← Daftar isi Kelahiran Kembali · bab 2/19

PENYELESAIAN PERKARA-PERKARA LAMPAU

Sekarang kita akan melanjutkan melihat pengalaman hayat yang kedua, yaltu penyelesaian perkara-perkara lampau.

Dengan tegas saya katakan bahwa "penyelesaian perkara-perkara lampau" tidak dapat diperhitungkan sebagai pengalaman hayat yang berdiri sendiri, ini hanya dapat dianggap sebagai tambahan dari pengalaman kelahiran kembali. Karena seseorang yang benar-benar telah dilahirkan kembali dan diselamatkan akan secara otomatis mengakhiri semua perkara-perkara lampaunya. Karena itu, pengalaman kelahiran kembali yang normal pasti mencakup penyelesaian perkara-perkara lampau. Tetapi karena ada beberapa orang yang sepertinya belum dilahirkan kembali dan diselamatkan secara tuntas, walaupun mereka benar-benar telah dilahirkan kembali dan diselamatkan, mereka tidak segera membereskan perkara-perkara lampau. Sampai mereka dibangkitkan oleh Tuhan sekali lagi, barulah mereka dapat mengulang pelajaran ini, yaitu menyelesaikan perkara-perkara lampau mereka. Karena itu, boleh juga jika kita memisahkan pengalaman kelahiran kembali dan penyelesaian perkara-perkara lampau serta menganggapnya sebagai dua pengalaman hayat yang berbeda.

I. DASAR ALKITAB

Dalam Alkitab, tidak ada ajaran yang jelas mengenai penyelesaian perkara-perkara lampau, tetapi ada dua teladan yang sangat bagus : yang pertama terdapat dalam Lukas 19:1-10, cerita mengenai penyelesaian perkara-perkara lampau Zakheus setelah keselamatannya; yang lain ada dalam Kisah Para Rasul 19:18-19, cerita mengenal penyelesalan perkara-perkara lampau orang-orang Efesus setelah mereka diselamatkan.

Dalam Lukas 19 kita diberi tahu bahwa segera setelah Zakheus diselamatkan, ia merasa bahwa ia telah memeras uang orang lain di masa lampau. dan hal itu tidak benar; ia juga merasa bahwa ia adalah seorang pencinta uang dan kikir. Karena itu ia berkata kepada Tuhan, jika ia telah mengambil sesuatu dari siapa pun melalui tuduhan palsu, ia bersedia menggantinya empat kali lipat. Selain itu, ia bersedia memberikan setengah dari harta bendanya kepada orang miskin. Inilah penyelesaian perkara-perkara lampaunya. Dalam Kisah Para Rasul 19 kita diberi tahu bahwa banyak orang kudus Efesus, setelah beroleh selamat melalui pimpinan Paulus, datang untuk mengaku dosa atas perbuatan-perbuatan mereka, banyak di antara mereka dengan sukarela menyerahkan kitab-kitab sihir mereka dan membakarnya di depan mata semua orang. Inilah penyelesaian perkara-perkara lampau mereka.

II. SASARAN PENYELESAIAN

PERKARA-PERKARA LAMPAU

Perkara-perkara lampau apa saja yang perlu dibereskan setelah kita diselamatkan? Barang-barang apa saja yang harus diakhiri dan dibereskan? Semuanya ada empat golongan : 1) perkara-perkara yang tidak benar, 2) perkara-perkara yang tidak pantas, 3) perkara-perkara yang jahat dan najis, 4) cara hidup yang lama. Setelah kita diselamatkan, perlu ada pemberesan dan pengakhiran atas perkaraperkara ini.

1. Perkara-perkara yang Tidak Benar

Tidak benar berarti tidak adil, tidak sah. Semua barang yang kita dapatkan di masa lalu dengan cara tidak adil, tidak sah, seperti mencuri, menipu, mengambil dengan paksa, melanggar hak milik orang lain, menyimpan barang kepunyaan orang lain yang telah hilang, tidak mengembahkan barang-barang yang telah lama dipinjam, juga semua hubungan tidak sah dengan orang lain serta perlakuan tidak adil terhadap orang lain - semuanya itu adalah perkara-perkara yang tidak benar - perkara-perkara yang harus kita bereskan.

2. Perkara-perkara yang Tidak Pantas

Tidak pantas dan tidak benar artinya hampir sama, tetapi berbeda. Tidak benar berarti cara mendapatkan suatu barang, atau hubungan perkara tertentu itu tidak adil atau tidak sah. Tidak pantas berarti hakiki suatu barang atau perkara itu sendiri tidak pantas atau tidak senonoh. Sebagai contoh, benda-benda yang digunakan dalam perjudian atau minum minuman keras dapat diperoleh dengan cara yang sah; tetapi benda-benda itu digunakan untuk perjudian dan minum minuman keras. Karena perjudian dan minum minuman keras adalah perkara yang tidak pantas dan tidak senonoh, maka hakiki benda-benda ini juga tidak pantas dan tidak senonoh. Selain itu, merokok atau membaca novel-novel porno tidak dapat dikatakan tidak benar, tetapi semuanya itu pasti tidak bermoral dan tidak pantas. Semua perkara yang tidak pantas itu juga merupakan halhal yang harus kita akhiri.

3. Perkara-perkara yang Jahat dan Najis

Perkara-perkara yang jahat dan najis adalah perkara-perkara yang berhubungan dengan berhala-berhala, seperti ukiran-ukiran atau lukisan-lukisan (foto, gambar), berhala, lilin-lilin dan pedupaan yang digunakan untuk penyembahan berhala; perhiasan, perabotan, dan pakaian dengan motif naga; tulisan-tulisan agama duniawi; benda-benda najis yang berkaitan dengan nujum seperti buku-buku ramalan bintang, ramalan wajah, ilmu magis, jimat-jimat, dan lainlain; juga hal-hal yang jahat dan najis, seperti penyembahan berhala, penyembahan nenek moyang, menujum, meramal nasib, dan lain-lain. Hal-hal itu dibenci Allah lebih daripada hal-hal yang ada dalam dua kategori sebelumnya, dan hal-hal itu benar-benar tidak dapat ditoleransi oleh hayat di dalam kita, yang kudus dan bersih. Karena itu, hal-hal itu harus dibereskan dengan tuntas.

4. Cara Hidup yang Lama

Cara hidup yang lama mengacu kepada seluruh sikap hidup kita yang lama sebelum kita diselamatkan. Setelah kita diselamatkan, kita seharusnya tidak hanya mengakhiri semua perkara yang tidak benar, tidak pantas, jahat dan najis, tetapi juga harus mengakhiri semua cara hidup kita yang lama, sekah lagi memiliki permulaan baru.

Biasanya, ketika kita membicarakan penyelesaian perkara-perkara lampau, kita menekankan pengakhiran perkara-perkara yang tidak benar, tidak pantas, perkara-perkara yang jahat dan najis, tetapi kita jarang menaruh perhatian pada pengakhiran cara hidup kita yang lama. Ini tidak memadai. Sebenarnya, ketika seseorang dilahirkan kembali, cara hidupnya yang lama berhenti seketika. Karena kelahiran kembali memungkinkan seseorang mendapatkan hayat yang baru, maka secara otomatis ia akan membawakan cara hidup yang baru kepada manusia. Cara hidup yang lama berakhir bersaina dengan hayat yang lama, dan cara hidup yang baru dimulai bersama dengan hayat yang baru. Dengan demikian, seseorang telah berubah ke suatu penempuhan cara hidup yang baru. Karena itu, dapat dikatakan bahwa yang sesungguhnya meniadakan cara hidup kita yang lama adalah keselamatan Tuhan. Orang yang menerima karunia keselamatan Tuhan, cara hidupnya yang lama telah berakhir, dan hidup barunya telah dimulai dan sedang dibangun.

Lalu bagaimanakah seharusnya pandangan kita terhadap pengakhiran cara hidup kita yang lama dan memulai suatu hidup baru? Kita tidak mengatakan bahwa setelah seseorang dilahirkan kembali ia harus mengganti pekerjaannya saat itu; yang bersekolah, tidak lagi bersekolah, yang berdagang, menghentikan bisnisnya, yang mengurus rumah tangga (keluarga) mengabaikan keluarganya, semua pergi menjadi penginjil. Mengakhiri hidup yang lama berarti setelah seseorang dilahirkan kembali, ia dapat tetap melanjutkan pekerjaannya yang lama jika pekerjaan yang dijalankannya itu pantas, tetapi citarasa yang dimilikinya telah berubah, suasana hatinya berubah, dan peraaaannya berubah. Tidak peduli apa yang dilakukan seseorang sebelum ia dilahirkan kembali, citarasanya, suasana hatinya, dan perasaannya, semua mengarah kepada dunia, seluruhnya berhasirat untuk mencapai sesuatu di dalam dunia. Semakin ia bekerja, ia semakin menyayangi pekerjaannya dan semakin dalam terlibat. Tetapi setelah dilahirkan kembali, ketika hayat Allah masuk ke dalamnya, citarasa di dalamnya menjadi tawar, suasana hatinya berubah, dan perasaannya juga berubah. Ia bahkan memiliki selera yang berbeda terhadap makanan, pakaian, dan kebutuhan seharihari lainnya. Dalam hal ini, cara hidupnya yang lama berakhir, hayatnya yang lama berakhir pula.

Kita telah menunjukkan penyelesaian perkara-perkara lampau Zakheus. Penyelesaiannya mencakup pengakhiran cara hidup yang lama. Di masa lampau, dia telah memeras uang orang lain dan hal itu tidak benar; maka dia mengakhiri perbuatannya yang tidak benar dengan memberikan ganti rugi empat kali lipat. Selain itu, dia juga memberikan sebagian dari harta bendanya kepada orang-orang miskin; gemua itu adalah untuk mengakhiri cara hidupnya yang lama. Jika ia tidak memberikan sesuatu kepada orang miskin, apakah hal itu tidak pantas? Apakah hal itu jahat dan najis? Sama sekali tidak! Keengganannya untuk memberikan sesuatu kepada orang miskin adalah cara hidupnya yang lama. Dalam kehidupannya yang lama, ia memberikan nilai yang sangat tinggi kepada uang; keserakahan adalah falsafah hidupnya, dan cinta uang adalah cara hidupnya yang lama. Ketika ia beroleh selamat dan hayat Allah masuk ke dalamnya, konsepsinya mengenai uang pun berubah; ia menganggap uang tidak bernilai; ia bersedia memberi - ini menunjukkan bahwa hidupnya telah berubah dan cara hidupnya yang lama yang serakah diakhiri. Tentu saja ini tidak berarti bahwa setelah ia mengakhiri cara hidupnya yang lama ia tidak memiliki atau memakai uang sedikit pun. Mungkin setelah itu, ia tetap, memiliki banyak uang dan memakainya. Tetapi seleranya terhadap uang dan caranya memakai uang telah berbeda. Hayat lamanya berubah; cara hidupnya yang lama berakhir.

Saya teringat pengalaman pribadi saya dalam mengakhiri cara hidup yang lama. Itu juga merupakan perubahan yang sangat jelas. Ketika saya hampir berusia dua puluh tahun, saya menuntut pengetahuan dunia ini, penub. dengan ambisi, dan bercita-cita tinggi. Pada waktu itu seorang saudari datang untuk memberitakan Injil di kota saya, dan saya diselamatkan saat mendengar untuk kali pertama. Pada saat itu, ia membahas Kitab Keluaran, menceritakan bagaimana Firaun menguasai bangsa Israel dan tidak mengizinkan mereka meninggalkan Mesir. Ia berkata bahwa hal ini melambangkan kuasa Iblis atas manusia, Iblis tidak mengizinkan manusia menyembah Allah. Kata-katanya benar-benar diilhami Roh dan sangat menjamah saya. Saat itu, di dalam saya ada perasaan yang mengatakan, "Saya tidak menginginkan dunia ini lagi. Saya harus melayani Allah." Sejak saat itu, perasaan di dalam saya ini tidak pernah mati. Di satu pihak, saya merasa bahwa saya tidak dapat lagi menempub, jalan dunia ini dan sejak saat itu tidak mungkin lagi mempunyai ambisi dan cita-cita tinggi terhadap dunia; di pihak lain, saya merasa bahwa jalan baru, hayat baru ada di depan saya, menyebabkan saya berjalan mengikuti Tuhan dan maju. terus. Dalam jalan ini, citarasa di dalam saya diubah, suasana hati saya diubah, dan perasaan saya juga dlubah. Dengan demikian, cara hidup, saya yang lama berakhir.

Nampaknya tidak mudah menemukan kata-kata untuk mengekspresikan perubahan-perubahan dalam citarasa, suasana hati, dan perasaan, tetapi semua itu benar-benar adalah hasil dari kelahiran kembali. Selain itu, semakin tuntas seseorang dilahirkan kembali, perubahan ini akan semakin drastis. Bagi mereka yang memiliki masa depan lebih cerah dalam perusahaan atau lebih banyak kesuksesan dalam. masyarakat, perubahannya akan terlihat semakin jelas. Bahkan mereka yang diselamatkan secara biasa-biasa saja tetap dapat merasakan bahwa perubahan-perubahan ini telah terjadi dalam hidup mereka, walaupun pengalaman mereka atas kelahiran kembali tidak begitu. jelas. Begitu perubahan-perubahan itu terjadi di dalam, cara hidup yang lama berakhir.

Walaupun pengakhiran cara hidup yang lama adalah pengalaman awal seorang Kristen, tetapi pengaruhnya sangat besar terhadap, masa depannya bersama Tuhan. Ketika cara hidup kita yang lama berakhir, ambisi dan minat kita terhadap dunia berubah, penilaian dan sudut pandang kita terhadap manusia dan semua perkara juga berubah, tujuan hidup kita juga berbeda dengan sebelumnya. Dengan demikian, kita dapat bebas dari semua kecemasan, meninggalkan semua beban di belakang, dan berlari dalam jalan Tuhan.

Karena perkara mengakhiri cara hidup yang lama ini sangat penting, maka kita harus menaruh perhatian pada penyelesaian perkara-perkara lampau, entah dalam memeriksa diri sendiri atau dalam memimpin orang lain, untuk meliliat bahwa cara hidup yang lama itu berakhir dan ada perubahan yang sedemikian rupa dalam citarasa, suasana hati, dan perasaan. Jika perubahan-perubahan ini tidak cukup besar, kita harus mencari pekerjaan Roh Kudus yang lebih dalam untuk membuatnya lebih kuat dan lebih tegas. Semakin drastis perubahan yang terjadi, semakin tuntas pengakhiran cara hidup yang lama.

Dengan tegas dapat dikatakan, tidak harus menunggu sampai seseorang telah beroleh selamat baru ia dapat dipimpin untuk memperhatikan perubahan-perubahan dalam cara hidupnya yang lama. Ketika mengabarkan Injil, kita juga perlu menambalikan butir ini agar orang lain dapat melihat bahwa kelahiran kembali berarti perubahan dalam hidup mereka. Suatu hayat tertentu pasti memiliki kehidupan tertentu. Jika seseorang dilahirkan kembali, ia mendapatkan hayat yang baru; hayatnya yang lama tentu saja akan berakhir. Jadi, begitu seseorang diselamatkan, ia akan memiliki perubahan minat, dan selanjutnya ia akan mempunyai pengakhiran yang tuntas terhadap perkara-perkara lampau.

III. DASAR PENYELESAIAN

PERKARA-PERKARA LAMPAU

Penyelesaian perkara-perkara lampau tidak berdasar pada tuntutan peraturan-peraturan yang di luar, tetapi pada perasaan hayat di dalam. Walaupun sebelumnya telah kita singgung keempat perkara yang harus diakhiri, tetapi itu hanya membuat kita mengenal prinsip-prinsipnya. Seinua itu bukan peraturan yang memaksa kita untuk mengakhiri perkara-perkara itu sedemikian rupa. Ketika kita mempraktekkan penyelesaian perkara-perkara lampau, apa yang perlu diakhiri benar-benar tergantung pada perasaan hayat di dalam. Karena itu, perasaan hayat di dalam adalah dasar bagi penyelesaian perkara-perkara lampau kita.

Kita tahu bahwa semua agama di dunia dibangun di atas berbagai peraturan agama. Penganut mereka hidup dan berperilaku menurut peraturan-peraturan itu. Tetapi keselamatan Tuhan tidak seperti itu. Keselamatan Tuhan memberi kita hayat yang baru melalui kelahiran kembali dari Roh Kudus. Karena kita memiliki hayat yang sedemikian, sekarang kita dapat hidup dan berperilaku di hadapan Allah menurut perasaan hayat baru ini. Inilah prinsip kehidupan kita sebagai orang Kristen. Penyelesaian perkaraperkara lampau kita juga berdasar pada prinsip ini. Ketika seseorang dilahirkan kembali dan mendapatkan hayat Allah, hayat ini bergerak (beroperasi) di dalamnya, menyebabkan dia merasa bahwa di masa lalunya ada banyak perkara yang tidak benar, tidak pantas, dan sesat, senitia perkara itu dan bahkan seluruh cara hidupnya yang lama tidak sesuai dengan kedudukannya sekarang sebagai orang Kristen. Maka, ia mulai menyelesaikan perkara-perkara lampaunya sesuai dengan perasaan yang di dalam ini.

Dari teladan Zakheus maupun orang-orang Kristen di Efesus dalam menyelesaikan perkara-perkara lampau mereka, kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus maupun Rasul Paulus tidak secara jelas mengajar mereka sesuatu yang berkenaan dengan penyelesaian perkara-perkara lampau; mereka tidak memberikan peraturan apa pun yang memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu demi menyelesaikan perkara-perkara lampaunya. "Pemberesan" Zakheus dan orang-orang Kristen di Efesus terjadi begitu keselamatan Tuhan menimpa mereka dan hayat Tuhan masuk ke dalam mereka, mereka memiliki perasaan terhadap perkara-perkara yang tidak benar dan najis di masa lalu dan terhadap cara hidup mereka yang lama; karenanya, mereka membereskan semuanya itu. "Pemberesan" mereka membuktikan bahwa perkara itu tidak berdasar pada peraturan-peraturan dan ajaran-ajaran di luar, tetapi pada perasaan hayat di dalam.

Tetapi, ketika kita baru beroleh selamat, belum tentu kita memiliki perasaan terhadap semua hal yang perlu diakhiri atau dibereskan. Meskipun ada banyak perkara yang perlu dibereskan, namun kita hanya merasakan sebagian saja. Walaupun demikian, kita tetap perlu membereskan perkara-perkara yang kita rasakan itu. Intinya, apa pun yang kita rasakan, itulah yang harus kita bereskan. Tingkat perasaan Idta haruslah menjadi tingkat pemberesan kita. Terhadap perkara-perkara yang belum kita rasakan, kita hanya perlu terus maju dan bertumbuh dalam hayat Tuhan; di masa yang akan datang, tentu saja Tuhan akan membuat kita merasakannya. Pada saat itu baru ada pemberesan dan penyelesaian yang lebih lanjut.

Pernah ada seorang saudari tua yang di rumahnya ada dua barang yang bergambar naga, yaitu tutup lampu sutra dan perangkat minum teh. Lama setelah ia diselamatkan, ia tidak merasakan apa-apa. Kemudian ia diterangi oleh Tuhan dan memiliki perasaan batin yang dalam terhadap benda-benda itu. Setiap kali ia melihat benda-benda dengan hiasan naga itu ia merasa tidak damai. Maka ia mulai menghancurkan benda-benda itu menurut perasaan batinnya.

Demikian juga, ada seorang saudara yang memiliki perusahaan bordir yang khusus membuat pakaian tidur dengan gambar naga. Pada mulanya, ia kekurangan perasaan mengenai perkara-perkara ini. Tetapi, suatu hari, tiba-tiba ia berkata kepada saya, "Saudara Lee, saya merasa bahwa saya tidak dapat terus menjalankan pabrik saya. Saya adalah orang Kristen. Bagaimana mungkin saya terus menjual pakaian dengan gambar naga?" Ia lalu mengganti bisnisnya menurut perasaannya.

Kedua contoh di atas menunjukkan bagaimana orang-orang ini pada mulanya hidup di tengah-tengah benda-benda yang najis tanpa perasaan terhadap benda-benda itu. Kemudian suatu hari, karena kasih mereka terhadap Tuhan, karena mereka mengikuti Tuhan, dan mereka mengizinkan hayat Tuhan untuk bergerak dengan aktif di dalam mereka, mereka merasa perlu menyelesaikan perkara-perkara itu. Jadi, mereka menaati perasaan batin mereka dan mengakhiri perkara-perkara lampau. Itu membuktikan bahwa dasar penyelesaian perkara-perkara lampau adalah perasaan hayat di dalam.

Karena penyelesaian perkara-perkara lampau berdasar pada perasaan hayat di dalam, maka kita harus terus memegang prinsip ini ketika kita memimpin orang lain untuk menyelesaikan perkara-perkara lampau. Jangan menetapkan peraturan-peraturan luaran bagi mereka, mengajar mereka bahwa mereka harus membereskan ini atau itu, tetapi usahakan membangkitkan perasaan hayat yang di dalam dan menunjukkan hal itu kepada mereka. Pertama-tama kita perlu membuat orang lain mengenal bahwa hayat Allah ada di dalam mereka dan memimpin mereka untuk mengenal perasaan hayat ini. Kemudian, kedua, dengan bantuan ministri firman, buku-buku rohani, dan kesaksian orang-orang kudus lain mengenai penyelesaian perkara-perkara lampau mereka, bimbinglah mereka mempunyai sedikit perasaan atau perasaan yang lebih dalam mengenai perkara-perkara lampau yang perlu dibereskan. Begitu perasaan ini mulai timbul dan semakin dalam, di batin mereka, kita. dapat memimpin mereka untuk menyelesaikan perkara-perkara lampau menurut perasaan mereka sendiri. Sifat penyelesalan perkara-perkara lampau ini sesuai dengan prinsip keselamatan Tuhan dan dapat membantu orang lain agar benar-benar bertumbuh dalam hayat.

IV. TINGKAT PENYELESAIAN

PERKARA-PERKARA LAMPAU

Seberapa jauh kita harus mengakhiri perkara-perkara lampau? Sampai tingkat apa kita harus melakukannya? Tingkat penyelesaian perkara-perkara lampau diekspresikan dalam Roma 8:6 sebagai "hidup dan damai sejahtera".

Kita telah melihat bahwa penyelesaian perkara-perkara lampau adalah berdasar pada perasaan hayat di dalam. Perasaan hayat di dalam adalah perasaan yang diberikan kepada kita melalui pengurapan Roh Kudus di dalam. Karena penyelesaian perkara- perkara lampau kita berdasar pada perasaan hayat di dalam, maka prosedurnya sama seperti yang disebutkan dalam Roma 8:5-6, yaitu, hidup menurut Roh, atau memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena itu, hasilnya tentu saja sama : "hidup dan damai sejahtera". Jadi, hidup dan damai sejahtera adalah tingkat yang perlu kita capai dalam menyelesaikan perkara-perkara lampau. Jika kita mengikuti tuntutan perasaan yang ada di dalam untuk mengganti rugi, mengakui dosa-dosa kita, mengakhiri perkara-perkara yang tidak pantas dan najis, dan mengakhiri cara hidup kita yang lama, kita pasti akan merasa dikuatkan, diterangi, dipuaskan, dan dihidupkan; kita juga akan merasa damai sejahtera, aman, dan penuh dengan hadir Tuhan. Jika kita sudah. melakukan penyelesaian perkara-perkara lampau dan kita. tetap merasakan kurang kepenuhan dan pernyataan hidup dan damai sejahtera, kita pasti belum mengikuti Roh itu sepenuhnya; kita tidak cukup memuaskan tuntutan perasaan yang di dalam. Kita harus menengadah kepada Tuhan untuk mendapat anugerah (kasih karunia) sehingga kita dapat menyelesaikan perkara-perkara lampau dengan lebih tuntas, sampai kita penuh dengan hayat dan damai sejahtera.

Tentu saja kesaksian hidup dan damai sejahtera di dalam tidak cukup untuk membuktikan bahwa semua perkara lampau kita yang perlu dibereskan telah kita bereskan. Itu hanya menandakan bahwa kita telah membereskan segala sesuatu menurut tuntutan perasaan di dalam kita. Mungkin sejangka waktu kemudian, setelah hayat kita bertumbuh dan perasaan kita meningkat, kita akan merasa bahwa masih banyak yang perlu dibereskan. Pada saat itu kita harus mengikuti pimpinan perasaan di dalam, sekali lagi membereskan perkara-perkara itu sampai kita merasa hidup dan damai sejahtera lagi. Setelah beberapa penyelesaian dan pemberesan yang tuntas, maka kita sudah membereskan perkara-perkara, tingkah laku, hubungan, dan konsepsi-konsepsi lampau yang tidak menyenangkan Tuhan, sampai ke tingkat yang jauh lebih baik. Kemudian kita dapat mengikuti Tuhan dan maju terus tanpa beban berat.

TAHAP KEDUA

TINGGAL DI DALAM KRISTUS

Apa yang telah kita lihat dalam bab-bab sebelumnya adalah tahap, pertama dari hayat rohani, yaitu pengalaman "di dalam Kristus". Sekarang kita akan melanjutkan melihat tahap kedua dari hayat rohani, pengalaman "tinggal di dalam Kristus".

"Tinggal di dalam Kristus" dan "di dalam Kristus" adalah dua hal yang berbeda. Walaupun keduanya membicarakan hubungan kita dengan hayat Kristus, namun masalahnya berbeda. "Di dalam Kristus" mengacu kepada fakta bahwa kita berbagian atas Kristus dan bersatu dengan Kristus. "Tinggal di dalam Kristus" mengacu kepada pengalaman persekutuan kita dengan Kristus dan menikmati Kristus.

Awalnya, kita di dalam Adam dan berbagian atas Adam. Ketika kita menerima Tuhan sebagai Penyelamat kita, Allah memindahkan kita dari Adam ke dalam Kristus. Ini adalah tahap pertama pengalaman hayat, maka kita menyebut tahap ini "di dalam Kristus". Setelah kita diselamatkan dan tertarik oleh kasih Tuhan, kita lebih mencari Tuhan, mempersembahkan diri kita, dan memiliki berbagai macam penanggulangan. Karena itu, kita masuk ke dalam tahap kedua dari pengalaman hayat. Kita mulai tinggal di dalam Kristus dengan cara yang riil, bersekutu dengan Kristus, menlkmati Kristus, dan mengalami Kristus. Kita sebut tahap kedua ini adalah tahap "tinggal di dalam Kristus".

Ada orang telah menyebut tahap pertama sebagai "tahap keselamatan" dan tahap kedua sebagal "tahap kebangunan". Artinya, dalam tahap pertama manusia hanya sekadar memiliki keselamatan Tuhan, dilahirkan kembali oleh Roh Kudus. Sedangkan untuk pengalaman hayat yang lain, mereka masih sangat lemah dan samar-samar karena itu; tahap ini hanya dapat disebut "tahap keselamatan". Pada tahap yang kedua, dia digugah oleh kasih Tuhan dan dipulihkan; dia mengasihi Tuhan, mencari Tuhan, dan mendapatkan berbagai macam pengalaman hayat yang datang setelah kelahiran kembali. Tahap ini disebut "tahap kebangunan".

Kita terpaksa membagi awal pengalaman hayat orang Kristen ke dalam dua tahap. Namun, menurut kebenaran, dua tahap ini seharusnya tidak dapat dibagi. Disinggung dari pembagian ini : "di dalam Kristus" dan "tinggal di dalam Kristus", begitu seseorang diselamatkan dan dipindahkan ke dalam Kristus, seharusnyalah ia telah tinggal di dalam Kristus. Begitu kita berbagian dengan apa adanya Kristus, bersatu dengan Kristus, dan memiliki fakta berada di dalam Kristus, kita seharusnya memiliki persekutuan dengan Kristus, menikmati Kristus, dan memiliki pengalaman tinggal di dalam Kristus. Tidak ada orang yang dapat pindah rumah tanpa tinggal dalam rumah itu dan menikmatinya. Sama halnya, begitu seseorang di dalam Kristus, dia seharusnya tinggal di dalam Kristus - dua hal ini sangat berhubungan dan saling terkait, terjadi hampir secara bersamaan. Karena itu, "di dalam Kristus" dan "tinggal di dalam Kristus" hanya dapat dipandang sebagai satu tahap. "Tinggal di dalam Kristus" seharusnya adalah tahap pertama, dengan "di dalam Kristus" adalah awal dari tahap pertama.

Disinggung dari pembagian "tahap keselamatan" dan "tahap kebangunan", situasinya juga sama. Kelahiran kembali adalah tahap keselamatan sebenarnya juga "kebangunan". Tadinya manusia tinggal di hadapan Allah, tetapi karena pelanggarannya, manusia menjadi mati dan iatuh dalam dosa. Sekarang karena pembebasan Tuhan, manusia dibangkitkan bersama dengan Tuhan dan dinaikkan kembali bersama dengan Tuhan. Inilah kelahiran kembali, dan inilah kebangunan. Karena itu, manusia yang telah dilahirkan kemball dan diselamatkan seharusnya menjadi manusia yang dibangunkan. Tidaklah normal bagi seseorang yang diselamatkan tetapi tanpa dibangunkan, karena inti keselamatan adalah kelahiran kembali, yaitu kebangunan. Hanya keselamatan yang tidak mencapai standar yang tidak mempunyai keadaan kebangunan; keselamatan yang mencapai standar, tidak hanya kelahiran kembali, tetapi juga kebangunan. Karena itu, tahap keselamatan adalah tahap kebangunan, keduanya juga seharusnya tidak dipisahkan.

Karena itu, dengan tegas dapat dikatakan bahwa empat tahap hayat rohani sebenarnya hanya ada tiga tahap, dengan kedua tahap pertama dianggap sebagai satu tahap. Akan tetapi, meskipun ada banyak orang yang telah diselamatkan, nampaknya tidak memiliki citarasa kebangunan; meskipun secara fakta mereka benar-benar telah ada di dalam Kristus, namun mereka tidak memiliki pengalaman tinggal di dalam Kristus. Mereka masih membutuhkan belas kasihan Tuhan untuk ditarik oleh-Nya, mengasihi Dia, mencari Dia, dan mengikuti Dia, sehingga mereka menampilkan suasana kebangunan, mulai menikniati Kristus dan mengalami Kristus. Untuk alasan inilah kita membagi awal pengalaman hayat orang Kristen menjadi dua tahap.