Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 49/50

TUTUR KATA

I. TUTUR KATA MEWAKILI HATI MANUSIA

Tutur kata manusia adalah bagian yang sangat besar dan penting dalam kehidupan manusia. Tuhan Yesus berkata bahwa perkataan yang diucapkan mulut meluap dari hati (Luk. 6:45). Ini membuktikan bahwa tutur kata seseorang menyatakan bagaimana hatinya, menyatakan apa yang terkandung dalam hatinya. Tingkah laku seseorang tidak mudah mewakili dirinya, tetapi tutur kata seseorang sangat mudah mewakili dirinya. Sering kali tingkah laku seseorang bisa menghasilkan tanggapan, pandangan, atau keputusan yang salah terhadap orang itu. Namun tutur kata seseorang mudah sekali mewakili bagaimana keadaan orang itu sebenarnya. Sebab tutur kata manusia sangat sulit dibatasi, sangat sulit dikendali. Apa yang terkandung dan memenuhi hati manusia akan diucapkan dari mulutnya. Bahkan kalaupun mulut hendak berdusta atau menipu, itu membuktikan adanya pendustaan dan penipuan di dalam hati. Bila seseorang tidak berbicara, kita sulit mengetahui isi hatinya. Tetapi bila ia membuka mulut, hatinya pun terungkaplah. Ketika seseorang tidak berbicara, kita tak mengetahui keadaan rohnya; namun begitu ia berbicara, melalui perkataannya kita dapat meraba rohnya, serta mengetahui bagaimana kondisinya di hadapan Allah. Oleh sebab itu, setelah kita percaya Tuhan haruslah kita dari semula belajar bagaimana menjadi manusia, bagaimana bertutur kata. Cara dan keadaan kita sebagai manusia pada masa-masa lampau sama sekali tidak benar, maka hari ini kita harus belajar dari semula, bahkan tutur kata kita pun harus dipelajari dari semula. Kita harus sangat berhati-hati atas tutur kata kita, dan harus benar-benar memperhatikannya.

II. HARUS MENANGGULANGI DUSTA

Dalam Alkitab ada empat, lima tempat yang menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita bertutur kata.

Yohanes 8:44 — ”Kamu berasal dari bapakmu, yaitu Iblis, dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapakmu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapak pendusta.”

Iblis berdusta dari dirinya sendiri, sebab ia adalah pendusta. Tidak saja demikian, hari ini ia pun menjadi bapak segala pendusta. Dalam dunia ini dusta lebih populer daripada perkara mana pun. Berapa banyak umat Iblis, sebanyak itu pula pendusta-pendusta yang ia miliki. Berapa banyak orang yang berada di bawah kuasanya, sebanyak itu pula pendusta-pendustanya di dunia ini. Iblis memerlukan dusta untuk membangun kerajaannya, ia memerlukan dusta untuk menggulingkan pekerjaan Allah. Setiap orang yang dilahirkan oleh Iblis pandai berdusta dan pandai melakukan pendustaan. Karena itu kapan seseorang diselamatkan Allah, menjadi umat Allah, pelajaran pertama yang harus ia pelajari di hadapan Allah ialah menanggulangi tutur katanya. Aku harus menolak dusta yang mana pun, aku harus menolak perkataan-perkataan yang tidak tepat, aku harus menolak perkataan-perkataan yang ditambah-tambah atau dikurangi, dan aku harus menolak segala dusta yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Pendeknya, segala jenis dusta harus dilenyapkan dari antara anak-anak Allah. Jika masih ada dusta, maka Iblis masih ada alasan untuk mencengkeram Anda.

1. Dusta Paling Umum

Jika seseorang tidak belajar menolak dusta, ia tidak akan menyadari betapa dirinya pandai berdusta. Semakinia belajar menolak dusta, ia akan semakin menyadari betapa dirinya pandai berdusta; sampai-sampai kecenderungan hasratnya pun adalah berdusta. Banyaknya dusta di dalam dunia ini di luar dugaan kita, bahkan dusta kita sendiri lebih banyak daripada yang kita duga. Karena itu jika Anda tidak belajar menolak dusta, Anda tidak mengetahui betapa banyaknya dusta itu. Bila Anda menolak dusta, Anda akan tampak alangkah banyaknya dusta itu. Tidak saja di dunia ini banyak dusta, di atas diri Anda sendiri juga banyak sekali dusta. Tetapi yang paling disayangkan ialah di antara kebanyakan umat Allah, dusta seolah-olah tidak boleh kekurangan. Jika di antara anak-anak Allah dusta mempunyai kedudukan, itu adalah perkara yang paling kasihan! Perkataan Tuhan cukup berat dan tegas, ”Setiap orang yang berdusta adalah anak-anak Iblis, Iblis adalah bapak segala pendusta. Apabila benih Iblis ini masih bercokol pada diri anak-anak Allah, bukankah itu merupakan perkara yang paling kasihan di seluruh dunia? Karena itu, kita tidak boleh, setelah percaya Tuhan bertahun-tahun lamanya, tetap tidak ada tekad untuk membereskan dusta kita sendiri; itu sangat terlambat. Seharusnya begitu kita percaya Tuhan, pada semula itu juga, kita sudah belajar bertutur kata dengan tepat.

2. Apakah Dusta Itu?

Bercabang Lidah

Bercabang lidah itulah berdusta. Jika seseorang sebentar berkata begini, sebentar berkata begitu; sebentar berkata boleh, sebentar berkata tidak boleh; sebentar berkata baik, sebentar berkata tidak baik; sebentar berkata benar, sebentar berkata tidak benar; Anda tahu bahwa ia adalah pendusta. Ini tidak saja berarti pendiriannya tidak stabil, juga berarti ia adalah seorang pendusta.

Berbicara Menurut Senang Atau Tidak Senang

Jika kita mengucapkan kata-kata yang kita senangi dan menyimpan kata-kata yang tidak kita senangi; mengucapkan kata-kata yang berguna bagi diri kita dan menyembunyikan kata-kata yang tidak berguna, itulah dusta. Seringkali orang sengaja mengutarakan sesuatu hanya separuh saja, sisanya tidak diutarakan karena dianggap akan menguntungkan orang lain, khususnya menguntungkan orang yang tidak disenangi. Bahkan yang diutarakan tak lain perkataan-perkataan yang dapat merugikan atau mencelakakan orang lain, itulah dusta. banyak orang berbicara tidak berdasarkan kebenaran dan kenyataan, melainkan menurut senang atau tidak senang. Banyak orang berbicara tidak sesuai dengan fakta, melainkan menurut emosi. Jika perkataan itu Anda senangi, Anda katakan; jika orang itu Anda sukai, Anda katakan. Atau jika perkataan itu tidak Anda senangi, Anda katakan begitu; jika orang itu tidak Anda sukai, Anda katakan begitu. Tutur kata yang demikian sama sekali menurut senang atau tidak senang, menurut emosi, bukan menurut kenyataan dan kebenaran. Ingatlah, tutur kata yang demikian adalah dusta. Perkataan yang tidak benar sudah merupakan dosa yang hebat, lebih-lebih kalau motivasinya tidak benar, itu pasti akan dihukum Allah. Kita wajib tampak bahwa kita berbicara bukan menurut emosi, melainkan menurut kenyataan. Jika tidak, lebih baik kita tidak berbicara. Kita tidak boleh berbicara menurut perasaan kita sendiri, sebab hal itu menunjukkan bahwa kita bermotivasi dusta di hadapan Allah.

Berbicara Menurut Pengharapan

Kita pun harus belajar mengendalikan emosi kita sedemikian rupa sehingga kita tidak mempunyai kecenderungan untuk mengharapkan keadaan orang lain, seharusnya begini atau begitu. Hari ini banyak perkataan orang yang tidak mewakili kenyataan, melainkan mewakili pengharapannya sendiri. Bukan bagaimana faktanya, tetapi bagaimana keinginannya. Seringkali Anda melihat orang mengucapkan kata-kata fitnah, membicarakan urusan saudari atau saudara, bukan berdasarkan fakta, melainkan karena ia sendiri senang demikian. Dialah yang mengharapkan saudari anu tidak baik, karena itu ia mengatakan saudari anu tidak baik. Dialah yang mengharap saudara anu jatuh, karena itu ia mengatakan saudara anu jatuh. Jadi perkataannya semata-mata menurut apa yang ia kehendaki, bukan menurut kenyataannya. Saudara saudari sudahkah kalian tampak kesulitan yang mendasar ini? Seringkali perkataan seseorang belum tentu sesuai dengan kenyataan perkara itu, tetapi hanya sesuai dengan yang diinginkan hatinya, atau yang diharapkannya belaka.

Memasukkan Maksud Diri Sendiri

Mengapa banyak perkara berubah setelah disampaikan oleh seorang kepada orang lain? Seringkali setelah satu perkataan disampaikan kepada 3 atau 4 orang, perkataan itu bisa berubah sama sekali. Mengapa demikian? Karena setiap orang memasukkan pendapatnya sendiri, tanpa meneliti dulu bagaimana sebenarnya fakta perkara itu. Anda tidak meneliti dulu bagaimana fakta perkara itu, lalu memasukkan pendapat-pendapat Anda sendiri ke dalamnya. Ini adalah berdusta.

Dalam bertutur kata ada satu hal mendasar yang harus diperhatikan, yaitu tidak boleh berbicara menurut perasaan, tidak boleh berbicara berdasarkan pengharapan. Bila tutur kata seseorang tidak berdasarkan kebenaran atau kenyataan, tetapi berdasarkan pengharapan, itu adalah dusta. Sebab itu, kita wajib belajar bertutur kata menurut kenyataan, tidak memasukkan pendapat kita sendiri. Bila kita mengutarakan pendapat kita sendiri, kita harus menjelaskan bahwa itu adalah pendapat kita sendiri. Bila kita mengutarakan kenyataan, kita harus mengatakan bahwa itu adalah kenyataan. Pendapat diri sendiri harus dipisahkan dari kenyataan, tidak seharusnya dicampur aduk. Bagaimana keadaan orang menurut pikiran kita dengan keadaannya yang sebenarnya, itu adalah dua perkara. Anda paling jauh hanya dapat mengatakan, ”perkaranya begini, tetapi saya kira begitu.”

Membesar-besarkan Perkataan

Adalagi sejenis dusta yang umum, dusta ini pun umum di kalangan gereja, yaitu membesar-besarkan perkataan. Angka bilangannya kurang tepat, bicaranya kurang tepat, suka memakai istilah-istilah besar dan hebat, dan suka omong besar. Ingatlah, semua itu adalah dusta, karena di dalamnya tidak benar.

Jika Anda ingin menguji bagaimana sebenarnya keadaan hati seorang saudara atau saudari di hadapan Allah, Anda beritahu saja kepadanya suatu perkara dan memintanya menyampaikan perkara tersebut kepada orang lain, dan Anda akan segera mengetahui bagaimana keadaan motivasi hatinya di hadapan Allah. Bagi orang yang taat kepada Allah dan yang pernah menerima pelajaran serta penanggulangan Allah, berbicara merupakan satu perkara yang besar. Ia pasti tidak berani bertutur kata dengan sembarangan atau ceroboh, melainkan berhati-hati agar tutur katanya diucapkan dengan tepat. Lain halnya dengan orang yang belum pernah menerima penanggulangan atau ganjaran Tuhan. Bila Anda memberitahu sesuatu kepadanya dan memintanya menyampaikan hal itu kepada orang lain, pasti ia menyampaikannya dengan gairah. Tetapi dalam menyampaikannya, ia tidak bersikap serius, bahkan pura-pura dan tidak jujur; mungkin ia memasukkan banyak perkataannya sendiri, dan tidak mengatakan apa yang seharusnya dikatakan.

Tiada seorang pendusta yang dapat menjadi minister firman Allah. Hanya orang yang tepat dalam bertutur kata baru dapat membaca Alkitab. Sebab setiap firman Allah senokta pun tidak ada yang keliru. Jika kita bersifat ceroboh, maka firman Allah akan terbuangentah berapa nokta.

Menambah Angka Bilangan

Banyak perkataan yang begitu melalui mulut seseorang segera memuai, angka bilangannya selalu bertambah. Kita mengetahui bahwa di Shanghai tidak ada sebuah balai sidang yang dapat menampung 5.000 orang. Para pengkhotbah yang sudah terlatih, begitu melihat sudah tahu. Tapi seringkali ketika ada kebangunan rohani, kita mendengar ada yang mengatakan bahwa balai sidang mereka telah menampung 10.000 bahkan 20.000 pengunjung. Kalian dapat membayangkan, sekalipun setiap orang menginjak kepala orang lain, gedung itu tetap tak mungkin menampung orang sebanyak itu. Namun kata-kata seperti itu justru diucapkan oleh pekerja, oleh orang Kristen. Inilah yang disebut membesar-besarkan perkataan, dan ini adalah dusta.

Memperbesar kesalahan orang lain, memperkecil kesalahan diri sendiri; kesalahan orang lain dibesar-besarkan, kesalahan diri sendiri dikurangi sekecil mungkin. Ini juga merupakan dusta.

3. Harus Belajar dengan Ketat Menjadi Orang yang Jujur

Hari ini saya tak dapat mengatakan, setelah anak-anak Allah beroleh selamat semuanya sudah menjadi orang yang jujur. Kecuali mereka benar-benar mau belajar dengan ketat di hadapan Allah selama lima tahun, setelah itu barulah mungkin kita menjumpai orang yang jujur. Saya berkata dengan perkataan yang sangat berat: Setiap orang harus menolak dusta, sekali demi sekali menolak dusta. Tiap kali ada tutur kata yang kurang tepat harus menolaknya, dan menolaknya terus. Mungkin setelah lewat 3 atau 5 tahun, barulah ia mulai menjadi orang yang jujur. Kalian tak dapat mengharap orang yang dengan sembrono dan sembarangan menanggulangi tutur katanya bisa menjadi orang jujur. Dusta, ketidaktepatan tutur kata merupakan penyakit umum orang Kristen. Setiap orang dalam dunia pernah menjadi pengikut Iblis, maka setiap orang pandai berdusta. Baik orang pintar maupun orang yang sangat bodoh, semua pandai berdusta. Ada yang berdusta tanpa teknik, ada pula yang berdusta dengan teknik, tapi semua itu dusta. Kalian harus senantiasa menanggulangi dusta di hadapan Allah. Bila terdapat dusta atau roh dusta, kalian harus mempunyai perasaan.

Kita harus tampak betapa pentingnya kejujuran, dan betapa tidak alami (spontan) kejujuran itu. Tabiat kita memang tidak jujur. Kita sudah bisa berdusta sejak kita dilahirkan. Kita suka berbicara menurut senang atau tidak senang, tidak suka berbicara menurut kebenaran. Bagaimana seorang anak kecil harus belajar dari semula, kita anak-anak Allah pun harus belajar dari semula. Jika tidak, begitu tidak waspada sedikit saja, kita akan berdusta, dan akan bertutur kata yang tidak tepat.

Saya kira ini adalah penyakit yang sangat umum, dosa yang paling gelap, juga yang paling lazim. Banyak orang menyepelekannya. Jika tutur kata kita ada penyakitnya, maka ada dua kesulitan yang akan terjadi. Pertama, dalam gereja akan timbul banyak kematian, sehingga orang Kristen tak dapat bersatu menempuh jalan. Kedua, Allah tak dapat memilihnya menjadi minister firman; fungsinya akan terhenti. Mungkin ia bisa menafsirkan Alkitab, menguraikan kebenaran, berkhotbah dan berpidato, tetapi tak dapat menjadi minister firman Allah. Setiap minister firman Allah haruslah orang yang jujur dalam tutur kata. Jika tidak, ia tak mungkin dipakai.

Kita harus belajar tidak berdusta, tidak berbicara menurut keinginan hati sendiri, dan menolak dusta dengan tuntas. Tutur kata kita harus objektif, tidak subjektif. Harus berbicara menurut kenyataan, menurut orang lain, tidak menurut perasaan sendiri. Kalau demikian anak-anak Allah pasti akan menempuh jalan lurus.

III. TIDAK MENGUCAPKAN PERKATAAN SIA-SIA

Ada lagi satu perkataan yang tidak boleh diucapkan, yaitu perkataan sia-sia. Matius 12:35-37 mengatakan, ”Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaan (hati)nya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaan (hati)nya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu, setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”

Dalam ayat 33 Tuhan Yesus berkata, ”Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” Dari konteks ayat-ayat ini kita mengetahui bahwa buah di sini tidak ditujukan kepada perbuatan, melainkan tutur kata. Kalau begitu kita jelas bahwa orang baik pasti baik pula tutur katanya, orang jahat pasti jahat pula tutur katanya. Melalui mendengar perkataannya, seseorang itu dapat dikenal. Andaikata ada seorang yang sehari suntuk menceritakan urusan orang lain, mengucapkan kata-kata fitnah, mengkritik, menuduh orang lain, atau membicarakan perkara-perkara yang najis dan yang tidak senonoh,maka jelaslah bahwa ia adalah pohon yang tidak baik.

Kesulitan di antara anak-anak Allah pada hari ini ialah mereka tidak dapat menghakimi orang menurut apa yang diucapkannya. Karena banyak orang yang dirinya sendiri demikian, maka mereka tak dapat menghakimi perkara yang demikian. Tuhan berkata kepada kita, orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari dalam hatinya, dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari dalam hatinya. Apa yang terkandung dalam hatinya diucapkan dari mulutnya. Bagaimana pohonnya, begitu pula buahnya.

Jika ada saudara atau saudari dari pagi hingga malam selalu mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik, menyampaikan perkara-perkara yang najis, mengkritik dan menyiarkan dosa, maka kalian jangan berkata kepadanya bahwa perkara-perkara tersebut benar atau palsu, tetapi kalian harus berkata kepadanya bahwa menyampaikan perkara-perkara semacam itu membuktikan hatinya sendiri kurang bersih. Kita harus mengetahui bahwa mulut anak-anak Allah, yakni tutur katanya adalah buahnya. Jika seseorang berhati kudus, niscaya tak mungkin selalu membicarakan perkara-perkara yang najis. Jika seseorang berhati kasih, ia pun tak mungkin selalu membenci orang lain. Bagaimana buahnya, begitu pula pohonnya.

Tidak semua kenyataan boleh dituturkan. Ini bukan masalah dusta atau bukan dusta. Boleh jadi kenyataannya memang begitu, tetapi itu bukan buah saya, maka saya tak dapat menuturkannya. Jadi bukan soal berdusta atau tidak berdusta, melainkan apakah itu perkataan sia-sia atau bukan perkataan sia-sia. Memang itu adalah perkataan yang sebenarnya, tetapi itu perkataan sia-sia. Tadi sudah saya katakan, kita harus berbicara menurut fakta, tetapi tidak semua fakta boleh kita katakan. Kalau itu adalah perkataan sia-sia, tetap tidak boleh dan tidak perlu diucapkan.

Firman Tuhan, ”Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman.” Kita harus mengetahui bahwa perkataan sia-sia yang diucapkan orang Kristen tidak saja diucapkan sekali, tetapi akan diucapkan dua kali. Hari ini diucapkan dengan sembarangan, kelak harus diucapkan sekali lagi, yakni seluruhnya harus dikatakan sekali lagi. Setiap kata sia-sia itu harus dipertanggungjawabkan. Ketika Anda mengucapkan untuk kedua kalinya, Anda akan dibenarkan menurut ucapan Anda, jika tidak Anda akan dihukum menurut ucapan Anda. Setiap perkataan sia-sia yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Karena itu, saya harap anak-anak Allah mau belajar menjadi orang yang takwa kepada Allah. Harus belajar menolak segala tutur kata yang tidak tepat, dan belajar mengucapkan perkataan yang tepat. Setiap perkataan yang tidak ada sangkut pautnya denganku, tidak berfaedah bagiku, dan tidak berfaedah bagi orang lain, tidak perlu diucapkan.

Dengan melihat mulut seseorang saja sudah dapat diketahui apakah ia di hadapan Allah sudah ditanggulangi atau belum. Bila seseorang telah menerima penanggulangan Allah, mulutnya pasti telah ditanggulangi. Orang yang berdusta, yang mengucapkan perkataan sia-sia, dan yang berbicara sembrono di hadapan Allah tidak akan banyak gunanya, ia hanya layak menantikan hukuman saja. Karena itu kita wajib mempelajari pelajaran ini sejak awal. Orang yang mengucapkan kata-kata kotor, pasti ia sendiri adalah orang yang kotor. Orang yang mengucapkan kata-kata yang bejat, pasti ia sendiri adalah orang yang bejat. Orang yang mengucapkan perkataan macam apa, pasti ia sendiri adalah orang semacam itu. Melihat buahnya akan dikenal pohonnya, mendengar tutur katanya akan dikenal orangnya.

Kita harus menaruh perhatian pada perkara ini, mendengarkan bagaimana seorang saudara bertutur kata, akan diketahui ia itu orang macam apa. Sayang sekali pada hari ini dalam gereja banyak kata-kata dusta, penuh dengan perkataan sia-sia, tetapi anak-anak Allah tidak menghakiminya. Ini adalah suatu hal yang sangat ganjil! Kita harus tampak, tak seorang pun boleh mengucapkan perkataan yang sia-sia.

IV. TIDAK MENGUCAPKAN PERKATAAN JAHAT

Satu Petrus 3:9-11 mengatakan, ”Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”

Ada sejenis perkataan yang juga tidak seharusnya diucapkan oleh orang Kristen, yaitu perkataan jahat. Apakah perkataan jahat itu? Itulah caci maki atau kutuk. Anak-anak Allah tak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, caci maki dengan caci maki.

1. Harus Belajar Mengucapkan Perkataan Berkat

Kebanyakan orang mengira kalau orang lain berkata begitu, maka saya pun boleh berkata begitu. Hari ini yang selalu diperselisihkan orang ialah siapa duluan dan siapa belakangan, tetapi yang ditanya oleh Tuhan ialah apakah Anda sudah mengatakannya atau tidak? Anda mengira kalau semua orang berkata demikian, masakan Anda tidak boleh berkata demikian? Kita wajib ingat bahwa kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, caci maki dengan caci maki. Soalnya bukan siapa yang berkata duluan dan siapa yang berkata belakangan, melainkan Anda berkata atau tidak.

Saudara saudari yang baru percaya sejak hari pertama harus belajar mengucapkan kata-kata berkat, jangan mengucapkan kata-kata caci maki atau kata-kata kutukan.

2. Harus Mengekang Temperamen

Seseorang harus mengekang temperamen dan amarah sendiri, sesudah itu barulah ia dapat mengekang tutur katanya di hadapan Allah. Jika seseorang tak dapat mengekang temperamennya sendiri, tutur katanya pasti juga tak dapat dikekang, sehingga ia akan mengucapkan banyak perkataan jahat. Saya kira jika anak-anak Allah tidak berhati-hati sedikit saja, perkataan caci maki yang rendah pun akan dilontarkan. Banyak orang karena tak dapat mengekang temperamennya sendiri, maka ia mudah mengucapkan kata-kata caci maki. Hal ini tidak saja tak dapat memuliakan Allah, bahkan ia sendiri kehilangan berkat Allah.

V. HARUS TERKEKANG SEHINGGA TIDAK BANYAK BICARA

Sekarang kita akan melihat butir-butir yang harus kita perhatikan dalam hal bertutur kata. Surat Yakobus 3 adalah pasal yang khusus membicarakan masalah tutur kata. Kita harus membacanya mulai dari ayat 1 hingga 12. Ayat-ayat tersebut memberi tahu kita bagaimana seharusnya anak-anak Allah bertutur kata.

1. Jangan Menjadi Guru

Ayat 1, ”Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” Banyak orang tidak menerima kekangan dalam tutur katanya, bukti yang paling mudah diketahui ialah mereka senang sekali menjadi guru. Ke mana saja pergi, selalu mengajar orang lain; ke mana saja pergi, selalu suka berbicara. Dan dalam kondisi apa pun selalu menasihati orang lain, sehingga orang dengan gratis memperoleh nasihat-nasihatnya. Banyak orang yang suka menjadi guru, suka menjadi penasihat. Bila duduk di tengah-tengah orang banyak, selalu banyak bicara. Kita harus tampak bahwa orang Kristen tidak saja tidak seharusnya berdusta, berkata sia-sia dan kata-kata jahat, bahkan tidak seharusnya banyak bicara. Tak peduli perkataan apa saja, tidak boleh dikatakan banyak-banyak. Bila Anda banyak bicara, Anda akan kehilangan berkat di hadapan Allah.

2. Tutur Kata Adalah Pertanda Penguasaan Diri

Ayat 2, ”Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” Dapat tidaknya seseorang mengendalikan dirinya tergantung pada dapat tidaknya ia mengendalikan tutur katanya. Ada tidaknya buah penguasaan diri dari Roh Kudus (Gal. 5) tergantung pada ada tidaknya penguasaan diri dalam tutur kata. Seringkali kesalahpahaman terjadi ketika saudara saudari membaca Alkitab, yaitu mengira penguasaan diri dari Roh Kudus itu berarti kenetralan. Ingatlah, penguasaan diri ialah penguasaan diri, dan ajaran kenetralan bukanlah ajaran kita. Seorang Kristen menguasai diri berarti ia dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Karena itu, jika kita mampu menguasai diri sendiri, itu berarti kita memiliki buah Roh Kudus. Galatia5 menunjukkan kepada kita apakah buah-buah Roh Kudus itu. Yakobus 3 menerangkan apakah dan di manakah pertanda dari buah Roh Kudus itu. Yakobus mengatakan jika seseorang dapat mengendalikan seluruh tubuhnya, pasti ia dapat mengekang perkataannya. Orang yang tutur katanya tidak teratur, kehidupannya pasti juga tidak teratur; orang yang tutur katanya ceroboh, ceroboh pula perilakunya. Orang yang tutur katanya tidak berhati-hati, demikian pula seluruh tubuhnya. Orang yang banyak bicara ialah orang yang tak teratur di hadapan Allah. Dapat tidaknya seseorang menguasai seluruh tubuhnya tergantung pada dapat tidaknya ia mengekang mulutnya. Semoga saudara saudari yang baru percaya, sejak hari ini juga belajar mengekang tutur katanya di hadapan Allah.

Banyak saudara saudari yang mengharap agar Allah menanggulangi dirinya, agar Allah membelas kasihi dirinya. Saya dapat berkata kepada Anda, jika Allah dapat menanggulangi tutur kata Anda, Allah pun dapat menanggulangi diri Anda. Bagi kebanyakan orang, tutur kata merupakan inti manusianya; tutur kata merupakan tulang punggung dan pangkal pahanya. Jika Allah dapat menanggulangi tutur kata Anda, Allah pun dapat menanggulangi manusia (diri) Anda. Justru banyak orang tak dapat menguasai tutur katanya di hadapan Allah, karena itu manusianya pun tak dapat dikuasai. Dapat tidaknya seseorang mengekang dirinya sendiri, tak dapat ditinjau dari keadaan yang dibuat-buatnya secara lahiriah. Asalkan Anda berdialog setengah jam saja dengannya, Anda sudah mengetahui keadaannya. Dengan berdialog, maka manusianya segera keluar. Tutur kata seseorang paling banyak mengungkapkan atau mencerminkan keadaan asli dirinya. Bila seseorang berbicara, maka keluarlah seluruh pribadinya. Jadi asalkan kita melihat dapat tidaknya seseorang mengendalikan tutur katanya, kita sudah mengetahui dapat tidaknya ia mengendalikan dirinya sendiri.

3. Yang Amat Kecil Dapat Mempengaruhi yang Paling Besar

Dalam ayat 3 dan 4 dikatakan bahwa lidah ibarat kemudi dan kekang. Kedua benda itu amat kecil, tetapi dapat mempengaruhi yang paling besar. Ayat 5 mengatakan betapa api yang kecil dapat membakar hutan yang besar. Dan dalam ayat 6 dikatakan, ”Lidah pun adalah api; lidah merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedangkan lidah itu sendiri dinyalakan oleh api neraka.” Ayat 3, kekang; ayat 4, kemudi; ayat 5, anggota kecil yang dapat menguasai yang besar; dan ayat 6, lidah adalah dunia kejahatan. Lidah merupakan suatu dunia yang merdeka, dunia kejahatan. Walaupun hari ini di sini banyak orang yang telah menerima penebusan dan belas kasih Allah, namun lidah mereka belum lagi tertanggulangi. Mereka masih membawa suatu dunia kejahatan dan menyalakan api neraka ke mana saja mereka pergi.

Di sini ada satu ungkapan yang hebat: Lidah dapat menyalakan roda kehidupan. Kehidupan berputar ibarat roda, sedang lidah laksana api yang dapat menyalakan roda kehidupan. Artinya ia dapat melahirkan banyak daging. Hawa nafsu, daging, temperamen, dan amarah manusia, semua dapat dinyalakan oleh lidah. Lidah bahkan dapat menyalakan api neraka. Banyak peristiwa terjadi karena dinyalakan oleh sepatah kata yang diucapkan oleh anak-anak Allah, sebenarnya itu berasal dari neraka. Sebab itu dikatakan bahwa lidah adalah api yang dinyalakan, dan juga dunia kejahatan.

Karena itu kita harus belajar tidak banyak berbicara. Perkataan apa pun makin sedikit makin baik. Banyak berbicara pasti akan menimbulkan kesalahan. Kitab Amsal selalu menasihati orang jangan banyak berbicara; hanya orang bodohlah yang banyak berbicara. Semakin bodoh orang itu, semakin suka ia berbicara. Tetapi orang yang lebih terdidik di dalam Allah, ia akan lebih mantap dan lebih tidak banyak berbicara.

4. Lidah Merupakan Benda Jahat yang Tak Berkesudahan

Ayat 7 mengatakan bahwa segala binatang dapat dijinakkan, tetapi ayat 8 mengatakan tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah. Lidah adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai dan penuh racun yang mematikan. Tak seorang pun dapat menjinakkan lidah; di dalam lidah penuh racun yang dapat mematikan orang. Kejahatan lidah tak dapat dijinakkan, ia adalah suatu kejahatan yang tak berkesudahan. Ada kejahatan yang dapat dijinakkan, tapi kejahatan lidah tak dapat dijinakkan. Kalian harus tampak alangkah bodohnya jika kita mengumbar lidah kita.

5. Satu Sumber Tak Dapat Memancarkan Dua Macam Air

Kata-kata selanjutnya sangat sederhana: Anda tak dapat dengan lidah memuji Allah, dan dengan lidah mengutuk orang yang diciptakan oleh Allah. Anda tak dapat memuji pada satu pihak dan mengutuk pada pihak lainnya. Satu sumber tak mungkin memancarkan dua macam air. Pohon ara tak dapat menghasilkan buah zaitun, pohon anggur tak dapat menghasilkan buah ara; mata air asin (pahit) tak dapat mengeluarkan air tawar. Bagaimana buahnya begitu pula pohonnya; bagaimana airnya begitu pula sumbernya. Orang yang dipakai Allah pasti mengeluarkan air manis, dan pasti tidak mengandung kepahitan.

Hari ini, cara penyelamatan Allah ialah menaruh sebuah mata air yang baru ke dalam batin kita, menyelamatkan kita sehingga kita menjadi sebatang pohon yang baru. Jika saya adalah sebatang pohon ara, pasti tak mungkin saya menghasilkan buah zaitun; dan jika saya pohon anggur, pasti tidak dapat menghasilkan buah ara. Jika Allah mengaruniakan benda (hayat) baru ke dalam saya, dengan sendirinya saya akan mengeluarkan air yang manis.

VI. HARUS MEMPERHATIKAN MENDENGAR

Dalam membahas masalah tutur kata, tidak saja kita harus memperhatikan bagaimana berbicara, harus pula memperhatikan bagaimana mendengar.

1. Harus Menolak Nafsu Mendengar

Saya berkata terus terang kepada Anda, jika saudara saudari dapat mendengar, maka banyak perkataan yang tidak wajar akan lenyap dari dalam gereja. Banyaknya perkataan yang tidak wajar di dalam gereja disebabkan banyaknya orang yang ingin, bahkan senang mendengarkannya. Karena ada kebutuhan itu, maka ada penyuplainya. Banyaknya orang-orang yang mengucapkan kata-kata yang najis, kata-kata kritik, kata-kata jahat, kata-kata hasutan, dan kata-kata dari lidah yang bercabang, semuanya itu disebabkan banyaknya permintaan untuk mendengarkannya. Hati manusia licik, berliku-liku dan keji, manusia senang akan perkataan-perkataan semacam itu, karenanya banyak orang yang menuturkan perkataan-perkataan itu.

Jika anak-anak Allah mengetahui tutur kata yang mana yang boleh diucapkan, dan mana yang tidak boleh diucapkan, dengan sendirinya mereka akan belajar mengenal tutur kata mana yang boleh didengarkan, dan mana yang tidak boleh didengarkan. Ada seorang berkata bahwa banyak orang yang telinganya seperti tong sampah. Adakah orang membuang sampah ke dalam periuk nasi Anda? Tentu tak ada orang yang mau berbuat demikian. Jika Anda dapat duduk tenang sambil mendengarkan perkataan yang menjelekkan orang dan Anda merasa tidak mengapa, itu membuktikan bahwa Anda adalah sebuah tong sampah, Anda sendiri adalah orang semacam itu. Sebab orang macam apa senang mendengarkan perkataan macam apa pula.

Karena itu, hendaklah kita belajar mendengar perkataan yang wajar dan pantas. Jika ada seseorang mengucapkan perkataan yang tidak wajar yang dapat menimbulkan perselisihan, tidak saja Anda tidak tergoda olehnya, Anda bahkan harus berkata kepadanya bahwa Anda tidak mau mendengarkan kata-kata itu. Dengan demikian Anda akan menutup banyak dosa, dan akan membantu banyak saudara. Karena hari ini di antara kita terdapat satu selera yaitu satu keinginan untuk mendengarkan perkataan-perkataan tersebut, maka perkataan-perkataan itu menjadi semakin banyak, dan orang pun semakin senang mengucapkannya. Kita harus belajar agar diselamatkan dari perkara ini. Jika hari ini ada seseorang mengucapkan perkataan yang tidak seharusnya diucapkan, Anda harus pergi meninggalkannya tanpa mengatakan sesuatu, agar lain kali ia tidak senang mengucapkannya lagi. Atau Anda harus bersaksi kepadanya bahwa kita orang Kristen tidak seharusnya mengucapkan perkataan semacam itu. Dengan demikian Anda akan merintanginya sehingga ia tidak melanjutkan perkataannya. Atau Anda harus menegurnya dengan keras, ”Saudara, Anda anggap aku ini orang macam apa? Aku bukan tong sampah, jangan menuang sampah-sampah itu ke atas diriku!”

Banyak kesulitan di dalam gereja seolah seperti api neraka yang menyala, begitu mulai menyala harus segera dipadamkan, jangan membiarkannya berkobar. Banyak kesalahan tutur kata disebabkan kesalahan mendengar. Tanggung jawab ini sebagian besar harus ditanggung oleh si pembicara, namun si pendengar pun ikut bertanggung jawab. Di hadapan Allah, orang yang mendengar harus menolak hawa nafsu mendengar. Manusia mempunyai satu keinginan senang mendengar dan senang mengetahui urusan. Jika Anda dapat menolak keinginan ini, Anda akan dapat memedamkan banyak api yang dinyalakan dari neraka. Anda harus menegaskan, ”Maaf, aku adalah orang Kristen, aku tidak dapat mendengar perkataan itu.” Anda harus menghentikan sama sekali perkataannya. Kalau Anda mendengarkan ia berbicara, mengharap mengetahui lebih banyak dan menanyakannya lebih banyak, itu berarti Anda tidak memadamkan api, malahan membuat api itu lebih berkobar. Timbulnya banyak kata sia-sia, kata jahat dan kata dusta justru karena dikipas-kipasi oleh pendengar perkataan itu sendiri.

2. Aku Seperti Orang Tuli Tidak Mendengar

Mazmur 38:14-15, ”Tetapi aku ini seperti orang tuli, aku tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya; ya, aku ini seperti orang yang tidak mendengar, yang tak ada bantahan dalam mulutnya.” Memang, seringkali kita harus tidak mendengar seperti orang tuli. Tatkala orang mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak wajar kepada Anda, Anda harus seperti orang tuli, tidak mendengar. Anda harus berkata kepadanya, ”Aku tidak mau mendengar kata-kata itu.” agak keras sedikit, Anda harus bersaksi kepadanya. Lebih keras lagi, Anda harus menegurnya, ”Saudara, Anda anggap aku ini siapa? Mengapa Anda menuangkan perkataan-perkataan itu ke atas diriku?” Atau Anda bersaksi, ”Aku kira orang Kristen tidak selayaknya mengucapkan perkataan itu, perkataan itu tidak seharusnya keluar dari mulut orang Kristen!” Atau Anda berkata, ”Saudara, ucapkanlah perlahan-lahan, aku akan pergi dulu!” Berbahagialah Anda jika Anda menjadi orang tuli. Seringkali Anda harus belajar tidak mendengar seperti orang tuli, dan belajar tidak buka mulut seperti orang bisu. Tutur kata merupakan pencobaan yang besar, karena itu kita harus belajar mengatasinya.

Yesaya 42 adalah nubuat tentang Tuhan Yesus, dalam ayat 19 dikatakan, ”Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba Tuhan?” Di sini Anda tampak, ketika Tuhan di atas bumi, banyak perkataan yang sama sekali tidak didengar-Nya.

Ingatlah, kita akan terhindar dari banyak kesulitan, jika kita tidak banyak mendengar perkara-perkara yang najis dan perkara-perkara yang tiada sangkut pautnya dengan diri kita. Kita sendiri sudah cukup sibuk, kesulitan kita sendiri sudah cukup besar, dan kita sendiri pun sudah cukup kotor, maka jika kita dimasuki lagi dengan perkara-perkara dari luar, kita akan tak berdaya menempuh jalan yang di depan. Karena itu, orang yang baru percaya sejak dini harus belajar menolak godaan mendengar perkataan. Kita harus menjadi orang tuli seperti Tuhan Yesus. Siapakah yang tuli seperti Tuhan kita? Jalan Tuhan paling lurus, sedikit pun tidak terdapat problem pada diri-Nya.

3. Harus Mengeluarkan Waktu untuk Belajar

Saudara saudari yang baru percaya harus menerima pengajaran dalam hal tutur kata, baik mengucapkan maupun mendengarkan. Hendaklah taat kepada Allah dalam hal tutur kata. Ini adalah satu perkara yang besar, dan merupakan tahapan khusus yang harus dilalui dengan sebaik-baiknya.

Masalah ini bukan masalah yang mudah. Anda harus mengeluarkan banyak waktu untuk membina kebiasaan mengucapkan perkataan yang tepat. Saya tidak percaya begitu seorang percaya Tuhan, ia segera dapat mengatasi masalah ini dengan mudah. Saya sendiri menyadari, untuk mengucapkan perkataan yang tepat lebih sulit daripada melakukan hal apa pun. Kurang hati-hati sedikit saja, tutur kata kita akan salah, motivasi kita juga akan salah. Misalnya tentang dusta, tutur kata yang tidak tepat itulah dusta. Motivasi membuat orang lain salah paham itu juga dusta. Walau pengucapannya tidak salah, tetapi kalau sengaja ingin membuat orang salah mengerti, itu adalah dusta. Karena itu, orang yang baru percaya harus memperhatikan hal ini, dan harus mengeluarkan waktu mempelajarinya sejak awal.

Mazmur 141:3 mengatakan, ”Awasilah mulutku ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” Kita perlu berdoa demikian, yakni mohon Tuhan menjaga bibir kita, supaya kita tidak sembarangan berbicara. Kita pun harus mohon Tuhan menjaga telinga kita, supaya kita tidak sembarangan mendengar perkataan. Jika demikian, maka gereja akan terhindar dari banyak kesulitan, sehingga kita dapat maju ke depan sesuai dengan jalan yang tepat.

Ada satu hal yang membuat saya merasa sangat aneh, yaitu banyak saudara saudari yang demikian sembrono dalam bertutur kata, lagi pula begitu banyak orang yang mendengarkannya tanpa perasaan. Saya rasa ini adalah penyakit yang besar! Penyakit besar yang sangat mencolok! Ingatlah, bila Anda suka mendengar perkataan-perkataan yang tidak wajar, itu berarti Anda sendiri yang bermasalah! Kalau Anda mendengarkan dan menerima, tanpa menolak, itu berarti suatu penyakit besar! Kita wajib belajar menolak buah yang najis. Kita harus mengetahui bahwa racun apa pun yang dimasukkan ke dalam anak-anak Allah pasti akan menyebar keluar, sehingga membuat orang menjadi fasik, berontak, dan kendur. Semoga Allah mengaruniai kita dan membelaskasihani kita, agar kita dari awal belajar bertutur kata, dan agar kita menempuh jalan yang lurus!