Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 33/50

PENGAMPUNAN SIASAT

Dalam Alkitab ada empat macam pengampunan, masing-masing adalah pengampunan kekal, pengampunan perantara, pengampunan persekutuan, dan pengampunan siasat. Sebagai kaum imani, wajiblah kita belajar mengenal apa yang disebut pengampunan siasat, agar kita dapat menempuh jalan yang lurus. Baiklah terlebih dahulu kita lihat beberapa jenis pengampunan itu, setelah itu baru kita bahas pengampunan siasat.

I. PENGAMPUNAN KEKAL

Pengampunan keselamatan yang kita terima, boleh kita sebut “pengampunan kekal” Allah. Pengampunan ini disinggung oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 24:47, “Dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” Inilah pengampunan kekal. Demikian juga dengan yang tercantum dalam Roma 4:7.

Pengampunan jenis ini disebut pengampunan kekal, sebab sekali Allah mengampuni dosa kita, selama-lamanya Ia mengampuni kita. Allah mencampakkan semua dosa kita ke dalam samudra raya, tidak dilihat atau diingat-Nya lagi. Pengampunan ini kita terima pada saat kita diselamatkan. Ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, semua dosanya diampuni serta dihapus oleh Tuhan Yesus, tanpa satu pun yang tertinggal di hadapan Allah. Inilah yang disebut pengampunan kekal.

II. PENGAMPUNAN PERANTARA

Tuhan sendiri sering mengatakan, “Aku mengampuni dosamu,” tetapi sering pula, Allah menyatakannya melalui gereja-Nya, “Allah telah mengampuni dosamu.” Ini menunjukkan bahwa dalam Alkitab ada sejenis pengampunan lain, yakni yang kita sebut “pengampunan perantara”. Yohanes 20:22-23 mengatakan, “Sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.’” Di sini Tuhan mengaruniakan Roh Kudus-Nya kepada gereja, agar gereja di bumi mewakili Dia, menjadi wadah-Nya untuk mengampuni dosa manusia. Inilah yang kita sebut pengampunan perantara. Tetapi dalam hal ini kita harus waspada, jangan sampai kita terperosok ke dalam cara yang dipraktikkan aliran kekristenan tertentu. Ini adalah firman Tuhan sendiri. Kita harus tampak bahwa dasarnya ialah Tuhan menghembusi gereja dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Dapat tidaknya kita mengetahui dosa seseorang diampuni atau dosa seseorang tetap ada, mutlak tergantung pada penerimaan Roh Kudus. Jadi dengan dasar inilah kita baru dapat mengumumkan dosa siapa diampuni dan dosa siapa tetap ada. Kekuasaan ini dapat dimiliki gereja, karena gereja berada di bawah kekuasaan Roh Kudus. Tuhan menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Setelah itu barulah Ia berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Jadi, pengampunan yang demikian adalah pengampunan yang Allah berikan kepada seseorang melalui wadah-Nya, yakni gereja.

Ketika kita memberitakan Injil, ada kalanya Anda menjumpai orang berdosa yang benar-benar merasa bahwa dirinya berdosa. Anda lalu membawanya ke hadapan Allah, dan ia mengaku dirinya berdosa, bahkan dengan mencucurkan air mata menyesal dan bertobat, dengan tulus menerima Tuhan Yesus. Tetapi karena asalnya ia seorang kafir, maka ia sama sekali tidak mengerti makna pengampunan. Saat itu, sangatlah baik jika dalam gereja ada orang yang mewakili berdiri dan berkata, “Allah telah mengampuni dosa Anda!” Pernyataan demikian akan banyak mengurangi kegelisahannya, dan akan menghindarkannya dari kebimbangan. Sebab itu, jika kita melihat ada seorang telah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, kita dapat berkata kepadanya, “Teman, hari ini Anda telah percaya kepada Tuhan, Anda boleh bersyukur kepada Allah, sebab Allah telah mengampuni dosa Anda.” Kalau gereja tidak dapat mengampuni dosa orang atau menyatakan dosa orang tetap ada, maka gereja juga tidak dapat menentukan layak tidaknya seseorang menerima baptisan. Mengapa ada orang diterima untuk dibaptis, ada pula yang tidak? Mengapa ada orang yang diizinkan mengambil bagian dalam pemecahan roti, ada pula yang tidak? Tidak lain karena gereja telah melaksanakan kekuasaan yang Tuhan berikan untuk menyatakan siapa yang telah diselamatkan, siapa yang belum; siapa yang dosanya telah diampuni dan siapa yang dosanya tetap ada. Perkataan demikian sekali-kali tidak dapat dinyatakan dengan sembarangan. Siapa yang dosanya diampuni, ia benar-benar diampuni; siapa yang dosanya tetap ada, dosanya benar-benar tetap ada; pernyataan demikian hanya dapat dilakukan di bawah kekuasaan Roh Kudus. Yohanes 20:22 mengatakan, “Terimalah Roh Kudus.” Ayat 23 melanjutkan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Karena gereja menerima Roh Kudus dan berada di bawah kekuasaan Roh Kudus, maka gereja layak bertindak sebagai wakil atau perantara Allah. Jika Tuhan telah mewakilkannya kepada manusia, barulah gereja dapat menyatakan, “Dosanya telah diampuni,” atau “Dosanya tetap ada.” Inilah pengampunan kedua yang tercantum dalam Alkitab. Dalam pengampunan ini, Allah mengampuni secara tidak langsung, yaitu dengan perantaraan gereja.

III. PENGAMPUNAN PERSEKUTUAN

Pengampunan ketiga disebut “pengampunan persekutuan”. Satu Yohanes 1:7-9 mengatakan, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa. Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Dalam pasal 2:1-2 juga dikatakan, “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa. Namun jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil. Dialah pendamaian untuk segala dosa kita dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” Pengampunan yang dibicarakan dalam ayat-ayat di atas, bukan pengampunan yang kita terima ketika kita diselamatkan, juga bukan pengampunan yang Tuhan berikan melalui gereja. Pengampunan ini berbeda dengan pengampunan-pengampunan di depan. Pengampunan ini adalah pengampunan yang sering kali masih diperlukan oleh seseorang setelah ia percaya kepada Tuhan dan menjadi anak Allah. Pengampunan ini seperti yang dilambangkan oleh lembu betina merah yang pernah kita bahas (baca buku “Jika Seorang Berbuat Dosa”). Setelah kita percaya kepada Tuhan, menjadi orang Kristen, dan beroleh pengampunan kekal, ada kalanya kita masih bisa berbuat dosa lagi, menjadi lemah atau berurusan di hadapan Allah. Terjadinya lagi perbuatan dosa kita itu akan menimbulkan masalah dalam persekutuan kita dengan Allah.

1. Ciri Khusus Hayat, Senang Bersekutu

Semua orang yang mempelajari ilmu hayat tahu bahwa hayat memiliki dua ciri khusus. Pertama, hayat selalu mempertahankan atau melindungi dirinya sendiri; senang hidup, tidak senang mati. Hayat takut mati. Kedua, hayat senang bersekutu; hayat takut terisolir, terputus dari persekutuan. Misalnya, Anda mengurung seekor ayam di suatu tempat, ia akan merasa kesepian. Tetapi jika Anda mengurung beberapa ekor ayam di suatu tempat, ayam-ayam itu akan kelihatan lincah dan riang. Demikian pula, jika seseorang ditahan dalam penjara sendirian, ia akan merasa menderita, karena ia tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain. Manusia adalah makhluk hidup yang serupa dengan makhluk hidup lain, senang melindungi hayatnya sendiri dan senang bersekutu.

2. Masalah dalam Persekutuan Hayat

Karena kita percaya kepada Tuhan Yesus yang menyelamatkan kita, maka hayat kita mutlak tidak ada masalah lagi. Karena kita telah beroleh keselamatan yang kekal, maka dosa kita telah beroleh pengampunan yang kekal. Terhadap hal ini tidak ada masalah sedikit pun.

Tetapi masih ada satu perkara yang bisa menimbulkan masalah, yaitu jika setelah beroleh selamat, kita berdosa lagi terhadap Allah, maka dalam persekutuan kita dengan Allah atau persekutuan kita dengan anak-anak Allah segera timbul masalah. Apa yang dimaksud dengan timbul masalah dalam persekutuan? Misalnya, ada seorang anak kecil, sewaktu ibunya keluar rumah, dengan diam-diam ia mencuri makan kue-kue atau buah-buahan dalam lemari makanan di dapur. Setelah memakannya, boleh saja ia menutup kembali pintu lemari, menyeka mulutnya dan membersihkan meja di dapur, namun ia telah berbuat dosa. Biasanya setiap malam ia dapat berkumpul mesra dengan ibunya, tetapi sekarang, karena ia telah mencuri makanan, ia tak bisa demikian lagi. Kalau ibunya memanggilnya, ia segera berdebar-debar, karena mengira ibunya akan mengganjarnya. Sekalipun ibunya memberi makanan kepadanya, ia akan merasa hambar, karena ia takut kalau-kalau ibunya mengetahui perbuatannya. Akibatnya, ia selalu ingin menghindari ibunya. Lihatlah, dalam persekutuan antara dia dengan ibunya telah timbul masalah. Bukan berarti si anak tidak lagi menjadi anak karena perbuatan mencuri itu. Anak tetap anak, tetapi telah timbul masalah dalam persekutuan antara si anak dengan ibunya. Memang, jika Anda berbuat dosa, dosa itu tidak akan mengakibatkan Anda tidak diakui lagi sebagai anak Allah. Anda tetap adalah anak Allah, namun persekutuan Anda dengan Allah telah mengalami kesulitan. Begitu Anda berbuat dosa, persekutuan Anda dengan Allah segera terputus! Anda tidak lagi memiliki satu hati yang damai dan tanpa cela. Jika Anda di hadapan Allah ingin menikmati persekutuan yang mesra dan berkesinambungan, Anda harus memiliki hati nurani yang tanpa cela. Kalau ada masalah dalam hati nurani Anda, Anda tidak akan dapat bersekutu dengan Allah.

3. Bagaimana Memulihkan Persekutuan dengan Allah?

Perbuatan dosa tidak mungkin mengubah status anak-anak Allah menjadi bukan anak-anak Allah, tetapi dosa bisa mengakibatkan terputusnya persekutuan antara anak-anak Allah dengan Allah. Karena itu, di sini ada sejenis pengampunan yang kita sebut “pengampunan persekutuan”. Mengapa kita menyebutnya demikian? Sebab persekutuan antara Anda dengan Allah hanya bisa terpulih bila Anda mau kembali ke hadapan Allah dan mengaku dosa Anda. Kalau tidak, Anda mustahil bersekutu lagi dengan Allah, bahkan berdoa kepada Allah pun tidak bisa. Kalau orang lain berdoa, Anda susah sekali mengaminkannya; di dalam batin Anda terasa sengsara.

Jika demikian, apa yang harus Anda lakukan? Dalam perumpamaan anak kecil tadi, ia harus datang kepada ibunya dan berkata, “Ibu, aku telah mencuri kue-kue ibu di dapur, aku salah.” Ia harus belajar berdiri di pihak ibunya untuk menyalahkan bahwa perbuatannya itu adalah dosa; ia harus mengakui bahwa perbuatannya itu adalah dosa. Ia harus berkata, “Ibu, ampunilah kesalahanku.” Demikian juga dengan kita. Kita harus datang ke hadapan Allah dan berkata, “Ya, Allah, aku telah berbuat dosa dalam perkara anu, ampunilah dosaku!” “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Pengampunan ini tidak bersangkutan dengan keselamatan kekal, melainkan bersangkutan dengan persekutuan dengan Allah; karena itu kita sebut pengampunan persekutuan.

IV. PENGAMPUNAN SIASAT

Dalam Alkitab, masih ada satu jenis pengampunan, yaitu “pengampunan siasat”. Pengampunan ini dapat kita baca dalam ayat-ayat berikut: Matius 9:2, 5-6; Yakobus 5:15; Matius 6:14-15; 18:21-35. Pengampunan dalam ayat-ayat di atas dapat disebut pengampunan siasat.

1. Apakah Pengampunan Siasat Itu ?

Mungkin ada yang bertanya, “Apakah pengampunan siasat itu?” Saya yakin akan satu hal: jika setelah saya percaya kepada Tuhan Yesus, saya segera tahu siasat Allah, saya pasti akan terhindar dari banyak kesulitan dan kerepotan.

Saya rasa, kita boleh mengambil lagi perumpamaan anak kecil tadi. Biasanya kalau ibunya pergi, pintu lemari dan pintu dapur tidak pernah dikunci. Sekarang, setelah ibunya tahu bahwa ia mencuri makanan, (walau ia telah mengaku dosa dan ibunya telah mengampuni dosanya, persekutuannya dengan ibunya pun sudah pulih), bila si ibu pergi, ia akan mengunci lemari dan pintu dapurnya. Lihatlah, sekarang si ibu telah mengubah caranya! Jadi, persekutuan adalah satu hal, sedang siasat adalah hal lain.

Apakah artinya “siasat”? Siasat adalah “cara melakukan sesuatu”. Menurut perkataan kita, “siasat Allah” di sini boleh kita artikan sebagai “cara atau tindakan pengaturan Allah”. Ibu tadi sudah mengampuni anaknya dan sudah memulihkan persekutuannya, tetapi sejak hari itu, setiap kali ia pergi keluar, lemari dan pintu dapur dikuncinya. Dengan kata lain, ia telah mengubah caranya. Persekutuan boleh pulih, tetapi caranya tidak mudah pulih. Karena si ibu khawatir kalau-kalau si anak mengulangi perbuatannya, maka ia tidak lagi memberikan kebebasan, ia telah membatasi anaknya. Ya, cara ibu telah berubah. Ingatlah, demikian juga tindakan Allah terhadap kita. Pengampunan persekutuan itu hal yang mudah. Asalkan seseorang dengan tulus mengaku dosa di hadapan Allah, ia segera beroleh pengampunan persekutuan. Pada saat ia mengaku dosa, saat itu persekutuannya dengan Allah terpulihkan. Tetapi cara Allah terhadapnya mungkin telah berubah. Mungkin ia segera terkena pendisiplinan Allah; Allah tidak membiarkannya begitu bebas atau seenaknya seperti dulu lagi.

Sampai pada suatu hari, yaitu setelah Allah menarik kembali tangan pendisiplinan-Nya, itulah yang kita sebut pengampunan siasat. Sampai pada suatu hari, si ibu merasa bahwa anaknya itu sudah boleh dipercaya, barulah lemari dan pintu dapur tidak dikunci lagi. Inilah yang kita namakan pengampunan siasat.

Pengampunan persekutuan berbeda dengan pengampunan siasat. Misalnya, seseorang mempunyai empat orang anak. Setiap sore, sang ayah mengizinkan mereka bermain-main di luar selama dua jam, dari jam 4 sampai dengan jam 6 sore. Pada suatu hari, keempat anak itu berkelahi dengan anak-anak tetangga. Setiba di rumah, mereka semua mengaku salah kepada ayah mereka, dan sang ayah pun mengampuni mereka. Keesokan harinya, mereka tetap diizinkan ke luar bermain. Tetapi mereka berkelahi lagi. Jika demikian, apa yang akan dilakukan sang ayah? Sang ayah boleh mengampuni mereka setiap kali mereka mengaku dosa, tetapi sang ayah menyadari bahwa caranya itu tidak benar. Karena itu ia akan berkata kepada anak-anaknya, “Karena kalian setiap hari berkelahi, maka mulai besok, kalian tidak boleh bermain di luar lagi, kalian harus tinggal di rumah saja.” Inilah tangan siasat sang ayah.

Setiap kali Anda berbuat dosa dan mengaku dosa, Allah pasti mengampuni dosa Anda. Tetapi Anda tak dapat mencegah Allah untuk tidak membuat satu pendisiplinan baru atas diri Anda. Allah boleh mengampuni Anda, persekutuan Anda dengan Allah boleh terpulih, tetapi Allah akan menerapkan satu cara baru terhadap Anda. Karena itu, di hadapan Allah kita harus belajar mengetahui betapa tidak mudah menggeser tangan pendisiplinan Allah. Bila Allah merasa bahwa Anda belum bisa dipercaya lagi, Anda akan sangat sukar menggeser tangan pendisiplinan-Nya.

Karena itu, ingatlah, bila seorang ayah melihat anak-anaknya terus-menerus membuat masalah, ia pasti akan mengunci mereka di dalam rumah, tidak memberi mereka kebebasan lagi. Mungkin mereka akan dikunci selama sehari, seminggu, sebulan, bahkan setahun. Pokoknya sampai sang ayah merasa puas, dan menganggap anak-anaknya tidak akan membuat masalah lagi. Sampai waktu itu, sang aah mungkin berkata, “Selama ini kalian kelihatannya sudah baik. Mulai besok, kalian boleh keluar lagi untuk bermain selama sepuluh menit.” Ini berarti tangan siasat sang ayah sudah mulai digeser. Tampakkah Anda akan hal ini? Dispensasi 10 menit inilah yang kita sebut pengampunan siasat. Siasatnya belum diubah, ini hanya untuk menguji bagaimana perbuatan mereka terhadap anak-anak luar dalam 10 menit itu. Kalau mereka tidak berkelahi lagi, setelah lewat beberapa hari kemudian, mereka akan diizinkan bermain di luar selama setengah jam, dan mungkin setelah lewat satu bulan atau dua bulan lagi, mereka akan diperbolehkan bermain di luar seperti sedia kala. Pada hari itu, boleh dikatakan bahwa pengampunan siasat sudah diberikan kepada mereka dengan sepenuhnya. Saudara saudari, pengampunan siasat jelas berbeda dengan pengampunan kekal, pengampunan perantara, dan pengampunan persekutuan. Pengampunan siasat memperlihatkan bagaimana cara Allah menangani kita, bagaimana Allah menanggulangi kita.

2. Apa yang Ditabur, Itu juga yang Dituai

Banyak bagian dalam Alkitab yang berkaitan dengan hal ini. Misalnya, dalam Galatia 6:7 dikatakan, “Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Ini adalah tangan siasat Allah. Jika seorang ayah sudah biasa mengumbar anak-anaknya, dengan sendirinya anak-anaknya tidak akan ada yang beres di kemudian hari. Jika seorang ayah selamanya tidak mau mengatur keluarganya, dengan sendirinya keluarganya akan berantakan. Hal ini adalah akibat yang wajar. Seorang yang selalu berselisih, bertengkar, dan tidak cocok dengan orang lain, akibatnya tentu ia tidak mempunyai seorang teman pun. Sebab apa yang ditabur orang, itu juga yang akan diutuainya. Inilah siasat Allah, hukum pengaturan Allah yang tidak dapat diubah. Karena itu, setiap anak Allah harus hati-hati, jangan sampai menggerakkan tangan siasat Allah. Bila kita menggerakkan tangan siasat Allah, sukarlah bagi kita untuk meminta Allah menggesernya.

3. Penyembuhan Tuhan atas Orang Lumpuh Adalah Pengampunan Siasat

Ada orang membawa seorang yang lumpuh ke hadapan Tuhan. Tuhan berkata kepadanya, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Mat. 9:2). Jika Anda tidak mengerti arti pengampunan siasat, Anda akan sukar memahami perkataan Tuhan ini. Orang lumpuh itu tidak menyatakan bahwa ia percaya kepada Tuhan, melainkan orang lain yang membawanya ke hadapan Tuhan. Tuhan berkata kepadanya, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Apakah ini berarti begitu ia dibawa ke hadapan Tuhan, ia segera beroleh selamat? Jika demikian, keselamatan adalah suatu hal yang terlalu mudah. Tidak demikian, sebab ini bukan pengampunan kekal, ini juga tidak bertalian dengan pengampunan perantara atau pengampunan persekutuan, melainkan sejenis pengampunan yang lain. Di sini Tuhan memperlihatkan dua aspek: pertama, “dosa-dosamu sudah diampuni”; kedua, “bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu”. Banyak penyakit sering kali merupakan tangan siasat Allah. Karena itu, untuk menyembuhkan dan membangunkan orang lumpuh itu, terlebih dulu harus memberinya pengampunan siasat. Jadi, pengampunan ini berkaitan dengan siasat Allah, pengampunan ini berkaitan dengan penyakitnya; tidak hanya berkaitan dengan hidup kekal. Karena Tuhan Yesus berkata kepadanya, “Dosamu sudah diampuni,” maka jelaslah bahwa pengampunan ini berkaitan dengan penyakitnya. Orang ini datang ke hadapan Tuhan untuk memperoleh kesembuhan, tetapi Tuhan tidak menyinggung yang lain kecuali “dosamu sudah diampuni”. Dengan kata lain, bila dosanya sudah diampuni, maka sakitnya pun akan sembuh. Bila dosanya belum beres, ia akan tetap sakit; bila dosanya sudah terselesaikan, sakitnya pun akan terselesaikan. Penyakitnya berkaitan dengan dosa. Inilah yang kita sebut pengampunan siasat. Begitu pengampunan siasat tiba, penyakit pun sembuh. Hari ini dosanya sudah diampuni Tuhan, maka ia boleh bangun, mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya. Inilah yang disebut pengampunan siasat.

4. Doa dan Pengolesan Minyak oleh para Penatua Gereja

Memberi Pengampunan Siasat kepada Orang Sakit

Yakobus 5:14-15 mengatakan, “Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” Pengampunan yang disebut di sini sepertinya sangat luar biasa. Ada seorang saudara sakit, ia lalu memanggil para penatua gereja untuk mendoakannya serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan, dan doa yang lahir dari iman akan membangunkannya; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya akan diampuni.

Kita telah tampak bahwa penyakit banyak penyebabnya. Ada penyakit yang disebabkan oleh dosa, ada penyakit yang bukan disebabkan oleh dosa. Di sini, penyakit yang disebabkan oleh dosa itu dapat diampuni bukan melalui pengakuan orang yang sakit itu sendiri, melainkan melalui doa para penatua gereja. Mengapa doa dan pengolesan minyak para penatua gereja dapat memberikan pengampunan dosa kepadanya? Dosa apakah yang telah dilakukannya? Cara demikian tidak dapat Anda terapkan untuk menerima pengampunan kekal, pengampunan perantara atau pengampunan persekutuan. Hal ini kemungkinan juga berkaitan dengan siasat Allah. Misalnya, seorang saudara sakit dan jatuh ke bawah tangan siasat Allah; karena ia berbuat dosa, maka ia diganjar Allah. Meskipun ia telah mengaku dosa di hadapan Allah, beroleh pengampunan dan dapat bersekutu lagi dengan Allah, tetapi tangan siasat Allah belum digeser dari dirinya. Sampai suatu hari, para penatua gereja mendoakannya dan berkata, “Semua saudara telah mengampuni dosamu, dan mengharapkan kamu bisa bangun. Gereja mengharapkan kamu dapat memulihkan persekutuan hayatmu, karena itu kami mengoleskan minyak ke atas tubuhmu, kiranya minyak dari Sang Kepala mengalir ke atas dirimu.” Ketika gereja demikian mendoakannya, kita tampak saudara itu dipulihkan. Ia berbuat dosa, menyinggung siasat Allah, tetapi begitu Allah menggeser tangan siasat-Nya, penyakit lahiriahnya segera sembuh. Allah telah menarik tangan siasat-Nya, inilah maksud perkataan, “Jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni”. Dosa ini tidak seperti dosa yang biasa. Kita harus tampak bahwa yang dibicarakan dalam surat Yakobus 5 ini adalah tangan siasat Allah. Kalau kita jatuh ke dalam tangan siasat Allah, Allah tidak akan membiarkan kita berlalu begitu saja, kecuali kita telah diampuni-Nya.

5. Daud Jatuh ke bawah Tangan Siasat Allah

Untuk memahami lebih lanjut makna pengampunan siasat, perlulah kita melihat kisah Daud dalam Perjanjian Lama sebagai contoh. Dalam seluruh Alkitab, tidak ada satu bagian lain yang membicarakan pengampunan siasat Allah sejelas yang tercatat dalam kisah Daud dengan istri Uria (2 Sam. 12). Ketika itu, Daud melakukan dua macam dosa: berzina dan membunuh. Berzina, ia berdosa terhadap istri Uria; membunuh, ia berdosa terhadap Uria sendiri. Setelah Daud berbuat dosa-dosa itu, ia segera mengaku dosa di hadapan Allah. Ini dapat kita baca dalam Mazmur 51 dan pasal-pasal lainnya. Daud menyadari betapa dirinya tidak benar, betapa keji perbuatannya, dan sangat berdosa kepada Allah! Karena itu ia mengaku dosa demikian tulusnya di hadapan Allah. Alkitab dengan jelas memperlihatkan kepada kita, setelah Daud mengaku dosa dalam Mazmur 51, persekutuannya dengan Allah terpulih kembali; ini sesuai dengan ayat-ayat dalam 1 Yohanes.

Tetapi bagaimana firman Allah kepada Daud? Allah mengutus Nabi Natan memberi tahu Daud. Saya harap Anda menaruh perhatian khusus atas perkataan yang diucapkan Nabi Natan. Dua Samuel 12:13 mengatakan, “Lalu berkatalah Daud kepada Natan: ‘Aku sudah berdosa kepada TUHAN.’ Dan Natan berkata kepada Daud: ‘Tuhan telah menjauhkan dosamu itu, engkau tidak akan mati.’” Daud berkata, “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Ia mengaku dirinya telah berbuat dosa, ia mengaku dirinya keji. Allah berkata melalui Natan, “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu, engkau tidak akan mati.” Jelas, dosanya telah beroleh pengampunan, Allah telah menghapus dosanya. Tetapi, bagaimanakah firman Allah kepada Daud? Pertama, “Karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati” (ayat 14). Kedua, “Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil istri Uria, orang Het itu, untuk menjadi istrimu” (ayat 10). Ketiga, “Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil istri-istrimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan istri-istrimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan” (ayat 11-12). Memang, Allah telah menghapus dosa Daud, tetapi Allah akan membuat anak yang dilahirkan istri Uria itu mati; Allah telah menghapus dosa Daud, tetapi pedang tidak akan menyingkir dari keturunannya sampai selamanya; Allah telah menghapus dosanya, tetapi Allah akan membiarkan Absalom memberontak dan mencemari istri-istrinya. Dengan kata lain, meskipun dosanya telah beroleh pengampunan, ganjaran Allah tidak segera meninggalkan dirinya.

Dengan serius saya katakan, asal Anda mau datang ke hadapan Allah mohon pengampunan, Allah pasti mengampuni dosa Anda yang mana pun. Pemulihan persekutuan merupakan perkara yang sangat mudah lagi cepat. Daud dengan segera dapat memulihkan persekutuannya dengan Allah, tetapi ganjaran Allah atas dirinya berlangsung terus sampai ia wafat. Selama ganjaran Allah berada di atas dirinya, siasat Allah pun tidak akan menyingkir dari dirinya. Sebab itu, selanjutnya Anda tampak, anaknya jatuh sakit. Walaupun karena hal itu Daud berpuasa dan merebahkan dirinya di lantai semalam suntuk, tidaklah berguna. Karena tangan ganjaran Allah menimpa ke atas dirinya, akhirnya anaknya itu mati. Kemudian anaknya yang sulung, Amnon, mati terbunuh. Selanjutnya, Absalom memberontak. Pedang benar-benar tidak menyingkir dari keturunan Daud! Tetapi, Allah tetap berkata kepada Daud, “Aku telah menjauhkan dosamu.”

Saudara saudari, Allah dapat mengampuni semua dosa yang Anda perbuat, tetapi setelah Allah mengampuni Anda, bagaimanapun Anda tidak dapat mencegah Allah untuk tidak mengganjar Anda, Anda tidak dapat mencegah tangan siasat-Nya menimpa diri anda.

6. Belajar Tunduk di bawah Tangan Allah yang Berkuasa

Allah adalah Allah yang berpemerintahan. Jika seseorang berdosa kepada Allah, Allah belum tentu segera menurunkan tangan siasat-Nya. Sering kali Ia membiarkannya saja. Tetapi bila Allah sudah menurunkan tangan siasat-Nya, Anda tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali tunduk di bawah tangan Allah yang berkuasa. Anda tidak mungkin melarikan diri! Allah tidak ceroboh, Ia tidak akan membiarkan Anda berlalu! Dosa yang mengakibatkan terputusnya persekutuan dengan Allah mudah mendapat pengampunan, mudah terpulih. Namun Anda tidak dapat menggeser ganjaran yang Ia kenakan ke atas Anda, baik dalam keadaan lingkungan, keluarga, atau dalam tubuh Anda. Saat demikian, Anda hanya dapat belajar tunduk di bawah tangan Allah yang berkuasa. Makin kita tunduk di bawah tangan Allah, tanpa melawan-Nya, makin mudah pula Allah menggeser tangan siasat-Nya. Sebaliknya, jika kita makin menentang, cemas, menggerutu, dan meronta-ronta dalam batin, tangan siasat-Nya malah makin melekat pada kita. Hal ini sangatlah serius!

Mungkin 20 tahun yang lalu Anda pernah dengan seenaknya melakukan suatu perkara. Hari ini Anda akan menjumpai perkara yang sama; perkara itu kembali mencari Anda, dan Anda harus memakan buahnya. Ketika Anda menghadapi hal demikian, hendaklah Anda menundukkan kepala dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, memang ini adalah kesalahan hamba.” Anda wajib tunduk di bawah tangan Allah, jangan sekali-kali membangkang. Jika Anda membangkang, tangan-Nya akan makin berat menekan Anda; makin membangkang makin bertambah kesulitan Anda. Sekali lagi saya tekankan, bila tangan siasat Allah menimpa diri Anda, hendaklah Anda tunduk dan berkata dengan sukacita, “Tuhan, segala yang Kau perbuat tidak salah, sewajarnyalah semua itu hamba terima.” Anda harus tunduk, tidak saja tidak boleh berontak, bahkan mendongkol dan menggerutu pun tidak boleh. Jika Anda tidak mau tunduk, sebaliknya ingin meloloskan diri dari tangan Allah, itu tidak mungkin berhasil. Siapa yang mampu melarikan diri dari tangan Allah? Anda harus tampak, segala tingkah laku Anda di masa lampau itulah yang mengakibatkan penderitaan pada hari ini.

Misalnya, sejak kecil Anda senang makan gula-gula atau manisan. Karena terlalu banyak memakannya, maka gigi Anda banyak yang berlubang/rusak. Pada suatu hari, Anda sadar akan kesalahan Anda dan mengaku salah di hadapan Allah serta mohon pengampunan-Nya. Dosa ini mudah sekali mendapat pengampunan Allah, tetapi pengampunan itu tidak dapat mencegah gigi Anda dari kerusakan. Jika Anda terlalu banyak makan manisan atau gula-gula, pasti gigi Anda mudah rusak. Anda mengaku dosa, persekutuan Anda dengan Allah segera terpulih, tetapi ini tidak berarti Allah lalu memberikan gigi yang baik kepada Anda. Jadi, bila Anda tampak siasat Allah, Anda harus belajar tunduk di bawahnya. Kerusakan pada gigi dalam contoh ini memang tidak dapat dipulihkan, tetapi ada perkara-perkara tertentu dapat pulih kembali setelah tangan siasat Allah digeser.

7. Jatuh ke bawah Tangan Siasat Allah Adalah Perkara Serius

Setelah terjadi kasus pemukulan bukit batu di Meriba (Bil. 20:10-12), Musa bersama Harun jatuh ke bawah tangan siasat Allah. Meskipun Harun telah gagal, Allah tetap mengizinkannya memikul jabatan imam dan persekutuannya dengan Allah terpulih. Namun, saat ia mengenakan jubah imamnya, Allah berfirman kepadanya bahwa ia akan meninggal dunia. Ketika berada di sisi bukit batu, Musa tidak menghormati kekudusan Allah. Allah menghendakinya “menyuruh” bukit batu itu memancarkan air, tetapi Musa “memukul” bukit batu. Sebab itu, tangan Allah menimpa dirinya, dan Musa tidak dapat masuk ke tanah Kanaan. Sudahkah Anda tampak prinsip yang mendasar ini? Inilah siasat Allah! Anda tidak dapat memegang Allah. Anda tidak dapat menjamin bahwa Allah akan tetap memperlakukan Anda seperti sediakala. Mungkin sejak kini Allah akan mengubah jalan Anda, bahkan jalan yang Anda anggap paling baik pun akan diubah-Nya.

Kasus-kasus demikian banyak tercantum dalam Alkitab. Misalnya, pada waktu bani Israel sampai di Kadesy di gurun Paran (Bil. 13 dan 14), mereka mengutus sejumlah pengintai untuk mengetahui keadaan negeri itu. Para pengintai itu tampak bahwa setandan buah anggur perlu dipikul oleh dua orang, maka tahulah mereka bahwa tempat itu benar-benar berlimpah-limpah susu dan madu. Namun, karena mereka melihat penduduk negeri itu perawakannya tinggi-tinggi dan memandang diri sendiri seperti belalang, mereka gentar dan enggan memasuki negeri itu. Setelah kejadian itu, walaupun mereka mengaku dosa dan mau masuk, dan walaupun Allah tetap mengakui mereka sebagai umat-Nya serta tetap merahmati mereka, namun mereka tidak lagi dapat mengambil bagian dalam negeri Kanaan yang indah itu. Siasat Allah telah berubah! Alhasil, hanya Yosua dan Kaleb yang boleh masuk ke tanah Kanaan; lainnya tewas di padang gurun. Karena itu, saudara saudari, begitu Anda menjadi orang Kristen, Anda harus mengharapkan Allah mengatur Anda sedemikian rupa sehingga sampai di hari terakhir pun Anda masih tetap berada di jalan yang ditentukan-Nya sejak semula. Jangan menempuh hidup dengan ceroboh. Jangan berbuat dosa. Ingatlah, sekalipun Anda bisa menerima belas kasihan-Nya, Allah mungkin akan mengubah jalan yang Anda tempuh! Tangan siasat Allah tidak akan meninggalkan Anda.

Tangan siasat Allah sungguh serius! Saya kenal seorang saudara yang terpanggil untuk melayani Tuhan, dan ia tahu jelas bahwa Tuhan menghendakinya meletakkan profesinya. Namun ketika ia pulang ke rumahnya, melihat situasi keluarganya, ia merasa tidak sampai hati melepaskan profesinya. Akhirnya ia enggan menuruti panggilan dan kehendak Tuhan. Setelah itu, memang ia tetap bertekad menjadi seorang Kristen yang baik, hanya ia tidak mau meninggalkan profesinya, dan tidak mau pergi memberitakan Injil. Keadaannya kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah. Namun sejak itu ia telah kehilangan kesempatan untuk menempuh jalan Tuhan. Kita tidak tahu kapan tangan siasat Allah menimpa diri kita, inilah yang kita takuti! Ada orang dibiarkan saja oleh Allah. Mungkin Anda telah memberontak atau ingkar sepuluh kali, Allah membiarkan saja. Tetapi pada kesebelas kalinya, Allah tidak dapat membiarkan Anda lagi. Ada orang hanya mendurhakai-Nya sekali saja, tetapi Allah sudah mengganjarnya. Pokoknya kita tidak tahu kapan Allah bertindak. Saudara saudari, ingatlah, kita tidak dapat mengendalikan siasat Allah! Allah bertindak menurut kehendak-Nya sendiri.

Saya juga mengenal seorang saudari yang sebenarnya berminat menjadi pelayan Tuhan yang baik. Kemudian ia menikah. Tetapi pernikahannya tidak begitu baik, dengan berbuat demikian, reduplah terang Tuhan yang dulu ada padanya. Siapa pun tidak mungkin mengharapkannya kembali menempuh jalan ini. Tangan siasat Allah menimpa dirinya, sampai hari ini keadaannya tidak dapat terpulih. Ia seolah menjadi tuna netra, tersekat selubung; bagaimanapun orang berusaha tetap tidak berdaya menolongnya.

8. Berusaha Belajar Mematuhi Tuhan dan Mohon Belas Kasihan-Nya

Sebab itu, perkara yang paling utama ialah “belajar mematuhi Tuhan”. Semoga Allah membelaskasihani kita, memberkati kita, sehingga kita tidak sampai jatuh ke bawah tangan siasat Allah. Tetapi bila Anda telah telanjur jatuh ke bawah tangan siasat Allah, sekali-kali jangan cemas atau gelisah, jangan menentang atau melarikan diri dari tangan-Nya. Anda harus tampak prinsip yang mendasar ini: Anda harus patuh, tidak peduli harus membayar harga sebesar apa pun. Memang bukan Anda sendiri yang bisa patuh, diri Anda tidak mungkin bisa patuh; Anda wajib mohon belas kasihan Tuhan, supaya bagaimanapun halnya, Anda bisa patuh. Hanya dengan belas kasihan Tuhan sajalah baru Anda dapat patuh. Kita harus berkata, “Oh Tuhan, belas kasihanilah hamba, agar hamba dapat patuh.” Kita perlu sering mohon belas kasihan Tuhan, agar kita tidak tertimpa tangan siasat-Nya. Tetapi andaikata tangan siasat-Nya menimpa Anda, mungkin Ia membuat Anda sakit, mengalami suatu peristiwa atau mengalami sesuatu yang menyulitkan. Ingatlah, saat itu sekali-kali jangan dengan tangan daging Anda menentang siasat Allah itu. Begitu Anda tertimpa tangan siasat Allah, Anda harus segera tunduk di bawahnya dan berkata, “Tuhan, ini adalah perbuatan-Mu, ini adalah pengaturan-Mu. Aku rela tunduk di bawahnya, aku mau menerimanya.” Ketika tangan siasat Allah menjamah diri Ayub — sebenarnya Ayub tidak perlu tertimpa tangan siasat Allah — kalau ia menerimanya, keadaannya akan semakin baik, tetapi kalau ia mempertahankan kebenarannya sendiri, keadaannya menjadi semakin parah.

Syukur kepada Allah! Tangan siasat Allah tidak selalu selamanya menimpa seseorang. Saya sendiri yakin bahwa tangan siasat Allah sering mudah sekali terlepas berkat doa-doa gereja. Inilah indahnya Yakobus 5. Di situ tercantum bahwa para penatua gereja bisa menyingkirkan tangan siasat Allah. “Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu, dan Tuhan akan membangunkan dia, dan jika dia telah berbuat dosa, maka dosanya akan diampuni.” Jadi, jika seorang saudara menjamah jalan-Nya, dan gereja mendoakannya, sering kali tangan ganjaran (pendisiplinan) Allah itu akan ditarik-Nya kembali.

Saya ingat, pernah sekali saya bertemu dengan Saudari Barber, ia mengatakan satu perkataan yang sangat baik. Ada seorang saudara telah melakukan satu perkara yang sangat tidak baik. Kemudian saudara itu bertobat, dan ia datang menemui Saudari Barber. Saudari Barber berkata kepadanya, “Anda sekarang sudah bertobat dan kembali, bukan? Anda harus datang ke hadapan Allah dan berkata, “Tuhan, tadinya hamba adalah sebuah bejana olahan tangan-Mu, Sang Penjunan, namun sekarang bejana ini telah pecah.” Anda jangan memaksa Tuhan tetap menjadikan Anda sebagai bejana-Nya. Anda harus dengan rendah hati berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, belas kasihanilah hamba. Jadikanlah hamba satu bejana lagi, hamba tidak dapat memaksakan hal ini; hamba hanya rela menjadi bejana-Mu, yang mulia ataupun yang hina, terserah kepada-Mu.” Kebanyakan orang berpikir, “Aku ingin menjadi bejana ini terus, kiranya Tuhan mengubahnya menjadi bejana yang lebih mulia. Memang ada kalanya dari laknat bisa timbul berkat. Tetapi satu hal ingin saya katakan kepada Anda, yaitu kita adalah orang-orang yang harus mengalami banyak penanggulangan. Kita sering jatuh ke dalam tangan Allah, tangan Allah menimpa diri kita. Harus kita akui, justru melalui tangan siasat-Nya, Allah akan menunjukkan kehendakNya kepada kita. Untuk ini kita tidak bisa membelok, kita hanya dapat patuh, yaitu tunduk di bawah kehendak Allah. Anda wajib berkata, “Tuhan, yang Kauaturkan bagiku adalah yang terbaik, hatiku tunduk di hadapan-Mu.”

Masalah ini sekali-kali tidak dapat dihadapi dengan ceroboh. Saya mengenal seorang saudari yang sebelum menikah datang mencari saya. Saya berkata kepadanya, “Menurut pandangan saya, lebih baik Anda tidak melanjutkan hubungan itu. Karena calon suami Anda itu tidak mirip dengan seorang Kristen yang dapat diandalkan.” Tetapi ia menjawab bahwa ia tidak akan terpengaruh olehnya. Akhirnya ia jadi menikah. Lewat tujuh atau delapan bulan kemudian, saya menerima sepucuk surat yang panjang dari dia. Dalam surat itu ia mengaku dirinya telah salah besar, dan ia menyesal tidak menuruti nasihat saya. Lalu saya membalasnya, “Sejak kini, jalan satu-satunya bagi Anda ialah tunduk di bawah tangan Allah. Kalau Anda menanyakan bagaimana jalannya, saya tidak punya jalan, orang lain juga tidak punya, sebab Anda telah jatuh ke bawah tangan siasat Allah. Ketika Anda jatuh ke bawah tangan siasat Allah, dan Anda meronta-ronta serta melawan, Anda hanya akan menjadi satu bejana yang hancur, masa depan Anda akan habis sama sekali!” Surat saya sangat berat. Akhirnya saya berkata kepadanya, “Jika lain kali Anda menulis surat lagi kepada saya, semuanya itu pun sudah salah!” Jadi, ingatlah, alangkah seriusnya tindakan siasat Allah itu!

Saya sering memikirkan bagaimana keadaan dalam gereja hari ini. Keadaannya tidak lain ibarat kita mengunjungi rumah seorang penjunan. Kita melihat di pelatarannya berserakan mangkuk-mangkuk, kendi-kendi atau botol-botol yang sudah rusak, semuanya merupakan bejanabejana yang sudah pecah. Inilah keadaan orang Kristen dewasa ini. Perkara ini sangat serius! Sekali lagi saya katakan, kita wajib belajar patuh di bawah tangan Allah.

V. TAKWA DAN LAPANG DADATERHADAP ORANG LAIN

Masih ada dua bagian firman lagi yang juga membicarakan tangan siasat Allah, yaitu Matius 6:15 dan 18:23-35. Satu perkara yang juga sangat penting adalah jangan sembarangan menuduh dosa orang lain. Perkara ini sangat serius! Ingatlah, jika dalam suatu hal Anda dengan sembarangan mengatai orang, Anda akan tampak bahwa hal itu akan mudah sekali menimpa diri Anda sendiri. Kalau dalam suatu hal Anda tidak mau memaafkan atau mengampuni orang, hal itu akan Anda alami sendiri. Ini dengan sendirinya merupakan tangan siasat Allah. Tuhan berkata, “Jika kamu tidak mengampuni orang, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Pengampunan di sini ditujukan kepada pengampunan siasat. Di sini dikatakan, “Bapa yang di surga.” Kalau kita telah menyebut Allah sebagai Bapa, berarti masalah kekekalan kita sudah beres. Namun, jika ada seorang saudara berdosa kepada Anda, dan Anda tidak mau mengampuninya, Allah juga tidak mau mengampuni dosa Anda. Tangan siasat Allah akan menimpa diri Anda. Sebab itu, hendaklah kita belajar menjadi orang yang lapang dada, yang senantiasa mengampuni orang lain! Jika Anda selalu menggerutu atau gusar atas perbuatan orang terhadap Anda, akhirnya Anda akan jatuh ke bawah tangan siasat Allah. Allah akan membenam Anda lebih dalam sehingga Anda tidak mudah keluar. Kalau Anda bersikap ketat terhadap orang lain, Allah juga akan begitu terhadap Anda. Ketika hamba itu keluar dan bertemu dengan temannya yang berutang kepadanya seratus dinar, ia lalu menangkap dan mencekiknya. Setelah perbuatannya diketahui tuannya, marahlah tuannya itu, dan akhirnya ia diserahkan kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utangnya; ia tidak akan dikeluarkan, jika tidak melunasi utangnya (Mat. 18:23-35). Allah mengganjarnya, tangan siasat Allah menimpa dirinya, sehingga ia tidak mudah keluar.

Tidak saja dalam hal pengampunan kita harus belajar lapang dada, juga harus belajar tidak sembarangan mengatai atau mengkritik orang lain. Sering kali karena Anda sembarangan mengatai atau mengkritik orang begini atau begitu, akhirnya Anda pun mengalami hal yang serupa. Kadang-kadang kita melihat seorang saudara dengan keras memperlakukan orang lain, tetapi tak lama kemudian, kita tampak ganjaran Allah menimpa dirinya. Mungkin ia tiba-tiba jatuh sakit. Ada kalanya, ketika Anda melihat anak orang lain mengalami sesuatu, Anda segera berkomentar, “Orang ini selalu tertimpa tangan Allah!” Tak lama kemudian, ternyata Anda sendiri mengalami hal yang sama. Jika demikian, bagaimana sikap Anda? Saudara saudari, kiranya kita benar-benar belajar menjadi orang yang takut akan siasat Allah. Kita harus belajar takwa kepada Allah. Kita harus hati-hati dalam bertutur kata. Banyak masalah akan menimpa diri kita, jika kita tidak hati-hati dalam tutur kata.

Hari ini saya dapat berkata bahwa seumur hidup orang Kristen sebenarnya tak lain hanya belajar mengenal siasat Allah, yakni belajar mengetahui bagaimana cara Allah mendisiplinkan kita. Jika kita sudah mengaku sebagai anak-anak Allah, janganlah kita hidup seperti orang yang liar. Anda harus ingat, tidak ada satu pun perkara yang boleh Anda katakan atau kritik dengan sembarangan. Semoga kita bisa mempunyai satu kebiasaan, yaitu tidak turut campur urusan orang lain dan tidak mengucapkan perkataan yang sia-sia, tetapi belajar takwa. Sangat tidak menguntungkan dan sangat serius masalahnya kalau kita mengusik Allah hingga tangan siasat-Nya menimpa diri kita. Hati-hatilah, jangan sampai kasus orang lain menimpa diri kita. Perkara-perkara yang kita tuduhkan, kalau kita mengatakannya dengan sembarangan, itu akan menimpa diri kita. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Perkara ini bagi anak-anak Allah adalah satu fakta riil. Semoga kita belajar lapang dada. Semakin lapang dada, semakin baik. Di hadapan Allah, jika kita semakin lapang dada terhadap orang, Allah juga akan semakin lapang dada terhadap kita. Saya sungguh memahami apa yang sedang saya katakan ini. Jika Anda ketat dan terlalu perhitungan terhadap saudara, Allah pun akan ketat dan terlalu perhitungan terhadap Anda. Karena itu, Anda harus belajar memperlakukan saudara dengan lemah lembut, murah hati, dan lapang dada. Biarlah orang lain melakukan banyak perkara, Anda jangan mengucapkan perkataan yang sia-sia, atau mengkritik orang lain. Sewaktu melihat orang lain mengalami kesukaran, itulah kesempatan kita memberi bantuan kepadanya, bukan kesempatan untuk mengkritiknya.

Pada akhir zaman, orang-orang Yahudi akan dianiaya; mereka akan dikurung dalam penjara, tidak diberi pakaian dan makanan. Tetapi orang-orang yang disebut domba-domba itu justru menjenguk mereka di penjara, memberi pakaian dan makanan kepada mereka, pada saat mereka tidak ada pakaian dan makanan. Semua itu membuat mereka beroleh kesempatan untuk menerima anugerah. Anda tidak boleh berkata, “Mari kita tambah penderitaan orang-orang Yahudi itu, sebab teraniayanya mereka adalah sesuai dengan takdir Allah. Memang, Allah menakdirkan mereka akan mengalami penderitaan, tetapi Anda harus menjadi orang yang lapang dada, jangan mentang-mentang mereka ditakdirkan menderita, kita lalu campur tangan memperberat penderitaan mereka. Siasat Allah itu urusan Allah sendiri. Kita, anak-anak Allah, dalam zaman ini tetap harus belajar menjadi orang yang lapang dada dan murah hati terhadap orang lain. Jika demikian, Anda akan tampak, dalam banyak hal, Allah pun akan lapang dada terhadap Anda.

Hari ini, kita melihat banyak saudara yang jatuh tidak karuan, itu karena mereka dahulu terlalu mengkritik/mencemooh orang lain. Kesukaran yang mereka alami hari ini sebenarnya adalah akibat kritikan mereka terhadap orang lain di masa lampau. Dalam hal ini Allah ketat, tidak kendur. Karena itu, kita harus memperlakukan orang dengan lapang dada, agar tangan siasat Allah tidak menimpa diri kita. Semoga kita belajar mengasihi orang, lapang dada terhadap orang. Bagaimanapun, kita harus mohon Allah membelaskasihani kita atas kebodohan kita dalam perilaku atau hal-hal lainnya, agar kita terhindar dari tangan siasat-Nya. Untuk ini kita harus banyak menengadah kepada Allah. Kita harus sadar betapa hidup kita perlu bersandar kepada hikmat Allah. Kita harus mengaku kepada Allah betapa bodoh dan bejatnya segala perilaku kita. Jika Allah menaruh kita dalam tangan siasat-Nya, kita pasti tidak mungkin berlalu. Sebab itu, kita harus mohon belas kasihan-Nya! Semakin kita lemah lembut dan merendahkan diri, kita akan semakin mudah dibebaskan. Tetapi jika kita sombong, merasa diri baik dan mampu, kita akan semakin sulit dibebaskan. Kita harus belajar merendahkan diri.

VI. HARUS MERENDAHKAN DIRI,

“PADA WAKTUNYA” TANGAN SIASAT ALLAH BARU AKAN TERSINGKIR

Bila kita jatuh ke dalam tangan siasat Allah, tidak peduli dalam perkara besar atau kecil, jangan sekali-kali memberontak. Memberontak adalah perbuatan yang bodoh! Jika kita jatuh ke dalam tangan Allah, prinsipnya hanya satu, “tunduk di bawah tangan Allah yang kuat”. Bila Anda benar-benar tunduk, tidak lama kemudian Anda akan tampak bahwa “pada waktunya” Allah akan membebaskan Anda, karena Ia menganggap hal itu sudah berlalu. Saya harap Anda menaruh perhatian pada ungkapan, “pada waktunya” yang tercantum dalam 1 Petrus 5:6 ini, “Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Lihatlah, pada waktunya, Ia akan membukakan satu jalan keluar bagi Anda. Pada waktunya, Ia akan memberi Anda satu jalan yang lurus. Pada waktunya, Ia akan membebaskan Anda. Pada waktunya, Ia akan meninggikan Anda.

Tangan Allah yang kuat yang disinggung di sini, sepenuhnya berarti pengganjaran atau pendisiplinan, bukan berarti perlindungan. Tangan perlindungan Allah disebut tangan yang kekal. Jadi, di sini berarti saya tunduk di bawah tangan-Nya yang kuat, saya patuh kepada-Nya. Di bawah tangan yang kuat ini Anda tidak mungkin berkutik sedikit pun, Anda juga tidak berdaya menggesernya. Mau tak mau Anda harus belajar tunduk. Anda harus berkata, “Tuhan, hamba mau menurut perkataan-Mu, hamba takkan membangkang, hamba rela menerima pengaturan-Mu, tidak peduli di mana saja hamba Kautempatkan, hamba tidak membantah perlakuan-Mu itu, berapa lama pun hamba terima.” Setelah itu Anda akan tampak bahwa “pada waktunya”, entah berapa lamanya kita tidak tahu, pokoknya pada waktunya, yaitu setelah Tuhan menganggap Anda sudah baik, saat itu Allah mungkin menggerakkan gereja untuk mendoakan Anda, sehingga dengan demikian Anda dibebaskan.

Saudara saudari, semoga kita sejak semula sudah mengenal siasat Allah. Banyak orang tidak mengetahui siasat Allah, karena itu mengalami banyak kesulitan. Saya harap anak-anak Allah sudah dapat mengetahui siasat Allah sedini mungkin, yakni sejak hari dan tahun pertama menjadi orang Kristen. Kalau demikian, mereka pasti akan maju dengan lurus di atas jalan yang di depan!