MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (12)
Pembacaan Alkitab: Luk. 15:1-32
Dalam 9:51—19:27 terdapat catatan tentang Manusia-Penyelamat pergi dari Galilea ke Yerusalem. Tuhan pergi ke Yerusalem untuk mati, supaya melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia dapat mendatangkan yobel. Pada per-jalanan ke Yerusalem, Dia menghadapi rintangan dari orang-orang agamis, khususnya dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Banyak kasus yang terjadi pada perjalanan dari Galilea ke Yerusalem berhubungan dengan rintangan yang berkaitan dengan mereka. Misalnya, kasus dalam pasal 14, berkata dengan orang-orang Farisi. Dalam pasal 15, situasinya tetap sama, sekalipun Tuhan telah membereskan pikiran-pikiran yang gelap dan alasan-alasan yang bodoh dari orang-orang Farisi.
TRINITAS ILAHI YANG DIGAMBARKAN
DALAM TIGA PERUMPAMAAN
Lukas 15:1-2 mengatakan, ”Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa se-nang kepada Manusia-Penyelamat dan datang mendekati-Nya. Tetapi orang-orang agamis terganggu oleh hal ini dan bersungut-sungut karena Tuhan menyambut orang-orang berdosa dan makan bersama mereka. Karena sungut-sungut inilah Tuhan menyampaikan tiga perumpamaan dalam pasal 15 (ay. 3).
Dalam menjawab orang-orang Farisi dan ahli-ahli Tau-rat yang menganggap dirinya benar, yang menghakimi Penyelamat karena makan bersama orang-orang berdosa, Tuhan membicarakan tiga perumpamaan yang menyingkapkan dan menggambarkan bagaimana Trinitas ilahi bekerja untuk membawa orang-orang dosa kembali melalui Putra oleh Roh, kepada Bapa. Putra datang dalam keinsanian-Nya sebagai Gembala untuk mencari orang dosa sebagai seekor domba yang hilang dan membawanya kembali ke rumah (ay. 4-7). Roh itu mencari orang dosa seperti perempuan yang dengan teliti mencari dirham yang hilang sampai ia menemu-kannya (ay. 8-10). Bapa menerima orang dosa yang bertobat dan kembali seperti seorang yang menerima anaknya yang hilang (ay. 11-32). Seluruh Trinitas ilahi memustikakan orang dosa dan berbagian dalam membawanya kembali kepada Allah. Ketiga perumpamaan ini menekankan kasih Trinitas ilahi melebihi keadaan manusia yang telah jatuh dan menekankan pertobatan orang dosa yang menyesal. Kasih ilahi ini diekspresikan sepenuhnya dalam perhatian yang lemah lembut dari Putra sebagai Gembala yang baik, dalam pencarian yang teliti dari Roh sebagai pencinta harta, dan dalam penerimaan yang hangat dari Bapa sebagai bapa yang mengasihi.
Ketika saya masih muda, saya mendengar banyak hal mengenai bagaimana bapa yang penuh kasih menerima anaknya yang foya-foya. Saya juga mendengar tentang gembala yang baik. Tetapi tidak ditunjukkan kepada saya bahwa dalam ketiga perumpamaan ini kita dapat melihat Trinitas ilahi, dan setiap perumpamaan itu mengacu kepada salah satu dari Trinitas ilahi itu. Jelas, gembala mengacu kepada Putra, perempuan mengacu kepada Roh, dan bapa mengacu kepada Bapa surgawi. Karena itu, dalam perumpamaan ini Trinitas ilahi itu dengan jelas digambarkan.
Urutan Trinitas ilahi dalam Lukas 15 berbeda dengan urutan Trinitas ilahi dalam Matius 28:19. Dalam Matius 28:19 urutannya adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi dalam Injil Lukas pertama-tama kita memiliki Putra sebagai gembala, kemudian Roh sebagai perempuan, dan terakhir Bapa sebagai bapa yang menerima anaknya yang pulang kembali. Karena itu, dalam Lukas 15 urutan ini dimulai de-ngan Putra, selanjutnya Roh, dan memimpin kepada Bapa. Urutan ini sebenarnya sama dengan urutan dalam Efesus 2:18: ”Karena melalui Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” Menurut ayat ini, jalan masuk kita pertama-tama ada di dalam Putra, dan kemudian melalui Roh. Melalui Putra dan di dalam Roh kita memiliki jalan masuk kepada Bapa. Inilah jalan masuk kita ke dalam Allah Tritunggal, jalan masuk melalui Putra, di dalam Roh, dan kepada Bapa.
Kita benar-benar perlu memahami mengapa Putra disebut lebih dulu dalam Lukas 15. Alasan Putra disebut lebih dulu ialah: Sesungguhnya, Dia yang akan datang da-lam keselamatan Allah adalah Putra. Putra datang untuk menggenapkan penebusan, yang merupakan keperluan yang pertama, karena penebusan adalah dasar keselamatan kita. Penebusan yang digenapkan oleh kematian Kristus di kayu salib adalah dasar keselamatan Allah. Begitu dasar ini diletakkan, kita dapat membangun di atasnya. Untuk meng-genapkan penebusan, Putra, yang digambarkan dalam Lukas 15 sebagai gembala yang baik, yang pertama-tama datang.
Karena Putra telah menggenapkan penebusan, maka Roh datang untuk mencari kita. Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan hal ini. Dalam kitab-kitab Injil, Putra datang untuk menggenapkan penebusan. Setelah penggenapan pene-busan oleh Putra, dari kitab Kisah Para Rasul kita nampak Roh datang mencari kita dan menemukan kita. Karena pencarian Roh terhadap kita, kita bertobat dan kembali ke-pada Allah Bapa. Kemudian menurut perumpamaan ketiga dalam Lukas 15, Bapa menunggu kita pulang kembali.
Sungguh suatu urutan yang menakjubkan yang kita miliki dalam Lukas 15! Urutan di sini bukanlah menurut Persona Trinitas ilahi; urutan ini adalah menurut langkah-langkah keselamatan Allah, keselamatan yang berdasarkan penebusan Kristus. Keselamatan Allah adalah oleh Putra, melalui Roh, dan kepada Bapa.
PERUMPAMAAN TENTANG GEMBALA YANG BAIK
Lukas 15:4 mengatakan, ”Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” Di sini ”padang gurun” melambangkan dunia. Gembala pergi ke padang gu-run untuk mencari domba yang hilang itu menunjukkan bahwa Putra telah datang ke dunia untuk tinggal di antara manusia (Yoh. 1:14).
Lukas 15:5-6 melanjutkan, ”Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu.” Di sini kita nampak kekuatan penyelamatan dan kasih penyelamatan dari Sang Juruselamat.
PERUMPAMAAN TENTANG PEREMPUAN
YANG MENCARI DIRHAM
Dalam 15:8 Tuhan selanjutnya berkata, ”Atau perempu-an manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?” Secara harfiah, bahasa Yunani yang diter-jemahkan ”dirham” (juga dalam ay. 9) adalah mata uang yang sama dengan dinar Roma. Satu dirham itu sama de-ngan upah sehari.
Pelita melambangkan firman Allah (Mzm. 119:105, 130) yang digunakan oleh Roh untuk menerangi dan menyingkapkan kedudukan dan keadaan orang dosa supaya dia bisa bertobat.
Menurut ayat 8, perempuan itu menyapu rumah dan mencari dengan cermat sampai ia menemukan dirham yang hilang itu. Kata ”menyapu” menunjukkan menyelidiki dan membersihkan bagian dalam dari orang dosa. Pencarian Putra dalam ayat 4 terjadi di luar orang dosa, dan digenapkan di atas salib melalui kematian penebusan-Nya. Pencarian Roh di sini adalah yang di dalam dan dilaksanakan oleh pekerjaan-Nya di dalam orang dosa yang bertobat.
Ayat 9-10 mengatakan, ”Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”
PERUMPAMAAN TENTANG BAPA
YANG MENERIMA ANAK-NYA
Dalam 15:11-32 terdapat perumpamaan tentang bapa yang menerima anaknya yang hilang. Ayat 11-12 mengata-kan, ”Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.” Kata ”bagian harta” mengacu kepada warisan anak karena kelahiran. Kata ”harta kekayaan” di sini mengacu kepada penghidupan yakni sumber penghasilan bapanya, mata pencaharian, kekayaan bapa (ay. 30). Bahasa Yunaninya adalah bios mengacu kepada keberadaan saat ini, seperti dalam 8:14; dan menyiratkan mata pencaharian, seperti di sini dan dalam Markus 12:44. Ayat 13 melanjutkan, ”Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.” ”Negeri yang jauh” melambangkan dunia Iblis. Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan ”berfoya-foya” berarti terumbar, boros; biasanya menunjukkan suatu kehidupan yang mengumbar hawa nafsu, boros, dan pesta pora.
Ayat 14-15 mengatakan, ”Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada se-orang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.” Babi adalah binatang yang najis (Im. 11:7). Memelihara babi adalah pekerjaan yang kotor; ini melambangkan bisnis kotor dalam dunia Iblis.
Ayat 16 mengatakan, ”Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya.” Anak muda itu ingin mengisi perutnya dengan ampas (bahasa asli-nya adalah polong-polongan). Polong-polongan adalah hijauan. Kulitnya, juga disebut polong, digunakan sebagai makanan ternak untuk memberi makan hewan dan orang-orang yang melarat. Satu perkataan rabi yang menarik mengatakan, ”Jika bangsa Israel telah turun derajatnya sampai seperti ampas polong-polongan, barulah mereka bertobat.” Tradisi mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis pernah makan ampas polong-polongan di padang gurun; karena itu, ampas itu disebut ”roti Santo Yohanes”.
Ayat 17 memberi tahu kita, ”Lalu ia menyadari keada-annya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.” Ini disebabkan oleh penerangan dan penyelidikan Roh itu (ay. 8) di dalam dirinya.
Menurut ayat 18, anak yang terlunta-lunta itu selanjutnya berkata, ”Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa.” Keputusan untuk bangkit dan pergi kepada bapanya merupakan hasil pencarian oleh Roh dalam ayat 8. ”Terhadap surga” sama dengan ”terhadap bapa” (Allah Bapa). Ini berarti bahwa berdosa terhadap surga ada-lah berdosa terhadap Allah, karena Allah Bapa ada di surga (11:2).
Dalam ayat 19 kita nampak bahwa anak itu ingin mengatakan kepada bapanya, ”Aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Ini menunjukkan bahwa anak yang hilang itu tidak mengenal kasih Bapa. Seorang berdosa yang telah bertobat selalu berpikir hendak bekerja untuk Allah atau melayani Allah guna mendapatkan perkenan-Nya, tanpa mengetahui bahwa pemikiran ini berlawanan dengan kasih dan kasih karunia Allah dan merupakan satu penghinaan terhadap hati dan maksud-Nya.
Ayat 20 mengatakan, ”Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Bapa melihat anak itu bukan secara kebetulan. Sebaliknya, bapa keluar dari rumah untuk menantikan kembalinya anaknya yang hilang.
Sewaktu bapa itu melihat anaknya, ia berlari kepadanya dan merangkulnya serta menciumnya dengan penuh kasih sayang. Ini menunjukkan bahwa Allah Bapa berlari untuk menerima orang dosa yang kembali. Ini menunjukkan hasrat yang sungguh-sungguh! Bapa merangkul anaknya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang memperlihatkan suatu penerimaan yang hangat dan penuh kasih. Kembalinya anak yang hilang kepada bapa adalah hasil pencarian Roh (ay. 8). Bapa menerima anak yang hilang berdasar-kan penemuan Putra dalam penebusan-Nya.
Ayat 21-22 melanjutkan, ”Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.” Ayat 22 dimulai dengan kata ”tetapi”. Sungguh satu kata yang penuh ka-sih dan kasih karunia! Perkataan ini menutup pemikiran anak yang hilang dan menghentikan perkataannya yang sia-sia.
Bapa menyuruh hamba-hambanya agar segera mem-bawa jubah yang terbaik dan mengenakan jubah itu kepada anaknya. Kata ”segera” mengimbangi larinya bapa (ay. 20). Istilah ”jubah yang terbaik” menunjukkan satu jubah khusus yang disiapkan untuk tujuan tertentu pada waktu tertentu. Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan ”yang terbaik” berarti yang pertama. Jubah yang terbaik di sini melambangkan Kristus Putra sebagai kebenaran yang memuaskan Allah untuk menutupi orang dosa yang bertobat (Yer. 23:6; 1 Kor. 1:30; Flp. 3:9; lihat Yes. 61:10; Za. 3:4). Jubah yang terbaik, yang juga merupakan jubah yang pertama, menggantikan pakaian kotor (Yes. 64:6) dari anak hilang yang kembali.
Menurut ayat 22, bapa juga menyuruh hamba-hambanya untuk mengenakan cincin kepada tangan anaknya dan sepatu pada kakinya. Cincin ini melambangkan Roh yang memeterai sebagai meterai yang Allah berikan kepada diri orang beriman yang diperkenan (Ef. 1:13; lihat Kej. 24:47; 41:42). Sepatu melambangkan kekuatan penyelamatan Allah untuk memisahkan kaum beriman dari bumi yang kotor. Baik cincin maupun sepatu merupakan tanda orang yang merdeka. Perhiasan, yang terdiri atas jubah pada tubuh, cin-cin pada jari, dan sepatu pada kaki, membuat anak hilang yang kasihan itu bisa menyesuaikan diri dengan bapanya yang kaya dan melayakkannya memasuki rumah bapanya dan berpesta dengan bapanya.
Dalam ayat 23 bapa selanjutnya berkata kepada hamba-hambanya, ”Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita.” Anak Lembu yang gemuk ini melambangkan Kristus yang kaya (Ef. 3:8) yang dibunuh di kayu salib bagi kenikmatan kaum beriman.
Keselamatan Allah memiliki dua aspek: aspek obyektif yang di luar, dilambangkan oleh jubah yang terbaik, dan aspek subyektif yang di dalam, dilambangkan oleh anak lembu yang gemuk. Kristus sebagai kebenaran kita adalah keselamatan kita di luar; Kristus sebagai hayat kita untuk kenikmatan kita adalah keselamatan kita di dalam. Jubah yang terbaik memungkinkan anak yang hilang itu memenuhi tuntutan bapanya dan memuaskan bapanya, dan anak lembu yang gemuk memuaskan rasa lapar anak. Maka, bapa dan anak dapat bersukacita bersama-sama.
Dalam ayat 24 bapa menjelaskan, ”Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria.” Kata ”mati” di sini sangat bermakna. Semua orang dosa yang hi-lang adalah mati di dalam pandangan Allah (Ef. 2:1, 5). Ketika mereka beroleh selamat, mereka dihidupkan (Yoh. 5:24; Kol. 2:13).
Lukas 15:25-32 menggambarkan percakapan dalam perumpamaan ini di antara bapa dengan anak sulungnya. Ayat 25 mengatakan, ”anaknya yang sulung berada di ladang.” Anak yang sulung ini melambangkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (ay. 2), dan mewakili orang Yahudi yang tidak percaya, yang mengejar hukum kebenaran (Rm. 9:31-32) dengan perbuatan mereka, yang dilambangkan oleh perkataan ”berada di ladang.”
Dalam ayat 29-30 anak sulung itu berkata kepada bapa-nya, ”Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”melanggar” dalam ayat 29 juga da-pat diterjemahkan ”mengabaikan”. Kata ”melayani” dalam ayat ini melambangkan perbudakan di bawah hukum Taurat (Gal. 5:1).
Dalam ayat 31-32 terdapat jawaban bapa kepada anak sulung itu: ”Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Dalam ayat 32 bapa kembali mengatakan bahwa anak yang hilang itu mati dan sekarang hidup kembali, ini menekankan fakta bahwa ketika orang-orang dosa yang hilang diselamatkan, mereka dihidupkan.