Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 3/50

BERBAGAI JENIS SIDANG

Pembacaan Alkitab: Kis. 2:14, 40-42; 1 Kor. 10:16-17, 21; 11:20, 23-26; 14:26-36;

Mat. 18:19-20

Dalam berita ini kita akan membahas tentang pelaksanaan bersidang (pertemuan ibadah). Dalam Alkitab kita tampak ada lima jenis sidang: sidang pemberitaan Injil, sidang pemecahan roti, sidang doa, sidang pemanfaatan karunia, dan sidang pengkhotbahan. Menurut teladan Alkitab, kelima sidang yang berbeda-beda itulah yang dapat kita temukan dalam gereja zaman rasul-rasul. Jika gereja di masa kini ingin kuat, maka kelima jenis sidang tersebut perlu dipraktikkan. Kita juga wajib belajar bagaimana melaksanakan setiap sidang itu dengan sebaikbaiknya, agar kita beroleh faedah darinya.

I. SIDANG PEMBERITAAN INJIL

Melalui keempat kitab Injil dan Kisah Para Rasul, kita tampak bahwa dalam sejarah gereja di masa awal, sidang pemberitaan Injil selalu merupakan sidang yang sangat penting. Tetapi sidang tersebut berangsur-angsur kehilangan kedudukannya setelah gereja merosot; mulai dari abad ketiga dan keempat, sidang pengkhotbahanlah yang muncul sebagai penggantinya. Jika gereja ingin kuat, kedudukan sidang pemberitaan Injil ini harus kita pulihkan kembali.

Gereja ada di bumi tidak untuk membangun dirinya sendiri saja, tetapi juga untuk memperkenalkan Kristus kepada orang. Maka ditinjau dari pembinaan gereja (yang ditujukan ke dalam), memang sidang pemberitaan Injil seolah-olah boleh ditaruh pada urutan terakhir, tetapi ditinjau dari pengembangan gereja (yang ditujukan ke luar), karunia penginjilan ini adalah yang pertama dipakai. Penginjilan Filipus ke Samaria dalam catatan Kisah Para Rasul 8 adalah satu bukti. Maka yang Allah lakukan pertama ialah mengutus para penginjil, agar mereka pergi, memanfaatkan karunia mereka untuk memperoleh jiwa bagi Tuhan melalui pemberitaan Injil. Sebab itu, kita harus mengubah kebiasaan kita yang selalu ingin mendengarkan khotbah saja; kita harus mementingkan sidang pemberitaan Injil.

Jika setelah saudara saudari percaya Tuhan lalu segera belajar membantu usaha penginjilan, tentu mereka tidak akan mempunyai kebiasaan mendengarkan khotbah saja tanpa kebiasaan memberitakan Injil. Dalam sidang pemberitaan Injil ini kita harus bekerja secara aktif, bukan hanya duduk dan mendengarkan berita Injil itu tanpa mempedulikan keselamatan orang lain.

Sidang pemberitaan Injil semacam ini adalah sidang pekerjaan bagi segenap gereja, maka hal ini menjadi kewajiban setiap saudara saudari. Semua harus banyak berdoa terlebih dulu, lalu ada saudara-saudara yang lebih dewasa, yang lebih berkarunia, berdiri sebagai pembawa berita Injil, sedang saudara saudari lainnya harus sehati mendoakan saudara pembicara itu, agar mereka dapat memberitakan Injil dengan perkasa. Dalam setiap kali sidang, satu berita boleh dibawakan oleh dua atau tiga orang, jangan lebih dari jumlah itu, agar tidak menjadi kacau.

Bagaimanakah setiap saudara saudari mengambil bagian dalam sidang pemberitaan Injil?

Pertama, setiap saudara saudari harus tampak dengan jelas bahwa Injil bukan diberitakan kepada mereka, melainkan kepada orang-orang yang belum percaya. Perkataan ini kedengarannya sangat sederhana, akan tetapi saudara saudari yang mengikuti sidang pemberitaan Injil sering kali lupa bahwa kesaksian-kesaksian di atas mimbar bukan untuk mereka, melainkan untuk orang-orang yang belum percaya. Sebab itu, jangan sekali-kali Anda mengikuti sidang ini dengan sikap menonton, acuh tak acuh dan tanpa bekerja sama. Anda jangan mempedulikan baik atau tidak kesaksian yang diucapkan mereka, tetapi Anda wajib bersikap ingin menyelamatkan orang, dan harus mau bekerja sama.

Kedua, sebaiknya seluruh saudara saudari hadir dalam sidang. Jangan sekali-kali mengira Anda sendiri telah beroleh selamat, tak lagi perlu mengikuti sidang pemberitaan Injil. Memang Anda telah beroleh selamat, akan tetapi Anda mempunyai tugas dalam sidang tersebut. Kehadiran Anda dalam sidang ini bukan untuk mendengarkan Injil, melainkan untuk melakukan tugas. Tidak ada seorang pun yang boleh bersantai-santai dalam sidang pemberitaan Injil. Ada saudara saudari berkata, “Aku sudah mengerti, apa perlunya aku mengikuti sidang itu?” Namun, mengikuti sidang pemberitaan Injil bukan tergantung pada mengerti atau tidaknya Anda. Bukankah Anda juga telah mengerti sidang pemecahan roti mengapa Anda harus selalu mengikuti sidang itu? Anda seharusnya mengikuti sidang penginjilan, sebab Anda harus membantu sidang itu, dan Anda pun harus mengambil bagian dalam sidang itu.

Ketiga, tiap kali diadakan sidang pemberitaan Injil, Anda wajib mengajak orang untuk mendengarkan Injil. Anda harus mengundang kawan atau kerabat Anda beberapa hari atau seminggu sebelumnya. Kadang kala Allah mengaruniai Anda, sehingga Anda dapat sekaligus membawa sepuluh sampai dua puluh orang. Tetapi Anda perlu minta pertolongan orang lain untuk melayani mereka; Anda sendiri paling banyak melayani tiga atau empat orang, sisanya harus Anda serahkan kepada saudara lain untuk dilayani. Jangan sekali-kali membawa banyak orang datang, namun tidak melayani mereka dengan baik.

Ketika Anda mengikuti sidang pemberitaan Injil, janganlah Anda datang tepat pada waktunya, melainkan datanglah sebelum waktunya, untuk mengadakan persiapan. Anda harus menjelaskan kepada orang-orang yang Anda undang, di mana Anda menunggu mereka, atau di mana Anda menjemput mereka, atau Anda pergi ke rumah mereka lalu datang bersama-sama ke sidang. Sebab itu, harus lebih pagi sedikit, jangan sampai waktu sidang sudah tiba, orang-orang yang Anda undang masih belum datang.

Keempat, setelah Anda membawa orang-orang itu datang, Anda harus melayani mereka dengan sebaik-baiknya.

1. Duduk di Sisinya

Bila ada seorang yang belum percaya datang ke balai sidang, Anda harus memberi tahu kepadanya, di mana ia harus mengambil tempat duduk. Anda harus bekerja sama dengan saudara atau saudari yang bertugas sebagai penyambut sidang. Sebaiknya Anda duduk di sisi orang yang Anda ajak itu; kalau yang Anda ajak itu dua orang, Anda harus duduk di tengah-tengah mereka; jika Anda mengajak empat orang, Anda pun harus duduk di tengah-tengah mereka, yakni dua orang di kanan Anda, dua orang di kiri Anda. Jangan lebih dari empat orang, sebab melayani empat orang itu sudah cukup repot. Jika Anda mengajak banyak orang, Anda perlu meminta pertolongan saudara atau saudari lain. Cara mengambil tempat duduk dalam sidang sangat penting. Kita harus selalu duduk di tengah-tengah orang yang kita ajak.

2. Membantu Mencarikan Ayat Alkitab,

Menjelaskan Istilah dan Mencarikan Kidung

Ketika Anda duduk bersama dengan teman-teman (sasaran) Injil, Anda harus melakukan banyak perkara lagi. Ketika di atas mimbar membacakan ayat Alkitab, Anda harus menolong sasaran Injil mencarikan ayat-ayat itu. Sewaktu pembicara Injil menyinggung satu istilah atau ungkapan yang istimewa tanpa penjelasan, Anda harus menjelaskan kepada mereka dengan suara lembut. Anda wajib melengkapi apa yang kurang lengkap dalam berita si pengkhotbah itu. Suara Anda jangan keras-keras, melainkan lembut tetapi jelas.

Pernah suatu kali terjadi, seorang saudara dalam pemberitaan Injil berkata kepada pendengar yang sangat banyak itu, “Kalian tahu kisah bani Israel keluar dari Mesir.” Lalu ada seorang saudara lain datang berkata kepadanya bahwa orang-orang ini tidak tahu tentang orang Israel dan Mesir. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa saudara pengkhotbah lebih baik tidak menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti oleh pendengar yang belum beriman; di pihak lain, saudara saudari yang melayani sidang pun wajib membantu. Jika terjadi hal yang demikian, Anda wajib mengartikan secara singkat kepada sasaran Injil bahwa orang Israel adalah orang Yahudi, dan Mesir itu satu negara; mereka menjadi budak di Mesir, kemudian mereka keluar dari situ. Anda harus membantu menjelaskan dengan singkat dan jelas.

Anda pun harus membantu mereka mencari kidung. Banyak kidung yang ada koornya, yang harus diulangi, hal ini pun menjadi tugas Anda.

3. Memperhatikan Reaksinya, Sambil Mendoakannya

Reaksi mereka di hadapan Tuhan juga perlu kita perhatikan. Bila Anda mengetahui bahwa reaksi orang yang duduk di sebelah Anda terhadap Injil kurang baik, Anda boleh berdoa dalam hati, “Oh Tuhan, lunakkanlah hatinya”, atau “Tuhan, singkirkanlah keangkuhannya”, jika Anda merasa ia bersikap angkuh. Baik buruknya pemberitaan Injil gereja tergantung pada keadaan seluruh saudara saudari dalam sidang. Jika segenap saudara saudari ikut serta dan berfungsi, Injil akan berhasil. Karena itu, Anda harus memperhatikan bagaimana sebenarnya reaksi pendengar itu. Keadaan orang-orang yang Anda ajak harus Anda ketahui dengan jelas, maka Anda harus mengamati mereka dan mendoakan mereka, “Tuhan, gerakkanlah hati mereka; Tuhan, terangilah mereka, agar mereka dapat paham; Tuhan, harukanlah mereka; Tuhan, singkirkanlah keangkuhan mereka, agar mereka dapat menerima firman-Mu.” Adakalanya Anda merasa alangkah baiknya bila si pemberita Injil dapat mengucapkan suatu perkataan atau suatu judul, maka Anda pun boleh berdoa demikian, “Tuhan, mohon Kau menyuruh saudara yang di atas mimbar mengucapkan kata-kata ini, sebab kata-kata ini sesuai dengan keperluan orang ini.” Dengan demikian, Anda akan tampak saudara yang berkhotbah di atas mimbar sesungguhnya akan mengucapkan kata-kata tersebut, seolah-olah ia telah menuruti kemauan Anda. Perihal mendoakan dan melayani orang-orang yang di sisi Anda, itu merupakan perkara yang sangat penting.

4. Membantu Mereka untuk Menerima

Bila Anda merasa ia telah tergerak, Anda harus membantunya untuk menerima Tuhan. Bawakanlah firman Tuhan ke dalam hatinya melalui doa, “Oh Tuhan, semoga perkataan ini meresap ke dalam hatinya. Tuhan, semoga firman ini bersinar dan agar ia tampak.”

Ketika saudara pembawa berita Injil sedang mengakhiri beritanya, Anda harus mendorong teman Anda dengan mengatakan, “Jangan Anda lewatkan kesempatan ini, terimalah Tuhan sekarang juga.” Ketika Anda melihat ia telah tergerak, namun masih agak ragu-ragu, Anda wajib membantunya. Kadang kala jika kita tidak mendorong orang, Iblislah yang menghalang-halangi orang. Iblis memang selalu menghalang-halangi orang untuk menerima Tuhan. Maka kita harus mendorong orang menerima Tuhan dari dalam hatinya. Dalam sidang, kita harus membantu orang agar ia beroleh selamat. Pada saat pemberita Injil di atas mimbar menganjuri orang menerima Tuhan, Anda harus mengamati orang ini. Jika ia memperlihatkan sedikit reaksi tergerak, Anda harus membantunya, dan berkata kepadanya, “Anda sekarang sudah seharusnya percaya dan menerima Tuhan. Jika tidak, Anda akan menderita kerugian dan kebinasaan yang kekal.” Sikap Anda dalam mengucapkan kata-kata ini harus serius dan tegas, barulah bisa berhasil.

Anda harus ingat satu prinsip: Kita harus menyelamatkan orang ini, janganlah membuat analisis apakah orang tersebut dapat beroleh selamat atau tidak. Jangan pula menduga-duga apakah Allah menakdirkannya beroleh selamat atau tidak. Kita hanya bertujuan menyelamatkannya. Bagaimanapun juga Anda harus membawanya ke hadapan Tuhan, dan tidak akan melepaskannya sampai ia beroleh selamat.

5. Membantunya Mencatatkan Data Diri

Bila selesai sidang perlu meminta para pendengar mencatat nama dan alamat mereka, Anda harus membantu mereka mencatatkan data diri. Mungkin ia akan bertanya apa maksud perbuatan itu, Anda boleh memberi tahu bahwa itu untuk memudahkan kunjungan ke rumah mereka. Anda harus memperhatikan alamatnya dengan jelas. Hal tersebut akan menguntungkan orang lain yang ditugaskan untuk mengunjungi mereka di kemudian hari.

6. Membantu Mereka Berdoa

Sampai saat ini tugas Anda masih belum selesai. Anda masih perlu membantu mereka berdoa. Jika hal ini tidak dapat Anda tangani seorang diri, Anda boleh meminta saudara dan saudari lain membantu Anda. Jangan sekali-kali melakukan hal ini secara asal jadi, melainkan harus dilakukan hingga Anda merasa lega, setelah itu barulah Anda boleh mengantarnya pulang.

7. Mengajak Saudara Saudari Menjenguknya Sampai Ia Beroleh Selamat

Setelah mereka pulang ke rumah, maka adalah kewajiban Anda untuk pertama kali mengajak saudara saudari menjenguk mereka. Ketika gereja mengadakan penjengukan, Anda wajib ambil bagian, dan mengajak saudara saudari untuk berwawancara dengan mereka. Mungkin ada orang yang tidak cukup mendengar Injil sekali saja, maka Anda perlu mengundangnya untuk datang sekali lagi, bahkan datang tiga kali. Anda wajib melakukannya sampai orang tersebut beroleh selamat.

Semoga Allah memimpin kita menempuh jalan pemulihan, yaitu mementingkan sidang pemberitaan Injil. Setiap saudara saudari berfungsi dengan dinamis, lincah, ketat, dan aktif dalam sidang tersebut. Bila terbit suasana yang demikian, keadaan gereja akan menjadi sangat baik dan sidang pemberitaan Injil menjadi sidang pekerjaan seluruh gereja.

Bagi gereja lokal yang saudara saudarinya belum banyak, keadaan sidang lebih sederhana, tentu tidak perlu menuruti petunjuk di atas secara mendetail. Tetapi pada prinsipnya, setiap saudara saudari wajib mementingkan sidang pemberitaan Injil ini, setiap saudara saudari harus bertanggung jawab, dengan aktif dan dengan sehati menggalakkan usaha pemberitaan Injil, memimpin jiwa-jiwa beroleh selamat.

II. SIDANG PEMECAHAN ROTI

Alkitab mengemukakan dua aspek tentang makna sidang pemecahan roti: Aspek pertama tertera dalam 1 Korintus 11, dan aspek lainnya tertera dalam 1 Korintus 10. Pasal 11 mengatakan bahwa roti ini adalah tubuhTuhan, yaitu tubuh jasmani Tuhan sendiri. Tubuh ini telah dikorbankan bagi kita untuk pengampunan dosa, agar kita beroleh hayat. Pokok pemikiran di sini adalah memperingati Tuhan. Sedang dalam pasal 10 mengandung konsepsi lain, di situ dikatakan, “maka kita sekalipun banyak, adalah satu tubuh”. Kalau dalam pasal 11 roti ditujukan kepada tubuh jasmani Tuhan, maka dalam pasal 10 ditujukan kepada kita. Dengan kata lain, pasal 11 menitikberatkan peringatan akan Tuhan, sedang pasal 10 menitikberatkan persekutuan anak-anak Allah.

Maka sidang pemecahan roti mengandung dua arti: Pertama terarah ke surga — memperingati Tuhan, kedua ialah persekutuan kita — anak-anak Allah, yang diwakili oleh roti di atas meja itu. Kita masing-masing mendapat bagian dalam roti ini, dan kita semua adalah orang-orang dalam roti ini. Anda menerima Tuhan ini, aku pun menerima Tuhan ini, karenanya di dalam Tuhan kita wajib mempunyai persekutuan. Maka di satu pihak pemecahan roti berarti datang ke hadapan Tuhan dan bersekutu dengan-Nya; di pihak lain berarti anak-anak Allah saling bersekutu.

Karena keselamatan mempunyai dua tahap, maka sidang pemecahan roti pun sebaiknya terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama dari keselamatan ialah Anda menyadari diri sendiri sebagai orang yang berdosa, yang sepatutnya terhukum dan binasa. Namun Tuhan membelaskasihani Anda, Dia datang ke dunia dan mati bagi Anda; Dia menolong Anda, mengalirkan darah-Nya untuk mengampuni dosa Anda. Karena Anda menerima darah-Nya, dosa Anda mendapat pengampunan. Inilah tahap pertama dari keselamatan. Tetapi keselamatan tidak berakhir di sini. Setelah Anda beroleh selamat, Anda mendapatkan Tuhan Yesus, Anda pun menjadi milik-Nya. Kemudian Tuhan Yesus membawa Anda ke hadapan Allah untuk memanggil Bapa-Nya sebagai Bapa Anda; Roh Kudus di dalam Anda mengajar Anda menyebut Allah, “Abba, ya Bapa” (Rm. 8:14-16). Itulah tahap kedua dari keselamatan. Kalau tahap pertama adalah tahap Tuhan, maka tahap kedua adalah tahap Bapa. Dalam tahap pertama kita beroleh pengampunan, dalam tahap kedua kita beroleh perkenan di hadapan Allah. Ketika kita beroleh selamat, pada tahap pertama kita berhubungan dengan Tuhan, sedang pada tahap kedua kita berhubungan dengan Allah. Dari kedudukan orang dosa kita datang ke hadapan Tuhan, dan dari hadapan Tuhan kita datang ke hadapan Allah. Kita terlebih dulu menjumpai Tuhan, kemudian baru menjumpai Bapa. Karena itu, 1 Yohanes 2:23 mengatakan, “Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.”

Keselamatan mengenal dua aspek: Aspek Anak, yaitu aspek Tuhan, dan aspek Bapa, yaitu aspek Allah. Tidak ada orang yang dapat datang kepada Bapa dengan melangkahi Anak. Kita harus datang dulu kepada Tuhan, yaitu menjumpai salib, beroleh pengampunan dan penggantian yang benar bagi yang tidak benar, kemudian barulah Tuhan dapat membawa kita ke hadapan Bapa. Jadi bukan datang ke hadapan Bapa untuk beroleh keselamatan, melainkan datang dulu ke hadapan Anak untuk beroleh keselamatan, setelah itu baru datang ke hadapan Bapa. Beroleh pengampunan dulu, kemudian beroleh perkenan. Hal ini perlu kita ketahui dengan jelas.

Sidang pemecahan roti adalah untuk memperingati Tuhan. Kalau keselamatan Tuhan mengandung dua aspek, dengan sendirinya sidang ini pun mempunyai dua aspek. Sebelum memecahkan roti ialah aspek Putra, sedang sesudah memecahkan roti itulah aspek Bapa. Aspek Tuhan sebelum memecahkan roti, sedang aspek Allah sesudah memecahkan roti.

Kita pertama datang ke hadapan Tuhan dengan menyadari diri sendiri sebagai orang dosa, anak durhaka, dan anak murka yang berada di bawah hukuman Allah, yang tak berdaya menyelamatkan diri sendiri. Akan tetapi, karena Tuhan Yesus mengalirkan darah dan menebus dosa kita, kita baru dapat datang ke hadirat Tuhan, menerima hayat-Nya. Ketika kita menjadi orang dosa, kita lebih dulu datang ke hadapan Tuhan; kita menyadari betapa dosa kita beroleh pengampunan. Karena itu, dalam tahap pertama sidang pemecahan roti ini, setiap kidung dan puji syukur juga ditujukan ke hadapan Tuhan.

Ketika kita datang ke hadapan Tuhan, kita memuji Tuhan dan mengucapkan syukur saja; sebenarnya selain puji syukur tidaklah seharusnya berbuat hal yang lain. Dalam sidang ini, doa permohonan pun tidak sepadan. Kita tidak sepatutnya mohon Tuhan mengalirkan darah bagi kita, sebab hal itu adalah fakta yang telah Dia kerjakan, kita tidak perlu mohon untuk itu, kita cukup bersyukur dan memuji-Nya saja. Entah dengan cara berdoa atau dengan cara berkidung, yang penting kita harus bersyukur dan memuji. Bersyukur ditujukan kepada karya Tuhan, memuji ditujukan kepada diri Tuhan sendiri. Bersyukur karena karya-Nya, memuji karena apa ada-Nya. Pada mulanya lebih banyak bersyukur, akhirnya menjadi puji-pujian. Di satu pihak bersyukur, di lain pihak memuji. Kita tampak betapa ajaib karya yang Dia genapkan bagi kita, kita pun tampak betapa ajaib status-Nya sebagai Juruselamat kita. Sewaktu kita bersyukur di hadapan Tuhan hingga suatu tingkat, kita akan memuji-muji-Nya, dan ketika puji-pujian kita mencapai puncaknya, itulah saatnya untuk kita memecahkan roti.

Tahap kedua dimulai dari setelah pemecahan roti selesai. Tuhan tidak merasa puas kalau setelah orang datang ke hadapan-Nya, lalu berhenti di situ saja. Setelah seseorang menerima Tuhan, tidak berhenti pada Tuhan saja. Itulah suatu hal yang ajaib. Setelah kita menerima Tuhan, kita lalu diterima oleh Allah. Hal ini perlu kita ketahui dengan jelas. Dalam hubungan Injil, yang kita terima adalah Tuhan, bukan Bapa. Seluruh Alkitab tidak menerangkan bahwa kita harus menerima Bapa, sebaliknya kita selalu diharuskan menerima Putra; tetapi kita sendiri diterima oleh Bapa. Karena kita menerima Putra, maka kita dianggap patut untuk diterima oleh Bapa. Kita menerima Putra, itu berarti menerima keselamatan separuh; setelah Bapa menerima kita, barulah keselamatan kita menjadi sempurna. Putra yang kita terima, tetapi itu baru setengah; Allah menganggap kita layak menjadi milik-Nya, itu barulah sempurna. Maka setelah memecahkan roti, bolehlah kita datang ke hadapan Bapa. Kita telah menerima Tuhan dan telah berjumpa dengan Tuhan, maka Tuhan membawa kita ke hadapan Bapa. Inilah tahap kedua dari pemecahan roti, yakni kita wajib datang ke hadapan Allah dan memuji-muji Allah.

Mazmur 22 juga memperlihatkan kepada kita adanya dua tahap: Pertama, dari ayat 1 sampai ayat 21, yang mengisahkan betapa Tuhan menerima penghinaan dan menderita sengsara, bahkan ditinggalkan oleh Allah Bapa. Ini menerangkan betapa Tuhan mati bagi kita di atas salib. Tahap kedua, dimulai dari ayat 22 hingga ayat-ayat terakhir, mengisahkan betapa Tuhan memimpin saudara-saudara-Nya memuji-muji Allah dalam perhimpunan. Dengan kata lain, tahap pertama untuk memperingati Tuhan, sedang tahap kedua, Tuhan memimpin kita datang ke hadapan Bapa untuk memuji-muji-Nya.

Pada hari Tuhan Yesus bangkit, Dia berkata kepada Maria, “Bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu” (Yoh. 20:17). Dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus menyebut “Bapa-Ku”, atau hanya menyebut “Bapa” saja, tetapi sampai di sini Dia berkata, “Bapa-Ku dan Bapamu.” Ketika kita menerima kematian dan kebangkitan Tuhan, Bapa Tuhan Yesus lalu menjadi Bapa kita pula. Ketiga perumpamaan Injil Lukas 15 didahului dengan gembala yang baik, terakhir barulah bapa yang baik. Gembala yang baik keluar mencari kita, sedang bapa yang baik menantikan kita di rumah. Gembala yang baik meninggalkan rumah mencari domba yang tersesat, sedang Bapa yang baik menerima kita di rumah. Kita telah bertemu dengan gembala yang baik, kini kita harus menjumpai Bapa. Karena itu, dalam tahap kedua sidang ini, segala nyanyian dan doa dialihkan ke arah Bapa. Kalau pada tahap pertama kita bertemu dengan Putra, maka dalam tahap kedua kita dipimpin Tuhan untuk menjumpai Bapa. Roh Kudus itulah pemimpin sidang, dan dalam sidang ini Ia selalu memimpin demikian. Pimpinan Roh Kudus tidak pernah melanggar prinsip keselamatan. Kita wajib belajar menuruti pimpinan Roh Kudus. Kita yakin, apabila kita memberi kebebasan kepada Roh Kudus, Ia pasti memimpin kita ke jalan ini.

Ibrani 2 menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus akan membawa putra-putra ke dalam kemuliaan. Ketika Tuhan di bumi, Dia adalah Putra tunggal Allah. Kini Dia telah mati dan bangkit, kita telah memperoleh-Nya dan juga telah menjadi putra-putra Allah pula. Tuhan Yesus menjadi Putra Sulung, kita adalah putra-putra. Ayat 12 mengatakan, “Memuji-muji Engkau di tengah-tengah Jemaat.” Sidang yang dikatakan dalam Ibrani 2 ialah sidang Sang Putra Sulung memimpin putra-putra memuji-muji Bapa. Maka tahap kedua dari sidang pemecahan roti juga merupakan sidang Sang Putra Sulung memimpin putra-putra. Kita seharusnya menjamah titik yang tertinggi dari hal ini. Tahap kedua sidang pemecahan roti itulah saat yang terindah untuk kita memuji Bapa di bumi. Maka kita harus belajar membuat roh kita membubung tinggi di saat tersebut. Allah itu “bersemayam (bertakhta) di atas puji-pujian orang Israel” (Mzm. 22:4). Semakin Gereja Allah menjamah puji-pujian, ia akan semakin menjamah takhta. Demikian pula semakin seseorang menjamah puji-pujian, ia pun akan semakin mengenal takhta. Nyanyian berikut ini patut kita apresiasikan:

Bapa, kami sujud di depan-Mu, khidmat, tulus;

para anak-Mu, semua berhimpun, ‘tuk berkidung,

Kurnia ajaib, bawa kami pulang,

D’ngan Putra-Mu, hampir pada Bapa.

Syair ini sangatlah indah, sebab ia menjamah perasaan Putra memimpin para putra memuji-muji Bapa. Syair yang sedemikian sulit diperoleh.

Sidang yang tercantum dalam Ibrani 2 adalah sidang yang paling baik. Hari ini, kita di sini telah mempelajarinya sedikit, pada suatu hari kelak di surga, kita akan mengikuti sidang semacam itu dengan sempurna. Sebelum kita memasuki kemuliaan, kita wajib belajar sedikit tentang apa yang disebut Putra Sulung memimpin para putra memuji Bapa di dalam sidang. Inilah titik tertinggi yang dapat dicapai dalam sidang gereja, dan hal ini sungguh mulia.

III. SIDANG DOA

Sidang pemberitaan Injil dan sidang pemecahan roti kedua-duanya penting, demikian pula halnya dengan sidang doa. Setiap sidang memiliki sifat dan kedudukannya yang khusus. Sidang doa dapat dikatakan sangat mudah, tetapi juga sangat sulit. Maka bagi saudara saudari yang baru percaya, wajib belajar mengambil bagian dalam sidang ini.

1. Harus Sehati

Sidang doa mempunyai satu tuntutan yang mendasar, yaitu harus sehati. Dalam Injil Matius 18 Tuhan berfirman kepada kita, yaitu menyuruh kita sehati. Doa dalam Kisah Para Rasul pun dilakukan dengan sehati. Maka syarat pertama untuk sidang doa ialah sehati. Tanpa sehati tidak mungkin kita mengikuti sidang doa. Jika kita ingin mengikuti sidang doa, hendaklah kita berdoa dengan sehati.

Firman di bawah ini sangat penting, “Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat (sehati) meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 18:19). Arti “sehati” di sini dalam bahasa Yunani ditujukan pada keharmonisan dalam musik. Misalkan ada tiga orang, seorang memainkan piano, seorang menggesek biola, dan seorang lagi meniup seruling. Ketika mereka bersama-sama memainkan suatu lagu, jika di antaranya ada satu yang tidak harmonis, maka musik itu akan menjadi tidak enak bagi telinga pendengarnya. Tuhan menghendaki kita berdoa dengan harmonis, jangan satu orang satu nada. Jika dapat berdoa dengan harmonis, apa pun juga yang didoakan, pasti akan dikabulkan Allah. Yang kita belenggu di dunia, akan dibelenggu di surga; yang kita bebaskan di dunia, akan dibebaskan juga di surga. Hal ini memerlukan satu syarat yang utama, yaitu harmonis. Karena itu, kita di hadapan Allah wajib belajar harmonis, bukan menuruti keinginan masing-masing, atau memohon bersama dengan sembarangan.

2. Harus Khusus

Bagaimanakah baru doa kita bisa harmonis? Dalam sidang doa, kesulitan yang paling besar mungkin karena terlalu banyak judul. Jika dalam suatu sidang doa terlalu banyak judul, pastilah tidak dapat harmonis. Adakalanya sidang doa menjadi sidang yang almuhit, sebab judulnya terlampau banyak; padahal dalam Alkitab kita tidak menemukan sidang yang seperti itu. Dalam Alkitab, kita hanya menemukan sidang doa yang khusus ditujukan kepada perkara tertentu. Misalnya ketika Petrus dimasukkan ke dalam penjara, gereja lalu berdoa baginya dengan tekun (Kis. 12:5). Mereka tidak berdoa untuk banyak perkara, melainkan hanya untuk satu perkara itu. Bila judulnya murni dan sederhana, maka doa kita mudah menjadi harmonis.

Setiap sidang doa paling baik hanya untuk satu perkara saja, atau khusus untuk urusan seorang saudara/ saudari, atau khusus mendoakan saudara saudari yang menderita sakit. Kita lebih baik hanya berdoa bagi penyakit seorang saudara/saudari; atau bagi semua saudara saudari yang sakit, kecuali itu tidak menyinggung urusan-urusan lainnya; atau khusus mendoakan saudara saudari yang dalam kekurangan; atau khusus berdoa bagi saudara saudari yang lemah dalam kerohanian. Jadi hanya ada satu judul saja, hal ini akan lebih memungkinkan adanya kesehatian.

Jika setelah satu judul didoakan dengan mantap dan masih ada waktu, boleh mengajukan urusan lain untuk didoakan lagi. Jangan sekali-kali baru saja mulai berdoa sudah mengajukan beberapa judul lain. Kalau judulnya banyak, pasti akan menjadi kacau. Saudara pewajib paling baik mengumumkan satu judul dulu, jika masih tersisa waktu baru mengajukan perkara yang lain. Dalam satu kesempatan, paling baik hanya berdoa untuk satu perkara saja. Kesederhanaan judul merupakan keperluan yang paling besar dalam sidang doa.

Kita dapat membuktikan dalam Kisah Para Rasul 1 dan 2, karena adanya kuasa doa, maka terbitlah kuasa Pentakosta. Ingatlah, salib adalah usaha yang disukseskan oleh Putra Allah, namun kuasa Pentakosta adalah usaha yang disukseskan oleh doa anak-anak Allah. Bagaimana perkara yang hebat ini bisa terjadi? Tak lain berasal dari doa yang sehati. Karena itu, marilah kita belajar memusatkan judul doa kita, jangan kita dengan sembarangan mengajukan begitu banyak judul.

Untuk ini, setiap orang yang menghadiri sidang doa wajib mempersiapkan diri dengan matang. Judul doa harus terlebih dulu diumumkan kepada saudara saudari, lebih pagi lebih baik, agar mereka terlebih dulu menaruh beban atas perkara tersebut; setelah itu barulah bersama-sama datang berdoa. Harus terlebih dulu memiliki perasaan dan beban, kemudian barulah datang berdoa.

3. Harus Sungguh-sungguh

Satu keperluan lagi yang mendasar ialah kesungguhan. Tidak sedikit perkataan dalam sidang doa yang mungkin palsu. Banyak orang memperhatikan keindahan bahasa dalam berdoa, bukan memperhatikan apakah diterima Allah atau tidak; seolah-olah jika tidak diterima Allah tidak mengapa. Sebagai akibatnya, doa-doa dalam sidang doa banyak yang palsu, berpura-pura, dan sia-sia belaka.

Doa yang sejati merupakan kedambaan yang terbit dari dalam batin; yakni yang teralir dari lubuk batin insan kita. Doa-doa yang sejati tidak dilakukan dengan seenaknya, yang hanya indah dalam kalimat-kalimatnya saja. Perkataan sejati yang keluar dari lubuk batin itu barulah doa yang sesungguhnya. Maka, dalam berdoa wajib memperhatikan diterima atau tidaknya oleh Allah, tidak seharusnya memperhatikan indah tidaknya dalam telinga saudara saudari.

Bila doa kita kurang kesungguhan, gereja tidak mungkin menjadi kuat. Untuk menjadikan gereja kuat, sidang doa harus kuat, dan untuk ini seluruh doa harus dilakukan dengan kesungguhan, tanpa berpura-pura. Begitu berpura-pura, pasti tidak akan beroleh apa pun di hadapan Allah.

Berdoa bukan berkhotbah, berdoa pun bukan berpidato, berdoa adalah datang ke hadapan Allah untuk memohon. Sebab itu, dalam sidang doa tidak perlu menuturkan banyak perkataan di hadapan Allah, seolah-olah Allah tidak tahu, kita juga harus memberi tahu dengan saksama; itu sama dengan memberi laporan atau berkhotbah kepada Allah. Berdoa semata-mata dikarenakan kita ada keperluan, kita sendiri ada kelemahan, kita ingin beroleh suplaian dan kekuatan rohani melalui doa. Maka haruslah ada suatu perasaan perlu dalam Anda, jika demikian doa Anda baru akan dilakukan dengan kesungguhan. Jika Anda merasa tidak ada keperluan, doa Anda pasti menjadi doa yang pura-pura.

Ada satu penyebab utama dari doa yang berpura-pura, yakni orang yang berdoa itu tidak dapat melupakan orang lain ketika ia berada dalam sidang doa. Ia terlalu memperhatikan orang lain, hal itu sangat mudah membuat doanya menjadi pura-pura. Dalam sidang doa, di satu pihak doa Anda itu berarti mewakili gereja, sedang di lain pihak Anda seperti berdoa sendirian, maka Anda harus memohon dengan sesungguhnya menurut keperluan Anda di hadapan Allah.

Semakin sungguh keperluan Anda, maka doa Anda pun akan semakin sungguh. Tuhan Yesus pernah memberi perumpamaan: Ada seorang kedatangan teman di rumahnya, karena tidak ada roti ia lalu minta roti kepada seorang teman lain; keperluan karena tidak ada roti, itulah keperluan yang sesungguhnya, maka ia meminta dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, teman lainnya itu memberikan roti menurut keperluannya. Maka perkataan Tuhan Yesus berbunyi, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk. 11:5-10). Jika sungguh-sungguh ada keperluan, asalkan kita meminta dengan baik, pasti akan dikabulkan.

4. Harus Pendek

Berdoa pun harus pendek. Doa-doa dalam Alkitab hampir semuanya pendek. Doa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 6 pun sangat pendek. Walaupun doa Tuhan menjelang Dia meninggal dunia dalam Yohanes 17 cukup panjang, tetapi masih jauh lebih pendek daripada doa-doa anak-anak Allah pada hari ini. Doa dalam Kisah Para Rasul 4 adalah doa segenap gereja, itu pun sangat pendek. Doa dalam Efesus 4 adalah doa yang sangat penting, namun sangat pendek pula; bisa selesai diucapkan dalam waktu kurang dari 5 menit.

Dalam sidang doa banyak doa menjadi hampa dan palsu, hal itu disebabkan terlalu panjang. Mungkin hanya dua tiga kalimat saja yang sesungguhnya, yang lain adalah yang ditambah-tambah; dan hanya dua tiga kalimat saja yang diperdengarkan untuk Allah, sisanya semua untuk saudara saudari, dan kata-katanya pun diperpanjang. Saudara saudari beriman baru harus tahu, kalau doa saudara saudari yang lain panjang, biarkan saja, tetapi Anda hendaknya berdoa dengan pendek; tidak semua saudara saudari dapat berdoa panjang. Kalau kita selalu berdoa panjang, gereja akan menderita kerugian yang besar.

D. L. Moody pernah melakukan satu perkara yang sangat bijaksana. Seorang saudari berdoa panjang sekali dalam suatu sidang doa, hingga habislah kesabaran sidang. D. L. Moody lalu berdiri dan mengumumkan, “Sementara saudari kita sedang melanjutkan doanya, marilah kita menyanyikan lagu no. X.” Doa yang panjang malah akan menghabiskan kekuatan sidang doa itu sendiri. Anda berdoa lebih panjang 5 menit, ia berdoa lebih panjang 5 menit, banyak pula yang lainnya berdoa demikian, akhirnya makin berdoa makin panjang, segenap sidang akan diulur menjadi panjang, dan sidang akan makin merosot ke bawah. C. H. Spurgeon mengatakan bahwa hal yang paling tidak tepat adalah jika seseorang berdoa memohon Allah mengampuni kekurangannya yang kecil dalam doa yang sangat panjang. C. H. Mackintosh pernah mengucapkan satu kalimat yang sangat baik, “Janganlah Anda dengan doa menyiksa anak-anak Allah.” Banyak orang tidak mencambuk Anda dengan cemeti namun ia mencambuk Anda dengan doa yang panjang; semakin ia berdoa, Anda akan semakin dibuat tidak tahan.

Karena itu, kita perlu belajar dalam sidang berdoa dengan doa-doa yang pendek, dan berdoa dengan sungguh hati.

5. Jangan Melampaui Doa Pribadi

Ada satu prinsip lagi dalam sidang doa, yakni jangan sekali-kali melampaui doa pribadi Anda. Inilah satu prinsip yang sangat baik. Bagaimana doa yang Anda lakukan secara pribadi, begitu pula doa Anda dalam sidang. Sudah tentu doa Anda dalam sidang harus berbeda sedikit, tidak dapat sama dengan doa pribadi Anda, tetapi tidak boleh melampaui doa pribadi. Bagaimana kata-kata yang Anda ucapkan dalam doa pribadi, begitu pula doa Anda dalam sidang. Jangan sekali-kali doa pribadi satu macam, doa dalam sidang macam lainnya. Sebenarnya, doa pribadi jarang ada yang berpura-pura, namun doa dalam sidang tidak sedikit yang berpura-pura. Ketika Anda menghadiri sidang doa, jika Anda terus mengucapkan doa yang tidak Anda ucapkan dalam doa pribadi, itu akan menjadi doa yang berpura-pura.

Ditinjau dari segi keefektifannya, doa-doa dalam sidang doa pasti akan melebihi doa pribadi. Allah tentu lebih sering dan sudi mengabulkan doa-doa dalam sidang. Akan tetapi hari ini pengabulan doa pribadi malah lebih banyak daripada doa dalam sidang, hal ini disebabkan doa-doa dalam sidang banyak yang palsu, di dalamnya terdapat banyak kata-kata yang sia-sia. Padahal pengabulan doa dalam sidang seharusnya lebih banyak daripada doa pribadi; tidak saja lebih banyak, bahkan lebih besar beberapa kali lipat. Jika anak-anak Allah berhimpun bersama, berdoa kepada Allah dengan sederhana, khusus, tekun, sungguh-sungguh dan sehati, pasti akan lebih banyak dikabulkan.

IV. SIDANG PEMANFAATAN KARUNIA

Karunia tiap gereja lokal tidak sama. Ada gereja lokal yang beroleh karunia bernubuat atau berkhotbah seperti nabi, Allah memberi mereka perkataan yang memiliki wahyu atau ajaran-ajaran dari karunia pengajar. Adakalanya ada karunia bahasa roh, juga ada karunia penerjemah bahasa roh. Adakalanya ada ajaran dari karunia pengajar tanpa karunia-karunia yang bersifat gaib. Di tempat lain mungkin kedua-duanya ada. Kita tidak dapat memastikan bagaimana perbuatan Allah di dalam gereja-Nya. Namun prinsip sidang selalu berlaku sebagai berikut: Allah berkenan akan anak-anak-Nya untuk memanfaatkan karunia-karunia yang mereka peroleh. Kita tidak mungkin memanfaatkan karunia yang tidak kita miliki. Karena itu, sidang pemanfaatan karunia ini tidak dapat dipaksakan atau ditiru, tetapi hanya dapat disesuaikan dan dimanfaatkan sesuai dengan karunia yang dimiliki oleh saudara-saudara setempat. Demikianlah sidang yang tercantum dalam 1 Korintus 14.

Dalam sidang semacam ini kita tetap perlu menaati ajaran-ajaran Alkitab, yaitu saudari sewajarnya tidak membuka mulut (1 Kor. 14:34), sedang saudara harus terkendali (1 Kor. 14:2, 33). Jika ada pengkhotbahan yang seperti nabi, paling banyak dua atau tiga orang saja. Adakalanya boleh ada beberapa orang yang mengajukan pertanyaan untuk saling menuntut pembinaan, agar satu sama lain beroleh terang di hadapan Allah. Dalam sidang ini, bila tidak ada penerjemah bahasa roh, maka berbahasa roh tidak seharusnya dipraktikkan. Kalau hanya ada yang berbahasa roh, tanpa penerjemahnya, itu berarti tidak berfaedah dalam akal/pikiran, dan hal itu tidak dapat membina gereja. Karena itulah Paulus berkata, “Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat” (1 Kor. 14:28). Paulus tidak melarang orang berbahasa roh, namun ia melarang orang hanya berbahasa roh saja di dalam sidang. Yang terpenting dalam sidang semacam ini baik ada kidung, ajaran, wahyu atau bahasa roh dan penerjemahannya, semua haruslah dapat membina orang.

Satu hal yang wajib kita perhatikan secara khusus di hadapan Allah adalah dalam sidang semacam ini, setiap saudara yang berkarunia yang dapat menjadi minister firman harus belajar aktif, tidak pasif. Sering kali saudara-saudara yang berkarunia demikian hanya berdiri pada posisi peninjau dan bersikap pasif saja dalam sidang tersebut; mereka selalu membiarkan saudara lain yang bangkit berbicara, hal ini tidak pada tempatnya. Dalam sidang pemanfaatan karunia ini, bukan sembarang orang boleh berbicara, melainkan orang yang berkarunia. Kita menentang cara hanya seorang saja yang berbicara, namun kita pun menentang cara yang membiarkan sembarang orang berbicara. Hanya mengizinkan satu orang berbicara itu keliru, tetapi membiarkan sembarang orang berbicara itu pun salah. Haruslah orang yang berkarunia yang berbicara, barulah dapat menyuplai saudara saudari; karena bukan setiap orang dapat menyuplai. Orang yang mempunyai perkataan boleh berbicara, tidak setiap orang boleh berbicara.

Sayang, sering kali saudara yang berkarunia dan menjadi minister firman mengambil sikap yang tidak wajar, mengira sidang ini boleh diserahkan kepada setiap orang untuk berbicara, sedang mereka sendiri mundur ke belakang. Padahal sidang ini justru diperuntukkan bagi setiap saudara yang berkarunia. Bagaimana kita bisa mengharapkan sidang ini berlangsung dengan baik, bila yang menjadi mulut tidak mau berbicara, malah menyuruh orang yang menjadi tangan, kaki, atau telinga yang berbicara? Karena itu, dalam sidang semacam ini, semua saudara yang berkarunia wajib menunaikan tugasnya, mereka harus menuntut di hadapan Allah, jika ada perkataan, haruslah dikatakan.

Saudara-saudara yang baru percaya memang akan menjumpai kesulitan dalam sidang semacam ini, sebab mereka tidak tahu apakah mereka berkarunia atau tidak, apalagi mengenai karunia ministri firman. Orang yang baru percaya Tuhan memang seolah-olah tidak layak mengatakan apa-apa. Namun ada jalan bagi mereka untuk mengikuti sidang ini, yaitu harus ada saudara yang agak dewasa memimpin mereka dan memberi mereka kesempatan untuk berbicara, jangan melarang mereka membuka mulut. Katakan pada mereka, “Saudara, kami tidak tahu apakah Anda berkarunia atau tidak, kami pun tidak tahu apakah Allah memberi Anda ministri firman atau tidak. Tetapi Anda boleh belajar berbicara, hanya saja harus berbicara dengan sederhana.” Kesempatan harus diberikan, namun jangan terlalu banyak. Jika mereka tidak diberi kesempatan, karunia akan tersumbat, tetapi jika memberi kesempatan terlalu banyak, sidang akan terpengaruh. Kita boleh membiarkan mereka berbicara, tetapi harus pendek dan sederhana. Kalau saudara itu berkarunia, kita harus menganjurinya berbicara agak lebih panjang pada kesempatan lain. Ada saudara yang harus kita anjuri berbicara pendek saja, sebab ia tidak berkarunia. Kepada yang berkarunia kita harus mendorongnya maju, sedang yang kurang berkarunia kita harus membatasinya. Dengan demikian sidang akan menjadi kuat. Saudara yang baru percaya harus belajar rendah hati menerima nasihat, baik berbicara maupun tutup mulut haruslah menurut pimpinan saudara yang lebih dewasa.

Saudara pewajib dalam gereja tidak saja harus membina orang-orang yang banyak menaruh minat untuk belajar, juga harus mendapatkan karunia-karunia yang baru. Bagaimana caranya mendapatkan karunia-karunia yang baru? Justru dalam sidang pemanfaatan karunia. Dalam sidang ini kita harus membuka mata, mengamati di atas diri siapakah terdapat pekerjaan Tuhan, dan bagaimana keadaan orang itu. Bila perlu mendorong, doronglah; bila perlu membatasi, batasilah. Dengan cara demikian maka saudara yang baru percaya akan beroleh bantuan, pun bisa membantu orang lain. Hal ini juga dapat mengarahkan sidang ke jalan yang lurus dan wajar.

V. SIDANG PENGKHOTBAHAN

Jenis sidang yang kelima ialah sidang pengkhotbahan. Walaupun nilai sidang ini tidak setingggi nilai sidang-sidang yang lain, namun sidang ini juga dipakai oleh Allah untuk menyuplaikan firman kepada kita. Kalau ada seorang rasul singgah di antara kita, atau ada rasul, pengajar atau nabi tinggal di antara kita, ketika ada ministri firman, kita dapat mengadakan sidang pengkhotbahan tersebut. Kita bukan mengatakan sidang ini tidak perlu, tetapi kita mengatakan bahwa sidang ini paling sederhana. Di antara sekian banyak sidang, sidang pengkhotbahanlah yang paling sederhana. Namun seperti halnya dengan sidang-sidang lain, di dalamnya pun terkandung aspek-aspek yang perlu kita pelajari.

Misalkan, Anda jangan datang terlambat, sehingga orang lain harus selalu menunggu Anda. Anda pun harus patuh kepada orang-orang yang menjadi penyambut sidang, yaitu duduk menurut tempat yang diatur oleh mereka; jangan memilih tempat duduk sendiri. Jika kondisi fisik Anda kurang mengizinkan, misalnya telinga atau mata Anda kurang baik, Anda boleh memberitahukan lebih dulu kepada orang yang melayani, agar ia memilihkan tempat duduk yang sesuai dengan kondisi fisik Anda. Harus membawa Alkitab dan buku kidung.

Pada aspek rohani, dalam sidang ini yang pertama ialah harus membuka hati. Orang yang membawa prasangka, lebih baik tidak usah mendengarkan khotbah, sebab tidak ada gunanya. Bila hati Anda tertutup, Anda tidak akan menerima anugerah di hadapan Allah. Inilah yang wajib diperhatikan oleh setiap orang yang ingin mendengarkan khotbah. Baik tidaknya khotbah yang disampaikan oleh pengkhotbah, tanggung jawabnya separuh ditanggung oleh si pengkhotbah sendiri, dan separuh lagi ditanggung oleh pendengarnya. Seorang pengkhotbah tidak berdaya menyampaikan khotbahnya jika ia menjumpai sebuah hati yang tertutup, atau suatu sikap yang menolak.

Tidak saja hati harus terbuka, roh pun harus terbuka. Terbukanya roh dalam sidang ini sangat penting sekali. Seorang minister firman yang sejati, rohnya selalu terbuka pada saat ia menyampaikan khotbahnya. Jika ia menjumpai roh yang terbuka dalam sidang, rohnya akan terpancar lebih kuat. Sebaliknya, jika roh sidang tidak terbuka, atau roh sidang itu acuh tak acuh atau tertutup, maka rohnya pun akan seperti merpati yang di atas bahtera, yakni setelah terbang keluar, lalu kembali lagi. Sebab itu, roh sidang dan roh minister perlu terbuka. Jika roh sidang terbuka banyak, roh nabi pun akan terpancar banyak. Jika roh para pendengar khotbah tidak keluar, roh nabi pun tidak keluar. Maka kita wajib belajar menjadi orang yang lunak dan membuka roh, dan harus membiarkan Roh Kudus keluar! Jangan membawa sikap yang dingin dan dipenuhi dengan prasangka yang keras. Jadilah orang yang membantu sidang, bukan merintangi roh sidang. Roh Anda harus membantu keluarnya roh pengkhotbah, bukan menghalanginya. Bila saudara saudari mau mempelajari pelajaran ini, pasti sidang akan menjadi semakin kuat.

Itulah teladan-teladan tentang berbagai jenis sidang yang diperlihatkan Alkitab kepada kita. Kelima macam sidang yang berlainan ini perlu kita pelajari dengan baik satu demi satu. Jangan kita kendur. Semoga Allah membelaskasihi kita!