KELAHIRAN KEMBALI
Pengalaman pertama pada tahap pertama adalah kelahiran kembali.
Ditinjau dari aspek pengenalan hayat, kelahiran kembali berarti, selain hayat asainya, manusia mendapatkan hayat Allah. Tetapi ditinjau dari aspek pengalaman, sebenarnya apakah kelahiran kembali itu, dan bagaimanakah keadaannya?
I. KELAHIRAN KEMBALI ADALAH :
1. Bagian Hayat dari Pengalaman atas Keselamatan
Cerita tentang bagaimana kita diselamatkan adalah cerita tentang bagaimana kita mengalami keselamatan Allah. Keselamatan Allah benar-benar sempurna dan lengkap. Ia meliputi pengampunan dosa, pembasuhan, pengudusan, pembenaran, pembebasan, kelahiran kembali, dan lain-lain - semuanya adalah bagian dari keselamatan Allah. Dari semua bagian ini, hanya kelahiran kembali yang merupakan bagian hayat. Pengampunan dosa bukanlah perkara hayat; demikian juga dengan pembasuhan dosa, pengudusan, dan pembenaran. Bahkan dibebaskannya kita dari semua belenggu juga bukan sepenuhnya perkara hayat, karena sebagian darl pengalaman Itu berhubungan dengan pembebasan dari hukum dan bagian yang lain berhubungan dengan pembebasan dari belenggu dosa; dan bagian-bagian itu tidak sepenuhnya berasal dari hayat. Semua itu hanyalah perkara-perkara yang telah Allah kerjakan di atas diri kita. Hanya kelahiran kembali yang merupakan bagian hayat dalam keselamatan Allah. Jadi, ketika kita mengalami keselamatan Allah, hanya kelahiran kembali yang merupakan pengalaman hayat.
2. Bagian Inti dari Pengalaman atas Keselamatan
Karena kelahiran kembali adalah bagian hayat dari pengalaman atas keselamatan, maka ia juga adalah bagian inti dari pengalaman atas keselamatan. Tujuan utama Allah menyelamatkan kita adalah agar kita mendapatkan hayatNya. Untuk inilah Dia mengampuni dosa-dosa kita; untuk inilah Dia membasuh kita; untuk inilah Dia menguduskan kita; untuk inilah Dia membenarkan kita; dan untuk inilah Dia membebaskan kita. Dia telah mengerjakan semua ini dengan satu tujuan - kelahiran kembali. Jadi, kelahiran kembali adalah bagian inti dari keselamatan Allah, dan juga merupakan bagian inti dari pengalaman kita atas keselamatan Allah.
3. Permulaan Pengalaman Hayat
Pengalaman hayat yang pertama adalah kelahiran kembali. Tanpa kelahiran kembali, kita belum memulai pengalaman hayat kita. Ketika kita dilahirkan kembali, maka padasaat itulah kita mulai mengalami hayat. Jadi, dari aspek pengalaman, kelahiran kembali adalah permulaan pengalaman hayat.
4. Masuknya Hayat Allah ke Dalam Kita
Karena kelahiran kembali adalah mendapatkan hayat Allah sebagai tambahan hayat asal kita, maka saat kita dilahirkan kembali, adalah saat hayat Allah masuk ke dalam kita. Jadi, kelahiran kembali adalah masuknya hayat Allah ke dalam kita.
5. Kelahiran Kristus di Dalam Kita
Kelahiran kembali bukan hanya merupakan masuknya hayat Allah ke dalam kita, tetapi juga merupakan kelahiran Kristus di dalam kita. Karena hayat Allah (di dalam Kristus) masuk ke dalam kita, maka ketika kita dilahirkan kembali, di satu pihak dikatakan bahwa hayat Allah masuk ke dalam kita, tetapi di pihak lain dapat dikatakan bahwa Kristus dilahirkan di dalam kita. Kelahiran Kristus di dalam kita berarti Kristus dilahirkan sekali lagi di dalam kita. Setiap kali seseorang dilahirkan kembali, Kristus dilahirkan sekali lagi di dalam orang tersebut. Jadi, kelahiran kembali adalah kelahiran Kristus di dalam kita.
6. Permulaan Manusia Baru
Kelahiran kembali juga merupakan permulaan manusia baru di dalam kita. Semua pengalaman hayat rohani kita adalah perkara manusia baru di dalam kita, dan manusia baru ini dimulai pada saat kita dilahirkan kembali. Sebelum kita dilahirkan kembali, kita berada di dalam Adam, orang dosa yang jatuh, manusia lama. Begitu kita dilahirkan kembali, hayat Allah di dalam Kristus masuk ke dalam kita. Hayat ini adalah unsur baru, dan ketika ia berbaur dengan roh kita, ia menjadi manusia baru di dalam kita. Karena itu, setiap orang darl kita yang telah dilahirkan kembali boleh dikatakan sebagai manusia ganda: di satu pihak kita adalah manusia lama di dalam Adam, jatuh; dan di pihak lain kita adalah manusia baru di dalam Kristus, diselamatkan. Manusia baru ini bermula pada saat kita dilahirkan kembali. Jadi, kelahiran kembali adalah permulaan manusia baru.
II. KEADAAN KELAHIRAN KEMBALI
Pengalaman kelahiran kembali secara khusus berhubungan dengan empat aspek : sifat kita, hati kita, roh kita, dan hayat Allah. Karena itu, kita akan melihat keadaan kita sebelum kelahiran kembali, selama kelahiran kembali, dan setelah kelahiran kembali dari keempat aspek ini.
1. Keadaan Sebelum Kelahiran Kembali
Pertama, sifat kita rusak. Yeremia 17:9 mengatakan : "Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu : siapakah yang dapat mengetahuinya?" Meskipun ayat ini membicarakan hati manusia, tetapi sebenarnya ditujukan kepada sifat manusia. Karena itu, dari ayat ini kita tahu bahwa sebelum kelahiran kembali, sifat asli kita itu licik dan bobrok, sangat rusak, dan tidak dapat selaras dengan sifat Allah.
Kedua, hati membatu terhadap Allah. Yehezkiel 36:26 mengatakan bahwa hati asli kita adalah "hati yang keras". Ini berarti bahwa sebelum dilahirkan kembali, hati kita terhadap Allah selalu memberontak, keras kepala, dan sekeras batu.
Ketiga, roh kita mati terhadap Allah. Sebelum kelahiran kembali, karena dosa (Ef. 2:1), roh kita mati terhadap Allah dan telah kehilangan fungsinya untuk berkontak dengan Allah. Karena itu, kita tidak dapat bersekutu dengan Allah ataupun mengerti hal-hal rohani dari Allah.
Keempat, manusia terpisah dari hayat Allah. Karena sifat manusia yang belum dilahirkan kembali itu rusak, hatinya keras terhadap Allah, dan rohnya mati terhadap Allah, maka seluruh dirinya terpisah dari hayat Allah (Ef. 4:18).
Inilah keadaan kita sebelum dilahirkan kembali.
2. Keadaan selama Mengalami Kelabiran Kembali
Pertama, kita nampak bahwa sifat kita rusak. Walaupun sebelum dilahirkan kembali sifat kita sudah rusak, tetapi kita tidak mengetahuinya. Karena penerangan Roh Kudus, pada saat kita mengalami kelahiran kembali itulah kita nampak bahwa diri kita rusak. Saat itu kita nampak bahwa bukan hanya kelakuan kita yang di luar saja yang bobrok, tetapi sifat hakiki kita juga bobrok.
Kedua, hati kita penuh penyesalan dan pertobatan kepada Allah. Ketika kita mengalami kelahiran kembali dan Roh Kudus menerangi kita, kita melihat diri kita sendiri bobrok, berdosa terhadap Allah dan manusia. Maka hati kita mencela kita dan penuh penyesalan serta pertobatan kepada Allah.
Ketiga, roh kita penuh rasa duka terhadap Allah. Karena pertobatan hati kita, maka roh di kedalaman diri kita juga merasa sangat berduka. Roh kita pada saat itu sama seperti yang dikatakan dalam Mazmur 51:19, "Jiwa (roh) yang hancur." Ketika kita dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, roh di dalam diri kita merasa sangat berduka - benar-benar seperti hancur.
Keempat, manusia berkontak dengan hayat Allah. Sejak manusia berdosa dan jatuh serta diusir dari Taman Eden, kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar menjaga jalan ke pohon hayat (Kej. 3:24), sehingga manusia tidak lagi dapat menyentuhnya dan mendapatkan hayat Allah. Jalan menuju hayat Allah baru dibuka setelah Tuhan Yesus mencucurkan darah-Nya dan mati di atas salib sehingga memuaskan tuntutan kemuliam kekudusan, dan kebenaran Allah. Itulah sebabnya pada saat kita dilahirkan kembali, karena penyesalan, pertobatan, dan iman kita dalam menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, kita dapat menjamah hayat Allah yang ada di dalam Dia dalam roh kita. Karena hayat Allah ada di dalam Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus (1 Yoh. 5:11).
3. Keadaan setelah Kelahiran Kembali
Pertama, kita merasa bahwa sifat kita rusak. Pada saat kelahiran kembali, kita melihat bahwa sifat kita rusak. Setelah kelahiran kembali, karena penglihatan awal itu, kita selalu merasa bahwa sifat kita rusak.
Kedua, hati kita melunak terhadap Allah. Hati kita, yang sekeras batu terhadap, Allah sebelum kelahiran kembali, telah mengalami pertobatan pada saat kelahiran kembali, dilunakkan terhadap Allah dan menjadi "hati yang taat" (Yeh. 36:26). Hati kita, telah dilunakkan, damba mengasihi Allah dan dekat dengan Allah; ia rindu menjamah hal-hal rohani dan dengan gembira menerima serta menaati perintah Allah; tidak keras kepala ataupun memberontak; walaupun kadang-kadang ia tidak mampu taat, tetapi masih ingin taat.
Ketiga, roh kita hidup terhadap Allah. Roh yang mati sebelum kelahiran kembali, karena menjamah hayat Allah pada saat kelahiran kembali, telah dihidupkan dengan kuasa kebangkitan Allah. Setelah dihidupkan, roh itu dapat berkontak dengan Allah, bersekutu dengan Allah, memahami hal-hal rohani dari Allah, dan memiliki kekuatan untuk melakukan kehendak Allah.
Keempat, kita memiliki hayat Allah. Karena kita telah menjamah dan menerima hayat Allah ketika dilahirkan kembali, kita memiliki hayat Allah di dalam kita. Selain itu, kita juga memiliki sifat Allah, karena sifat Allah ada di dalam hayat Allah.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang pengalaman kelahiran kembali dalam hubungannya dengan keempat hal ini, sifat kita, hati kita, roh kita, dan hayat Allah, perubahan-perubahan yang terjadi sebelum dan setelah kelahiran kembali sangat jelas semuanya. Sifat kita sebelum kelahiran kembali rusak; pada saat kelahiran kembali kita melihat bahwa sifat kita rusak; dan setelah kelahiran kembali kita selalu merasa bahwa sifat kita rusak. Sebelum kelahiran kembali, hati kita keras terhadap Allah; pada saat kelahiran kemball, hati kita penuh pertobatan; dan setelah kelahiran kembali, hati kita menjadi lunak terhadap Allah. Sebelum kelahiran kembali, roh kita mati; pada saat kelahiran kembali, roh kita penuh duka (hancur); dan setelah kelahiran kembali, roh kita hidup terhadap Allah. Sebelum kelahiran kembali, kita terpisah dari hayat Allah; pada saat kelahiran kembali, kita menjamah hayat Allah; dan setelah kelahiran kembali, kita memiliki hayat Allah. Jika kita jelas mengenal butir-butir ini, maka kita memiliki pengertian yang menyeluruh akan pengalaman kelahiran kembali.