Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 37/50

PENYELESAIAN PERKARA-PERKARA LAMPAU

Hari ini kita ingin mengajukan satu pertanyaan, yaitu bagaimana seseorang yang telah percaya Tuhan menyelesaikan perkara-perkara yang lampau? Setelah seseorang percaya kepada Tuhan, pasti masih ada banyak perkara yang lampau yang belum diselesaikan, bagaimana seharusnya ia menyelesaikan semua itu?

I. ALKITAB HANYA MENGAJAR KITA

BAGAIMANA SEHARUSNYA SEKARANG DAN SETERUSNYA

Dari seluruh Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, khususnya Perjanjian Baru, kita tampak Allah tidak memperhatikan perkara-perkara yang diperbuat seseorang sebelum ia percaya. Anda boleh membaca dari Matius 1 hingga Wahyu 22, dapatkah Anda menemukan ayat-ayat yang mengajar orang yang percaya Tuhan harus bagaimana menyelesaikan perkara-perkaranya yang lampau? Kalau Anda membaca Alkitab, Anda pasti akan berkata, “Sungguh sulit menemukannya.” Sekalipun ajaran dalam surat-surat rasuli banyak menyinggung masalah ketidakbenaran perbuatan kita di masa lampau, namun semua hanya menasihati kita bagaimana seharusnya perbuatan kita sekarang dan seterusnya, tidak mengajar kita bagaimana seharusnya terhadap perkara-perkara lampau. Surat-surat rasuli seperti Efesus, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, banyak menyinggung bagaimana keadaan kita di masa lampau, tetapi tidak membicarakan bagaimana seharusnya menyelesaikan perkara-perkara lampau tersebut, hanya membicarakan bagaimana seharusnya sekarang dan seterusnya.

Anda tentu masih ingat, ada seorang bertanya kepada Yohanes pembaptis, “Apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes, “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” Lihatlah, ia tidak membicarakan yang lampau, melainkan yang sekarang dan seterusnya. Ada lagi seorang pemungut cukai bertanya kepadanya, tentang apa yang wajib ia perbuat. Jawab Yohanes, “Janganmenagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.” Lalu ada lagi seorang prajurit bertanya kepadanya, “Apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Ini memperlihatkan kepada kita bahwa sebagai pemberita pertobatan, Yohanes hanya memperhatikan bagaimana sekarang dan seterusnya, tidak memperhatikan bagaimana perkara-perkara yang lampau.

Apabila kita membaca Surat Kiriman Paulus, ia pun selalu memperhatikan bagaimana kita seharusnya kemudian, tidak membicarakan bagaimana seharusnya terhadap perkara-perkara lampau. Mengapa demikian? Sebab segalanya telah berada di bawah naungan darah adi-Nya. Bila kita tidak berhati-hati sedikit saja, kita akan menyalahkan Injil Tuhan, merusak jalan pertobatan, dan merusak jalan ganti rugi. Maka masalah ini wajib kita bereskan dengan sebaik-baiknya.

Tertulis dalam 1 Korintus 6:9-11, “Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, pezina, laki-laki yang bersetubuh dengan sesama jenisnya, pasangan orang yang berbuat demikian, pencuri, orang tamak, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Beberapa orang di antara kamu memang demikian dahulu.” Paulus mengatakan bahwa mereka dahulu melakukan perkara-perkara itu, namun tidak dikatakan tentang penyelesaiannya. Selanjutnya dikatakan, “Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” Titik berat perkataan ini pun bukan pada penyelesaian perkara-perkara lampau. Karena ada seorang Juruselamat yang telah membereskan segala hal yang lampau, maka yang diperhatikan hari ini ialah bagaimana selanjutnya. Orang yang sudah beroleh selamat telah disucikan, dikuduskan, dan dibenarkan.

Efesus 2:1-5 mengatakan, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu (tetap membicarakan yang lampau) kita semua juga termasuk di antara mereka, ketika kita hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita yang jahat. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita.” Di sini tidak dikatakan bagaimana seharusnya orang menyelesaikan perkara-perkara hawa nafsu dagingnya yang sebanyak itu; hanya ada satu penyelesaian, yaitu Tuhan telah membereskan semuanya bagi kita berdasarkan kasih Allah yang besar dan berdasarkan rahmat-Nya yang kaya itu.

Efesus 4:17-24 juga membicarakan keadaan kita di masa lampau, “Sebab itu, kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup yang berasal dari Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kekerasan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar . . . harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

Efesus 4:25-31 mengatakan, “Karena itu buanglah dusta.” Kalimat ini ditujukan pada masa sekarang dan seterusnya, berarti jangan berdusta lagi mulai sekarang dan seterusnya. Tidak disinggung bagaimana tentang dusta-dusta yang lampau. Dikatakan pula bahwa hari ini, “Berkatalah benar seorang kepada yang lain . . . Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu dan janganlah beri kesempatan pada Iblis.” Kata-kata ini semua bukan ditujukan pada masa lampau, melainkan sekarang dan seterusnya. “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi.” Rasul tidak mengatakan bahwa yang dahulu mencuri harus mengembalikan barang curiannya, melainkan jangan mencuri lagi sekarang dan seterusnya. Apakah barang yang dicuri itu harus dikembalikan, itu masalah yang lain. “Baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri . . . Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh anugerah. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, . . . segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”

Efesus 5:3-4 mengatakan, “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.”Perkataan ini pun seprinsip dengan yang di depan, yaitu membicarakan perkara sekarang dan seterusnya, atau perkara yang harus dilakukan setelah orang percaya Tuhan, bukan penyelesaian perkara sebelum orang percaya.

Bila kita membaca surat-surat rasuli, kita akan menemukan satu kebenaran yang sangat ajaib, yaitu Allah mementingkan perbuatan seseorang setelah ia percaya Tuhan, Allah tidak mementingkan perkara yang ia lakukan sebelum percaya Tuhan; itulah sebabnya tidak dikatakan kepada kita bagaimana seharusnya kita membereskannya. Ini adalah masalah yang mendasar.

Banyak penginjil yang keliru, yang menekankan pemberesan perkara-perkara lampau secara berlebihan, akibatnya, banyak orang yang terjerumus ke dalam belenggu. Bukan kita tidak mau membereskan perkara yang lampau, memang ada beberapa hal yang harus kita bereskan, namun bukan itu yang menjadi dasarnya. Allah selalu menitikberatkan tertutupnya dosa-dosa kita yang lampau di bawah darah; kita telah beroleh pengampunan dan beroleh selamat karena Tuhan Yesus telah mati bagi kita. Keselamatan kita bukan berdasarkan pemberesan atas perkara-perkara kita yang lampau. Keselamatan orang bukan berdasar pada kebaikan tingkah laku yang lampau, juga bukan berdasarkan pada pertobatannya atas keburukan tingkah lakunya masa lampau, melainkan berdasar pada keselamatan salib Tuhan Yesus. Inilah dasarnya, kita wajib berpegang teguh pada dasar ini.

II. TELADAN PENYELESAIAN PERKARA-PERKARA LAMPAU

DALAM PERJANJIAN BARU

Jika demikian, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap perkara-perkara yang lampau? Saya telah menghabiskan banyak waktu untuk membaca kitab Perjanjian Baru, dan selalu timbul pertanyaan, bagaimana orang yang telah percaya Tuhan menyelesaikan perkara-perkara yang lampau? Akhirnya saya hanya menemukan beberapa tempat yang menyinggung sedikit tentang masalah ini, tetapi semuanya bukan merupakan ajaran, melainkan suatu teladan.

A. Perihal Berhala Wajib Dibereskan Secara Tuntas

Tertulis dalam 1 Tesalonika 1:9, “Berbalik dari berhala-berhala kepada Allah.” Ketika seseorang percayakepada Tuhan, perihal berhala wajib dibereskan. Kita harus ingat, kita adalah bait Roh Kudus. Masakan bait Allah sepadan dengan berhala? Bahkan ketika rasul Yohanes melihat orang-orang yang percaya, ia berpesan kepada mereka, “Anak-anakku, waspadalah (jauhkan dirimu) terhadap segala berhala.” Jadi, masalah ini tidak sesederhana seperti yang kita duga.

Ada satu hal yang perlu kita perhatikan, yaitu Allah selalu melarang orang “mematungkan” segala benda. Setiap benda buatan manusia tidak seharusnya dianggap sebagai benda hidup. Begitu Anda menganggap demikian, benda itu segera menjadi berhala. Memang berhala sebenarnya tidak berarti apa-apa, tetapi tidaklah pada tempatnya kalau kita menganggapnya hidup. Karena itu, penyembahan atau pemujaan terhadap barang-barang tersebut merupakan hal-hal yang terlarang, bahkan kecenderungan dalam hati terhadap patung-patung itu pun terlarang. Larangan untuk membuat patung adalah salah satu hukum dari kesepuluh hukum (Ul. 5:8).

Dikatakan dalam Ulangan 12:30, “Jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka?” Ayat ini menerangkan kepada kita, sekalipun hanya bertanya bagaimana orang kafir menyembah allah mereka, itu pun tidak seharusnya. Ada orang selalu ingin tahu, atau senang menyelidiki bagaimana cara orang kafir beribadah kepada allah mereka. Namun Allah melarang kita menyelidiki hal itu. Sebab kalau Anda menanya-nanya (menyelidiki) mereka, akhirnya Anda akan menuruti perbuatan mereka. Maka rasa ingin tahu itu harus dicegah.

Dalam 2 Korintus 6:16 dikatakan, “Apa hubungan bait Allah dengan berhala?” Maksud ungkapan ini sangat jelas. Orang Kristen tidak diperkenan mengunjungi tempat-tempat pemujaan berhala; kalau terpaksa harus berteduh di tempat-tempat tersebut di atas gunung karena tidak ada tempat lain untuk berlindung, itu perkara lain. Bagaimanapun, orang beriman tidak seharusnya mengunjungi tempat-tempat itu. Karena dalam 2 Korintus 6 jelas dikatakan bahwa tubuh kita ini bait Roh Kudus, dan dikatakan pula bahwa berhala tidak ada hubungan dengan bait Roh Kudus. Kecuali dalam keadaan yang luar biasa, saya tidak bisa berkata apa-apa; tetapi tidaklah wajar kalau kita sengaja mengunjungi, bermain, dan menghampiri tempat-tempat berhala itu. Kata Yohanes, “Anak-anakku, jauhkanlah dirimu dari segala berhala.” Kata “Jauhkan diri” di sini berarti “jangan menghampiri.”

Dalam Mazmur 16:4 tercantum, “Juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.” Maka, bahkan di atas mimbar pun harus kita hindari penyebutan nama-nama ilah lain itu; kecuali terpaksa harus memakainya sebagai perumpamaan. Demikian pula dengan berbagai jenis takhayul, kekhawatiran nasib, tanda-tanda, atau ucapan-ucapan pantangan terhadap ini dan itu, semuanya harus dibuang. Banyak orang beriman yang masih memperhatikan masalah nasib, wajah, dan hari depan. Semua perkara yang bersifat nujum atau ramalan juga adalah yang terlarang. Setiap benda yang termasuk dalam kategori berhala, tanpa terkecuali, harus diakhiri di hadapan Allah, sehingga kita sama sekali putus hubungan dengannya.

Sejak hari pertama, orang beriman baru harus sudah meninggalkan berhala, jangan menyebut-nyebut nama berhala lagi, jangan meramal nasib pribadi, jangan mendekati kuil-kuil. Bukan saja tidak boleh menyembah benda-benda yang dipatungkan, bahkan dalam angan-angan pun tidak boleh. Jangan menyelidiki agama lain berikut cara ibadah mereka. Itulah perkara lampau yang wajib kita selesaikan. Setiap barang yang termasuk kategori itu harus dicampakkan, dibasmi, atau dibakar, jangan dijual. Mengenai hal ini, saya harap, orang yang baru percaya harus serius menanganinya, tidak boleh sembarangan. Sebab Allah sangat cemburu terhadap berhala.

Jika hari ini Anda tidak bersikap tegas terhadap perkara berhala, kelak Anda tidak dapat mengatasi berhala yang terbesar di bumi ini. Bukan hanya tidak boleh menyembah berhala yang terbuat dari tanah atau yang terukir dari kayu, berhala-berhala yang hidup pun tidak boleh disembah. Berhala yang hidup sungguh ada, orang yang berdosa besar itu pun berhala. Anda wajib ingat, berhala harus kita singkirkan. Sekalipun barang-barang yang disebut sebagai patung atau gambar Tuhan Yesus, atau Maria, tidak sepatutnya disembah.

Hal ini harus kita bereskan secara tuntas. Jika tidak, kita akan tersesat ke jalan lainnya. Ibadah kita bukan dalam daging, melainkan dalam roh. Allah mencari penyembah-penyembah dalam roh, bukan dalam daging. Allah itu Roh, Ia bukan sebuah patung/gambar. Bila saudara saudari dapat menyingkirkan berhala, kelak pasti takkan terperosok ke dalam kekuasaan Katolik. Pada suatu hari nanti Antikristus akan datang, kekuasaanagama Katolik akan berkembang secara besar-besaran.

Menolak berhala-berhala yang lampau, itulah perkara lampau pertama dalam Alkitab yang harus kita selesaikan. Kita harus menolak semua berhala sambil menantikan kedatangan yang kedua kali dari Putra Allah. Sekalipun barang-barang yang disebut sebagai patung atau gambar Tuhan Yesus, tidak seharusnya kita pasang atau simpan. Sebenarnya itu bukan gambar Tuhan Yesus yang sesungguhnya, maka, itu tidak berharga sama sekali.

Di museum Roma terdapat lebih dari dua ribu macam patung/gambar Tuhan Yesus, semua hanyalah hasil karya dari khayalan pelukis atau pemahat. Di luar negeri, banyak pelukis yang sering pergi ke mana-mana, jika mereka menemukan orang yang dianggap mirip dengan Tuhan Yesus, orang itu diberi uang, lalu disuruh duduk dan kemudian dilukis gambarnya. Saya katakan kepada Anda, itulah penghujatan/penghinaan terhadap Allah. Allah adalah Allah yang cemburu, Ia tidak dapat membiarkan adanya perkara tersebut. Ketakhayulan macam apa pun tidak seharusnya ada pada kita. Misalkan ada orang berkata bahwa suasana beberapa hari ini kurang baik, nasib sangat buruk sekali, perkataan-perkataan semacam ini mutlak berasal dari neraka. Anak-anak Allah, sejak hari pertama menjadi orang Kristen, harus menyapu bersih dan membereskan secara tuntas setiap berhala, jangan sekali-kali membiarkan bau berhala itu masuk ke dalam kita.

B. Benda-Benda yang Tidak Wajar

Harus Dibereskan

Tertulis dalam Kisah Para Rasul 19:19, “Banyak juga di antara mereka, yang pernah melakukan sihir, mengumpulkan kitab-kitabnya lalu membakarnya di hadapan semua orang. Nilai kitab-kitab itu ditaksir lima puluh ribu uang perak.” Hal ini pun harus diakhiri dan diselesaikan oleh setiap orang yang baru percaya.

Namun ini bukan perintah atau ajaran, melainkan hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus dapat bekerja sedemikian rupa sehingga orang-orang itu dapat mengeluarkan benda-benda mereka yang tidak wajar. Harga benda-benda itu ditaksir seharga lima puluh ribu uang perak; dapat dikatakan sangat berharga. Tetapi benda-benda itu bukan dijual, lalu uangnya diberikan kepada gereja, melainkan dibakar. Andaikata pada saat itu ada Yudas, pasti ia tidak menyetujui perbuatan itu. Sebab uang sejumlah lebih dari tiga puluh dinar, tentu boleh disedekahkan kepada orang miskin. Tetapi Tuhan lebih senang melihat benda-benda itu terbakar habis.

Kecuali itu, ada banyak benda yang mencurigakan yang juga harus dibereskan. Ada benda yang nyata sekali bertalian dengan dosa, misalnya, macam-macam alat perjudian, buku atau lukisan-lukisan yang tidak wajar, haruslah dibakar. Mungkin masih ada banyak barang mewah, yakni yang dinikmati secara berlebihan, meski tidak dapat dibakar, tetap harus dibereskan juga. Pembakaran hanya merupakan satu prinsip.

Setelah seseorang percaya Tuhan, ia harus pulang ke rumah dan memeriksa barang-barangnya sendiri. Di rumah orang yang belum percaya, pasti ada benda-benda yang bertalian dengan dosa, ada pula barang yang tidak sesuai dengan martabat orang kudus. Benda-benda yang bertalian dengan dosa tidak dapat dijual, itu harus dimusnahkan atau dibakar. Benda-benda mewah kalau dapat diubah, boleh dipakai lagi; jika tidak dapat diubah, harus dijual.

Kitab Imamat 13 dan 14 membicarakan tentang baju yang dipakai oleh orang yang berpenyakit kusta, itu satu contoh yang sangat baik. Baju itu kalau tidak dapat dicuci, harus dibakar; kalau dapat dicuci, boleh dipakai lagi. Ada pakaian yang modelnya tidak wajar, itu harus diubah. Mungkin ada yang terlalu pendek, harus diubah menjadi agak panjang; ada yang modelnya terlalu ganjil, harus diubah menjadi normal. Ada yang sama sekali tidak dapat diubah, yang dalamnya mengandung unsur dosa, itu harus dibakar. Dan ada juga yang boleh dijual, dan uangnya boleh disedekahkan kepada orang miskin.

Benda-benda yang tidak wajar harus dibereskan. Apabila setiap orang yang baru percaya bisa membereskan barang-barangnya secara tuntas, ia akan mempunyai satu pengalaman yang baik. Benda yang berbau takhayul harus dibakar. Ada beberapa benda harus diubah dulu baru boleh dipergunakan lagi, atau setelah diubah baru dijual. Ketahuilah, sejak hari pertama sudah mempelajari pelajaran ini, seumur hidup takkan terlupakan. Kita harus tahu bahwa menjadi orang Kristen adalah satu perkara yang riil, bukan sekadar ikut kebaktian dan mendengarkan khotbah di gedung gereja saja.

C. Yang Merugikan Orang Harus Mengganti Rugi

Lukas 19:8 mengatakan, “Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, ‘Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.’” Perbuatan Zakheus ini bukan menuruti ajaran, melainkan karena gerakan Roh Kudus. Kalau itu ajaran, tentu tidak dapat banyak, tidak dapat pula sedikit. Tetapi kalau itu gerakan Roh Kudus, lebih banyak sedikit atau lebih kurang sedikit boleh saja. Kata Zakheus, “Sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Sebenarnya, dikembalikan dua kali lipat juga boleh. Prinsip dalam kitab Imamat ialah menambah seperlima. Misalnya, seribu dolar dikembalikan seribu dua ratus dolar. Hanya saja bila tergerak, itu tergantung bagaimana kehendak Roh Kudus. Kalau Roh Kudus menggerakkan Anda mengembalikan empat kali lipat atau sepuluh kali lipat, itu boleh saja. Di sini kita hanya membicarakan prinsipnya. Karena itu ketika Anda membaca Alkitab, Anda harus jelas, ini bukan membicarakan masalah ajaran, melainkan pimpinan dari pekerjaan Roh Kudus.

Kalau dahulu sebelum percaya Tuhan, Anda pernah memeras, menipu, mencuri, atau memperoleh barang dengan cara yang tidak halal, sekarang Tuhan bekerja di dalam Anda, maka Anda wajib melakukan pemberesan dengan sebaik-baiknya atas hal tersebut. Hal itu tidak berhubungan dengan pengampunan yang Anda peroleh di hadapan Tuhan, melainkan berhubungan dengan kesaksian Anda.

Misalnya, sebelum percaya Anda pernah mencuri uang si anu sebanyak seribu dolar, kalau setelah percaya Tuhan Anda tidak membereskannya dengan dia, bagaimana Anda dapat memberitakan Injil kepadanya? Kalau Anda memberitakan Injil, mungkin dalam hati ia selalu ingat akan seribu dolarnya yang Anda curi itu. Memang benar, di hadapan Allah, Anda telah beroleh pengampunan, tetapi di hadapan orang itu, Anda kehilangan kesaksian. Anda tidak dapat berkata, karena Allah telah mengampuni Anda, maka Anda tidak perlu mengembalikan uang itu kepadanya. Tidak, hal itu bersangkutan dengan kesaksian Anda.

Kita harus ingat, Zakheus mengembalikan empat kali lipat ialah untuk kesaksian. Pada waktu itu, semua orang berkata, bagaimana Tuhan bisa mengunjungi rumah orang berdosa ini? Entah berapa banyak orang yang pernah diperas dan ditipunya! Orang-orang itu tidak dapat menerima. Tetapi pada saat itulah Zakheus berdiri dan berkata, “Sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, akan kukembalikan empat kali lipat.” Pengembalian empat kali lipat ini bukan sebagai syarat bagi Zakheus untuk menjadi anak Abraham, pun bukan syarat untuk terjadi keselamatan di rumahnya, melainkan buah yang dihasilkan dari keselamatan yang terjadi di rumahnya, dan itulah hasil dari ia menjadi anak Abraham. Dengan adanya pemulihan kelakuan yang demikian, Zakheus memiliki kesaksian di hadapan orang. Inilah yang menjadi dasar kesaksian.

Saya mengenal seorang saudara yang tidak begitu beres dalam hal keuangan sebelum ia percaya Tuhan. Teman sekolahnya kebanyakan berasal dari golongan menengah ke atas. Setelah ia percaya Tuhan, ia bergairah sekali memimpin teman-temannya itu berpaling kepada Tuhan, namun tidak berdaya. Walaupun ia sangat bergairah memberitakan Injil kepada teman-temannya, teman-temannya berkata, mana ada perkara yang demikian? Uangnya belum beres! Kesan buruk mereka terhadapnya di masa lampau belum terhapus. Saudara ini belum berbuat seperti Zakheus. Walau di hadapan Allah dosanya telah diampuni, segala persoalannya telah usai, tetapi ia belum beres di hadapan teman-teman sekolahnya. Ia harus mengakui kesalahannya yang lampau, dan harus mengganti rugi, dengan demikian barulah ia dapat bersaksi. Pemulihan kesaksian tergantung pada penyelesaiannya atas perkara-perkara yang lampau.

Tadi telah saya katakan, Zakheus bukan menjadi anak Abraham dan beroleh keselamatan karena mengembalikan atau mengganti rugi empat kali lipat, sebaliknya, ia dapat mengganti rugi empat kali lipat karena telah menjadi anak Abraham dan telah beroleh selamat. Tujuan atau manfaat mengganti rugi empat kali lipat dari Zakheus ini ialah untuk menutup mulut orang, agar mereka tidak dapat bersungut-sungut lagi. Jumlah empat kali ini telah melampaui utangnya kepada mereka, karena itu mereka tidak dapat berkata apa-apa, dan kesaksiannya dapat terpulihkan.

Saudara saudari, pernahkah Anda bersalah terhadap orang lain sebelum Anda percaya Tuhan? Pernahkah Anda sembarangan membawa barang orang lain ke rumah Anda? Pernahkah Anda dengan tipu daya memperoleh sesuatu? Jika ya, haruslah dibereskan. Pertobatan orang awam, hanya mengubah kelakuan saja; tetapi pertobatan orang Kristen, harus pula mengakui kesalahan yang lampau. Misalnya, saya pemarah, sekarang saya tidak marah-marah lagi, itu sudah cukup. Tetapi kalau saya adalah orang Kristen, saya masih perlu mengakui kesalahan amarahku pada masa lampau. Jadi tidak saja di hadapan Allah tidak marah lagi, bahkan harus mengakui pula kesalahan kemarahan yang lampau itu di hadapan orang. Dengan demikian, barulah perkara tersebut dapat dianggap beres atau selesai.

Jika kasus Anda dibicarakan di hadapan Allah, asalkan Anda mulai sekarang tidak mencuri lagi, tidakmengambil barang orang lain, itu sudah beres. Namun di hadapan orang tidaklah demikian. Sungguhpun selama tiga tahun Anda sudah tidak mencuri, tetapi orang tetap mengatakan Anda pencuri. Sebab itu, setelah Anda percaya Tuhan, Anda harus bersaksi di hadapan orang, yaitu membereskan kesalahan-kesalahan yang lampau. Setelah demikian, kedudukan Anda baru menjadi beres.

Di sini terdapat satu persoalan yang sulit. Misalkan Anda telah mencuri uang sebanyak sepuluh ribu dolar, tetapi saat ini bahkan uang seribu dolar saja Anda tidak punya, bagaimana seharusnya? Pada prinsipnya, Anda tetap harus mengaku dengan terus terang kepada pemiliknya, bahwa Anda dahulu mencuri uang itu, sekarang tidak dapat menggantinya. Dapat mengganti atau tidak, itu perkara lain, tetapi Anda tak dapat tidak mengaku dan bersaksi. Jika tidak demikian, seumur hidup, Anda tidak akan ada kesaksian. Anda harus ingat, walau ketika Anda bersaksi ada kesulitan pribadi, namun hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk membatalkan pemberesan Anda. Anda tetap harus membereskannya, setelah itu baru Anda mempunyai kesaksian di hadapan orang.

Bagaimana dengan orang yang pernah melakukan pembunuhan? Hal itu pun merupakan perkara yang lampau. Bagaimana pemberesannya? Dalam Alkitab tercatat dua pembunuh yang beroleh selamat, yang satu melakukan pembunuhan secara langsung, yang satu lagi secara tidak langsung. Pembunuh yang langsung itu ialah penjahat yang di atas salib. Dalam bahasa Yunani, istilah penjahat jelas sekali, yaitu bukan penjahat biasa, melainkan pembunuh dan pembakar rumah. Ia bukan pencopet, melainkan penyamun yang sekaligus pembunuh. Karena ia percaya Tuhan, dosanya telah diampuni; Alkitab tidak mengisahkan bagaimana ia membereskan perkaranya yang lampau. Satu lagi ialah Paulus. Paulus tidak membunuh secara langsung, tetapi pada saat Stefanus dibunuh, ia membantu mereka, dan menjaga pakaian pembunuh-pembunuh Stefanus itu. Setelah Paulus beroleh selamat, kita tidak tampak bagaimana ia membereskan perbuatan itu.

Maka pada prinsipnya saya percaya, pembunuh yang telah percaya Tuhan, dosanya tetap sebagai perkara yang lampau. Tidak ada satu dosa pun yang tidak dapat disucikan oleh darah. Penjahat itu tidak menyelesaikan perkaranya yang lampau, karena ia tidak berkesempatan membereskan perkaranya. Kata Tuhan kepadanya, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Sebab itu, bila kitamenjumpai keadaan seperti ini, janganlah kita membebani hati nurani orang terlalu berat, kecuali Allah bekerja di dalamnya. Sebab dalam Perjanjian Baru terdapat dua orang yang masing-masing menjadi pembunuh langsung dan tidak langsung, kepada mereka Allah tidak memperhatikan pemulihan perkara-perkara mereka yang lampau. Namun, saya yakin, ada orang merasa tidak damai dalam hati nuraninya, itu dikarenakan pekerjaan Allah, bukan tuduhan biasa. Kalau orang-orang demikian ingin memberi suatu pernyataan kepada keluarga orang yang terbunuh, kita tidak akan menghalanginya.

D. Penyelesaian Perkara-perkara yang Belum Dapat Diselesaikan

Ketika seseorang beroleh selamat, pada dirinya pasti masih ada banyak perkara duniawi yang belum diselesaikan, hal ini seolah-olah mudah sekali menghalanginya untuk mengikuti Tuhan. Bagaimana menyelesaikan hal tersebut? Matius 8:22 mengatakan, “Tetapi Yesus berkata kepadanya, ‘Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.’” Ini pun merupakan satu cara penyelesaian perkara-perkara lampau dalam Alkitab. Di sini ada seorang berkata kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Jawab Tuhan, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” Kata “mereka” ini ditujukan kepada “orang-orang mati” yang pertama, sedang “orang mati” kedua ditujukan kepada ayahnya. Orang-orang mati pertama bermakna rohani; orang-orang dunia di hadapan Allah semuanya dianggap sebagai orang mati. Perkataan Tuhan ini berarti, biarlah orang-orang mati itu menguburkannya, tetapi engkau ikutlah Aku.

Saya bukan menganjuri orang-orang yang baru percaya agar jangan mengurusi urusan perkabungan ayahnya, melainkan biarlah orang-orang mati yang menguburkan orang mati. Prinsip ini harus kita pegang. Jadi, biarlah mereka yang menyelesaikan perkara yang belum dapat diselesaikan itu. Kalau kita ingin menyelesaikan perkara-perkara itu dulu, seumur hidup pun tidak akan ada kesempatan untuk menjadi orang Kristen. Urusan-urusan keluarga belum selesai, urusan ayah belum selesai, urusan kehidupan belum selesai. Ya, ada ratusan bahkan ribuan urusan yang belum kita selesaikan; kalau ingin semua diselesaikan dulu, siapa yang dapat menjadi orang Kristen? Maka prinsipnya hanya satu kalimat, yaitu semuanya itu adalah orang mati; biarlah orang mati yang menguburkan orang mati! Biarkanlah orang mati itu (mati secara rohani atau jasmani) yang menyelesaikan urusan orang mati. Inilah satu prinsip. Di sini bukan menganjuri orang yang baru percaya mulai sekarang dan seterusnya tidak mengurusi urusan keluarga; melainkan jangan menunggu sampai urusan duniawi selesai, baru datang kepada Tuhan. Jika demikian, selamanya Anda tidak mungkin mengikuti Tuhan.

Banyak orang ingin membereskan urusan-urusannya dulu baru percaya kepada Tuhan, kalau demikian mereka tidak mungkin berkesempatan untuk percaya kepada Tuhan. Itu semua adalah urusan orang mati, janganlah Anda tertambat olehnya. Dari pihak kita, harus memandang urusan-urusan yang belum diselesaikan itu telah berakhir. Bila Anda ingin menyelesaikan dulu baru datang mengikuti Tuhan, niscaya Anda tidak mungkin menyelesaikannya, Anda harus menyelesaikan perkara berhala secara tuntas, demikian pula dengan benda-benda yang tidak wajar dan kesalahan terhadap orang. Tetapi mengenai urusan-urusan yang tidak dapat diselesaikan, anggaplah sudah selesai!

Menurut apa yang dapat saya temukan dalam firman Allah, mungkin hanya keempat jenis hal ini yang menjadi sikap yang seharusnya dipegang oleh setiap orang yang baru percaya dalam menyelesaikan perkara-perkara yang lampau. Banyak perkara lain yang terkecuali, yang tidak dapat diselesaikan, anggaplah sudah selesai. Misalkan tentang masalah rumah tangga (keluarga), biarlah orang mati yang mengurusinya, kita tidak ada waktu untuk itu, kita harus mengikuti Tuhan. Perkara-perkara itu bukan Anda yang menyelesaikan, biarlah diselesaikan oleh orang mati; biarlah orang yang mati secara rohani itu yang melakukannya.

Sebuah Pertanyaan

Seorang saudara bertanya, “Jika berbuat dosa terhadap seseorang dan orang itu tidak tahu, apakah harus mengaku dosa juga kepadanya?”

Jawab:Soal ini tergantung apakah ada kerugian material atau tidak. Ada yang diketahui oleh orang, itu harus diselesaikan menurut prinsip Zakheus; ada yang tidak diketahui orang, tetapi kalau ada kerugian material, haruslah mengaku dosa kepadanya. Hanya saja sebaiknya dilakukan bersama gereja dengan bantuan saudara saudari yang berpengalaman; mereka tahu bagaimana caranya menyelesaikannya dengan cara yang lebih berfaedah bagi orang lain.