Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 32/50

PENGAMPUNAN DAN PEMULIHAN

Pembacaan Alkitab: Mat. 18:21-35, 15-20; Luk. 17:3-5

Ada satu persoalan yang harus kita bereskan, yaitu bagaimanakah sikap kita bila ada saudara berbuat dosa terhadap kita? Bukan kita yang berbuat dosa terhadap orang lain, melainkan orang lain yang berbuat dosa terhadap kita, jika demikian bagaimanakah seharusnya sikap kita? Dengan membaca ketiga bagian Alkitab di atas, Tuhan memberi tahu kita bahwa kita bukan hanya harus mengampuni dia, tetapi juga harus memulihkan dia. Sekarang baiklah kita tinjau dahulu masalah pengampunan.

I. MENGAMPUNI SAUDARA

1. Bagaimanapun Harus Mengampuni

Matius 18:21-22 mengatakan, ”Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya: Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Lukas 17:3-4 mengatakan, ”Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Injil Matius mengatakan bahwa pengampunan kita terhadap saudara bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali. Injil Lukas mengatakan, kalau seorang saudara berbuat dosa terhadap kita tujuh kali sehari, tetapi tujuh kali ia kembali kepada kita dan berkata, ”Aku menyesal,” maka kita harus mengampuni dia. Tak peduli penyesalannya itu sejati atau palsu, asalkan ia berkata demikian, kita harus mengampuni dia. Sejati atau palsu penyesalannya, itu bukan urusan kita, bagaimanapun kita harus mengampuni dia.

Tujuh kali tidak terhitung banyak, tetapi sehari tujuh kali itu tidak sedikit. Kalau perkara yang sama dilakukan sampai tujuh kali dalam satu hari, atau orang yang sama tujuh kali berkata kepada Anda, ”Aku berdosa kepada Anda,” percayakah Anda bahwa pengakuannya itu dilakukan dengan tulus hati? Mungkin Anda akan berkata bahwa pengakuan dosa itu hanya di bibir belaka. Karena itu, Lukas 17:5 mengatakan, ”Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: Tambahkanlah iman kami!” Para rasul merasa sulit melakukan hal tersebut. Memang sulit dipercaya kalau seorang saudara dalam sehari berbuat dosa terhadap Anda sebanyak tujuh kali, dan juga kembali kepada Anda tujuh kali untuk mengatakan penyesalannya. Sebab itu, para murid memohon kepada Tuhan, ”Tambahkanlah iman kami!” Namun, sekalipun dalam situasi semacam ini, sebagai anak-anak Allah, kita tetap harus mengampuni dia. Kalau ada seorang saudara berbuat dosa terhadap kita, kita tidak seharusnya menyimpan atau mengingat-ingat terus dosanya itu.

2. Kapasitas Allah

Di dalam Matius 18:23-27, Tuhan membuat sebuah perumpamaan, ”Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan utangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar utangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan utangnya.”

Utang hamba itu di hadapan Allah sangat besar, berkisar sepuluh ribu talenta, dan ia tidak mampu melunasi utangnya itu. Memang, bagaimanapun kita tidak mampu melunasi utang kita terhadap Allah, jika dibandingkan dengan utang orang lain terhadap kita, terlalu besar selisihnya. Jika setiap anak-anak Allah dapat menilai utangnya secara wajar terhadap Allah, mereka pasti akan mengampuni saudaranya dengan lapang dada. Kalau kita lupa betapa besar kasih karunia yang kita terima di hadapan Allah, mungkin kita akan menjadi orang yang sangat kekurangan kasih karunia. Kita perlu menyadari betapa besarnya angka utang dosa kita terhadap Allah, barulah kita dapat mengetahui betapa kecilnya utang orang lain terhadap kita.

Berhubung melihat hambanya itu tidak mampu melunasi utangnya, raja itu lalu memerintahkan ”supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk membayar utangnya.” Padahal, sekalipun semuanya dijual untuk membayar utang, tetap tak dapat menyelesaikan utangnya. Lalu ”sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi.”

Sangat sedikit orang yang mengerti dengan jelas akan arti kasih karunia dan arti Injil. Manusia di hadapan Allah selalu mengira, apa yang tak mampu ia lakukan pada hari ini, kelak akan dapat dilakukan. Di sini Anda lihat hamba ini, walaupun segala miliknya telah dijual, tetap tidak cukup untuk melunasi utangnya, ia masih berkata, ”Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi.” Ia mengira motivasinya baik, ia bukan tidak ingin membayar utang, melainkan mohon sang raja memberinya lebih banyak waktu, agar kelak dapat membayar hingga lunas. Padahal itu adalah perhitungan orang yang tidak mengenal kasih karunia.

”Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan utangnya.” Inilah Injil! Injil berarti Allah tidak berbuat sesuatu menurut maksud atau keinginan Anda sendiri. Walaupun Anda berkata, ”Tuhan, sabarlah dulu, segala utangku akan kulunaskan,” tetapi Tuhan tidak berkata, ”Kamu boleh membayar dulu sebagian seturut kemampuanmu, selebihnya boleh dilunasi kelak.” Tidak, melainkan Ia membebaskan dan menghapuskan semua utangnya. Doa dan permohonan manusia jauh sekali terpautnya dari kasih karunia yang Tuhan berikan. Tuhan kita melakukan sesuatu bagi kita menurut apa yang ada pada-Nya, menurut apa yang ada pada-Nya menjawab doa kita.

Raja ini membebaskan dan menghapuskan utang hamba itu. Itulah kasih karunia Allah, dan itulah kapasitas Allah. Siapa saja yang mohon kasih karunia di hadapan Allah, niscaya diberikan kepadanya, sekalipun pengenalannya terhadap kasih karunia itu picik. Kita wajib mengenal prinsip ini. Tuhan senang memberikan kasih karunia, asalkan Anda sedikit berminat terhadap kasih karunia, pasti akan diberi-Nya. Tuhan justru khawatir kita tidak mau meminta kasih karunia. Asal kita menaruh sedikit saja pengharapan kepada Tuhan dan berkata, ”Oh Tuhan, karuniailah aku!” Pastilah Tuhan mengaruniai kita. Lagi pula, Tuhan akan memberikan kasih karunia sedemikian rupa sehingga Ia sendiri merasa puas. Mungkin Anda mengira diberi satu talenta saja sudah cukup, tetapi Ia tidak memberi Anda satu talenta, melainkan sepuluh ribu talenta. Bagaimanapun Ia harus melakukannya hingga Ia sendiri merasa puas. Perbuatan-Nya selalu disesuaikan dengan diri-Nya sendiri. Anda bisa puas dengan menerima satu talenta saja, tetapi Allah tidak puas mengaruniakan jumlah yang sekecil itu, kecuali Ia tidak memberikan. Jika Ia memberikan, pastilah menurut kapasitas-Nya sendiri.

Kita harus mengetahui bahwa karunia keselamatan yang digenapkan di atas diri manusia sesuai dengan kapasitas Allah. Keselamatan tidak digenapkan di atas manusia menurut pikiran manusia, melainkan menurut pikiran dan rencana Allah sendiri.

Setelah Tuhan mendengar doa seorang penjahat tersalib yang memohon kepada-Nya, ”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja,” Ia tidak mengabulkannya menurut apa yang ia minta, melainkan Ia berkata, ”Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:42-43). Allah menyelamatkan orang adalah menurut konsepsi-Nya sendiri, bukan menurut konsepsi manusia. Bukan konsepsi manusia yang terbatas itu yang mengira Allah hendak berbuat sesuatu baginya, melainkan menurut konsepsi Allah sendiri. Karena itu, Tuhan tidak menunggu hingga Ia datang dengan kerajaan-Nya baru mengingatnya, melainkan Ia berjanji bahwa hari itu juga ia akan ada bersama-sama dengan-Nya di dalam Firdaus.

Demikian juga seorang pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah, sambil memukul dirinya, ia berkata, ”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Ia hanya mohon agar Allah mengasihaninya. Tetapi Allah mengabulkan doanya melebihi permintaannya. Tuhan berkata, ”Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah” (Luk. 18:9-14). Dengan kata lain, sekembalinya orang dosa ini ke rumah, ia sudah dibenarkan. Hal ini melebihi pikiran orang yang berdosa itu. Pikirannya belum mencapai perihal dibenarkan, ia hanya mohon dikasihani saja. Tetapi Allah berkata bahwa ia sudah dibenarkan. Dalam pandangan Allah, Ia seolah tak pernah berbuat dosa dan Allah menganggapnya benar. Tidak saja ia menerima pengampunan dosa, bahkan manusianya itu sendiri telah dibenarkan oleh Allah. Dengan ini terbukti bahwa Allah menggenapkan keselamatan sedikitpun bukan menurut pikiran atau konsepsi manusia, melainkan menurut konsepsi-Nya sendiri.

Kisah serupa terjadi pada si anak hilang yang pulang ke rumah bapanya (Luk. 15:11-32). Ketika ia masih berada di tempat pengembaraannya yang jauh, sebelum berjumpa dengan bapanya, ia bersedia pulang ke rumah untuk menjadi salah seorang hamba. Tetapi setelah ia kembali, sang ayah tidak menyuruhnya menjadi hamba, malahan menyuruh hamba-hambanya itu memberikan jubah yang terindah baginya, memakaikan cincin, serta sepatu kepadanya, lalu menyembelih anak lembu yang tambun untuk berpesta dengan sukacita. Sebab anak itu dianggap hidup kembali dari kematian, dan didapat kembali dari kehilangan. Dari sini kita dapat melihat betapa Allah tidak menggenapkan keselamatan-Nya menurut konsepsi orang yang berdosa, melainkan konsepsi-Nya sendiri.

Selain itu, dalam Injil Markus tercantum kisah seorang lumpuh yang digotong oleh empat orang ke hadapan Tuhan. Karena waktu itu terlalu banyak orang, ia tak dapat dibawa langsung ke hadapan Tuhan, sehingga terpaksa atap rumah di tempat Tuhan Yesus berada dibuka dan orang lumpuh itu diturunkan dengan tikarnya, tepat ke hadapan Tuhan dengan harapan beroleh kesembuhan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, ”Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (Mrk. 2:5). Tuhan tidak saja rela menyembuhkan sakitnya, bahkan rela mengampuni dosanya. Hal ini menerangkan kepada kita bahwa perbuatan Allah selalu dilakukan-Nya hingga Ia sendiri merasa puas. Karena itu, Anda boleh datang ke hadapan Allah untuk memohon, baik permohonan Anda memadai atau tidak, pasti Allah akan melakukannyahingga Ia sendiri merasa puas. Maka, konsepsi kita terhadap keselamatan Allah tidak seharusnya dipandang dari pihak kita sendiri, melainkan harus dipandang dari pihak Allah.

3. Harapan Allah

Allah mempunyai satu harapan atas diri kita, yaitu siapa saja yang ingin memperoleh kasih karunia, ia harus belajar memberikan kasih karunia kepada orang lain. Kalau yang kita terima itu kasih karunia, maka Allah mengharapkan agar kita pun sudi memberikan kasih karunia kepada orang lain.

Matius 18:28-29 mengatakan, ”Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar utangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi.”

Di sini Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa utang kita adalah sebesar sepuluh ribu talenta (1 talenta = 6.000 dinar), sedangkan utang orang lain terhadap kita hanya seratus dinar. Tatkala kita berkata kepada Tuhan, ”O Tuhan, sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi.” Tuhan tidak saja membebaskan kita, bahkan menghapus utang kita itu. Utang kawan atau saudara kita itu paling banyak hanya seratus dinar, ia pun berkata pada kita, ”Sabarlah dahulu, utang itu akan kulunasi”; ia dengan kita, menaruh harapan dan permohonan yang sama. Mengapa kita tidak dapat mengampuni dia? Tetapi hamba ini ”menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi utangnya” (Mat. 18:30).

Dalam perumpamaan ini, Tuhan memperlihatkan betapa jahatnya dalam pandangan Allah, kalau seseorang tak mau mengampuni orang lain. Jika Anda tidak sudi mengampuni saudara Anda, Anda adalah hamba yang jahat. Ketika kita membaca perumpamaan ini, kita merasa hamba ini sungguh jahat. Utangnya sebanyak sepuluh ribu talenta telah dibebaskan oleh tuannya, tetapi ia tak mau membebaskan utang kawannya yang hanya sebesar seratus dinar, bahkan menyerahkannya ke dalam penjara, sampai ia melunasi utangnya. Ia mempersoalkan ”keadilan”! Kita harus tahu, kita memang harus memperlakukan diri sendiri berdasarkan keadilan, tetapi kita harus memperlakukan orang lain berdasarkan kasih karunia. Ini tidak berarti saudara itu tidak berutang kepada Anda, Tuhan pun tahu ia berutang kepada Anda, tetapi Tuhan memperlihatkan kepada kita dengan jelas bahwa bila orang yang percaya Tuhan tidak dapat mengampuni saudaranya, berarti ia tidak memperlakukannya menurut kasih karunia, dan ia menjadi orang yang kekurangan kasih karunia di hadapan Allah.

Ayat 31-33 mengatakan, ”Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” Sebagaimana Tuhan terhadap Anda, Tuhan pun mengharap agar Anda demikian pula terhadap orang lain. Tuhan tidak menuntut Anda menurut keadilan, Ia pun tidak mengharap Anda menuntut orang lain dengan keadilan. Tuhan telah menghapuskan utang Anda dengan belas kasihan, Ia pun mengharap Anda menghapuskan utang orang lain dengan belas kasihan. Tuhan menakar Anda dengan takaran apa, Ia pun mengharap Anda dengan takaran itu menakar orang lain. Kalau Tuhan menakar Anda dengan takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoyang, dan yang tumpah ke luar, maka Ia pun mengharap Anda menakar orang lain demikian pula. Sebagaimana Tuhan telah memberikan kasih karunia-Nya kepada Anda, Ia pun mengharap Anda memberikan kasih karunia kepada saudara Anda.

Ada satu hal yang paling tidak sedap dipandang di hadapan Allah, yaitu jika seseorang telah diampuni, tetapi tidak mau mengampuni orang lain; ia telah menerima belas kasihan, tetapi ia tidak mau mengasihani orang lain. Oh, tidak ada perbuatan yang lebih jelek daripada perbuatan ini. Setelah Anda menerima kasih karunia, Anda tidak pantas untuk enggan memberikan kasih karunia kepada orang lain. Anda harus menyadari bagaimana Tuhan memperlakukan Anda, Anda pun harus demikian memperlakukan orang lain. Kalau orang yang menerima kasih karunia menolak memberikan kasih karunia, itu suatu perbuatan yang tidak selayaknya. Orang yang berutang menagih utang; perbuatan itu tidak dibenarkan Allah. Orang yang berutang mengingat-ingat utang orang lain, perbuatan demikian dibenci Allah.

Tuannya bertanya kepadanya, ”Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” Allah menginginkan agar kita mengasihani orang seperti yang Dia lakukan. Karena itu, kita wajib belajar mengasihani dan mengampuni orang lain. Setiap orang yang telah menerima kasih karunia, setiap orang yang telah diampuni Allah, wajib belajar menghapuskan utang orang, mengampuni orang, mengasihani orang, dan menaruh kasih karunia terhadap orang lain. Kita harus menengadah dan berkata kepada Tuhan, ”Oh Tuhan, Kau telah membebaskan utangku sebesar sepuluh ribu talenta, kini aku pun mau mengampuni setiap orang yang berutang dan berbuat dosa terhadapku, dan mengampuni pula orang yang kelak berbuat dosa terhadapku. Dosaku yang besar itu telah Kauampuni, maka aku pun mau belajar menurut teladan-Mu, aku juga mau mengampuni orang lain.”

4. Ganjaran Allah

Selanjutnya ayat 34 mengatakan, ”Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utangnya.” Orang itu akhirnya diganjar Allah; ia diserahkan kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh utangnya.

Ayat 35 mengatakan, ”Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Alangkah seriusnya hal ini! Kita harap tidak seorang pun di antara kita yang jatuh ke dalam tangan ganjaran Allah. Hendaklah kita dapat mengampuni saudara kita dengan segenap hati kita, sama seperti Allah telah mengampuni kita dengan segenap hati-Nya. Semoga saudara dan saudari menyadari, bila ada saudara berbuat dosa terhadap Anda, bagaimanapun Anda harus belajar mengampuninya di hadapan Allah. Bagaimanapun Anda jangan mengingat-ingat dosanya, dan jangan menuntut pelunasan dari saudara itu. Dalam hal ini anak-anak Allah harus berbuat menurut teladan Allah Bapa kita. Sebagaimana Allah sabar dan lapang dada terhadap Anda, Ia pun mengharap Anda juga demikian terhadap saudara Anda.

II. MEMULIHKAN SAUDARA

Jika kita hanya mengampuni saudara saja, itu masih merupakan aspek yang negatif, itu tidak cukup. Kita masih perlu memulihkan dia, barulah sesuai dengan permintaan Matius 18:15-20 terhadap kita.

1. Memberi Tahu Dia Sendiri

Matius 18:15 mengatakan, ”Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Di antara anak-anak Allah sering terjadi seorang saudara berbuat dosa terhadap yang lain. Jika ada seorang saudara berbuat dosa terhadap Anda, apakah yang harus Anda perbuat? Firman Tuhan: ”Tegurlah dia di bawah empat mata.” Kalau ada seorang berbuat dosa terhadap Anda, yang pertama-tama ialah jangan Anda memberi tahu orang lain maupun penatua gereja, jangan dijadikan bahan obrolan. Tuhan tidak memberi perintah yang demikian. Kalau ada seorang saudara berbuat dosa terhadap Anda, perkara pertama yang dilakukan ialah Anda harus memberi tahu atau menegur saudara itu sendiri.

Kesulitan inilah yang sering terjadi: Bila ada seorang saudara berbuat dosa terhadap saudara lainnya, saudara yang menderita perbuatan dosa ini lalu menyiarkan hal tersebut ke mana-mana, hingga diketahui seluruh gereja, namun saudara itu sendiri mungkin masih tak tahu apa masalahnya. Itulah perbuatan orang lemah dan pengecut, sebab ia hanya berani mengatakannya dari belakang, tak berani langsung menegur orang itu sendiri. Perbuatan yang demikian adalah perbuatan yang tidak bersih. Memang kita harus menanggulangi kesalahan saudara, tetapi Tuhan tidak menghendaki kita menelanjangi kesalahannya kepada orang lain dulu. Yang pertama harus kita beri tahu adalah saudara itu sendiri, bukan orang lain. Jika pelajaran yang pokok ini dapat kita pelajari dengan baik, gereja pasti tidak akan mengalami banyak kesukaran.

Bagaimana caranya memberi tahu saudara itu? Apakah dengan menulis surat kepadanya? Tidak, Tuhan tidak berkata demikian, melainkan menghendaki Anda menegurnya di bawah empat mata. Tetapi ada satu hal yang harus diperhatikan, yaitu Anda tidak boleh menegurnya ketika Anda dan ia sedang bersama dengan orang banyak. Anda baru boleh menegurnya, ketika hanya ada dia dengan Anda berdua saja. Banyak anak Allah yang gagal dalam hal ini, yaitu menegur seorang saudara di hadapan orang lain. Tuhan berpesan agar Anda harus menegurnya di bawah empat mata, yakni ketika dia sedang bersama dengan Anda saja. Dengan perkataan lain, dalam hal menanggulangi dosa perorangan yang diperlukan hanya Anda dengan dia berdua; tidak perlu ada orang ketiga, bahkan mutlak tidak perlu.

Kita perlu mempraktikkan prinsip ini dengan baik di hadapan Allah: Sekali-kali tidak mengatasi saudara yang berbuat dosa terhadap Anda dari belakang, juga tidak menegurnya di hadapan orang banyak, melainkan menegurnya ketika hanya dia dengan Anda berdua saja, yaitu di bawah empat mata. Jangan mengatakan persoalan lain, melainkan hanya menunjukkan kesalahan saudara itu saja. Hal ini perlu kasih karunia. Itulah salah satu pelajaran yang wajib dipelajari oleh setiap anak-anak Allah.

Boleh jadi ada saudara atau saudari yang mengatakan bahwa hal itu merepotkan. Ya, memang ini sedikit merepotkan, tetapi Anda wajib melakukannya menurut firman Tuhan. Jangan takut repot. Kalau Anda menganggap kesalahan saudara anu terhadap Anda adalah soal kecil sehingga tak perlu Anda tegur, maka Anda pun tidak perlu memberitahukan kejadian itu kepada orang lain. Bagaimanapun jangan sampai orang lain sudah tahu, tetapi orang yang bersangkutan tidak tahu.

2. Tujuan Memberi Tahu

Ayat 15b mengatakan, ”Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali.” Itulah tujuan memberi tahu atau menegur. Jadi, tujuan Anda bukanlah ingin mendapat ganti rugi atau agar ia minta maaf kepada Anda, melainkan ”jika ia mendengarkan nasihat Anda, Anda telah mendapatkannya kembali.”

Sebab itu, persoalannya tidak tergantung pada berapa besarnya kerugian Anda, melainkan jika hal itu tidak dibereskan, ia tidak akan lewat di depan Allah, baik dalam persekutuan maupun doanya. Karena itu, Anda harus pergi menasihatinya. Bukan karena soal tersinggungnya perasaan Anda, melainkan karena soal kewajiban. Kalau itu hanya soal terlukanya perasaan Anda, itu masih terlampau kecil. Kalau itu hanya melukai perasaan Anda, dan Anda tidak menaruhnya dalam hati, Anda boleh melewatkan saja, tak perlu memberi tahu saudara itu atau siapa pun. Tidak ada orang lain yang lebih mengetahui berat atau ringannya masalah ini daripada Anda sendiri. Karena itu, perlu tidaknya memberi tahu saudara itu, Anda yang harus menentukannya. Siapa yang paling jelas, dialah yang harus menanggung kewajibannya. Banyak hal memang boleh dibiarkan berlalu begitu saja, tetapi banyak pula yang harus dibereskan.

Andaikata benar-benar terjadi perbuatan dosa atau kesalahan yang dapat mengakibatkan saudara kita jatuh dan terhalang, Anda harus mencari kesempatan, ketika ia bersama dengan Anda berdua untuk menegurnya. Apa yang tidak dapat Anda lewatkan dengan sembarangan, jangan membiarkannya berlalu dengan sembarangan. Sebab sekalipun Anda dapat berlalu, ia tidak dapat berlalu; ia telah berurusan dengan Allah, dan Allah belum mengampuninya. Jika saudara itu telah bersalah sedemikian rupa, sehingga ia bermasalah di hadapan Tuhan, Anda harus tahu bahwa itu bukan urusan yang kecil. Anda harus mencari kesempatan, hanya Anda bersamanya berdua saja, lalu berkata kepadanya, ”Saudara, Anda telah berbuat dosa terhadapku. Perbuatan itu tidak benar. Anda akan buntu di hadapan Allah, Anda akan tersekat di hadapan Allah, dan Anda akan menderita kerugian yang besar!” Jika ia mau menerima nasihat Anda, ”Anda telah mendapatnya kembali.” Itulah artinya Anda telah memulihkan saudara Anda.

Hari ini banyak anak Allah tidak menaati ajaran Alkitab ini. Ada yang selalu menyiarkan kesalahan saudara kepada orang lain; ada yang walaupun tidak mengatakan kepada orang lain, tapi senantiasa tidak sudi mengampuninya, yakni selalu disimpan dalam lubuk hati; ada lagi yang setelah mengampuni lalu habis perkara, tak mau memperhatikan apa-apa lagi. Tetapi Tuhan tidak menghendaki kita berbuat demikian. Ketiga macam perbuatan itu semuanya tidak benar.

Tuhan tidak mengatakan bahwa kalau saudara Anda berbuat dosa terhadap Anda, dan setelah Anda mengampuni dia, habislah segala perkaranya. Tetapi Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa orang yang menderita perbuatan dosa itu malah berkewajiban memulihkan saudara yang berbuat dosa terhadapnya. Kalau perkara itu tidak sepele, maka demi masa depannya Anda wajib menegurnya, yakni memulihkannya. Anda harus mencari akal untuk mendapatkannya kembali. Sewaktu Anda menegurnya, sikap Anda harus wajar, motivasi Anda harus benar, dan tujuan Anda tidak lain ialah untuk mendapatkan kembali saudara Anda itu. Jika Anda bermotivasi hendak mendapatkannya kembali, tentu Anda tahu bagaimana caranya menunjukkan kesalahannya. Tetapi jika Anda tidak bermotivasi demikian, Anda hanya akan memperdalam keretakan. Karena itu, Anda wajib menyadari bahwa tujuan nasihat Anda bukan ingin minta ganti rugi, bukan ingin menyelamatkan perasaan pribadi Anda, melainkan ingin mendapatkan kembali saudara Anda.

3. Sikap ketika Memberi Tahu

Jika tujuan Anda benar, Anda akan mengetahui bagaimana prosedurnya. Pertama, roh Anda harus benar, kemudian perkataan Anda, cara mengatakannya, sikap, air muka, suara, dan nada suara Anda, semua harus benar. Sebab tujuan Anda bukan hanya menghendaki ia menyadari kesalahannya, tetapi juga ingin mendapatkannya kembali. Kalau Anda mencelanya, walaupun celaan Anda itu benar, perkataan Anda pun benar, tetapi sikap, nada, dan air muka Anda sudah terpaut terlalu jauh dari tujuan Anda yang ingin mendapatkannya kembali.

Jika kita ingin mengatakan saudara itu baik, ini sangat mudah, ingin memuji seorang, juga sangat gampang. Atau, jika kita memberitahukan satu perkara kepada seseorang sambil marah-marah, itu pun sangat mudah, asal kita melepaskan emosi kita, kita sudah dapat melakukannya. Tetapi, jika kita menginginkan orang itu mengetahui kesalahannya dan sekaligus ingin memulihkan dan mendapatkannya kembali, itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang penuh kasih karunia. Walaupun dirinya sendiri sudah benar, tetapi tidak sombong, melainkan merendahkan diri dan lemah lembut; dirinya sendiri benar, juga dapat menolong orang lain menyadari kesalahannya, hal yang demikian hanya dapat dilakukan oleh orang yang mutlak mengesampingkan dirinya sendiri.

Kita harus tahu, Tuhan mengizinkan seorang saudara berbuat dosa terhadap Anda, itu berarti Tuhan telah menghargai Anda, dan Ia telah memilih Anda, serta menanggungkan satu kewajiban yang berat di atas diri Anda. Anda adalah bejana yang terpilih, Anda akan dipakai untuk melakukan tugas pemulihan.

Jika ada seorang saudara berbuat dosa terhadap Anda dalam hal yang sangat kecil, setelah Anda memaafkannya, berlalulah segalanya, tanpa meninggalkan kesulitan apa-apa. Tetapi jika ada seorang saudara berbuat dosa sedemikian rupa terhadap Anda, yang tidak dapat dilewatkan begitu saja, maka Anda tidak dapat menutup mata dan menganggap ia tidak berdosa. Sebab perkaranya ada di situ, tidak mungkin terhapus. Jika kesulitan ini tidak dibereskan, akan menjadi beban gereja. Kekuatan gereja sering menjadi berkurang karena beban tersebut; kehidupan tubuh pun sering menjadi lemah karena beban itu, bahkan tugas atau pelayanan ministri pun akan berkurang karenanya. Jadi, kita harus belajar di hadapan Allah, yaitu jika timbul urusan, haruslah segera ditanggulangi. Bila ada seorang saudara berbuat dosa terhadap Anda, janganlah menutup mata dan tak mau menghiraukannya, melainkan harus membereskannya dengan sebaik-baiknya. Hanya saja roh, sikap, perkataan, air muka, dan nada suara Anda harus benar. Dengan demikian, Anda baru bisa mendapatkan kembali saudara Anda itu.

4. Memberi Tahu Orang Lain

Ayat 16 mengatakan, ”Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” Kalau setelah Anda menasihatinya dengan motivasi yang wajar, dengan sikap yang baik, dan dengan perkataan yang lembut, ia tidak mendengarkan, Anda boleh membawa orang lain. Tetapi harus menunggu sampai ia tak mau menerima, barulah Anda memberi tahu orang lain. Namun, sekali-kali tak boleh memberitahu orang lain dengan sembarangan.

Jika di antara dua anak Allah terjadi kesulitan, dan mereka berdua mau membereskannya di hadapan Allah, maka jarang ada persoalan yang sulit diselesaikan. Tetapi, jika ada yang tidak hati-hati berbicara, sehingga perkara itu tersebar ke dalam telinga orang ketiga, maka kesulitan itu akan bertambah berat, dan sukar sekali dibereskan.

Ibarat luka-luka, jika tidak kemasukan benda dari luar luka itu agak mudah disembuhkan, tetapi jika kemasukan kotoran, tidak saja akan bertambah menderita, bahkan bertambah sulit untuk mengobatinya. Karena itu, memberi tahu persoalan orang kepada orang ketiga itu sama dengan menggosok luka-luka dengan kotoran. Sebab itu, kesulitan di antara saudara dan saudari harus ditanggulangi berdua secara langsung. Kecuali ia tidak menerima pemberesan itu, barulah boleh memberi tahu seorang atau dua orang lainnya. Lagi pula, tujuan memberi tahu seorang atau dua orang bukan untuk memperbanyak perkataan, melainkan agar mereka bersama-sama dapat menasihatinya, bersama-sama dapat membantunya, dan bersama-sama dapat bersekutu dengannya.

Tentu, seorang atau dua orang itu haruslah orang yang berpengalaman dalam Tuhan, dan yang berbobot dalam kerohanian. Anda boleh membeberkan persoalan Anda berdua di hadapan mereka, dan mohon mereka menilai apakah saudara itu bersalah atau tidak. Dan mereka akan membawa persoalan Anda ke dalam doa, lalu mengkaji dan memutuskannya dengan kekuatan rohani mereka. Bila mereka juga merasa ia bersalah dalam persoalan ini, Anda bersama dengan mereka harus menasihati saudara itu demikian: ”Saudara, Anda telah berbuat salah dalam hal itu. Anda akan buntu di hadapan Allah karena berbuat demikian. Jadi, kami anjurkan agar Anda mau bertobat dan mengaku salah.”

”Supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” Seorang dan dua orang itu haruslah orang yang tidak berbicara sembarangan. Janganlah Anda membawa orang yang banyak bicara, orang yang demikian sama sekali tidak disegani orang. Anda harus membawa orang yang jujur, berbobot rohani, dan berpengalaman di hadapan Tuhan. Dengan demikian, berdasarkan keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.

5. Terakhir, Memberi Tahu Gereja

Ayat 17 mengatakan, ”Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Kalau Anda seorang diri tidak mampu menanggulangi, bawalah seorang atau dua orang; jika ia tetap tidak mau mendengarkan, barulah sampaikan persoalannya kepada gereja. Ini bukan berarti Anda mengadukan persoalan itu di hadapan seluruh orang ketika gereja bersidang, melainkan menyampaikan persoalannya kepada para penatua gereja. Jika hati nurani gereja pun menganggap saudara itu bersalah, pasti ia sesungguhnya bersalah.

Kalau saudara tersebut hidup di hadapan Allah, ia seharusnya melepaskan pandangannya dan menerima keterangan dua atau tiga orang saksi itu. Jika ia tidak menerima keterangan dua atau tiga orang saksi, setidak-tidaknya ia harus menerima keputusan gereja. Pendapat dan opini gereja yang seragam itulah kehendak Tuhan. Ia harus menyadari, tidaklah benar jika ia tidak menerima keputusan gereja. Ia harus belajar menjadi orang yang lunak, tidak mempercayai perasaan pribadinya, dan tidak menganggap keputusannya sendiri dapat diandalkan; dia seharusnya menerima perasaan gereja.

Bagaimana jika ia tidak mau juga mendengarkan gereja? Ayat 17b mengatakan, ”Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” Perkataan ini sangat serius. Dengan kata lain, jika ia tidak mau juga mendengarkan gereja, maka seluruh saudara saudari dalam gereja akan tidak mau bergaul dengan dia. Karena ia tidak mau membereskan masalahnya itu, maka gereja memandang seperti orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai, dan tidak bersekutu dengannya. Meskipun di sini masih belum sampai tahap pemecatan, akan tetapi saudara saudari memandangnya seperti orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai, dan semua orang tidak menggubrisnya. Ia berbicara, semua orang tidak mau menanggapinya; ia datang memecahkan roti, semua orang pun tidak menyapanya; ia berdoa, semua orang tidak mengaminkan, ia datang dibiarkan, pergi pun dibiarkan. Semua orang menganggapnya seperti orang luar. Jika anak-anak Allah memiliki sikap seragam sedemikian, saudara itu akan mudah terpulihkan. Jadi, tujuan perlakuan yang demikian adalah untuk memulihkan dia.

Ayat 18 mengatakan, ”Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Apa yang dilakukan gereja di dunia diakui oleh Tuhan di surga. Jika gereja menganggapnya bersalah, dan ia tidak mau mendengarkan gereja, gereja akan memandangnya sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai, hal ini diakui pula oleh Tuhan di surga.

Ayat 19-20 mengatakan, ”Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Di sini kita lihat bahwa prinsip dua atau tiga orang adalah prinsip gereja. Jika dua atau tiga orang sepakat memutuskan sesuatu di hadapan Allah, Allah pasti mengakui hal itu. Perkataan dalam Matius 18:18-20 adalah berdasarkan kasus penanggulangan saudara itu. Dari tindakan dua atau tiga orang sampai segenap gereja, tindakan itu akan diakui oleh Bapa yang di surga.

Di sini kita harus mengetengahkan satu masalah sebagai tambahan, yaitu bagaimana gereja memutuskan perkara-perkara yang besar dan penting.

Kisah Para Rasul 15 menerangkan kepada kita, ketika saudara-saudara berhimpun bersama, semua orang boleh berbicara, semua alasan boleh diajukan, bahkan orang yang ingin memelihara hukum Taurat pun boleh berdiri mengemukakan pendapatnya (walau pendapat mereka sama sekali keliru). Dengan kata lain, setiap saudara diberi kesempatan untuk berbicara, tetapi bukan setiap saudara boleh memutuskan perkaranya. Setelah saudara-saudara mengutarakan semua perasaan mereka di hadapan Allah, dan setelah para penatua mendengarkannya, akhirnya penatua-penatua itu menyatakan perasaan mereka di hadapan Allah untuk membuat keputusan yang terakhir.

Beberapa saudara pewajib itu memiliki perasaan yang sama di hadapan Allah, dan perasaan itu adalah perasaan gereja, yaitu hati nurani gereja. Setelah mereka berbicara, semua orang harus tunduk dan dengan sehati melakukannya. Begitulah cara yang ditempuh gereja. Gereja tidak menekan orang dengan tidak memberikan kesempatan berbicara, tetapi semua orang juga sekali-kali tidak boleh berbicara sembarangan. Tatkala memberikan keputusan, maka para penatua itu berbicara di bawah pengaturan Roh Kudus, dan saudara saudari harus mendengarkan perkataan para penatua itu. Bila Roh Kudus memiliki wewenang dalam gereja, masalah-masalah yang demikian pasti dapat diselesaikan dengan lancar. Tetapi, jika Roh Kudus tidak memiliki wewenang dalam gereja, pendapat daging akan makin bertambah dan gereja menjadi tak berdaya berbicara. Karena itu, kita wajib belajar tunduk di bawah wewenang Roh Kudus dan menuruti perkataan gereja.

Semoga Allah memberi karunia kepada kita, agar kita menjadi seorang yang berkasih karunia seperti Tuhan. Jika ada saudara berbuat dosa terhadap kita, ampunilah dia dengan segenap hati. Bahkan pulihkanlah dia menurut kewajiban Anda dan menurut firman Tuhan. Semoga Allah memimpin kita, agar dalam gereja kita dapat menyatakan penghidupan yang sedemikian.