MINISTRI MANUSIA-PENYELAMAT DALAM KEBAJIKAN INSANI-NYA DENGAN ATRIBUT ILAHI-NYA DARI GALILEA KE YERUSALEM (11)
Pembacaan Alkitab Luk. 14:25-35
Lukas 14 memperlihatkan keselamatan Allah kepada kita, yang membawakan kenikmatan terhadap yobel pada zaman ini kepada kita. Kemudian pasal ini mewahyukan syarat-syarat bagi kenikmatan terhadap yobel pada zaman yang akan datang, yaitu syarat-syarat untuk masuk ke dalam kerajaan selama masa seribu tahun. Seperti yang akan kita lihat, firman Tuhan mengenai hal ini dalam 14:25-35 sangat tegas.
MEMBENCI HAYAT JIWA KITA
Lukas 14:25-26 mengatakan, ”Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudara-nya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Dalam ayat 26-33 Tuhan menyingkapkan harga yang harus dibayar untuk mengikuti Dia kepada orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti-Nya. Menerima keselamatan adalah beroleh selamat (13:23); mengikuti Tuhan adalah menikmati Dia sebagai berkat dari keselamatan Allah. Ini menuntut kita melepaskan segala-nya, bahkan nyawa (jiwa) kita, dan memikul salib kita (ay. 27, 33).
Kita mungkin menyangka bahwa Tuhan Yesus hanya mengajar kita untuk mengasihi saja. Tetapi dalam ayat 26 Dia mengajar kita untuk membenci. Ini bukan agama; ini adalah suatu hal dalam ekonomi Allah. Menurut firman Tu-han di sini, kita harus membenci orang-orang yang kita kasihi, bukan mereka yang tidak kita kasihi. Khususnya kita perlu membenci diri kita sendiri, bahkan hayat jiwa kita.
Yang kita kasihi di dalam diri kita sendiri itu terutama bukanlah roh atau tubuh kita, melainkan jiwa kita. Misalnya, Anda mungkin pergi ke sebuah rumah makan bukan karena Anda mengasihi tubuh Anda, melainkan karena Anda mengasihi jiwa Anda dan ingin menikmati hidup, yaitu agar jiwa Anda mendapatkan suatu kenikmatan. Sebenarnya, semua bentuk kesenangan, hiburan dan pelesiran adalah untuk kenikmatan jiwa kita. Dalam 14:26 Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa jika kita tidak membenci hayat jiwa kita, kita tidak dapat menjadi murid-murid-Nya. Kita telah menerima keselamatan Allah, tetapi kita harus memenuhi tuntutan dalam ayat 26 agar bisa menerima pahala.
MEMIKUL SALIB KITA
Dalam ayat 27 Tuhan selanjutnya berkata, ”Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Sasaran salib bukanlah menyuruh seseorang menderita, melainkan pengakhiran seseorang. Kaum beriman dalam Kristus telah disalibkan (diakhiri) bersama Dia (Gal. 2:19b; Rm. 6:6). Setelah disatukan de-ngan-Nya secara organik melalui iman, mereka seharusnya tinggal di atas salib, membiarkan manusia lama mereka di bawah pengakhiran salib (Rm. 6:3; Kol. 2:20-21). Ini adalah memikul salib mereka sendiri. Kristus memikul salib lebih dulu dan kemudian disalibkan (Yoh. 19:17-18). Tetapi kaum beriman dalam Dia disalibkan lebih dulu dan kemudian memikul salib, supaya mereka dapat tetap tinggal dalam pengakhiran manusia lama mereka, dengan demikian kaum beriman mengalami dan menikmati Kristus sebagai hayat dan suplai hayat mereka.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa memikul salib kita sendiri berarti kita tetap tinggal di atas salib dan mem-biarkan manusia lama kita di bawah pengakhiran salib. Kristus telah menyalibkan kita. Sebagai kaum beriman, kita telah menerima Kristus dan secara organik telah disatukan dengan Dia. Karena kita telah disatukan secara organik de-ngan Kristus, maka kita dapat berbagian dalam ketersaliban-Nya. Sewaktu kita tetap tinggal di dalam ketersaliban ini, pengakhiran ini, kita memikul salib kita dan mengalami serta menikmati Kristus sebagai yobel kita.
MENCURAHKAN SEGALA KITA
UNTUK MENGIKUTI TUHAN
Dalam ayat 28-30 Tuhan melanjutkan, ”Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.” Firman ini dan ayat 31 menunjukkan bahwa untuk mengikuti Tuhan seumur hidup kita harus mencurahkan semua yang kita miliki dan segala yang dapat kita lakukan. Kalau tidak, kita akan gagal dan menjadi garam yang tawar dan dicampakkan dari alam yang mulia ke dalam alam yang memalukan (ay 34-35).
Jangan mengira bahwa mengikuti Tuhan Yesus adalah satu perkara yang tidak bermakna. Mengikuti Dia seharus-nya menjadi karir seumur hidup kita. Sebagai karir kita, mengikuti Tuhan itu menuntut kita memberikan segala yang kita miliki dan segala yang dapat kita lakukan.
Dalam ayat 31-32 Tuhan berkata, ”Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.” Ilustrasi ini juga berhubungan dengan harga mengikuti Tuhan. Dalam mengikuti Dia, kita perlu mencurahkan apa pun yang kita miliki.
Dalam ayat 33 Tuhan berkata, ”Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Masalahnya bukanlah berapa banyak yang kita miliki. Yang penting adalah dalam mengikuti Tuhan kita harus mencurahkan apa pun yang kita miliki. Untuk menjadi murid-murid-Nya, kita harus melepaskan segala milik kita.
MENJADI TAWAR DAN DICAMPAKKAN
DARI KERAJAAN ALLAH
Dalam 14:34-35 Tuhan selanjutnya membicarakan mengenai garam: ”Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Sifat asin adalah sebuah unsur yang membunuh dan meleyapkan kuman-kuman perusak. Bagi dunia yang bobrok ini, para pengikut Tuhan Yesus harus menjadi unsur yang demikian, mencegah bumi dari menjadi bobrok sepenuhnya.
Tuhan menunjukkan bahwa mungkin saja garam itu menjadi tawar. Bagi para pengikut Tuhan, menjadi tawar itu berarti mereka telah kehilangan fungsi mengasinkan. Mereka telah menjadi sama dengan orang-orang dunia, tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya.
Kaum beriman dalam Kristus adalah garam di bumi yang digunakan oleh Allah untuk membunuh dan membas-mi kebobrokan bumi. Cita rasa mereka tergantung pada apakah mereka meninggalkan hal-hal duniawi. Semakin mereka meninggalkan hal-hal duniawi, semakin kuat cita rasa mereka. Mereka akan kehilangan cita rasa mereka bila mereka tidak rela meninggalkan semua hal dari hidup saat ini. Jika ini terjadi, mereka tidak akan berguna untuk la-dang, yang melambangkan gereja sebagai ladang Allah (1 Kor. 3:9), yang akan menjadi kerajaan yang akan datang (Why. 11:15); mereka juga tidak berguna untuk pupuk, yang melambangkan neraka, tempat yang najis di alam semesta (Why. 21:8; 22:15). Mereka akan dicampakkan keluar dari Kerajaan Allah, khususnya dari kemuliaan kerajaan dalam masa seribu tahun. Mereka telah diselamatkan dari ke-binasaan kekal, tetapi karena mereka tidak meninggalkan hal-hal duniawi, mereka kehilangan fungsi mereka dalam Kerajaan Allah. Karena itu, mereka tidak layak bagi kera-jaan yang akan datang dan perlu dikesampingkan untuk menerima pendisiplinan.
Kita telah menunjukkan bahwa ”ladang” mengacu kepada gereja sebagai ladang Allah yang menghasilkan kerajaan yang akan datang dan bahwa pupuk melambangkan neraka. Jika kaum beriman kehilangan rasa asin mereka, mereka tidak akan berguna bagi ladang kehidupan gereja hari ini. Lagi pula, mereka tidak akan berguna bagi kerajaan yang akan datang. Karena itu, kaum beriman yang demikian akan dicampakkan keluar dari Kerajaan Allah selama masa seribu tahun.
Pasal 14 diawali dengan satu kejadian tentang memecahkan peraturan-peraturan agama (ay. 1-6). Dalam 14:15-24 terdapat pengajaran Tuhan mengenai keselamatan Allah. Keselamatan adalah kita menerima undangan Allah dan menerima apa saja yang Dia suplaikan. Setelah kita dise-lamatkan, kita perlu menjaga diri kita dalam kenikmatan terhadap Kristus dengan tepat dan setia.
MEMBENCI APA YANG MENGALIHKAN
PERHATIAN KITA DARI KENIKMATAN
TERHADAP KRISTUS
Dalam 14:25-35 terdapat ajaran Tuhan mengenai bagai-mana mengikuti Dia. Menurut perkataan-Nya dalam ayat 26, kita perlu membenci apa saja atau siapa saja yang hendak menggagalkan kita atau mengalihkan perhatian kita dari kenikmatan yang tepat terhadap Kristus. Tuhan tidak bermaksud mengajar kita untuk membenci siapa pun. Sebaliknya, mengajar kita untuk membenci kegagalan-kegagalan dan hal-hal yang mengganggu dan mengalihkan perhati-an, membenci apa saja yang akan mengalihkan perhatian kita dari kenikmatan terhadap Kristus. Tentunya, Tuhan mengajar kita untuk mengasihi orang lain. Kita seharusnya bukan hanya mengasihi anggota-anggota keluarga kita saja; kita bahkan harus mengasihi musuh kita. Pada kenyata-annya, kita juga perlu mengasihi diri kita sendiri. Karena itu, Tuhan mengajar kita untuk mengasihi setiap orang.
Lalu, mengapa dalam ayat 26 Dia kelihatannya mengajar kita untuk membenci bapak, ibu, istri, anak-anak, saudara laki-laki, saudara perempuan kita, dan bahkan diri kita sendiri? Alasan-Nya di sini adalah kasih yang demikian itu sering kali menghalangi kita dari kenikmatan yang tepat dan setia terhadap Kristus. Apa yang harus kita benci adalah kegagalan, bukan orang mana pun. Tuhan bukan mengajar kita untuk membenci orang, melainkan membenci hal-hal yang mengalihkan perhatian, kegagalan-kegagalan, rintangan-rintangan, dan penghalang-penghalang. Dia mengajar kita untuk membenci apa saja yang menjauhkan kita dari mengikuti Dia dengan setia. Jika kita tidak memiliki kebencian terhadap hal yang menggagalkan kenikmatan kita terhadap Kristus, kita akan didiskualifikasi dari menikmati yobel pada zaman yang akan datang.
PAHALA BAGI KAUM BERIMAN YANG SETIA
Kita tidak boleh mengikuti ajaran-ajaran yang berlapis gula di antara orang-orang Kristen pada hari ini, yang mem-beri tahu kita bahwa begitu kita percaya kepada Tuhan Yesus kita tidak akan memiliki masalah apa pun. Memang, keselamatan Tuhan itu kekal, lengkap, dan sempurna. Be-gitu kita diselamatkan, kita diselamatkan selamanya. Mengenai keselamatan kekal, kita tidak memiliki masalah apa pun. Meskipun demikian, dalam ekonomi Allah ada satu sisipan di dalam keselamatan-Nya yang kekal dan sempur-na, dan sisipan ini adalah periode seribu tahun pada ke-rajaan yang akan datang sebagai pahala bagi kaum beriman yang setia. Dalam hikmat-Nya, Allah telah menyisipkan periode zaman ini selama seribu tahun sebagai perangsang untuk mendorong anak-anak-Nya menikmati Kristus dengan setia. Dia menghendaki kita dengan setia menikmati penye-diaan-Nya yang kaya bagi kita di dalam Kristus.
Karena Bapa kita tahu bahwa anak-anak-Nya mungkin ”nakal” dan tidak setia menikmati Kristus, maka Dia telah membuat bagian dari keselamatan sempurna-Nya menjadi suatu perangsang dan suatu pahala. Pahala Kerajaan Seribu Tahun di zaman yang akan datang seharusnya menjadi suatu perangsang untuk mendorong kita, memperingatkan kita, dan mengingatkan kita untuk menjaga diri kita sendiri di dalam kenikmatan terhadap Kristus pada hari ini dan berperilaku di dalam kenikmatan ini. Jika tidak, kita akan didisiplinkan. Ini bukan berarti kita akan binasa atau akan musnah. Karena kita telah diselamatkan selamanya, kita tidak mungkin binasa. Meskipun demikian, beberapa dari anak-anak Bapa perlu menerima pendisiplinan pada zaman yang akan datang. Anak-anak yang akan menderita pendisiplinan Bapa pada zaman yang akan datang itu bukan berarti batal menjadi anak-anak-Nya. Mereka tetap adalah anak-anak Bapa, tetapi mereka akan menjadi anak-anak yang memerlukan pendisiplinan. Perihal pendisiplinan za-man oleh Allah terhadap anak-anak-Nya ini dengan jelas diajarkan dalam Perjanjian Baru.
TIGA TEMPAT
Banyak orang Kristen yang belum nampak bahwa dalam 14:35 ada tiga tempat — ladang, pupuk, dan tempat pembuangan di mana garam tidak berguna baik untuk ladang maupun pupuk. Seseorang yang benar-benar telah diselamatkan namun tidak setia dalam menikmati Kristus, ia tidak akan berguna baik untuk ladang maupun untuk pupuk. Lalu, di manakah kaum beriman yang demikian akan berada? Menurut perkataan Tuhan, ia akan dicampakkan, dikesampingkan, atau dikeluarkan. Dalam pasal ini Tuhan Yesus tidak memberikan semua rincian yang dapat ditemukan di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Namun, jelas bahwa garam yang telah menjadi tawar itu tidak ber-guna baik untuk ladang maupun untuk pupuk, melainkan akan dicampakkan ke tempat yang ketiga.
Kita telah nampak bahwa ladang melambangkan ladang Allah, yang adalah gereja, dan gereja ini akan menghasilkan kerajaan yang akan datang. Tumpukan pupuk, tempat yang paling kotor di alam semesta, melambangkan neraka, lautan api. Tidak seorang pun yang telah diselamatkan cocok untuk tempat yang demikian. Tetapi di tempat apakah Anda akan berada setelah Tuhan Yesus datang kembali? Anda memang tidak akan cocok untuk neraka, tumpukan pupuk, karena darah Tuhan telah menyuci Anda dan Anda telah diselamatkan. Lalu, apakah Anda akan cocok untuk kerajaan? Hati nurani Anda mungkin tidak akan membiarkan Anda mengatakan bahwa Anda cocok untuk kerajaan. Jika keadaan Anda demikian, maka Anda tidak berguna baik untuk neraka maupun untuk kerajaan. Ini berarti Anda cocok untuk tempat yang ketiga, tempat pendisiplinan. Ini dengan jelas dan tegas diajarkan di sini oleh firman Tuhan.
Kita adalah garam, dan kita harus menjaga rasa kita dan mengasinkan dunia yang bobrok ini. Di mana saja kita berada, kita harus membunuh dan memusnahkan kebobrok-an dunia ini. Namun, mungkin saja kita kehilangan rasa asin kita. Jika demikian, ketika Tuhan Yesus datang, di manakah kita akan berada? Kita tidak akan cocok baik untuk kerajaan maupun untuk neraka. Garam yang tidak cocok baik untuk ladang maupun untuk pupuk akan dicam-pakkan keluar dari kemuliaan kerajaan yang akan datang. ”Siapa yang mempunyai telinga, hendaklah ia mendengar” (ay. 35b).
Firman Tuhan dalam Lukas 14 dengan jelas mewahyukan bahwa sebagai tambahan untuk keselamatan Allah ada pahala dalam kerajaan yang akan datang. Keselamatan adalah untuk kita nikmati pada hari ini; pahala adalah untuk kita terima pada zaman yang akan datang. Tidak ada syarat untuk menerima keselamatan, tetapi ada suatu tuntutan untuk menerima pahala, dan tuntutan ini adalah kita harus menikmati Kristus dengan setia pada zaman ini. Jika tidak, kita akan didiskualifikasikan dari pahala itu. Kita mungkin ada di dalam yobel pada hari ini, tetapi jika kita tidak memenuhi tuntutan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, kita akan kehilangan yobel pada zaman yang akan datang. Kita perlu hati-hati terhadap hal ini.
Unsur yang mendasar dari pasal 14 adalah yobel. Yobel tidak berhubungan dengan agama yang usang; sebaliknya, yobel memecahkan peraturan-peraturan agama. Selanjutnya, yobel menuntut agar kita menerima undangan Allah dan menerima apa yang Dia suplaikan kepada kita supaya kita dapat diselamatkan untuk menikmati Kristus-Nya yang kaya. Sekarang kita perlu setia dalam menikmati Kristus. Jika kita tidak setia menikmati Kristus pada hari ini, kita akan didiskualifikasikan dari yobel yang akan datang, yang akan menjadi suatu pahala dalam Kerajaan Seribu Tahun.