← Daftar isi 2 Tesalonika · bab 1/7

PERKATAAN DORONGAN

Pembacaan Alkitab: 2Tes. 1:1-12

Pembukaan Kitab 2 Tesalonika sangat mirip dengan pembukaan Kitab 1 Tesalonika. Dalam 1:1-2 Paulus menga-takan, “Dari Paulus, Silwanus dan Timotius. Kepada jemaat orang-orang Tesalonika di dalam Allah Bapa kita dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” Surat ini dan Surat 1Tesalonika ditujukan kepada gereja lokal di Tesalonika, sebuah kota dalam Kekaisaran Romawi, dalam propinsi Makedonia, di sebelah utara propinsi Akhaya. Gereja ini tersusun dari semua orang beriman dalam Kristus yang ada di kota itu. Gereja lokal semacam ini adalah gereja kaum beriman dan berada di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa sebuah gereja lokal dilahirkan dari Allah Bapa dengan hayat dan sifatNya dan bersatu dengan Tuhan Yesus Kristus secara organik dalam segala apa adanya Dia dan apa yang dikerjakanNya. Jadi, gereja adalah milik manusia (orang-orang Tesalonika), tetapi berada di dalam Allah dan di dalam Tuhan secara organik. Kesatuan organik dalam hayat dan sifat ilahi ini adalah dasar yang penting bagi kaum beriman untuk menempuh kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Kehidupan semacam ini adalah pokok dari kedua surat ini.

Dalam 1Tesalonika 1 kita nampak susunan kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Susunan ini terdiri dari iman, kasih, dan pengharapan. Sebagaimana kita akan lihat, Kitab 2 Tesalonika juga mempunyai susunan yang sama.

DORONGAN DAN KOREKSI

Kitab 2Tesalonika adalah sebuah kitab dorongan dan koreksi. Kaum beriman muda dalam Kristus di Tesalonika perlu dorongan lebih lanjut; mereka juga memerlukan beberapa koreksi. Paulus mendorong kaum beriman ini dalam suratnya yang pertama. Namun dalam suratnya yang kedua ia memberi dorongan lebih lanjut. Ketika dia mendorong mereka, dia juga mengoreksi mereka dalam beberapa hal.

Sebenarnya, Kitab 2Tesalonika lebih merupakan kitab koreksi daripada kitab dorongan. Paulus itu bijaksana, lemah lembut, dan baik hati. Sebab itu, dia tidak langsung mengoreksi. Sebaliknya, mula-mula dia menghibur kaum beriman dan kemudian baru mengoreksi mereka. Jika kita membaca Surat Kiriman ini dengan seksama, kita akan nampak bahwa perkataan dorongan itu diikuti dengan perkataan koreksi. Kemudian terdapat perkataan dorongan lebih lanjut dan setelah itu perkataan koreksi lainnya. Jadi, kitab ini tersusun dari dua bagian dorongan dan dua bagian koreksi, disamping pendahuluan dan penutup. Dalam berita ini marilah kita membahas perkataan dorongan Paulus yang pertama untuk kaum beriman di Tesalonika.

IMAN, KASIH, DAN PENGHARAPAN

Dalam 1:3 Paulus mengatakan, “Kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, Saudara-saudara. Dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang terhadap yang lain makin kuat di antara kamu.” Kita telah menegaskan fakta bahwa susunan dasar kehidupan orang Kristen yang sejati terdiri dari iman, kasih, dan pengharapan. Kehidupan demikian ini bukan berasal dari kemampuan sifat alamiah kaum beriman, melainkan berasal dari infus apa adanya Allah ke dalam kaum beriman. Hal ini dilaksanakan oleh kasih pengorbanan mereka terhadap Tuhan, yang telah mengasihi mereka dan memberikan diriNya bagi mereka, serta terhadap anggotaNya yang telah Ia tebus dengan kematianNya dalam kasih. Kehidupan ini berlangsung dan bertahan tidak berubah oleh kuasa penunjang pengharapan yang memandang kepada Tuhan terkasih mereka, yang berjanji bahwa Ia akan datang untuk membawa mereka kepada diriNya. Kehidupan demikian ini merupakan isi dari Kitab 1 dan 2 Tesalonika.

Dalam 1:3 Paulus menyebutkan iman dan kasih orang Tesalonika. Dalam suratnya yang pertama, iman dan kasih dianggap sebagai unsur penyusun kehidupan kaum beriman bagi gereja. Di sini dalam suratnya yang kedua, iman dan kasih bertumbuh dan bertambah dalam hidup kristiani orang Tesalonika.

Dalam ayat 4 Paulus melanjutkan, “Sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita.” Ketabahan berasal dari dan ditunjang oleh pengharapan terhadap kembalinya Tuhan (1Tes. 1:3). Ketabahan semacam ini adalah hasil dari pengharapan dan selalu disertai oleh iman. Karena itu, di sini dicantumkan frase ketabahanmu dan imanmu. Ketabahan dan iman diperlukan dalam menghadapi penganiayaan dan penindasan.

MENDERITA KARENA KERAJAAN

Dalam ayat 5 Paulus selanjutnya berkata, “Itu adalah bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu.” Penghakiman Allah itu adil dan benar atas semua manusia, hal itu akan diselesaikanNya di masa yang akan datang (Rm. 2:5-9; Why. 20:11-15). Cara Allah menanggulangi berbagai macam orang pada masa kini merupakan petunjuk, tanda, bukti, dari pelaksanaan penghakimanNya yang adil di masa yang akan datang.

Kaum beriman telah dipanggil masuk ke dalam kerajaan dan kemuliaan Allah (1Tes. 2:12). Untuk masuk ke dalam kerajaan ini, kita perlu melalui penderitaan (Kis. 14:22). Jadi, penganiayaan dan penderitaan adalah bukti yang jelas dari penghakiman adil Allah, yang menunjukkan bahwa kita dianggap layak mendapatkan Kerajaan Allah.

SASARAN KEHIDUPAN ORANG KRISTEN

Kerajaan merupakan sasaran kehidupan orang Kristen. Hari ini kita menempuh hidup gereja dengan sasaran pada suatu hari kita akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Perjanjian Baru menekankan salib, gereja, dan kerajaan. Salib menghasilkan gereja, dan gereja mendatangkan kerajaan. Ketika kita menempuh hidup gereja, sasaran kita adalah masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Sasaran ini diabaikan oleh kebanyakan orang Kristen. Jika Anda bertanya kepada beberapa orang Kristen apa sasaran kehidupan orang Kristen mereka, boleh jadi mereka akan menjawab bahwa tujuan mereka adalah masuk ke surga. Jawaban semacam ini sangat kasihan. Hidup gereja bukan membawa kaum beriman ke dalam surga; melainkan ke dalam kerajaan. Pada hakikatnya hidup gereja adalah pendahuluan kehidupan kerajaan, tahap awal kerajaan. Karena itu, dalam arti yang sangat riil, Perjanjian Baru menganggap hidup gereja adalah kerajaan. Roma 14:17 mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Karena Roma 14 mengatakan tentang hidup gereja, Kerajaan Allah dalam ayat ini melambangkan hidup gereja. Menurut pengertian Paulus, hidup gereja adalah kerajaan. Sudah tentu, hidup gereja hari ini bukan kerajaan sepenuhnya. Sebaliknya, kerajaan dalam tahap perkembangan, tahap awal. Kita berada dalam tahap awal kerajaan dengan kerajaan sepenuhnya sebagai sasaran kita. Kita sedang melangkah maju dari tahap awal ke tahap yang penuh. Inilah pengertian yang benar tentang sasaran yang tepat dari hidup gereja.

Banyak orang Kristen, termasuk kita, lamban dalam memahami wahyu murni Perjanjian Baru. Sebab itu, walaupun banyak orang membaca Alkitab, mereka tidak nampak apa-apa. Situasi mereka dapat dibandingkan dengan keadaan orang-orang Israel yang dalam perkataan Paulus, terselubung ketika membaca Perjanjian Lama (2 Kor. 3:14-15). Karena mereka berselubung, maka mereka tidak nampak apa-apa ketika mereka membaca Alkitab. Banyak orang Kristen berselubung, mereka tidak mengerti apa maksud Paulus ketika dia mengatakan Allah telah memanggil kita ke dalam kerajaan dan kemuliaanNya. Segolongan orang Kristen menafsirkan kerajaan sebagai wisma surgawi. Menurut pengertian mereka, masuk ke dalam kerajaan ialah masuk ke surga. Mereka berpegang pada konsepsi kerajaan semacam ini sebab mereka berselubung. Mereka membaca Alkitab, tetapi tidak nampak wahyu Allah.

Dalam belas kasihanNya, Tuhan telah menyingkirkan sekurang-kurangnya sejumlah besar selubung dari mata kita. Kita benar-benar telah nampak suatu wahyu Allah, dan kita tidak akan tertipu lagi. Kita tahu bahwa masuk ke surga bukanlah sasaran kita. Tidak ada perkara semacam itu yang diwahyukan dalam Alkitab. Allah menghendaki kita menempuh hidup gereja yang akan membawa kita ke dalam kerajaan. Ini berarti, kita wajib menempuh suatu kehidupan dalam tahap awal kerajaan yang akan membimbing kita masuk ke dalam manifestasi penuh kerajaan.

Dalam 1:5 Paulus mengatakan tentang “layak menjadi warga Kerajaan Allah.” Hal ini menyiratkan ada segolongan kaum beriman tidak terhitung layak menjadi warga kerajaan. Agar terhitung layak menjadi warga kerajaan, iman kita perlu bertumbuh, kasih kita bertambah, dan ketabahan kita tahan lama. Bagi hidup gereja kita perlu memiliki kehidupan yang tersusun dari susunan dasar yang meliputi iman yang bertumbuh, kasih yang bertambah, dan ketabahan yang tahan lama. Jika kita mempunyai kehidupan demikian, kita akan terhitung layak menjadi warga Kerajaan Allah.

Dalam ayat 5 Paulus juga berkata kepada orang-orang Tesalonika bahwa mereka sedang menderita karena kerajaan. Perkataan ini bersangkutan dengan Kisah Para Rasul 14:22 yang mengatakan, “Bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Paulus memperingatkan kaum saleh untuk menanggung penderitaan sebab kita perlu menderita agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

PENGHAKIMAN ALLAH

Dalam ayat 6 Paulus berkata, “Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sedang menghakimi dan bahwa Ia akan menghakimi di kemudian hari. Jangan mengira Allah tidak menghakimi hari ini. Adakalanya seolah-olah Allah kita tidak aktif. Sebab itu kaum ateis mengatakan, “Di manakah Allah? Bagi kita nampaknya tidak ada Allah dalam alam semesta ini. Kalau ada Allah, tentu Ia sedang tidur atau pensiun.” Tidak, Allah kini sedang menghakimi.

Lebih dari 50 tahun yang lalu, saya mencurahkan banyak waktu mempelajari nubuat-nubuat dalam Alkitab.

Khususnya saya sangat memperhatikan nubuat tentang kembalinya orang Yahudi ke negeri mereka sendiri dan pembentukan kembali bangsa Israel. Ketika saya mempelajari sejarah dunia dan meneliti situasi dunia, saya menyangsikan kemungkinan orang Yahudi yang telah tercerai berai ke seluruh bumi selama berabad-abad, kembali ke negeri mereka sendiri dan sekali lagi terbentuk menjadi suatu bangsa. Namun, pada tahun 1948 bangsa Israel terbentuk dan bahkan diakui oleh Perserikatan Bangsa-bangsa. Sejak saat itu dan terutama dari tahun 1967, Timur Tengah telah menjadi titik pusat situasi dunia. Betapa gembiranya saya melihat penggenapan nubuat tentang bangsa Israel! Allah sedang menggenapi nubuat. Lebih lanjut, Ia dengan aktif melaksanakan penghakimanNya. Sebab itu, kita tidak perlu terganggu oleh oposisi macam apa pun, sebaliknya, kita perlu memihak kepada Allah, Dia sedang menghakimi mereka yang menindas umatNya. Sebagaimana Paulus berkata dalam 1:6, memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas umatNya.

KELEGAAN PADA PENYATAAN TUHAN

Ayat 7 mengatakan, “Dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam surga akan menyatakan diriNya bersama-sama dengan malaikat-malaikatNya, dalam kuasaNya, di dalam api yang bernyala-nyala.” Kata “kelegaan” di sini dalam bahasa Yunani berarti pula kelepasan, perhentian, istirahat, kemerdekaan. Dalam zaman ini, kaum beriman menderita aniaya dan kesukaran bagi Tuhan. Pada saat Tuhan datang kembali, mereka akan dilepaskan dari penderitaan mereka dan akan masuk ke dalam perhentian Tuhan, menikmati kemerdekaan perhentian.

Dalam ayat ini Paulus mengatakan tentang penyataan diri Tuhan Yesus. Hari ini Tuhan ada di sini, namun Dia tersembunyi. KedatanganNya kembali akan merupakan penyataan diriNya. Sekalipun alam semesta itu tidak terukur luasnya dalam dimensinya, bagi Tuhan tidak ada perkara yang disebut jarak. Ia ada di mana-mana. Pada suatu hari, pada kedatanganNya, Ia akan tidak tersembunyi, dan setiap orang akan melihatNya.

Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita tidak rabun. Melalui anugerahNya, kita mempunyai pengertian dan pandangan jauh. Kita mampu melihat menembus tirai. Tetapi orang yang tidak beriman tidak tahu apa yang ada di balik tirai. Namun kita, kaum beriman, tahu bahwa Tuhan Yesus akan menyatakan diri.

Pada waktu Tuhan Yesus menyatakan diri dari surga bersama malaikat-malaikatNya dalam kuasaNya, kita akan mendapatkan kelegaan (perhentian). Kita belum waktunya mendapat kelegaan. Kelegaan kita adalah pada waktu Tuhan datang, pada penyataan diriNya.

MENGADAKAN PEMBALASAN

Dalam ayat 8 Paulus melanjutkan, “Dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus, Tuhan kita.” Ayat ini meliputi dua kondisi dan dua tahapan. Ayat ini mengatakan pembalasan Allah kepada mereka yang tidak mengenal Allah dan yang tidak menaati Injil Kristus. Ada orang yang tidak mengenal Allah, dan ada yang tidak menaati Injil.

Tidak ada alasan untuk tidak mengenal Allah. Mungkin ada yang mengatakan, “Injil tidak pernah diberitakan kepadaku. Aku hidup sebelum Injil diberitakan.” Mereka yang beralasan demikian tidak akan dapat memaafkan diri untuk tidak mengenal Allah. Menurut Alkitab, Allah dapat dikenal melalui ciptaanNya (Rm. 1:20). Selanjutnya, Allah dapat dikenal melalui hati nurani manusia. Manusia dapat mengenal Allah melalui ciptaanNya dan oleh hati nuraninya. Hati nurani kita memberi tahu kita bahwa ada Allah. Sebab itu, tidak ada orang yang dapat mengatakan bahwa ia tidak tahu bagaimana mengenal Allah. Setiap orang yang tidak mengenal Allah akan mengalami hukuman. Mereka yang mendengar Injil tetapi tidak menerimanya dan menaatinya akan dihukum pula. Sebab itu Allah akan mengadakan pembalasan kepada dua golongan orang yaitu mereka yang tidak mengenal Allah dan mereka yang tidak menaati Injil.

KEBINASAAN KEKAL

Ayat 9 melanjutkan, “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya.” Mereka yang tidak mengenal Allah dan mereka yang tidak menaati Injil akan menanggung hukuman kebinasaan selama-lamanya. Inilah kebinasaan kekal.

KRISTUS DIMULIAKAN DI DALAM

ORANG-ORANG KUDUSNYA

Dalam ayat 10 Paulus mengatakan tentang Kristus yang datang untuk dimuliakan di dalam orang-orang kudusNya: “Apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di dalam orang-orang kudusNya dan untuk dikagumi di dalam semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai” (Tl.). Tuhan adalah Tuhan yang mulia (1 Kor. 2:8). Dia telah dimuliakan dalam kebangkitan dan kenaikanNya (Yoh. 17:1; Luk. 24:26; Ibr. 2:9). Kini Dia ada di dalam kita sebagai pengharapan yang mulia (Kol. 1:27) untuk membawa kita ke dalam kemuliaan (Ibr. 2:10). Pada kedatanganNya kembali, di satu pihak Dia akan datang dari surga dengan kemuliaan (Why. 10:1; Mat. 25:31), di pihak lain Dia akan dimuliakan di dalam orang-orang kudusNya; yaitu kemuliaanNya akan dinyatakan dari dalam anggota-anggotaNya, membuat tubuh mereka yang fana ditransfigurasi, masuk ke dalam kemuliaanNya, serupa dengan tubuh muliaNya (Flp. 3:21). Jadi, orang-orang yang tidak percaya akan kagum kepadaNya, heran terhadapNya, tercengang melihat Dia di dalam kita, kaum berimanNya.

Dari Kolose 1:27 kita tahu bahwa kita mempunyai Kristus di dalam kita sebagai pengharapan kemuliaan kita. Kristus yang bersemayam di dalam ini adalah kemuliaan yang akan datang. Kristus akan datang dari surga, tetapi Ia akan muncul pula dari dalam kita. Maka, kedatangan Tuhan ialah dari surga ke bumi juga dari dalam kita. Kristus datang dari dalam kita berarti Ia dimuliakan di dalam kita. Kristus kini di dalam kita sebagai kemuliaan. Tetapi Kristus yang mulia ini tersembunyi di dalam kita, Ia belum dimanifestasikan. Pada kedatanganNya kembali, Kristus yang mulia yang di dalam kita akan dimuliakan di dalam kita. Ini berarti Ia akan muncul dari dalam kita dan dimanifestasikan dari dalam kita. Sebab itu, kedatanganNya akan merupakan suatu keajaiban. Inilah sebabNya, Paulus mengatakan ketika Kristus datang, Ia akan dimuliakan di dalam orang-orang kudusNya dan dikagumi di dalam semua orang yang percaya.

Sebagai kaum beriman kita semua yakin bahwa kita mempunyai Kristus di dalam kita, dan bahwa Kristus ini adalah Kristus yang mulia. Namun sanak saudara kita, teman, dan tetangga kita yang tidak percaya tidak mengetahui bahwa kita mempunyai Kristus di dalam kita. Tetapi ketika Kristus datang, tidak saja dari surga juga dari dalam kita dimanifestasikan, maka sanak saudara, tetangga, dan teman kita yang tidak percaya tersebut akan sangat kagum.

Kristus yang dimuliakan di dalam kita akan dikagumi oleh orang-orang kafir. Boleh jadi ada yang berkata, “Bukankah engkau menantuku laki-laki? Apa yang terjadi padamu?” Lalu orang itu akan menjawab, “Aku telah bersaksi kepadamu berkali-kali bahwa Kristus hidup di dalamku. Tetapi engkau tidak percaya, malah mencemoohku dan menghinaku. Tetapi sekarang engkau kagum sebab Kristusku telah muncul dari dalamku dan dimanifestasikan di dalam kemuliaan.” Demikianlah keadaan kita pada suatu hari.

Kita mempunyai Kristus di dalam kita dan kita berada di dalam proses dipenuhi dengan Kristus. Tetapi Kristus kita tersembunyi, juga terhadap kita. Ketika Kristus yang mulia muncul dari dalam kita dan dimanifestasikan, orang lain akan mengagumi kita.

Kadang-kadang kita sendiri sulit mempercayai bahwa Kristus yang mulia ada di dalam kita sekarang ini juga. Secara doktrin, kita percaya bahwa Kristus ada di dalam kita. Namun, kita mungkin agak sangsi. Pada masa lampau, saya sangsi apakah saya betul-betul mempunyai Kristus di dalam saya. Saya berkata kepada diri sendiri, “Apakah Kristus benar-benar ada di dalammu sebagai pengharapan kemuliaan? Lihatlah betapa kasihannya kamu. Nampaknya kamu lebih baik pada tahun-tahun yang lalu daripada hari ini.” Boleh jadi Anda juga meragukan bahwa Kristus ada di dalam Anda. Tetapi harinya akan tiba, di mana Kristus yang di dalam Anda, Kristus yang tersembunyi, akan dimanifestasikan. Manifestasi itu pada hakikatnya merupakan pemuliaan Kristus di dalam kita. Ketika Ia muncul dari dalam kita, Ia akan dikagumi oleh semua orang yang tidak percaya.

LAYAK BAGI PANGGILANNYA

Ayat 11 mengatakan, “Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilanNya dan dengan kekuatanNya menyempurnakan segala kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu.” Memanggil kita masuk surga bukan panggilan Allah; panggilan Allah memanggil kita masuk ke dalam kerajaan dan kemuliaanNya.

Kata “kehendakmu” di sini dalam bahasa Yunani juga berarti “kesenanganmu.” Rasul berdoa agar Allah menyempurnakan maksud baik, kesenangan orang-orang Tesalonika untuk kebaikan.

NAMA TUHAN DIMULIAKAN DI DALAM KITA

Dalam ayat 12 Paulus menyimpulkan, “Sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut anugerah Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.” Anugerah Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus adalah Tuhan sendiri di dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat agar kita bisa menempuh hidup yang memuliakan Tuhan dan membuat kita dimuliakan di dalam Dia.

Dalam ayat 12 Paulus mengatakan tentang nama Tuhan Yesus dimuliakan di dalam kita dan kita dimuliakan di dalam Dia. Pemuliaan demikian ini sesuai dengan anugerah Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus. Anugerah ini adalah sesuatu yang jauh lebih banyak daripada jasa kebaikan. Anugerah adalah Allah Tritunggal yang melalui proses menjadi Roh pemberi hayat almuhit untuk kenikmatan kita. Menurut anugerah demikian inilah nama Tuhan Yesus akan dimuliakan di dalam kita dan kita dimuliakan di dalam Dia. Pada saat kita menikmati anugerah ini, Tuhan Yesus akan dimuliakan di dalam kita dan kita dimuliakan di dalam Dia.

Bila kita membaca ayat-ayat dari 2Tesalonika 1, kita nampak bahwa ayat-ayat ini sungguh-sungguh merupakan perkataan dorongan. Dalam 1:1-12 terdapat dorongan tentang susunan dasar kehidupan yang kudus bagi hidup gereja. Kita mempunyai dorongan bagi iman, kasih, dan pengharapan kita.