← Daftar isi Allah Tritunggal sebagai Roh itu Menjenuhi Manusia Tripartit Tubuh Kristus dan Roh Kelahiran-ulang Kita Hasil Perampungan dari Dua Roh · bab 15/23

MENGENAL ROH KITA

Pembacaan Alkitab

Dan. l 7:15; Rm. 8:6.

Garis Besar

I. Perasaan roh

II. Meletakkan pikiran di atas roh---kunci untuk maut atau hayat

A. Perasaan hayat

B. Perasaan damai sejahtera

C. Perasaan kematian

III. Hidup di dalam roh

A. Memperhatikan perasaan yang di dalam

B. Hayat orang Kristen menurut roh

Berbicara mengenai tubuh sangatlah mudah, karena kita dapat melihatnya dan menjamahnya. Berbicara mengenai sukma juga tidaklah sulit, karena, walaupun sukma itu abstrak, kita dapat merasakannya dan mengenalnya melalui fungsi-fungsi dan tindakan-tindakannya, seperti pemikiran, pertimbangan, penentuan, pembuat keputusan, dan menjadi senang, marah, sedih, dan sukacita. Hanya ketika kita berbicara mengenai roh barulah benar-benar sulit. Bahkan memahami roh itu tidaklah mudah, belum lagi membicarakan mengenai roh.

Di manakah roh kita ditempatkan? Hal ini kita tidak tahu pasti. Daniel 7:15 memberitahu kita bahwa roh kita berada di tengah-tengah tubuh kita tetapi tidak memberitahu kita lokasi tepatnya. Namun, dari pengalaman kita, kita mengetahui bahwa kita memiliki suatu roh di dalam kita. Jika kita ingin mengenal roh secara langsung, itu agaklah sulit, tetapi itu termasuk mudah untuk mengenal diri roh itu sendiri melalui perasaan-perasaan roh.

I. PERASAAN ROH

Mengenal roh itu adalah mengenalnya melalui perasaan roh. Bahkan sampai hari ini, tak seorang pun sudah pernah melihat diri listrik itu sendiri. Terang sebuah lampu bukanlah listrik itu, tetapi suatu ekspresi, suatu tanda listrik. Kita dapat mengenal listrik melalui tanda-tanda dan ekspresi-ekspresinya. Juga, tak seorang pun sudah pernah melihat hayat secara fisik dari diri seseorang, tetapi kita dapat mengenal hayat secara fisik melalui ekspresinya dan perasaan-perasaan tertentu. Dalam prinsip yang sama, roh sangatlah misterius. Anda tidak dapat melihatnya, tetapi Anda dapat merasakannya. Anda tidak dapat melihat listrik, tetapi ketika Anda menyentuhnya, Anda dapat merasakannya. Dengan cara yang sama, Anda dapat mengenal roh melalui merasakan roh. Merasakan roh adalah jalan untuk mengenal roh.

II. MELETAKKAN PIKIRAN DI ATAS ROH---

KUNCI UNTUK MAUT ATAU HAYAT

Roma 8 membicarakan mengenai roh. Sangatlah sulit untuk menemukan tempat lain dalam Alkitab yang membicarakan mengenai keadaan kita dalam roh sejelas pasal ini. Oleh karena itu, jika kita ingin mengenal roh, penting sekali bagi kita untuk memperhatikan berita ini.

Roma 8:6 berkata, "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan roh adalah hayat dan damai sejahtera." Meletakkan pikiran di atas roh---yaitu, meletakkan ego kita---di atas daging adalah maut. Meletakkan pikiran kita, atau ego kita, di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera. Disinilah kunci untuk maut atau hayat. Pikiran itu benar-benar netral: pikiran itu tidak berpihak. Pikiran itu mungkin berpihak kepada daging, atau mungkin berpihak kepada roh. Sejarah taman Eden harus terulang lagi. Kemauan bebas dapat memilih salah satu dari dua pilihan. Memilih pohon pengetahuan berarti maut, tetapi memilih pohon hayat berarti hayat. Kita berada diantara dua hal ini; kita berada pada posisi netral terhadap hayat dan maut. Hasilnya bergantung pada pilihan kita, sikap kita. Dosa terwujud, melambangkan Setan, berada di dalam daging; Allah Tritunggal berada di dalam roh setelah diselamatkan; dan ego berada di dalam pikiran. Rahasia hayat atau maut tergantung kepada kerja sama kita dengan roh atau dengan daging. Ketika kita bekerja sama dengan daging, kita memiliki maut; ketika bekerja sama dengan roh, kita adalah pengambilbagian Allah, yang adalah hayat.

A. Perasaan Hayat

Pada mulanya roh kita hanyalah roh manusia, dan roh tersebut mati. Sekarang, ketika Roh Allah masuk, Dia tidak hanya menghidupkan roh kita, tetapi juga menambahkan hayat Allah ke dalam roh kita. Sekarang tidak hanya roh kita yang hidup, tetapi juga memiliki hayat Allah; dan tidak hanya suatu roh; juga adalah roh hayat. Seluruh kesadaran hayat dalam roh ini memberi kemampuan kepada kita untuk mengenal roh ini. Ketika kita berjalan dengan meletakkan pikiran kita di atas roh ini, dan ketika tindak-tanduk dan perbuatan-perbuatan kita menurut roh ini, hayat dalam roh ini akan membuat kita untuk memiliki kesadaran hayat ini. Karena hayat ini berasal dari Allah, segar dan hidup, kuat dengan penuh kuasa, terang dan kudus, riil dan tidak kosong, perasaan hayat ini pasti akan membuat kita merasakan kehadiran Allah; sehingga kita akan merasa segar dan hidup, kuat dengan penuh kuasa, terang dan kudus, riil dan tidak kosong. Ketika kita memiliki perasaan-perasaan yang demikian, kita mengetahui bahwa kita sedang memikirkan roh, berjalan menurut roh, dan hidup di dalam roh. Perasaan-perasaan yang demikian merupakan perasaan hayat dalam roh kita, atau kesadaran roh kita akan hayat, memimpin kita dari dalam untuk berjalan menurut roh dan hidup oleh roh. Ketika menjamah perasaan-perasaan yang demikian, kita menjamah roh. Ketika kita memperhatikan perasaan-perasaan yang demikian, kita memperhatikan roh. Roh itu sendiri relatif sulit bagi kita untuk dirasakan, tetapi kita dapat dengan mudah merasakan perasaan-perasaan hayat yang demikian di dalam roh. Jika kita baik-baik mengikuti perasaan-perasaan yang demikian, maka kita dapat mengenal roh dan hidup di dalam roh.

Hayat Allah di dalam roh kita dapat dikatakan sebagai Diri Allah sendiri; oleh karena itu, perasaan hayat ini pasti akan membuat kita merasakan Diri Allah sendiri. Jika kita hidup di dalam roh dan berjalan dengan memikirkan roh, perasaan hayat ini akan membuat kita merasakan bahwa kita berada dalam keadaan menjamah Allah, dan Allah itu berada di dalam kita sebagai hayat kita, kekuatan kita, dan segala sesuatu kita; sehingga kita akan gembira, penuh perhentian, nyaman, dan puas. Maka ketika kita menjamah Allah dalam perasaan yang di dalam dari hayat, kita menjamah hayat; oleh karena itu kita tahu bahwa kita sedang hidup di dalam roh dan meletakkan pikiran kita di atas roh.

B. Perasaan Damai Sejahtera

Meletakkan pikiran di atas roh tidak hanya hayat tetapi juga damai sejahtera. Damai sejahtera yang disinggung di dalam Roma 8:6 bukanlah damai sejahtera di dalam lingkungan luaran kita, melainkan damai sejahtera di dalam kita.

Perasaan damai sejahtera dan perasaan hayat ini berdampingan. Perasaan hayat itu segar dan hidup; perasaan damai sejahtera itu wajar dan tenteram. Perasaan hayat adalah kepuasan dan penuh kekuatan; perasaan damai sejahtera adalah perhentian dan nyaman. Jika kita memikirkan roh dan berjalan serta hidup oleh roh, kita bukan hanya akan memiliki perasaan hayat, merasa segar, hidup, puas dan kuat, tetapi juga memiliki perasaan damai sejahtera, merasa wajar, penuh perhentian, nyaman, dan tenteram. Suatu perasaan demikian juga adalah perasaan roh. Pada waktu kita memiliki suatu perasaan yang demikian, kita dapat mengetahui bahwa kita sedang hidup di dalam roh. Ketika kita mengikuti suatu perasaan yang demikian, kita mengikuti perasaan roh, yang berarti bahwa kita mengikuti roh. Suatu perasaan yang demikian memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui roh dan mengenal roh. Semakin kita berjalan menurut roh dan hidup di dalam roh, semakin kaya dan semakin dalam perasaan semacam ini datang di dalam kita.

C. Perasaan Maut

Ada suatu perbedaan dalam Roma 8:6. Rasul mengatakan bahwa keinginan daging adalah maut, sedangkan keinginan roh adalah hayat dan damai sejahtera. Perkataan ini mewahyukan bahwa seperti daging itu berlawanan dengan roh , begitu juga keinginan daging, yang adalah maut, berlawanan dengan keinginan roh, yang adalah hayat dan damai sejahtera. Maka Rasul memberitahu kita di sini bahwa maut bukan hanya lawan dari hayat, tetapi juga lawan dari damai sejahtera. Perasaan hayat membuat kita merasa segar, hidup, puas, dan kuat; Perasaan maut membuat kita merasa berkebalikan dari hal-hal tadi---usang, tertekan, kosong, dan tidak ada kekuatan. Perasaan damai sejahtera membuat kita merasa wajar, penuh perhentian, nyaman, dan tentram. Kesadaran maut maut membuat kita merasa seperti lawan dari hal-hal tadi---tidak wajar, tidak ada perhentian, tidak nyaman, dan tidak tentram. Sehingga, bilamana kita merasakan di dalam kita terasing, tertekan, kosong, kering, lemah, dan tidak ada kekuatan, gelap, dan suram, atau tidak tentram, gelisah, tidak nyaman, tidak harmonis, penuh dengan konflik, tidak wajar, sedih, dan terbelenggu, kita seharusnya mengetahui bahwa kita tidak sedang hidup di dalam roh, melainkan kita sedang hidup di dalam lawan dari roh, yang adalah daging. Jadi, melalui mengetahui lawan dari roh, kita dapat mengetahui roh itu sendiri.

III. HIDUP DI DALAM ROH

A. Memperhatikan Perasaan yang Di dalam

Jangan berdebat dengan perasaan yang di dalam dari hayat dan damai sejahtera. Jangan berkata tentang sesuatu yang baik, alkitabiah, atau kudus. Jangan beralasan dan jangan berdebat bahwa apa yang sedang Anda lakukan adalah bagi injil atau bagi gereja. Ujian itu ialah---apakah Anda memiliki perasaan yang di dalam dari hayat dan damai sejahtera? Semakin Anda beralasan dengan perasaan ini, semakin Anda berdebat, semakin Anda akan merasakan maut dalam Anda. Kita dapat mengetahui roh hanya dengan perasaan yang di dalam ini. Jika kita akan membedakan roh dengan sukma, kita harus menyangkal pikiran rasional, emosi, dan tekad setiap saat dan memperhatikan perasaan yang di dalam itu.

B. Hayat Orang Kristen Menurut Roh

Andaikata kita menemukan sesuatu yang ingin kita beli. Semakin kita mempertimbangkannya, semakin kita merasakan bahwa kita ingin memilikinya. Akhirnya, kita membuat keputusan untuk membelinya. Emosi dilatih, karena kita menyukainya; pikiran dilatih, karena kita telah mempertimbangkannya; dan tekad dilatih karena kita telah memiliki keputusan untuk membelinya. Oleh karena itu seluruh sukma itu dilatih. Tetapi ketika kita pergi untuk membelinya, sesuatu yang sangat dalam di dalam kita menentang. Emosi kita menyukainya, pikiran kita mempertimbangkannya, dan tekad kita memilihnya, tetapi sesuatu yang lebih dalam di dalam kita menentangnya. Inilah roh.

Apapun yang kita lakukan, tanpa menghiraukan apakah yang kita pikirkan itu benar atau salah, rohani atau tidak rohani, jika di dalam kita, kita merasakan tidak ada perhentian, gelisah, kosong, tertekan, itu membuktikan bahwa kita sedang berjalan oleh daging dan tidak hidup di dalam roh. Bahkan di dalam doa dan berkotbah, tanpa menyinggung hal-hal lain atau melakukan hal-hal yang tidak baik, jika kita merasa kosong dan tertekan di dalam, tidak puas atau tidak gembira, maka ini membuktikan bahwa kita sedang berdoa atau berkotbah dengan daging, bukan di dalam roh.

Langkah orang Kristen, penghidupan orang Kristen, aktivitas orang Kristen bukan berdasarkan standar baik atau buruk, tetapi benar-benar berdasarkan roh. Jika kita mau mengenal hal yang satu ini dan diperintah dan dikendalikan olehnya, Tuhan akan mengubah bagian dalam kita dan penghidupan sehari-hari kita.

RINGKASAN

Roh manusia dapat dikenal melalui perasaan roh. Karena Allah sendiri berada di dalam roh kita, kita merasakan hayat dan damai sejahtera ketika pikiran kita diletakkan di atas roh dan kita sedang hidup di dalam roh. Dan ketika kita sedang tidak berada di dalam roh kita, kita mengalami kebalikannya---perasaan maut. Kehidupan orang Kristen bukanlah suatu perkara benar atau salah; itu merupakan perkara hidup oleh perasaan roh di dalam.

Pertanyaan

1. Apakah ketiga perasaan roh? Ayat yang manakah yang mendukungnya?

2. Bagaimanakah situasi pikiran, daging, dan roh kita sama dengan situasi di dalam taman Eden?

3. Gambarkan dengan singkat ketiga perasaan roh kita.

4. Bagaimana seharusnya perasaan roh mempengaruhi cara hidup kita?