← Daftar isi 2 Petrus · bab 9/13

PEMERINTAHAN ILAHI (1)

Pembacaan Alkitab: 2 Ptr. 2:1-9

Dua Petrus 1 membicarakan persediaan ilahi. Persediaan ini meliputi dua hal: hayat dan terang. Bagian pertama dari pasal 1 menekankan kepada hayat ilahi, dan bagian kedua menekankan terang ilahi. Hayat ilahi terkandung dalam iman yang telah dibagikan kepada kita; terang ilahi terkandung dalam firman Allah, yaitu dalam perkataan nabi pada Perjanjian Lama dan perkataan rasul pada Perjanjian Baru. Karena itu, hayat dan terang adalah dua komponen persediaan ilahi.

Dua Petrus 2 - 3 membicarakan pemerintahan Allah. Dalam Pelajaran-Hayat 1Petrus kita membicarakan banyak hal mengenai penghakiman dalam pemerintahan Allah. Dua Petrus 2 — 3 melanjutkan menampakkan kepada kita, bagaimana Allah melaksanakan penghakiman dalam pemerintahan-Nya. Dalam 2Petrus 2 kita nampak penghakiman Allah atas guru-guru palsu (2:1-3), penghakiman Allah atas malaikat dan manusia (2:4-9), kejahatan-kejahatan guru-guru palsu dan hukuman mereka di bawah penghakiman Allah (2:10-22).

Dalam berita ini kita akan membahas 2:1-9 ayat demi ayat.

GURU-GURU PALSU MEMASUKKAN

AJARAN SESAT YANG MEMBINASAKAN

Dua Petrus 2:1 mengatakan, “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” Setelah dalam pasal 1, rasul memaparkan kepada kaum beriman persediaan yang kaya atas hayat ilahi dan sorotan terang realitas ilahi, yang menyuplai mereka sehingga mereka bisa mempertahankan hayat dan menangkal racun kemurtadan, dalam pasal 2 ini, rasul dengan setia menunjukkan isi kemurtadan dan akibatnya yang menakutkan sebagai suatu peringatan kepada kaum beriman. Peringatan ini sangat mirip dan sejajar dengan peringatan yang diberikan dalam Yudas 4-19.

Dalam Perjanjian Lama, tidak hanya ada nabi-nabi sejati berbicara mengenai firman Allah, seperti pelita menerangi kita, juga ada nabi-nabi palsu di tengah umat itu. Dalam 2:1 Petrus berkata bahwa di tengah-tengah kita juga ada guru-guru palsu, yang dengan tersembunyi akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan.

Kata “memasukkan” di sini berarti menyusup masuk; dalam bahasa aslinya berarti masuk dari samping, masuk dari satu sisi. Mengacu kepada membawa masuk topik baru, yang belum siap diterima oleh pendengarnya. Di sini mengacu kepada guru-guru palsu yang membawa masuk ajaran-ajaran yang sia-sia dan palsu di samping ajaran-ajaran yang sejati. Ajaran-ajaran yang palsu itu disebut ajaran sesat yang membinasakan, atau secara harfiah adalah ajaran sesat kebinasaan.

“Sesat” dalam bahasa Yunaninya adalah hairesis, berarti pilihan-pilihan pendapat (dari doktrin) yang berbeda dengan yang biasanya diterima, “doktrin-doktrin pilihan sendiri, yang mutlak berbeda dengan realitas” (Alford). Doktrin-doktrin sedemikian menyebabkan perpecahan dan menimbulkan sekte-sekte. Dalam bahasa aslinya kata ini digunakan juga dalam Kisah Para Rasul 5:17 (aliran); 15:5; 24:5, 14; 26:5; 28:22; 1Korintus 11:19 (perpecahan); Galatia 5:20; dan dalam Titus 3:10, dalam bentuk kata sifat hairetikon (bidah). Di sini mengacu kepada doktrin-doktrin palsu dan bidah yang dibawa masuk oleh guru-guru palsu, para bidah, sama seperti doktrin aliran modernis hari ini.

Ajaran sesat meliputi tiga hal: pendapat, penyebab perpecahan, dan penghasil sekte-sekte. Karena itu, pendapat, perpecahan, dan sekte adalah tiga unsur penyusun ajaran sesat (bidah). Bidah, tentu saja tidak bersifat membangun. Bidah tidak dapat membangun gereja, malah merusak gereja. Karena itu, Petrus membicarakan bidah yang membinasakan atau bidah kebinasaan.

MENYANGKAL PENGUASA (TUHAN)

Menurut Petrus, Penguasa (Tl.: Tuan) yang telah menebus mereka pun disangkal oleh guru-guru palsu itu. “Penguasa” menyiratkan persona dan pekerjaan penebusan Tuhan. Guru-guru palsu pada zaman Petrus, seperti para penganut aliran modernis hari ini dalam kemurtadan mereka, menyangkal persona Tuhan sebagai Tuan, juga menyangkal penebusan-Nya yang dengannya Tuhan membeli kaum beriman.

Lima puluh tahun yang lalu ada semacam aliran modernisme yang kuat yang disebut Buchmanism, dikepalai oleh seorang profesor dari Universitas Oxford yang bernama Buchman. Buchman menerbitkan sebuah buku berjudul For Sinners Only (Hanya Untuk Orang Berdosa). Ketika kami di China, kami mengeritik buku ini dan menentangnya, karena buku ini tidak mengatakan apa-apa tentang darah Yesus. Di masa tuanya, Buchman memimpin satu pergerakan yang disebut “Moral Rearmament”. Buchman boleh dianggap sebagai seorang guru palsu, seorang yang menyangkal Tuan dan penebusan-Nya.

SEGERA MENDATANGKAN KEBINASAAN

ATAS DIRI MEREKA

Petrus mengatakan bahwa guru-guru palsu itu akan segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Sudah pasti, ini berarti kebinasaan akan datang ke atas diri mereka.

Dalam surat ini Petrus menggunakan tiga kata Yunani yang berbeda mengenai akibat kemurtadan di bawah penghakiman pemerintahan Allah:

(1) apollumi menandakan menghancurkan dengan tuntas; arti yang lebih lunak, binasa, seperti dalam 3:6. Pemikiran di sini bukanlah musnah, tetapi rusak, rugi (bukan keberadaannya, tetapi kesejahteraannya). Dalam Matius 10:28; 22:7; Markus 12:9; Lukas 17:27, 29; Yohanes 3:16; 10:28; 17:12; 1Korintus 10:9-10; 2Korintus 2:15; 4:3; 2Tesalonika 2:10; dan Yudas 5, 11, kata ini menyingkapkan lebih banyak tentang penghakiman pemerintahan Allah. Dalam 3:9, kata ini mengacu kepada hukuman pendisiplinan pemerintahan Allah.

(2) Apoleia, seakar dengan apollumi, mengacu kepada kerugian (bukan keberadaannya, tetapi kesejahteraannya), kerusakan, kehancuran, atau kebinasaan (jasmani, rohani, atau yang kekal). Apoleia diterjemahkan “membinasakan” dan “kebinasaan” dalam 2:1, 3; 3:7, 16. Kata yang sama digunakan untuk menunjukkan akibat yang berbeda-beda dari berbagai penghakiman Allah (lihat 1Ptr. 1:17). Dalam 2Petrus 2:1, 3; 3:7; Yohanes 17:12; Roma 9:22; Filipi 1:28; 3:19; 2Tesalonika 2:3; Wahyu 17:8, 11, kata ini berarti kebinasaan kekal. Dalam 2Petrus 3:16 dan Ibrani 10:39, kata ini mengacu kepada hukuman pendisiplinan pemerintahan Allah, bukan kebinasaan kekal. Dalam Matius 7:13 dan 1Timotius 6:9, kata ini mengacu kepada prinsip yang digunakan dalam setiap kasus.

(3) Phthora, mengacu kepada kerusakan hingga mencapai kebinasaan (kehancuran), kerusakan yang membawa kehancuran, pencemaran, suatu kehancuran oleh pencemaran (ditujukan pada moralitas, jiwa, dan tubuh). Kata ini diterjemahkan “membinasakan” dalam 1:4; “kebinasaan” dalam 2:19, “dimusnahkan” dan “binasa” dalam 2:12. Bentuk kata kerja phtheiro digunakan dalam bentuk pasif kala kelak dan diterjemahkan “akan binasa” dalam 2:12, dan dalam bentuk pasif kala kini, diterjemahkan “mengakibatkan kebinasaan” dalam Yudas 10. Artinya lebih lanjut dapat dilihat dalam Roma 8:21 (kebinasaan); 1Korintus 3:17 (membinasakan); 15:33 (merusakkan); 2Korintus 7:2; 11:3; Galatia 6:8; Wahyu 11:18 dan 19:2.

MENYEBABKAN JALAN KEBENARAN DIHUJAT

Dalam ayat 2 Petrus melanjutkan, “Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu,

dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.” Jalan kebenaran adalah jalan setapak kehidupan kristiani menurut kebenaran (truth); kebenaran ini adalah realitas isi Perjanjian Baru (1Tim. 2:4; 3:15; 4:3; 2Tim. 2:15, 18; Tit. 1:1). Jalan ini memiliki sebutan-sebutan lain sesuai dengan berbagai kebajikannya, seperti jalan yang lurus (2Ptr. 2:15; lihat Ibr. 12:13), jalan kebenaran (2Ptr. 2:21; Mat. 21:32), jalan damai sejahtera (Luk. 1:79; Rm. 3:17) jalan keselamatan (Kis. 16:17), jalan Allah (Mat. 22:16; Kis. 18:26), jalan Tuhan (Yoh. 1:23; Kis. 18:25), dan Jalan ini (Kis. 9:2; 19:9, 23; 22:4; 24:22). Jalan ini difitnah sebagai jalan sekte (Kis. 24:14).

Karena guru-guru palsu, jalan kebenaran ini difitnah. Karena jalan kebenaran adalah jalan realitas, dan jalan realitas adalah jalan ekonomi Allah, ini berarti guru-guru palsu akan menyebabkan seluruh wahyu Perjanjian Baru difitnah.

PENGHAKIMAN PEMERINTAHAN ALLAH

Dalam ayat 3 Petrus melanjutkan, “Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan cerita-cerita isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.” Surat 1Petrus menekankan penghakiman pemerintahan Allah (1Ptr. 4:17-18), ini dilanjutkan dalam Surat 2Petrus. Di bawah pemerintahan Allah, para malaikat yang jatuh ditangkap dan ditahan sampai waktu penghakiman (2:4), dan zaman air bah serta kota-kota Sodom dan Gomora semua telah dihakimi (ayat 5-9). Tetapi Allah akan mengadakan penghakiman yang serius dan hebat terutama terhadap para bidah Perjanjian Baru (ayat 10). Semua orang fasik akan dihakimi dan dibinasakan pada hari langit dan bumi dibakar dengan api (3:7). Untuk itu, Allah yang adil dan kudus telah memulai penghakiman pemerintahan-Nya atas rumah tangga-Nya sendiri — kaum beriman.

Dalam ayat 3 Petrus menunjukkan bahwa seperti Allah menghakimi guru-guru palsu di masa lampau, yaitu pada zaman dulu, yang diilustrasikan dalam ayat 4-9, demikian juga hari ini Ia akan menghakimi guru-guru palsu. Petrus berkata bahwa penghakiman atas mereka telah lama tersedia, dan kebinasaan tidak akan ditunda. Penghakiman Allah telah lama tersedia. Penghakiman ini akan menimpa guru-guru palsu, dan mereka akan dibinasakan.

PENGHAKIMAN TERHADAP

MALAIKAT YANG JATUH

Dalam 2:4-9 Petrus membicarakan penghakiman Allah atas malaikat dan manusia. Ayat 4 mengatakan, “Sebab Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka di mana mereka dirantai dalam kegelapan untuk disimpan sampai hari penghakiman.” Malaikat-malaikat di sini adalah malaikat-malaikat yang jatuh (lihat 1Ptr. 3:19; Why. 12:4). Menurut urutan fakta sejarah yang tercatat dalam pasal ini, mereka adalah malaikat-malaikat yang pertama jatuh dalam alam semesta. Malaikat-malaikat ini telah dilemparkan ke dalam lubang yang gelap, dilemparkan ke dalam Tartarus. Tartarus adalah lubang yang gelap tempat para malaikat yang jatuh ditahan, seperti dalam penjara. Lihat 1Petrus 3:19.

Malaikat-malaikat yang jatuh ditahan di Tartarus, sampai saat penghakiman pada hari besar (Yud. 6), mungkin adalah penghakiman takhta putih yang besar, yang dilaksanakan atas semua orang mati dan roh-roh jahat (setan-setan), dan mungkin juga atas para malaikat yang jatuh (Why. 20:11-15). Semua malaikat, roh jahat, dan manusia yang bersatu dengan Iblis dalam pemberontakannya, akan dihakimi pada waktu yang bersamaan, dengan cara dan akibat yang sama, segera setelah pemimpin mereka yang jahat dihakimi dan dicampakkan ke dalam lautan api (Why. 20:10). Ke dalam lautan api itu juga mereka akan dicampakkan. Lihat 1Ptr. 1:17.

PERKARA NUH DAN DUNIA YANG FASIK

Dalam ayat 5 Petrus berkata, “Allah juga tidak menyayangkan dunia purba; Ia hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lainnya (orang kedelapan) ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik.” Mengatakan Nuh adalah orang kedelapan (Tl.), berarti dia adalah salah satu dari delapan orang (1Ptr. 3:20). Di sini Petrus berkata bahwa Nuh adalah pemberita kebenaran. Benar dan saleh atau tidak benar dan fasik sangat besar kaitannya dengan penghakiman pemerintahan Allah (2Ptr. 2:5-9). Benar berarti benar terhadap manusia di hadapan Allah; dan saleh berarti mengekspresikan Allah di hadapan manusia. Inilah kehidupan yang ditempuh Nuh dan Lot, yang melepaskan mereka dari penghakiman pemerintahan Allah menurut kebenaran-Nya.

Nuh tidak memberitakan Injil, tetapi ia memberitakan kebenaran Allah berlawanan dengan kerusakan zamannya. Seperti telah kita tunjukkan, Petrus membicarakan kebenaran karena ia menekankan pemerintahan Allah. Nuh memberitakan kebenaran berkaitan dengan pemerintahan Allah. Allah memberi tahu Nuh bahwa Ia akan memusnahkan dunia, dan Nuh harus memberitakan kebenaran kepada angkatannya. Allah melaksanakan penghakiman-Nya atas angkatan yang bobrok itu dengan mendatangkan air bah atas dunia yang fasik itu.

PERKARA LOT DAN PENGHAKIMAN

ATAS SODOM DAN GOMORA

Ayat 6 melanjutkan, “Allah menghukum Kota Sodom dan Gomora, dan memusnahkannya dengan api dan menjadikannya peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian.” “Hidup fasik” adalah hidup dalam daging dan hawa nafsu manusia, bukan dalam kehendak Allah; mengikuti keinginan orang-orang yang tidak mengenal Allah (1Ptr. 4:2-3), dan menempuh hidup yang sia-sia, dan fasik (1Ptr. 1:18).

Dalam ayat 7-8 Petrus berkata, “Tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tidak mengenal hukum dan hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja — sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa.” Dalam beberapa ayat ini Petrus menggunakan tiga perkara: malaikat yang jatuh, Nuh dan angkatannya, Lot, dan Kota Sodom dan Gomora. Perkara-perkara ini dipaparkan berdasarkan urutan dalam Alkitab. Dalam Kitab Kejadian, mula-mula malaikat yang jatuh dihakimi oleh Allah, kemudian ada penghakiman atas angkatan Nuh, lalu ada penghakiman atas Kota Sodom dan Gomora.

Dalam 2:7 Petrus memberi tahu kita, Lot, orang benar, menderita karena cara hidup orang-orang yang tidak menge-nal hukum. Istilah “tidak mengenal hukum” berarti tidak mempunyai prinsip, berbeda dengan “perbuatan-perbuatan mereka yang jahat” dalam ayat 8. Di sini tidak mengenal hukum terutama berarti mereka yang melanggar hukum alam dan hati nurani. Sebagaimana Allah menghakimi orang-orang yang tidak mengenal hukum di Sodom dan Gomora, Ia juga akan menghakimi orang-orang pemburit hari ini.

Petrus menggunakan kata “benar” sebanyak tiga kali dalam ayat 7-8: Lot orang benar, orang benar ini, jiwanya yang benar. Kata “benar” ini digunakan sehubungan dengan pemerintahan Allah. Demikian pula, istilah Yunani yang diterjemahkan “tidak mengenal hukum” yang digunakan dalam ayat 7-8, juga digunakan berkaitan dengan pemerintahan.

TUHAN MENYELAMATKAN ORANG SALEH

DARI PENCOBAAN DAN

MENYIMPAN ORANG JAHAT UNTUK DISIKSA

PADA HARI PENGHAKIMAN

Dalam ayat 9 Petrus berkata, “Jadi, nyatalah bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari peng-hakiman.” Orang-orang saleh mengacu kepada orang-orang yang seperti Nuh dan Lot (ayat 5, 7), menempuh hidup yang saleh, berlawanan dengan mereka yang menempuh hidup yang tidak benar. Orang-orang jahat mengacu kepada orang-orang yang seperti pada zaman Nuh di Sodom dan Gomora, menempuh hidup yang tidak benar, menurut cara hidup yang penuh nafsu dari orang-orang yang tidak mengenal hukum. Hari penghakiman adalah akhir dari hari penghakiman takhta putih besar. Orang-orang fasik yang hidup dalam zaman Nuh dan Lot masih harus menghadapi penghakiman di takhta putih besar. Setelah penghakiman itu dilaksanakan, mereka akan dilemparkan ke dalam lautan api.