← Daftar isi Lukas (2) · bab 24/24

MANUSIA-PENYELAMAT MENYERAHKAN DIRI-NYA SENDIRI KEPADA KEMATIAN UNTUK MERAMPUNGKAN PENEBUSAN (7)

Pembacaan Alkitab: Luk. 22:7-46

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa dalam 22:7-20 kita memiliki Paskah dan perjamuan malam Tuhan. Dalam ayat 7-18 ada catatan mengenai makan Paskah, dan dalam ayat 19-20, ada catatan mengenai Tuhan mendirikan perjamuan malam-Nya supaya murid-murid dapat mengambil bagian dalam kematian-Nya. Dalam Paskah, hal utama yang dinikmati oleh umat pilihan Allah adalah domba. Daging domba adalah untuk dimakan oleh mereka. Tetapi dalam meja Tuhan, butir utama untuk kita nikmati sebagai kaum beriman Perjanjian Baru bukanlah domba; butir utama bagi kenikmatan kita adalah roti. Ini sangat bermakna, dan dalam berita ini kita perlu membahas hal ini dengan lebih terperinci daripada yang telah kita lakukan sebelumnya.

Ketika Tuhan Yesus dipersembahkan kepada Allah bagi penebusan kita, Dia bukan dipersembahkan sebagai roti melainkan sebagai Domba. Namun hasilnya bukanlah domba, melainkan roti. Domba adalah satu kesatuan, sedangkan roti adalah sesuatu yang korporat. Tidak mungkin satu butir biji gandum membentuk satu ketul roti. Satu ketul adalah kesatuan yang korporat, sesuatu yang terbentuk dan tersusun dari banyak butir gandum. Pada hari raya Paskah tidak ada konsepsi tentang berhari raya atas sesuatu yang korporat sifatnya. Tetapi tanda pada meja Tuhan, khususnya roti, mengandung satu ciri yang berarti, dan ciri ini adalah satu kesatuan yang korporat, satu tubuh yang korporat. Kita sangat perlu mengenal hal ini.

Roti dalam meja Tuhan menunjukkan sesuatu yang ada setelah kematian Tuhan; menyatakan suatu hasil yang berasal dari Tuhan dalam kebangkitan-Nya. Apa yang dinyatakan oleh roti ini bukanlah suatu hal sebelum kematian Tuhan, melainkan suatu hal setelah kematian-Nya dan di dalam kebangkitan-Nya. Sebelum kematian-Nya, Tuhan Yesus itu Domba yang tunggal dan individu. Tetapi yang dihasilkan dari kematian-Nya dalam kebangkitan-Nya adalah satu kesatuan yang korporat. Kesatuan ini adalah ketul roti yang menyatakan satu Tubuh yang korporat.

Memang, dalam Injil Lukas kita tidak nampak banyak perkembangan mengenai roti meja Tuhan ini. Namun, kita perlu ingat bahwa kesan Lukas tentang hal ini berasal dari wahyu Paulus. Mengenai roti ini, kita harus beralih dari Lukas 22 kepada perkataan Paulus dalam 1 Korintus 10:17, ”Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adlah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” Di sini kita nampak bahwa roti ini bukan hanya menyatakan tubuh jasmani Penyelamat, tetapi juga menyatakan Tubuh mistikal-Nya, yakni gereja. Ini bukan perihal individu, melainkan perihal Tubuh yang korporat.

Kita semua adalah satu roti, satu Tubuh, karena kita semua mengambil bagian dalam roti yang satu itu. Kita mengambil bagian dalam roti yang satu itu mempersaksikan bahwa kita semua adalah satu. Ini menunjukkan bahwa dengan mengambil bagian dalam Kristus itu kita semua menjadi satu Tubuh-Nya. Kristus yang dalam-Nya kita semua mengambil bagian, menyusun kita menjadi satu Tubuh-Nya.

Dalam Injil Lukas kata ”gereja” tidak dipakai. Meskipun demikian, ada tanda-tanda, atau petunjuk-petunjuk tertentu tentang gereja dalam Injil ini. Misalnya dalam pasal 10, penginapan mengacu kepada gereja. Demikian juga, rumah bapa dalam pasal 15, itu menunjukkan gereja. Selain itu, ada satu petunjuk mengenai gereja dalam perumpamaan kebun anggur dalam pasal 20. Para pemimpin Yahudi digambarkan seperti penggarap-penggarap kebun anggur. Menurut 20:16, penggarap-penggarap kebun anggur itu dibinasakan, dan kebun anggur itu diberikan kepada orang lain. ”Orang lain” adalah kaum beriman Perjanjian Baru, yang meru-pakan komponen-komponen gereja. Dalam 20:17-18 Tuhan selanjutnya menunjukkan diri-Nya sendiri sebagai batu penjuru: ”Jika demikian apakah arti nas ini: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?” Batu penjuru ini tentunya adalah bagi pembangunan gereja. Ini adalah petunjuk kuat lainnya bahwa gereja disinggung dalam Injil ini. Sekarang dalam pasal 22 roti berhubungan dengan gereja. Menurut perkembangannya di tempat lain dalam Perjanjian Baru, roti menyatakan Tubuh Kristus, gereja. Karena itu, roti dalam 22:19 menunjukkan gereja.

Sebelum kematian-Nya, Manusia-Penyelamat adalah seekor Domba. Namun setelah kematian-Nya dan dalam kebangkitan-Nya, Dia menjadi seketul roti. Pada hari raya Paskah Perjanjian Lama kenikmatannya terletak pada domba, sedangkan pada hari raya Perjanjian Baru kenikmatannya terletak pada roti. Domba telah menjadi seketul roti melalui proses kematian dan kebangkitan.

Di meja Tuhan kita memamerkan, memaparkan, kematian Tuhan; tetapi kita memamerkan kematian-Nya dalam kebangkitan-Nya. Kapan saja kita datang ke meja Tuhan, kita harus ingat bahwa kita bukan berada dalam kematian-Nya, melainkan dalam kebangkitan-Nya. Karena kita sekarang mengambil bagian dalam roti itu, maka kita memamerkan kematian-Nya dalam kebangkitan-Nya. Roti ini bukan hanya meliputi Tuhan sendiri; melainkan meliputi Tuhan dengan kita. Karena itu, roti ini bukan lagi Kristus yang individu, sekarang roti ini adalah Kristus yang korporat (1 Kor. 12:12), yang meliputi Tuhan Yesus dan kaum beriman.

Dalam pendirian meja Tuhan, roti adalah unsur yang utama. Di atas salib kita nampak Domba, tetapi di atas meja kita melihat roti. Ketika kita berada di meja Tuhan kita perlu sadar bahwa roti itu meliputi Kepala dan Tubuh; yaitu, meliputi Kristus dan kaum beriman. Maka, ini adalah satu roti yang lengkap, satu kesatuan yang korporat. Puji Tuhan bahwa Domba itu telah menjadi roti! Melalui kematian-Nya dan dalam kebangkitan-Nya, Domba telah menjadi roti. Menurut Yohanes 12:24, Tuhan jatuh ke dalam tanah dan mati seperti sebiji gandum dan kemudian dalam kebangkit-an menjadi roti yang tersusun dari banyak butir. Roti ini tidak akan habis!

Setelah berulang-ulang memikirkan meja Tuhan selama bertahun-tahun, saya dapat bersaksi bahwa roti dan cawan ini tidak ada habisnya. Sebelum Tuhan Yesus pergi ke salib, Dia adalah Domba secara individu. Tetapi setelah melalui kematian dan masuk ke dalam kebangkitan, Dia menjadi seketul roti yang meliputi Dia dengan kita. Selain itu, darah yang dicurahkan-Nya di atas salib telah menjadi satu pejanjian, dan perjanjian ini telah menjadi satu cawan, satu bagian yang adalah Allah itu sendiri sebagai berkat bagi kenikmatan kita. Allah diundikan kepada kita di dalam cawan ini; Dia adalah bagian kita untuk kita nikmati. Dalam hal ini kita nampak makna perjamuan malam Tuhan yang didirikan dalam pasal 22. Kita bersyukur kepada Tuhan karena memberikan pemahaman yang demikian tentang perjamuan malam-Nya.

MURID-MURID KEKURANGAN PEMAHAMAN

Kelihatannya Petrus, Yakobus, Yohanes, dan murid-murid lainnya tidak memahami makna perjamuan malam Tuhan sewaktu perjamuan itu didirikan. Petrus mungkin berkata kepada dirinya sendiri, ”Tuhan membicarakan tentang roti dan kemudian tubuh-Nya? Apa artinya ini? Bagai-mana roti dapat menjadi tubuh? Roti berasal dari hayat tum-buh-tumbuhan, dan tubuh berasal dari hayat hewani. Bagai-mana mungkin hayat tumbuh-tumbuhan menjadi hayat hewani? Aku tidak memahami hal ini.” Selain itu, Yakobus dan Yohanes mungkin tidak memperhatikan roti itu, melain-kan hanya memperhatikan hal duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan. Yakobus mungkin berkata kepada dirinya sen-diri, ”Aku tidak peduli akan roti ini. Aku mempedulikan takhta dan perihal aku akan duduk atau tidak di sebelah kanan atau kiri Tuhan.” Murid-murid itu tidak memiliki hati atau telinga bagi perkataan Tuhan mengenai roti dan cawan ini.

Kita harus belajar dari perihal murid-murid itu dan menjadi orang yang berbeda. Kita tidak seharusnya memper-hatikan takhta atau duduk di sebelah kanan atau kiri Tuhan. Sebaliknya, kita harus memperhatikan roti, yaitu Tubuh, kehidupan gereja, dan kita juga harus memperhatikan cawan, karena Allah Tritunggal telah menjadi ba-gian kita untuk kita nikmati selamanya.

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN

Dalam ministri-Nya, baik di Galilea maupun dalam perjalanan ke Yerusalem, Manusia-Penyelamat menekankan kematian dan kebangkitan-Nya. Dia mengungkapkan ke-matian dan kebangkitan-Nya tiga kali kepada murid-murid-Nya (9:21-22, 44-45; 18:31-34). Sekarang dengan mendirikan perjamuan malam-Nya hal yang paling penting yang ditekankan-Nya kembali adalah kematian dan kebangkitan-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia mengakhiri murid-murid, mengubur mereka, menebus mereka, dan menunaskan mereka. Dengan menunaskan mereka, Dia membuat mereka menjadi satu dengan diri-Nya sendiri, menjadi satu roti. Selain itu, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia membawa kita semua ke dalam Allah Tritunggal sebagai berkat kita. Karena itu, oleh kematian dan kebangkitan-Nya, Manusia-Penyelamat telah membawa kita ke dalam kesatuan dengan diri-Nya sendiri sebagai Tubuh-Nya dan juga ke dalam kenikmatan terhadap Allah Tritunggal dan semua hal yang dilakukan-Nya bagi kita.

SATU TANDA DARI YOBEL

Menjadi satu dengan Tuhan sebagai Tubuh adalah perihal hayat, dan menikmati Allah Tritunggal adalah perihal berkat. Di meja Tuhan terdapat roti yang menyatakan Tubuh dalam hayat, dan kita memiliki cawan yang menyatakan berkat dari Allah Tritunggal. Di meja Tuhan kita memiliki hayat dan berkat. Di sini kita bebas dari belenggu, dan kita berada dalam kenikmatan terhadap Allah Tritunggal. Inilah makna meja Tuhan sebagai satu tanda dari yobel.

MENYINGKAPKAN YUDAS

Dalam 22:21-23 kita nampak Tuhan menunjukkan bahwa salah seorang dari murid-murid akan mengkhianati Dia: ”Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini. Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan! Lalu mulailah mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian.” Orang yang akan mengkhia-nati Tuhan Yesus, tentunya adalah Yudas. Setelah dising-kapkan, Yudas pergi (Yoh. 13:21-30) sebelum perjamuan malam Manusia-Penyelamat (Mat. 26:20-26). Ia tidak mendapat bagian dalam tubuh dan darah Manusia-Penyelamat, karena ia bukanlah orang beriman yang sejati di dalam-Nya melainkan adalah anak binasa (Yoh. 17:12), bahkan dianggap oleh Manusia-Penyelamat sebagai Iblis (Yoh. 6:70-71).

Lukas 22:21-23 kelihatannya menunjukkan bahwa Yudas pergi setelah perjamuan malam Tuhan, yang disinggung dalam 22:19-20. Namun, catatan Markus, seperti halnya Matius, menunjukkan bahwa Yudas ditunjuk oleh Tuhan Yesus sebagai orang yang mengkhianati-Nya dalam Markus 14:18-21 sebelum Dia mendirikan perjamuan malam-Nya dalam ayat 22-24. Catatan Markus sesuai dengan urutan sejarah, sedangkan catatan Lukas sesuai dengan urutan moralitas.

Tahukah Anda mengapa Tuhan Yesus menyingkapkan Yudas? Tuhan menyingkapkannya untuk mempercepat waktu agar Dia diserahkan kepada para penentang. Tahu bahwa waktu-Nya sudah dekat bagi-Nya untuk disalibkan, Tuhan membuat Yudas lebih cepat mengkhianati-Nya.

MENGAJAR MURID-MURID

TENTANG KERENDAHAN HATI

DAN MENUBUATKAN BAHWA MEREKA

AKAN TERSANDUNG

Dalam Lukas 22:24-38 Manusia-Penyelamat mengajar murid-murid tentang kerendahan hati dan menubuatkan bahwa mereka akan tersandung. Ayat 24 mengatakan, ”Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”pertengkaran” menandakan suka berselisih, senang bertengkar. Ayat ini menunjukkan bahwa murid-murid tidak memiliki hati atau telinga untuk memperhatikan apa yang sedang Tuhan katakan. Sewaktu Dia membicarakan tubuh dan darah-Nya, mereka membincangkan siapakah di antara mereka yang terbesar. Karena hal ini, di antara mereka timbul pertengkaran.

Dalam ayat 25-27 Tuhan berkata kepada murid-murid, ”Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu janganlah demikian. Yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi seperti yang paling muda dan pemimpin menjadi seperti pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: Yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” Firman Tuhan mengenai pelayanan ini mutlak bertentangan dengan pemikiran ego alamiah.

Dalam ayat 28 Tuhan selanjutnya berkata, ”Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami.” Di sini Tuhan seolah-olah berkata, ”Jangan memikirkan tentang takhta — pikirkanlah pencobaan-Ku. Aku akan disalibkan. Kalian perlu melupakan tentang kebesaran dan ingatlah bahwa kalian sekarang bersama-sama dengan Aku dalam pencobaan-Ku, dalam penderitaan-Ku.”

Dalam ayat 29-30 Tuhan melanjutkan, ”Aku menganugerahkan kerajaan kepada kamu, sama seperti Bapa-Ku menganugerahkannya kepada-Ku, supaya kelak kamu makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” Meja di sini adalah hari raya dalam perumpamaan di Matius 22:1-4 dan pesta pernikahan dalam Wahyu 19:9 bagi orang-orang kudus yang menang. Tuhan ingin agar murid-murid tidak memperhatikan takhta atau menjadi yang terbesar, melainkan memperhatikan kerajaan, yobel. Makan dan minum di meja Tuhan dalam kerajaan-Nya itu akan terjadi pada zaman yang akan datang. Itulah baru waktunya murid-murid memikirkan tentang takhta.

Di dalam 22:31-34 Tuhan memberi tahu Petrus bahwa ia akan menyangkal-Nya. Ayat 31-32 mengatakan, ”Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Kata ganti ”kamu” dalam ayat 31 adalah jamak, tetapi dalam ayat 32 adalah tunggal. Menurut ayat 33, Petrus berkata, ”Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Tuhan menjawab, ”Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal bahwa engkau mengenal Aku” (ay. 34).

Dalam ayat 35-37 Tuhan berbicara kepada murid-murid tentang membeli pedang: ”Ketika Aku mengutus kamu tanpa membawa pundi-pundi, kantong perbekalan dan kasut, apakah kamu kekurangan apa-apa? Jawab mereka, Suatu pun tidak. Kata-Nya kepada mereka, Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai kantong perbekalan; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual ju-bahnya dan membeli pedang. Sebab Aku berkata kepada kamu bahwa nas yang tertulis ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.” Pada waktu itu, orang biasa membawa pedang saat melakukan perjalanan seperti membawa pundi-pundi atau bekal. Perkataan Penyelamat bukan berarti bahwa Dia ingin murid-murid-Nya memperlengkapi diri mereka sendiri untuk melawan penahanan yang akan datang (lihat ay. 49-51; Mat. 26:51-54); sebaliknya, ini menunjukkan bahwa sikap orang terhadap-Nya telah berubah.

Murid-murid tidak mengerti firman Tuhan tentang membeli pedang. Mereka mengira bahwa mereka akan berperang dengan menggunakan pedang. Inilah sebabnya mereka berkata kepada-Nya, ”Tuhan, lihatlah, ini dua pedang” (ay. 38a). Ketika Dia mendengar ini, Dia berkata kepada mreka, ”Sudah cukup” (ay. 38b). Ini bukan menunjukkan bahwa dua pedang itu sudah cukup, melainkan bahwa pembicaraan mereka sudah cukup (lihat 1 Raj. 19:4).

Beberapa pembaca Perjanjian Baru mendapat kesulitan memahami Lukas 22:38. Dengan mengabaikan tata bahasanya, para pembaca itu mengira bahwa Tuhan mengatakan dua pedang sudah cukup, padahal sebenarnya Dia mengatakan bahwa pembicaraan murid-murid sudah cukup, sudah selesai. Di sini Tuhan seolah-olah berkata, ”Jangan membicarakan hal ini lagi, Aku tidak dapat berbicara dengan kalian lagi karena Aku tidak ingin melanjutkannya. Ketika Aku berbicara dengan kalian tentang meja-Ku, kalian tidak memahami apa-apa. Ketika Aku membicarakan tentang kalian akan menyangkal Aku dan tentang perlunya kalian merendahkan diri, kalian tidak dapat memahaminya. Sekarang kalian memberitahukan kepada-Ku bahwa ada dua pedang di sini. Cukuplah pembicaraan kalian itu. Marilah kita pergi ke satu tempat supaya kita dapat berdoa.”

BERDOA BAGI PENDERITAAN KEMATIAN-NYA

DAN MENYURUH MURID-MURID BERDOA

Dalam 22:39-46 Manusia-Penyelamat berdoa bagi pen-deritaan kematian-Nya dan menyuruh murid-murid berdoa. Ayat 39-40 mengatakan, ”Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia. Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Tempat yang disinggung dalam ayat 40 adalah Getsemani (Mat. 26:36). Manusia-Penyelamat menyuruh murid-murid berdoa supaya mereka dapat siap sedia menerima kematian-Nya.

Menurut ayat 42, Tuhan Yesus berdoa, ”Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” ”Cawan” di sini mengacu kepada kematian Penyelamat di kayu salib.

Dalam ayat 42 Manusia-Penyelamat berdoa agar kehendak Bapa terjadi. Allah Tritunggal dalam rencana ilahinya di dalam kekekalan yang lampau menetapkan bahwa yang Kedua dari Trinitas ilahi harus berinkarnasi dan mati di kayu salib untuk menggenapkan penebusan kekal-Nya bagi penggenapan tujuan kekal-Nya (Ef. 1:7-9). Karena itu, sebelum dunia dijadikan, yaitu dalam kekekalan yang lampau (1 Ptr. 1:19-20), yang Kedua dari Trinitas ilahi telah ditentukan untuk menjadi Anak Domba Allah (Yoh. 1:29). Dalam pandangan Allah, sebagai Anak Domba Allah, Dia disembelih sejak dunia dijadikan, yaitu sejak keberadaan makhluk ciptaan Allah yang telah jatuh (Why. 13:8). Setelah manusia jatuh, domba, lembu, sapi, dan kambing dipakai umat pilihan Allah sebagai lambang-lambang (Kej. 3:21; 4:4; 8:20; 22:13; Kel. 12:3-8; Im. 1:2), yang mengacu kepada Dia yang akan datang sebagai Domba yang sesungguhnya yang telah di-tentukan Allah sebelumnya. Ketika waktunya genap, Allah Tritunggal mengutus yang Kedua dari Trinitas ilahi ini, Putra Allah, datang berinkarnasi, mengenakan tubuh insani (Ibr. 10:5), supaya Dia dapat dipersembahkan kepada Allah di kayu salib (Ibr. 9:14; 10:12) untuk melakukan kehendak Allah Tritunggal (Ibr. 10:7), yaitu menggantikan kurban dan persembahan yang merupakan lambang-lambang dengan diri-Nya sendiri dalam keinsanian-Nya sebagai kurban dan persembahan yang unik bagi pengudusan umat pilihan Allah (Ibr. 10:9-10). Dalam doa-Nya di sini, segera sebelum ketersaliban-Nya, Dia mempersiapkan diri-Nya sendiri mengambil cawan salib. Dia rela melakukan kehendak Bapa yang unik ini bagi penggenapan rencana kekal Allah Tritunggal.

?