Daftar isi Dua Belas Bakul (3) · bab 6/12

Membasuh Kaki

Pembacaan Alkitab: Yohanes 13:1-14

Injil Yohanes secara khusus memperlihatkan kepada kita betapa air melambangkan hayat. Pasal 4 mengisahkan, setelah kita beroleh hayat, hayat itu segera menjadi mata air di dalam kita, yang memancar sampai kepada hidup yang kekal. Pasal 7 memperlihatkan bahwa air itu akan seperti sungai air hayat yang mengalir dari batin manusia. Sampai pasal 13, air mempunyai daya guna yang lain lagi. Air tidak hanya memancar di dalam kita sehingga membuat kita puas; air tidak hanya menambah tenaga kita dan menjadi sungai air hayat yang mengalir kepada orang lain; air bahkan dapat memberi kesegaran, perasaan yang baru dan bantuan yang baru kepada kita.

Ditinjau dari segi rasio manusia, pasal 13 seolah-olah tidak ada gunanya. Telah ada pasal 4 dan pasal 7 sudahlah cukup. Ada sumber di dalam, ada sungai di luar, perlu apa lagi? Sudah tidak perlu apa-apa lagi. Tetapi coba renungkan, setelah dilahirkan kembali, adakah Anda kadang kala merasa seolah-olah belum dilahirkan kembali? Dari segi doktrin, boleh jadi Anda tahu bahwa air yang Tuhan karuniakan itu akan menjadi mata air di dalam Anda, memancar sampai kepada hidup yang kekal. Tetapi, pada suatu hari, entah kapan, Anda merasa mata air itu tidak memancar lagi. Mulut Anda mengatakan sudah puas, tidak ada permintaan apa-apa lagi. Tetapi pada hari-hari lainnya, batin Anda merasa tidak puas. Bukankah di dalam Anda terasa ada kekurangan, ada permintaan, ada ketidakpuasan? Di dalam Anda tidak ada yang memancar, juga tidak ada yang mengalir kepada orang lain? Saudara saudari, karena keadaan rohani kita ada kalanya terasa kering dan sumpek, sebab itu kita memerlukan air dari pasal 13.

PERLUNYA PEMBASUHAN KAKI

Pasal 13:1 mengatakan, “Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya.” Kemudian dalam ayat 5 dikisahkan Tuhan membasuh kaki murid-murid-Nya dengan air. Jelas, bahwa motivasi Tuhan Yesus membasuh kaki bukan karena murid-murid itu berdosa, melainkan karena Ia mengasihi orang-orang milik-Nya; bahkan kasih ini bukan kasih yang semula, melainkan kasih yang sampai kepada kesudahannya. “Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” Dengan adanya pembasuhan ini, maka kasih-Nya terwujud dengan sempurna. Karena itu, pembasuhan kaki ini memang diperlukan. Sebab pembasuhan kaki menyatakan kasih Tuhan yang sampai kepada kesudahannya; pembasuhan kaki merupakan pekerjaan kasih Tuhan yang sampai kepada kesudahannya; dan menyangkut keadaan kita yang sampai kepada kesudahannya sebagai orang Kristen. Jadi, bila kita ingin di hadapan Tuhan menempuh jalan di depan kita dengan baik, wajiblah mengetahui bagaimana menerima pembasuhan kaki dari orang lain, serta tahu pula bagaimana membasuh kaki orang lain. Dengan kata lain, kita wajib memiliki pengalaman menerima perlakuan orang lain membasuh kaki kita, juga memiliki pengalaman membasuh kaki orang lain.

Tuhan berkata kepada Petrus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Benarkah kalau hari itu Tuhan tidak membasuh kaki Petrus, maka Tuhan tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Petrus? Tidak demikian. Petrus adalah orang yang sudah mandi, sudah sejak dulu mempunyai hubungan dengan Tuhan, bahkan sampai selama-lamanya tetap ada hubungan. Namun, bila Tuhan tidak membasuh kaki Petrus, maka dalam aspek persekutuan, Petrus seolah-olah tidak ada bagian, Petrus seolah-olah tidak dapat menjamah Tuhan. Kita harus ingat bahwa masalah membasuh kaki yang dibicarakan dalam Injil Yohanes pasal 13 ini bukan berkaitan dengan masalah dosa, melainkan berkaitan dengan hayat dan kuasa, yakni masalah kesegaran hayat.

Orang-orang yang tinggal di daerah Asia Kecil, umumnya tidak memakai kaos kaki. Sepatu yang mereka pakai berlubang-lubang, sehingga kalau mereka bepergian, kaki mereka pasti tidak terhindar dari debu. Setiap kali mereka selesai bekerja dan pulang ke rumah untuk beristirahat, mereka terlebih dulu harus membasuh kaki mereka. Perhatikanlah, kotornya kaki karena debu di sini, bukan karena telah berbuat dosa, melainkan karena kaki menginjak tanah sehingga tidak terhindar dari pengotoran debu.

Tuhan tidak menegur murid-murid-Nya mengapa membiarkan kakinya kotor, justru karena kasih-Nya yang sampai kepada kesudahannya itu, Ia membasuh kaki mereka. Kaki berdebu bukan masalah dosa. Jika itu masalah dosa, tentulah bukan demikian sikap Tuhan terhadap mereka. Ia tidak pernah ceroboh terhadap masalah dosa. Orang yang mengenal Allah pasti tahu, bahwa orang Kristen tidak patut berbuat dosa. Di samping itu, mereka juga mengakui, bahwa ketika orang Kristen berjalan di dunia ini, ia takkan luput dari kaki yang dikotori debu. Selama kita belum berjalan di jalan yang terbuat dari emas murni di Yerusalem Baru, tidak peduli betapa hati-hatinya kita berjalan, atau berusaha dengan sekuatnya, kaki kita tetap tidak terhindar dari tempelan debu-debu. Karena kaki kita ada kalanya dikotori oleh debu, maka keadaan kerohanian kita menjadi suram, tidak segar lagi. Karena alasan inilah, maka kaki kita perlu dibasuh, supaya keadaan kerohanian kita dipulihkan.

Tuhan membasuh kaki murid-murid adalah untuk menanggulangi masalah kesuraman dan ketidaksegaran ini, bukan menanggulangi masalah dosa. Penanggulangan dosa terlaksana melalui pembasuhan darah. Kita wajib memiliki darah, baru bisa menghampiri Allah dengan lapang hati. Namun, itu belum cukup. Meskipun kita sudah di bawah pembasuhan darah, kita belum tentu memiliki kesegaran rohani. Jadi, kita masih memerlukan pembasuhan air. Orang yang dibasuh dengan air, selalu merasa segar nyaman, dan dengan sendirinya semangatnya dipulihkan. Pembasuhan darah membuat Anda bisa berdiri di depan Allah; pembasuhan air membuat Anda merasa segar, nyaman dan penuh semangat.

Kita harus mengetahui bahwa kekuatan Iblis bertumpu pada dosa dan maut. Ibrani pasal 2 memperlihatkan kepada kita bahwa kuasa Iblis bertumpu pada maut. Iblis menyerang anak-anak Allah dengan menyuruh mereka berbuat dosa atau membuat mereka mati. Sebab itu, kita tidak saja harus menjaga kebersihan, kita pun harus penuh dengan hayat. Ini bukan berarti hayat yang Anda peroleh pada saat dilahirkan kembali akan segera mati, sehingga Anda perlu memperolehnya sekali lagi; melainkan berarti, hayat itu seolah mati di dalam Anda, sampai-sampai tidak terasa kalau itu ada. Kita sering membuat kesalahan besar, yaitu mengira asalkan di pihak negatifnya kita tidak berdosa, sudahlah cukup. Ternyata, kalau di pihak positifnya tidak menyatakan hayat, itu belum cukup. Pekerjaan Iblis di atas diri kita, kalau bukan menyuruh kita berbuat dosa, tentu membuat kita redup, semuanya terasa seolah-olah tidak berarti, tawar, dan seolah-olah Allah itu jauh, ada sesuatu yang menyekat di antara kita dengan Allah. Suatu saat Anda merasakan, walaupun Anda tidak melakukan dosa ini atau dosa itu, tetapi di dalam Anda terasa dingin, tawar sekali, layu, tidak bersemangat. Keadaan inilah yang disebut mati.

Banyak orang Kristen yang kekurangan “semangat rohani”. Mereka tidak ada kejelekan apa-apa, mereka pun tidak berbuat dosa, namun selalu terasa tidak bersemangat, tidak bisa bangun. Kita harus ingat, tidak ada seorang Kristen yang redup yang bisa berperang melawan Iblis. Dosa memang membuat Anda kehilangan syarat untuk berperang melawan Iblis, namun kesuraman rohani juga dapat membuat Anda kehilangan syarat untuk berperang. Sebab itu kita harus menjaga diri supaya terhindar dari dosa, juga perlu menjaga diri agar terhindar dari keredupan.

Keredupan dapat kita periksa dengan hal-hal yang nyata sebagai berikut. Tatkala Anda datang bersidang, berapa kalikah Anda datang dengan membawa hayat atau sebaliknya Anda datang tanpa semangat sedikit pun? Berapa kalikah Anda bersikap positif dan berapa kalikah Anda bersikap negatif? Semua yang tidak positif adalah maut. Di dalam sidang, bukan hanya orang yang menyampaikan firman yang memerlukan hayat, orang-orang yang mendengarkan firman juga memerlukan hayat. Banyak orang datang bersidang dengan keadaan yang redup, penat, tidak ada semangat rohani. Jika orang macam ini menduduki persentase besar, maka beban dalam sidang akan terasa sangat berat, dan semua orang akan merasa tidak kuat memikulnya. Sebab itu, setiap kali sidang, bukan hanya pembawa firman saja yang perlu menyuplai gereja dengan hayat, setiap saudara saudari yang datang bersidang pun harus menyuplai gereja dengan hayat. Tidak ada sehari pun bagi kita untuk pasif. Kapan saja Anda pasif di dalam sidang, itu berarti Anda telah membebani gereja dengan pikulan Anda. Kita harus tahu bahwa sarana yang khusus digunakan Iblis terhadap gereja adalah maut. Iblis justru bermaksud mengauskan hayat kita, agar kita terjangkau oleh maut. Tetapi, Tuhan ingin memelihara kita agar kita terlepas dari maut.

Ketika keadaan rohani kita redup, kita perlu dibasuh dengan air. Itulah alasan Tuhan menghendaki kita mandi sekali saja, tetapi membasuh kaki berkali-kali. Dengan sekali mandi kita beroleh hayat, dengan berkali-kali membasuh kaki kesegaran hayat akan dipulihkan. Orang yang sudah mandi sudah mendapat hayat. Haleluya! Kita sekalian sudah mandi. Yang belum mandi bukanlah orang Kristen. Pada suatu hari, Ia telah membasuh aku dengan darah, juga membasuh aku dengan air, sehingga aku beroleh hayat Allah; bersamaan dengan itu, aku menjamah Allah, aku menjamah Tuhan. Saat itu, aku benar-benar merasakan adanya satu dunia rohani, aku benar-benar menjamah realitas rohani. Terasa padaku kematian Tuhan Yesus bukan terjadi dua ribu tahun yang lalu, melainkan seakan-akan terjadi pada hari ini. Terasa padaku Tuhan bukan mati di Golgota, melainkan seakan-akan terjadi di sini. O, waktu dan ruang sudah tidak ada lagi, hanya realitas rohani yang ada, itulah yang disebut mandi.

Namun, ada berapa orang Kristen yang mempunyai kesegaran itu terus-menerus setelah mandi? Ada yang berkata, ah, betapa baiknya bila aku tidak kehilangan kasih yang semula; ada pula yang berkata, alangkah baiknya bila aku bisa tetap tinggal seperti hari-hari pertama aku baru beroleh selamat. Semua itu menunjukkan bahwa Anda tidak lagi sesegar saat Anda baru mandi. Itu menandakan perlunya pembasuhan kaki. Membasuh kaki akan membawa Anda kembali ke dalam keadaan seperti baru selesai mandi. Membasuh kaki dapat membuat Anda memiliki kesegaran hayat; membasuh kaki dapat membuat Anda memiliki kekuatan baru; membasuh kaki dapat memberi Anda kebangunan rohani. Itulah yang diberikan pembasuhan kaki kepada Anda. Membasuh kaki bukan sekadar masalah bersih, membasuh kaki bahkan membuat orang segar nyaman. Setelah kaki Anda dibasuh, Anda akan merasa lega dan kembali bersemangat. Pembasuhan kaki akan memulihkan kesegaran rohani kita dan menjadikan kita penuh hayat. Saudara saudari, membasuh kaki adalah perkara yang sangat penting. Pemulihan hayat, pemulihan semangat rohani adalah perkara yang sangat penting.

SALING MEMBASUH KAKI

Sesudah Tuhan Yesus membasuh kaki murid-murid, Ia lalu berpesan, “Maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu;” ini memperlihatkan kepada kita bahwa membasuh kaki ini, harus diteruskan oleh Gereja. Pembasuhan kaki harus kita laksanakan seorang terhadap yang lain.

Pernahkah Anda mengalami seperti ini: Suatu hari Anda merasa bahwa semangat rohani Anda rapuh dan menurun. Anda sendiri merasa tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa, atau berbuat dosa tertentu, kecuali sangat letih, tidak bersemangat sama sekali. Anda mendatangi seorang saudara yang pandai berkhotbah, dan ia berkhotbah kepada Anda, tak tahunya Anda malah semakin dingin dan hambar; akhirnya Anda pergi. Anda mengunjungi seorang saudara yang lain, ia mengajak Anda berdoa cukup lama, namun Anda tetap tidak mendapatkan faedah; Anda pun pergi. Kemudian Anda bertemu lagi dengan seorang saudara. Ia tidak berkhotbah, juga tidak mengajak Anda berdoa; ia hanya sekadar berbincangbincang dengan Anda. Ia berbicara secara sepintas lalu, Anda juga mendengarkan sekadarnya saja, tetapi semangat dan kekuatan Anda telah bangkit kembali. Setelah mendengarkan beberapa patah kata saja, Anda lalu bisa menyanyi. Ketika masuk, Anda masih muram durja; tetapi ketika keluar, Anda bisa menyanyi haleluya. Tadinya kalau mau haleluya bisa juga, cuma harus dipaksakan. Sekarang ini lain benar, karena sudah terjamah hayat. Saudara tadi telah menyuplai Anda dengan hayat. Ia telah membasuh kaki Anda. Membasuh kaki adalah saling menyuplai hayat kepada sesama anggota Tubuh dalam Gereja.

Di pabrik atau di sekolah, kita merasa letih karena telah bekerja atau belajar seharian, sehingga kehilangan semangat rohani. Membaca Alkitab tidak ada selera, berdoa pun tidak. Dalam keadaan demikian, Anda datang bersidang, atau Anda pulang ke rumah, dan bertemu dengan saudara yang mengenal Tuhan. Begitu bertemu, semangat Anda segera bangkit, terasa sekali bahwa Anda berkontak dengan Allah. Ia telah menyuplai Anda dengan hayat, ia telah membasuh kaki Anda. Begitu Anda disentuh hayat, serta merta semangat rohani Anda dipulihkan. Anda menjadi terang kembali. Itulah yang dimaksud dengan saling membasuh kaki.

Dalam hal orang Kristen saling membantu, tidak ada yang lebih mustika daripada saling membasuh kaki. Tidak ada yang lebih penting daripada menyuplai hayat kepada sesama anggota Tubuh. Jika seorang Kristen yang mengalami lesu rohani, lemah rohani datang bersidang, kemudian pulang dengan tetap lesu, berarti sidang tersebut sudah gagal. Jadi, setiap kali kita bersidang, kita harus membawa hayat; kalau tidak, itu akan menambah berat pikulan sidang. Setiap saudara saudari yang datang, wajiblah membawa hayat, agar saudara saudari bisa menjamah hayat, sehingga keredupan rohani dienyahkan, dan mereka kembali menjadi cerah dan segar.

Pernah sekali pada suatu sidang berkhotbah, seorang saudara datang dengan keadaannya yang amat redup. Ia bertanya kepada diri sendiri apakah ada dosa? Tidak ada. Apakah ada urusan? Tidak juga. Tetapi semangat rohaninya terasa tidak dapat dibangkitkan. Dia lalu berdoa, “Tuhan, aku memerlukan suplai hayat.” Kemudian, ada seorang saudara berdoa, dan doa itu justru menyuplai dia, sehingga ia menyala terang. Inilah yang dimaksud saling membasuh kaki.

Siapa yang datang bersidang dengan pasif, acuh tak acuh, hanya tahu duduk di kursi tanpa mengharapkan peristiwa apa-apa, tanpa ingin membantu seorang pun, itu bukanlah saling membasuh kaki. Saling membasuh kaki berarti aku datang bersidang, aku ingin membantu orang, aku ingin orang lain mendapat faedah. Menaruh hasrat membantu saudara belum tentu harus berbuat sesuatu. Yang paling penting adalah aku datang tidak membawa pikulan yang memberatkan sidang. Kadang-kadang aku benar-benar tidak mempunyai kekuatan, semangat rohani terasa benar-benar tidak bisa bangun. Boleh saja aku mengharap saudara saudari membasuh kakiku, agar aku menjamah Allah dan mendapat bantuan rohani. Tetapi hati-hatilah, jangan setiap kali bersidang selalu membawa pikulan berat. Jika di antara lima ratus saudara saudari, empat ratus orang membawa pikulan berat, itu sudah pasti terlampau memberatkan. Berharga atau tidaknya suatu sidang, menjamah hayat atau tidaknya suatu sidang, tergantung pada mana yang lebih banyak, hayat atau pikulannya. Setiap saudara saudari harus bertanggung jawab dalam hal ini. Jika banyak saudara saudari yang terbuka, dengan sendirinya sidang itu tidak ada kesulitan apa-apa, dan banyak orang akan terbangun. Sebaliknya, jika banyak saudara saudari yang duduk dengan dingin dan acuh tak acuh, diseret pun sidang itu takkan bergerak juga. Pasif adalah barang yang paling memberatkan Gereja. Setiap orang wajib berdoa, setiap orang wajib mempersiapkan diri, setiap orang wajib menyuplai sidang dengan hayat. Dalam sidang gerejani perlu saling membantu, barulah bisa mendatangkan bantuan. Saling membantu itulah saling membasuh kaki.

Tuhan berkata, “Jadi jika Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” Kita harus ingat, hari ini tugas membasuh kaki sudah diserahkan kepada Gereja. Ini bukan berarti kalau datang ke hadapan Tuhan tak mungkin disegarkan, melainkan menyatakan bahwa Tuhan telah memerintahkan kita untuk saling membasuh kaki. Sebelum membasuh kaki orang lain, keadaan kita sendiri harus segar dulu. Kalau Allah sering melakukan garapan baru atas diri kita, barulah kita bisa menyuplaikan yang baru kepada orang lain. Bila orang yang bersentuhan dengan kita merasakan bahwa kita tidak berbeda dengan lima tahun yang lalu, tidak ada sesuatu yang baru, itu sungguh kasihan. Jika kita harus menunggu beberapa tahun atau beberapa bulan baru memiliki sesuatu yang baru, itu sudah cukup kasihan. Kita wajib bersikap positif, aktif di hadapan Allah, bukannya berhenti.

Ada seorang saudari yang digarap Tuhan begitu rupa, sehingga atas dirinya terdapat ciri-ciri khas, yaitu setiap kali Anda bertemu dengan dia, pasti menemukan garapan baru Allah di atasnya, yang membuat Anda bersentuhan dengan hayat yang segar. Sering kali Anda seolah-olah tidak merasakan penyertaan Tuhan, kerohanian Anda amat penat; kemudian Anda mencari dia, duduk di depannya beberapa menit saja, penat Anda segera lenyap. Anda merasa ada sesuatu yang keluar dari dia, Anda merasakan hayat.

Saudara saudari, kita harus damba menjadi penyuplai hayat. Sekali-kali jangan berkecil hati karena petah lidah Anda tidak seperti orang lain, atau pengetahuan Alkitab Anda tidak seperti orang lain. Ketahuilah, jika Anda hidup di dalam hayat, Anda pasti bisa menyuplai sesama anggota Tubuh dengan hayat. Ada orang yang baru diselamatkan, ketika berdoa di dalam sidang doa, mungkin kata-katanya masih kaku, namun orang lain dibuatnya cerah dan mendapat suplaian. Tetapi, setelah lama menjadi orang Kristen, malahan kurang menyuplai hayat. Bertahun-tahun menjadi orang Kristen, ia makin maju dalam pengetahuan dan doktrin, tetapi makin kurang dalam menyuplai hayat. Suplai hayat bukan tergantung pada pengetahuan, melainkan tergantung pada kesegaran. Lebih baik kurang pengetahuan dan doktrin daripada kurang menyuplai hayat. Kita perlu mohon kepada Tuhan, kiranya Ia melepaskan kita dari keadaan yang tidak dapat menyuplai hayat. Kiranya Tuhan membuat kita benar-benar hidup di hadapan-Nya. Jika kita hidup di hadapan Tuhan serta menjamah hayat, maka setiap kali kita berkontak dengan orang lain, kita pasti akan menyuplaikan hayat; kita bisa membasuh kaki orang lain, membuat orang lain mendapatkan kesegaran hayat, dan memulihkan keadaan rohaninya.

Janganlah lupa bahwa membasuh kaki adalah dilakukan secara “saling”. Kita perlu belajar di hadapan Tuhan menyuplai orang, dan juga belajar menerima suplai orang lain. Kita harus rendah hati, agar mendapat bantuan dari orang lain. Anda ingin membasuh keredupan orang lain, juga rela menerima orang lain membasuh keredupan Anda. Saling membasuh kaki, saling melayani dan saling menyuplai inilah yang membuat kita terbina, mendapat bantuan sehingga sanggup menempuh jalan di depan kita.

Kisah Para Rasul 18:5 sungguh berharga, “Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus mulai dengan sepenuhnya memberitakan firman, dan bersaksi kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesuslah Mesias.” Di sini kita melihat, bahwa Silas dan Timotius telah menyuplai hayat kepada Paulus. Bukan Silas dan Timotius yang pandai berkhotbah kepada Paulus, melainkan kehadiran mereka sudah cukup membuat Paulus tekun dan berkobar-kobar untuk Firman. Tadinya Paulus berkhotbah dan berdebat, sambil bekerja mati-matian di sinagoge. Tetapi begitu Silas dan Timotius datang, Paulus segera tekun dan berkobar-kobar untuk memberitakan Firman. Paulus semakin bersemangat dikarenakan dari diri mereka Paulus telah menerima suplaian yang baru. Ya, ada banyak orang, yang begitu Anda temui, membuat Anda segera beroleh suplai hayat.

Saudara saudari, kita patut menuntut ini di hadapan Allah — Allah bisa memakai kita sebagai orang yang menyuplaihayat kepada orang lain. Untuk menjadi orang yang selalu menyuplai, maka syarat yang mendasar adalah kita harus sering menerima penanggulangan salib. Hayat alamiah kita perlu diremukkan oleh Tuhan. Tanpa ada garapan salib di dalam kita, kita hanya mampu menyuplai pengetahuan, hanya mampu menyuplai dengan petah lidah; tidak menyuplai dengan roh, tidak mampu menyuplai orang dengan hayat Kristus. Jika pengetahuan dan petah lidah kita lebih besar daripada roh kita, maka kesan yang kita berikan pada orang lain adalah pengetahuan dan petah lidah, bukan roh kita. Kita perlu senantiasa hidup di hadapan Tuhan, berkontak dan berkomunikasi dengan Tuhan, barulah bisa menyuplai orang dengan hayat. Ingatlah, menyuplai hayat adalah perkara yang terjadi secara wajar dan dengan sendirinya, bukanlah dibuat-buat. Memang, harus dengan air membasuh, tetapi air itu bukanlah air yang ditimba oleh manusia, melainkan yang mengalir dari sumber hayat. Kalau Anda hidup di dalam hayat, dengan sendirinya ada suplai hayat, sehingga Anda dengan hayat membasuh kaki orang lain, membuat orang lain bersentuhan dengan Tuhan, merasakan Tuhan dan lebih akrab dengan Tuhan. Kita perlu menuntut sampai ke taraf demikian. Semoga Tuhan merahmati kita.

CATATAN:

Berita ini hanya membahas makna rohani dari hal membasuh kaki. Di pihak lain, membasuh kaki juga merupakan suatu tindakan yang diselenggarakan secara harfiah. Yaitu perwujudan kasih dan rendah hati, seperti yang tercantum pada Kejadian 18:4; 19:2 dan 1 Timotius 5:10.