PERSEDIAAN ILAHI (8)
Pembacaan Alkitab: 2Ptr. 1:12-21
Setelah sebuah pendahuluan (1:1-2), Petrus berbicara mengenai persediaan ilahi (1:3-21). Persediaan ilahi mencakup dua hal: penyaluran kuat kuasa ilahi (1:3-11) dan sorotan kebenaran ilahi (1:12-21). Mengenai penyaluran kuat kuasa ilahi, ada dua butir utama: segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat dan ibadah, dengan sifat ilahi (ayat 3-4); dan pertumbuhan dan perkembangan oleh hayat untuk dengan limpah masuk ke dalam kerajaan kekal (ayat 5-11). Mengenai sorotan kebenaran ilahi, juga ada dua butir utama: kemuliaan kesaksian para rasul (ayat 12-18) dan terang perkataan nubuat (ayat 19-21). Dalam berita ini kita akan mengung-kapkan dua hal mengenai sorotan kebenaran ilahi ini.
MENGINGATKAN KAUM BERIMAN
Dua Petrus 1:12 mengatakan, “Karena itu, aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu tentang semuanya itu, sekali-pun kamu telah mengetahuinya dan teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima.” “Semuanya itu” mencakup hal-hal seperti kuat kuasa ilahi, hal-hal mengenai hayat dan ibadah, sifat ilahi, dan pengembangan kekayaan ilahi dalam pengalaman kita. Petrus senantiasa bermaksud mengingatkan kaum beriman mengenai hal-hal ini, sekalipun mereka telah mengetahui hal-hal ini dan telah teguh dalam kebenaran yang ada saat ini (kebenaran yang telah mereka terima).
“Kebenaran yang telah kamu terima” lebih baik diterjemahkan “kebenaran yang ada saat ini”. Maksudnya ialah kebenaran yang telah diterima kaum beriman dan yang sekarang ada pada mereka. Pada bagian pertama dari pasal ini, ayat 3-11, Petrus menggunakan persediaan hayat ilahi bagi kehidupan orang Kristen yang wajar untuk menyuntik mereka melawan kemurtadan. Pada bagian kedua, ayat 12-21, dia menggunakan wahyu kebenaran ilahi sebagai obat penangkal yang kedua, untuk menyuntik mereka melawan bidah dalam kemurtadan, yaitu bidah yang mirip dengan aliran modernisme hari ini. Persediaan hayat dan wahyu kebenaran adalah obat-obat penangkal yang digunakan oleh Petrus untuk menanggulangi kemurtadan.
Dalam ayat 13-14 Petrus mengatakan, “Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Perkataan “kemah tubuhku” mengacu kepada tubuh yang sementara (2Kor. 5:1). “Menanggalkan kemah tubuhku” adalah menanggalkan tubuh, terlepas dari tubuh (2Kor. 5:4), meninggalkan tubuh, mati secara jasmani. Petrus sama seperti Paulus (2Tim. 4:6), tahu bahwa dia akan meninggal dunia dengan mati martir, dan sekarang dia telah siap untuk hal ini. Dia ingat perkataan Tuhan kepadanya mengenai kematiannya, yang dikatakan pada waktu Tuhan menyuruhnya merawat domba-domba-Nya (Yoh. 21:15-19).
Dalam ayat 15 Petrus melanjutkan, “Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu.” Kata “kepergianku” (kata Yunani yang sama digunakan dalam Lukas 9:31), berarti meninggal dunia. Sekali lagi “semuanya itu” mengacu kepada apa yang telah diungkapkan Petrus dalam 1:1-11.
TIDAK MENGIKUTI DONGENG-DONGENG
ISAPAN JEMPOL MANUSIA
Dalam ayat 16 Petrus selanjutnya berkata, “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai Raja, sebaliknya kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.” “Dongeng-dongeng” adalah cerita-cerita takhayul isapan jempol manusia (yang dirancang dengan cerdik. Tl.) dalam filsafat Yunani, ini ber-hubungan dengan kemurtadan. Para rasul memberitakan dan mengajarkan kuasa dan kedatangan (bahasa Yunaninya “parousia”, kehadiran) Tuhan Yesus Kristus. Bagi orang-orang yang tidak percaya, pemberitaan mengenai kedatangan Tuhan kedengarannya lebih banyak seperti mitos atau dongeng takhayul. Tetapi di sini Petrus mengatakan bahwa para rasul tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia (yang dirancang dengan cerdik) ketika mereka memberitakan kuasa dan kedatangan Tuhan Yesus Kristus.
SAKSI-SAKSI MATA
TENTANG KEBESARAN TUHAN
Mengenai “saksi-saksi mata”, Darby menguraikan “diterima masuk ke dalam penglihatan kemuliaan yang langsung (di depan mata). Kata ini digunakan untuk menunjukkan pengenalan yang penuh ke dalam rahasia-rahasia”. Petrus menyadari bahwa dia, Yakobus, dan Yohanes telah diperkenan dengan sepenuhnya masuk ke dalam pengenalan yang tertinggi terhadap transfigurasi Tuhan, diakui sebagai orang-orang pertama yang melihat kebesaran-Nya. Dia menganggap transfigurasi Tuhan sebagai suatu tanda kedatangan-Nya untuk kali kedua, seperti yang Tuhan katakan dalam Lukas 9:26-36. Transfigurasi Tuhan dalam kemuliaan adalah suatu fakta, dan Petrus berada di dalamnya. Kedatangan kem-bali Tuhan dalam kemuliaan juga akan menjadi suatu fakta, sama riilnya dengan transfigurasi Tuhan, dan Petrus pun akan berada di dalamnya. Ini bukan dongeng yang dirancang dengan cerdik untuk diberitahukan kepada kaum beriman oleh para rasul.
Petrus mengatakan bahwa para rasul adalah saksi-saksi mata dari kebesaran Tuhan. Kebesaran ini menunjukkan kebesaran dalam kemegahannya, kehormatan, dan kemuliaan, bahkan kemuliaan yang megah, agung (2Ptr. 1:17), seperti yang dilihat oleh Petrus dan kedua murid lainnya pada transfigurasi Tuhan (Mat. 17:1-2; Luk. 9:32).
Dalam ayat 16 Petrus seolah-olah mengatakan, “Kami telah mengatakan kepada kalian bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan. Ini bukanlah satu dongeng atau mitos. Bahkan ketika Dia di bumi, kemuliaan memancar keluar dari Dia, dan Dia berubah rupa (bertransfigurasi). Kami melihat kebesaran-Nya ketika kami bersama Dia di atas gunung. Kami adalah saksi-saksi mata, kami dibawa ke dalam satu pandangan tentang kemuliaan-Nya.”
Dalam ayat ini Petrus menggabungkan transfigurasi Tuhan dengan kedatangan-Nya kembali. Ini berarti transfigurasi Kristus adalah satu pralambang dari kedatangan-Nya. Dalam Lukas 9:26-36, Tuhan Yesus juga menunjukkan bahwa transfigurasi-Nya adalah satu gambaran tentang kemuliaan-Nya dalam kedatangan-Nya kembali.
Dalam ayat 17-18 Petrus melanjutkan, “Sebab Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan, ‘Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.’ Kami sendiri mendengar suara itu datang dari surga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.” Kehormatan adalah masalah posisi, dan kemuliaan adalah masalah keadaan. Di gunung perubahan, Tuhan berada pada posisi kehormatan dan dalam keadaan kemuliaan.
Petrus mengatakan bahwa ada suara dari Yang Mahamulia datang kepada Tuhan. Yang Mahamulia dalam bahasa aslinya berarti kemuliaan kebesaran dalam kemegahan; ini menyatakan awan yang menutupi pada saat transfigurasi Tuhan (Luk. 9:34-35), seperti cahaya kemuliaan TUHAN yang menutupi tutup pendamaian (Kel. 25:20; 40:34).
Jika kita membaca catatan dalam Kitab Matius, Markus, dan Lukas mengenai transfigurasi Tuhan, kita akan melihat bahwa Yang Mahamulia dalam ayat 17 mengacu kepada awan yang menutupi. Petrus, Yakobus, dan Yohanes melihat awan, dan awan itu adalah kemuliaan. Demikian juga, dalam zaman dulu, setelah Kemah Pertemuan didirikan, Kemah itu dipenuhi dengan kemuliaan Allah, karena awan kemuliaan Allah menaungi Kemah Pertemuan itu. Awan itu sulit dibedakan dari kemuliaan, karena awan itu menyertai kemuliaan.
SUPAYA KAUM BERIMAN
BISA MENANGKAL KEMURTADAN
Surat ini ditulis pada waktu gereja merosot dan murtad. Kemurtadan adalah latar belakang surat ini. Beban Petrus adalah agar kaum beriman bisa menangkal racun kemurtadan. Kemurtadan adalah penyimpangan dari kebenaran atau kepercayaan dasar. Kira-kira 30 tahun setelah gereja didirikan, kemurtadan mulai menyusup ke dalamnya. Ada satu penyimpangan dari jalur kepercayaan dasar. Orang-orang tertentu mengajarkan bidah. Salah satu bidah ini adalah pengajaran yang menganggap kedatangan kembali Tuhan Yesus di dalam kemuliaan adalah satu mitos, satu dongeng yang tidak dapat diterima atau dipercaya. Seperti yang akan kita lihat dalam pasal 3, pengejek-pengejek berkata, “Di mana janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapak-bapak leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan” (3:4). Bidah dan kemurtadan ini menganggap pengajaran tentang kedatangan kembali Tuhan dalam kemuliaan untuk menghakimi bumi sebagai satu dongeng yang takhayul.
Pengajar-pengajar bidah pada zaman surat ini ditulis dapat disamakan dengan Kaum Modernis hari ini. Kaum Modernis adalah golongan guru-guru yang menegaskan bahwa Alkitab tidak diilhami oleh Allah dan bahwa mukjizat-mukjizat yang tercatat di dalam Alkitab hanyalah cerita-cerita takhayul. Contohnya, Kaum Modernis tidak percaya bahwa bani Israel menyeberang Laut Merah dengan cara yang ajaib. Sebaliknya, beberapa orang dari Kaum Modernis mengira bahwa bani Israel berjalan melalui air yang dangkal, air yang menjadi dangkal karena tiupan angin yang keras. Demikian juga, Kaum Modernis tidak percaya bahwa Tuhan Yesus memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan. Mereka menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa orang banyak itu membawa makanan mereka sendiri dan hanya memakan apa yang telah mereka bawa. Lebih serius lagi, Kaum Modernis mengajarkan bahwa Yesus tidak dilahirkan dari seorang perawan dan Dia bukan Allah. Mereka menegaskan bahwa Dia mati di atas salib bukan untuk penebusan kita, tetapi sebagai satu kurban untuk semacam aliran yang Dia percayai. Selanjutnya, mereka tidak percaya kebangkitan tubuh Tuhan Yesus. Dalam banyak hal, Kaum Modernis hari ini serupa dengan pengajar bidah pada abad pertama.
Dalam Surat ini Petrus memberi kaum beriman satu kesaksian yang kuat sebagai satu suntikan melawan bidah. Inilah alasannya dia menjelaskan bahwa para rasul tidak mengikuti dongeng-dongeng yang dirancang dengan cerdik ketika mereka berbicara kepada kaum beriman tentang kedatangan Tuhan Yesus. Petrus seolah-olah berkata, “Jangan mendengarkan pengajar bidah. Aku bersama Yakobus dan Yohanes, adalah saksi-saksi mata dari kebesaran Tuhan di gunung kudus. Kami bersama-Nya ketika Dia bertransfigurasi, dan kami mendengar suatu suara mengumumkan: ‘Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.’ Apa yang telah kami katakan kepadamu bukanlah sebuah legenda, mitos, atau dongeng yang takhayul. Kami bersaksi tentang apa yang telah kami lihat dan dengar. Kami melihat Tuhan Yesus bertransfigurasi, dan kami tahu bahwa seperti Dia dimuliakan dalam transfigurasi-Nya, Dia juga akan datang kembali dalam kemuliaan. Kamu perlu menerima perkataan kami dan mempercayainya.”
MEMPERHATIKAN PERKATAAN NUBUAT
Dalam 1:19-21 Petrus selanjutnya memakai perkataan nubuat yang terdapat dalam Perjanjian Lama untuk meneguhkan kesaksian mereka. Baik kesaksian rasul maupun perkataan nubuat dalam Kitab Suci adalah sorotan kebenaran. Sorotan ini adalah bagian dari persediaan ilahi, persediaan Allah yang dibuat oleh kekuatan-Nya supaya umat pilihan-Nya dapat meninggalkan bidah dan kemurtadan.
Dalam ayat 19 Petrus melanjutkan, “Dengan demikian, kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.” “Dengan demikian” menurut bahasa aslinya adalah “dan”, menunjukkan bahwa selain kebenaran transfigurasi Tuhan yang dibahas dalam ayat-ayat sebelumnya sebagai penangkal melawan dongeng-dongeng takhayul, masih ada kebenaran perkataan nubuat sebagai bukti yang lebih meyakinkan. Setelah membicarakan pengala-man pribadinya tentang kemuliaan Tuhan dalam transfigurasi-Nya, Petrus selanjutnya menggunakan perkataan nabi-nabi untuk menegaskan dan memperkuat kesaksiannya.
Petrus menunjukkan bahwa kaum beriman memperhatikan dengan baik perkataan nubuat. Ini berarti mereka mempelajari nubuat-nubuat Perjanjian Lama dan memperhatikannya.
Petrus mengibaratkan perkataan nubuat dalam Kitab Suci sebagai pelita yang bercahaya di tempat yang gelap. Ini menunjukkan bahwa (1) zaman ini adalah tempat gelap pada malam yang gelap (Rm. 13:12), semua orang di dunia ini berjalan dan bergerak di dalam kegelapan; (2) perkataan nubuat dalam Kitab Suci bagaikan pelita yang bercahaya bagi kaum beriman, menyampaikan terang rohani yang bercahaya di dalam kegelapan mereka (bukan sekadar pengetahuan dalam huruf-huruf untuk pengertian mental mereka), membimbing mereka masuk ke dalam hari yang terang, bahkan melewati malam yang gelap sampai hari penyataan Tuhan menyingsing. Sebelum Tuhan sebagai terang matahari itu muncul, kita perlu perkataan ini sebagai terang untuk menyoroti langkah-langkah kita.
Dalam bahasa Yunani, istilah “tempat yang gelap” juga dapat diterjemahkan tempat yang suram, yaitu tempat yang kotor, gersang, dan diabaikan orang. Ini adalah suatu kiasan yang menggambarkan kegelapan dalam kemurtadan. Zaman ini adalah sebuah tempat yang gelap, suram, kotor. Tetapi perkataan nubuat adalah sebuah pelita yang bersinar di dalam kegelapan.
FAJAR MENYINGSING
DAN BINTANG TIMUR TERBIT
Petrus mengatakan bahwa kita memperhatikan dengan baik perkataan nubuat sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit di dalam hati kita. Ini juga sebuah kiasan yang menggambarkan waktu yang akan datang yang penuh dengan terang, seperti fajar menyingsing, dengan bintang timur sebelum fajar terbit di dalam hati kaum beriman, disoroti dan diterangi melalui memperhatikan perkataan nubuat yang menyorotkan terang dalam Kitab Suci. Pada zaman kemurtadan adalah baik bagi kaum beriman untuk memperhatikan perkara ini, sehingga perkataan nubuat bisa bagaikan pelita memancarkan terang dalam kegelapan kemurtadan sampai fajar menyingsing atas mereka. Ini akan menyebabkan dan mendorong mereka menuntut penyertaan Tuhan dengan sungguh-sungguh dan berjaga-jaga supaya mereka jangan sampai tidak berjumpa dengan Tuhan pada bagian tersembunyi dari kedatangan-Nya (parousia-Nya), ketika Dia akan datang seperti pencuri (Mat. 24:27; 2Tes. 2:8). Jadi, kiasan ini pasti ditujukan kepada zaman yang akan datang, zaman kerajaan, sebagai fajar yang menyingsing pada penyataan-Nya (kedatangan Tuhan) (2Ptr. 1:16) sebagai surya kebenaran (Mal. 4:2) yang terang-Nya memancar menerobos kepekatan malam gelap zaman ini. Sebelum ini, pada waktu malam yang paling gelap, Tuhan akan muncul sebagai bintang timur (Why. 2:28; 22:16) bagi mereka yang berjaga-jaga dan merindukan penyataan-Nya yang terkasih (2Tim. 4:8). Mereka telah diterangi oleh terang perkataan nubuat, yang dapat memimpin mereka kepada fajar yang menyingsing.
Tidak salah bila kita katakan bahwa fajar yang menyingsing dalam 1:19 mengacu kepada waktu kedatangan Tuhan kembali. Pada hari itu, Tuhan akan bersinar sebagai Surya kebenaran. Waktu yang sangat dekat dengan penyataan Tuhan dapat disamakan dengan subuh, pada waktu itu Tuhan Yesus akan menjadi bintang timur bagi kaum beriman-Nya yang berjaga-jaga. Meskipun semuanya ini benar, Petrus mengatakan lebih banyak lagi. Sesungguhnya, dalam 1:19 Petrus membahas 2 masalah sekaligus. Dia mengatakan bahwa seluruh dunia adalah satu tempat yang gelap dan bahwa zaman sekarang ini adalah malam yang gelap. Jika kita tidak memiliki nubuat-nubuat Alkitab, kita juga akan berada dalam kegelapan, karena kita tidak mempunyai pelita. Tetapi perkataan nubuat adalah pelita kita yang bersinar dalam kegelapan. Ketika kita memperhatikan perkataan nubuat ini, kita menerima sorotan terang. Akhirnya, terang ini akan bersinar sampai fajar rohani menyingsing di dalam kita, dan sebuah bintang timur terbit di dalam hati kita. Karena itu, Petrus pertama-tama berbicara tentang hari rohani, fajar yang menyingsing di dalam kita. Dia juga berkata tentang hari yang akan datang, hari kedatangan Tuhan kembali.
Pengalaman kita menegaskan fakta bahwa dalam 1:19 Petrus mengatakan tentang hari rohani dan hari kedatangan Tuhan. Sering kali kita di dalam kegelapan dan mencari nubuat-nubuat dalam Alkitab. Ketika kita mempelajari nubuat-nubuat, suatu pelita mulai bersinar di dalam kita. Dengan spontan kita mempunyai perasaan bahwa kita tidak lagi berada dalam malam hari, melainkan dalam siang hari, karena fajar rohani telah menyingsing di dalam kita. Kita tidak hanya mempunyai pelita yang bersinar, tetapi juga fajar yang menyingsing. Betapa menyenangkan, karena bintang timur terbit di dalam hati kita! Meskipun ada kegelapan di sekeliling kita, di dalam kita ada bintang timur.
Seperti yang telah kita jelaskan, fajar yang menyingsing dalam 1:19 juga mengacu kepada hari yang akan datang ketika Tuhan Yesus akan datang kembali sebagai Surya kebenaran. Sebelum kedatangan-Nya yang kelihatan, Dia akan menjadi bintang timur bagi orang-orang yang berjaga-jaga menantikan Dia. Karena itu, perkataan Petrus dalam 1:19 berlaku untuk situasi rohani kita dan kedatangan Tuhan.
PERKATAAN NUBUAT BERSINAR DI DALAM KITA
Jika kita memperhatikan nubuat-nubuat Alkitab, kita akan mengalami pelita bersinar di dalam kita, menikmati bintang timur terbit di dalam hati kita, dan mempunyai fajar rohani menyingsing di dalam kita. Kita mungkin tinggal dalam kondisi ini sampai waktu yang sebenarnya tiba ketika Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai bintang timur dan ada fajar menyingsing yang menyertai-Nya sebagai Surya kebenaran. Saya percaya bahwa inilah penjelasan yang tepat dari 1:19.
Tidak lama setelah saya beroleh selamat, saya mulai mem-baca kitab-kitab nubuat. Selama tahun-tahun itu saya bersama The Brethren (Kaum Saudara), saya mendengar banyak berita tentang nubuat dalam Kitab Daniel, Kitab Wahyu, dan kitab-kitab lain. Selama lebih dari setengah abad, hayat kristiani saya telah diterangi oleh nubuat-nubuat ini. Melalui Saudara Watchman Nee, saya mengenal tulisan-tulisan Pember, Govett, dan Panton mengenai nubuat. Saya dapat bersaksi bahwa pengetahuan tentang nubuat ini telah membantu menerangi saya. Meskipun perubahan-perubahan besar telah terjadi di dunia selama 50 tahun yang lalu, saya tidak heran, karena terang dari perkataan nubuat dalam Alkitab. Saya juga dapat bersaksi bahwa menurut perkataan Petrus, saya menik-mati bintang timur dan fajar rohani menyingsing di batin.
Pertama-tama kita mempunyai sinar perkataan nubuat, dan kemudian sinar ini menjadi fajar yang menyingsing di dalam kita. Secara lahiriah kita hidup dalam zaman kegelapan, tetapi secara batiniah kita dipenuhi terang. Kita mungkin terus menikmati bintang timur dan fajar rohani yang menyingsing sampai Tuhan muncul sebagai bintang timur kepada orang-orang yang berjaga-jaga dan menyingsing sebagai Surya kebenaran.
Dalam ayat ini Petrus seolah-olah berkata, “Saudara-saudara, sebagai kaum beriman Yahudi, kalian mempunyai banyak pengetahuan tentang nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama, dan kalian telah mendengar kesaksian kami mengenai kedatangan Tuhan. Sekarang beberapa pengajar bidah mencoba mengatakan kepada kalian bahwa ini adalah takhayul, adalah sebuah dongeng, mitos, atau legenda. Jangan dengarkan mereka, dan jangan menerima ajaran bidah. Kalian mempunyai kesaksian kami, dan kalian mempunyai perkataan nubuat yang bersinar di dalam kalian. Perkataan nubuat ini akan bercahaya di dalam kalian sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit di dalam hati kalian.”
NUBUAT KITAB SUCI
BUKAN TAFSIRAN SESEORANG
Dalam ayat 20 Petrus melanjutkan, “Yang terutama harus kamu ketahui ialah bahwa tidak ada nubuat dalam Kitab Suci yang ditafsirkan menurut kehendak diri sendiri” (Tl.). Di sini “diri sendiri” mengacu kepada nabi yang bernubuat, atau penulis yang menulis nubuat. Dalam bahasa Yunani kata “ditafsirkan” secara harfiah berarti dilonggarkan, dilepaskan. Jadi, berarti diungkapkan, dijelaskan, diterangkan. Ditafsirkan menurut kehendak diri sendiri berarti menjelaskan atau menerangkan menurut nabi atau penulis itu sendiri, bukan didorong oleh Allah melalui Roh Kudus. Pemikiran di sini ialah: tidak ada nubuat dalam Kitab Suci yang berasal dari konsepsi, opini, atau pengertian nabi atau penulis itu sen-diri; tidak ada nubuat yang berasal dari sumber manusia; tidak ada nubuat yang berasal dari pemikiran pribadi nabi atau penulis mana pun. Ini dipastikan dan dijelaskan oleh ayat berikutnya.
DIHASILKAN OLEH ROH KUDUS
Ayat 21 mengatakan, “Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” “Sebab” adalah satu penjelasan atas ayat sebelumnya. Tidak ada nubuat dalam Kitab Suci yang berasal dari penjelasan nabi atau penulis, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak ma-nusia. Sebaliknya, manusia berbicara dari Allah oleh dorongan Roh Kudus.
Kata “dihasilkan” di sini dalam bahasa aslinya sama dengan kata yang digunakan dalam ayat 17-18 (LAI, datang). Tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia. Maksud, keinginan, dan harapan manusia, serta pemikiran dan penjelasannya, bukanlah sumber nubuat mana pun. Sumber nubuat adalah Allah. Manusia didorong oleh Roh Allah, seperti perahu yang didorong oleh angin, untuk mengutarakan kehendak, keinginan, dan harapan Allah.
Karena nabi-nabi digerakkan atau didorong oleh Roh Kudus, maka apa yang mereka ucapkan bukan berasal dari tafsiran atau kehendak mereka sendiri. Sebaliknya, apa yang mereka katakan adalah kehendak Allah, konsepsi Allah diucapkan oleh nabi yang digerakkan atau didorong oleh Roh Kudus.
SATU PERKATAAN YANG DAPAT DIANDALKAN
DAN DIPERCAYA
Ayat 20-21 membuktikan bahwa perkataan nubuat sepenuhnya dapat diandalkan dan dipercaya. Nubuat dalam Kitab Suci tidak berasal dari opini manusia. Nubuat ini adalah firman Allah, perkataan Allah. Karena itulah, kita harus percaya apa pun yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Di sini Petrus seolah-olah mengatakan, “Nubuat dalam Alkitab benar-benar berasal dari Allah. Karena itu, nubuat itu dapat dipercaya. Jangan mendengarkan ajaran bidah dari orang-orang yang murtad, dari orang yang telah menyimpang dari rel kebenaran ilahi. Sebaliknya, kalian harus memperhatikan nubuat-nubuat Perjanjian Lama dan juga memegang kesaksian kita.”
Seperti yang akan kita lihat, dalam 2:1 Petrus mengatakan, “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” Di sini Petrus mengatakan bahwa ada nabi-nabi palsu di antara orang-orang pada zaman dulu dan pada zaman yang akan datang akan ada guru-guru palsu di tengah-tengah kaum beriman. Guru-guru palsu ini akan membawa masuk ajaran-ajaran bidah yang merusak. Perkataan Petrus pada akhir pasal 1 memimpin dia untuk mengatakan tentang kemurtadan dalam pasal 2. Beban Petrus adalah supaya kaum beriman bisa menangkal kemurtadan ini.