← Daftar isi Lukas (2) · bab 19/24

MANUSIA-PENYELAMAT MENYERAHKAN DIRI-NYA SENDIRI KEPADA KEMATIAN UNTUK MERAMPUNGKAN PENEBUSAN (2)

Pembacaan Alkitab: Luk. 20:1—21:4

Lukas 19:28—22:46 adalah satu bagian yang berhubungan dengan Manusia-Penyelamat menyerahkan diri-Nya sendiri kepada kematian untuk merampungkan penebusan. Kita telah nampak bahwa Manusia-Penyelamat masuk ke Yerusalem dengan penuh kemenangan (19:28-40), meratapi kota itu (ay. 41-44), dan membersihkan Bait Allah dan meng-ajar di dalamnya (ay. 45-48). Kemudian dalam 20:1—21:4 ki-ta nampak Tuhan melewati pengujian dari imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua (ay. 1-19), dari orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian (ay. 20-26), dan dari orang-orang Saduki (ay. 27-38). Dia membungkam semua penguji (ay. 39-44), memperingatkan ahli-ahli Taurat (ay. 45-47), dan memuji janda yang miskin (21:1-4).

Setelah Tuhan masuk ke Yerusalem dan mengunjungi Bait itu, Dia keluar dari kota itu dan beristirahat di Betania. Kemudian pada pagi harinya Dia kembali lagi ke Bait itu. Lukas 20:1 mengatakan bahwa Dia mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan kabar baik. Dia masih melaksanakan ministri menyajikan yobel kepada orang-orang yang memerlukan.

MATI PADA TEMPAT DAN WAKTU YANG SEBELUMNYA TELAH DITENTUKAN OLEH ALLAH

Sewaktu Tuhan berada di Bait Allah mengajar dan memberitakan, ”Datanglah imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta tua-tua ke situ, dan mereka berkata kepada Yesus: Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu, atau siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu!” (20:1-2). Di sini kita nampak bahwa para pemimpin dari kumpulan orang Yahudi itu siap untuk menguji Tuhan. Sebenarnya, ujian ini bukan diprakarsai oleh mereka, melainkan diprakarsai oleh Manusia-Penyelamat. Dia tahu bahwa menurut nubuat, Dia harus dibunuh pada hari raya Paskah sebagai Anak Domba Allah. Nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama telah menetapkan waktu dan tempat di mana Dia akan mati.

Manusia-Penyelamat telah melayani selama lebih dari tiga tahun di daerah Galilea yang diremehkan, jauh dari bait kudus dan kota kudus, tempat Dia perlu mati bagi penggenapan rencana kekal Allah. Sebagai Anak Domba Allah (Yoh. 1:29), Dia harus dipersembahkan kepada Allah di Gunung Moria, tempat Abraham mempersembahkan Ishak dan menikmati penyediaan Allah yaitu seekor domba jantan sebagai pengganti anaknya (Kej. 22:2, 9-14) dan tempat bait itu dibangun di Yerusalem (2 Taw. 3:1). Di sanalah Dia akan diserahkan, menurut rencana yang telah ditetapkan oleh Tri-nitas ke-Allahan (Kis. 2:23), kepada para pemimpin Yahudi dan di sanalah Dia ditolak oleh mereka sebagai tukang-tukang bangunan Allah (Kis. 4:11). Di sana jugalah Dia harus disalib menurut penghukuman cara Romawi (Yoh. 18:31-32; 19:6, 14-15) untuk menggenapkan lambang mengenai cara Dia akan mati (Bil. 21:8-9; Yoh. 3:14). Selain itu, pada tahun itulah Mesias (Kristus) akan disingkirkan (dibunuh) menurut nubuat Daniel (Dan. 9:24-26). Lagi pula, sebagai Domba Paskah (1 Kor. 5:7) Dia harus dibunuh pada bulan Paskah (Kel. 12:1-11). Maka, Dia harus pergi ke Yerusalem sebelum Paskah (Yoh. 12:1; Mrk. 14:1) supaya Dia dapat mati di sana pada hari raya Paskah (Yoh. 18:28), pada tempat dan waktu yang telah ditentukan Allah sebelumnya.

Menurut nubuat dalam Perjanjian Lama, tempat dan waktu kematian itu sudah pasti. Daniel 9:25-26a mengatakan, ”Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan di-bangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang di-urapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan. Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa.” Di sini kita nampak bahwa Mesias, Kristus, dibunuh pada akhir masa (minggu) yang keenam puluh sembilan. Tahun di mana Manusia-Penyelamat pergi ke Yerusalem untuk mati adalah tahun yang dinubuatkan dalam Daniel 9. Bahkan lebih khusus lagi, Tuhan mati pada hari raya Paskah, yaitu pada hari ke-empat belas dari bulan itu. Tuhan tahu bahwa Dia perlu ada di Yerusalem pada waktunya untuk mati pada hari raya Paskah. Selain itu, menurut nubuat mengenai domba Paskah, Dia perlu diuji selama empat hari. Karena itu, Dia perlu berada di Yerusalem sedikitnya empat hari sebelum ketersaliban-Nya.

Dalam kitab-kitab Injil kita nampak bahwa Tuhan Yesus sangat berhati-hati agar tidak dibunuh sebelum atau setelah waktu yang telah ditetapkan. Jika Dia dibunuh sebelum Paskah, maka nubuat itu tidak mungkin digenap-kan. Jika demikian masalahnya, maka Dia tidak akan menjadi Domba Paskah yang sejati. Tetapi karena Dia adalah Domba Paskah yang sejati, maka Dia menjaga diri-Nya sam-pai waktu-Nya tiba untuk dipersembahkan di atas salib.

Sebagaimana Tuhan mati pada waktu yang tertentu, Dia juga mati pada tempat yang khusus. Tempat ini adalah Bukit Sion, yang sebelumnya disebut Gunung Moria.

Jika kita memiliki pemahaman yang tepat tentang waktu dan tempat ketersaliban Tuhan, kita akan tahu mengapa Tuhan berhati-hati dalam tindakan-Nya selama hari-hari yang penting itu di Yerusalem. Dia tahu bahwa jika Dia ma-ti walaupun sehari sebelumnya, penggenapan nubuat dalam Perjanjian Lama akan meleset. Karena itu, Tuhan sangat hati-hati dalam kembali ke bait itu setiap hari. Tujuan-Nya kembali ke bait adalah untuk menyerahkan diri-Nya sendiri kepada orang-orang Yahudi agar mereka menguji-Nya secara menyeluruh. Kita memiliki catatan tentang pengujian ini dalam 20:1—21:4.

DIUJI OLEH IMAM-IMAM KEPALA,

AHLI-AHLI TAURAT, DAN TUA-TUA

Dalam 20:1 kita nampak bahwa sewaktu Tuhan sedang mengajar di Bait Allah dan memberitakan kabar baik, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua datang kepada-Nya. Imam-imam adalah orang-orang yang melayani di Bait Allah, ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang me-miliki pengetahuan yang mendalam tentang hukum Taurat Musa, dan tua-tua adalah para pelaksana pemerintahan di antara orang-orang Yahudi. Ketiga kelompok orang ini adalah pemimpin-pemimpin yang luar biasa dalam kumpulan orang-orang Yahudi. Mereka siap untuk melakukan satu pengujian yang menyeluruh terhadap Tuhan sebagai Domba Paskah.

Lukas menyajikan pengujian terhadap Tuhan Yesus dari sudut pandang yang berbeda dengan Matius dan Markus. Penyajian Lukas adalah dari sudut standar moralitas yang tertinggi. Dalam Injil Lukas 20 terdapat satu gambaran Manusia-Penyelamat yang berperilaku dalam standar moralitas yang tertinggi. Tentunya, dalam semua pasal sebelumnya kita telah nampak standar moralitas yang tertinggi Tuhan yang dihasilkan oleh esens ilahi-Nya dengan atribut ilahi dan esens insani-Nya dengan kebajikan insani. Sekarang dalam pasal 20 kita memiliki satu gambaran yang lebih terperinci tentang standar moralitas yang tertinggi dari Manusia-Penyelamat.

Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua ber-kata kepada Tuhan, ”Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu, atau siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu!” (20:2). Mereka mengira bahwa mereka dapat menjerat Tuhan dengan menanyakan kepada-Nya sumber otoritas-Nya. Sebagai Orang yang telah diuji, manusia-Allah ini jujur, tulus, bijaksana, dan agung. Tetapi orang-orang yang bertanya kepada-Nya itu hina, licik, busuk, dan tidak jujur. Mereka bukan datang dengan sikap yang tepat atau dengan roh yang tepat.

Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua, Manusia-Penyelamat ini sangat bijaksana. Ketika ditanya siapa yang memberikan kuasa kepada-Nya, Dia tidak berkata, ”Bapa-Ku yang memberikan kuasa ini kepada-Ku.” Menjawab pertanyaan dengan cara demikian memang tidak salah, tetapi kekurangan hikmat. Dalam jawaban-Nya, Tuhan berkata kepada mereka, ”Aku juga akan mengajukan suatu pertanya-an kepada kamu. Katakanlah kepada-Ku: Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia?” (ay. 3-4). Pertanyaan ini membawa mereka ke dalam satu dilema, dan mereka berdebat di antara mereka sendiri mengenai hal itu dengan berkata, ”Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, seluruh rakyat akan melempari kita dengan batu, sebab mereka yakin bahwa Yohanes adalah seorang nabi” (ay. 5-6). Akhirnya, karena tidak memiliki hikmat untuk menangani situasi itu, mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain berdusta dengan berkata bahwa, ”mereka tidak tahu dari mana baptisan itu” (ay. 7). Karena tahu mereka berdusta, maka Tuhan berkata kepada mereka, ”Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu” (ay. 8). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tahu bahwa para pemimpin Yahudi itu tidak akan memberitahukan kepada-Nya apa yang mereka ketahui. Maka, Dia juga tidak memberi tahu jawaban dari apa yang mereka tanyakan. Mereka berdusta dengan berkata, ”Kami tidak tahu.” Sedangkan Tuhan mengatakan kebenaran dengan bijaksana kepada mereka, dengan menelanjangi kedustaan mereka dan menghindari pertanyaan mereka.

Dalam kejadian ini kita nampak betapa hina dan licik-nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua itu. Pada waktu yang sama kita nampak betapa murni, bijaksa-na, dan agungnya Manusia-Penyelamat ini. Sungguh satu perbedaan yang luar biasa!

DIUJI OLEH ORANG-ORANG FARISI

DAN PARA PENDUKUNG HERODES

Setelah imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua dikalahkan oleh Manusia-Penyelamat, orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes menguji-Nya (20:20-26). Orang-orang Farisi, satu kelompok agamawan, adalah orang-orang yang patriotik dan setia kepada masyarakat Yahudi. Para pendukung Herodes adalah orang-orang yang memihak rezim raja Herodes dan bekerja sama dengan dia dalam menyusupkan cara hidup orang Yunani dan Romawi ke dalam kebudayaan orang Yahudi. Mereka memihak orang Saduki tetapi menentang orang Farisi. Tetapi di sini mereka bergabung dengan orang Farisi untuk menjerat Tuhan Yesus dan bersekongkol untuk menjebak Manusia-Penyelamat.

Menurut ayat 21, para pendukung Herodes dan orang-orang Farisi bertanya kepada Tuhan, dengan berkata, ”Guru, kami tahu bahwa benarlah apa yang Engkau katakan dan ajarkan, dan Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah. Apakah kita diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Ini benar-benar satu pertanyaan yang menjerat. Membayar pajak kepada Kaisar ditentang oleh orang-orang Yahudi. Jika Tuhan Yesus mengatakan boleh melakukan hal ini, Dia akan melukai orang-orang Farisi. Tetapi jika Dia mengatakan tidak boleh, maka Dia akan memberikan dasar kepada para pendukung Herodes yang berpihak kepada pemerintah Roma untuk menuduh-Nya. Dengan mengajukan pertanyaan yang demikian kepada Tuhan, mereka menyingkapkan diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang hina, tidak jujur, dan licik.

Dalam menangani dilema ini Tuhan kembali jujur, murni, dan bijaksana. Menyadari kelicikan mereka, Dia berkata kepada mereka, ”Tunjukkanlah kepada-Ku satu dinar; gambar dan tulisan siapakah ada padanya? Jawab mereka: Gambar dan tulisan Kaisar. Lalu kata Yesus kepada mereka: Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (ay. 24-25). Memberikan kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar adalah mem-bayar upeti kepada Kaisar menurut peraturan pemerintahannya. Memberikan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah adalah membayar setengah syikal kepada Allah menurut Keluaran 30:11-16 dan mempersembahkan semua perpuluhan kepada Allah menurut hukum Allah.

Dalam 20:20-26 kita nampak dua standar moralitas yang sama sekali berbeda. Orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes itu hina, tidak jujur, dan licik. Tetapi Manusia-Penyelamat ini tulus, terus terang, jujur, dan bijaksana.

DIUJI OLEH ORANG-ORANG SADUKI

Dalam 20:27-38 Manusia-Penyelamat diuji oleh orang-orang Saduki. Ayat 27 mengatakan, ”Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya.” Mereka selanjutnya menyajikan sebuah kasus tentang seorang laki-laki yang mati meninggalkan istrinya dengan tidak meninggalkan anak: ”Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak mening-galkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia” (ay. 28-33). Orang-orang Saduki mengira bahwa mereka pandai dalam menyajikan perkara ini kepada Tuhan. Sebenarnya, mereka sangat licik.

Dalam ayat 34-36 Tuhan menjawab, ”Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.” Di sini Tuhan menunjukkan bahwa perkawinan adalah milik zaman ini. Tetapi orang-orang yang layak pada zaman yang akan datang dan berbagian dalam kebangkitan dari antara orang-orang mati akan sama dengan malaikat-malaikat, dan mereka tidak akan menikah satu sama lain. Tidak diragukan lagi, orang-orang Saduki itu tidak pernah membayangkan bahwa akan ada satu zaman, yaitu zaman kebangkitan.

Dalam 20:35 Tuhan membicarakan orang-orang yang dianggap layak untuk mendapatkan zaman yang akan datang dan kebangkitan dari antara orang mati. Zaman kerajaan yang akan datang (13:28-29; 22:18) dan kebangkitan untuk hidup (Yoh. 5:29; Luk. 14:14; Why. 20:4, 6) merupakan berkat dan kenikmatan kekal dalam hayat kekal bagi kaum beriman yang dianggap layak (Luk. 18:29-30; Mat. 19:28-29).

Dalam 20:37-38 Tuhan selanjutnya berkata, ”Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut Tuhan sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Karena Allah adalah Allah orang hidup dan disebut Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, ini menunjukkan bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub yang telah mati itu akan dibangkitkan. Jika tidak, Allah akan menjadi Allah orang mati. Tetapi fakta bahwa Dia adalah Allah orang hidup menyiratkan bahwa satu hari Abraham, Ishak, dan Yakub akan dibangkitkan. Dari hal ini kita nampak bahwa gelar ilahi — Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub — menyiratkan kebenaran tentang kebangkitan.

Dalam jawaban Tuhan kepada orang-orang Saduki kita nampak hikmat-Nya bukan hanya dalam menjawab pertanyaan licik mereka, tetapi juga dalam memahami kedalaman firman Allah. Untuk memahami kedalaman gelar ilahi ini diperlukan hikmat. Manusia-Penyelamat ini pasti menge-nal firman Allah. Tidak seperti orang-orang Saduki, yang sangat dangkal, Tuhan memiliki hikmat untuk menembus ke dalam kedalaman firman kudus.

Menurut catatan dalam Injil Matius dan Injil Markus, pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Saduki itu diikuti dengan pertanyaan yang keempat, yaitu pertanyaan yang diajukan oleh ahli Taurat mengenai perintah yang besar dalam hukum Taurat. Fakta bahwa Lukas tidak men-catat pertanyaan yang keempat ini merupakan satu bukti lagi bahwa perhatiannya tertuju kepada standar moralitas yang tertinggi dari Manusia-Penyelamat. Pertanyaan ten-tang perintah manakah yang terbesar itu tidak melibatkan perihal moralitas. Saya percaya, inilah alasan Lukas tidak memasukkan pertanyaan ini.

Lukas 20:39-40 mengatakan, ”Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: Guru, jawab-Mu itu tepat sekali. Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.” Pertanyaan-pertanyaan yang penuh tipu muslihat dari penentang-penentang-Nya yang berusaha mencari-cari kesalahan-Nya menyingkapkan kejahatan, kelicikan, dan kehinaan mereka, yang jelas berlawanan dengan kesempur-naan, hikmat, dan kewibawaan Manusia-Penyelamat. Ini membenarkan Dia dalam kesempurnaan insani-Nya dengan kemegahan ilahi-Nya dan membungkam mereka dalam komplotan mereka yang penuh kebencian dan persekongkolan mereka yang dihasut oleh Iblis.