Daftar isi Dua Belas Bakul (3) · bab 5/12

Dan kepada Petrus

“Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.”

Markus 16:7

Dalam Injil Markus tercatat bahwa setelah kebangkitan Tuhan Yesus, malaikat menyuruh beberapa perempuan memberitakan kebangkitan-Nya kepada murid-murid Tuhan dan kepada Petrus. Frase “Dan kepada Petrus” ini membuat kita terharu. Mengapa malaikat tidak berkata, “Katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Yohanes”? (Yohanes adalah murid kesayangan Tuhan). Atau, “Katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Tomas”? (Tomas adalah murid yang meragukan kebangkitan-Nya). Malaikat tidak secara khusus menyebut murid yang tersayang atau yang paling ada keperluan, tetapi dengan khusus menyebut Petrus. Mengapa demikian? Apakah perbedaan antara Petrus dengan murid-murid yang lainnya?

Tiga hari sebelum peristiwa ini, Petrus telah berbuat satu dosa besar — satu dosa besar yang membuat Tuhan Yesus tidak dapat mengakuinya di hadapan malaikat-malaikat Bapa. Petrus telah menyangkal Tuhan di hadapan manusia, di hadapan seorang hamba perempuan rendahan yang diremehkan oleh orang-orang pada masa itu. Tetapi Tuhan menghendaki orang memberitakan tentang kebangkitan-Nya kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus. “Dan kepada Petrus” — betapa dalamnya makna yang terkandung dalam frase ini!

Seandainya ada saudara saudari mempunyai pengalaman seperti Petrus, mereka mungkin akan berpikir demikian:

Oh, aku adalah Petrus, aku telah jatuh. Apa yang telah kuperbuat bukanlah dosa biasa. Mungkin aku tidak dapat mendekati Tuhan lagi, mungkin Tuhan telah menolak aku, mungkin mulai saat ini apabila ada hal-hal yang penting tentu Tuhan tidak akan mengajakku lagi. Aku tidak dapat lagi memiliki pengalaman indah seperti di gunung pengubahan bersama Tuhan, tidak akan bisa lagi menemani Tuhan di Taman Getsemani.

Ketika aku menyatakan kerelaanku untuk mati bagi-Nya, Dia berkata, “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Saat itu aku masih mengira bahwa Tuhan telah salah paham akan diriku. Ketika Dia ditangkap, aku telah menetakkan telinga seorang hamba Imam Besar dengan sebilah pedang sehingga putus, aku masih mengira bahwa aku dapat mengasihi-Nya dengan berani.

Ternyata aku dapat jatuh. Aku tidak jatuh di hadapan seorang Imam Besar yang mempunyai kuasa besar; juga tidak jatuh di hadapan Pilatus yang berwewenang itu. Tetapi aku jatuh hanya karena sebuah pertanyaan seorang pelayan rendahan. Sekali menyangkal Tuhan, dua kali menyangkal Tuhan, bahkan akhirnya sampai mengutuk dan bersumpah menyangkal Tuhan.

Aku pernah menyatakan bahwa Dia adalah Mesias dan Dia adalah Anak Allah. Aku pernah berkata kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi. Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal.” Tetapi justru pada saat aku melihat Tuhan akan disalibkan, aku terjatuh. Aku telah melakukan satu dosa yang paling besar — menyangkal Dia. Walaupun aku telah meratap dan menyesal, namun aku tidak tahu bagaimana perasaan Tuhan terhadapku.

Andaikata pada hari aku menyangkal Dia, Dia tidak mengetahuinya, tentu itu akan lebih baik. Namun justru pada saat aku menyangkal Dia, Dia menoleh dan memandangku, ini menunjukkan bahwa Dia telah mengetahuinya. Apa yang dapat kuperbuat sekarang? Aku tidak berani menghampiri-Nya lagi. Meskipun Dia mengasihi aku, tetapi aku takut menghampiri-Nya karena ada satu dosa yang menyekat aku dengan Dia. Mungkin sejak kini aku tidak akan dapat mendekati-Nya lagi.

Tetapi Tuhan telah bangkit. Beberapa perempuan membawa kabar dan Ia dengan jelas menyebut untuk memberi tahu aku secara khusus. Oh, meskipun aku telah menyangkal Tuhan tiga kali, Tuhan tidak menolak aku. Dia tidak benci atau marah kepadaku. Apa yang menjadi kerinduan hati-Nya tak lain adalah aku. Dia tidak menyebut orang lain secara khusus, hanya akulah yang disebut-Nya dengan khusus, seolah-olah yang diingat-Nya hanya aku. “Dan kepada Petrus!”, “Dan kepada Petrus!”.

Ini sungguh suara yang paling merdu di dunia, berita yang paling ajaib dan indah! Jika Tuhan menyuruh mereka hanya untuk memberi tahu murid-murid saja, tentu aku akan berpikir bahwa orang seperti aku tidak layak lagi menjadi murid-Nya, dan tentu sudah bukan murid-Nya lagi, sehingga aku tidak akan berani menemui-Nya. Tetapi Tuhan berkata, “Dan kepada Petrus”, ini membuat aku tahu bahwa Dia masih menginginkan aku. Meskipun aku tidak ada kekuatan untuk datang menjumpai-Nya, tetapi frase “dan kepada Petrus” mendorong aku untuk menemui-Nya.

Berita yang dibawa oleh perempuan-perempuan itu benar, Tuhan menyuruh malaikat itu menyebutkan namaku secara khusus. Tuhan tidak membuang aku. Aku masih dapat mendekati Dia, aku mau bangun dan bertemu dengan-Nya!

Oh, Petrus yang jatuh, Petrus yang berdosa, Petrus yang menyangkal Tuhan, namun Tuhan masih dengan khusus menyebut dia. Inilah Injil! Saudara saudari, tahukah kalian bahwa sekali Tuhan menyelamatkan kalian, Dia akan menyelamatkan kalian sampai kekal? Meskipun mungkin Anda telah putus asa, tetapi selamanya Tuhan tidak putus asa. Anda yang telah berdosa mungkin merasa malu dan sulit untuk kembali kepada-Nya, tetapi Dia yang kepada-Nya Anda telah berdosa, merasa tidak ada halangan bagi Anda untuk kembali kepada-Nya. Dia tidak mempedulikan kegagalan Anda, mengapa Anda tidak mau melupakannya? Jika Tuhan hari ini menyingkapkan selubung wajah Anda, maka Anda tidak akan takut pada-Nya, tidak akan takut mendekati Dia.

Mungkin Petrus masih ingat bahwa dia pernah berkata kepada Tuhan, “Biar pun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat. 26:33). Mungkin pula dia masih ingat, ketika dia melihat kemuliaan Tuhan di tepi Danau Genesaret, dia berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (Luk. 5:8). Tetapi sekarang dia tahu keadaan dirinya sendiri, bagaimana dia berani bertemu dengan Tuhan?

Dia mungkin juga ingat permintaan Tuhan, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” Mungkin dalam telinganya masih terngiang-ngiang perintah Tuhan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mat. 26:40-41). Akan tetapi keadaannya jauh berbeda dengan tuntutan Allah, bagaimana dia berani menghampiri Tuhan? Namun akhirnya dia datang juga menemui Tuhan, oleh karena frase “dan kepada Petrus” dia berani datang menemui-Nya.

Saudara saudari, jika kalian tahu makna dari frase “dan kepada Petrus”, apakah kalian masih tetap menjauhi-Nya dan tidak kembali kepada-Nya? Jika kalian tahu makna yang dalam dari frase “dan kepada Petrus” ini, niscaya kalian tidak dapat tidak mendekat kepada Tuhan.

Di antara keempat kitab Injil, hanya Injil Markuslah yang mencatat peristiwa ini. Markus adalah seorang muda yang mengikuti Petrus dan belajar dari Petrus. Kita boleh mengatakan bahwa Injil Markus didiktekan oleh Petrus dan ditulis oleh Markus. Kalimat, “Katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus”, khusus dicatat oleh Petrus. Mungkin perkataan ini tidak begitu penting untuk orang lain, tetapi sangat penting dan sangat menjamah hati Petrus.

Ketika Roh Kudus menuliskan Alkitab, khusus memperlihatkan kepada kita bahwa kata-kata yang tampaknya tidak begitu penting bagi Matius, Lukas dan Yohanes, tetapi sangat penting dan tidak boleh dilupakan bagi Petrus dalam mengisahkan Injil Markus. “Dan kepada Petrus” mempunyai makna khusus baginya. Setiap kali teringat kata-kata ini sungguh terasa manis. Kata-kata rahmat atas orang yang menerima rahmat adalah khusus dan patut diingat.

Saudara saudari, ketika kita mengadakan pemecahan roti, mengingat Tuhan, adakah di antara kita yang hatinya masih merasa takut pada Allah? Atau adakah suatu dosa yang menyekat kalian dengan Allah? Kita telah meratap, telah bertobat dan mengaku bahwa apa yang kita perbuat sangat tidak patut di hadapan Tuhan, hari ini beranikah kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku datang mendekati-Mu”?

Renungkanlah, karena kasih-Nya yang besar kepada Anda, Dia rela tersalib demi Anda, apakah sekarang Ia tidak mengasihi hanya karena Anda gagal, tersandung dan jatuh? Apakah telah berkurang kasih di atas salib yang mengasihi Anda? Hari ini mudah bagi Anda untuk tidak mengasihi-Nya, tidak mendekati-Nya, dan tidak kembali kepada-Nya; tetapi menyuruh-Nya tidak mengasihi Anda, melupakan Anda, menolak Anda, ini tidak mungkin.

Tiga hari setelah kematian Tuhan, Petrus diam seribu bahasa karena dia telah jatuh, tetapi Tuhan tidak melupakannya. Sebab itu, jika Anda tidak mempunyai kekuatan untuk datang kepada Tuhan, asal Anda mau percaya pada firman-Nya, Dia segera memberi kekuatan kepada Anda untuk datang kepada-Nya.

Meskipun Anda terjatuh, Dia dapat membangunkan Anda. Meskipun seolah-olah Anda sudah tidak dapat kembali mendekati Dia, tetapi jika dalam iman Anda ingat frase, “dan kepada Petrus”, Anda akan dapat mendekati-Nya. Ketika kita ingin menghampiri Tuhan, tapi seolah-olah ada jarak yang tidak terjangkau, dan kita merasa tidak bertenaga untuk menghampiri-Nya, ingatlah frase, “dan kepada Petrus”.

Petrus yang jatuh itulah yang paling diingat oleh Tuhan. Meskipun Petrus tidak berani datang kepada Tuhan, tetapi hati Tuhan telah menarik dia, sehingga dia tidak berani menyembunyikan diri dari Tuhan.

Semoga hari ini kita tidak salah paham terhadap hati Tuhan. Anda telah mendengar suara yang mengatakan “dan kepada Petrus”, maka Anda harus tahu bahwa Tuhan tidak membuang Anda. Tuhan tidak membuang Petrus, Tuhan juga tidak membuang Anda.

“Dan kepada Petrus” juga berarti “dan kepada Anda” — “Anda!” yang telah gagal seperti Petrus.

Semoga kita tampak bagaimana hati Tuhan terhadap kita. Jika Anda telah tampak hati-Nya, maka Anda tidak dapat tidak berlari menuju kepada-Nya.