Kesaksian Tuhan Yesus di Depan Imam Besar dan Pilatus
Pembacaan Alkitab:
Matius 26:57-66; 27:1-2, 11, 18;Yohanes 18:28-40; 19:7-8, 12, 15
I. TUHAN YESUS ADALAH ANAK ALLAH JUGA RAJA
Pada malam Tuhan Yesus dijual, orang-orang yang menangkap-Nya membawa-Nya ke depan Imam Besar Kayafas. Orang-orang Yahudi mencari saksi-saksi palsu supaya dapat menghukum mati Dia, tetapi tidak mendapatkannya. Meskipun tampil banyak saksi palsu menuduh-Nya, tetapi kesaksian mereka tidak cocok satu sama lain, mereka tidak mendapatkan bukti. Di sini ada satu hal yang istimewa, yaitu ketika mereka mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, ketika tampil banyak saksi palsu, Tuhan tidak menjawab sepatah kata pun. Tetapi ketika Imam Besar bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau Mesias, Anak Allah atau bukan?” Dia segera menjawab, “Engkau telah mengatakannya.” Demikianlah Imam Besar menjatuhkan hukuman terhadap-Nya berdasarkan pengakuan-Nya itu.
Pagi harinya, mereka membelenggu Tuhan Yesus dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu. Pilatus bertanya kepada Tuhan Yesus, “Engkaukah Raja Orang Yahudi?” Jawab Yesus, “Engkau sendiri mengatakannya.” Mengherankan sekali, setelah Ia menjawab demikian, Pilatus malah mengakui bahwa Dia tidak berdosa, dan ingin melepaskan-Nya. Di depan Imam Besar, Ia menjawab, “Engkau telah mengatakannya,” Ia lalu dijatuhi hukuman. Di depan Pilatus Ia menjawab, “Engkau sendiri mengatakannya,” Ia malah tidak dihukum. Kedua belah pihak persis berkebalikan. Di depan Imam Besar Kayafas, Ia diadili bukan karena masalah raja, melainkan masalah Anak Allah. Di depan Pilatus, Ia dihakimi karena masalah apakah Ia raja. Kedua masalah ini, dari luarnya seolah ada perbedaan yang besar, tetapi dalam pandangan Allah, itu saling berkaitan. Di hadapan Allah, orang Yahudi tidak mempunyai raja. Anak Allahlah yang menjadi raja. Sebab itu, dalam dua kali pengadilan itu Tuhan Yesus tidak menjawab pertanyaan yang lain, Ia hanya menjawab kedua pertanyaan: siapakah Dia, dan apakah yang Dia kerjakan.
II. TUHAN YESUS ADALAH ANAK ALLAH
Di sini kita akan memperhatikan satu perkara, yaitu kesaksian Tuhan. Di depan Imam Besar Kayafas, Tuhan Yesus mengakui diri-Nya adalah Anak Allah; Ia bersaksi untuk diri-Nya sendiri. Di depan Pilatus, Tuhan Yesus mengakui diri-Nya raja, Ia tetap bersaksi untuk diri-Nya sendiri. Ketika Imam Besar mendengarkan Tuhan Yesus bersaksi bahwa Ia adalah Anak Allah dan bahwa ia “akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa, dan datang di atas awan-awan di langit,” Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata, “Ia menghujat Allah, untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab, “Ia harus dihukum mati!”
Mengapa mereka tidak bisa menerima kesaksian Tuhan Yesus? Apakah tujuan mereka? Mereka tidak ingin membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Mereka berpendapat, asal Dia berkata diri-Nya adalah Anak Allah, Ia sudah berdosa. Tujuan mereka bukan ingin mendapatkan satu fakta melainkan ingin menjatuhkan hukuman. Sebab itu, begitu Tuhan Yesus mengaku diri-Nya adalah Anak Allah, mereka segera berkata, “Ia menghujat Allah!” Berdasarkan ini mereka menjatuhkan hukuman. Apakah Ia benar-benar Anak Allah, mereka tidak berminat untuk mengetahuinya. Satu-satunya yang menarik mereka adalah, begitu Ia berkata demikian, maka mereka boleh membunuh-Nya. Mereka adalah “orang-orang penting dalam agama Yahudi” pada masa itu, namun mereka tidak memperhatikan perkara Allah. Yang mereka perhatikan adalah apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus, yang menyebut diri-Nya adalah Anak Allah itu, tidak menguntungkan mereka. Kalau membiarkan Yesus ini tetap ada, kedudukan mereka akan goyah, wibawa mereka akan hancur. Sebab itu mereka berusaha secepatnya melakukan sesuatu, yaitu menyingkirkan Yesus ini, supaya keuntungan pribadi mereka bisa dipertahankan.
Meskipun mereka pernah menyelewengkan perkataan Tuhan Yesus dengan berkata, “Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari” (sebenarnya Tuhan Yesus tidak berkata demikian, lihat Injil Yohanes 2:19-21), untuk menunjukkan perhatian mereka terhadap Bait Suci, faktanya saat itu Bait Suci telah menjadi sarang penyamun, dan mereka tidak memperhatikan itu. Ketika Tuhan Yesus membersihkan Bait Suci, mereka malah mencari akal untuk menyingkirkan Dia (Mrk. 11:17-18). Mereka hanya menginginkan bentuk luar dari Bait untuk mempertahankan keuntungan mereka. Mereka tidak mau realitas Bait, takut kalau dosa dan kejahatan mereka tersingkap. Mereka mempertahankan sedikit liturgi agama, tetapi menolak bahkan ingin mengenyahkan kebenaran.
Sebab itu, ketika di bumi Anak Allah menyatakan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah, dalam pandangan mereka, itu adalah dosa. Mereka menganggap kata-kata itu tidak boleh diucapkan. Meskipun itu benar, tetap tidak boleh diucapkan. Karena kesaksian-Nya inilah Tuhan Yesus dijatuhi hukuman. Imam besar menjatuhkan hukuman kepada-Nya bukan karena Dia adalah Anak Allah, melainkan karena Ia bersaksi bahwa diri-Nya adalah Anak Allah. Dalam anggapan mereka kata-kata itu tidak pantas diucapkan; kebenaran tidak seharusnya dipersaksikan. Mereka berusaha sekuatnya untuk mendobrak kesaksian ini. Terakhir mereka menggunakan kekuatan pemerintahan Romawi untuk menghukum mati Tuhan Yesus.
III. TUHAN YESUS ADALAH RAJA
Pada pagi hari, mereka membawa Tuhan Yesus ke hadapan Pilatus, wali negeri itu. Pilatus bertanya kepada-Nya, “Engkau inikah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus, “Apakah engkau mengatakan hal itu dari hatimu sendiri? Atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?” Kata Pilatus, “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsamu sendiri dan Imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku sudah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi; akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Maka kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi, Engkau adalah raja?” Jawab Yesus, “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian untuk kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Setelah mendengar jawaban Tuhan Yesus demikian, keluarlah Pilatus mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.” Inilah kesaksian yang dilakukan Tuhan Yesus di hadapan Pilatus.
Banyak orang mengira masalah “raja orang Yahudi” ini mengacu kepada Tuhan Yesus akan menjadi raja orang-orang Yahudi pada masa itu; mengira ini adalah masalah politik. Tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita, ketika Pilatus bertanya kepada Tuhan Yesus, “Engkau inikah raja orang Yahudi?” Tuhan Yesus malah menanyakan sumber pertanyaan itu. Artinya, engkau menanyakan pertanyaan ini, tetapi bagaimana pengenalanmu terhadap pertanyaan ini? Apa yang kau pahami? Itu adalah pandanganmu yang subjektif, atau orang lain yang mengatakannya kepadamu. Ini penting sekali. Di depan Pilatus, Tuhan Yesus tidak menyembunyikan bahwa diri-Nya adalah raja orang Yahudi. Dia mempersaksikan bahwa diri-Nya adalah raja; tetapi apa yang disaksikan-Nya dan apa yang dituduhkan orang-orang yang mencelakai Dia, sama sekali berbeda. Raja berhubungan dengan kerajaan, sebab itu Ia berkata, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Karena Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, maka hamba-hamba-Nya tidak perlu melawan bagi-Nya. Kalau Kerajaan-Nya dari dunia ini, perlu perlawanan. Tetapi Kerajaan-Nya berasal dari Allah, dari atas, maka tidak memerlukan peperangan daging sedikit pun. Dia adalah raja orang Yahudi. Dia adalah raja yang berasal dari orang Yahudi. Hal ini sama sekali berbeda dengan masalah politik dunia.
Banyak di antara anak-anak Allah memahami dunia ini adalah dunia material; mengira kalau seseorang bukan milik dunia ini berarti orang itu berhati-hati dalam masalah material. Kita tidak mengatakan bahwa dalam masalah material kita boleh terumbar, tetapi masalah yang terbesar adalah “tidak dari/milik”. “Milik” atau “dari” adalah masalah yang utama. “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini”, dengan kata lain, “sama sekali bukan berasal dari dunia, sama sekali tidak tergantung pada dunia.”
Di atas diri anak-anak Allah ada banyak perkara yang kelihatannya rohani, tetapi kalau kita kejar terus sampai ke akarnya, akan terlihat bahwa asalnya adalah dari dunia. Meskipun istilah-istilahnya dari Alkitab, tetapi di atas diri manusia itu mungkin masih berasal dari dunia. Misalnya, kita sering mengatakan bahwa rendah hati adalah satu etika yang baik. Kita juga tampak bahwa rendah hati itu sesuai dengan Alkitab. Tetapi samakah rendah hati yang dikatakan Alkitab dengan rendah hati yang ada di atas diri kita. Inilah masalahnya. Sering kali, kalau kita mengejar akar rendah hati kita, kita akan tampak, karena kita takut melukai orang lain, takut dikritik orang, maka kita rendah hati. Rendah hati ini berasal dari ketakutan. Rendah hati yang berasal dari ketakutan ini kelihatannya merupakan satu etika yang baik, tetapi kalau dikejar sampai ke akarnya, kita tidak bisa mengatakan “Kerajaan-Ku bukan berasal dari dunia ini”. Rendah hati ini berasal dari dunia, berasal dari ketakutan duniawi. Saudara saudari, kalau seorang Kristen hidup bersandar Allah, dia bisa menjadi orang yang lemah lembut dan rendah hati, bersamaan dengan itu, ia pun seorang yang teguh, berbobot, karena ia tidak mempunyai rasa takut yang berasal dari dunia ini.
Sering kali, anak-anak Allah berkata, “surgawi”. Sesungguhnya apa yang disebut surgawi? Surgawi bukan berarti setiap hari ia berhubungan dengan perkara-perkara surgawi, melainkan yang berasal dari surga, itulah yang surgawi. Demikian juga apa yang disebut “duniawi” atau “berasal dari dunia”, bukanlah setiap hari berhubungan dengan dunia, lalu disebut duniawi atau berasal dari dunia, melainkan apa yang keluar dari dunia itulah yang berasal dari dunia. Bukan berarti, Anda tidak duniawi, lalu Anda semakin sedikit berhubungan dengan dunia, lebih sedikit berurusan dengan urusan-urusan dunia, mengurangi kontak dengan benda-benda dunia, melarikan diri dari kenyataan dan berusaha menjadi orang yang lain. Dapatkah itu dikatakan bukan duniawi? Tidak, tidak demikian. Anda pada dasarnya berasal dari dunia, karena itu Anda perlu terang Allah. Ketika Allah menerangi, Anda akan tampak, bahwa banyak kebaikan Anda, kalau dikejar sampai ke akarnya, semua itu berasal dari alasan-alasan duniawi. Mengapa Anda berbuat begini? Karena alasan ini. Mengapa Anda berbuat begitu? Karena alasan itu; alasan-alasan itu semua berasal dari dunia. Kebaikan-kebaikan itu kelihatannya rohani, tetapi sesungguhnya berasal dari “rohani” milik dunia. Sebab itu, tidak mempunyai kesaksian, tidak mempunyai realitas rohani.
Tuhan Yesus berkata, “Kerajaan-Ku bukan berasal dari dunia ini.” Ia menjadi raja tidak tergantung pada lokasi dunia ini. Ia berkuasa, namun Kerajaan-Nya sama sekali berbeda dengan kerajaan dunia. Jadi, masalah kita bukannya meninggalkan dunia. Masalah kita ialah di dalam kita ada berapa banyak hal yang berasal dari dunia. Semoga Allah merahmati kita, supaya dalam hal rohani kita tidak dipengaruhi oleh dunia.
Tuhan Yesus datang ke bumi, khusus bersaksi untuk kebenaran. Saat itu orang-orang yang munafik karena perbuatannya jahat, tidak menyenangi terang, sebaliknya, menyenangi gelap, ingin menyingkirkan Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan Yesus tidak takluk kepada kuasa kejahatan. Cemoohan orang terhadap-Nya, fitnahan orang terhadap-Nya, sama sekali tidak dijawab-Nya. Tetapi ketika menyinggung masalah siapa Dia dan apa yang dikerjakan-Nya, Ia bersaksi dengan baik untuk kebenaran. Di bumi, Tuhan Yesus menempuh sepotong perjalanan yang tidak biasa. Di pandangan manusia, Ia tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi hari ini, Ia sudah duduk di sebelah kanan Yang Mahatinggi, dan Dia akan datang di atas awan di langit. Puji Tuhan! Siapa saja yang mengikuti-Nya, haruslah memperhatikan kesaksian-Nya.