← Daftar isi 2 Petrus · bab 5/13

PERSEDIAAN ILAHI (5)

Pembacaan Alkitab: 2Ptr. 1:1-4

Dalam berita ini, kita akan mengulangi 1:1-4.

HAYAT DAN IBADAH

Dalam 1:3 Petrus berkata, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat dan ibadah oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya sendiri” (Tl.). “Segala sesuatu” dalam ayat ini mengacu kepada berbagai aspek kelimpahan Allah Tritunggal, berhubungan dengan hayat ilahi, yaitu zoe, tidak ada hubungannya dengan hayat untuk kesenangan kita. Segala sesuatu telah diberikan, dibagikan, diinfuskan ke dalam kita, agar kita dapat memperhidupkan hayat Allah, juga menampilkan hayat ini. Hayat ada di dalam, tetapi ibadah ada di luar, yaitu ekspresi diri Allah.

Kita seharusnya mengekspresikan Allah dalam segala aspek kehidupan kita. Ketika Allah menjadi ekspresi kita, itulah ibadah. Pembicaraan kita harus mengekspresikan Allah. Jika kita mengekspresikan Allah, kita pasti tidak terlibat dalam gosip. Seluruh diri kita dan kehidupan kita seharusnya ada Allah di dalamnya. Pikiran kita seharusnya dipenuhi oleh-Nya, dan setiap jaringan diri kita seharusnya tersusun dari-Nya. Dengan demikian kita akan memiliki ibadah, ekspresi luaran hayat batiniah.

MELALUI PENGENALAN YANG PENUH AKAN DIA

YANG MEMANGGIL KITA

Dalam 1:3 Petrus menggunakan kata depan “oleh”, dan mengatakan bahwa kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat dan ibadah, “oleh pengenalan yang penuh akan Allah”. Segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat telah diberikan kepada kita oleh pengenalan yang penuh akan Allah. Pengenalan yang penuh ini adalah pengenalan yang dalam, tuntas, dan dapat dialami.

Kata depan “oleh” yang dipakai berkaitan dengan pengenalan yang penuh, menunjukkan kita perlu melewati satu proses. Jika kita bergunjing, berarti kita belum melewati satu proses yang mengarah kepada pengenalan yang penuh akan Dia yang memanggil kita. Saya tidak yakin bahwa kita telah benar-benar mengenal Dia yang telah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya, karena kita masih membuang-buang waktu dengan bergunjing.

Kuasa ilahi telah menginfus kita dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan hayat dan ibadah. Tetapi penginfusan, pemberian ini, menuntut kita mempunyai pengenalan yang penuh akan Allah. Jika kita belum pernah melewati proses untuk memperoleh pengenalan yang penuh, seakan-akan apa yang telah ditanamkan oleh kuasa ilahi ke dalam kita sia-sia belaka. Kuasa ilahi terus beroperasi, tetapi kita perlu bekerja sama dengan pengoperasian ini.

Banyak orang Kristen tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah diberikan oleh kuasa ilahi ini kepada kita. Demi-kian juga, banyak orang tidak tahu bahwa kita harus melewati satu proses untuk mendapatkan pengenalan yang penuh. Kita perlu menerima pelatihan dari Tuhan, agar kita melewati satu proses untuk mendapatkan pengenalan yang penuh akan Dia yang memanggil kita. Dalam beberapa berita ini, saya mau membantu kalian untuk melewati proses ini. Kita dapat menggunakan kereta api sebagai ilustrasi, dan mengatakan bahwa kita semua duduk di satu gerbong yang melewati satu rel, menuju pengenalan yang dalam, tuntas, dan dapat dialami, akan Dia yang telah memanggil kita.

Dalam ayat 3 Petrus tidak menyinggung tentang pengenalan akan Allah, juga tidak menyinggung tentang pengenalan akan Bapa, Putra, dan Roh. Ia malah mengatakan tentang pengenalan yang penuh akan Dia yang memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya. Di sini Petrus tidak mengatakan bahwa Allah memanggil kita untuk naik ke surga, juga tidak mengatakan Ia memanggil kita untuk ditebus atau dikuduskan. Dalam ayat ini Petrus mengatakan bahwa Allah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya. Kita perlu mempunyai pengenalan yang penuh akan hal ini. Kita tidak seharusnya merasa puas dengan pengenalan yang dangkal. Kita dapat mengenal Dia yang telah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya hanya melalui satu proses yang panjang. Mengenai hal ini, kita harus seperti turis-turis yang menumpang kereta api yang berjalan perlahan melalui pinggiran kota yang indah. Turis-turis semacam ini suka melaju dengan perlahan-lahan, agar mereka dapat puas menikmati pemandangan. Demikian juga, kita perlu membahas 1:1-4 dengan tuntas dan perlahan-lahan. Anda bisa saja membaca ayat-ayat ini dengan cepat berkali-kali dan tidak nampak apa-apa. Karena itu, ketika kita membaca be-berapa ayat ini, kita perlu dengan teliti memperhatikan setiap hal yang terkandung di dalamnya.

KERJA SAMA KITA DENGAN OPERASI ALLAH

Kita benar-benar perlu mempunyai pengenalan yang penuh akan Dia yang telah memanggil kita dengan maksud membawa kita masuk ke dalam kemuliaan dan kebajikan-Nya. Jika kita mempunyai pengenalan tentang Dia berdasarkan pengalaman, kuasa ilahi akan beroperasi secara efektif di dalam kita. Kalau tidak, kuasa ilahi tak berdaya beroperasi di dalam kita. Meskipun kuasa ini besar, bila kita tidak memenuhi syarat pengoperasiannya, kuasa ini tidak akan dapat beroperasi di dalam kita. Seperti yang telah kita lihat, syarat yang harus kita penuhi adalah bekerja sama dengan operasi Allah.

Banyak orang Kristen tidak tahu bahwa Allah telah memanggil mereka kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya, seakan-akan dalam teologia mereka tidak ada tempat untuk 2Petrus 1:3. Meskipun kuasa ilahi ada dan sedang bekerja, kuasa itu tidak bekerja di dalam orang yang tidak mau bekerja sama dengan-Nya. Jika kita tidak melewati satu proses untuk memperoleh pengenalan yang penuh akan Allah yang telah memanggil kita, kuasa ilahi tidak akan dapat beroperasi di dalam kita.

Saya dapat bersaksi bahwa kuasa ilahi sedang beroperasi di dalam saya, dan setiap hari saya bekerja sama dengan Allah. Pagi hari saya terbuka terhadap-Nya dan berkata, “Tuhan, aku di hadapan-Mu. Tuhan, berbicaralah. Aku tidak akan menghalangi-Mu, melainkan akan memberi-Mu jalan bebas hambatan di dalam diriku. Tuhan, apa saja yang Kaukatakan kepadaku, semuanya itu akan kuberitakan.” Saya dapat ber-saksi, semakin banyak bekerja sama dengan kuasa ilahi yang di dalam, saya semakin dibawa masuk ke dalam kemuliaan Allah, menikmati kebajikan-Nya, dan mengekspresikan kebajikan ini sebagai ibadah.

JANJI ALLAH

Dalam 1:4 Petrus melanjutkan, “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari kebinasaan yang ada dalam dunia oleh hawa nafsu” (Tl.). Kita telah melihat kata depan “oleh” juga dapat diterjemahkan “dikarenakan” atau “berdasarkan”. Melalui dan berdasarkan kemuliaan dan kebajikan Tuhan, yang dengan dan olehnya kita telah dipanggil, Allah telah memberi kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar.

Tidaklah mudah memahami arti perkataan “dengan jalan itu” yang menghubungkan ayat 3 dengan ayat 4. Untuk memiliki pengenalan yang tepat, kita perlu mempunyai pengalaman dan juga pengertian rohani. Di sini Petrus berkata bahwa melalui kemuliaan dan kebajikan ilahi, Allah telah memberi kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar. Ini menunjukkan, jika Allah tidak memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya sendiri, Ia tidak perlu memberikan janji-janji kepada kita. Namun Allah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya sendiri. Sasaran ini sungguh besar, lebar, pun dalam. Siapakah yang dapat mencapai kemuliaan dan kebajikan Allah? Tak seorang pun dapat mencapai sasaran ini. Karena itu, perlu firman janji Allah untuk menjamin, mendorong, menguatkan, juga mendesak kita untuk mencapai sasaran ini.

Seandainya Petrus berkata bahwa Allah memanggil kita untuk naik ke surga; jika surga adalah sasaran panggilan Allah, Allah tidak perlu memberikan janji-janji kepada kita. Jika surga adalah sasaran panggilan Allah, kita cukup bersenang-senang dan bersukacita, hidup berdasarkan kesenangan kita, lalu menunggu naik ke surga.

Tetapi Petrus tidak berkata bahwa Allah memanggil kita naik ke surga. Ia berkata bahwa Allah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya sendiri. Ketika kita mendengar hal ini, kita mungkin heran, bagaimana kita dapat mencapai sasaran semacam itu. Mengetahui bahwa kita memerlukan jaminan, dorongan, dan kekuatan, maka Allah telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar. Contoh dari janji-janji itu adalah perkataan Tuhan kepada Paulus dalam 2Korintus 12:9, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Janji ini telah dianugerahkan kepada Paulus, membuatnya dapat menahan penderitaan karena “duri” dalam dagingnya. Untuk menanggung derita akibat “duri”, kita perlu anugerah Tuhan yang cukup. Ini mengilustrasikan satu fakta bahwa kita memerlukan banyak janji, untuk membantu kita mencapai sasaran kemuliaan dan kebajikan Allah.

Semua janji Allah telah diberikan kepada kita melalui kemuliaan dan kebajikan, yang kepadanya Allah telah memanggil kita. Inilah alasan Petrus memulai ayat 4 dengan perkataan “dengan jalan itu”. Janji-janji Allah adalah perkataan jaminan dan dorongan. Melalui kemuliaan dan kebajikan yang merupakan sasaran yang kepadanya kita telah dipanggil, Allah telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang kita perlukan.

Kita telah menunjukkan, kata depan dalam ayat 4 “olehnya” dalam bahasa aslinya mengandung arti sarana, penyebab. Kita menerjemahkan kata ini secara harfiah agar terjemahan kita sesuai dengan bahasa aslinya. Istilah ini juga dapat diterjemahkan “berdasarkan”, menunjukkan bahwa Allah menganugerahkan kita janji-janji yang berharga dan sangat besar berdasarkan kemuliaan dan kebajikan yang kepadanya Ia telah memanggil kita.

Kita tidak dapat mencapai sasaran yang tinggi itu (yaitu kemuliaan dan kebajikan Allah), berdasarkan diri sendiri. Untuk hal ini, kita memerlukan Tuhan. Karena kita tidak tahu apa yang ada di depan kita, Allah telah menganugerahkan janji-janji yang berharga kepada kita. Salah satu janji yang besar itu terdapat dalam Matius 28:20, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Tidak diragukan, janji ini adalah satu dorongan bagi semua murid.

Janji-janji Tuhan mendorong Petrus dan murid-murid lainnya, maju menuju sasaran kemuliaan dan kebajikan Allah. Saat Petrus bersama kesebelas murid menyampaikan pemberitaan pada hari Pentakosta, kemuliaan dan kebajikan Allah menyertai mereka. Murid-murid itu menyatakan kebajikan ilahi, bukan kebajikan alamiah manusia. Dalam Kisah Para Rasul 3, ada seorang miskin memandang Petrus dan Yohanes untuk meminta uang. Petrus berkata kepadanya, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” (Kis. 3:6). Kemudian Petrus menarik tangannya, memapah ia berdiri, dan orang lumpuh itu segera sembuh. “Ia melompat berdiri lalu berjalan ke sana ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah” (ayat 8). Apa yang diekspresikan oleh Petrus dan Yohanes pada saat itu? Mereka mengekspresikan kebajikan dan kemuliaan Allah. Ini terlak-sana oleh janji Tuhan bahwa Ia akan menyertai mereka senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Dalam Matius 28:19 seolah-olah Tuhan memberi tahu murid-murid, “Ketika kamu pergi untuk menjadikan semua bangsa murid-Ku, Aku menyertai kamu. Ke mana saja kamu pergi, kamu akan pergi bersama-Ku. Kamu akan membawa Aku pergi bersamamu.” Karena itu, pada hari Pentakosta murid-murid bersama Tuhan berdiri dan memberitakan Injil. Tidak hanya demikian, dalam Kisah Para Rasul 3, Petrus dan Yohanes membawa Tuhan kepada seorang lumpuh. Ini adalah penggenapan janji Tuhan kepada mereka, yaitu menyertai mereka senantiasa sampai kepada akhir zaman. Murid-murid sebermula melalui janji Tuhan mendapatkan dorongan untuk maju mencapai kemuliaan dan kebajikan ilahi.

BERBAGIAN DALAM SIFAT ALLAH

Menurut 2Petrus 1:4, Allah telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar untuk satu sasaran yang khusus, agar melalui janji-janji ini kita dapat berbagian dalam sifat Allah. Melalui janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, kita, kaum beriman dalam Kristus, telah menjadi orang-orang yang berbagian dalam sifat Allah dalam kesatuan yang organik dengan-Nya. Dalam Kisah Para Rasul 2 dan 3, Petrus dan murid-murid lain tentu berbagian dalam sifat Allah. Tidak heran ketika orang melihat murid-murid, mereka nampak ekspresi Allah. Karena murid-murid menikmati Allah dan berbagian akan Allah, mereka tersusun oleh Allah.

Sebagaimana tubuh kita tersusun oleh makanan yang kita makan, demikian juga, murid-murid tersusun oleh Allah yang mereka nikmati. Ini seharusnya juga menjadi pengalaman kita hari ini. Jika kita menikmati Allah dan berbagian akan Allah, kita akan tersusun oleh-Nya. Tentu saja, kita tidak akan pernah menjadi Allah, mencapai ke-Allahan atau menjadi sasaran penyembahan. Namun, kita dapat tersusun oleh sifat Allah secara tuntas.

Tubuh kita tersusun oleh makanan yang kita makan. Contohnya, ada orang mungkin makan ikan sangat banyak, tersusun oleh ikan, sehingga tubuhnya bau ikan. Demikian juga, kita mungkin tersusun oleh Allah begitu rupa, sehingga apa adanya kita dan perbuatan kita semuanya mengekspresikan Allah, bahkan dapat mengeluarkan aroma ilahi. Jika setiap hari kita berbagian akan Allah, akhirnya secara tak terasa kita berbagian akan Allah. Ketika orang berkontak dengan kita, mereka akan nampak ekspresi Allah Tritunggal di atas diri kita.

Saya menghendaki semua orang beriman dalam pemu-lihan Tuhan, diresapi sepenuhnya oleh sifat Allah. Semakin kita diresapi oleh Allah, kita akan semakin mengekspresikan Dia.

Berbagian dalam sifat Allah adalah berbagian dalam unsur diri Allah. Ketika kita berbagian akan Allah, aspek apa adanya Allah menjadi kenikmatan kita. Kita berbagian dalam kebenaran, kekudusan, kebaikan hati, kasih, belas kasih. Inilah menikmati unsur penyusun sifat Allah. Allah telah meng-anugerahkan kepada kita janji yang berharga dan yang sangat besar, agar kita mempunyai bagian dalam sifat Allah.

SIKLUS MELARIKAN DIRI DAN BERBAGIAN

Dua Petrus 1:4 membicarakan syarat untuk berbagian dalam sifat Allah, yaitu “melarikan diri dari kebinasaan yang ada dalam dunia oleh hawa nafsu”. Semakin kita melarikan diri dari kebinasaan semacam ini, kita akan semakin menikmati sifat Allah. Demikian juga, semakin kita berbagian dalam sifat Allah, kita semakin melarikan diri dari kebinasaan yang ada dalam dunia oleh hawa nafsu. Ini adalah satu siklus, dari melarikan diri dan berbagian, dari berbagian dan melarikan diri. Saya dapat bersaksi, karena siklus berbagian dan melarikan diri ini begitu kuat, dan cepat bekerja di dalam saya, saya sulit menerima apa pun dari kebinasaan dunia ini. Saya berbagian dalam sifat Allah, sifat Allah ini menguatkan saya, agar dapat melarikan diri dari kebinasaan. Kemudian semakin saya melarikan diri dari kebinasaan dunia, saya semakin menikmati kelimpahan sifat Allah. Inilah pengalaman kita akan ekonomi Allah. Sesungguhnya apa yang kita miliki dalam 1:1-4 adalah sebuah gambaran yang lengkap dari kenikmatan kita akan ekonomi Allah.