← Daftar isi Lukas (2) · bab 23/24

MANUSIA-PENYELAMAT MENYERAHKAN DIRI-NYA SENDIRI KEPADA KEMATIAN BAGI PENEBUSAN (6)

Pembacaan Alkitab: Luk. 22:1-23

Dalam berita ini kita akan membahas 22:1-23. Namun sebelum sampai kepada bagian dari Injil Lukas ini, saya ingin memberikan persekutuan lebih lanjut tentang 21:5-36.

ASPEK-ASPEK DARI NUBUAT

MANUSIA-PENYELAMAT

Dalam 21:34-35 Tuhan berkata, ”Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini.” Di sini, jerat bukan mengacu kepada hari kedatangan Tuhan. Sebaliknya, jerat ini adalah masa kesusahan besar, waktu kesusahan, yang akan menimpa seluruh bumi (Why. 3:10). Jadi, kesusahan besar akan datang seperti suatu jerat bagi semua orang yang diam di seluruh muka bumi.

Dalam ayat 24 Tuhan membicarakan zaman bangsa-bangsa bukan Yahudi ”Dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.” Zaman bangsa-bangsa bukan Yahudi di sini bukan mengacu kepada periode kasih karunia, yaitu zaman bangsa-bangsa bukan Yahudi diselamatkan, seperti yang ditunjukkan da-lam Roma 11:25. Dalam Lukas 21:24 zaman bangsa-bangsa bukan Yahudi ini menandakan zaman bangsa-bangsa bukan Yahudi menguasai bangsa Israel. Penguasaan ini dimulai dengan Nebukadnezar dan akan lengkap ketika Antikristus dihancurkan pada perang Harmagedon yang ditunjukkan dalam Wahyu 19.

Ayat 24 adalah satu ayat yang sulit bagi para pengulas. Penyebab kesulitan ini adalah nubuat-nubuat tertentu dalam Alkitab mengenai runtuhnya Yerusalem itu bercampur dengan dua atau tiga hal lainnya. Bait Allah telah dua kali dicemari, dan akan dicemari sekali lagi pada masa yang akan datang. Bait Allah pertama-tama dicemari oleh Antiokhus Epiphanes, yang dilambangkan oleh tanduk kecil dalam Daniel 8:8-9. Antiokhus adalah lambang dari Titus, pangeran Romawi yang mencemari Bait Allah untuk kali kedua pada tahun 70 M. Maka, nubuat dalam Daniel 8 membaurkan pencemaran Bait Allah oleh Antiokhus Epiphanes dan Titus. Lagi pula, nubuat mengenai Titus pada akhir Daniel 9 mencampurkannya dengan Antikristus. Karena itu, nubuat dalam kitab Daniel mengenai runtuhnya Yerusalem menunjukkan penghancuran oleh Antiokhus Epiphanes, Titus, dan Anti-kristus.

Sewaktu kita membaca Lukas 21:24 kita mungkin mengira bahwa ayat ini menggambarkan penghancuran Yerusalem oleh Titus. Namun, jika kita melihat konteksnya, kita akan nampak bahwa ayat 24 ini bukan mengacu kepada penghancuran Yerusalem oleh Titus. Ayat 25 mengatakan, ”Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.” Menurut sejarah, hal-hal seperti itu baru terjadi setelah Titus menghancurkan Yerusalem. Selain itu, ayat 26-27 selanjutnya berkata, ”Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” Tentunya, hal-hal ini baru terjadi setelah Titus menghancurkan Yerusalem. Karena itu, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penghancuran dalam ayat 24 seharusnya mengacu kepada penghancuran pada masa yang akan datang, penghancuran yang akan datang atas Yerusalem di bawah kuasa Antikristus.

Hari ini Yerusalem merdeka. Tetapi ketika Antikristus bangkit melawan Allah, ia akan menawan Yerusalem dan menghancurkannya. Lukas 21:24 membicarakan penghancuran yang akan datang itu.

Dalam 21:5-36 terdapat nubuat Manusia-Penyelamat tentang hal-hal yang akan datang. Pertama, Dia menyingkapkan runtuhnya Bait Suci kepada murid-murid-Nya (ay.5-6). Kemudian Dia membicarakan malapetaka-malapetaka yang akan terjadi di antara kenaikan-Nya dengan kesusahan besar (ay. 7-11). Selama jangka waktu ini pula, yaitu waktu di antara kenaikan Tuhan dengan kesusahan besar, para pengikut Kristus akan dianiaya. Tuhan membicarakan penganiayaan ini dalam ayat 12-19. Karena itu, dalam 21:7-19 kita nampak ada dua hal yang akan terjadi selama jangka waktu itu — malapetaka dan penganiayaan.

Dalam ayat 20-27 Tuhan membicarakan kesusahan besar dan kedatangan-Nya, dan dalam ayat 28-36, membicarakan penebusan para murid dan keterangkatan para pemenang. Sebelum waktu kesusahan besar, kita perlu berjaga-jaga, memohon setiap saat, supaya kita dapat ”luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (ay. 36). Ini adalah diangkat sebelum kesusahan besar, yaitu dibawa ke takhta di surga. Se-waktu malapetaka-malapetaka terjadi dan penganiayaan berlangsung, kita menantikan untuk diangkat. Tetapi jika kita ingin diangkat sebelum kesusahan besar datang, kita perlu berjaga-jaga dan waspada terhadap diri kita sendiri; jika tidak, hati kita akan sarat dengan pesta pora, kemabukan, dan kekhawatiran hidup, dan hari itu menimpa kita seperti suatu jerat (ay. 34). Kita perlu berjaga-jaga supaya hati kita tidak sarat dengan pesta pora, kemabukan, dan kekhawatir-an hidup sekarang ini.

Lukas 21:5—22:46 adalah satu bagian yang membicara-kan Manusia-Penyelamat mempersiapkan murid-murid bagi kematian-Nya. Tuhan menggenapkan persiapan ini dengan dua cara: Pertama, dengan memberi tahu murid-murid hal-hal yang akan datang (21:5-36); kedua, dengan mengadakan perjamuan malam-Nya supaya murid-murid dapat mengambil bagian dalam kematian-Nya (22:7-23). Bahkan dengan mengadakan perjamuan malam-Nya, atau yang kita sebut meja Tuhan, Manusia-Penyelamat mempersiapkan murid-murid bagi kematian penebusan-Nya.

AKTIVITAS-AKTIVITAS ALLAH, IBLIS,

DAN PARA PENENTANG

Sewaktu Tuhan mempersiapkan diri-Nya dan murid-murid-Nya bagi kematian-Nya, para penentang — para pemimpin di dalam masyarakat orang Yahudi — sibuk mencari kesempatan untuk menangkap dan membunuh-Nya. Ke-daulatan Tuhan ada di sini, karena ini adalah tahun saat Mesias akan disingkirkan, yaitu tahun saat Penyelamat yang telah ditetapkan sebelumnya harus mati. Lagi pula, bulan dan harinya telah dinubuatkan dalam Perjanjian La-ma. Karena itu, penting sekali Penyelamat mati pada hari yang telah dinubuatkan dan dilambangkan dalam Perjanjian Lama.

Segala sesuatu yang diatur supaya Manusia-Penyelamat dapat diserahkan kepada kematian pada waktu dan tempat tertentu itu tidak mudah. Ini benar-benar memerlukan pelaksanaan kedaulatan Allah Tritunggal. Putra mempersiap-kan diri-Nya untuk mati. Roh itu dan Bapa juga bekerja untuk mempersiapkan lingkungan supaya Putra dapat mati disalib tepat menurut apa yang telah dinubuatkan dan dilam-bangkan dalam Perjanjian Lama.

Dalam Lukas 22 kita nampak bahwa sewaktu Manusia-Penyelamat sedang mempersiapkan diri-Nya untuk mati, para penentang sibuk dengan siasat mereka, tipu muslihat mereka. Pada saat itu pula, musuh Allah, Iblis, juga sibuk. Kapan saja Allah sibuk, Iblis juga sibuk. Khususnya, Iblis secara aktif memakai Yudas Iskariot, salah seorang dari dua belas rasul yang ditunjuk oleh Manusia-Penyelamat. Iblis menghasut Yudas untuk mengkhianati Tuhan Yesus. Iblis menginjeksikan ke dalam Yudas pemikiran mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus ke dalam tangan orang-orang yang ingin membunuh Dia. Karena itu, dalam pasal ini kita nampak komplotan para penentang dan pekerjaan Iblis. Di satu pihak, ”Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan, bagaimana mereka dapat membunuh Yesus, sebab mereka takut kepada orang banyak” (ay. 2). Di pihak lain, ”Lalu masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu. Yudas pun per-gi kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia da-pat menyerahkan Yesus kepada mereka” (ay. 3-4).

PASKAH DIGANTIKAN OLEH PERJAMUAN TUHAN

Dalam 22:7-23 Manusia-Penyelamat mendirikan perja-muan malam-Nya sebagai pengganti Paskah Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, Paskah adalah satu hal yang besar, yang dianggap sama dengan penciptaan Allah. Dalam Perjanjian Lama pertama-tama kita memiliki catatan tentang penciptaan Allah. Kemudian kita nampak bahwa ma-nusia yang diciptakan oleh Allah itu jatuh dan akhirnya pergi ke Mesir. Ketika Allah akan menyelamatkan umat-Nya dari belenggu di Mesir, Dia menetapkan hari raya Paskah. Paskah adalah waktu umat Allah diselamatkan dan dibawa kembali kepada hak mereka yang telah hilang. Perayaan Paskah sudah berlangsung selama lebih dari seribu lima ratus tahun, sejak waktu Keluaran 12 sampai malam hari ketika Manusia-Penyelamat mengadakan Paskah yang ter-akhir bersama murid-murid-Nya.

Lukas 22:7-23 adalah bagian yang penting dari firman ini, karena bagian ini menandakan akhir dari Paskah Perjanjian Lama. Di sini kita nampak bahwa Manusia-Penyelamat mendirikan perjamuan malam-Nya, meja Tuhan, untuk menggantikan Paskah Perjanjian Lama. Dari hal ini ki-ta nampak bahwa pada malam hari ketika Tuhan mengadakan perjamuan malam-Nya itu merupakan suatu masa peralihan. Suatu peralihan terjadi dari Paskah Perjanjian Lama kepada perjamuan malam Tuhan dalam Perjanjian Baru. Ini adalah hal yang sangat penting.

Dalam Lukas 22 kita harus melihat perbedaan di antara Paskah dengan meja Tuhan. Ayat 7-18 berhubungan dengan Paskah, sedangkan ayat 19-20 berhubungan dengan perjamuan malam Tuhan. Ayat 7 mengatakan, ”Kemudian tibalah hari raya Roti Tidak Beragi, yaitu hari ketika orang harus menyembelih domba Paskah.” Hari raya Roti Tidak Beragi adalah hari raya selama tujuh hari (Im. 23:6). Hari raya ini juga disebut Paskah (Mrk. 14:1). Sebenarnya, hari raya Paskah adalah hari yang pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi (Kel. 12:15-20).

Lukas 22:7 membicarakan hari domba Paskah dikurbankan. Dalam kalender orang Yahudi, yang sesuai dengan Kitab Suci mereka, satu hari itu dimulai pada malam hari (Kej. 1:5). Pada malam Paskah yang terakhir itu, Manusia-Penyelamat mula-mula makan Paskah bersama murid-murid-Nya dan kemudian mengadakan perjamuan malam-Nya untuk mereka. Setelah itu, Dia pergi bersama murid-murid-Nya ke Taman Getsemani di Bukit Zaitun. Di sana Dia ditangkap dan dibawa kepada imam-imam kepala, Dia dihakimi oleh Mahkamah Agama di larut malam. Pada pagi harinya pada hari yang sama, Dia diserahkan kepada Pilatus untuk dihakimi olehnya dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian Dia dibawa ke Golgota dan disalibkan di sana pada jam ketiga (jam sembilan) di pagi hari, dan tetap digantung di kayu salib sampai jam kesembilan (jam tiga) sore hari (Mrk. 15:16-41), bagi penggenapan lambang Paskah (Kel. 12:6-11).

Dalam Lukas 22:15 Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, ”Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”Aku sangat rindu” secara harfiah berarti, ”dengan kerinduan Aku sangat rindu.” Tuhan rindu makan Paskah bersama murid-murid sebelum Dia menderita, yaitu sebelum Dia pergi ke salib. Makan dan minum dalam 21:15-18 adalah mengadakan hari raya Paskah yang terakhir sebelum mendirikan perjamuan malam Tuhan dalam ayat 19-20.

TIGA TAHAP DARI SATU HARI RAYA

Dalam ayat 16 Tuhan melanjutkan berkata, ”Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai itu digenapi dalam Kerajaan Allah.” Kata ganti ”itu” mengacu kepada Paskah dalam ayat 15, yang akan digenapkan se-penuhnya di dalam Kerajaan Allah yang akan datang, ketika Penyelamat berhari raya bersama orang-orang kudus yang menang (ay. 30; 13:28-29).

Allah memiliki satu rencana yang lengkap untuk menebus umat-Nya ke dalam yobel-Nya. Hari raya Paskah adalah tanda dari penebusan penuh Allah, dan penebusan yang penuh ini adalah membawa umat pilihan Allah ke dalam kenikmatan yang penuh terhadap diri-Nya sendiri. Kenikmatan ini adalah perihal yobel yang disinggung dalam Injil Lukas sebagai penggenapan nubuat Yesaya dan lambang dalam Imamat 25. Yobel ini sebenarnya adalah kenikmatan terhadap Allah melalui penebusan-Nya. Hari raya ini menandakan bahwa yobel adalah hari raya Paskah yang pertama dalam Perjanjian Lama dan kemudian meja Tuhan dalam Perjanjian Baru.

Hari raya Paskah ini tidak digenapkan sepenuhnya dalam Perjanjian Lama. Meja Tuhan, yang juga adalah suatu hari raya, menggantikan dan meneruskan hari raya Paskah ini. Tetapi hari raya Perjanjian Baru ini juga tidak digenapkan sepenuhnya; ini akan digenapkan sepenuhnya di dalam kerajaan yang akan datang.

Jika kita membaca Alkitab dengan teliti, kita akan nampak bahwa hari raya dibicarakan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hari raya ini dimulai dalam Keluaran 12, dan dilanjutkan selama lebih dari lima belas abad sampai malam hari saat Tuhan Yesus menggantikannya dengan meja-Nya. Hari ini dalam kehidupan gereja umat Allah sedang menghadiri hari raya Perjanjian Baru ini. Namun, hari raya ini baru digenapkan sepenuhnya pada hari raya di dalam kerajaan yang akan datang. Ini berarti hari raya di dalam kerajaan itu akan menjadi penggenapan dari hari raya Paskah dan hari raya meja Tuhan.

Di sini kelihatannya ada tiga hari raya: hari raya Paskah, hari raya meja Tuhan, dan hari raya di dalam kerajaan. Sebenarnya, ini bukanlah tiga hari raya. Sebaliknya, ini adalah tiga tahap dari satu hari raya. Allah telah mendirikan satu hari raya melalui penebusan-Nya bagi kenikmatan kita yang penuh terhadap yobel dalam tiga tahap, dan tahaptahap ini adalah tahap Perjanjian Lama, tahap Perjanjian Baru, dan tahap kerajaan.

Kita dapat mengatakan bahwa Paskah adalah yobel Per-janjian Lama. Ketika Paskah didirikan, bangsa Israel yang tertekan dilepaskan dari belenggu di Mesir, dilepaskan dari kekuasaan Firaun. Bangsa Israel telah tertawan dalam per-budakan. Di pihak negatif, Paskah membebaskan mereka dari belenggu itu. Di pihak positif, Paskah membawa mereka ke dalam satu hari raya untuk menikmati domba, yang adalah lambang Kristus sebagai perwujudan Allah. Pada hari itu bani Israel dibawa ke dalam kenikmatan terhadap Allah; mereka menikmati domba dan Paskah. Kemudian, di padang gurun mereka menikmati manna. Setelah mereka masuk ke dalam negeri yang baik itu, mereka menikmati kekayaan negeri itu, yang adalah lambang Kristus dalam kealmuhitan-Nya. Sekarang kita dapat melihat bahwa Paskah membebaskan bani Israel dari belenggu dan membawa mereka ke dalam kenikmatan terhadap Allah. Namun, mereka akhirnya kehilangan kenikmatan ini dan kembali tertawan.

Dalam Lukas 4, Manusia-Penyelamat mengumumkan tahap lebih lanjut dari yobel — yobel Perjanjian Baru. Yobel Perjanjian Baru juga memiliki suatu lambang atau tanda, yakni meja Tuhan. Meja Tuhan adalah tanda yobel yang membebaskan kita dari belenggu dan membawa kita ke dalam kenikmatan penuh terhadap Allah Tritunggal. Meja Tuhan ini bukan hanya satu pengganti dari hari raya Paskah Perjanjian Lama, tetapi juga merupakan kelanjutan dari hari raya itu.

Hari raya meja Tuhan Perjanjian Baru akan digantikan dan dilanjutkan dengan hari raya di dalam kerajaan yang akan datang. Hari raya di dalam kerajaan yang akan datang ini akan menjadi hari raya tahap ketiga. Hari raya yang akan datang ini, yang akan menjadi pengganti dan kelanjutan dari meja Tuhan, juga akan menjadi satu tanda dari yobel. Pada waktu itu umat pilihan dan umat tebusan Allah akan dibebaskan dari segala penjajahan, belenggu, dan per-budakan dan akan dibawa masuk ke dalam kenikmatan ter-hadap Allah Tritunggal di dalam zaman kerajaan.

CAWAN PASKAH

Lukas 22:17-18 mengatakan, ”Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab Aku berkata kepada kamu: Mulai sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.” Beberapa pembaca mungkin mengira bahwa ini adalah cawan meja Tuhan. Namun, ini adalah cawan hari raya Paskah, bukan cawan meja Tuhan. Dalam ayat 16 Tuhan dan murid-murid-Nya makan Paskah, dan dalam ayat 17 mereka minum cawan hari raya itu. Ayat 19-20 membicarakan meja Tuhan. Kita perlu membuat satu perbedaan yang jelas antara dua hari raya dalam 22:17-23. Akan sangat membantu bila kita menandai Alkitab kita untuk menunjukkan bahwa hari raya Paskah berakhir pada ayat 18 dan perjamuan malam Tuhan dimulai pada ayat 19.

ROTI DAN CAWAN MEJA TUHAN

Lukas 22:19 mengatakan, ”Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya, Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Roti dalam ayat 19 ini bukanlah roti Paskah; ini adalah roti meja Tuhan. Selain itu dalam ayat ini Tuhan berkata, ”Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Jadi, ini bukanlah peringatan tentang apa yang terjadi dalam Keluaran 12. Mengambi roti meja Tuhan adalah melakukan peringatan terhadap Manusia-Penyelamat.

Ayat 20 mengatakan, ”Demikian juga dilakukan-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata, Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” Sekali lagi, ini bukanlah cawan Paskah, melainkan perjanjian baru dalam darah Tuhan.

Allah membuat satu perjanjian dengan orang Israel yang telah tertebus dalam Keluaran 24:3-8 (Ibr. 9:18-21), yang menjadi perjanjian lama, sebagai dasar bagi-Nya un-tuk berhubungan dengan umat tebusan-Nya di dalam zaman hukum Taurat. Manusia-Penyelamat datang untuk meng-genapkan penebusan kekal Allah bagi umat pilihan Allah oleh kematian-Nya, menurut kehendak Allah (Ibr. 10:7, 9-10), dan dengan darah-Nya mengadakan satu perjanjian baru, perjanjian yang lebih baik (Ibr. 8:6-13), yang menjadi perjanjian yang baru setelah kebangkitan-Nya (Ibr. 9:16-17), sebagai satu dasar bagi Allah untuk menjadi satu dengan umat-Nya yang telah ditebus dan telah dilahirkan kembali di dalam zaman kasih karunia. Perjanjian baru ini meng-gantikan perjanjian lama dan secara bersamaan menggantikan zaman lama Allah kepada zaman-Nya yang baru. Manusia-Penyelamat menghendaki murid-murid-Nya mengenal hal ini, menempuh satu kehidupan yang berdasar pada hal ini dan sesuai dengan hal ini setelah kebangkitan-Nya.

MEMPERINGATI MANUSIA-PENYELAMAT

Kita telah menekankan fakta bahwa Manusia-Penyelmat mendirikan perjamuan malam-Nya, meja Tuhan, setelah Dia dan murid-murid makan Paskah. Dia mendirikan perjamuan malam-Nya agar kaum beriman-Nya memperingati Dia untuk melanjutkan dan menggantikan hari raya Paskah, praktek umat pilihan Allah dalam memperingati keselamatan Tuhan dalam Perjanjian Lama (Kel. 12:14; 13:3). Praktek yang baru dari Perjanjian Baru ini adalah memperingati Manusia-Penyelamat dengan makan roti yang menyatakan tubuh-Nya yang diberikan bagi kaum beriman-Nya (1 Kor. 11:24), dan minum cawan, yang menyatakan darah-Nya yang dicurahkan bagi dosa-dosa mereka (Mat. 26:28). Roti menunjukkan hayat (Yoh. 6:35), hayat Allah, hayat kekal; dan cawan menunjukkan berkat (1 Kor. 10: 16), yang adalah Allah itu sendiri sebagai bagian mereka (Mzm. 16:5). Sebagai orang-orang dosa, bagian mereka seharusnya adalah cawan murka Allah (Why. 14:10). Tetapi Manusia-Penyelamat minum cawan itu bagi mereka (Yoh 18:11), dan keselamatan-Nya telah menjadi bagian mereka, yaitu cawan keselamatan (Mzm. 116:13) yang penuh melimpah (Mzm. 23:5), yang isinya adalah Allah sebagai berkat almuhit me-reka. Roti dan cawan ini adalah penyusun-penyusun per-jamuan malam Manusia-Penyelamat, yang adalah suatu me-ja (1 Kor. 10:21), suatu hari raya, yang didirikan oleh-Nya supaya kaum beriman-Nya dapat memperingati Dia dengan menikmati Dia sebagai suatu hari raya. Dengan demikian mereka mempersaksikan keselamatan-Nya yang kaya dan ajaib kepada alam semesta dan memamerkan kematian-Nya yang menebus dan yang menyalurkan hayat (1 Kor. 11:26).