PERTAPAAN
“Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapa kamu menaklukkan dirimu pada berbagai peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Walaupun tampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, peraturan-peraturan ini tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”
(Kol. 2:20-23)
I. ASAL USUL PERTAPAAN
Sebelum seseorang beroleh selamat, secara alamiah dan dengan spontan ia mempunyai suatu konsepsi; walaupun ia masih berkecimpung dalam dosa, ia mempunyai suatu standar, yakni ada sejenis kehidupan yang ia anggap suci. Ia sendiri tidak dapat mencapai standar itu, namun ia mengira, jika ia dapat mencapai standar itu, ia akan memiliki satu kehidupan yang suci. Ada satu perkara yang sangat ganjil, yaitu di antara orang-orang kafir, yang walaupun kehidupannya penuh dengan dosa dan hawa nafsu, namun mereka mempunyai satu angan-angan untuk memiliki suatu kehidupan yang suci. Mereka mengira jika pada suatu hari mereka dapat mencapai standar itu, maka mereka akan menjadi manusia yang suci, baik, dan luhur.
1. Berasal dari Dunia, Bukan Milik Kekristenan
Setelah kita beroleh selamat, konsepsi yang demikian kita bawa ke dalam gereja. Kita mengira, “Hari ini aku telah menjadi orang Kristen, maka hari ini aku sudah dapat mencapai “kehidupan ideal” yang dulu belum aku capai. Dulu aku hidup dalam dosa, bertumbuh dalam hawa nafsu, dan aku tidak berdaya mengalahkan kelemahan-kelemahan dagingku. Sekarang, aku telah percaya Tuhan, aku sudah dapat menempuh kehidupan yang kuanganangankan itu.” Namun pokok kesulitannya terletak di sini: manusia mengira dirinya dapat menempuh suatu kehidupan yang ideal; ia telah lupa bahwa angan-angan yang demikian itu sama sekali berasal dari dunia, bukan angan-angan orang Kristen. Walaupun banyak orang telah menjadi orang Kristen, tetapi sering kali mereka masih menurut standar orang kafir; angan-angan kehidupan mereka pun masih merupakan angan-angan orang kafir. Hal ini menyebabkan orang Kristen mengalami kesulitan yang cukup besar. Mereka seolah-olah memasukkan filsafat ke dalam gereja. Inilah sebabnya saudara-saudara yang baru percaya wajib menanggulangi masalah ini dengan tegas.
2. Karena Manusia Dipenuhi oleh Hawa Nafsu
dan Menginginkan Kelepasan
Apa sebetulnya kehidupan ideal yang diinginkan manusia? Tidak lain suatu kehidupan yang tidak dapat dicapai dengan kemampuan manusia itu sendiri. Selama manusia masih hidup di dalam dunia dan terkekang oleh dosa, dirinya penuh dengan berbagai hawa nafsu dan keserakahan. Walau manusia sendiri tidak berdaya, tetapi manusia selalu mendambakan mampu mengatasi hawa nafsunya. Jadi, di satu pihak, manusia sendiri menyenangi benda-benda materi; di pihak lain, manusia ingin dapat mengatasi benda-benda materi. Semakin dirinya terkekang oleh sesuatu, ia semakin menyenangi sesuatu yang berlawanan dengan hal itu. Semakin berat hawa nafsu seseorang, angan-angannya pun semakin cenderung akan kebebasan atas hawa nafsunya.
Semakin besar keserakahan seseorang terhadap benda materi, angan-angannya semakin damba meninggalkan benda materi itu. Jadi, dengan sendirinya manusia di seluruh dunia mempunyai semacam konsepsi “pertapaan”. Ingatlah, pertapaan di dunia ini bukan untuk dilaksanakan, melainkan untuk suatu angan-angan. Sebab dengan adanya angan-angan itu manusia dapat menghibur dirinya sendiri; dengan adanya angan-angan itu manusia akan memiliki suatu acuan; dengan adanya angan-angan itu manusia akan melupakan kondisinya sendiri. Manusia akan berkata kepada dirinya sendiri, jika aku dapat mencapainya, aku akan menjadi seorang yang “tinggi”. Itulah asal usul pertapaan.
Perkara-perkara yang dicari oleh orang-orang yang tidak percaya, hampir semuanya untuk memenuhi hawa nafsu mereka. Namun yang mereka puji juga adalah orang-orang yang terlepas dari hawa nafsu, dan hati mereka menghargai orang-orang yang mampu melepaskan diri dari kekangan-kekangan benda materi. Jadi pertapaan adalah suatu standar atau cita-cita yang diletakkan di hadapannya sendiri oleh orang-orang yang belum percaya Tuhan, yaitu orang-orang yang berada di luar Kristus.
II. DALAM KEKRISTENAN TIDAK ADA PERTAPAAN
Setelah seseorang percaya Tuhan, tanpa disadarinya, ia membawa masuk pertapaan ke dalam gereja. Walaupun dulu ia sendiri tidak melaksanakan pertapaan, tetapi ia mengagumi orang-orang yang melakukannya. Orang kafir di satu aspek mengumbar hawa nafsu, di aspek lain mengagumi pertapaan. Orang kafir juga sangat memandang benda materi, tetapi juga mengagumi orang yang menjauhkan diri dari benda-benda materi. Diri sendiri tidak berdaya mencapainya, tetapi dalam hati mengaguminya. Setelah percaya Tuhan, ia lalu memasukkan pertapaan yang ia kagumi itu ke dalam gereja; dan mengira setelah seseorang beroleh selamat, ia harus juga mengamalkan pertapaan.
1. Meremehkan Benda-benda Materi dan Menekan Hawa Nafsu
Apa sebenarnya tujuan pertapaan? Bagi kebanyakan orang, pertapaan berarti menahan diri dalam menggunakan benda-benda materi, atau semakin mengurangi kenikmatan atas benda-benda materi. Sebab mereka khawatir kalau-kalau benda-benda materi itu akan memenuhi hawa nafsu dalam batin mereka. Jadi, orang-orang yang melakukan pertapaan mengakui bahwa berbagai hawa nafsu terkandung dalam batin manusia. Mulai dari nafsu makan hingga nafsu seksual, semuanya terdapat di dalam batin, dan hawa nafsu tersebut dilaksanakan oleh orang-orang dunia. Akan tetapi, kalau seseorang ingin menjadi orang suci, ia harus dapat menaklukkan semuanya itu. Jadi, dari aspek luar, pertapaan berarti meremehkan benda-benda materi, sedang dari aspek dalam, pertapaan berarti menekan hawa nafsunya sendiri. Mereka berharap agar bisa tidak memberikan kesempatan kepada hawa nafsu, sehingga dapat menjadi orang suci.
2. Orang Kristen Sama Sekali Tidak Menganjurkan Pertapaan
Akan tetapi, kita harus tampak, orang Kristen dari awal hingga akhir sama sekali tidak menganjurkan pertapaan. Jika orang Kristen juga menganjurkan pertapaan, itu adalah sangat dangkal. Kita ingin membaca beberapa ayat Alkitab. Banyak orang yang ingin menekan diri dalam makanan, hawa nafsu, dan benda-benda materi lainnya, dan mengira hal itu sesuai dengan kekristenan, sesuai dengan kehidupan kekristenan yang ideal. Namun Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa dalam kekristenan tidak ada pertapaan.
III. ORANG YANG TELAH MATI BERSAMA KRISTUS
TELAH TERLEPAS DARI FILSAFAT DUNIA
Kolose 2:20-23 mengatakan, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia (filsafat), mengapa kamu menaklukkan dirimu pada berbagai peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Walaupun tampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, peraturan-peraturan ini tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.”
1. Kematian Bersama, Satu Fakta yang Asasi
Paulus berkata kepada kaum beriman di Kolose, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus.” Paulus memandang kematian bersama ini sebagai fakta yang asasi bagi orang Kristen. Sebagai orang Kristen, kita masing-masing adalah orang-orang yang telah mati bersama Kristus. Inilah yang diwahyukan kepada kita oleh seluruh Perjanjian Baru. Dalam Roma 6 juga dikatakan bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus. Galatia 2 mengatakan bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus. Galatia 5 juga mewahyukan bahwa daging dan segala miliknya telah disalibkan bersama Dia. Dengan perkataan lain, salib yang terpancang di Golgota adalah salib setiap orang Kristen. Titik permulaan orang Kristen ialah salib, tidak saja mulai dari salib Kristus, tetapi juga mulai dari salibnya sendiri. Ketika kita menerima salib Kristus, salib-Nya segera menjadi salib kita sendiri. Siapa yang tidak menerima fakta salib, ia bukanlah orang Kristen. Jika ia orang Kristen, pasti menerima fakta salib Kristus menjadi fakta dirinya sendiri. Dengan kata lain, aku telah mati di dalam Dia.
Di sini Paulus sama sekali tidak meragukan fakta salib Kristus, dan itulah yang dipegangnya sebagai dasar pernyataannya. Katanya, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus”, maka selanjutnya terjadilah suatu hal. Ini seperti seorang Saudara A duduk di sini. Lalu kita berkata kepadanya, “Jika Anda Saudara A, maka ada cerita selanjutnya. Fakta Anda sebagai Saudara A sangat pasti dan dapat diandalkan. Sekarang saya akan berbicara berdasarkan fakta ini, dan ini tentu sama sekali tidak dapat diragukan. Kalau Anda benar Saudara A, maka selanjutnya . . .” Jadi, di sini Paulus dengan fakta ini memberi mereka satu kesimpulan.
2. Terlepas dari Filsafat Dunia
“Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari filsafat dunia.” Tidak seorang pun yang dapat menjadi filsuf di dalam kubur. Jika kita ingin berbicara tentang filsafat, haruslah ketika kita masih hidup. Kita harus tampak bahwa filsafat telah mati, ia telah tersalib, tidak seharusnya hidup, dan telah dibereskan secara total. Semua percakapan tentang hawa nafsu dan benda materi berada dalam kategori filsafat. Manusia selalu memperhatikan masalah hawa nafsu dan benda-benda materi; bagaimana menanggalkan benda materi agar bisa menjadi suci; bagaimana menekan nafsu seksual dalam diri agar menjadi suci; itu sama sekali merupakan filsafat dunia. Di sini Paulus mengatakan bahwa jika kamu telah mati bersama dengan Kristus, kamu bebas dari filsafat dunia. Jadi, masalah itu sama sekali tidak akan terjadi.
3. Mengapa Seolah-olah Masih Hidup di Dunia
Paulus bertanya, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari filsafat dunia, mengapa . . . seolah-olah kamu masih hidup di dunia?” Kalau Anda telah mati, dan kematian itu adalah fakta, Anda tidak seharusnya seperti orang dunia. Kematian merupakan kedudukan asasi orang Kristen.
Kalau Anda tidak mati, mengapa Anda menerima baptisan? Manusia harus mati dulu sebelum dikubur. Jika dikubur sebelum mati, itu berarti dikubur hidup-hidup. Karenanya orang harus mati dulu kemudian baru dikubur. Baptisan berarti penguburan. Karena aku telah mati bersama-sama dengan Kristus di atas salib, maka sekarang aku harus dikubur. Kematian bersama adalah suatu fakta. Aku sendiri yang ingin dikubur, Tuhan telah mencakup aku dalam kematian-Nya, dan aku sendiri paham bahwa aku telah mati; karena itu aku minta orang menguburkan diriku. Kita harus terlebih dulu menyadari bahwa kita telah mati, barulah kita menyerahkan diri untuk dikubur, yaitu dibaptis. Kalau kita telah mati, dan telah dikubur, mana mungkin kita tetap hidup di dalam dunia?
Paulus memberi tahu kita bahwa orang-orang yang mempraktikkan pertapaan adalah orang-orang yang masih hidup di dalam dunia. Itulah sebabnya di sini ia berkata, “Mengapa kamu menaklukkan dirimu pada berbagai peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini.” Itu ajaran-ajaran para pertapa. Banyak benda-benda yang tidak boleh dikecap dan dimakan; bahkan banyak benda yang tidak boleh dipegang atau dijamah. Banyak orang yang tidak berani menjamah, mengecap, atau menyentuh benda-benda tertentu, karena khawatir hawa nafsunya timbul. Kolose merupakan tempat pertapaan yang sangat ketat. Di antara mereka terdapat banyak peraturan. Karena orang-orang di sana khawatir hawa nafsunya bangkit, maka mereka pantang segala benda yang mungkin merangsang hawa nafsu; ada yang pantang dijamah, ada yang pantang dikecap, ada yang pantang disentuh, dan ada pula yang pantang didengar. Mereka menetapkan berbagai peraturan yang ketat, dengan maksud agar benda-benda materi terpisah dengan hawa nafsu. Dengan terpisahnya hawa nafsu dan benda-benda, maka hawa nafsu akan terkendalikan. Begitulah konsepsi filosofis pada masa itu. Tanpa suatu benda yang dijamah, hawa nafsu akan lenyap.
Tetapi Paulus di sini menunjukkan satu perkara kepada kita: “Mengapa kamu menaklukkan dirimu pada berbagai peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan pegang ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini.” Siapa saja yang mengamalkan peraturan-peraturan itu, ialah orang yang tidak percaya kepada fakta kematian bersama Kristus. Kalau Anda percaya bahwa Anda telah mati, apa lagi yang harus Anda pantangkan? Anda hanya dapat mengamalkan peraturan-peraturan tentang tidak boleh jamah ini, tidak boleh kecap itu, dan tidak boleh sentuh ini sebelum Anda mati. Kebutuhan akan pertapaan terdapat pada orang-orang yang masih hidup, tetapi bagi orang yang telah mati tidak lagi ada kebutuhan itu.
Walaupun kita telah memberitakan kebenaran kematian bersama, tetapi banyak yang tidak tahu apa makna kematian bersama itu. Mulai dari akhir pertengahan tahun 1919, ada orang yang memberitakan kematian bersama, tetapi kita tidak memahaminya. Pada tahun 1923, kita juga memberitakannya, ketika itu kita tampak bahwa kematian bersama adalah fakta, bukan suatu doktrin. Kematian bersama merupakan satu fakta yang terbentang di sini. Hari ini masih banyak orang yang menuntut kematian bersama. Namun kita harus tampak bahwa kematian bersama adalah titik tolak kita, bukan titik akhir kita. Jika kita menuntutnya sebagai titik akhir, itu adalah perilaku orang-orang aliran mistik, itu bukan ajaran kekristenan. Kematian bersama sebenarnya merupakan titik tolak kita. Karena aku telah mati bersama Kristus, maka aku adalah orang Kristen. Jika aku tidak mati bersama Kristus, aku bukanlah orang Kristen. Ingatlah, tidak seorang pun dapat menuntut kematian bersama, penuntutan seperti itu adalah perbuatan yang bodoh, dan orang yang demikian sama sekali belum tampak terang. Jika orang telah tampak terang, ia akan memahami kebenaran kematian bersama, dan ia akan memuji Tuhan, bukan berusaha menuntutnya. Seperti halnya kita telah tampak kematian penggantian Tuhan Yesus, kita akan memuji Tuhan, bukan menuntut hal tersebut.
Di sini Paulus memperlihatkan kepada kita bahwa orang Kristen adalah orang-orang yang telah mati bersama Kristus, dan mereka telah bebas dari filsafat dunia serta segala peraturan tentang pertapaan di dunia. Kita boleh mengambil sebuah perumpamaan: misalkan ada seorang pencuri telah mati dan dikubur. Anda boleh berdiri di samping kuburnya dan mengumumkan bahwa ia tidak dapat mencuri lagi. Orang yang telah mati itu telah bebas dari pencurian, dan ia pun telah bebas dari peraturan yang melarang orang mencuri. Misalkan Anda adalah orang yang banyak bicara. Jika hari ini Anda telah mati bersama Kristus, Anda akan bebas dari watak Anda yang suka banyak bicara. Jika Kristus telah menyalibkan kita, maka kedatangan pertapaan itu telah terlambat. Aku telah disalibkan bersama Kristus oleh Allah, maka aku telah bebas dari filsafat dunia, aku pun telah bebas dari segala pertapaan dalam dunia ini.
4. Adalah Perintah-perintah dan Ajaran-ajaran Manusia
Ayat 22 mengatakan, “Hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.” Peraturan-peraturan itu, tuntutan-tuntutan pertapaan itu, semua adalah buatan dan ajaran manusia belaka. Peraturan pertapaan adalah produk mentalitas manusia, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kekristenan dan gereja. Manusialah yang mengira bahwa ini tidak boleh dimakan, itu tidak boleh dijamah. Sebenarnya, itu adalah ajaran dan perintah manusia, bukan ajaran dan perintah Allah.
Di sini Paulus berkata dengan serius bahwa perintahperintah dan ajaran-ajaran itu mutlak berasal dari manusia, bukan dari Allah. Itu adalah kehidupan manusia yang ideal, konsepsi manusia, dan peraturan-peraturan ideal ciptaan manusia; bukan yang berasal dari Allah. Tetapi, aneh sekali, orang-orang di dunia ini sungguh menyukai pertapaan. Mereka mengira kalau semua orang memakan makanan tertentu, namun ada seseorang tidak memakannya, maka orang ini dipandang luhur. Kalau orang-orang pada umumnya terpengaruh oleh benda-benda materi, tetapi di sini ada seorang yang seolah-olah tidak terpengaruh oleh benda apa pun, bahkan dipakai pun tidak, maka ia dipandang sebagai orang yang suci atau luhur. Perhatikanlah, pertapaan merupakan “agama alamiah”, bukan kekristenan yang diwahyukan. Agama alamiah adalah ajaran-ajaran dan perintah-perintah manusia semata. Ajaran-ajaran itu telah ada di dalam manusia tanpa melalui penerangan dan wahyu ilahi. Itu adalah reaksi manusia terhadap hawa nafsu. Oleh karena manusia menyadari kenajisan hawa nafsu, maka mereka memiliki reaksi yang cenderung kepada pertapaan. Ajaran-ajaran demikian jelas sekali berasal dari manusia, dari alamiah; bukan dari Allah.
5. Yang Binasa oleh Pemakaian
Bagaimana Paulus menilai kegunaan pertapaan? “Semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian”. Memang pertapaan kedengarannya sangat baik, dan merupakan satu filsafat yang sangat baik. Tetapi, jika Anda mencoba memakainya, ia akan seperti sebuah mobil yang kelihatannya indah dalam garasi, tetapi selalu mogok di tengah jalan. Ia juga ibarat sebuah pakaian yang indah dipandang dalam lemari saja; tetapi bila Anda pakai, tertampaklah banyak lubang di sana sini. Orang boleh mencobanya, tetapi tidak ada seorang pun yang berhasil menyingkirkan hawa nafsunya melalui praktik pertapaan.
Semakin Anda membuat pantangan-pantangan, semakin terbukti banyaknya benda di dalam Anda. Semakin orang melarikan diri, semakin terbukti pula besar rasa takutnya terhadap dirinya sendiri; bahkan mengatakan atau menyinggungnya pun tidak berani. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang disebut sebagai orang “suci” dan “luhur”. Tetapi saya dapat mengatakan, boleh jadi mulutnya tidak berbicara, tetapi dari percakapannya terbukti bahwa mereka tidak dapat meninggalkan hawa nafsu tersebut. Itulah sebabnya mereka selalu berusaha melarikan atau menyembunyikan dirinya. Semakin hebat melarikan diri, semakin terbukti perasaannya yang mendalam. Tidak sedikit orang yang sampai pergi ke padang belantara, mengucilkan dirinya di suatu tempat, dan memutuskan hubungannya dengan dunia luar. Karena daya tarik dunia pada dirinya sedemikian besarnya, maka mereka merasa lebih baik menyembunyikan diri di atas gunung.
Tetapi, dunia tetap mengikuti mereka ke atas gunung, atau ke padang belantara. Karena tidak mampu mengatasinya di dalam batin, maka bagaimanapun mereka menghindarinya dari luar, tetap tidak mungkin berhasil. Perkataan Paulus sangat khusus: “binasa oleh pemakaiannya”. Mereka tidak berdaya menanggalkan hawa nafsu. Begitu mereka tersentuh oleh hawa nafsu, mereka segera jatuh rebah. Karena itulah mereka membuat banyak peraturan: jangan menjamah ini, jangan mengecap itu, jangan menyentuh ini, jangan melihat itu. Mereka cenderung menghindari dan menjauhi benda-benda dunia, dan cenderung menanggalkan hawa nafsu sendiri. Tetapi benda-benda itu sebenarnya masih tetap ada di situ. Semakin kita takut, semakin terbukti bahwa kita belum beroleh pertolongan yang sejati dari benda-benda itu.
6. Yang Tampaknya Penuh Hikmat
Dalam ayat 23 Paulus mengatakan dengan jelas, “Walaupun tampaknya penuh hikmat.” Setiap orang yang ingin mempraktikkan pertapaan, atau orang yang mendukung ajaran pertapaan memang tampaknya penuh hikmat; dan mereka ingin disebut sebagai orang yang berhikmat. Mereka dapat mengutarakannya dengan mulukmuluk, seolah-olah penuh hikmat. Ya, ada orang yang menganggap diri mereka penuh hikmat.
7. Sebagai Ibadah Buatan Sendiri
Tetapi di sini Paulus menghakimi pertapaan adalah “ibadah buatan sendiri”. Paulus mengetahui bahwa peraturan-peraturan itu berasal dari ibadah pertapaan, atau ibadah tekad, bukan ibadah dari Tuhan. Allah itu Roh, orang yang beribadah kepada-Nya, harus menggunakan roh. Mereka tidak menggunakan roh, maka mereka mengatur diri dengan tekad, mereka adalah “agama tekad”. Ibadah buatan sendiri yang diungkapkan Paulus ini tidak lain adalah “agama tekad”. Sebab agama itu merupakan hasil yang berdasarkan tekad. Aku tidak mau makan, aku tidak mau berbicara, aku tidak mau mendengar, dan aku tidak mau menjawab; semua itu berdasarkan tekad-”ku”. Jelaslah, ibadah yang demikian sama sekali berdasarkan tekad manusia.
Ingatlah, itu bukan jalan orang Kristen. Jalan orang Kristen ialah berkontak dengan Allah melalui roh. Dengan daya tekad yang kuat untuk menekan hawa nafsu, itu bukan ciri-ciri kita. Ciri-ciri kita ialah dengan roh yang kuat menjamah kasih karunia Allah. Ibadah kita ialah menjamah Roh Allah dengan roh kita, sedang ibadah mereka ialah menekan hawa nafsu dengan tekad. Di sini kita dapat tampak, yang satu mutlak berasal dari Allah, dan yang lainnya mutlak berasal dari manusia. Ibadah buatan manusia sendiri itulah “agama tekad”.
8. Kerendahan Hati Buatan
Memang tampaknya mereka sangat rendah hati. Banyak benda yang tidak boleh dijamah, tidak boleh disentuh, tidak boleh didengar, atau dipandang. Tetapi kerendahan hati seperti itu berasal dari diri sendiri, buatan atau ciptaan diri sendiri, bukan kerendahan hati rohani yang spontan.
9. Menyiksa Diri
Sikap orang yang melaksanakan pertapaan terhadap diri sendiri tidak lain hanya “menyiksa diri” belaka. Mereka tidak memperhatikan bagaimana makan atau berpakaian, bahkan melarang dirinya menjamah, melihat, mendengar dan sebagainya. Itu sama sekali merupakan penyiksaan atas tubuh sendiri.
Orang yang melaksanakan pertapaan selalu menganggap bahwa tubuh adalah sesuatu yang najis. Konsepsi demikian berasal dari Yunani dan menyebar ke India; kemudian menyebar ke China. Dalam hal ini orang China tidak sehebat orang India, orang India tidak sehebat orang Yunani. Namun bukan semua orang Yunani demikian, melainkan ada satu sekte Yunani yang mengajarkan teori bahwa tubuh merupakan pangkal dosa. Teori itu kemudian menyebar ke India dan China. Jika manusia dapat “melepaskan” tubuh, barulah dapat menanggalkan dosa. Itu adalah konsepsi dasar agama tertentu, itu adalah filsafat dunia. Mereka menganggap tubuh sebagai pangkal dosa; menanggalkan tubuh berarti menanggalkan dosa. Dan karena tubuh dapat menghasilkan begitu banyak dosa, maka tubuh harus disiksa, agar melalui siksaansiksaan, dosanya akan berkurang. Mereka berpendapat bahwa tubuh seharusnya merasakan sengsara; tubuh tidak boleh diberi kenikmatan atau kebahagiaan, melainkan harus dibuat menderita. Makin menderita makin baik. Sebab setelah menderita sengsara, tubuh tidak akan berdosa lagi. Itu merupakan upaya tekad manusia menyiksa diri.
10. Tidak Ada Gunanya
Bagaimanakah hal ini ditinjau dari kedudukan kaum beriman? Kata Paulus, “Tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.” Kalau orang mengira pertapaan dapat mengekang hawa nafsu, itu sama sekali mustahil. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus telah memberi kita persediaan yang terbaik di atas salib-Nya, yaitu Ia telah menyalibkan daging kita serta segala hawa nafsu dan keinginannya. Hari ini kita berdiri di hadapan salib dan berpegang pada pekerjaan yang telah dirampungkan oleh salib demi menanggulangi hawa nafsu daging kita. Kita mengakui fakta salib Tuhan Yesus itu. Hal ini berbeda dengan cara penanggulangan manusia atas hawa nafsu.
Ingatlah, bagaimana manusia beroleh pengampunan dosa melalui darah Tuhan Yesus, demikian pula manusia beroleh kelepasan atas hawa nafsu dirinya melalui salib Tuhan Yesus. Pengaliran darah adalah pekerjaan yang dilakukan Tuhan, salib juga adalah pekerjaan yang dilakukan Tuhan Yesus. Kita harus tampak, setelah pengaliran darah dan setelah menerima salib, haruslah segera menerima baptisan. Karena Tuhan telah menyalibkan aku, maka aku harus dikubur. Makna baptisan ialah: Tuhan mengatakan bahwa aku telah mati; maka aku berkata bahwa aku ingin dibaptiskan. Tuhan mengatakan bahwa aku telah disalibkan, tidak hidup lagi; maka aku berkata aku tidak meragukan kematian ini, dan aku minta dikubur. Baptisan merupakan pernyataan penerimaanku terhadap kematian Tuhan Yesus. Namun, jika hari ini aku mempraktikkan pertapaan, itu berarti aku tidak berada pada posisi kematian.
11. Carilah Perkara yang di Atas
Kolose 3:1-3 mengatakan, “Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kistus, carilah hal-hal yang di atas, . . . Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”. Paulus memulai dari salib, dan berakhir pada kebangkitan. Karena Anda adalah umat surgawi, maka janganlah menghiraukan perkara yang di bumi. Kalau Anda memperhatikan apa yang tidak boleh dijamah, tidak boleh dikecap, dan tidak boleh disentuh, berarti Anda memikirkan perkara yang di bumi. Paulus selanjutnya mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang telah dibangkitkan, yang harus mencari perkara-perkara yang surgawi. Bila kita memperhatikan perkara-perkara yang surgawi, maka perkara-perkara yang bumiah itu semuanya akan beres. Sebagai orang Kristen, kita harus memikirkan perkara rohani yang surgawi, tidak perlu memikirkan perkara-perkara yang tidak boleh dimakan, tidak boleh dijamah, atau tidak boleh disentuh itu.
IV. PERTAPAAN ADALAH AJARAN SETAN-SETAN
Mengapa kita (orang Kristen) tidak mementingkan pertapaan? Karena hal itu adalah suatu kekeliruan yang berasal dari agama penyembah berhala yang menyelundup ke dalam kekristenan. Sebab itu kita harus menanggulanginya dengan tuntas.
Satu Timotius 4:1-3 mengatakan, “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa pada waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan . . . Mereka melarang orang kawin, melarang orang makan makanan . . .” Ini juga sejenis pertapaan. Pada akhir zaman ini, pertapaan akan bangkit secara besar-besaran. Manusia generasi kini boleh jadi cenderung kepada benda-benda materi, tetapi mungkin generasi berikutnya akan mengatakan reaksi yang menentang materialisme, dan cenderung melakukan pertapaan. Apakah yang dilakukan oleh pertapaan? Pertapaan melarang orang kawin, juga melarang orang makan makanan tertentu. Usaha pertapaan bermaksud menghapus makanan dan nafsu seksual. Pada akhir zaman, hal-hal ini akan muncul lagi.
V. PERBEDAAN KEINGINAN ALAMI DENGAN HAWA NAFSU
Sebagai orang Kristen, kita harus mengetahui apa sebenarnya perbedaan antara keinginan yang alami manusia dengan hawa nafsu manusia. Baiklah di sini kita menerangkan secara singkat.
1. Keinginan yang Alami Adalah Pemberian Allah
Ketika Allah menentukan manusia untuk makan, Ia memberi manusia keinginan atau nafsu untuk makan. Pada waktu itu, nafsu untuk makan bukanlah dosa, bukan pula hawa nafsu. Sebab dengan adanya nafsu makan, manusia dapat makan dan dapat mempertahankan eksistensinya. Allah senang melihat manusia dapat memelihara eksistensinya, karena itu Ia memberi manusia satu keinginan atau nafsu sehingga manusia senang makan. Allah memberi manusia makan bukan sekadar makan saja, melainkan makan dengan senang dan nikmat. Dengan menikmati makanan-makanan itu, hidup manusia dapat terpelihara. Seprinsip dengan itu, Allah juga memberi manusia nafsu seksual agar manusia bisa melahirkan anak, dan dapat melanjutkan eksistensi umat manusia. Ingatlah, dalam Kejadian 2, baik nafsu makan maupun nafsu seksual, di dalamnya tidak mengandung dosa. Hingga hari ini pun tetap demikian. Kita harus mengetahui dengan jelas bagaimana pandangan Allah terhadap keinginan yang alami. Keinginan-keinginan itu baik, sebab semua itu ciptaan Allah sendiri.
2. Apakah Hawa Nafsu
Ketika saya lapar, saya boleh makan, dan saya makan dengan nikmat; inilah nafsu makan, bukan hawa nafsu. Tetapi jika saya lapar dan tidak ada makanan, kemudian saya ingin mencuri atau merampas makanan orang lain, atau makan dengan rakus dan ceroboh, itulah hawa nafsu. Ingin makan, itulah nafsu makan; ingin mencuri atau merampas makanan, atau makan dengan ceroboh, itulah hawa nafsu.
Sebagai orang Kristen, bila kita mempunyai makanan, kita makan; bila tidak mempunyai makanan, kita tidak makan. Saya yakin, diri kita tidak saja tidak ingin mencuri, bahkan niat mencuri pun tidak ada. Ini sesuai dengan ajaran dalam Matius 5. Tidak saja tidak ada perbuatan hawa nafsu, bahkan pikiran hawa nafsu pun tidak ada. Misalkan ketika saya melihat makanan, saya ingin makan, dan ketika saya makan, saya merasa sangat lezat, itulah nafsu makan; itu ciptaan Allah, dan di dalamnya sama sekali tidak terkandung dosa. Yang disebut berdosa ialah ketika tidak mempunyai makanan, dan menemukan makanan, lalu ingin mencurinya. Itulah hawa nafsu yang timbul karena adanya nafsu makan. Dalam Perjanjian Lama tercantum perintah “jangan mencuri”, tetapi dalam Perjanjian Baru, bila orang Kristen merasa lapar dan tidak mempunyai makanan, tidak saja dilarang mencuri makanan, bahkan pikiran mencuri pun tidak seharusnya ada. Itulah prinsip Matius 5. Perjanjian Lama melarang orang melakukan pencurian, tetapi Perjanjian Baru melarang orang memikirkan pencurian. Mencuri atau merampas itulah hawa nafsu, pikiran untuk mencuri atau merampas juga adalah hawa nafsu.
Demikian pula mengenai nafsu seksual. Kalau makan atau minum untuk memelihara eksistensi pribadi, maka seks untuk kelangsungan eksistensi umat manusia. Orang-orang dunia, bila mereka tidak memiliki, mereka mencuri, merampas, atau berniat mencuri atau merampas milik orang lain. Adakalanya mereka mengumbar nafsu, makan minum dengan lahapnya. Itulah yang disebut hawa nafsu. Kita harus tahu, baik nafsu makan maupun nafsu seksual, semua ada kemungkinan berubah menjadi hawa nafsu.
3. Salib telah Menanggulangi Hawa Nafsu
Seks dan makanan asalnya baik, tetapi keduanya ada kemungkinan berubah menjadi hawa nafsu. Itu disebabkan adanya tuntutan atau pikiran yang lain. Tuhan Yesus telah menanggulangi hal-hal ini di atas salib. Dia telah menanggulangi daging dengan hawa nafsu dan keinginannya. Ini sungguh suatu kabar sukacita yang sangat besar. Salib telah menanggulangi hawa nafsu dan keinginan daging kita. Sebab itu, tidak seorang Kristen pun yang perlu mencuri atau merampas, atau berpikir untuk mencuri dan merampas. Kita masing-masing tidak saja harus berkelakuan bersih, juga harus berpikiran bersih. Meskipun orang Kristen sering mengakui eksistensi dagingnya, tetapi setidak-tidaknya kita harus memiliki perbuatan dan angan-angan pikiran yang bersih. Sebab Tuhan telah merampungkan pekerjaan itu di atas salib-Nya.
4. Hayat Allah Mutlak Positif
Ini tidak berarti orang Kristen hari ini tidak perlu menanggulangi hawa nafsu, tetapi yang kita tekankan ialah bahwa Tuhan telah mengaruniakan kepada kita satu roh dan satu hayat baru. Roh baru memungkinkan kita menjamah Allah, sedang hayat baru memungkinkan kita mengekspresikan hayat Allah. Hayat Allah mutlak positif, bukan negatif. Bukan kita tidak menanggulangi hawa nafsu, melainkan kita tampak hayat yang positif ini, hayat baru ini, menampilkan hayat Allah. Ada roh baru di dalam kita yang memungkinkan kita menjamah Roh Allah. Perkara-perkara yang positif inilah yang memuaskan kita, sehingga kita tidak memperhatikan peraturan-peraturan pertapaan yang tidak boleh memakan, tidak boleh menjamah, atau tidak boleh menyentuh. Karena kita mempunyai yang positif, maka kita tidak memperhatikan segala yang negatif. Kita wajib senantiasa menjamah perkara-perkara yang positif dan yang mulia, yaitu menjamah Roh dan hayat. Bila kita menjamah yang positif itu, segala yang tidak boleh dikecap dan tidak boleh disentuh itu akan menjadi perkara yang sangat sepele. Setiap orang yang di dalam Tuhan harus sepenuhnya bebas dari perkara-perkara ini.
Hari ini, banyak orang dunia yang mempraktikkan pertapaan, yaitu menyiksa diri (ada juga segolongan orang Kristen yang demikian). Itu disebabkan mereka tidak memiliki yang positif itu. Jika mereka membuang pertapaan mereka, tidak akan ada yang tersisa pada diri mereka. Sehari suntuk mereka hanya mengekang diri dengan peraturan-peraturan; tidak boleh menjamah ini, tidak boleh mengecap itu, tidak boleh menyentuh ini, dan tidak boleh mendengar itu. Bila semua itu diambil dari mereka, mereka akan seperti kehilangan seluruh dunia mereka, sebab itu adalah dunia mereka.
VI. KEHIDUPAN ORANG KRISTEN BERSIFAT LUWES
Dalam Alkitab, masalah seperti makanan dan lain-lain sangat luwes. Anda boleh memakannya, Anda juga boleh tidak memakannya. Sebab dalam pandangan Allah semua itu perkara kecil, bukan perkara besar. Perkara yang besar dan penting ialah hayat Anak Allah, hayat Kristus yang di dalam kita. Jika yang mulia dan yang besar ini ada di antara kita, niscaya masalah sandang dan pangan akan menjadi masalah yang sepele. Karena itu, Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa kehidupan orang Kristen itu bersifat luwes.
Kalau Anda ingin mengenakan pakaian yang agak murah atau memakan makanan yang agak sederhana, itu baik juga. Tetapi jika Anda mampu membeli makanan atau pakaian yang agak mahal, itu pun boleh Anda lakukan. Demikian juga, kalau hari ini Anda demi Tuhan merasa tidak perlu menikah, itu sangat baik. Tetapi jika Anda merasa tindakan itu dapat merugikan diri Anda sendiri, Anda perlu menikah, itu pun baik. Orang yang tidak memiliki kekayaan Kristus, bila hal pernikahannya diambil, itu akan sama dengan mengambil dunianya. Tetapi orang yang mempunyai kekayaan Kristus, tetap dapat hidup, baik menikah maupun tidak menikah. Karena yang positif itu terlampau besar dan terlampau mulia, hal-hal lainnya itu menjadi sangat sepele. Berapa besar penilaian seseorang terhadap hal-hal itu akan mencerminkan berapa besar penilaiannya terhadap Kristus. Baik hal pernikahan maupun hal makanan, semua merupakan perkara yang kecil dalam kehidupan orang Kristen. Semua itu bukan perkara yang besar, bukan yang asasi.
Segala persoalannya tergantung pada pernyataan realitas rohani pada diri kita. Bila kemuliaan itu terwujud dengan sepenuhnya, maka perkara-perkara itu dengan sendirinya akan berada pada posisinya yang wajar. Sebaliknya, jika kemuliaan Kristus belum diperoleh, maka perkara-perkara kecil itu akan menjadi perkara-perkara besar. Hanya orang-orang yang tidak mengenal Tuhanlah yang berusaha menanggulanginya dengan praktik-praktik pertapaan. Bagi orang yang mengenal Tuhan, perkara-perkara itu mudah sekali diatasi.
1. Bukan Tidak Makan dan Tidak Minum, juga Bukan Makan dan Minum
Matius 11:16-19 mengatakan, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” Di sini kita tampak Tuhan Yesus sendiri tidak memberikan peraturan-peraturan yang ketat bagi kehidupan lahir orang Kristen. Ia berkata bahwa Yohanes datang, ia tidak makan dan tidak minum, sedangkan Ia sendiri makan dan minum. Inilah orang Kristen. Karena orang Kristen tidak mementingkan masalah makan dan minum di aspek luarnya. Makan minum atau tidak makan minum bukanlah masalah yang asasi. Yohanes tinggal di padang belantara, Tuhan Yesus mengikuti pesta kawin di Kana. Anda tampak di sini, Yohanes tidak makan, adalah orang Kristen; Tuhan Yesus makan, Ia pun orang Kristen. Karena kita memiliki Kristus yang mulia, perkara-perkara itu bukanlah masalah yang serius. Sebab itu, konsepsi kita harus berubah. Jangan selalu memperhatikan perkara-perkara itu, jangan mengangap tidak makan dan tidak minum sebagai kehidupan yang sejati. Ingatlah, orang Kristen bukan tidak makan dan tidak minum; orang Kristen juga bukan makan dan minum.
2. Pengaturan Roh Kudus; Segala Perkara Boleh Dilakukan
Filipi 4:11-13 mengatakan, “Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ingatlah, orang Kristen tidak harus kenyang, tidak harus lapar; tidak harus berkelimpahan, juga tidak harus berkekurangan. Baik berkelimpahan maupun berkekurangan, itu adalah pengaturan Roh Kudus. Dengan kata lain, semua itu adalah baik bagi kita, sebab bagaimanapun Tuhan akan selalu memberi kekuatan kepada kita. Inilah yang positif. Selain itu, semuanya adalah perkara kecil.
Saya harap setiap orang Kristen mempelajari kehidupan yang luwes ini di hadapan Allah. Orang Kristen tidak perlu menahan nafsu atau mengumbar nafsu. Orang Kristen selalu menempuh kehidupan yang luwes. Kelakuan lahiriahnya selalu menurut pengaturan Roh Kudus, bukan pilihannya sendiri.
3. Melampaui, bukan Menahan Nafsu
Perkataan Paulus dalam 1 Korintus 7:29-31 sangat istimewa, “Orang-orang yang beristri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; pendeknya, orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya.” Inilah orang Kristen. Karena Tuhan yang berhuni di batin Anda begitu besar, maka segala perkara yang di luar tidak menjadi masalah lagi. Kalau orang ingin menekannya, menahan nafsunya, itu membuktikan betapa hebatnya kekuatan itu. Semakin menahan nafsu, semakin dipenuhi oleh hawa nafsu. Hanya pada orang-orang yang dipenuhi oleh Kristus barulah tidak ada masalah pertapaan. Beristri seolah-olah tidak beristri; tidak beristri juga tidak mencari istri. Duka maupun suka tidak menjadi masalah. Membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang dibeli; mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Orang Kristen telah melampaui segala-galanya. Sebab itu, kehidupan orang Kristen bukan menurut ajaran pertapaan, melainkan melampaui pertapaan.
VII. JANGAN MENURUNKAN HARKAT KEKRISTENAN
Jangan sekali-kali memiliki konsepsi yang keliru, mengira kekristenan itu sama dengan pertapaan. Jangan sekali-kali menurunkan harkat kekristenan dengan menyeretnya ke dalam kategori pertapaan.
A. Beberapa Contoh
1. Sadhu Sundar Singh Enggan Tidur di Ranjang
Sadhu Sundar Singhadalah seorang penginjil kenamaan dari India. Ia pernah tinggal di Keswick (Inggris) selama setengah tahun. Ketika saya berkunjung ke kota itu, ada orang memberi tahu saya bahwa keluarga yang memberi tumpangan kepadanya merasa sangat dipersulit olehnya. Ketika itu cuaca sangat dingin, mereka telah menyediakan ranjang untuknya, tetapi setiap malam ia tidur di lantai. Ia benar-benar orang India tulen. Saya harap kita semua ingat, kehidupan yang sesuai dengan Alkitab ialah kita boleh tidur di ranjang maupun di lantai. Ada orang yang kekristenannya tidak boleh tidur di ranjang, bila ia tidur di ranjang, kekristenannya seolah-olah akan lenyap. Namun kita harus ingat bahwa kita perlu menjadi orang Kristen yang dapat tidur di ranjang maupun di lantai. Orang Kristen yang tidur di tanah atau di ranjang, sama-sama adalah orang Kristen. Jangan sekali-kali memperhatikan perkara-perkara yang di luar itu. Bila seseorang memperhatikan perkara-perkara yang di luar, ia akan menurunkan harkat kekristenan, dan menyeret kehidupan rohani yang mulia ke dalam peraturan yang tidak berarti. Kita harus tampak perkara-perkara yang mulia dan jangan berputar-putar dalam peraturan yang mana pun.
2. Telah Bertunangan Masih Dapat Berkhotbah
Ada seorang saudara pekerja yang rupanya agak percaya kepada pertapaan. Pada suatu hari, ia bertunangan dengan seorang saudari dan esok harinya kebetulan adalah Hari Tuhan. Waktu itu saya berjumpa dengan dia, dan dia memberi tahu saya suatu perkara yang menggelikan. Katanya, “Setelah saya berkhotbah pada hari Minggu itu, saya merasa sangat gembira, sebab saya heran bahwa kemarinnya saya baru saja bertunangan, tetapi pada hari berikutnya saya masih dapat berkhotbah!” “Apakah Anda kira setelah bertunangan tidak dapat berkhotbah?” tanya saya. Saudara ini mengira, kalau kemarin bertunangan, pasti hari ini tidak dapat berkhotbah. Konsepsi macam apakah yang ia miliki? Dengan tanpa sadar ia telah memasukkan konsepsi pertapaan. Kita harus menjadi penjaga pintu, tidak mengizinkan hal-hal pertapaan menyelundup ke dalam gereja. Banyak perkara mulia yang harus kita jamah, Tuhan kita telah bangkit dari kematian, dan kini Ia telah duduk di surga. Jika terang wahyu ini semakin besar pada dirinya, niscaya perkara-perkara luar itu akan menjadi semakin sepele baginya. Di bawah hayat yang sedemikian besar ini, perkara-perkara itu akan menjadi sangat kecil.
3. Setelah Menikah, Meninggalkan Istri Selama Dua Bulan
Ada seorang pendeta tua yang sangat memuji kelakuan seorang pendeta muda di Shantung, katanya, ia sangat baik, sebab setelah ia menikah, pada hari itu juga ia pergi memberitakan Injil, dan selama dua bulan tidak berjumpa dengan istrinya. Itulah pertapaan. Kalau kita membaca Perjanjian Lama, kita malah tampak bahwa orang yang baru menikah, dalam jangka waktu satu tahun tidak boleh ikut berperang. Alkitab sangat mementingkan hari itu. Itu sama sekali bukan soal hawa nafsu. Kekristenan sama sekali bukan pertapaan; itu bukan yang dititikberatkan oleh kekristenan. Kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman. Makan banyak atau sedikit sama sekali bukan masalah. Kerajaan Allah adalah perkara kekuasaan Roh Kudus. Jika Anda tidak mempunyai kekuasaan Roh Kudus, melainkan cenderung pada apa yang tidak boleh dijamah atau disentuh, itu berarti Anda sudah berkontak dengan dunia, dan telah memperhatikan perkara-perkara duniawi. Kita harus ingat, Paulus menganggap perbuatan itu dosa, maka kita pun harus menghakiminya sebagai dosa.
4. Mengenakan Mantel Tidak Dapat Bekerja
Suatu kali, dua orang saudari di Shanghai diutus untuk bekerja di daerah utara Sungai Yangtze. Karena saat itu cuaca sangat dingin, mereka berdua mengenakan mantel. Kemudian di sana ada orang-orang Kristen berkata, “Kami tidak percaya apakah mungkin kaum wanita bekerja sambil mengenakan mantel.” Mereka mengira kebenaran Allah tergantung pada mantel, maka kalau ada orang mengenakan mantel, ia tidak dapat berkhotbah. Kekristenan tidak tergantung pada mantel. Alangkah kasihan jika ada orang Kristen yang kekristenannya tergantung pada mantel.
VIII. KEKRISTENAN MELAMPAUI SEGALA-GALANYA
Kita harus ingat, penderitaan dalam Alkitab bukan semacam itu. Andaikata begitu, maka setiap buruh atau pekerja kasar akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, sebab mereka jauh lebih menderita secara fisik daripada kita. Jangan sekali-kali memasukkan konsepsi itu ke dalam kekristenan. Konsepsi agama penyembah berhala sekali-kali tidak dapat kita bawa masuk. Setiap orang yang takwa kepada Allah harus membenci hal itu, sebab mereka ingin mencampakkan kemuliaan Tuhan ke dalam debu, dan mereka selalu ingin mencuri kemuliaan hayat Tuhan. Saya harap orang-orang Kristen memperhatikan di hadapan Allah bahwa kekristenan sama sekali bukan masalah makan dan minum.
Kalau kekristenan hanya masalah makan, minum, pakaian atau ranjang, maka kekristenan yang kita beritakan akan menjadi hambar, dan tidak berbeda dengan apa yang diajarkan oleh orang-orang dunia. Namun, hari ini saya dapat berdiri di puncak gunung dan berseru lantang: Kekristenan saya berbeda dengan kalian dalam hal memakai atau tidak memakai, makan atau tidak makan, gembira atau duka, mempergunakan barang-barang duniawi atau tidak mempergunakan barang-barang duniawi. Kekristenan saya mengungguli segala-galanya. Tuhan Yesus, Putra Allah, dan hayat yang mulia itu tinggal di dalam saya, dan setiap hari saya dibawa ke surga untuk menjamah kemuliaan yang ada di atas takhta. Inilah kekristenan. Jika Allah memperbesar perkara-perkara yang positif ini di atas diri kita, maka perkara-perkara yang sepele itu akan berlalu dan sirna tak berbekas. Semoga kita dapat benar-benar tampak bahwa kehidupan orang Kristen bukanlah pertapaan, melainkan kehidupan yang luwes. Karena Yang ada di dalam kita sangatlah amat besar dan sangatlah mulia!