PERSEDIAAN ILAHI (6)
Pembacaan Alkitab: 2Ptr. 1:5-11
Dalam berita ini kita akan membahas 1:5-11. Bagian Surat 2Petrus ini adalah mengenai pertumbuhan dan perkembangan oleh hayat untuk dengan limpah masuk ke dalam kerajaan kekal.
MENGEMBANGKAN BENIH IMAN
Kebajikan
Ayat 5 mengatakan, “Justru karena itu, kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan.” Istilah “sungguh-sungguh berusaha” di sini dalam bahasa aslinya berarti “sungguh-sungguh berusaha dengan rajin”. Selain janji-janji yang berharga dan sangat besar yang Allah berikan kepada kita, kita harus sungguh-sungguh berusaha dengan rajin bekerja sama dengan penguatan dari kekuatan sifat ilahi yang dinamis untuk menggenapkan janji-janji Allah.
Dalam ayat 5 Petrus mendorong kita untuk dengan sungguh-sungguh berusaha menambahkan kepada iman kita kebajikan. Perkara yang telah diberikan kuasa ilahi kepada kita dalam 1:3-4 dikembangkan dalam ayat 5-7. Menambahkan kebajikan atas iman adalah mengembangkan kebajikan dengan menggunakan iman. Ini berlaku bagi semua butir lainnya.
Kata “menambahkan” di sini sebenarnya berarti mengembangkan. Petrus menyuruh kita mengembangkan apa yang telah kita miliki. Kita mempunyai iman, dan sekarang di atas iman kita, kita perlu mengembangkan kebajikan.
Iman yang disebutkan Petrus dalam 1:5 adalah iman yang sama berharganya yang Allah berikan kepada kita (1:1) sebagai bagian bersama dari berkat hayat Perjanjian Baru untuk memulai kehidupan kristiani kita. Kita perlu menggunakan iman ini supaya kebajikan hayat ilahi dapat dikembangkan dalam langkah berikutnya, dan mencapai kematangan. Iman dalam 2Petrus 1 dapat disamakan dengan sebutir benih. Pada saat yang lain saya telah menjelaskan bahwa dalam 1Petrus 1 benih ini adalah firman dengan Kristus di dalamnya sebagai hayat. Kini dalam 2Petrus 1 benih ini menjadi iman kita, tidak diragukan, ini adalah iman yang sama berharganya. Iman yang berharga ini adalah satu dengan Kristus sebagai benih.
Setelah ditaburkan di tanah, sebuah benih perlu berkembang. Begitu pula dengan perkembangan benih iman. Atas iman kita, kita perlu mengembangkan kebajikan. Secara harfiah, istilah Yunani untuk kata kebajikan berarti keunggulan. Ini mengacu kepada kekuatan hayat ilahi yang menghasilkan tindakan yang penuh vitalitas. Jika iman dianggap sebagai benih, kebajikan dapat dianggap sebagai akar yang keluar dari benih ini.
Pengetahuan
Dalam 1:5 Petrus juga menyuruh kita untuk menambahkan “kepada kebajikan pengetahuan.” Kebajikan, tindakan yang penuh vitalitas, memerlukan suplai limpah dari pengenalan akan Allah dan Yesus Tuhan kita (ayat 2-3, 8) agar kita menikmati perkembangan selanjutnya. Pengenalan ini adalah segala hal yang berhubungan dengan hayat ilahi dan ibadah, dan berhubungan dengan kita mengambil bagian dalam sifat ilahi (ayat 3-4). Pengetahuan yang harus kita kembangkan di dalam kebajikan kita termasuk pengetahuan akan Allah dan Juruselamat kita, pengetahuan akan ekonomi Allah, pengetahuan akan iman, dan pengetahuan akan kekuatan, kemuliaan, kebajikan, sifat, dan hayat ilahi. Sebenarnya, ini adalah pengetahuan tentang segala hal yang berhubungan dengan hayat dan ibadah. Kita harus mempunyai perkembangan pengetahuan ini dalam kebajikan kita. Tidaklah cukup mempunyai kebajikan tanpa pengetahuan. Saya percaya bahwa pengetahuan juga adalah satu akar yang utama yang berkembang dari benih iman. Dengan kebajikan dan pengetahuan kita mempunyai pertumbuhan benih itu.
Penguasaan Diri
Dalam ayat 6 Petrus melanjutkan, “Dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan.” Penguasaan diri atau pembatasan diri adalah mengendalikan dan membatasi diri atas nafsu, keinginan, dan kebiasaan. Ini perlu disuplai dan dikembangkan dalam pengetahuan bagi pertumbuhan hayat yang wajar.
Begitu kita telah memperoleh pengetahuan, kita mudah menjadi sombong. Karena inilah, kita perlu mengembangkan dalam pengetahuan kita penguasaan diri. Penguasaan diri menyiratkan pembatasan. Ketika sebatang pohon bertumbuh, akar-akarnya menyebar, tetapi batang pohon tumbuh ke atas dengan cara yang lebih terbatas. Ini adalah sebuah ilustrasi tentang fakta bahwa sepanjang yang menyangkut perkembangan kebajikan dan pengetahuan, kita perlu pembatasan yang didatangkan oleh penguasaan diri.
Ketekunan
Menurut perkataan Petrus dalam ayat 6, kepada penguasaan diri kita perlu mengembangkan ketekunan. Penguasaan diri adalah menanggulangi diri sendiri; ketekunan adalah sabar terhadap orang lain dan situasi. Untuk menempuh hidup sebagai orang Kristen yang tepat, kita perlu bersabar terhadap orang-orang di sekeliling kita dan juga terhadap lingkungan dan keadaan sekitar kita.
Ibadah (Kesalehan)
Kepada ketekunan kita, kita perlu mengembangkan ibadah. Ibadah adalah satu kehidupan yang seperti Allah dan mengekspresikan Allah. Ketika kita mengendalikan diri sendiri serta sabar terhadap orang lain dan situasi, kita perlu mengembangkan ibadah dalam kehidupan rohani kita, supaya kita dapat seperti Allah dan mengekspresikan Dia. Jika iman adalah benih, kebajikan dan pengetahuan adalah akar, penguasaan diri adalah batang, lalu ketekunan dan ibadah adalah ranting-rantingnya. Di sini kita melihat satu perkembangan yang lebih sempurna; dari benih ke akar, batang, dan ranting-ranting. Akhirnya, dalam ayat 7 kita melihat kasih persaudaraan dan kasih sebagai bunga dan buah.
Kasih Persaudaraan dan Kasih
Dalam ayat 7 Petrus menyimpulkan, “Dan kepada ibadah kasih terhadap saudara-saudara, dan kepada kasih terhadap saudara-saudara, kasih” (Tl.). Istilah Yunani yang diterjemahkan “kasih terhadap saudara-saudara” adalah philadelphia, tersusun dari phileo, memiliki kasih untuk, dan adelphos, saudara; jadi berarti kasih persaudaraan, kasih yang bercirikan sukacita dan perkenan. Atas ibadah, yang adalah pengekspresian diri Allah, perlu suplai kasih ini agar kita bisa mempertahankan hubungan persaudaraan (1Ptr. 2:17; 3:8; Gal. 6:10), bisa bersaksi kepada orang dunia (Yoh. 13:34-35), dan bisa berbuah (Yoh. 15:16-17).
“Kasih” dalam ayat 7 dalam bahasa Yunaninya adalah agape, kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru untuk kasih ilahi, yaitu apa adanya Allah dalam sifat-Nya (1Yoh. 4:8, 16). Ini lebih agung daripada kasih manusia, phileo; menghiasi semua pekerti kehidupan orang Kristen (1Kor. 13; Rm. 13:8-10; Gal. 5:13-14). Kasih ini lebih kuat dalam kemampuan dan lebih besar dalam kapasitas daripada kasih manusia (Mat. 5:44, 46), tetapi orang beriman yang hidup berdasarkan hayat ilahi (2Ptr. 1:3) dan berbagian atas sifat Allah (ayat 4) dapat dijenuhi oleh kasih ini dan dengan sepenuhnya mengekspresikan kasih ini. Kasih sedemikian ini perlu dikembangkan dalam kasih persaudaraan, untuk mengendalikan kasih terhadap saudara dan mengalir di dalamnya sehingga dengan sepenuhnya mengekspresikan Allah yang yang adalah kasih. Iman boleh dianggap sebagai benih hayat, dan kasih yang lebih agung ini adalah buah (ayat 8) dari perkembangannya yang penuh. Keenam tahap perkembangan di antaranya adalah tahap-tahap pertumbuhan benih ini hingga mencapai kematangan.
Pemikiran Petrus dalam 1Petrus 1 adalah keselamatan sempurna Allah Tritunggal menghasilkan pengudusan dan kasih persaudaraan. Pengudusan berhubungan dengan ibadah. Jadi, hasil dari keselamatan sempurna Allah adalah ekspresi Allah dan kasih persaudaraan. Menurut beberapa terjemahan, kata “kasih” dalam 2Petrus 1:7 menyatakan kasih yang tidak hanya untuk saudara-saudara Kristen, tetapi untuk semua manusia. Menurut pengertian ini, pertama kita mengasihi saudara-saudara, kemudian kita mengasihi semua manusia. Akan tetapi, saya tidak percaya bahwa pengertian sedemikian ini akurat.
Kita telah menunjukkan bahwa agape lebih mulia daripada phileo. Dalam kualitas dan mungkin juga dalam jumlah agape lebih besar daripada phileo. Kadang-kadang kita dapat mengasihi saudara-saudara yang dekat dan terbatas dengan sejumlah kasih persaudaraan. Dalam kasih kita, kita mungkin mempunyai pilihan dan mengasihi saudara tertentu melebihi yang lain. Kita mungkin mengatakan bahwa kita mengasihi semua orang beriman, tetapi kasih kita untuk mereka tidak sama. Karena Petrus telah mengalami dan mengetahui situasi di antara kaum beriman, dia tidak berhenti dengan kasih persaudaraan, tetapi melanjutkan mengatakan tentang kasih (agape), kasih yang dalam dan mulia yang dengannya Allah Bapa mengasihi semua manusia, baik kaum beriman maupun orang-orang dosa.
Dalam Matius 5:44-47 Tuhan Yesus berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?” Sebagaimana Allah mengirimkan hujan baik ke atas orang benar maupun orang yang tidak benar, kita seharusnya tidak hanya mengasihi saudara-saudara kita tetapi juga musuh-musuh kita. Mengasihi saudara sendiri tidak memerlukan banyak kekuatan dan tenaga. Tetapi mengasihi musuh-musuh kita memerlukan satu kekuatan dan tenaga yang khusus. Kita semua perlu memiliki kasih yang mulia ini.
Sebenarnya, dalam hidup gereja kita mungkin lebih menyukai seorang saudara yang kita anggap menyenangkan dan mengasihinya, tetapi kita mungkin tidak menghargai saudara yang lainnya seperti saudara itu. Kita mungkin mengasihi keduanya, tetapi kasih itu dangkal. Karena itu, kita perlu satu kasih yang lebih dalam dan lebih mulia. Kasih ini adalah agape. Bila kita memiliki kasih semacam ini, kita mengasihi semua saudara dengan kasih yang sama, tidak peduli saudara-saudara macam apakah mereka itu.
Dalam 1:5-7 kita mempunyai perkembangan dari iman kepada kasih. Perkembangan ini mencakup kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, dan ibadah. Akhirnya, kita mempunyai perkembangan yang sempurna dan kematangan dari benih iman, melalui akar-akar dari kebajikan dan pengetahuan, batang penguasaan diri, dan ranting-ranting ketekunan dan ibadah, kepada bunga dan buah kasih persaudaran dan kasih.
“SEMUANYA” ADA DI DALAM KITA DAN BERLIMPAH
Dalam ayat 8 Petrus selanjutnya berkata, “Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kata “semuanya” mengacu kepada semua kebajikan yang dibahas dalam ayat 5-7, dari iman sampai kasih. Iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, ibadah, kasih persaudaraan, dan kasih, semuanya harus ada di dalam kita. Namun, ini hanya beberapa dari “segala sesuatu” yang telah diberikan kepada kita oleh kekuatan ilahi. Kita perlu melihat bahwa semua hal ini tercakup di dalam benih. Benih ini mengandung akar, batang, ranting-ranting, bunga, dan buah.
Bahasa Yunani untuk kata “ada” adalah huparcho, berarti suatu barang yang sudah menjadi milik seseorang dari mulanya, karena itu menjadi hak miliknya yang sah sampai sekarang. Ini menunjukkan bahwa semua kebajikan yang disebut dalam ayat 5-7 adalah milik kaum beriman dan ada (tinggal) di dalam mereka selamanya melalui pengalaman mereka berbagian atas segala kelimpahan sifat ilahi.
Petrus mengatakan bahwa kebajikan-kebajikan ilahi ini bukan hanya ada di dalam kita, tetapi juga berlimpahlimpah (berlipat ganda). Kebajikan ilahi tidak hanya ada di dalam dan dimiliki oleh kaum beriman, tetapi juga berlimpah dan berlipat ganda di dalam mereka oleh karena perkembangan dan pertumbuhan hayat ilahi. Segala kebajikan itu telah ada di dalam benih, dan sekarang mereka menunggu kesempatan untuk berlipat ganda. Agar kebajikan-kebajikan di dalam benih berlipat ganda, benih itu perlu disebarkan di tanah dan kemudian bertumbuh dan berkembang sampai ia berbunga dan menghasilkan buah.
DISUSUN MENJADI TIDAK MALAS
DAN BUKAN TIDAK BERBUAH
Petrus mengatakan bahwa jika semuanya ada dan berlimpah-limpah di dalam kita, semuanya itu akan menyusun kita sehingga tidak malas atau bukan tidak berbuah sampai kepada pengenalan yang penuh akan Tuhan kita Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa kebajikan-kebajikan hayat dan sifat ilahi adalah unsur-unsur dari susunan rohani kita, apa adanya rohani kita, sehingga kita menjadi orang-orang yang tidak memiliki unsur kemalasan dan tidak berbuah.
Disusun berbeda dengan mencoba untuk membetulkan diri sendiri, membenahi diri sendiri, atau memperbaiki diri sendiri. Agar dapat disusun kita harus mempunyai satu unsur tertentu. Unsur-unsur, bahan-bahan sifat ilahi adalah unsurunsur penyusun yang kita perlukan.
Orang Kristen sering kali didesak dan diajar untuk memperbaiki diri sendiri. Namun dalam Perjanjian Baru kita tidak didesak untuk mengoreksi diri sendiri; kita didesak untuk disusun dengan unsur-unsur sifat ilahi. Tokoh agama mungkin mengajar orang-orang untuk memperbaiki diri, tetapi dia pasti tidak mengajar orang-orang untuk disusun dengan sifat ilahi.
Ada perbedaan antara mengembangkan sesuatu dengan tersusun oleh sesuatu. Mengembangkan sesuatu menyiratkan bahwa kita telah mempunyai sesuatu yang perlu dikembangkan. Tetapi disusun oleh sesuatu menyiratkan bahwa sesuatu yang belum kita miliki akan ditambahkan kepada kita. Kita mempunyai iman sebagai satu benih yang mencakup Kristus sebagai hayat. Sesungguhnya, benih ini adalah Allah Tritunggal. Kita telah melihat bahwa kita perlu mengembangkan dalam iman kita, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, ibadah, kasih persaudaraan, dan kasih. Kita juga perlu disusun dengan segala unsur yang kita kembangkan ini.
Sesungguhnya, manusia alamiah kita perlu disusun ulang. Dari waktu kita dilahirkan, kita telah disusun sebagai persona tertentu. Sekarang, karena kita telah dilahirkan kembali, kita perlu disusun ulang; yaitu kita perlu disusun dengan unsur-unsur sifat ilahi. Kita pernah disusun dalam hayat alamiah kita. Kini dalam kelahiran baru kita, kita memiliki hayat yang baru, maka kita perlu disusun ulang dengan sifat ilahi. Sifat ilahi limpah atas bahan-bahan, atas unsur-unsur penyusun, kita perlu membangun diri kita sendiri dengan unsur-unsur ini menjadi manusia Allah, menjadi orang yang berbaur dengan Allah Tritunggal.
Jika kita disusun dengan unsur-unsur sifat ilahi, kita tidak akan bermalas-malasan atau tidak berbuah. Secara harfiah, dalam bahasa Yunani kata “malas” berarti tidak bekerja. Seseorang mungkin tidak malas, tetapi tidak berbuah. Untuk berbuah perlu banyak pertumbuhan dalam hayat dan lebih banyak suplai hayat. Malas dan tidak berbuah adalah unsur-unsur penyusun manusia alamiah kita yang jatuh; bekerja (kekuatan hayat) dan berbuah adalah unsur-unsur penyusun manusia kita yang bertumbuh dalam hayat ilahi. Petrus memakai kata “tidak berbuah” dalam ayat 8, menyatakan bahwa apa yang dikatakan dalam ayat 5-7 adalah perkembangan pertumbuhan hayat ilahi sampai kepada kematangannya.
Kata “malas” menyiratkan banyak hal. Tampaknya kata ini tidak begitu berarti. Sesungguhnya, kata ini sangat penting dan menyiratkan banyak hal. Kita dapat mengatakan bahwa pergunjingan adalah satu tanda kemalasan. Bergunjing adalah tanda kemalasan. Orang semacam ini mungkin tidak menggunakan cukup waktu untuk membaca firman dan berdoa, menggunakan alasan bahwa dia terlalu sibuk. Tetapi orang semacam ini tidak sibuk, melainkan malas.
DALAM PENGENALAN YANG PENUH
AKAN KRISTUS
Dalam ayat 8 Petrus mengatakan tentang tidak malas atau tidak berbuah (LAI: dibuat giat dan berhasil) kepada (dalam) “pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita”. Susunan yang berunsurkan kebajikan-kebajikan rohani maju dalam banyak tahap menuju pengenalan yang penuh akan Tuhan kita Yesus Kristus, sasarannya ialah memiliki pemahaman yang penuh atas perwujudan Allah Tritunggal yang almuhit. Bagian firman ini memakai tiga kata depan mengenai hubungan antara pengalaman hayat dengan pengenalan rohani: oleh (dalam) — ayat 2, mengacu kepada ruang lingkup pengetahuan; oleh (melalui) — ayat 3, mengacu kepada saluran pengetahuan; dan dalam (kepada) — ayat 8, mengacu kepada pengenalan dalam pengharapan sebagai sasaran. Pengenalan kita akan Tuhan dalam pengalaman bertambah menurut tingkat pertumbuhan kita dalam hayat.
MENJADI PICIK (RABUN JAUH)
Dalam ayat 9 Petrus mengatakan, “Tetapi siapa saja yang tidak memiliki semuanya itu menjadi buta dan picik (rabun jauh), karena ia lupa bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.” Seperti dalam ayat 8, “semuanya itu” mengacu kepada semua kebajikan yang dibahas dalam ayat 5-7. Orang yang tidak memiliki semuanya itu adalah orang yang buta, menjadi rabun jauh. Dalam bahasa aslinya, kata “picik” berasal dari akar kata yang berarti “menutup mata” (karena terang yang besar); karena itu, berarti rabun jauh. Rabun jauh ini adalah buta secara rohani, tidak dapat melihat sesuatu yang lebih jauh dalam hayat dan sifat ilahi Allah Tritunggal yang disalurkan ke dalam kaum beriman sebagai suplai mereka yang limpah.
Secara harfiah dalam bahasa Yunani kata “lupa” berarti “bermaksud melupakan”, yaitu bermaksud melupakan penga-laman pembasuhan dosa-dosanya yang dahulu. Pembasuhan itu bertujuan supaya dia berbagian dalam sifat Allah, maju dalam sifat ilahi dan mencapai kematangan hayat. Ini bukan berarti menyangkal pengakuan setia yang dibuat saat percaya Kristus dan dibaptis ke dalam-Nya, juga bukan berarti bahwa dia telah kehilangan kepastian keselamatan yang dia terima pada waktu dia percaya dan dibaptis, tetapi berarti dia telah mengabaikan makna permulaan keselamatan terhadap dirinya.
BERUSAHA SUNGGUH-SUNGGUH MEMBUAT
PANGGILAN DAN PILIHAN KITA MAKIN TEGUH
Dalam ayat 10 Petrus melanjutkan, “Karena itu, Saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melaku-kannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” “Berusahalah sungguh-sungguh” di sini adalah mengembangkan kebajikan-kebajikan rohani dalam hayat ilahi, maju dalam pertumbuhan hayat ilahi. Ini meneguhkan panggilan dan pilihan Allah terhadap kita.
Jika kita rajin mengembangkan kebajikan yang disebutkan dalam ayat 5-7, kita akan menegaskan, meyakinkan pemanggilan dan pemilihan kita. Kita tidak akan pernah ragu bahwa kita telah dipanggil oleh Allah dan dipilih oleh-Nya. Akan tetapi, beberapa orang mungkin mempertanyakan apakah Allah telah memilih mereka. Alasan mereka meragukan hal ini adalah mereka kekurangan kebajikan-kebajikan yang ditulis oleh Petrus. Tetapi jika kita mengembangkan kebajikan-kebajikan ini dan disusun dengannya, kita akan mempunyai penegasan bahwa kita telah dipanggil dan dipilih. Dengan demikian pemanggilan dan pemilihan kita menjadi teguh. Selanjutnya, dalam melakukan hal-hal ini kita tidak akan pernah tersandung, sebab kita telah disusun sepenuhnya.
JALAN MASUK KE DALAM KERAJAAN KEKAL
Dalam ayat 11 Petrus menyimpulkan, “Dengan demikian, kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” “Dikaruniakan hak penuh” dalam bahasa aslinya berarti “disuplaikan secara kaya dan berlimpah”. Suplai berlimpah yang kita nikmati dalam perkembangan hayat ilahi dan sifat ilahi akan dengan berlimpah menyup-lai kita, sehingga kita dengan penuh limpah masuk ke dalam kerajaan kekal Tuhan kita. Ini akan memungkinkan dan melayakkan kita masuk ke dalam kerajaan yang akan datang berdasarkan semua kelimpahan hayat ilahi dan sifat ilahi sebagai kebajikan yang unggul (kekuatan) hingga mencapai kemuliaan Allah yang cemerlang. Ini bukan sekadar beroleh selamat, lebih-lebih menuntut pertumbuhan dan kematangan dalam hayat ilahi setelah beroleh selamat, dan dengan demikian menerima pahala kerajaan.
Kerajaan kekal dalam ayat ini mengacu kepada Kerajaan Allah yang diberikan kepada Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Dan. 7:13-14), yang akan dinyatakan pada kedatangan-Nya kembali (Luk. 19:11-12). Ini akan menjadi pahala bagi kaum beriman-Nya yang setia, yang menuntut pertumbuhan dalam hayat-Nya hingga mencapai kematangan dan perkembangan kebajikan-kebajikan sifat-Nya, supaya pada masa Kerajaan Seribu Tahun mereka boleh berbagian dalam jabatan raja-Nya dalam kemuliaan Allah (2Tim. 2:12; Why. 20:4, 6). Karena itu, masuk ke dalam kerajaan kekal Tuhan berhubungan dengan masuk ke dalam kemuliaan kekal Allah, yang ke dalamnya Allah di dalam Kristus telah memanggil kita (1Ptr. 5:10; 1Tes. 2:12).
Dua Petrus 1:11 menunjukkan bahwa kita mungkin mempunyai sebuah jalan masuk yang kaya dan limpah ke dalam kerajaan Tuhan kita. Akan tetapi, banyak orang Kristen tidak akan mempunyai sebuah jalan masuk semacam ini, sebab mereka belum pernah membangun jalan masuk ini dengan mengembangkan benih ilahi sampai kepada kedewasaan. Jika kita tidak disusun dengan kebajikan-kebajikan ilahi, kita tidak akan dapat membangun sebuah jalan masuk semacam ini. Tetapi jika kita mempunyai perkembangan hayat ilahi dan disusun dengan unsur-unsur sifat ilahi, kita akan mendapatkan sebuah jalan masuk yang kaya dan limpah ke dalam kerajaan yang akan datang.