BAPTISAN
Pembacaan Alkitab:
Mrk. 16:16: ”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”
Kis. 2:38: ”Jawab Petrus kepada mereka: Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.”
Kis. 22:16: ”Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan!”
1 Ptr. 3:20-21: ”Yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan melalui air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan — maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah — melalui kebangkitan Yesus Kristus.”
Rm. 6:3-4: “Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”
Kol. 2:12: “Karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga melalui kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.”
Baptisan adalah satu judul yang sangat besar dalam Alkitab. Dalam hal baptisan ini ada dua perkara yang perlu kita pahami dengan jelas. Pertama, perkara yang dihasilkan oleh baptisan bagi kita — ini wajib kita pahami sebelum kita dibaptis. Kedua, makna baptisan — ini wajib kita tinjau kembali setelah kita dibaptis. Pada saat Anda melihat kolam dan air baptisan sebelum Anda memberi diri dibaptis, Anda wajib mengerti dengan jelas apa sebenarnya yang diperbuat baptisan itu bagi Anda; kalau Anda sudah dibaptis, hendaklah Anda menoleh ke belakang memahami apa sebenarnya makna perbuatan Anda itu. Kalau yang pertama perlu kita pahami sebelum menerima baptisan, maka yang kedua perlu kita menoleh ke belakang untuk memahaminya. Jadi, yang pertama memandang ke depan, yang kedua menoleh ke belakang.
I. PERKARA YANG DILAKUKAN OLEH BAPTISAN BAGI SESEORANG
Markus 16:16 — ”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Ayat ini mengungkapkan perkara yang diperbuat atau dihasilkan oleh baptisan bagi seseorang.
1. Menyelamatkan Manusia dari Dunia
”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Saya rasa hampir semua umat Protestan takut membaca ayat ini, sehingga setiap kali membacanya harus diubah menjadi, ”Siapa yang percaya dan diselamatkan pasti akan dibaptis.” Namun firman Tuhan selamanya tidak pernah berbunyi seperti itu. Mereka sengaja mengubah firman Allah dengan alasan hendak menghindari kekeliruan ajaran Katolik. Tetapi setelah mereka terhindar dari kekeliruan Katolik, mereka terjerumus ke dalam kesalahan lain. Firman Tuhan cukup tegas dan jelas, ”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Tidak ada seorang pun yang berhak mengubahnya menjadi ”Siapa yang percaya dan diselamatkan pasti akan dibaptis”.
a. Lawan dari Keselamatan Ialah Dunia
Sekarang mari kita perhatikan, apakah yang menjadi makna kata ”diselamatkan” dalam Alkitab? Apa pula yang menjadi lawan keselamatan tersebut? Menurut Alkitab, lawan keselamatan bukan neraka, melainkan dunia; hidup kekal adalah; lawan dari kebinasaan. Alkitab tidak pernah menandingkan keselamatan dengan kebinasaan. Diselamatkan berarti menanggalkan dunia, itulah yang diwahyukan Alkitab kepada kita. Asalkan seseorang membaurkan dirinya dengan dunia ini, sudahlah ia berada dalam kebinasaan.
Kebinasaan orang dunia hari ini bukan disebabkan melakukan sesuatu; bukan karena aku membunuh orang, maka aku binasa; bukan karena aku tidak membunuh orang, maka aku tidak binasa; melainkan seluruh dunia ini sudah berada dalam kebinasaan. Aku adalah salah seorang yang ditarik keluar, yaitu diselamatkan Allah dari antara khalayak ramai yang binasa itu. Jadi, di tinjau dari keseluruhannya, seluruh dunia sudahlah binasa, tetapi Allah telah menyelamatkan seorang demi seorang secara individual. Allah tidak memukat semua ikan di laut, lalu memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk, dan mengatakan yang ini diselamatkan, yang itu binasa, melainkan Allah memandang seluruh ikan di dalam laut telah binasa, hanya beberapa yang terpukat Allah itulah yang beroleh selamat, yang lainnya semua masih berada di dalam laut.
Karenanya, beroleh selamat atau binasa bukan hal sudah atau belum percaya, juga bukan ditinjau dari tingkah-laku seseorang, melainkan hal di manakah Anda berada? Jika Anda berada di atas kapal, Anda sudah diselamatkan; jika Anda masih di dalam laut, Anda binasa. Apa pun perbuatan yang telah kita lakukan tidak perlu didebatkan, asal kita sebagai orang di dalam dunia saja sudahlah cukup. Tak peduli aku ini orang baik atau jahat, bijaksana atau kerdil, menuruti atau mengingkari hati nurani, asalkan aku berada dalam dunia, aku sudah celaka. Bila Anda tidak meninggalkan tempat itu — dunia, Anda sudah menjadi seorang yang terhukum di hadirat Allah.
b. Diselamatkan Adalah Masalah Kedudukan
Oleh karena Adam berdosa dan menjadi orang dosa, maka semua manusia menjadi orang dosa. Bukan karena setiap orang dari umat manusia itu berdosa baru mereka memenuhi syarat menjadi orang dosa, melain–kan sebab seorang saja — Adam — berdosa, maka semuanya menjadi orang dosa. Hari ini Allah telah menyelamatkan Anda, seorang dari antara orang banyak itu. Tak peduli bagaimana keadaan Anda, selama Anda berada di pihak orang dunia, Anda tetap berdiri di seberang Allah dan menjadi seteru-Nya. Posisi Anda itu tidak benar; itulah posisi yang menyebabkan Anda binasa. Asalkan Anda berada di tengah-tengah orang dunia, Anda adalah seorang yang binasa.
Istilah diselamatkan sudah sering dipergunakan di antara kita, bahkan dikacau-balaukan. Wajiblah kita ketahui bahwa diselamatkan berbeda dengan beroleh hidup kekal. Kalau yang terakhir itu masalah individual, namun yang terdahulu tidak saja berarti beroleh hidup kekal secara individual, bahkan berarti keluar dari kelompok yang tidak benar. Jelaskah perbedaannya? Kalau beroleh hidup kekal adalah problem pribadiku, maka diselamatkan ialah problem pribadiku ditambah problem kelompokku yang lampau.
Jadi, diselamatkan berarti aku keluar dari suatu kelompok dan masuk ke dalam kelompok lain. Kalau beroleh hidup kekal hanya masalah sesuatu yang kumasuki, tanpa menyinggung dari mana aku keluar, namun diselamatkan telah mencakup masalah keluar maupun masuk. Karenanya, lingkupan diselamatkan lebih luas daripada lingkupan beroleh hidup kekal; diselamatkan mencakup hal menanggalkan dunia, yakni keluar dari dunia.
c. Empat Fakta Besar yang Dimiliki Dunia di hadapan Allah
Menurut Alkitab, dunia mempunyai empat fakta besar:
1.
Dunia telah terhukum di hadapan Allah;
2.
Dunia berada di bawah cengkeraman si jahat;
3.
Dunia telah menyalibkan Tuhan Yesus;
4.
Dunia bermusuhan dengan Allah, yakni menjadi seteru Allah.
Karenanya, tak peduli bagaimana baiknya seorang, asalkan ia berada di dalam dunia, ia sudah binasa, ia telah terhukum.
Hendaklah kalian ingat, keselamatan orang dunia sekali-kali bukan masalah tingkah laku pribadi. Ketidakbenaran orang dunia itu dikarenakan kedudukannya yang tidak benar. Maka, kalian harus mengetahui bahwa menanggalkan dunia bukanlah suatu perkara yang mudah. Bila aku masih merasa dunia ini patut dicintai, bagaimanakah aku dapat membuangnya. Akan tetapi, bila pada suatu hari aku menyadari kedudukan dunia tidak benar di hadapan Allah, tidak peduli bagaimana indahnya dunia ini menurut kata orang, aku tetap ingin meninggalkannya juga. Karena itu, diselamatkan tidak tergantung pada bagaimana tingkah laku pribadi seseorang, melainkan kelompok itu sendiri yang tidak benar; aku perlu diselamatkan dari hubunganku dengan dunia ini, dan aku perlu diselamatkan dari kedudukanku di dunia ini.
Sewaktu orang-orang Yahudi ingin membunuh Tuhan Yesus, teriakan mereka ialah: ”Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami, dan atas anak-anak kami.” Walaupun hari ini aku bukan pembunuh Tuhan Yesus, namun nenek moyangku telah membunuh-Nya. Meskipun aku sendiri tidak campur tangan, tetapi kelompokku telah membunuh-Nya. Maka, kelompokku itulah yang menjadi musuh Allah, dan yang patut binasa. Benar tidaknya aku, itu soal lain. Harap kalian menyadari, tidak saja pribadiku ini sebagai orang dosa yang perlu diselamatkan, bahkan kelompokku itu tidak benar, duniaku itu musuh Allah yang terhukum di hadapan Allah. Sebab itu aku perlu meninggalkan hubungan tersebut, dan aku perlu meninggalkan kedudukan tersebut.
d. Diselamatkan Berarti Dikeluarkan dari Dunia
Jadi, diselamatkan tak lain berarti aku melepaskan diriku dari kelompok, kedudukan, dan hubungan itu. Dengan kata lain, aku keluar dari dalam dunia ini. Umumnya orang selalu memperhatikan keselamatan pada aspek perorangannya, tetapi sebenarnya yang menjadi masalah ialah dari manakah kita diselamatkan? Keselamatan yang ditekankan Alkitab tak lain ialah diselamatkan dari dalam dunia, bukan dari dalam neraka. Sebab kelompok dunia ini telah terhukum di hadapan Allah.
Siapa saja yang percaya beroleh hidup kekal, hal ini sedikit pun tidak menjadi masalah; kita telah berkhotbah demikian bertahun-tahun lamanya. Asalkan seseorang percaya Tuhan Yesus, ia segera beroleh hidup kekal, beroleh kasih karunia kekal; dan semua masalah lainnya telah beres. Namun wajib kita ingat, bila seseorang hanya percaya, tanpa memberi dirinya dibaptis, ia tetap belum beroleh selamat. Memang benar ia telah percaya dan telah beroleh hidup kekal, tetapi di antara orang dunia ia belum menjadi orang yang telah diselamatkan. Tanpa menerima baptisan, Anda tidak beroleh selamat, sebab tidak seorang pun mengetahui perbedaan Anda dengan mereka. Itulah sebabnya Anda harus bangkit dan menerima baptisan, yakni mengumumkan bahwa Anda telah memutuskan hubungan Anda dengan dunia, dengan demikian barulah berarti sudah diselamatkan.
e. Iman Bersifat Positif, Baptisan Bersifat Negatif
Jadi, dibaptis berarti dilepaskan. Iman bersifat positif, sedangkan baptisan bersifat negatif. Baptisan mengeluarkan Anda dari kelompok itu. Dalam dunia ini, banyak orang mengetahui aku adalah salah seorang di antara mereka, tetapi setelah aku dibaptis, mereka segera tahu bahwa aku telah tamat. Bertahun-tahun lamanya mereka mengenal aku, tetapi kini aku telah diselamatkan. Persahabatanku dengan mereka berakhir sampai di sini, sebab aku sudah tiba di pusaraku, perjalananku dalam dunia ini telah tamat. Aku menyadari diriku telah beroleh hidup kekal, maka sekarang aku dibaptis, dan aku telah diselamatkan. Dengan demikian, siapa pun mengetahui bahwa aku adalah kepunyaan Tuhan Yesus, aku telah menjadi milik-Nya.
”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Setelah seseorang percaya dan dibaptis, semua orang mengetahui bahwa ia kini berada di atas kedudukan lain. Tanpa iman, tidak ada fakta dalam batin, itulah kedustaan. Sesudah beriman, fakta di dalam batin ada. Kalau ditambah dengan baptisan, maka Anda telah menjadi orang yang di luar dunia ini, Anda tidak ada hubungan lagi dengan mereka. Baptisan merupakan perpisahan, dibaptis berarti Anda telah berpisah dengan mereka.
”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Perkataan Tuhan Yesus ini tegas dan jelas sekali. Kalimat berikutnya ialah, ”Tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Asalkan Anda tidak percaya, Anda sudah cukup untuk dihukum. Jadi, asal Anda sebagai seorang yang di dalam kelompok itu dan di pihak positif Anda tidak percaya, Anda sudah patut dihukum. Tetapi bila Anda telah percaya, Anda masih harus dibaptis pada pihak negatifnya, jika tidak, pada lahirnya Anda masih belum keluar.
f. Satu Perkara yang Paling Ganjil dalam Dunia
Ada satu perkara yang paling ganjil dalam dunia ini, yaitu reaksi atau sikap beberapa agama tertentu terhadap baptisan.
Di suatu agama tertentu, kalau ada seseorang masuk Kristen secara diam-diam, ia tidak dianiaya. Banyak orang Yahudi telah percaya Tuhan Yesus, namun kesulitan terbesar bagi mereka bukanlah dalam hal percaya, melainkan dalam hal baptisan. Sebab, kapan mereka menerima baptisan, mereka pasti akan diusir. Bahkan ada saudari yang diracuni oleh calon suaminya karena ia menerima baptisan. Hal yang demikian terjadi pula di kota-kota yang bermasyarakat modern/beradab sekalipun, seperti di London, New York dan sebagainya. Kalau Anda percaya di dalam hati tidak diapa-apakan, tetapi begitu Anda dibaptis, mereka akan bertindak menganiaya Anda.
Di India juga demikian. Kalau Anda tidak dibaptis, mereka membiarkan Anda, tetapi begitu Anda dibaptis, mereka akan mengusir Anda. Seolah-olah mereka mengizinkan Anda percaya Tuhan, namun tidak mengizinkan Anda dibaptis.
Reaksi atau sikap yang demikian malah lebih hebat lagi dalam suatu agama tertentu lainnya, sampai ada orang yang mengatakan, ”Sangatlah sukar kalau ingin mendapatkan orang Kristen hidup di kalangan agama tersebut, sebab setiap orang yang percaya pasti dibunuh.” Dr. Swema adalah seorang penginjil paling berprestasi yang bekerja di kalangan agama itu. Ia mengatakan bahwa pekerjaan penginjilannya selamanya tak mungkin berkembang; sebab bila ada seorang percaya Tuhan, ia harus berusaha menyuruhnya meninggalkan tempat itu. Jika tidak, pasti akan mati terbunuh dua atau tiga hari setelah ia menerima baptisan. Keadaan demikian tetap berlangsung hingga hari ini.
Menerima baptisan berarti memaklumkan diri secara terbuka, bahwa aku sudah keluar. ”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Jangan sekali-kali kata ini dianggap keselamatan jiwa pribadi kita. Masalah beroleh selamat dalam Alkitab adalah masalah keluar dari dunia, bukan keluar dari neraka.
2. Baptisan Menghasilkan Pengampunan Dosa
Pada hari Pentakosta, para rasul berseru kepada orang-orang Yahudi, ”Hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu” (Kis. 2:38). Umat Kristen tertentu bisa jadi merasa perkataan itu sukar diterima, tetapi inilah perkataan yang diucapkan rasul dengan jelas dan tegas. Kita wajib memberi diri kita dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa kita. Perkataan rasul tadi berfokus pada keharusan dibaptis, bukan percaya. Perkara ini sungguh ajaib.
Dalam khotbah Petrus yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 2, tidak terdapat anjuran untuk percaya, Petrus hanya mengatakan, ”Hendaklah kamu masing-masing dibaptis.” Mengapa ia hanya mengatakan baptisan? Karena ketika itu orang-orang yang mendengarkan khotbah Petrus adalah pembunuh Tuhan Yesus; lima puluh hari yang lalu mereka pernah berteriak-teriak, ”Enyahkanlah Dia! Enyahkanlah Dia!” Justru orang-orang itulah yang membuat gaduh di Yerusalem lima puluh hari yang lalu. Sekarang mereka jugalah yang perlu memisahkan diri dari orang-orang Yahudi yang banyak itu. Maka rasul tak perlu menyuruh mereka percaya, mereka sudah dikeluarkan asalkan mau dibaptis. Asalkan aku dibaptis, hubunganku dengan kelompokku yang lama sudah putus. Begitu dibaptis aku sudah meninggalkan kelompok itu, dan dosaku pun telah dibasuh bersih. Sejak saat ini, aku tidak lagi menjadi milik kelompok itu, aku sudah keluar dari antara mereka. Karenanya Petrus berkata, ”Hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu.” Jadi, perbuatan baptisanlah yang mengeluarkan mereka; sekali mereka keluar, bereslah sudah persoalannya.
Kita wajib menyadari bahwa kita asalnya adalah orang yang berada dalam dunia dan berseteru dengan Tuhan, maka sekali kita keluar, kita sudah diselamatkan. Kita wajib mengaku di hadapan Allah dan orang dunia bahwa kita telah keluar, dan sudah tiada hubungan lagi dengan kelompok itu, kita telah tamat. Ajaran atau khotbah terbesar pada hari Pentakosta ialah ”dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.” Di sini, pikiran kita harus dipengaruhi oleh firman Allah, jangan dipengaruhi oleh teologi agama Kristen.
3. Baptisan Berfungsi Menyucikan Dosa
Kini kita beralih kepada kasus Paulus. Ketika Ananias mendatangi Paulus, Ananias berkata, ”Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan” (Kis. 22:16).
Paulus adalah seorang guru, nabi, dan rasul terbesar dalam agama Kristen. Betapa besar pengaruhnya andaikata terdapat sedikit kesalahan dalam pengalamannya. Kadang kala, ajaran yang kita katakan benar, tetapi pengalaman kita salah. Jika demikian, apakah pengaruh kesaksian yang kita perbuat? Bagaimana kalau sampai orang lain meneladani perbuatan kita? Kesaksian seorang guru sangatlah serius, karena ia mungkin dapat menyesatkan orang lain. Kalau begitu, mungkinkah pengalaman Paulus, seorang guru agama Kristen yang pertama ini keliru?
”Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis, dan dosa-dosamu disucikan.” Ayat ini jelas membuktikan bahwa baptisan dapat menyucikan dosa orang. Agama Katolik memakai ayat ini, dan menafsirkannya menjadi masalah pribadi kita di hadapan Allah, sehingga dengan keliru mereka mengatakan kalau seorang menerima baptisan, dosanya telah disucikan, bahkan kalau membaptiskan orang yang hampir mati, dosanya pun boleh disucikan. Itu disebabkan mereka tidak memahami hubungan yang terjadi dalam kasus ini bukanlah di hadapan Allah, melainkan di dalam dunia.
Dulu Paulus adalah salah seorang yang ada di dalam dunia, sekarang ia telah percaya dan tampak Tuhan Yesus, karenanya ia wajib bangun dan memberi dirinya dibaptis. Dengan dibaptis, dosa-dosanya telah disucikan. Begitu hubungannya dengan dunia terputus, dosa-dosanya pun lenyaplah. Jika Anda menjadi orang Kristen tetapi belum menerima baptisan, dunia ini tetap mengakui Anda sebagai anggota kelompoknya. Meskipun Anda mengatakan telah beroleh selamat, dunia tidak mau mengakuinya; Anda mengatakan sudah percaya Tuhan Yesus, mereka berkata itu tidak kelihatan. Tetapi, begitu Anda turun ke dalam air baptisan, mereka baru melihat dan mengetahui bahwa Anda sungguh-sungguh telah percaya Tuhan Yesus. Bahkan begitu Anda dibaptis, Anda sudah meninggalkan dunia. Air baptisan inilah yang memutuskan hubungan Anda dengan dunia.
Jika seseorang dalam lubuk hatinya telah percaya Tuhan, tetapi tidak ada pernyataan sedikit pun pada lahirnya, maka dunia akan selalu menganggapnya sebagai milik mereka. Sebagai contoh: Di Kuling, Hokkian, setiap musim gugur diadakan perayaan penyembahan berhala yang luar biasa hebatnya, dan setiap penduduk di tempat itu diharuskan menyumbang uang. Kalau orang hanya mengatakan dirinya sudah beriman kepada Tuhan, mereka tidak percaya; tetapi kalau Anda dibaptis, mereka baru mau percaya dan mengetahui bahwa Anda telah keluar dari antara mereka. Karenanya, baptisan adalah jalan terbaik untuk meninggalkan dunia. Kalau Anda ingin keluar dari dunia, Anda wajib memberi diri dibaptis. Anda harus berkata kepada dunia bahwa Anda telah memutuskan hubungan Anda dengan mereka. Dengan berbuat demikian, Anda sudah keluar dari dunia ini.
Baptisan adalah satu kesaksian terbuka, karenanya perbuatan itu tidak takut ditonton orang; orang yang tidak percaya boleh juga menyaksikan pembaptisan kita. Akhir-akhir ini kami telah beberapa kali mengadakan pembaptisan di Foo Chou. Ada seorang saudara berkata bahwa ia tidak senang melihat kacaunya suasana sidang pembaptisan kami, sebab banyak orang yang datang menonton. Kalau demikian, mungkin Yohanes Pembaptis juga harus belajar kepadanya, sebab pembaptisan yang diadakan di tempatnya juga kacau dan gaduh, bahkan demikian pula pembaptisan atas tiga ribu orang pada hari Pentakosta. Akan tetapi, dalam sidang tersebut sama sekali bukan soal kacau atau tidak kacau. Memang kita tidak seharusnya kacau, tetapi saudara saudari harus tahu apa sebenarnya yang kita lakukan itu. Ketika kita mengadakan pembaptisan, kita boleh membiarkan semua orang dunia melihat perbuatan yang sedang kita lakukan.
4. Baptisan Menyelamatkan Orang melalui Air
Prinsip firman Allah selalu sama. Tertulis dalam 1 Petrus 3:20 — ”Pada waktu Nuh...delapan orang yang diselamatkan oleh air bah itu.” Perkataan ini juga memperlihatkan kepada kita, bahwa kita telah diselamatkan oleh baptisan. Firman Tuhan, ”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” Pada hari Pentakosta Petrus berkata bila kalian memberi diri kalian dibaptis, dosa-dosa kalian akan beroleh pengampunan. Perkara yang terjadi di atas diri Paulus memperlihatkan kepada kita bahwa dosa-dosa kita akan terbasuh oleh baptisan. Tidak saja diampuni, bahkan dibasuh. Karena hubungan kita dengan dunia telah terputus, maka dosa-dosa kita pun terbasuh habis. Ayat yang tercantum dalam 1 Petrus tadi memperlihatkan bahwa baptisan pun menyelamatkan kita melalui air — ”Diselamatkan oleh air bah itu.”
Di sini kita tampak bahwa orang yang tidak melalui air, tidak dapat terbilang beroleh selamat, sebab orang yang tidak dapat melalui air semuanya tewas tergenang air. Setiap orang yang hidup di zaman Nuh telah menerima baptisan, namun hanya delapan orang yang keluar. Dengan kata lain, bagi mereka air itu adalah air maut, namun bagi kita adalah air keselamatan. Begitu mereka tergenang air, mereka semua tenggelam di dasar air, tetapi kita justru muncul keluar dari dalamnya. Karena itu, perkataan Petrus ini mengandung arti yang positif. Datangnya air bah menyebabkan semua orang tewas, hanya kedelapan penghuni bahtera itu yang dapat keluar dari dalam air, sebab air tidak berdaya menahan mereka. Sebab itu, kedelapan orang ini beroleh selamat, sedangkan lainnya semua binasa. Hari ini orang-orang di seluruh dunia berada di bawah murka Allah. Kini aku dibaptis berarti melalui murka Allah, dan aku dapat keluar. Keluarnya aku ini menandakan bahwa aku adalah seorang yang telah keluar. Itulah yang dimaksud baptisan.
Ketika seseorang dibaptis, ia turun dari sebelah sini, dan naik dari sebelah sana. Jadi dibaptis berarti telah keluar atau melalui air. Istilah ”keluar” inilah yang perlu kita titik beratkan. Semua orang telah masuk ke dalam air, tetapi kecuali kedelapan orang itu, seorang pun tiada yang dapat keluar. Hari ini kita telah beroleh selamat melalui air. Mengapa? Sebab ketika kita dibaptis, kita tidak terus tenggelam di dalam air, melainkan keluar dari dalamnya. Jika Anda tidak percaya Tuhan Yesus tetapi menerima baptisan, niscaya Anda tak dapat keluar lagi. Namun, aku berbeda dengan Anda, setelah aku turun ke dalam air, aku dapat keluar lagi dari dalamnya. Kita dapat keluar dari dalam dunia ini melalui air baptisan. Kita membuat kesaksian di muka semua orang, agar mereka melihat betapa bedanya kita dengan orang-orang dunia lainnya.
5. Baptisan Melepaskan Orang dari Dunia
Keempat ayat di atas tadi dengan jelas memperlihatkan kepada kita apa makna baptisan itu. Begitu aku dibaptis, aku sudah terlepas dari dunia. Hal ini tidak perlu memakan waktu beberapa tahun. Baptisan adalah perkara pertama yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang baru percaya. Anda harus menyadari bagaimana kedudukan dunia di hadapan Allah. Diselamatkan berarti Anda memutuskan hubungan dan kedudukan Anda yang dahulu itu. Anda wajib menanggalkan dunia ini sampai sebersih-bersihnya. Sejak kini Anda berada di luar dunia, dan berada di sebelah yang lain.
Karena itu, kita wajib menyadari bahwa begitu kita percaya Tuhan, kita sudah berada di luar dunia. Baptisan kita justru merupakan pernyataan bahwa kita telah meninggalkan dunia. Dengan baptisan kita telah mengenakan warna yang lain. Sejak kini aku tinggal di dalam bahtera, dan aku menjadi orang yang menuju ke sebelah sana. Terhadap suatu perkara, kita bukan hanya mengatakan, ”Kita adalah orang yang percaya Yesus, karena itu kita tak pantas melakukan hal ini”; tetapi juga mengatakan, ”Kita adalah orang yang telah dibaptis, sebab itu kita tidak pantas berbuat demikian”. Karena kita berada di sebelah sana, kita telah menyeberangi sungai, dan telah berada di seberang sana.
Hari ini kita harus memulihkan kedudukan baptisan di hadapan Allah. Apa artinya baptisan? Baptisan tak lain berarti keluar dari dunia, juga merupakan suatu prosedur untuk meninggalkan dunia. Ketika Anda dibaptis, berarti Anda memberi tahu kepada orang bahwa Anda telah pergi keluar. Seperti tertulis dalam sebuah syair: ”Mengitari pusaraku, harapan sudah lenyap!” Mereka tahu Anda sudah tak berguna lagi, Anda sudah menempuh jalan buntu, ya, Anda sudah tamat! Baptisan yang sedemikian barulah berfaedah. Jika tidak demikian, baptisan Anda tentu akan menjadi terlalu ringan, tidak berbobot. Pokoknya, Anda harus tampak, Anda telah meninggalkan lingkaran yang lama dan sudah keluar dari dalamnya. Beroleh hidup kekal ditujukan kepada apa yang telah diperoleh roh Anda di hadapan Allah, sedangkan diselamatkan ditujukan kepada terputusnya hubungan Anda dengan dunia ini.
II. MAKNA BAPTISAN
Siapa saja yang telah dibaptis perlu menoleh ke belakang, melihat apa makna baptisan yang sebenarnya. Hal ini membuat Anda merenungkannya kembali sepuluh atau dua puluh tahun lamanya. Anda perlu mengingat kalimat di bawah ini, ”Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Ungkapan Roma 6:3 ini berarti menoleh ke belakang, bukan memandang ke depan.
Kalau perkataan dalam Markus 16, Kisah Para Rasul 22 dan, 1 Petrus 3 itu adalah perkataan yang diucapkan sebelum seseorang dibaptis, maka yang dikatakan Roma 6 dan Kolose 2 diucapkan sesudah orang dibaptis, yaitu ditujukan kepada semua orang yang telah menerima baptisan. Di sini seolah-olah Allah berkata pada Anda, ”Tidak tahukah kamu, ketika kamu dahulu dibaptis berarti kamu mati bersama Tuhan? Tidak tahukah kamu, ketika kamu dahulu dibaptis berarti dikubur bersama Tuhan? Tidak tahukah kamu, ketika kamu dahulu dibaptis berarti dibangkitkan bersama Tuhan?”
Walaupun Roma 6 juga menyinggung masalah kebangkitan, tetapi yang ditekankan di sana adalah kematian dan penguburan. Sedangkan yang dititikberatkan Surat Kolose 2 ialah penguburan dan kebangkitan. Kolose 2 lebih maju selangkah ke depan, ia menitikberatkan kebangkitan. Fokus Roma 6 ialah kematian — ”Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Itu berarti kita harus mati bersama-Nya. Kematian dan penguburan adalah kasus dalam Roma 6, sedang penguburan dan kebangkitan ialah kasus dalam Kolose 2.
Air di sini melambangkan kuburan/makam. Kalau hari ini kami membawa Anda dan membaptis Anda ke dalam air, berarti kami menguburkan Anda, dan bila kami memapah Anda keluar dari dalam air, itu berarti Anda keluar dari kubur. Sebelum Anda dikubur, tentu Anda sudah mati; kita tidak mungkin mengubur orang yang belum mati. Dan kalau setelah dikubur dapat bangun lagi, itu pasti sudah dibangkitkan. Kebenaran bagian depan tercantum dalam Surat Roma, sedangkan kebenaran bagian belakang tercantum dalam Surat Kolose.
1. Kabar Sukacita Besar — Aku Telah Mati
Hal ini sama dengan ketika Tuhan Yesus mati di atas salib; Ia membawa kita ke atas salib, sehingga kita pun mati di sana. Ia telah mengakhiri kita di hadapan Allah. Bagaimanakah Anda menghadapi diri sendiri hari ini? Anda harus merasa diri Anda sukar diatasi. Orang yang tidak mengenal dirinya sendiri tidak menyadari bahwa dirinya sukar diatasi. Tetapi orang yang mengenal Allah dan dirinya sendiri akan berkata, ”Aku ini sukar diatasi.”
Sewaktu Anda menyadari dosa Anda sangat berat, bagi Anda kematian Tuhan Yesus adalah kabar sukacita; sewaktu Anda menyadari diri Anda sangat jahat dan terhadapnya Anda tak berdaya mengatasi, lalu Anda mendengar bahwa Anda telah mati bersama Tuhan, itu pun merupakan kabar sukacita bagi Anda. Syukur pada Allah, ini sungguh kabar sukacita! Kematian Tuhan telah merangkum Anda, karenanya Anda pun telah mati, itulah kabar sukacita yang besar! Kalau kematian Tuhan merupakan kabar sukacita yang besar, demikian pula dengan kematianku. Sebagaimana kematian Tuhan merupakan suatu perkara yang menggirangkan, demikian pula kematian diriku ini. Apakah pikiranku yang pertama bila aku mendengar Tuhan telah mati? Aku tentu berpikir seperti Yusuf, yaitu mengubur-Nya. Begitu pula, ketika aku tahu diriku telah mati, hal pertama yang wajib kuhadapi ialah aku harus dikubur. Pikiran pertama bagi setiap orang yang telah mati ialah dikubur. Setelah mati, bukan habislah semua perkara. Bila Anda telah mati di dalam Kristus, perkara pertama yang wajib Anda lakukan ialah membiarkan diri dikubur.
2. Aku Telah Bangkit dari Kematian
Sebab itu, Saudara-saudara, tatkala Anda turun kedalam air dan menerima baptisan, atau tatkala Anda menoleh ke belakang setelah percaya Tuhan beberapa tahun, Anda wajib ingat bahwa Anda telah mati. Karena Anda yakin diri Anda benar-benar telah mati, maka Anda rela membiarkan orang mengubur Anda. Kalau Anda belum mati, jantung Anda masih berdetak, napas Anda masih belum putus, tentu Anda tidak mau dikubur. Untuk dikubur, hal yang pertama ialah harus terlebih dulu mati.
Ketika Tuhan mati tersalib, Anda pun telah mati. Karena yakin diri Anda telah mati, Anda lalu mohon orang mengubur Anda ke dalam air. Dan karena Tuhan Yesus telah bangkit, juga menaruh kuasa kebangkitan-Nya ke dalam Anda, maka Anda beroleh kelahiran kembali karena kuasa tersebut. Kuat kuasa kebangkitan itu bekerja di dalam Anda dan membangkitkan Anda; karena itu, Anda dapat bangun/keluar dari dalam air. Anda kini menjadi seorang yang bangkit, tidak lagi seperti Anda yang dahulu. Hari ini kita wajib senantiasa menoleh ke belakang, meninjau kembali perkara tersebut. Tatkala aku turun ke dalam air, aku yakin diriku telah mati, karenanya aku harus memberi diriku dikubur; ketika aku keluar dari air, aku telah mempunyai corak hidup yang baru, kini aku berada di pihak kebangkitan. Maut berada di sisi sebelah sana, sedangkan kebangkitan berada di sisi sebelah sini.
3. Aku Berada di dalam Kristus
Saya pernah membaca sebuah berita di surat kabar dengan rubrik, ”Seorang bernyawa tiga”. Isi berita itu mengisahkan terbunuhnya seorang wanita yang sedang hamil, yang kemudian ternyata ia mengandung bayi kembar. Sebab itu dikatakan ”Seorang bernyawa tiga”. Kalian harus ingat bahwa Tuhan kita adalah seorang berlaksaan nyawa. Itulah sebabnya mengapa Alkitab selalu menekankan kebenaran ”di dalam Kristus”. Dalam kasus pembunuhan tadi, sang pembunuh tidak membunuh kedua bayinya, hanya membunuh ibunya. Tetapi karena bayi-bayi itu terkandung di dalam ibunya, maka ketika ibunya terbunuh, mereka pun turut terbunuh. Demikian pula, hari ini kita berada dalam Kristus, maka ketika Kristus mati, kita juga telah mati di dalam-Nya.
Allah telah menaruh kita ke dalam Kristus, itulah yang tertulis dalam 1 Korintus 1:30, ”Tetapi oleh Dia (Allah) kami berada di dalam Kristus.” Sebab Kristus telah mati, kita semua juga telah mati. Dasar kematian bersama ini berada di dalam Kristus. Tanpa memahami makna di dalam Kristus, kita tidak mungkin memahami makna mati bersama Kristus. Bagaimana bayi-bayi itu bisa mati bersama ibunya? Karena mereka berada di dalam rahim ibunya. Dalam perkara rohani, kematian bersama lebih riil daripada peristiwa itu. Allah telah menyatukan kita di dalam Kristus; jika Kristus telah mati, kita juga telah mati.
Ketika kabar sukacita ini diberitakan kepada Anda, Anda wajib belajar memahami bahwa Anda telah mati di hadapan Allah, sebab Anda telah percaya akan fakta tersebut. Setelah Anda dikubur di dalam air, Anda lalu keluar lagi. Sebab itu Anda wajib berkata, ”Kini aku berada di sebelah sana dari kubur.” Itulah kebangkitan. Istilah “memandang” dalam Roma 6 berarti menganggap diri sendiri telah mati juga telah bangkit di dalam Kristus.
Kiranya saudara saudari yang baru beroleh selamat langsung terpimpin di atas jalan ini. Di sini terdapat makna ganda; yang pertama untuk waktu sebelum dibaptis, dan yang kedua untuk waktu sesudah dibaptis. Sebelum dibaptis, karena menyadari diriku telah mati, aku harus dikubur ke dalam air; sedangkan setelah dibaptis, karena menyadari diriku telah bangkit, maka hari ini aku wajib melayani Allah.