Kesaksian Allah
“Hamba-Mu aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku tahu peringatan-peringatan-Mu.”
Mazmur 119:125
KESAKSIAN ALLAH ADALAH PERNYATAAN DIRI ALLAH SENDIRI
Kita sering membicarakan masalah “kesaksian Allah”. Sebenarnya, apakah kesaksian Allah itu? Kesaksian itu sebenarnya ditujukan kepada apa?
Istilah “kesaksian” lebih banyak dipakai dalam Perjanjian Lama daripada dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama ada dua tempat yang ingin kita perhatikan secara khusus. Pertama, dalam kelima kitab Musa, khususnya Kitab Keluaran, istilah “kesaksian” sangat banyak dipakai. (Istilah “hukum” dalam kata-kata “tabut hukum” atau “loh hukum” dalam bahasa aslinya ialah “kesaksian”). Kedua, dalam Kitab Mazmur 119. Semua istilah “peringatan” dalam pasal ini dalam bahasa aslinya juga “kesaksian”. Dari kesaksian-kesaksian yang tercantum dalam kelima kitab Musa dan Mazmur 119 itu dapatlah kita ketahui dan pahami makna sebenarnya dari kesaksian itu.
Dalam Mazmur 119 sering disebut-sebut firman Allah, ketetapan Allah, hukum Allah, perintah Allah, juga kesaksian (peringatan) Allah. Kesaksian Allah disejajarkan dengan firman Allah, ketetapan Allah, hukum Allah, perintah Allah dan lainnya. Kita harus memelihara firman Allah, ketetapan Allah, Taurat Allah, hukum Allah, dan perintah Allah; kita pun harus memelihara kesaksian Allah. Istilah “memelihara kesaksian Allah” kedengarannya agak janggal dan agak sukar dipahami. Tetapi dalam firman Allah dan dalam hati Allah, kesaksian Allah itu identik dengan firman Allah, ketetapan Allah, Taurat Allah, hukum Allah dan perintah Allah; ia sesifat dengan semuanya itu.
Kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan menampakkan kepada kita bahwa kesaksian tidak saja setingkat dengan firman Allah dan ketetapan Allah, selain itu kedua loh batu yang terukir dengan hukum Taurat itu disebut loh kesaksian; dan tabut yang menyimpan kedua loh batu itu disebut tabut kesaksian. Allah menuliskan hukum Taurat ke atas kedua loh batu itu, lalu menyebutnya loh kesaksian, tabutnya disebut tabut kesaksian. Inilah yang Allah lakukan.
Ini memperlihatkan kepada kita apakah yang dimaksud dengan kesaksian Allah itu. Kesaksian Allah adalah hukum Taurat. Dengan perkataan lain, kesaksian Allah adalah kehendak Allah, adalah tuntutan (permintaan) Allah, boleh juga diartikan sebagai standar Allah. Kedua loh kesaksian dalam kitab Keluaran menyajikan sebuah lukisan yang sangat baik, yang memperlihatkan standar Allah. Apakah standar Allah itu? Standar Allah adalah pernyataan diri Allah sendiri, yakni yang menyatakan Allah adalah Allah yang bagaimana. Kesaksian Allah adalah yang Allah lakukan bagi diri-Nya sendiri; kesaksian Allah adalah pernyataan bagaimana sebenarnya standar Allah yang mutlak itu.
Kesaksian Allah ini datang ke tengah-tengah manusia, lalu menjadi hukum Taurat. Di pihak Allah adalah kesaksian, di pihak manusia adalah hukum Taurat. Hukum Taurat identik dengan kesaksian. Pada Allah ialah kesaksian, dari Allah datang kepada manusia ialah hukum Taurat. Di pihak Allah ia mempersaksikan apa yang dituntut Allah, di pihak manusia ia menentukan apa yang wajib dipelihara. Dalam tangan Allah ialah kesaksian, dalam tangan manusia ialah hukum Taurat; dalam tangan Allah ialah tuntutan Allah, dalam tangan manusia ialah kewajiban manusia. Ketika ia diletakkan di hadapan manusia, pada satu pihak untuk dilakukan, pada pihak lain untuk mempersaksikan ketidakbenaran kita, mempersaksikan bagaimana keadaan Allah. Tatkala kesaksian Allah ini diletakkan dalam tangan kita, ia mempersaksikan betapa kita tidak benar, tidak dapat mencapai standar Allah. Dalam tangan Allah, ia mempersaksikan Allah adalah Allah yang bagaimana; dalam tangan manusia, ia mempersaksikan betapa kita ini tidak baik, sehingga kita menyadari dosa-dosa kita. Jadi, kesaksian Allah berarti Allah menyatakan diri-Nya adalah Allah yang bagaimana.
Dalam Perjanjian Baru, hal ini semakin jelas. Tuhan Yesus datang untuk kesaksian Bapa; Roh Kudus datang untuk kesaksian Kristus Yesus; dan gereja melalui kekuatan Roh Kudus menjaga kesaksian Kristus Yesus. Mempersaksikan Kristus tak lain berarti memberi tahu orang, siapa dan apa itu Dia. Inilah yang dimaksud dengan kesaksian Allah. Di pihak Allah, kesaksian Allah adalah diri-Nya sendiri, sedang di pihak kita, kesaksian Allah adalah sesuatu yang luar biasa, ialah hukum Taurat. Kita sekali-kali tidak dapat berdosa terhadap kesaksian Allah ini. Bila seseorang berdosa terhadap kesaksian Allah ini, Allah tidak akan mendiamkannya.
SETELAH MENGENAL ALLAH,
BARU DAPAT BERSAKSI BAGI ALLAH
Kita mengakui kesaksian Allah adalah satu perkara yang sangat besar. Kita wajib ingat bahwa makna inti dari kesaksian Allah adalah diri Allah sendiri. Allah adalah Allah Sang Hayat. Demi mempersaksikan diri-Nya sendiri, Allah telah datang ke tengah-tengah manusia. Kita juga mengakui kesaksian Allah ini merupakan suatu fakta rohani, yaitu realitas yang terakhir itu. Tanpa menjamah realitas yang terakhir itu, tidak mungkin menjamah kesaksian. Dikatakan secara serius, tidak ada seorang pun yang dapat bersaksi bagi Allah. Sebab dari kekekalan hingga kekekalan, Allah sendirilah yang melakukan kesaksian-Nya, Allahlah yang menyatakan bagaimana keadaan diri-Nya sendiri. (“Kesaksian” yang kita bahas di sini berbeda dengan “bersaksi” pada umumnya).
Kita mempunyai banyak perkataan untuk membicarakan Allah. Kita berkata bahwa kita dapat bersaksi bagi Allah, kita dapat berkata bahwa Allah begini dan Allah begitu, tetapi perkataan kita sendiri tidak berguna. Mungkin kita dapat menghafalkan satu, sepuluh dan bahkan seratus judul perkataan (khotbah) bagi Allah, tetapi kesaksian itu bukan hasil perbuatan manusia, melainkan Allah yang menyatakan keadaan-Nya sendiri. Karena itu, jika Allah tidak berbicara, tidak ada kesaksian. Sudahkah Anda tampak betapa seriusnya perkara ini? Jika Allah tidak berfirman, tiadalah kesaksian. Jika Allah tidak menyatakan keadaan-Nya sendiri, tidak ada seorang pun yang dapat bersaksi bagi-Nya. Kita di sini boleh saja terus menerus berbicara, tetapi itu tidak akan ada gunanya, karena itu adalah perkataan kita semata. Jika Allah tidak berbicara, segalanya adalah hampa, sia-sia.
Misalnya, kita menjadi saksi untuk membela seseorang di pengadilan, meskipun kata-kata pembelaan kita lancar dan tepat, jika orang yang kita bela itu tidak mau berkomentar apa-apa, dan sama sekali tidak menanggapi perkataan kita, apakah perkataan kita akan bernilai? Kesaksian Allah menyatakan diri-Nya sendiri, jika Allah sendiri tidak berbicara, tidak ada kesaksian.
Sebab itu, bersaksi bagi Allah tergantung pada apakah orang itu menjamah Allah, sehingga ia dapat mengucapkan perkataan yang ingin diucapkan oleh Allah. Setelah Allah sendiri dikenal, ditampak dan diwahyukan, barulah orang dapat berbicara. Setelah seseorang menjamah realitas yang terakhir itu, barulah ia dapat membuka mulut untuk bersaksi bagi Allah. Jika kita belum menjamah Allah, kita tidak memiliki perkataan dan kesaksian. Anda boleh memberitakan perintah Allah, Anda boleh menyampaikan hukum Allah, Anda boleh menyampaikan ketetapan Allah, Anda boleh memberitakan firman Alkitab, namun semuanya itu bukan kesaksian Allah; kesaksian Allah adalah sesuatu yang lain. Yang datang kepada manusia adalah ketetapan, hukum dan perintah, namun kesaksian Allah tetap berada pada Allah. Semuanya itu adalah yang di luar, tetapi kesaksian Allah adalah realitas yang terakhir, dan realitas itu tetap berada pada Allah. Karena itu, perlu Kristus yang berasal dari Allah, baru dapat bersaksi bagi Allah; perlu Roh Kudus yang berasal dari Kristus baru dapat bersaksi bagi Kristus. Demikian juga, hanya orang yang mengenal Kristus dan Roh Kudus yang dapat bersaksi bagi Kristus dan Allah. Yang keluar bukan perkataan, ajaran atau doktrin orang ini, melainkan Kristus sendiri.
Kesaksian kemungkinan bisa menjadi doktrin, tetapi doktrin selamanya tidak mungkin menjadi kesaksian. Dalam kesaksian mungkin mengandung perintah-perintah yang menuntut orang menjalankan atau menaatinya, namun perintah-perintah itu sendiri bukanlah kesaksian. Kesaksian sama sekali adalah masalah yang lain, dan berlainan dengan kesaksian yang kita duga pada umumnya. Sering kali kita berkata, karena kita tidak berpengalaman, maka kita tidak dapat bersaksi. Tetapi ingatlah, tak peduli itu pengalaman atau ujian, jika itu diletakkan ke dalam kesaksian, tidaklah tepat. Kesaksian Allah bukan soal pengalaman, melainkan soal menjamah Tuhan. Menurut perkataan manusia, memang ia disebut pengalaman, tetapi istilah pengalaman itu sebenarnya terlalu kecil, tidak sepadan jika dirangkaikan dengan kesaksian itu. Kesaksian Allah ialah manusia menjamah Allah. Hanya Allahlah yang dapat bersaksi bagi diri-Nya sendiri, sebab tidak ada yang lebih besar daripada Allah.
Kesulitan terbesar dalam gereja ialah terlampau banyak doktrin yang berasal dari manusia. Manusia yang mengatakan orang harus berbuat ini dan itu, mana yang sesuai dengan Alkitab, mana yang tidak sesuai dengan Alkitab. Manusia selalu memperhatikan masalah-masalah tersebut, tetapi kesaksian yang sejati adalah manusia menjamah realitas yang terakhir itu, menjamah Allah sendiri. Kita tidak ingin mengatakan terlalu banyak, semoga kita semua membeberkan dan mengkaji masalah ini di hadapan Allah sebaik-baiknya.
Saudara saudari, jika Anda membaca lagi kelima kitab Musa dan Mazmur 119, Anda akan tampak bahwa istilah kesaksian yang Allah pakai sama sekali berlainan dengan yang Anda pakai. Kesaksian adalah sesuatu yang teramat besar, yang sukar dipahami oleh otak kita. Kesaksian Allah adalah Allah berbicara, yakni berbicara tentang diri-Nya sendiri dan permintaan-Nya. Siapa saja yang menjamah kesaksian Allah, pasti menjamah diri Allah sendiri.
BERDOSA TERHADAP DIRI ALLAH
BERARTI BERDOSA TERHADAP KESAKSIAN
Apakah artinya berdosa terhadap kesaksian Allah? Berdosa terhadap diri Allah itulah berdosa terhadap kesaksian Allah. Segala sesuatu yang menjamah karakter Allah, segala sesuatu yang menjamah jalan Allah, berarti menjamah kesaksian Allah. Allah ingin menyatakan karakter-Nya, siapa yang bersalah dalam menampilkan karakter Allah, itu berarti berdosa terhadap kesaksian Allah. Ada perkara yang sama sekali tidak dibiarkan berlalu oleh Allah, karena itu menjamah kesaksian Allah. Bila kita menjamah kesaksian Allah, Ia tidak akan melepaskan kita. Perkara apa saja, jika salah dalam menyatakan Allah, sehingga mempengaruhi karakter, kedudukan, dan pribadi Allah, tidak akan didiamkan oleh Allah.
ORANG ISRAEL TIDAK DAPAT MASUK KE TANAH KANAAN
Dalam Perjanjian Lama ada beberapa kasus yang serius. Dalam Bilangan 13 dan 14 kita tampak Allah tidak mengizinkan orang-orang Israel masuk ke Kanaan. Sebelum mereka tiba di Kadesy, mereka telah melakukan banyak dosa; mereka berkali-kali mencobai Allah, berkali-kali mendurhakai Allah, namun Allah mengampuni mereka. Tetapi setelah peristiwa di Kadesy, bagaimanapun Allah tidak mengizinkan mereka masuk ke tanah Kanaan. Mengapa? Sebab setelah mereka tiba di Kadesy, mereka sudah melihat banyak mujizat, dan telah membuktikan bahwa tanah Kanaan benar-benar tanah yang berlimpah-limpah dengan susu dan madu. Namun, mereka menganggap penduduk tanah itu perkasa; kota-kotanya luas dan berkubu; mereka menganggap suku Enak itu besar dan menganggap diri sendiri seperti belalang; mereka merasa takut, menangis dan tidak sudi memasukinya. Merasa takut dan menangis itu telah memalukan Allah dan mempengaruhi diri Allah sendiri. Dahulu mereka pernah bertengkar karena makanan dan minuman, tetapi itu tampaknya tidak begitu serius. Ada dosa yang dianggap Allah sebagai kelemahan manusia, Allah boleh membiarkannya dengan lapang hati. Orang-orang Israel pernah dengan semau mereka meminta makanan, mengolok-olok Allah dengan berkata, “Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?” (Mzm. 78:19). Apakah hal itu tidak mempengaruhi karakter Allah? Tidak, Allah tahu bahwa mereka telah tergoda oleh hawa nafsu, maka setelah mereka dihukum sebentar, Allah membiarkan mereka lagi. Tetapi setelah mereka tiba di Kadesy, masalahnya bukan lagi kelemahan manusia, melainkan mereka meragukan kuasa Allah. Jadi, rasa takut mereka, menangisnya mereka, dan enggannya mereka memasuki tanah Kanaan, dikarenakan mereka mengira Allah akan menjerumuskan mereka ke dalam maut, dan hal ini berarti meragukan diri Allah sendiri. Jadi, Anda tampak, saat ini Allah tidak dapat memaafkan mereka lagi. Ditinjau dari segi politik/siasat Allah, Allah tidak dapat mengampuni mereka. Semua orang yang telah sampai di Kadesy tetapi tidak mau masuk, selamanya tidak akan dapat masuk. Sungguh aneh sekali, bagi mereka tidak ada kemungkinan untuk bertobat. Walaupun mereka kemudian mengatakan mau masuk, Allah tidak mengubah sikap-Nya. Ditinjau dari segi siasat Allah, Ia tidak pernah menyesal. Sekali Allah telah menetapkan, demikianlah akan terjadi. Mereka tidak dapat masuk tanah Kanaan, karena mereka telah berdosa terhadap diri Allah sendiri. Inilah artinya berdosa terhadap kesaksian Allah.
KEBINASAAN KORAH DAN KUMPULANNYA
Dalam Bilangan 16 dan 17 kita tampak penghukuman atas Korah dan kumpulannya. Mereka memberontak melawan Musa dan Harun dengan mengatakan bahwa kedua orang itu diktator dan meninggikan diri di atas jemaah Allah. Allah menghukum mereka, tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka. Keesokan harinya, seluruh jemaah Israel bersungut-sungut kepada Musa dan Harun, dan menuduh mereka telah membunuh umat Allah, karenanya murka Allah sekali lagi menimpa mereka. Kemudian Allah berkata kepada Musa, dan menyuruh setiap pemimpin dari kedua belas suku Israel masing-masing memberikan tongkatnya untuk diletakkan di dalam Kemah Pertemuan di hadapan tabut kesaksian. Allah berkata, “Orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas” (Bil. 17:5a). Dalam penghukuman yang dahsyat kali itu, kita tampak satu prinsip yang besar: jika orang berselisih tentang siapa yang besar dan siapa yang kecil, Allah bisa membiarkannya.
Misalnya kakak beradik, Yohanes dan Yakobus, yang berselisih ingin menjadi yang lebih besar, tanah tidak terbuka dan menelan mereka. Sampai saat Tuhan mengadakan jamuan malam terakhir, murid-murid masih saling berselisih tentang siapa yang terbesar di antara mereka, ketika itu tanah tetap tidak terbuka dan menelan mereka. Lalu, mengapa demikian hebat akibat dari kasus Kitab Bilangan itu? Alasannya hanya satu, yaitu karena mereka telah berdosa terhadap kesaksian Allah. Prinsip kesaksian Allah ialah: hanya orang yang telah dibangkitkanlah yang dapat melayani Allah, orang yang mati tidak dapat; orang hanya dapat melayani Allah melalui kebangkitan. Hari ini, di luar kebangkitan tidak ada hayat.
Dalam Taman Eden, kita tampak pohon hayat (kehidupan). Hari ini, hayat itu hanya terdapat dalam kebangkitan, sebab yang lainnya telah kemasukan maut. Karena itu, jika hari ini seseorang tidak beroleh kebangkitan, ia mustahil datang ke hadirat Allah. Hari ini, hayat itu telah melewati kematian, ia disebut kebangkitan. Sungguh indah sekali perkataan Wahyu 1:18, “. . . Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya.” Masalahnya bukan hanya hidup, melainkan telah mati dan hidup lagi. Hari ini Tuhan kita berdiri di atas posisi kebangkitan, demikian pula kita. Tidak ada suatu apa pun yang dapat datang ke hadirat Allah tanpa berdiri pada posisi kebangkitan. Harus melewati maut dan hidup kembali, baru dapat datang ke hadirat Allah.
Petah lidah, pikiran, keterampilan, kekuatan, dan kepintaran kebanyakan orang belum melalui kematian, belum berdiri di atas posisi kebangkitan, karena itu tidak dapat datang ke hadirat Allah. Peristiwa tongkat Harun bertunas adalah satu kesaksian yang terbesar, yaitu hanya yang telah bangkit yang dapat melayani Allah. Tongkat yang bertunas menunjukkan hanya yang telah bangkit yang memiliki ministri, yang tidak memiliki kebangkitan tidak dapat melayani Allah. Inilah kesaksian Allah! Setelah kejatuhan, manusia harus melalui kebangkitan baru dapat datang kepada Allah. Karena di hadapan Allah semua orang yang berdosa telah mati, maka tanpa melalui kebangkitan tidak ada seorang pun dapat datang kepada Allah. Pada hari ini, kebangkitan adalah satu-satunya syarat untuk melayani Allah. Tentu, kebangkitan yang dimaksud di sini bukan ditujukan kepada menerima hayat kebangkitan, melainkan ditujukan kepada pekerjaan penanggulangan salib atas diri kita. Bagaimana salib adalah suatu pengenyahan pada diri Tuhan Yesus, demikian pula pada diri kita. Tatkala manusia ingin menyalibkan Tuhan Yesus, mereka berteriak-teriak, “Enyahkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” Salib adalah pengenyahan yang terbesar. Ciptaan lama harus dienyahkan. Bila ciptaan lama tidak disingkirkan, tidak akan ada tongkat yang bertunas, dan tidak mungkin kita mempertahankan kesaksian Allah di hadapan-Nya. Dengan perkataan lain, Allah hanya membuka satu pintu dan siapa yang tidak masuk melalui pintu ini, berarti berada dalam kematian.
Tertimpanya kumpulan Korah oleh hukuman yang sangat berat dikarenakan mereka berdosa terhadap kesaksian Allah. Perilaku Anda ada yang bisa dibiarkan Allah. Tetapi jika Anda berdosa terhadap kesaksian Allah, Anda tidak akan dibiarkan-Nya. Kita harus mengetahui bahwa tujuan utama dari ganjaran Allah atas diri kita ialah ingin memelihara kesaksian-Nya sendiri. Dengan kata lain, Allah tidak sudi disalahpahami oleh manusia. Banyak orang berbuat dosa, tetapi orang lain hanya dapat mengatakan bahwa orang-orang itulah yang tidak baik, tidak dapat mengatakan Allah tidak baik. Tetapi ada perbuatan, begitu Anda melakukannya, orang lain akan mengatakan bahwa Allah tidak baik, itu berarti Anda telah menjamah pribadi Allah. Yang demikianlah yang tidak akan dibiarkan Allah; itu berdosa terhadap kesaksian Allah, berdosa terhadap diri Allah sendiri.
MUSA TIDAK DAPAT MASUK KE TANAH KANAAN
Dalam Bilangan 20, kita tampak Musa memukul batu karang di Meriba sehingga ia tidak diizinkan Allah masuk ke tanah Kanaan. Walaupun sesudah itu Musa memohon kepada Allah, “Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik . . . ,” Allah tidak mengabulkannya (Ul. 3:23-27). Tidak bisa, ya tidak bisa. Tentu kita tahu bahwa tidak pada tempatnya Musa memukul batu karang dengan marah-marah, tetapi kita tidak mengerti sebenarnya seberapa jauh kesalahannya itu. Kita hanya mengetahui bahwa Musa adalah seorang yang ramah dan lemah lembut, dan ia hanya marah-marah sekali itu saja. Kita pernah melihat banyak orang yang sifatnya lemah lembut bisa marah-marah juga, tetapi seolah-olah Allah tidak begitu memperhatikannya. Namun, mengapa Allah begitu merasa keberatan terhadap kemarahan dari seorang ini? Mari kita dengarkan apa yang Allah katakan kepada Musa dan Harun, “Kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel.” Apakah artinya “tidak menghormati kekudusan-Ku”? kata-kata ini lebih tepat diterjemahkan “tidak menguduskan Aku”. Ini berarti, “kamu telah mempersulit Aku”. “Menguduskan Allah” berarti memisahkan Allah demi menyatakan keistimewaan karakter Allah. Jika Musa marah-marah sampai sepuluh kali, orang hanya mengatakan bahwa Musa tidak memiliki kesabaran hati, hal itu tidak besar pengaruhnya. Tetapi kali ini, marah-marah Musa mempengaruhi diri Allah sendiri. Allah seolah berkata, “Dengan berbuat begitu, kamu telah melibatkan Aku ke dalamnya, kamu tidak menguduskan Aku, dan kamu tidak menempatkan Aku pada kedudukan yang seharusnya.”
Keburukan dari kemarahan Musa kali itu ialah di samping marah, ia pun memukul dengan tongkat, sehingga ada air mengalir dari batu karang itu, yang menyatakan pekerjaan Allah, sehingga orang tidak jelas siapa sebenarnya yang melakukan hal tersebut. Perbuatan Musa itu telah melibatkan Allah ke dalamnya. Boleh jadi orang Israel akan berpikir dalam hati, beginilah sifat Allah, Allah bisa marah dan memaki orang. Allah telah diseret oleh Musa. Jika Musa hanya marah, itu hanya memperlihatkan kejelekan temperamennya, itu agak kecil pengaruhnya, dan Allah tidak perlu menanggulanginya seserius itu. Tetapi kali itu, perbuatan Musa dipandang berat oleh Allah. Sebab selain ia melakukan mujizat (air mengalir keluar, kuasa Allah tertampak di situ), ia pun marah-marah (membuat bani Israel bingung dan tidak jelas). Mungkin orang-orang Israel akan berkata, “yang mengalirkan air untuk kita minum adalah Allah, yang marah-marah dan memaki kita juga Allah.” Musa mencelakakan Allah, Musa tidak menguduskan-Nya, itulah artinya berdosa terhadap kesaksian Allah. Perbuatan demikian sangat besar pengaruhnya. Karena itu, Allah tidak mudah melepaskannya. Akibatnya Allah tidak mengizinkan Musa masuk ke tanah Kanaan.
UZA TERBUNUH
Ketika kita merenungkan masalah berdosa terhadap kesaksian Allah, kita juga tidak lupa tangan Uza. Uza mengulurkan tangannya menahan/memegang tabut perjanjian, lalu ia dibunuh Allah di sisi tabut itu (2 Sam. 6:1-7). Tindakan Allah ini adalah demi menjelaskan/menjernihkan diri-Nya sendiri. Kita sering mengatakan bahwa Uza memegang tabut perjanjian dengan tangannya yang karnal. Tetapi perkataan ini kurang jelas dan kurang mantap. Kita tahu bahwa tabut perjanjian juga disebut tabut kesaksian. Sebelum Daud menjadi raja, tabut perjanjian tertawan, dan ketika itu tidak ada seorang Uza yang melindungi tabut perjanjian, sebab tabut itu dapat melindungi dirinya sendiri. Selama tabut perjanjian berada di antara orang kafir, ia diangkut dari satu tempat ke tempat lain, tidak ada seorang Uza atau seorang Israel lainnya yang melindunginya, dan ia tidak pernah jatuh terbalik; manusia tidak bisa mengaturnya. Sekarang, ia diangkut pulang oleh Daud, dan telah berada di tengah-tengah umat Allah, apakah ia perlu dijaga oleh manusia? Di sini Anda tampak dosa yang dilakukan oleh Uza. Kalau tabut perjanjian berada di antara musuh dapat memelihara dirinya sendiri, masakan berada di antara umat Allah ia perlu dilindungi oleh manusia? Allah telah menetapkan orang-orang Lewi untuk mengangkut tabut perjanjian, tetapi orang Israel malahan menaikkannya ke atas kereta lembu. Kalaupun tabut perjanjian itu terbalik, itu adalah urusannya sendiri. Jika tangan manusia ingin membantu Allah, itu malah akan merusak kesaksian Allah. Sebab itu, Allah tidak melepaskan Uza.
Oh, kita harus belajar satu pelajaran di hadapan Allah, yaitu dalam banyak perkara kita harus membiarkan Allah sendiri yang melakukannya. Hanya orang yang tidak mengenal Allah yang ingin membantu Allah. Jika kita di hadapan Allah mau menggunakan sedikit waktu untuk mengamati kesudahan orang-orang di masa lampau, kita akan menemukan satu prinsip: Kesaksian Allah sekali-kali tidak dapat dilanggar. Bila Anda melakukan suatu perkara yang berdosa terhadap karakter Allah, berdosa terhadap wewenang Allah, berdosa terhadap jalan Allah, berdosa terhadap rencana Allah atau berdosa terhadap kesaksian Allah, maka ganjaran Allah akan segera menimpa Anda. Allah tidak dapat bersikap kendur terhadap kesaksian-Nya sendiri. Allah akan menyatakan bahwa diri-Nya adalah Allah yang kudus, Allah yang berkuasa, Allah Sang Hayat. Sebab itu, kita benar-benar harus takut dan gentar di hadapan-Nya, janganlah ceroboh dan sembarangan dalam perilaku kita.
BERDOSA TERHADAP KESAKSIAN AKAN TERTIMPA GANJARAN ALLAH
Kita percaya, sering kali Allah mengganjar anak-anak-Nya dengan satu tujuan, yakni menjernihkan diri-Nya sendiri. Allah akan menyatakan kepada manusia maupun Iblis bahwa Ia tidak mengambil bagian dalam perkara itu, itu adalah perbuatan manusia sendiri. Jika manusia tidak dapat memelihara kesaksian Allah, terpaksa Allah sendirilah yang memelihara kesaksian-Nya; Allah akan mempertahankan kesaksian-Nya sendiri kalau manusia enggan mempertahankannya. Ketika manusia enggan mempertahankan kesaksian Allah, ia akan tertimpa ganjaran Allah.
Perbuatan-perbuatan dosa banyak macamnya. Ada dosa yang hanya bersangkut paut dengan diri kita sendiri. Dosa semacam ini seolah-olah tidak begitu dipandang berat oleh Allah. Tetapi, jika kita melakukan dosa yang bersangkut paut dengan diri Allah, kita akan segera tertimpa ganjaran Allah; karena ia akan bangkit menjernihkan diri-Nya sendiri bahwa diri-Nya tidak berbagian dengan perbuatan dosa kita itu. Karena itu, kita harus sangat hati-hati di hadapan Allah, jangan mudah melakukan dosa, lebih-lebih jangan berdosa terhadap kesaksian Allah. Kita harus dengan takut dan gentar mohon Allah melindungi kita dari segala dosa, terlebih pula dari dosa yang melanggar kesaksian Allah. Kita harus belajar mengenal Allah, jangan berdosa terhadap diri Allah sendiri. Kita harus tampak, bila Allah hendak menyatakan diri-Nya sebagai Allah, Ia selamanya tidak mau mengalah sedikit pun, Ia selamanya tidak mau mencampuradukkan diri-Nya dengan manusia. Manusia memang mudah gagal, tetapi jangan sekali-kali berdosa terhadap kesaksian Allah.
Kita pernah membaca riwayat hidup tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama, misalnya Abraham, Ishak, Yakub, atau Daud. Mereka adalah tokoh-tokoh yang terpilih, dan yang diperkenan Allah. Dalam riwayat hidup mereka, mereka juga sering salah dan gagal. Tetapi setelah mereka dihukum sejenak oleh Allah, mereka segera beroleh kelepasan. Mungkin Anda merasa heran, apakah alasannya? Ini disebabkan kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat belum sampai ke tingkat berdosa terhadap kesaksian Allah. Bila seseorang berdosa terhadap kesaksian Allah, niscaya sangat serius dan sangat mengerikan akibatnya. Bukan karena Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru, melainkan apakah dosa itu melanggar kesaksian Allah. Berdosa terhadap kesaksian Allah adalah perkara yang sangat berbahaya dan mengerikan; dosa demikian tidak akan dibiarkan oleh Allah. Dalam hal ini kita benar-benar harus belajar takwa kepada Allah.
Ibrani 12:10 mengatakan, “Sebab mereka (orang tua jasmani) mendidik kita dalam waktu yang singkat sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia (Bapa segala roh) menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Allah mengganjar atau menghajar kita, supaya kita beroleh kebaikan, yakni beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Allah menghendaki kalau kita berbagian dalam kekudusan-Nya. Setiap kali Allah mengganjar kita, tujuan-Nya selalu menjernihkan diri-Nya sendiri.
Entah saudara saudari pernah memikirkan hal ini atau tidak, yaitu setiap kali Allah mengganjar kita, mulut Iblis akan terkatup, ia tidak dapat berkata apa-apa. Begitu Allah mengganjar kita, Iblis segera diam seribu bahasa, ia tidak berdaya menuduh kita lagi. Setiap kali Allah mengganjar kita, Ia selalu melindungi diri-Nya sendiri, selalu melindungi kekudusan-Nya. Dengan demikian musuh segera tampak bahwa Allah tidak turut campur dalam perkara tersebut. Karena itu, kalau kita diganjar, yang pertama harus kita lakukan bukanlah mohon kelepasan, melainkan memuaskan penjernihan Allah. Setiap kali kita tertimpa ganjaran, kita harus mengatakan kepada saudara saudari bahwa adanya ganjaran itu dikarenakan aku telah berdosa kepada Allah dalam perkara tertentu. Mungkin pengakuan kita itu sederhana, tetapi itu sudah menyatakan bahwa Allah tidak terlibat dalam perkara tersebut.
Ada saudara atau saudari, yang jelas-jelas telah berbuat dosa, tetapi ketika ganjaran Allah tiba, mereka hanya menangis. Mengapa menangis? Sebab ganjaran itu terlalu hebat. Mengapa menangis? Sebab ada kesukaran. Perkara ini tidak dapat dibereskan dengan menangis. Kita harus tampak, ganjaran Allah pada hakikatnya bertujuan menjernihkan diri-Nya sendiri bahwa Allah tidak terlibat dalam perkara yang kita perbuat; juga menjernihkan bahwa kita adalah orang-orang yang mengemban nama Allah. Nama-Nya ada pada diri kita. Bila kita kurang hati-hati, Allah akan terlibat, dan untuk itu Allah harus menjernihkan diri-Nya sendiri. Ketika kita tertimpa ganjaran, wajiblah kita menundukkan kepala menyembah Allah dan berkata, “Ya Allah, hamba dengan rela hati menerima ganjaran ini, hamba rela berdiri di atas kedudukan ini, hamba rela mengumumkan kepada Iblis, gereja dan semua orang dunia bahwa dalam perkara ini Allah tidak terlibat. Itu sama sekali adalah kesalahan hamba sendiri.” Semakin Anda merebahkan diri Anda di bawah tangan ganjaran Allah, dan semakin Anda menjernihkan Allah, maka ganjaran-Nya akan semakin cepat berlalu. Sebaliknya, jika Anda semakin menghindari ganjaran dan meronta-ronta, Anda akan semakin sulit dilepaskan.
Kita percaya bahwa masalah ini merupakan sebagian dari masalah yang bertalian dengan jalan Allah. Karena itu, dalam masalah ini kita wajib belajar mengenal Allah. Demikian akan menolong kita dari banyak perkara yang merepotkan, dan bersamaan dengan itu kita dapat membiarkan Allah memperoleh kemuliaan melalui kegagalankegagalan kita itu. Jika kelakuan kita baik dan dapat memuliakan Allah, kita harus bersyukur kepada Allah. Tetapi, jika kelakuan kita tidak baik, maka dalam perkara-perkara yang dijernihkan Allah, patutlah kita memuliakan Allah juga. Semoga ketika kita mengucapkan perkataan ini atau membaca perkataan ini, darah Tuhan menaungi kita. Oleh karena demikian seriusnya masalah ini, kita tidak dapat tidak memperhatikannya.