tuhan (Bil. 9:15-10:10). Orang yang tidak beribadah, yang tidak memiliki Allah dan tidak memiliki Tuhan, tidak memiliki pimpinan. Orang duniawi sangat sibuk, tetapi mereka tanpa pimpinan. Namun, umat Allah memiliki pimpinan, dan pimpinan ini adalah Allah sendiri.
A. Oleh Awan
Bani Israel berangkat di bawah pimpinan awan (Bil. 9:15-23). Ketika Allah datang menjadi Penebus kita, Dia datang dalam lambang sebagai anak domba. Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa kita (Yoh. 1:29). Namun, saat Allah datang menjadi pimpinan kita, Dia datang sebagai awan. Pimpinan ini dalam bentuk awan adalah Allah yang telah rampung sempurna menjadi Roh itu. Awan berhubungan erat dengan bumi, namun bukan milik bumi, melainkan milik langit. Awan erat hubungannya dengan hujan dan hampir sama seperti hujan. Sering kali awan menjadi hujan. Ketika hujan datang, sesuatu dari langit tercurah ke bumi, berfaedah bagi manusia di bumi.
Zakharia 12:1 mengatakan bahwa Allah membentangkan langit, meletakkan dasar bumi, dan membentuk roh dalam diri manusia. Boleh dikatakan bahwa langit untuk bumi, bumi untuk manusia, dan manusia, dengan rohnya, untuk Allah. Dalam cara apa langit untuk bumi? Ketika langit menurunkan hujan, hujan ini untuk bumi. Bumi menerima hujan dari langit. Bumi untuk manusia karena melalui hujan bumi menghasilkan semua jenis makanan dan bahan makanan. Manusia harus hidup oleh rohnya untuk Allah. Ini adalah gambaran sederhana dari pemandangan mengenai manusia di bumi. Sejarah peradaban manusia memperlihatkan bahwa manusia biasanya “mengikuti awan” dan menetap di mana ada air. Terutama, manusia tidak hidup di tempat kering, melainkan di tepi sungai, laut, dan lautan. Jadi, manusia harus mengikuti awan. Jika orang tidak ingin lemas dan mati kehausan, mereka harus pergi ke tempat yang ada air.
Dalam perlambangan awan dari langit melambangkan Allah, mengacu kepada penyertaan (hadirat) Allah. Ketika awan ada di tempat tertentu dengan umat Allah, hadirat Allah nyata ada bersama umat-Nya. Ketika mereka melihat awan, mereka tahu bahwa Allah hadir menyertai mereka. Ketika awan (hadirat Allah) tetap tinggal, bani Israel tinggal di tempat mereka berada. Namun, ketika awan bergerak, ini adalah tanda bahwa Allah siap bergerak dan bahwa bangsa itu harus juga siap bergerak. Jadi, ketika awan berangkat, Israel bergerak, dan ketika awan berhenti, Israel berhenti. Dari sini kita melihat bahwa pimpinan adalah Allah sendiri dalam bentuk awan. Sekarang kita perlu membahas bagaimana menerapkan perkara pimpinan Allah melalui awan pada pengalaman kita hari ini. Orang Kristen harus selalu mengikuti Roh itu. Awan dalam Perjanjian Lama kelihatan, sedangkan Roh itu sama sekali tidak kelihatan. Juga, awan adalah sesuatu yang konkret, tetapi Roh itu sama sekali abstrak. Bani Israel dapat melihat awan, tetapi kita tidak dapat melihat Roh itu. Lalu, bagaimana kita dapat tahu bahwa Allah menyertai kita? Apakah tanda hadirat Allah? Mengenai pertanyaan ini, kita perlu belajar pelajaran dari bapa leluhur kita, pergi ke tempat yang ada air.
Air datang dari hujan, dan hujan berasal dari awan. Di satu aspek, hujan adalah bentuk lain dari awan. Awan dan hujan memiliki substansi yang sama. Dalam esens, awan dan hujan itu sama. Awan menjadi hujan, dan ketika hujan datang, kita memiliki air. Karena itu, kita dapat berkata bahwa awan, hujan, dan air adalah tiga di dalam satu. Hari ini kita tidak dapat melihat Roh itu, tetapi kita dapat melihat apa yang dihasilkan Roh itu. Hasilnya adalah perasaan di dalam kita bahwa kita disiram (didiris). Namun, sering kali ketika kita bergerak, dalam lubuk batin kita malah terasa kering. Ketika kita kering, kita tidak seharusnya bergerak, juga tidak seharusnya tetap diam. Kekeringan ini adalah tanda kuat bahwa kita telah salah terhadap Allah dalam posisi kita atau perkara lain. Maka, kita perlu berdoa, tidak secara umum melainkan melalui mengaku dosa. Sering kita tidak tahu apakah kita salah. Karena kekeringan kita adalah tanda bahwa kita salah, dan karena kita mungkin tidak tahu apakah kesalahan kita, tidak tahu harus mengakui dosa apa, maka kita perlu meraba-raba. Saat kita meraba-raba, kita boleh mengaku dosa dari sudut berbeda mengenai kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan, pelanggaran-pelanggaran, dan bahkan tindakan-tindakan daging dan keinginan-keinginan yang penuh nafsu. Kita mungkin perlu mengaku dosa dari berbagai arah. Kita perlu mengaku dosa melalui meraba-raba sampai perasaan kita dalam doa mencapai sesuatu, dan awan ada di sana. Kemudian kita tahu pimpinan Tuhan.
Kehadiran Roh itu hari ini sama sekali tidak kelihatan dan abstrak, dan ini mutlak berkaitan dengan situasi kita di hadapan Allah, khususnya dalam roh kita. Bila roh kita salah, kita perlu memohon Allah membetulkan roh kita. Kita mungkin tidak dapat membetulkan roh kita dalam munajat pagi yang hanya sepuluh menit. Mungkin perlu waktu setengah jam lebih untuk membetulkan roh kita secara penuh. Jika kita salah dalam sesuatu dan jika Tuhan hendak mengajar kita untuk mengenal jalan-Nya, Dia mungkin tidak cepat-cepat memperlihatkan kepada kita apakah kesalahan kita. Sebaliknya, Dia meninggalkan kita dalam keadaan bingung untuk sejangka waktu, atau beberapa hari. Selama waktu ini, kita mungkin berdoa sambil meraba-raba, tampaknya tidak maju-maju. Karena Tuhan memiliki pelajaran lebih dalam untuk kita pelajari, maka Dia melatih kita selama hari-hari meraba-raba yang membingungkan. Kemudian satu hari, kita akan mencapai titik yang Tuhan inginkan. Di sana kita menjamah hujan atau melihat awan. Dalam cara inilah kita belajar.
Kita perlu mengingat bahwa pimpinan Allah sebenarnya Allah sendiri dalam hadirat-Nya bersama kita. Di zaman dulu, pimpinan Allah ada dalam bentuk awan. Hari ini kita tidak memiliki awan; kita memiliki Roh itu di dalam kita.
1. Awan Itu Menutupi Kemah Kesaksian
“Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, kemah kesaksian” (Bil. 9:15a Tl.). Di sini kita melihat bahwa pada hari Kemah Suci didirikan, awan (Roh itu) menutupi (menaungi) kemah kesaksian. Naungan di padang gurun yang luas dan menakutkan ini adalah keselamatan yang besar. Selain itu, saya percaya awan itu bukan hanya menaungi Kemah itu, tetapi juga seluruh perkemahan bani Israel. Di padang gurun ada pasukan tentara, dan di atas pasukan ini ada naungan awan. Naungan awan ini adalah petunjuk, kesaksian, bahwa ada sesuatu di bumi yang untuk Allah.
2. Pada Waktu Petang dan Malam Awan Kelihatan seperti Api
“Dan pada waktu malam sampai pagi awan itu ada di atas Kemah Suci, kelihatan seperti api. Demikianlah selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api” (Bil. 9:15b-16). Dalam perlambangan, awan melambangkan Roh itu, dan api, untuk menerangi, melambangkan firman Allah. Ketika kita memiliki langit cerah dalam kehidupan rohani kita, kita merasakan kehadiran Roh itu. Namun, sering kali kita ada pada malam hari, dan kemudian Roh itu menjadi firman bagi kita. Ini adalah bukti kuat bahwa Roh itu adalah firman (lihat Ef. 6:17-18). Unsur yang menaungi menjadi esens yang bercahaya. Hari ini kita memiliki Roh Kudus sebagai awan dan firman kudus sebagai api. Roh Kudus sebagai awan yang menaungi, dan firman kudus sebagai api yang memancar.
3. Awan Naik, Turun, dan Tinggal
Ketika awan itu naik dari atas Kemah, orang Israel berangkat. Di mana awan turun, mereka berkemah. Ketika awan tinggal di atas Kemah, mereka tetap tinggal di perkemahan (Bil. 9:17-22). Karena orang Israel mengikuti awan, mereka tidak perlu takut atau cemas ketika mereka bergerak. Alih-alih cemas, mereka bisa merasa tenang dan damai.
4. Memelihara Perintah Allah Menurut Titah Allah Melalui Musa
Bani Israel mengikuti awan untuk memelihara perintah Allah menurut titah Allah melalui Musa. “Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa” (Bil. 9:23).
Di padang gurun, bani Israel berjumlah lebih dari dua juta orang, tetapi mereka teratur dan berada di bawah pengarahan ilahi. Mereka tidak tetap tinggal atau bergerak menurut kesukaan dan ketidaksukaan atau pilihan mereka. Sebaliknya, mereka tinggal dan bergerak bersama menurut titah yang diberikan Allah melalui Musa.
B. Oleh Dua Sangkakala
Pertama, yang memimpin Israel adalah diri Allah sendiri dalam bentuk awan. Kedua, bani Israel dipimpin oleh dua sangkakala (Bil. 10:1-10). Karena sangkakala mengeluarkan suara keras (nyaring), mereka dapat menjadi sarana pimpinan.
1. Dibuat dari Perak oleh Pandai Besi
“TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Buatlah dua nafiri (sangkakala) dari perak. Dari perak tempaan harus kaubuat itu’” (Bil. 10:1-2a). Dalam perlambangan, perak melambangkan penebusan Kristus. Fakta bahwa sangkakala dibuat melalui ditempa, menunjukkan bahwa sangkakala itu melewati pemukulan.
2. Untuk Memanggil dan Menyuruh Pasukan Berangkat
Dua sangkakala perak dipakai untuk memanggil dan menyuruh pasukan berangkat (Bil. 10:2b).
3. Meniup Kedua Sangkakala untuk Mengumpulkan
Meniup kedua sangkakala adalah untuk mengumpulkan. “Apabila kedua nafiri itu ditiup, segenap umat itu harus berkumpul kepadamu di depan pintu Kemah Pertemuan” (Bil. 10:3).
4. Meniup Satu Sangkakala untuk Mengumpulkan Para Pemimpin
Meniup hanya satu sangkakala adalah untuk mengumpulkan para pemimpin. “Jikalau hanya satu saja ditiup, maka para pemimpin, para kepala pasukan Israel harus berkumpul kepadamu” (Bil. 10:4).
5. Meniup Tanda Semboyan agar yang Berkemah di Sebelah Timur Berangkat
Meniup tanda semboyan adalah agar yang berkemah di sebelah timur berangkat. “Apabila kamu meniup tanda semboyan, maka haruslah berangkat laskar-laskar yang berkemah di sebelah timur” (ayat 5).
6. Meniup Tanda Semboyan Kedua agar yang Berkemah di Sebelah Selatan Berangkat
Meniup tanda semboyan kedua adalah agar yang berkemah di sebelah selatan berangkat. “Apabila kamu meniup tanda semboyan kedua kalinya, maka haruslah berangkat laskar-laskar yang berkemah di sebelah selatan. Jadi tanda semboyan harus ditiup untuk menyuruh mereka berangkat” (Bil. 10:6). Di sini dalam Kitab Bilangan suara sangkakala disebut tanda semboyan, karena dalam pandangan Allah, bani Israel terus-menerus berperang. Setiap waktu mereka dapat mendengar tanda semboyan untuk berperang. Ketika mereka bergerak, mereka bergerak dalam sikap berperang. Ini melambangkan bahwa perjalanan kristiani kita, pergerakan kristiani kita, adalah pergerakan perang. Namun, kita sering melalaikan perkara ini dan akibatnya mengalami penderitaan. Mengenai pergerakan tertentu, kita mengalami banyak penderitaan, karena kita tidak sadar bahwa kita berada dalam peperangan. Kita selalu berada dalam peperangan, dan karena itu kita harus dengan konstan berada di bawah suara tanda semboyan.
7. Anak-anak Harun, Imam-imam, Meniup Sangkakala
“Nafiri-nafiri itu harus ditiup oleh anak-anak imam Harun” (Bil. 10:8a). Hanya anak-anak Harun, orang-orang yang paling rohani, yang paling dekat dengan Allah, yang paling tahu hati dan kehendak-Nya, yang dapat meniup sangkakala.
8. Bani Israel Membunyikan Tanda Semboyan
dengan Sangkakala ketika Mereka Maju Berperang di Tanah Mereka Melawan Musuh Mereka
Bani Israel harus membunyikan tanda semboyan dengan sangkakala ketika mereka maju berperang di tanah mereka melawan musuh mereka. “Dan apabila kamu maju berperang di negerimu melawan musuh yang menyesakkan kamu, kamu harus memberi tanda semboyan dengan nafiri, supaya kamu diingat di hadapan TUHAN, Allahmu, dan diselamatkan dari pada musuhmu” (Bil. 10:9). Ayat ini membicarakan berperang melawan, dan diingat di hadapan Allah. Lawan berbeda dari musuh. Musuh datang dari luar, dan lawan datang dari dalam. Membunyikan tanda semboyan dengan sangkakala adalah hal ajaib, karena ini menyebabkan kita diingat oleh Allah dan diselamatkan dari musuh-musuh kita.
9. Pada Hari Bersukaria, pada Perayaan-perayaan, dan pada Bulan-bulan Baru,
Bani Israel Meniup Sangkakala atas Kurban Bakaran Mereka
dan Kurban Pendamaian untuk Diingat di Hadapan Allah Mereka
“Juga pada hari-hari kamu bersukaria, pada perayaan-perayaanmu dan pada bulan-bulan barumu haruslah kamu meniup nafiri itu pada waktu mempersembahkan kurban-kurban bakaranmu dan kurban-kurban keselamatanmu (pendamaian); maksudnya supaya kamu diingat di hadapan Allahmu; Akulah TUHAN, Allahmu” (Bil. 10:10). Ayat ini membicarakan tiga jenis kesempatan: hari bersukaria, perayaan-perayaan, dan bulan-bulan baru. (Dalam perlambangan, Allah menaruh perhatian kepada bulan baru, kepada awal bulan baru; namun, kita mungkin tidak menaruh perhatian yang memadai atas permulaan yang baru setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun.) Pada kesempatan ini bani Israel meniup sangkakala atas kurban bakaran mereka dan kurban pendamaian mereka. Kurban bakaran melambangkan Kristus sebagai diperkenannya kita oleh Allah dan sebagai kehidupan kita; kurban pendamaian melambangkan Kristus sebagai damai sejahtera dan kenikmatan kita dengan Allah.
Dari lima kurban dasar, kurban bakaran dan kurban pendamaian adalah kenikmatan besar untuk Allah dan umat-Nya. Kurban bakaran menunjukkan bahwa umat Allah mutlak untuk Dia. Karena kurban persembahan ini, Allah memiliki kenikmatan, dan umat-Nya juga memiliki kenikmatan. Maka, Allah dan umat-Nya, keduanya senang, dan hari itu menjadi hari bersukaria, bahkan perayaan. Pada waktu seperti itu, sangkakala dibunyikan di atas kurban bakaran. Ini menunjukkan bahwa ketika kita mutlak untuk Allah, akan ada hari bersukaria, hari Allah dan kita memiliki kenikmatan. Dalam prinsip yang sama, ketika kita dan Allah hidup dalam damai sejahtera, tinggal dalam damai sejahtera, dan menikmati damai sejahtera sebagai persekutuan timbal balik, akan ada juga hari besar. Ketika dalam gereja hari ini anak-anak Allah mutlak untuk Dia dan tinggal bersama-sama dengan Allah dalam damai sejahtera, akan ada hari besar, hari yang tepat untuk meniup sangkakala. Pimpinan terhadap bani Israel dalam pergerakan mereka berasal dari langit (awan) dan dari bumi (dua sangkakala). Ketika awan bergerak, semua orang Israel menerima tanda untuk bergerak. Ketika sangkakala berbunyi, mereka mengambil tindakan untuk berangkat. Hari ini kita memiliki Roh itu dan firman, dan sering kali firman menjadi tanda semboyan bagi kita.