Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 47/50

TERHAPUSNYA SEGALA PERBEDAAN

I. ORANG-ORANG YANG PERCAYA

ADALAH SATU DI DALAM KRISTUS

Setelah seorang yang baru percaya menerima penumpangan tangan, masuk ke dalam gereja, dan berada di bawah Sang Kepala, sekarang ia perlu tampak masalah kesatuan seluruh orang yang percaya di dalam Tubuh, yakni terhapusnya segala perbedaan yang ada. Ini berarti, semua orang yang percaya merupakan satu kesatuan di dalam Kristus, segala perbedaan telah disingkirkan.

Satu Korintus 12:13 mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu Tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Di dalam Tubuh Kristus tidak ada perbedaan duniawi. Kita semua telah dibaptis dalam satu Roh, sehingga menjadisatu Tubuh, dan juga diberi minum dari satu Roh.

Galatia 3:27-28 mengatakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa kita adalah satu di dalam Kristus. Kita adalah orang-orang yang mengenakan Kristus. Kita dibaptis ke dalam Kristus, kita mengenakan Kristus. Di sini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, sebab kita adalah satu di dalam Kristus. Ini berarti, karena kita telah bersatu di dalam Kristus, maka segala perbedaan yang semula ada telah terhapus.

Kolose 3:10-11 mengatakan, “Dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya; dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Ayat ini juga memberi tahu kita bahwa segala perbedaan semula dari orang-orang yang percaya telah lenyap. Kata “tidak ada”dalam Galatia dan Kolose menunjukkan tidak adanya segala perbedaan, sebab kita semua telah memperoleh dan mengenakan satu manusia baru, bahkan kita semua telah disatukan menjadi satu manusia baru. Manusia baru ini diciptakan menurut gambar Allah, maka dalam gambar ini tidak adanya orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Jadi, semua orang yang percaya adalah satu, merupakan satu kesatuan.

Setelah membaca ayat-ayat di atas, kita tampak bahwa semua orang yang percaya telah bersatu di dalam Kristus dan segala perbedaan telah terhapus. Inilah satu dasar bagi pembangunan gereja. Jika memasukkan perbedaan-perbedaan duniawi ke dalam gereja, ke dalam Tuhan, maka pembangunan gereja selamanya tidak mungkin berhasil, dan hubungan antara saudara saudari selamanya tidak mungkin menjadi normal.

Karena itu, kita wajib tampak bahwa kita semua telah menjadi satu di dalam Tuhan, tanpa perbedaan status kita yang semula. Semua orang yang ada di dalam manusia baru tidak ada lagi perbedaan, semua yang ada di dalam Tubuh Krisus tidak lagi ada perbedaannya. Disini, kita akan melihat lima macam perbedaan. Kelima macam perbedaan ini merupakan lima macam perbandingan, namun mengandung enam arti. Pertama ialah perbedaan antara orang Yunani dengan orang Yahudi, kedua ialah perbedaan antara orang merdeka dengan budak/hamba, ketiga ialah perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, keempat ialah perbedaan antara orang Barbar dengan orang Skit, terakhir ialah perbedaan antara orang bersunat dengan orang tak bersunat. Rasul mengatakan, kita semuanya telah bersatu di dalam Kristus, walaupun dalam pandangan manusia masih ada perbedaannya.

Orang dunia paling mementingkan kedudukan, yakni status pribadi. Aku ini orang macam apa, aku harus mempertahankan kedudukan atau statusku itu. Namun, jika kita ingin menjadi orang Kristen, hal itu harus kita tolak. Bila Anda memasukkan status, kedudukan pribadi Anda ke dalam manusia baru, Anda akan membuat manusia baru menjadi usang, sebab perkara-perkara itu adalah milik manusia lama. Jadi, ketika Anda datang ke dalam gereja, perkara-perkara itu harus Anda buang.

II. TERHAPUSNYA PERBEDAAN BANGSA

1. Tidak Ada Perbedaan Antara Orang Yahudi dengan Orang Yunani

Menurut pandangan orang dunia, perbedaan yang terbesar adalah perbedaan bangsa. Seperti halnya orang Yunani dengan orang Yahudi, adalah dua bangsa yang sangat berbeda. Orang Yahudi adalah bangsa yang memiliki rasa nasionalis yang terkuat. Mereka adalah keturunan Abraham, kaum pilihan Allah dan satu-satunya kerajaan yang didirikan Allah di bumi ini. Mereka tidak termasuk kategori bangsa-bangsa lain, mereka adalah umat istimewa. Tetapi, mereka tidak karenanya merendahkan diri dan memuji Allah, malah sebaliknya mengira boleh bersikap bangga dan sombong di antara manusia. Karena kebanggaan dan kesombongan itu, maka rasa nasionalis mereka lebih hebat daripada bangsa mana pun. Mereka memandang rendah semua bangsa lain. Dalam pandangan mereka, bangsa-bangsa lain seperti binatang rendah, seperti anjing. Mereka sama sekali tidak mengakui kedudukan bangsa lain.

Karena itu, membawa seorang kafir untuk menjadi orang Kristen bersama dengan orang Yahudi, tidak terlepas dari kesulitan. Orang Kristen Yahudi tidak sudi memberitakan Injil kepada orang kafir (bukan Yahudi). Ketika Anda membaca Kisah Para Rasul, Anda tampak pada hari Pentakosta, Injil terlebih dulu diberitakan di antara orang-orang Yahudi, kemudian tersebar ke Samaria, di situ pun hanya orang-orang Yahudi yang diselamatkan. Untuk memberitakan Injil kepada orang-orang kafir, Tuhan harus membangunkan Paulus; dan ini pun tidak dapat dimulai di Antiokhia secara mendadak, melainkan harus dimulai dari Kaisarea oleh Petrus. Petrus adalah rasul bagi orang Yahudi, yang terlebih dulu pergi ke tengah-tengah orang kafir. Hal ini sangat sulit dilaksanakan pada masa itu. Petrus harus melihat visi sampai tiga kali dan mendengar Tuhan bersabda tiga kali, “Sembelih dan makanlah.” Jika tidak, Petrus tidak berani pergi ke tengah-tengah orang kafir. Kejadian itu adalah pertama kali Injil diberitakan kepada orang kafir. Di sini kita melihat bagaimana sikap orang Yahudi terhadap orang kafir, memberitakan Injil rasanya sukar sekali.

Dalam Kisah Para Rasul 15, masalah serupa timbul lagi tatkala mereka memperbincangkan masalah sunat dan memelihara hukum Taurat. Ketika itu ada orang berpendapat bahwa orang kafir yang telah percaya Tuhan Yesus tetap perlu disunat dan harus memelihara hukum Taurat. Dengan kata lain, orang kafir yang ingin menjadi orang Kristen harus pula menjadi orang Yahudi. Di sini terbukti betapa batas kebangsaan mereka sulit didobrak. Akhirnya diambil keputusan bahwa orang kafir yang telah percaya tidak perlu memelihara hukum Taurat dan tidak perlu disunat. Kemudian Petrus berkata kepada Paulus dan Barnabas bahwa mereka boleh memberitakan Injil kepada orang kafir, dan di antara mereka semua tetap ada persekutuan.

Dalam Galatia 2 tercatat kisah kedatangan Petrus ke Antiokhia dan makan bersama dengan orang-orang Kristen kafir. Setelah orang-orang dari Yakobus datang, Petrus segera meninggalkan orang-orang kafir itu, sebab ia takut kepada orang-orang Yahudi yang bersunat. Melihat perbuatan Petrus itu, Paulus menegurnya di muka umum, sebab perbuatannya jelas tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Salib telah merubuhkan tembok pemisah, sehingga tidak ada lagi perbedaan antara bangsa Yahudi dengan bangsa kafir.

Semoga Allah merahmati kita, agar kita semua tampak, walaupun asalnya kita adalah orang Yahudi, atau orang kafir, tetapi hari ini kita sudah bersatu di dalam Kristus. Batas-batas kebangsaan itu sudah terhapus, perbedaan itu telah lenyap. Tidak peduli seseorang itu orang Kristen dari China, Inggris, India, Jepang dan sebagainya, semuanya telah menjadi saudara saudari di dalam Tuhan. Anda di sini tidak seharusnya memisahkan anak-anak Allah. Kita tidak seharusnya memiliki gereja Kristen atas nama suatu negara atau bangsa. Jika ada bangsa atau negaranya, itu bukan Kristus. Di dalam Tuhan hanya ada saudara saudari, tidak ada batas kenegaraan dan kebangsaan, ini sangatlah wajar. Dalam Tubuh Kristus, dalam manusia baru, sama sekali bersatu, tanpa perbedaan bangsa atau negara. Orang-orang Yahudi yang sangat nasionalis pun telah didobrak oleh Tuhan.

2. Salib telah Merubuhkan Tembok Pemisah

Surat Efesus menerangkan kepada kita bahwa baik orang Yahudi maupun orang kafir, membentuk sebuah tembok yang memisahkan satu dengan lainnya. Tetapi kini tembok pemisah itu telah dirubuhkan oleh salib, sehingga keduanya tidak saling berbeda dan berpisah lagi. Sebab itu, bila hari ini Anda bertemu dengan seseorang dalam Kristus, Anda tidak lagi menyebutnya orang China, atau orang Inggris, atau orang . . ., karena Anda bertemu dengan seorang dalam Kristus. Kita semua telah bersatu di dalam Kristus.

Jangan sekali-kali kita berangan-angan mendirikan gereja bangsa anu atau kesaksian suku anu. Itu adalah kekeliruan yang paling besar, dan ide itu sama sekali tidak patut timbul dalam angan-angan orang Kristen. Ingatlah selalu: di dalam Kristus tidak ada orang Yunani, tidak ada orang Yahudi; tidak ada perbedaan bangsa! Bila di antara kita ada yang memasukkan perkara itu, itu sama dengan memasukkan benda asing ke dalam Kristus, dan itu merusak Tubuh Kristus. Di antara kita tidak ada perbedaan antara orang Yunani dan orang Yahudi. Di dalam Kristus, kita semua berkoordinasi bersama. Karena itu, Anda wajib dari dalam hati membuang konsepsi nasionalis Anda. Jika Anda memasukkannya ke dalam gereja, gereja akan menjadi organ daging, bukan lagi sebagai Tubuh Kristus.

Orang-orang yang rasa nasionalisnya terlalu kuat, sulit menjadi orang Kristen. Aku adalah orang bangsa/suku anu, aku berada di bawah hukum undang-undang bangsa/suku anu. Ketahuilah, di dalam Tuhan, hubungan itu sama sekali telah tidak ada. Setiap kali kita datang ke hadapan Tuhan, sama sekali bukan berdasarkan kebangsaan. Hal itu harus kita letakkan di luar pintu. Semoga saudara saudari yang baru percaya sudah tampak sejak mula bahwa kesatuan kita adalah berdasarkan hayat Kristus. Aku telah menerima hayat Kristus, saudara saudari di Inggris telah menerima hayat Kristus, demikian pula saudara saudari di India, Jepang dan seterusnya. Kesatuan kita berdasarkan hayat ini, bukan berdasarkan suatu bangsa atau negara. Hal ini perlu kita ketahui dengan jelas dan tegas. Di dalam Tubuh, di dalam Kristus, di dalam manusia baru, perbedaan kebangsaan atau kenegaraan tidak ada lagi, bahkan telah lenyap sama sekali.

Seusai perang dunia pertama, ada beberapa saudara dari Inggris berkunjung ke Jerman untuk mengadakan konferensi. Dalam konferensi itu, ada seorang saudara berdiri dan berkata, “Sekarang perang sudah berakhir, ada beberapa saudara Inggris datang menjenguk kita, kita sangat girang menyambut kedatangan mereka.” Setelah orang itu berkata demikian, segera ada seorang saudara berdiri menyambung, “Tidak, kami bukan saudara Inggris, kami adalah saudara-saudara yang datang dari Inggris.” Penjelasan ini sangat baik sekali — “Kami bukan saudara-saudara Inggris, kami adalah saudara-saudara yang datang dari Inggris.” Dalam keluarga Allah, mana mungkin terdapat saudara Inggris, saudara Amerika, saudari Perancis, atau saudari Itali? Syukur kepada Allah, di dalam Kristus, perbedaan bangsa dan negara sudah lenyap.

Saudara saudari, Anda telah masuk ke dalam gereja, telah menerima penumpangan tangan, hendaklah Anda tampak bahwa perbedaan antara orang Yunani dengan orang Yahudi telah terhapus. Dalam Tuhan sama sekali tidak ada perbedaan itu lagi. Ini adalah satu perkara yang mulia, bahkan sangat mulia. Dalam gereja hanya ada Kristus, Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Tidak ada yang lainnya, kecuali Kristus.

III. TERHAPUSNYA PERBEDAAN KELAS (TINGKATAN)

Di antara umat manusia masih terdapat satu perbedaan yang sangat sulit dilepaskan, yakni perbedaan kelas atau tingkatan. Perbedaan ini paling sulit diatasi. Perbedaan kebangsaan tidak begitu banyak kita jumpai, kecuali kita bertemu dengan orang asing. Tetapi masalah kelas atau tingkatan, kita jumpai setiap hari. Rasul memberi tahu kita, di dalam Kristus, perbedaan kelas “orang yang merdeka dan budak/hamba” juga telah terhapus. Di dalam Kristus tidak ada lagi budak maupun orang merdeka.

Zaman sekarang, perbedaan antara hamba dengan orang merdeka terasa tidak begitu hebat. Tetapi ketahuilah, ketika Paulus menulis ketiga surat di atas, zaman itu adalah zaman kekuasaan Romawi, yakni saat sistem perbudakan mencapai puncaknya. Ketika itu ada pasar hewan, ada pula pasar manusia, yakni pasar budak. Orang-orang pada zaman itu sering berperang dan memperoleh banyak orang jarahan, orang-orang jarahan itulah yang kemudian dijual di pasar manusia. Andaikata orang jarahan yang dibeli itu mempunyai anak, dan juragannya merasa keberatan untuk memberi makan anak budaknya itu, ia boleh menjual anak itu di pasar manusia. Itulah keadaan yang sangat umum pada zaman romawi. Manusia tidak berbeda dengan barang-barang dagangan lainnya, dapat dijualbelikan dan dikembangbiakkan. Bila banyak yang dilahirkan, pemasarannya pun menjadi ramai. Jadi pada masa itu, besar sekali perbedaan antara seorang merdeka dengan seorang budak.

Meskipun sistem politik demokrasi, hak-hak warga negara, pemilihan umum, pemungutan suara, dan sebagainya, berasal dari kerajaan Romawi, namun pada zaman itu, hanya orang-orang merdeka saja yang berhak menikmatinya; orang-orang yang menjadi budak tidak dapat menikmatinya. Jika Anda membunuh seorang budak milik orang lain, Anda tidak terkena sanksi hukum, tetapi cukup dengan mengganti rugi kepada juragannya dengan uang seharga budak itu saja. Karena budak tidak diberi hak asasi dan hak kewarganegaraan, maka nyawanya tidak dilindungi hukum. Membunuh seorang budak tidak berbeda dengan membunuh seekor lembu, paling-paling harus mengganti harga lembu itu saja, tidak perlu mengganti nyawa. Lagi pula, bila orang tuanya menjadi budak, anak-anaknya juga menjadi budak milik juragannya. Seumur hidup mereka tidak ada kemerdekaan, kecuali dibebaskan oleh juragannya. Seandainya mereka melarikan diri, mereka harus menerima hukuman mati di atas salib.

Perbedaan kelas atau tingkatan masa itu entah lebih hebat berapa kali lipat jika dibandingkan dengan hubungan antara tuan rumah dengan pembantu, atau antara majikan dengan pegawai, atau antara atasan dengan bawahan yang terdapat pada hari ini. Tetapi firman Allah mengatakan bahwa kelas-kelas itu harus dihapus. Surat-surat Korintus, Galatia, dan Kolose, semuanya mengatakan bahwa di dalam Kristus dan gereja, perbedaan orang merdeka dengan budak telah terhapus.

Dalam Perjanjian Baru terdapat sejilid kitab — Surat Filemon, yang mengisahkan bahwa Filemon mempunyai seorang budak yang bernama Onesimus. Filemon sendiri adalah teman sekerja Paulus; Onesimus juga telah beroleh selamat, menjadi seorang saudara. Di sini ingin saya tegaskan, ketika mereka berada di rumah, Onesimus adalah hamba, Filemon adalah majikan. Tetapi ketika Filemon membawa Onesimus datang bersidang, yaitu ketika mereka bersama-sama berada di gereja, Onesimus adalah saudara Filemon, bukan lagi hambanya. Hubungan antara majikan dengan hamba tidak terdapat di dalam gereja. Sewaktu mereka berlutut berdoa, Onesimus adalah saudara Filemon; sewaktu mereka bekerja di rumah, Onesimus adalah budak Filemon. Jadi, di dalam Tuhan, di dalam manusia baru, di dalam Tubuh, mereka adalah satu. Ingat baik-baik ketiga ungkapan ini: di dalam Kristus, hubungan itu tidak ada lagi; di dalam manusia baru, hubungan itu tidak ada lagi; di dalam gereja, hubungan itu tidak ada lagi. Di dalam Kristus, masalah tingkatan telah terhapus bersih. Setiap orang tidak lagi merasakan adanya perbedaan atau perselisihan tentang kelas.

Jadi, di hadapan Allah Anda wajib tampak, mungkin hari ini Anda menjadi seorang hamba, atau menjadi bawahan, atau pegawai orang lain. Ingatlah, sewaktu Anda bekerja, Anda wajib berdiri pada posisi Anda, Anda harus belajar taat; namun setiap kali Anda bersamanya datang ke hadirat Allah, Anda tidak boleh merasa sungkan atau bersikap mengalah terhadapnya karena ia adalah majikan atau atasan Anda. Dalam membicarakan perkara rohani, Anda tidak dapat selalu membenarkan pendapatnya, karena ia adalah majikan atau atasan Anda. Hal demikian tidak pada tempatnya. Sewaktu Anda berlutut berdoa atau membicarakan perkara rohani bersamanya, posisi atau status Anda telah berubah, dan perbedaan kelas itu telah berubah dan bahkan telah lenyap. Hubungan itu tidak seharusnya Anda bawa masuk ke dalam gereja. Di dalam gereja, kelas-kelas itu telah terhapus.

Khususnya sewaktu kita datang bersidang, Anda harus ingat bahwa Yakobus pernah mencela hal yang sedemikian. Yakobus tidak membenarkan kalau kita memberikan tempat duduk yang baik kepada orang kaya, dan menyuruh orang miskin berdiri di pinggir, atau menyuruhnya duduk di lantai dekat tumpuan kaki. Kita wajib belajar, begitu kita datang ke dalam gereja dan bersekutu dengan sesama anak-anak Allah, kita harus berdiri pada kedudukan di dalam Kristus, di dalam manusia baru, dan di dalam Tubuh, tidak berdiri di atas kedudukan kelas.

Pendobrakan kelas hanya dapat dilaksanakan oleh orang Kristen dan hanya orang Kristen pula yang dapat melaksanakannya secara tuntas. Hanya kita — orang Kristen, yang dapat saling berjabat tangan dan berkata, “Kita adalah saudara.” Hanya orang Kristen yang memiliki kasih persaudaraan. Saudara saudari muda wajib tampak, jika Anda telah percaya Tuhan, maka atasan Anda adalah saudara Anda, bawahan Anda juga saudara Anda. Majikan Anda adalah saudara Anda, hamba Anda juga saudara Anda. Perbedaan orang yang merdeka dan hamba telah lenyap sama sekali, tidak ada lagi. Anda hanya dapat bersekutu dengan saudara saudari lain berdasarkan apa yang dikaruniakan Tuhan. Kita adalah saudara, kita adalah saudari. Bila Anda bertindak demikian, Anda akan menerima berkat Allah yang besar. Gereja yang demikian barulah gereja yang memiliki kasih Tuhan.

Dulu, di Chungking ada beberapa orang Kristen ingin sekali membangun sebuah gedung kebaktian yang khusus bagi pejabat-pejabat pemerintah. Mereka meminta pendapat saya. Saya berkata kepada mereka, “Gedung kebaktian itu nantinya akan diberi nama apa? Saya rasa, seharusnya disebut gedung kebaktian golongan pejabat”. Kalau itu memang gedung kebaktian golongan pejabat, itu pasti bukan di dalam Kristus, sebab di dalam Kristus tidak ada barang-barang itu.” Di dalam Tuhan tidak ada orang yang merdeka, juga tidak ada budak. Jika orang merdeka ingin beroleh selamat, ia harus menerima hayat Tuhan, demikian pula budak; semuanya sama, tanpa perbedaan. Di dalam Kristus, Anda tidak dapat menambahkan sesuatu apa pun; di dalam Kristus, Anda pun tidak dapat mengurangi sesuatu apa pun. Orang tidak patut membangun gedung kebaktian golongan pejabat, sebab di dalam Kristus tidak ada barang itu. Kita masing-masing harus belajar menjadi saudara dan saudari.

IV. TERHAPUSNYA PERBEDAAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN

Di dalam Kristus, masalah perbedaan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, juga telah terhapus. Di dalam dunia ini, laki-laki mempunyai kedudukannya sendiri, perempuan juga mempunyai kedudukannya sendiri. Dalam pemerintahan gereja, laki-laki dan perempuan juga memiliki kedudukannya masing-masing. Dalam keluarga, suami ada kedudukannya, istri juga ada kedudukannya. Tetapi di dalam Kristus, di dalam manusia baru, kedudukan laki-laki dan perempuan sama, tidak ada perbedaan.

Di dalam Kristus, baik laki-laki maupun perempuan tidak mempunyai kedudukan yang istimewa. Sebab Kristus ada di dalam segala sesuatu dan memenuhi segala sesuatu, maka tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Ingatlah, dalam perkara rohani, Anda tidak dapat membeda-bedakan antara laki-laki dengan perempuan.

Kita pernah mengatakan bahwa dalam pelayanan, memang adakalanya saudara berbeda dengan saudari, hal itu disebabkan adanya masalah pengaturan otoritas. Namun di dalam Kristus, tidak ada perbedaan itu. Seorang saudara beroleh selamat karena hayat Kristus, yakni hayat Putra Allah, demikian pula seorang saudari. Saudara menjadi anak Allah, saudari pun menjadi anak Allah. Istilah “anak-anak” dalam Alkitab tidak mengandung arti laki-laki atau perempuan, hanya saja ia bersifat maskulin (jantan). Kita dilahirkan menjadi anak-anak Allah dan setelah dewasa kita menjadi putra-putra Allah; saudara demikian, saudari juga demikian.

Dalam seluruh kitab Perjanjian Baru, hanya 2 Korintus yang mengatakan anak laki-laki dan anak perempuan — “Keluarlah kamu dari antara mereka . . . maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan”(2 Kor. 6:17-18). Ketika kita percaya kepada Allah, meninggalkan dunia, dipisahkan dari antara orang dunia, tidak menyentuh barang yang najis, maka Allah akan menerima kita seperti seorang Bapa. Kita akan menjadi anak-anak-Nya laki-laki dan perempuan. Perhatikanlah, di sini menyangkut masalah perorangan dengan Allah, bukan masalah kita di dalam Kristus, sebab itu ada anak laki-laki dan anak perempuan. Ketika Anda secara perorangan menderita sengsara bagi Allah, Allah itulah Bapa Anda. Jika Anda seorang laki-laki, jangan khawatir, Allah mau menerima Anda menjadi anak-Nya laki-laki, dan jika Anda seorang perempuan, Anda pun tidak perlu khawatir, Allah mau menerima Anda sebagai anak-Nya perempuan. Allah mahaada, Ia serba ada. Jadi ini adalah masalah pribadi, bukan masalah di dalam Kristus. Di dalam Kristus, kita semua adalah anak-anak Allah, tanpa perbedaan laki-laki dan perempuan.

Di Shanghai, ada seorang saudara yang menjadi tukang, pada suatu hari, saya bertanya kepadanya, “Saudara, bagaimana keadaan saudara-saudara di tempat Anda?” Ia berbalik bertanya kepada saya, “Yang mana yang Anda tanyakan, saudara laki-laki atau saudara perempuan?” Saya segera merasa, tidak ada kalimat yang lebih baik daripada kalimat ini; ini sungguh merupakan salah satu kalimat yang baik di dunia ini. Sebab saudara laki-laki memang saudara, saudara perempuan pun adalah saudara. Di dalam Kristus tidak ada perbedaan lagi. Perkataannya sungguh tepat, dengan sederhana ia telah mengungkapkan kebenaran Alkitab. Jadi, sewaktu kita datang ke hadapan Kristus, menjamah Kristus, kita telah melampaui hubungan antara laki-laki dengan perempuan, kita telah melampaui perbedaan jenis kelamin. Di hadirat Tuhan, di dalam Kristus, tidak ada perbedaan laki-laki dengan perempuan.

V. TERHAPUSNYA PERBEDAAN WATAK KEBANGSAAN

Dalam Alkitab, istilah orang Yahudi dan orang Yunani masih mengandung satu makna yang berbeda lagi. Orang Yahudi mewakili bangsa yang agamawi; sedang orang Yunani mewakili bangsa yang cerdas dan penuh dengan filsafat. Dalam sejarah, orang Yahudi selalu dikaitkan dengan agama, dan orang Yunani selalu dikaitkan dengan filsafat. Semua ilmu pengetahuan dan filsafat yang fundamental pada hari ini berasal dari Yunani. Sampai hari ini, istilah-istilah ilmiah semua berdasarkan bahasa Yunani. Maka Yunani mewakili ilmu pengetahuan dan filsafat, namun Yahudi mewakili agama. Inilah perbedaan watak kebangsaan.

Setiap bangsa memiliki watak kebangsaan masing-masing. Misalkan orang-orang yang berdomisili di daerah selatan umumnya lebih gairah, dan orang-orang daerah utara umumnya lebih pendiam. Orang-orang yang tinggal di daerah tropis umumnya sangat lincah, tetapi orang yang tinggal di daerah Eropa Utara umumnya tidak lincah dan tidak begitu senang bergerak. Namun ingatlah, baik orang selatan maupun orang utara, semuanya dapat menjadi orang Kristen. Orang Yahudi dapat menjadi orang Kristen, orang Yunani juga dapat menjadi orang Kristen. Orang yang penuh hikmat dapat menjadi orang Kristen, orang yang penuh sifat agamawi pun dapat menjadi orang Kristen.

Di dalam Kristus, tidak ada perbedaan Yahudi dan Yunani. Ada segolongan orang yang mementingkan rasio atau akal budi, segala perkara yang mereka hadapi selalu diselidiki seluk-beluk dan asal-usulnya. Ada lagi segolongan orang yang sama sekali mementingkan hati nurani. Apakah kedua golongan manusia ini berbeda setelah mereka menjadi orang Kristen? Ditinjau dari sudut jasmani, mereka memang mutlak berbeda; yang pertama bertindak menurut rasio, sedang yang belakangan bertindak menurut perasaan atau emosi. Namun dalam Kristus, tidak ada perbedaan Yahudi dengan Yunani. Tidak saja tidak terdapat perbedaan batas kenegaraan, perbedaan watak kebangsaan pun tidak ada. Orang yang berwatak dingin dapat menjadi orang Kristen, orang yang berwatak panas juga dapat menjadi orang Kristen. Orang yang senang bertindak menurut rasio dapat menjadi orang Kristen, orang yang senang bertindak menurut emosi atau perasan juga dapat menjadi orang Kristen. Orang macam apa pun dapat menjadi orang Kristen.

Jika orang macam apa pun dapat menjadi orang Kristen, maka ketika Anda datang ke dalam gereja, Anda harus meletakkan watak kebangsaan Anda di luar gereja, sebab di dalam gereja tidak ada barang itu. Hari ini, banyak kesulitan timbul di dalam gereja, itu dikarenakan orang-orang memasukkan “selera” watak kebangsaan ke dalam gereja, memasukkan sifat-sifat khas mereka ke dalam gereja. Misalnya, bila orang-orang yang pendiam berkumpul, mereka lalu menjadi kelompok pendiam; bila orang-orang yang suka bicara berkumpul, mereka menjadi kelompok suka bicara. Orang yang berwatak dingin berkumpul menjadi kelompok watak dingin, orang yang berwatak panas berkumpul menjadi kelompok watak panas. Akibatnya, banyak perbedaan timbul di antara anak-anak Allah.

Ingatlah, di dalam gereja tidak seharusnya ada watak kebangsaan; di dalam Kristus, di dalam manusia baru, juga tidak ada. Jangan Anda mengira, jika watak orang lain berbeda dengan watak Anda, itu berarti orang lain yang salah. Ketahuilah, keadaan Anda mungkin juga tidak disenangi orang lain. Anda merasa bahwa Anda cukup akrab bila Anda berbicara dengan cara tertentu, dan menganggap orang lain terlalu tertutup. Tetapi, mereka mungkin merasa bahwa Anda terlalu banyak bicara; mereka juga merasa tidak tahan dengan watak Anda.

Anda wajib tampak, baik Anda berwatak cepat, tenang, dingin, panas, rasional, atau emosional, begitu Anda datang ke dalam gereja menjadi seorang saudara, semua watak Anda itu harus Anda buang keluar; watak-watak itu bukan benda-benda milik gereja. Jika Anda memasukkannya ke dalam gereja, itu akan menjadi bahan kritikan dan perbedaan yang memecah-belah sesama saudara. Anda menjadikan diri sendiri sebagai satu standar. Orang yang mencukupi standar Anda, Anda anggap sebagai orang Kristen yang baik; orang yang tidak mencukupi standar Anda, Anda anggap bukan orang Kristen yang baik. Seolah-olah Anda adalah orang Kristen yang baku. Anda memasukkan watak dan karakter Anda ke dalam gereja. Ketahuilah, hari ini gereja justru telah dikacaukan oleh watak dan karakter manusia. Watak pendiam Anda bukanlah yang terbaik, watak banyak bicara Anda bukanlah yang terbaik, watak dingin Anda, watak panas Anda pun bukanlah yang terbaik. Rasio Anda yang kuat bukan yang terbaik, emosi Anda yang kuat pun bukan yang terbaik. Kesemuanya itu adalah perbedaan-perbedaan di luar Kristus; itulah yang diwakili oleh Yahudi dan Yunani. Sebab itu, janganlah Anda memasukkan watak alamiah Anda ke dalam gereja.

Orang yang baru percaya wajib dari semula belajar menolak segala sesuatu yang berasal dari manusia lama. Jangan sekali-kali Anda berkata, “Aku sejak mula memang sudah berwatak begini.” Banyak saudara saudari yang berkata demikian, bahkan berkata dengan bangga. Kepada orang-orang yang berkata demikian, perlu kami tegaskan, “Gereja tidak memerlukan manusia lama kalian, janganlah kalian membawa manusia lama kalian yang alamiah itu ke dalam gereja.” Itu bukan barang-barang yang ada di dalam Kristus. Barang-barang itu tidak boleh menjadi penyebab perbedaan; dan itu harus disingkirkan dengan tuntas. Di dalam Kristus, di dalam Tubuh, di dalam manusia baru, perbedaan-perbedaan itu telah lenyap seluruhnya.

Tidak ada seorang saudara atau saudari mana pun yang boleh memasukkan watak alamiahnya ke dalam gereja. Begitu Anda diselamatkan, Anda wajib menanggalkan semua itu di luar gereja. Jika di dalam gereja Anda hanya dapat bergaul dengan saudara saudari yang sewatak atau sekarakter dengan Anda, atau hanya membenarkan orang yang memenuhi standar Anda, niscaya seluruh gereja akan kacau dan terpecah-belah. Perbedaan watak manusia itulah yang merugikan kesatuan gereja sejak dulu hingga sekarang. Maka waspadalah, jangan sekali-kali membawa perbedaan watak ke dalam gereja. Ada orang berwatak buru-buru, ia lalu berkata, bahwa ia tidak menyukai orang yang berwatak lamban. Sebaliknya, orang yang berwatak lamban tidak menyukai orang yang berwatak buru-buru. Baik yang berwatak buru-buru maupun yang lamban, semua tak dapat dibawa ke dalam gereja untuk memecah-belah anak-anak Allah. Begitu Anda membawanya, Anda segera akan menganggap diri sendiri sebagai standar. Orang Yunani menginginkan orang Yahudi bertobat, orang Yahudi pun menginginkan orang Yunani bertobat, tetapi Allah bersabda, kedua-duanya harus dikesampingkan, yang ada hanya Kristus semata.

Perkara ini sejak mulanya wajib dipegang oleh orang-orang yang baru percaya, agar gereja terhindar dari banyak kesukaran di kemudian hari. Janganlah kita membuat perbedaan menurut watak kita, karena itu milik manusia lama yang harus kita tolak. Kita harus maju ke depan bersama dengan anak-anak Allah lainnya.

VI. TERHAPUSNYA PERBEDAAN KEBUDAYAAN

Surat Kolose masih menyinggung tentang sekelompok manusia yang menyulitkan para penafsir Alkitab, yaitu orang Barbar dan orang Skit. Orang Barbar jelas berarti orang biadab atau orang primitif. Tetapi apa arti orang Skit? Nama itu berasal dari bahasa Yunani “Zema”, yang berubah menjadi “Zecotha”, “Zecothia” dan “Zecothian”. Dalam bahasa Indonesia: “Skit”, terjemahan ini sangat baik.

Tuan Westcott menerangkan, “Zecothia” adalah nama sebuah tempat. Dalam sastra klasik Yunani kuno, Zecothia sering disinggung bersama dengan orang Galatia. Maka orang Skit adalah orang yang disegani. Hal ini sama dengan nama beberapa kota yang menimbulkan kesan kepada orang akan keistimewaannya. Misalnya, menyinggung orang provinsi Shansi, segera terkesan akan usaha perbankan mereka; menyinggung kota Sausing, maka terkesanlah pada bapak-bapak guru di zaman dinasti Ching yang silam. Jadi begitu orang menyinggung suatu tempat atau kota, tersiratlah gambaran-gambaran yang berkaitan dengan keistimewaannya.

Kalau Anda banyak membaca buku bahasa Yunani, Anda akan mengetahui bahwa orang Skit adalah orang yang dihormati, sedangkan orang Barbar adalah orang yang dipandang rendah. Jadi, ini adalah masalah kebudayaan. Perbedaan kebudayaan dalam dunia adalah perbedaan yang sangat besar. Seperti kita membandingkan seorang bangsawan Inggris dengan seorang primitif Afrika, betapa sangat besar perbedaan standar kebudayaan mereka. Namun Paulus mengatakan kepada kita, tidak peduli orang Barbar atau orang Skit, perbedaan itu telah lenyap.

Perbedaan kebudayaan memang menyulitkan banyak orang. Pernah sekali saya bertemu dengan dua orang Yahudi. Karena saya sudah cukup kenal dengan mereka, maka tanpa sungkan saya bertanya kepada mereka, “Mengapa kebanyakan orang di dunia tidak menyukai orang Yahudi?” Mereka menjawab, “Kebudayaan orang Yahudi jauh ketinggalan dibandingkan dengan kebudayaan bangsa lain.” Untuk pertama kalinya saya mendengar komentar demikian, dan saya tidak mengerti maksudnya. Mereka lalu menjelaskan, “Kami adalah orang Yahudi yang masuk warganegara Amerika. Terus terang kami katakan, kalau kami berdiri pada kedudukan orang Amerika, kami pun benci akan orang Yahudi, sebab kebudayaan orang Yahudi terlalu rendah. Sebagai contoh: Kalau seorang Amerika mendapat hasil 200 dollar per bulan, ia menggunakan sekian dollar untuk makan, sekian dollar untuk sewa rumah, sepatu mereka disemir sehari sekali, kemeja mereka diganti sehari sekali, dua bulan sekali membeli sepasang sepatu, rumah pun diatur dengan rapi dan nyaman, dan akhirnya uang mereka tersisa hanya belasan dollar saja. Tidak demikian dengan orang Yahudi. Seorang Yahudi hanya memakai 10 dollar untuk segalanya, sedang sisanya 190 dollar disimpan. Mereka menghitung-hitung, tanpa menyemir sepatu akan menghemat sekian dollar, tanpa membeli sepatu akan menghemat sekian dollar, tanpa mengganti kemeja, dibiarkan kotor akan menghemat lagi uang sekian dollar untuk membelisabun. Tempat tinggal kecil pun tidak mengapa, makan pun asal jadi saja. Kami tidak seperti orang Amerika, mereka sangat memperhatikan kenyamanan. Namun kami hanya mementingkan bertambahnya deposito kami di bank. Kami tidak menghargai orang Amerika, mereka sangat miskin. Tetapi orang Amerika pun tidak menghargai kami, mereka mengatai kami berpakaian tidak rapi dan tak bersih, tempat tinggal kami sangat jorok. Orang-orang Yahudi memang pandai mencari uang, otak kami cerdas, tetapi kebudayaan kamilah yang tidak baik, kami tidak cocok dengan siapa pun, itulah sebabnya mengapa kebanyakan orang tidak menyukai kami.” Demikianlah komentar orang-orang Yahudi yang pertama kali saya dengar.

Memang sulit bagi orang yang berkebudayaan tinggi untuk memandang orang yang berkebudayaan rendah. Ini bukan masalah tinggi rendahnya kelas, bukan masalah pandai atau bodoh, juga bukan masalah kaya atau miskin, melainkan masalah kebudayaan. Dalam pandangan orang Skit, jika Anda orang Barbar, Anda tidak memenuhi syarat baik dalam hal makanan, pakaian, maupun tempat tinggal. Sedang dalam pandangan orang Barbar, orang Skit dianggap materialistis, yang hanya mementingkan sandang pangan saja. Jadi titik pandangan dari kedua macam orang ini sama sekali berbeda. Bila kedua macam orang itu masuk ke dalam gereja, dan masing-masing mempertahankan pandangannya, maka yang satu akan menyalahkan yang lain, mereka akan saling bentrok; bagaimanapun tidak dapat disatukan.

Waktu makan, orang China kebanyakan memakai sumpit, orang India memakai tangan. Jika mereka makan bersama, pasti dalam hati merasa tidak enak, walau tidak diucapkan di mulut. Kalau mereka makan bersama, selang beberapa hari, pasti akan berselisih, karena masing-masing tidak tahan. Anda merasa memakai sumpit itu sudah seharusnya, memakai tangan kurang sedap dipandang, tetapi ia merasa memakai tangan lebih praktis. Anda menyalahkan dia, dia juga menyalahkan Anda. Inilah perbedaan kebudayaan. Perbedaan kebudayaan seperti ini sungguh sulit diatasi, namun di dalam Kristus, juga telah terhapus. Orang yang di dalam Kristus adalah orang yang paling besar, ia dapat menampung segala perbedaan yang ada di antara manusia. Bukannya aku menghendaki orang lain memenuhi standarku; orang yang tidak memenuhi standarku, kuanggap salah; itu bukan keadaan yang ada di dalam Kristus, gereja, maupun manusia baru. Andaikata ada saudara kita datang dari India atau Afrika, kebudayaan mereka memang berlainan dengan kita, tetapi kita hanya menanyakan satu hal saja: Apakah mereka di dalam Tuhan atau tidak. Mereka pun hanya menanyakan pertanyaan yang sama. Jika kita semua di dalam Kristus, segala persoalan sudahlah beres. Kita bergaul di dalam Tuhan, kita pun saling mengasihi di dalam Tuhan, urusan lainnya, harus bisa kita toleransi. Kita sama sekali tidak boleh membedakan anak-anak Allah atau memecah-belah saudara saudari dalam Tuhan dengan perkara lainnya.

Kita tidak boleh menghimpun saudara saudari yang terpelajar menjadi satu gereja, kita pun tidak boleh mendirikan gereja khusus bagi orang-orang yang tidak terpelajar. Itu bukan gereja, itu bukan yang dimiliki gereja; itu adalah yang di luar gereja, di luar Tubuh, dan di luar manusia baru. Jangan sekali-kali kita memasukkannya ke dalam gereja. Dalam gereja perbedaan tingkatan kebudayaan sudah terhapus.

Di lain pihak, kita harus belajar, yaitu menjadi orang Roma di antara orang Roma, menjadi orang yang di bawah hukum Taurat di antara orang yang di bawah hukum Taurat. Di antara orang yang berkebudayaan apa, kita harus menjadi orang yang berkebudayaan itu. Jika ada saudara datang dari Afrika ke China dan ia mengenal Allah, ia perlu makan dengan sumpit; jika kita pergi ke Afrika, kita harus juga makan dengan tangan. Kita tidak seharusnya berselisih dengan saudara setempat. Kalau kita ke tempat mereka, kita wajib belajar seperti mereka, kalau mereka datang ke tempat kita, mereka wajib belajar seperti kita. Kalau kita ke Inggris, kita harus belajar menjadi orang Inggris, kalau saudara dari Inggris datang ke China, mereka wajib belajar menjadi orang China. Jika tidak demikian, tentu akan melukai hati orang lain dan tidak bisa mendapatkan orang lain. Semoga sejak semula anak-anak Allah sudah dapat mempelajari hal ini dengan baik, agar kelak bisa terhindar dari banyak kesulitan.

VII. TERHAPUSNYA TANDA IBADAH ATAS DAGING

Perbedaan terakhir ialah bersunat dengan tak bersunat, ini juga disinggung dalam Surat Kolose. Perbedaan ini ditujukan kepada tanda ibadah atas daging (jasmani). Kita tahu bahwa orang Yahudi bersunat. Mereka memiliki tanda ibadah atas daging mereka dan itu menyatakan bahwa mereka umat Allah yang beribadah kepada Allah dan menolak daging. Perbuatan mereka itu berarti tunduk di bawah perjanjian Allah dan mereka beroleh bagian dalam perjanjian Allah.

Banyak orang, terutama orang Yahudi, sangat mementingkan masalah sunat. Mereka menganggap orang yang bersunat barulah orang yang berada dalam perjanjian Allah, sedangkan orang yang tak bersunat tidak berada dalam perjanjian Allah. Mereka tidak menikah dengan orang yang tak bersunat. Sebab itu dalam Kisah Para Rasul 15, orang-orang Yahudi bahkan ingin memaksa orang kafir yang telah percaya untuk disunat. Sebab mereka sangat mementingkan tanda ibadah di atas daging itu.

Pada prinsipnya, hari ini pun kita bisa saja terjatuh ke dalam kesulitan orang Yahudi, yakni mementingkan tanda-tanda yang lahiriah. Misalnya, aku menerima baptisan selam, sedangkan saudara anu tidak; ia menerima baptisan percik. Menurut firman Allah, kita seharusnya menerima baptisan selam, maka saudara anu seharusnya menerima baptisan selam juga. Tetapi karena ia tidak menuruti firman Allah, maka aku merasa bahwa atas dagingku, aku telah melakukan sesuatu yang melebihi saudara anu, dan menganggap baptisan selam sebagai tanda ibadah; lalu aku merasa saudara anu tidak benar di hadapan Tuhan, sebab ia tidak menerima baptisan yang lahiriah itu. Dengan demikian, baptisan selam itu menjadilah satu perbedaan antara diriku dengan dia.

Misalnya lagi, masalah penudungan kepala, bagi saudari memang mengandung makna rohani, juga adalah satu tanda di atas daging. Demikian pula dengan pemecahan roti dan penumpangan tangan. Semua itu sesungguhnya mengandung makna rohani, dan semua adalah masalah rohani. Namun jika itu dijadikan alasan untuk membedakan anak-anak Allah, kita segera merosot dari makna rohani ke tanda daging, dan perkara-perkara itu menjadi sama dengan perkara sunat.

Semoga saudara saudari tidak salah paham terhadap perkataan saya. Jangan salah mengira bahwa saya menyuruh Anda tidak perlu menerima baptisan selam, pemecahan roti, penudungan kepala, atau penumpangan tangan. Maksud saya ialah, jika Anda menggunakannya untuk membeda-bedakan anak-anak Allah, itu berarti Anda membeda-bedakan dengan alasan daging. Dalam Kristus tidak ada perbedaan orang yang bersunat dan orang yang tak bersunat. Tanda-tanda di atas daging tidak boleh dijadikan alasan untuk memisahkan anak-anak Allah. Di dalam Kristus adalah satu; di dalam Kristus, hayatnya adalah hayat kesatuan. Jika suatu perkara mengandung realitas rohani ditambah tanda jasmani, itu sangat baik. Bila seseorang telah memiliki realitas rohani, tetapi tanpa tanda jasmani, kita tidak boleh membedakannya karena itu. Pendek kata, anak-anak Allah tidak seharusnya saling membedakan diri oleh karena tanda-tanda jasmani, sebab hal itu akan mempengaruhi kesatuan kita di dalam Tuhan.

Saya menyadari, ada kebenaran-kebenaran tertentu mungkin belum dilihat dengan jelas oleh beberapa anak Allah. Namun bila mereka memiliki realitas rohani, kita harus memperhatikan kesatuan rohaninya, jangan mementingkan tanda-tanda lahiriahnya. Misalnya, kalau seorang saudari benar-benar patuh dan memelihara kedudukannya di hadapan Tuhan maupun di hadapan saudara, tetapi di atas kepalanya tanpa tanda, janganlah karena hal itu kita membedakan diri dengannya. Bila Anda membedakan diri, kesatuan segera akan dirugikan.

Paulus berkata dengan sangat jelas bahwa bersunat tidak bermaksud menghapus kenajisan daging, melainkan menghapus aktivitas daging. Maka yang penting di hadapan Allah bukanlah yang lahiriah, melainkan yang batiniah. Jika penglihatan dalam batin sama, tetapi di luar terdapat sedikit perbedaan, janganlah Anda berpisah karenanya. Jika di lahir maupun di batin tidak ada, itu bukanlah tanggung jawab kita. Jika ada seorang saudari tidak berada pada kedudukan taat, ada seorang saudara yang baptisannya bukan berarti terlepas dengan dunia, bukan berarti dikubur dan dibangkitkan bersama Tuhan, itu sudah menyeleweng terlalu jauh, dan itu bukan tanggung jawab kita. Tetapi jika ia menyadari bahwa baptisannya memang berarti dikubur dan dibangkitkan bersama Tuhan, hanya saja tanda luarannya ada sedikit perbedaan, kita tak boleh oleh karena itu mempengaruhi kesatuan kita dengannya. Kita tak boleh merasa diri kita berlainan dengan orang itu oleh karena kita mematuhi Allah atas suatu perkara yang jasmani. Jika Anda membeda-bedakan anak-anak Allah menurut perkara-perkara itu, Anda sudah keliru.

Kita semua adalah saudara saudari, di dalam Kristus kita adalah satu manusia baru, di dalam Tubuh kita bersama-sama menjadi anggota. Di dalam gereja, kita telah menghapus segala perbedaan yang di luar Kristus. Setiap orang berdiri di atas kedudukan yang baru, semuanya berada dalam manusia baru yang dibangun Tuhan, dan semua berada dalam Tubuh yang diciptakan Tuhan. Anda wajib tampak, seluruh anak Allah adalah satu, dan tidak boleh saling memandang dengan mata lain. Kita harus dari dalam hati membuang setiap konsepsi kesektaan dan perbedaan golongan-golongan. Dengan demikian kita akan lebih maju lagi ke depan.