Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 21/50

MEMBACA ALKITAB

”Ingatlah juga bahwa sejak kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan melalui iman kepada Kristus Yesus. Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”

(2 Tim. 3:15-17).

”Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya. Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu”

(Mzm. 119:9-11, 15, 105, 140, 148).

I. PENTINGNYA MEMBACA ALKITAB

Setiap orang Kristen wajib membaca Alkitab, karena Alkitab adalah yang diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Alkitab memperlihatkan kepada kita berapa banyak pekerjaan yang telah Allah lakukan bagi kita, berapa banyak orang yang Allah pimpin pada masa yang silam. Bila kita ingin mengetahui betapa limpah ruah dan luasnya yang Allah sediakan bagi kita, kita harus membaca Alkitab. Demikian juga bila kita ingin mengetahui bagaimana Allah selangkah demi selangkah memimpin orang, kita harus membaca Alkitab.

Dasar Allah berfirman kepada manusia dewasa ini, semuanya berdasar pada apa yang pernah Ia firmankan. Sukar sekali kita menemukan Allah berfirman kepada seseorang di luar Alkitab. Juga terhadap seseorang yang sudah jauh perjalanan rohaninya, kadangkala Allah memberikan wahyu-Nya masih dengan firman yang pernah Ia katakan dalam Alkitab. Firman Allah sekarang ini, sebenarnya hanya merupakan pengulangan kembali dari apa yang pernah Ia katakan. Jika seseorang tidak mengenal perkataan yang telah Allah katakan itu, maka tidak mudah baginya untuk mendapatkan wahyu Allah, karena dia kekurangan syarat bagi Allah untuk berfirman kepadanya.

Jika Allah ingin berfirman kepada seseorang melalui diri kita, itu juga berdasar pada apa yang pernah Ia katakan. Bila kita tidak mengetahui firman yang telah Allah katakan, Allah takkan berfirman kepada orang lain melalui kita, sehingga kita akan menjadi orang yang tak berguna di hadapan Allah.

Karena itu, kita harus dengan kayanya menyimpan firman Allah di dalam hati kita, barulah kita dapat mengetahui jalan Allah pada masa lampau, mendengar firman Allah hari ini, dan melalui kita Allah dapat berfirman kepada orang lain.

Alkitab adalah sebuah buku yang hebat dan besar. Dalam seumur hidup kita, meskipun seluruh waktu itu kita curahkan padanya, paling-paling kita hanya menjamah sebagiannya saja. Ingin memahami Alkitab tanpa mengeluarkan waktu, itu mustahil. Bagi orang Kristen yang masih muda haruslah cepat-cepat mengeluarkan waktu atas firman Allah, agar bisa memiliki firman yang kaya limpah, sehingga setelah kita mencapai usia setengah baya atau tua, kita bisa menyuplai diri sendiri dan orang lain.

Setiap orang yang mau mengenal Allah, wajib membaca Alkitab dengan saksama. Begitu seseorang percaya Tuhan, harus segera mengetahui pentingnya membaca Alkitab.

II. PRINSIP-PRINSIP DASAR MEMBACA ALKITAB

Ada 4 prinsip dasar dalam membaca Alkitab:

Pertama : menemukan fakta-fakta

Kedua : menghafal dan mengingat

Ketiga : menganalisis, menggabungkan, dan membandingkan

Keempat : terang Allah

Sewaktu kita membaca Alkitab, harus menurut keempat urutan ini, tidak bisa dari ketiga meloncat ke yang pertama, pun tidak boleh dari yang pertama meloncat ke yang ketiga. Pertama, Anda mencari fakta-fakta yang terkandung dalam Alkitab. Kedua, Anda mengingat serta menghafal fakta-fakta itu. Terlebih dahulu Anda melihat dengan jelas bagaimana firman Allah itu, kemudian mengingatnya. Jangan ada yang terlewatkan, jangan ceroboh, kalau tidak demikian tidak ada gunanya. Ketiga, fakta-fakta ini harus dianalisis, digabungkan, dan dibandingkan. Ketika Anda di hadapan Allah dapat menganalisis, menggabungkan, dan membandingkan semua fakta dengan baik, Anda baru memperoleh kesempatan untuk mendapatkan yang keempat — terang Allah.

Dalam Alkitab terkandung banyak fakta rohani. Ketika mata batiniah manusia buta, ia tidak dapat membaca fakta-fakta itu. Jika dapat menemukan fakta-fakta yang terkandung dalam Alkitab, itu berarti sudah mendapat terang lebih dari separuh. Karena terang Allah selalu menyoroti segala fakta yang terdapat dalam firman-Nya. Menemukan fakta merupakan separuh pekerjaan dalam membaca Alkitab. Kita membaca Alkitab, harus bisa menggali semua fakta itu.

Misalnya, gaya tarik bumi adalah suatu fakta. Sebelum Newton, sudah ada gaya tarik bumi. Akan tetapi ribuan tahun lamanya manusia tidak menemukannya. Sampai pada suatu hari, ketika Newton tidur di bawah sebuah pohon apel, dan sebuah apel jatuh di hadapannya, barulah ia menemukan adanya gaya tarik bumi. Jadi, persoalannya bukan pada ada atau tidaknya fakta itu, melainkan adakah fakta itu ditemukan.

Misalnya, apa yang dikatakan dalam Alkitab, dan apa yang tidak dikatakan dalam Alkitab, ini sangat besar sangkut-pautnya. Ada yang dikatakan, ada yang tidak dikatakan; ada yang demikian mengatakan, ada yang mengatakan dengan cara yang lain. Kata yang sama, ada yang jamak, ada pula yang tunggal. Dalam Alkitab, adakalanya mementingkan nama Tuhan, adakalanya mementingkan nama manusia. Ada yang sangat menjelaskan tentang tahun-tahunnya, namun ada pula yang sama sekali tidak menyinggung tahun-tahunnya, seolah-olah diabaikan. Contoh-contoh yang serupa ini, semuanya merupakan fakta.

Orang yang pandai membaca Alkitab, dia pasti orang yang teliti di hadapan Allah, bukan orang yang ceroboh dan sembarangan. Alkitab tidak dapat diubah walaupun setitik atau senoktah. Firman Allah berkata demikian, maka demikianlah adanya. Begitu Allah berfirman, Anda harus mengetahui di mana titik beratnya. Banyak orang yang ceroboh, mendengar perkataan orang tidak tepat, membaca firman Allah juga tidak tepat; di mana titik beratnya firman Allah, mereka tidak dapat membacanya; di manakah letak kuncinya, juga tidak bisa menemukan. Karena itu, pertama-tama Anda harus belajar mencari fakta-fakta, lalu mengingatnya, kemudian menganalisis, menggabungkan, dan membandingkan, barulah Anda memperoleh terang di hadapan Allah. Dengan demikian, diri sendiri memperoleh suplai, juga dapat menyuplai orang lain; diri sendiri mendapatkan perawatan, juga dapat merawat orang lain.

Tak ada salahnya jika di sini kita mengambil satu perumpamaan yang sederhana.

Ketika kita dengan saksama membaca Alkitab, kita akan segera menemukan bahwa di dalam Perjanjian Baru hanya dikatakan ”di dalam Tuhan”, ”di dalam Kristus”, ”di dalam Kristus Yesus”, tidak pernah di katakan, ”di dalam Yesus” atau ”di dalam Yesus Kristus”. Alkitab hanya mengatakan ”di dalam Kristus Yesus”, tidak mengatakan ”di dalam Yesus Kristus”, semua itu merupakan fakta. Anda harus menghafal satu per satu, dan serta mengingatnya. Dalam Alkitab, mengapa ada yang dikatakan ”di dalam Tuhan”, mengapa dikatakan ”di dalam Kristus”, mengapa pula di tempat lain dikatakan ”di dalam Kristus Yesus”. Jika Anda benar-benar mengingatnya, Anda baru dapat membandingkannya. Mengapa di tempat ini tidak dikatakan ”di dalam Yesus”, melainkan ”di dalam Kristus”? Mengapa di sini dikatakan ”di dalam Kristus Yesus”, bukan ”di dalam Yesus Kristus”? Mengapa Alkitab tak pernah mengatakan ”di dalam Yesus” atau ”di dalam Yesus Kristus”? Apa sebabnya? Ketika Anda demikian menganalisis dan membandingkan, Anda dapat menengadah kepada Allah agar menerangi Anda, sehingga Anda bisa melihat apa yang seharusnya Anda lihat.

Begitu Anda tampak terang, Anda akan menjadi sangat jelas. Yesus, ialah nama-Nya di atas bumi; Kristus ialah nama-Nya setelah Ia bangkit dan diurapi oleh Allah. Ingatkah Anda akan perkataan di dalam Kisah Para Rasul 2, ”Allah telah membuat Dia menjadi Tuhan dan Kristus.” Kristus adalah nama kebangkitan-Nya. Sampai kitab Roma, kita baru mendapatkan sebutan Kristus Yesus, artinya Kristus hari ini adalah Yesus yang dulu. Jadi, nama-Nya sekarang ialah Kristus Yesus, yang menunjukkan bahwa Kristus ini ialah Yesus yang dulu; Yesus Kristus adalah nama sebelum Dia bangkit, yaitu nama ketika Yesus di atas bumi, yang kelak akan menjadi Kristus. Sangat beda artinya antara Kristus dulu ialah Yesus dan Yesus kelak menjadi Kristus. Kita hanya bisa di dalam Kristus, tidak bisa di dalam Yesus. Kita hanya dapat di dalam Tuhan, di dalam Kristus Yesus, tidak dapat di dalam Yesus Kristus. Ketika Tuhan hidup di atas bumi, kita tak dapat berada di dalam-Nya. Kalau ketika Dia di atas bumi, kita di dalam Dia, di dalam Yesus, berarti kita ikut ambil bagian di dalam salib dan penebusan. Ini tidak sesuai dengan kebenaran. Kita tidak ada bagian dalam kelahiran-Nya di Betlehem, dan statusnya sebagai Anak Tunggal Allah.

Mengapa kita bisa di dalam Kristus? 1 Korintus 1:30 mengatakan, ”Tetapi oleh Dia (Allah) kamu berada dalam Kristus Yesus.” (Tidak mengatakan ”kamu berada dalam Yesus”). Ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian, kita bersatu dengan-Nya dalam kebangkitan-Nya. Karena Dia bangkit dari kematian, Allah menetapkan Dia sebagai Kristus. Demi roh-Nya, Allah menyatukan kita di dalam-Nya. Sejak Dia dibangkitkan, kita baru mulai mendapatkan hayat-Nya. Demi kebangkitan-Nya kita dilahirkan kembali, bukan demi inkarnasi-Nya. Dengan demikian, Anda pasti jelas.

Inilah cara membaca Alkitab; inilah jalan membaca Alkitab. Pertama, menemukan fakta-fakta; lalu, mengingat fakta-fakta itu; kemudian, menganalisis, membandingkan, dan menggabungkan, setelah itu menunggu dan berdoa di hadapan Allah, Tuhan pasti menerangi Anda, agar Anda tampak. Inilah empat prinsip membaca Alkitab, satu pun tak boleh kurang.

Kita ambil lagi satu contoh, yaitu tentang pencurahan Roh kudus yang tercantum dalam Injil Yohanes 14 dan 16. Waktu kita membaca, harus memperhatikan janji Tuhan Yesus, dan memperhatikan apakah di dalamnya ada fakta-fakta khusus.

Injil Yohanes 14:16-20 mengatakan, ”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Dalam ayat-ayat ini terkandung fakta apa? Pada bagian atas kalimat ini mamakai istilah ”Dia”, pada bagian bawah memakai istilah ”Aku”. Kata gantinya berubah. Demikianlah faktanya, dari ”Dia” berubah menjadi ”Aku”.

Menurut keempat prinsip dasar pembacaan Alkitab, apa artinya bagian ini? Pertama, menemukan fakta, ”Dia” berubah menjadi ”Aku”. Kedua, kita harus mengingat fakta ini. Ketiga, kita harus menganalisis. Di sini ada dua Penolong. Tuhan berkata, ”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain.” ”Seorang Penolong yang lain”, ini menyatakan bahwa Bapa akan memberi Penolong yang kedua. Kalau ada Penolong yang kedua, berarti pasti ada Penolong yang pertama.

Perkara pertama yang harus ditegaskan ialah di sini ada dua Penolong. Maksud Tuhan ialah kamu sudah mempunyai satu, sekarang ditambah satu lagi. Bagaimana dengan Penolong yang kedua ini? ”Supaya Ia menyertai kamu”, siapakah Ia itu? Tuhan Yesus berkata, ”Dunia tidak mengenal Dia, tetapi kamu mengenal Dia.” Mengapa? ”Sebab Ia menyertai kamu”, Ia senantiasa bersama dengan kamu. Dunia tidak dapat menerima Dia, bahkan belum pernah melihat Dia dan mengenal Dia. Bagaimana dengan kalian? Kamu melihat Dia dan mengenal Dia. Mengapa dikatakan kamu mengenal Dia? Sebab Ia menyertai kamu.

Tuhan berkata, ”Sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Istilah ”Dia” ini, hanya dipakai sampai di sini saja. Kalimat selanjutnya mengatakan, ”Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Jika kita menganalisisnya, maka kita akan menemukan bahwa ”Dia” itulah ”Aku”, dan ”Aku” itulah ”Dia”. Dengan perkataan lain, ketika Tuhan Yesus hidup di atas bumi, Tuhanlah Penolong; Roh Kudus di dalam Tuhan, Tuhan menjadi Penolong kita. Sewaktu Tuhan di atas bumi, Roh Kudus di dalam-Nya, Ia bersatu-padu dengan Roh Kudus, maka kamu melihat Dia, kamu mengenal Dia, dan Dia menyertai kamu.

Bagaimana sekarang? Tuhan berkata bahwa Penolong yang lain akan datang. Aku akan mati, bangkit, dan Aku akan datang kembali. Bagaimana Allah mengaruniakan Roh kudus? Aku akan di dalam Roh Kudus, Aku akan kembali kepada kamu, dan Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Sesaat lagi kamu tidak akan melihat Aku lagi, dan sesaat lagi kamu akan melihat Aku, Aku akan tinggal di dalam kamu. Pertama Dia yang mau tinggal, sekarang Aku yang mau tinggal. Maka ”Aku” pada kalimat yang di bawah adalah ”Dia” pada kalimat yang di atas. Kita tampak perubahan kata ganti orang berarti ada dua Penolong yang berlainan. Mula-mula mengatakan Roh Kudus di dalam Kristus, kemudian mengatakan Kristus di dalam Roh Kudus. Roh Kudus di dalam Kristus, ketika mengatakan ”Dia”; Kristus di dalam Roh Kudus, ketika mengatakan ”Aku”. Siapakah Roh Kudus? Roh Kudus adalah diri Tuhan Yesus yang kedua. Putra adalah diri Bapa yang kedua, sama halnya dengan Roh Kudus adalah diri Putra yang kedua, hanya berubah bentuk saja.

Karena itu prinsip utama membaca Alkitab ialah menemukan fakta-fakta. Bila kita tidak dapat menemukan satu fakta pun, berarti kita tidak mendapatkan terang di hadapan Allah. Persoalannya bukan berapa kali kita membacanya, melainkan adakah fakta dalam pembacaan kesekian kali itu.

Paulus adalah seorang yang pandai mencari fakta. Kita lihat perkataan Paulus pada Galatia 3. Ketika dia tampak dalam kitab Kejadian mengatakan bahwa oleh keturunan Abraham, Allah akan memberkati manusia, Paulus di sini mengatakan bahwa istilah keturunan ini bersifat tunggal, bukan jamak, yang ditujukan kepada Kristus. Fakta ini telah dia temukan. Dia tampak bahwa segala bangsa akan diberkati oleh karena keturunan Abraham, keturunan di sini tunggal, maka ia tampak bahwa keturunan ini ditujukan kepada Kristus. Seandainya jamak, tentunya ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang menjadi keturunan Abraham, dengan demikian artinya akan berlainan sama sekali. Paulus membaca Alkitab sampai menemukan fakta.

Fakta sedemikian ini banyak sekali terdapat dalam Alkitab. Kaya atau tidaknya seseorang akan firman Allah, tergantung pada berapa banyak fakta yang ia temukan di hadapan Allah. Makin banyak fakta yang ia temukan, makin limpah dia. Bila membaca secara sembarangan dan tidak menemukan fakta, akibatnya, tidak mengetahui apa-apa.

Karena itu, begitu kita mulai membaca Alkitab, kita harus belajar menemukan fakta. Kemudian menghafalnya, menganalisis, membandingkan, dan mohon terang di hadapan Allah.

III. PELAKSANAAN MEMBACA ALKITAB

Membaca Alkitab dengan menggunakan dua buah Alkitab dan dua bagian waktu yang berlainan. Pagi membaca sekali dan sore membaca sekali. Atau bangun pagi membaca Alkitab, waktu yang pertama membaca dengan satu cara, dan waktu yang belakangan membaca dengan cara yang lain. Kedua waktu ini harus dipisahkan. Waktu pagi hari atau segera setelah bangun pagi membaca Alkitab sambil merenungkan, sambil memuji, sambil berdoa. Membaca Alkitab, merenungkan, memuji, dan berdoa dicampur-baurkan menjadi satu, dengan tujuan untuk mendapatkan makanan hayat rohani, yaitu bagi pembinaan kerohanian diri sendiri. Jangan membaca terlalu banyak, 3 atau 4 ayat sudah cukup. Sore hari atau bagian belakang setelah bangun pagi, hendaklah mempergunakan waktu yang agak lama agar dapat membaca lebih banyak, tujuannya ialah belajar untuk mengerti apa yang Allah katakan dalam firman-Nya.

Jika memungkinkan, sediakanlah dua buah Alkitab. Waktu yang pertama memakai sebuah Alkitab yang tidak ada coretan satu huruf pun dan tidak ada gambar sebagai tanda apa pun (selain hari, bulan, tahun yang akan disebut di bawah ini). Waktu yang kedua memakai Alkitab yang lain, boleh ditulis dengan apa yang dilihat, baik dengan kata-kata, menggambar lingkaran, garis lurus, semuanya boleh. Alkitab yang dipakai duluan, boleh diberi catatan hari, bulan dan tahun; ketika Anda membaca suatu bagian, dan Anda ”bergumul” dengan Allah, sehingga ada pengalaman, saat itu Anda boleh menuliskan hari, bulan, dan tahunnya. Artinya pada hari itu, pada ayat itu, Anda bertemu dengan Allah, namun jangan menulis hal yang lain. Alkitab yang Anda pakai belakangan itu dipergunakan untuk mengenal Alkitab, jadi segala fakta rohani yang Anda temukan dan terang yang Anda tampak, semuanya Anda catat dalam Alkitab ini. Sekarang akan kami jelaskan, bagaimana membaca Alkitab pada dua waktu yang berbeda ini.

1. Waktu yang Pertama, Merenungkan Alkitab

Mengenai merenungkan Alkitab, lebih baik menggunakan kata-kata yang diucapkan oleh Muller sebagai berikut:

”Tuhan pernah berkenan mengajarku satu kebenaran yang bukan disampaikan oleh seseorang. Walaupun sudah lewat 40 tahun lebih, aku mengakui bahwa aku masih belum kehilangan faedah dari kebenaran itu. Intinya adalah demikian: Waktu itu aku tampak lebih jelas dari sebelumnya bahwa setiap hari aku harus memperhatikan perkara yang terbesar dan yang terutama, yaitu bersukacita di dalam Tuhan. Perkara utama yang harus diperhatikan bukan tergantung pada berapa banyak aku melayani Tuhan, atau bagaimana aku memuliakan Tuhan, melainkan bagaimana di dalamku mendapatkan sukacita, dan manusia batiniahku mendapatkan pemeliharaan. Aku bisa saja menginjil kepada orang yang belum percaya Tuhan, membina kaum saleh, membantu orang yang dalam kesusahan, dan melakukan banyak pekerjaan untuk menyatakan bahwa aku adalah anak Allah. Akan tetapi bila aku tidak bersukacita di dalam Tuhan dan manusia batiniahku tidak mendapatkan pemeliharaan setiap hari, maka semua yang kulakukan tidak berada dalam roh yang tepat.

Sebelum aku memahami hal ini, paling sedikit ada sepuluh tahun, kebiasaanku ialah berdoa setiap pagi setelah gosok gigi dan mandi. Kali itu aku baru tahu, bahwa pekerjaan terpenting yang harus kulakukan ialah membaca firman Allah dan merenungkannya, sehingga hatiku mendapatkan hiburan, dorongan, peringatan, teguran, dan pengajaran. Saat aku merenungkan firman Allah, hatiku bisa bersekutu dengan Tuhan di dalam pengalaman. Sebab itu setiap pagi aku merenungkan Perjanjian Baru. Ketika dengan beberapa kalimat aku mohon Tuhan memberkati firman-Nya yang mustika itu, yang pertama-tama kulakukan ialah merenungkan firman Allah. Dalam setiap ayat Alkitab, aku mencari berkat yang terkandung di dalamnya, bukan untuk berkhotbah di depan orang banyak, atau menceritakan firman yang kurenungkan itu, melainkan agar rohku mendapatkan makanan. Akibat yang tak berubah yang kutemukan ialah beberapa menit kemudian, aku harus mengaku dosa atau bersyukur, melakukan doa syafaat dan memohon. Walaupun tujuanku bukan berdoa, melainkan merenung, tetapi pasti dengan cepat, sedikit atau banyak, beralih kepada berdoa. Setelah aku mengaku dosa, berdoa syafaat, memohon, atau bersyukur, kulanjutkan dengan kalimat kedua atau ayat kedua. Apa yang telah kubaca, jika ada bimbingan lagi, maka kupakai lagi untuk mendoakan diri sendiri atau orang lain. Tetapi aku masih ingat, tujuanku merenung itu tak lain agar roh jiwaku mendapatkan makanan. Hasil dari melakukan hal-hal ini, setiap hari di dalam renunganku berbaur dengan mengaku dosa, bersyukur, memohon, atau melakukan doa syafaat, sehingga manusia batiniahku terasa mendapatkan perawatan dan tenaga. Jarang ada pengecualian, pada waktu sarapan, hatiku kalau bukan gembira, pastilah sentosa. Walaupun renunganku bukan untuk berkhotbah di hadapan orang banyak, melainkan bagi faedah manusia batiniahku, namun apa yang Tuhan berkenan karuniakan kepadaku, tak lama kemudian juga menjadi makanan orang lain . . .”

”Hal pertama yang harus anak-anak Allah lakukan setiap pagi hari ialah mendapatkan makanan bagi manusia batiniahnya. Manusia jasmani kita tidak bisa bekerja tanpa makan, demikian pula, setiap pagi hari manusia batiniah kita harus diberi makan. Kita harus mengakui bahwa manusia batiniah itu perlu makan. Apa yang menjadi makanan manusia batiniah itu? Bukan doa, melainkan firman Allah. Ini bukan berarti hanya membaca firman Allah untuk dialirkan melalui pikiran kita sama seperti pipa air; melainkan perlu merenungkan firman itu dan menerapkannya dalam hati kita.”

”Kita berdoa adalah berbicara dengan Allah. Jika kita ingin doa kita dapat bertahan lebih lama daripada biasanya, dengan sendirinya memerlukan tenaga yang lebih banyak dan hati yang beribadah. Karena itu, hanya setelah manusia batiniah kita ini demi merenungkan firman Allah mendapatkan pemeliharaan, sehingga kita mendapatkan firman Allah yang dapat menasihati, menghibur, mengajar, merendahkan diri kita, dan menegur kita, barulah tiba saatnya yang terbaik untuk berdoa. Kita wajib merenungkannya di dalam berkat Allah, meskipun kerohanian kita masih tetap lemah. Makin kita lemah, makin kita perlu merenungkan agar manusia batiniah kita menjadi kuat. Kalau kita melakukannya, maka pikiran kita tidak akan berkeliaran, ini jauh lebih baik daripada kita berdoa tanpa merenung sebelumnya.”

”Aku mau memperhatikan hal ini, sebab diriku sendiri telah mendapatkan pemeliharaan dan faedah rohani yang paling besar. Dengan tulus dan serius, aku mohon kepada Anda yang seiman denganku untuk mempertimbangkan hal ini. Demi berkat Allah dan melalui cara ini, aku mendapatkan tenaga dan bantuan dari Allah, agar aku dengan damai sentosa-Nya dapat mengalami segala macam ujian yang lebih dalam. Sudah 40 tahun lamanya aku mempraktikkan cara ini, karena itu dengan hati yang takut kepada Allah, aku berani memperkenalkan cara ini. Alangkah berbeda antara orang yang pada pagi hari roh jiwanya mendapatkan pemeliharaan dan sukacita, dengan orang yang tanpa persiapan rohani; sedangkan seharian banyak pekerjaan, pencobaan, dan tipu muslihat.”

2. Waktu yang Kedua, Membaca Secara Biasa

Paling sedikit dalam waktu enam bulan, orang yang baru percaya Tuhan tidak cocok membaca Alkitab dengan cara ingin menyelidiki, karena dia kurang paham terhadap seluruh isi Alkitab. Terlebih dulu perlu memakai waktu beberapa bulan, secara umum membaca seluruh Alkitab, baru kemudian dapat menyelidiki Alkitab.

Kita membaca Alkitab, harus sepasal demi sepasal, sekali demi sekali, secara terus-menerus membacanya di hadapan Allah. Paling baik menetapkan tiap hari harus membaca Perjanjian Lama berapa pasal, dan Perjanjian Baru berapa pasal. Tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat, harus membacanya secara menyeluruh, senantiasa, dan terus-menerus. Dalam seumur hidup saudara Muller, ia pernah membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian baru sebanyak seratus kali. Saudara saudari yang baru beroleh selamat, ketika belajar membaca Alkitab, harus ingat sudah berapa kali membacanya. Sewaktu Anda pertama kali selesai membaca seluruh Perjanjian Baru, paling baik menulis sepucuk surat memberi tahu saudara yang lebih senior. Dalam Alkitab Anda, juga baik bila dapat menyisihkan halaman pertama yang masih kosong untuk mencatat berapa kali Anda telah membaca Alkitab. Tanggal, bulan, tahun, dan tempat Anda telah selesai membaca untuk pertama kali; demikian juga untuk pembacaan yang kedua kalinya, membaca sekali dicatat sekali; Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama harus dibagi dengan jelas. Kiranya Anda juga dapat mengatakan bahwa seumur hidup Anda sudah membaca Alkitab seratus kali. Jika seseorang ingin membaca sebanyak seratus kali dalam seumur hidupnya, dihitung ia menjadi orang Kristen selama 50 tahun, maka paling sedikit dalam satu tahun ia harus membaca dua kali. Karena itu, Anda harus mempergunakan waktu yang cukup untuk membaca Alkitab.

Prinsip pembacaan Alkitab ialah sepasal demi sepasal, sekali demi sekali. Saudara saudari yang lebih senior harus memperhatikan keadaan pembacaan Alkitab dari orang-orang yang baru diselamatkan, kadangkala boleh memeriksa tanggal yang ditulis dalam Alkitab mereka, serta menanyakan dalam seharinya membaca berapa pasal, dalam minggu ini sudah membaca sampai di mana. Kita semua harus memperhatikan pekerjaan ini, tidak boleh kendor. Orang yang terlalu lambat perlu didesak, ”Sudah setengah tahun, mengapa Perjanjian Baru masih belum habis dibaca satu kali?”

Demikian membaca Alkitab seturut prinsip yang disebut di atas, lewat sejangka waktu, pengenalan terhadap Alkitab lambat-laun pasti akan bertambah. Jika mungkin, setiap hari menghafalkan satu atau dua ayat Alkitab. Pada permulaan, harus dengan sedikit paksaan, karena memang agak membosankan, lama kelamaan baru bisa mendapatkan faedahnya.

3. Menyelidiki Alkitab pada Waktu-waktu Tertentu

Tahap pertama membaca Alkitab setiap hari — membaca Alkitab sambil berdoa dan merenungkan — tidak boleh berhenti dalam seumur hidup kita. Tahap kedua membaca secara biasa, setelah berselang enam bulan dan sudah ada sedikit pengenalan, baru mulai menyelidiki Alkitab.

Paling baik setiap orang Kristen dapat menetapkan bagaimana menyelidiki Alkitab. Bila Anda setiap hari dapat meluangkan waktu setengah jam, maka Anda sendiri menetapkan rencana menyelidiki Alkitab selama setengah jam sehari; bila Anda setiap hari dapat meluangkan waktu satu jam, maka Anda sendiri menetapkan rencana menyelidiki Alkitab selama satu jam. Demikian seterusnya, pokoknya menurut berapa waktu yang dapat Anda luangkan, Anda sendiri menetapkan rencana yang tepat dan sesuai. Cara membaca Alkitab yang ”mahir” merupakan cara yang terburuk, yaitu membaca secara sembarangan, tidak ada rencana, buka mana baca mana, kadang-kadang sepuluh hari terus membaca, kadang-kadang dalam sepuluh hari satu kata pun tidak dibaca, ini paling celaka. Kita tak boleh meniru cara membaca yang ”mahir”. Setiap orang harus dengan rencana yang pasti membaca Alkitab. Dalam hal membaca Alkitab kita perlu belajar terkendali dan teratur.

Akan tetapi Anda jangan menetapkan standar yang terlalu tinggi atau waktu yang terlalu lama, karena itu biasanya tidak dapat bertahan lama. Kalau kita mau melakukannya, haruslah melakukannya sampai 5 tahun, 10 tahun atau 15 tahun, bukan mengerjakan 2 atau 3 bulan, 5 atau 6 bulan sudah berhenti. Karena itu, lebih baik memikirkan hal ini secara matang di hadapan Allah, berapa jam yang harus Anda gunakan untuk membaca Alkitab. Kalau mungkin, setiap hari satu jam, itu cukup, setengah jam kelihatannya agak kurang. Namun bila waktu tak mengizinkan, membaca setengah jam juga boleh. Satu jam sehari, ini agak memadai. Kalau bisa dua jam itu juga baik, tapi biasanya jangan sampai melebihi dua jam. Kita jarang menemukan saudara saudari yang sehari membaca tiga jam yang dapat bertahan lama.

Cara membaca Alkitab sudah pernah kami perkenalkan dalam buku ”Jalan Membaca Alkitab”, semuanya ada 28 cara. Dalam 28 cara ini, ada satu cara yang paling sukar, namanya ”Kemajuan dalam kebenaran Alkitab”. Pada banyak orang, cara ini baru bisa dipergunakan di kemudian hari. Selain itu, ada pembacaan dengan meneliti ”istilah”, ini agak mudah. Masih ada lagi pembacaan dengan meneliti ”batu berharga”, ”angka”, ”nama orang”, ”nama tempat”, dan sebagainya. Ini boleh dilakukan sebagai tambahan, tak perlu secara khusus dan meneliti dengan saksama. Masih ada ”tahun” dalam Alkitab, kalau ada waktu boleh juga menelitinya. Selain itu, ada lagi beberapa macam cara pembacaan dengan meneliti ”lambang”, ”nubuat”, ”perumpamaan”, ”mujizat”, ”ajaran Tuhan di atas bumi” dan ”satu kitab demi satu kitab”, semua cara ini harus kita laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Sekarang mari kita mengambil contoh menyelidiki Alkitab dengan waktu satu jam sehari, serta membagi waktu-waktunya.

20 Menit Pertama — Membaca Judul

Ada orang memiliki pengalaman demikian: Mereka membagi waktu satu jam dalam empat tahap. Tahap pertama 20 menit, khusus untuk membaca sebuah judul yang khusus, seperti ”lambang”, ”nubuat”, ”perumpamaan”, ”zaman”, ”pengajaran Tuhan di atas bumi”, atau ”membaca sekitab demi sekitab”. Dapat pula Anda membaca sealinea demi sealinea di hadapan Allah, serta mencari ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan judul yang telah Anda tentukan. Kalau membacanya ”sekitab demi sekitab”, boleh Anda memilih kitab mana yang akan dibaca. Misalkan kitab Roma, Injil Yohanes, dan sebagainya. Setelah selesai membaca satu kitab, boleh memilih lagi kitab yang lain, pokoknya membaca kitab demi kitab, dan mencari isi yang terkandung dalam kitab itu. Bila Anda menetapkan setiap hari membaca 20 menit, maka janganlah mengulur waktu atau menyingkat waktu. Kita wajib belajar melatih diri sendiri, menjadi orang yang dapat dikendali, jangan menjadi orang yang ceroboh dan sembarangan.

20 Menit Kedua — Membaca Istilah

Dua puluh menit kedua dapat digunakan untuk membaca dengan meneliti ”istilah”. Dalam Alkitab terdapat banyak sekali istilah yang khusus, seperti: damai, darah, iman, sukacita, sejahtera, pengharapan, kasih, taat, kebenaran, penebusan, anugerah, dan sebagainya; semua ini sangat bermakna. Jika Anda dapat mengumpulkan istilah-istilah itu menjadi satu, maka Anda akan lebih mengetahui makna dari istilah-istilah itu. Misalkan, ketika Anda membaca istilah ”darah”, terlebih dulu Anda perlu mencatat seluruh ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan ”darah”, kemudian menganalisis artinya, antara lain: darah telah mengerjakan apa bagi kita di hadapan Allah, darah telah menanggulangi orang yang bagaimana, berapa banyak pekerjaan yang telah dirampungkan oleh darah bagi kita. Mulai Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, Anda dapat menemukan banyak sekali ayat yang mengandung istilah ”darah”, yang kesemuanya harus Anda analisis dengan baik-baik. Ini tidak dapat Anda selesaikan sekali saja, karena itu pada hari yang pertama jangan mengharapkan ada hasilnya. Jika bisa memakai ”Konkordasi Alkitab” atau buku sejenisnya, Anda akan lebih menghemat waktu.

10 Menit Ketiga — Mengumpulkan Data

Anda boleh memilih beberapa judul, waktu 10 menit ini dapat digunakan secara khusus untuk mengumpulkan data-data bagi judul-judul ini. Banyak sekali judul yang terdapat dalam Alkitab, seperti: penciptaan, manusia, dosa, karunia keselamatan; pertobatan, Roh kudus, dilahirkan kembali, dikuduskan, dibenarkan, diampuni, pembebasan, tubuh Kristus, kedatangan Tuhan, penghakiman, kerajaan, kekekalan, dan sebagainya. Anda boleh memilih beberapa judul, menurut judul-judul ini Anda mengumpulkan data-data dari dalam Alkitab. Mengumpulkan data paling banyak 5 judul pada waktu yang bersamaan, terlalu banyak bisa berantakan, karena tak terjangkau kemampuan. Tetapi juga jangan hanya mengumpulkan data bagi satu judul. Kalau setiap kali hanya mengumpulkan data bagi satu judul saja, itu terlalu menyia-nyiakan waktu, karena belum tentu dalam satu pasal hanya bisa mendapatkan satu judul saja. Misalkan Anda membaca ”Roh Kudus”, belum tentu dalam pasal itu hanya membicarakan tentang ”Roh Kudus”, tentu juga membicarakan judul lainnya. Karena itu, sebaiknya serentak mencari data-data bagi beberapa judul, dua atau tiga itu baik, empat atau lima juga boleh, namun jangan lebih dari lima.

Satu judul saja sudah memerlukan waktu yang cukup lama baru dapat selesai membacanya, lagipula Anda perlu menambahkan data-data itu ke dalamnya. Catatlah data-data (ayat-ayat) yang telah Anda peroleh, juga istilah-istilah yang penting serta makna-maknanya. Bila Anda hanya mencatat ayat-ayat Alkitabnya, itu tidak seberapa faedahnya. Anda harus mengetahui apa yang dibicarakan dalam ayat-ayat yang telah Anda catat itu. Seandainya Anda membaca sampai pada Roh Kudus yang dibicarakan dalam surat Efesus, dan Anda mencatat pemeteraian Roh Kudus pada pasal 1 ayat 13, maka Anda harus juga mencatat makna meterai itu. Terlebih dulu mencatat ayat-ayatnya, kemudian mencatat istilah-istilah yang bersangkutan, yang terakhir mencatat maknanya. Demikian cara Anda mengumpulkan data-data, sampai pada suatu hari, ketika Anda akan menyelesaikan suatu masalah tertentu, data-data itu cukup Anda pergunakan.

10 Menit Keempat — Menyalin Alkitab

Masih ada 10 menit terakhir yang dapat Anda gunakan untuk menyalin Alkitab; ini sangat bermanfaat. Menyalin Alkitab ialah menulis pemahaman baru yang Anda peroleh dari ayat-ayat Alkitab yang dibaca dengan kata-kata sendiri, namun mudah dimengerti oleh orang lain.

Misalkan Anda membaca mulai dari Roma 1:1, dan seterusnya. Seandainya ada seorang adik yang berusia belasan tahun datang kepada Anda serta berkata, ”Aku tidak mengerti perkataan Paulus dalam kitab Roma ini.” Maka Anda mulai berpikir, bagaimana sebaiknya gunakan perkataan Anda sendiri untuk menceritakan kepada adik ini? Bukan menerangkan, melainkan memakai kata-kata Anda sendiri memberitakan maksud Paulus, agar adik yang tidak paham itu akhirnya dapat mengerti. Untuk ini perlu belajar menyalin Alkitab, dengan kata-kata Anda sendiri menyalin arti Alkitab. Anda mengambil kitab Roma dan menyalin dengan perkataan Anda sendiri. Paulus menulis menurut kata-katanya sendiri, sekarang Anda menyalin menurut kata-kata Anda sendiri, dengan sebisanya Anda menyalin. Anda harus dengan baik menyalinnya, sehingga Anda sendiri ataupun saudara saudari yang lainnya juga dapat mengerti.

Menyalin Alkitab dapat menyatakan berapa banyak pengenalan seseorang terhadap firman Allah. Dengan kata-kata sendiri menyalin kata-kata para rasul merupakan persiapan bagi penguraian Alkitab. Tahap pertama ialah menyalin Alkitab; tahap kedua ialah menguraikan Alkitab. Terlebih dulu belajar menyalin Alkitab, menyalin menurut kata-kata Anda sendiri. Pelajaran di hadapan Allah harus diurut, jangan langsung menguraikan Alkitab sebelum belajar menyalin Alkitab, ini terlalu cepat. Belajar menyalin Alkitab terlebih dulu, sebelum belajar menguraikan Alkitab. Kalau menyalin Alkitab saja belum bisa, menguraikan Alkitab tentu juga tidak bisa. Tahap pertama dapat menyalin, tahap kedua baru bisa menguraikan. Ini merupakan pelajaran dasar yang wajib kita latih dengan baik. Terlebih dulu menyalin semua kitab surat kiriman Paulus, kemudian baru seluruh kitab Perjanjian Baru.

Hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu menyalin Alkitab ialah tidak boleh memakai kata-kata yang asalnya tertera dalam Alkitab, tetapi harus memakai kata-kata sendiri. Pelajaran utama dari pekerjaan ini yaitu menggunakan kata-kata seturut paham Anda untuk mengutarakan maksud yang sebenarnya. Setelah Anda mencoba menyalin satu kitab, barulah Anda mengetahui betapa mustikanya ini, sangat berfaedah bagi diri Anda sendiri. Orang yang ceroboh dan sambil lalu tidak dapat menyalin Alkitab. Anda harus baik-baik berdoa dan membaca di hadapan Allah, baru bisa menyalin dengan tepat. Sesudah Anda menyalin satu kitab, boleh Anda koreksi sekali dua kali di hadapan Allah, sehingga sekata demi sekata sangat tepat dan kalimat-kalimatnya pun sangat lancar. Dengan demikian Anda mempunyai kesan terhadap kitab ini, dan dapat mengerti maksud perkataan para rasul. Anda harus menyalin, baru ada kesannya.

Bila Anda ingin menyalin Alkitab, Anda harus membaca Alkitab sampai mengerti secara mutlak, seakan-akan Anda sudah mengerti semuanya, baik apa yang telah ditulis dalam Alkitab maupun arti-arti yang masih tersirat dalam Alkitab. Demikianlah Anda dapat menyalin Alkitab seturut apa yang telah Anda ketahui. Ini memerlukan pengertian Anda terhadap ayat itu, sehingga Anda sangat jelas terhadapnya, barulah Anda bisa menyalinnya. Demikian Anda lakukan, setiap hari Anda menyalin sedikit, membaca dengan saksama, dengan hati-hati menyalinnya, sampai pada suatu hari, Anda dapat menyalin salah satu kitab surat kiriman Paulus, barulah Anda dapat memahami maksud Paulus, serta mempergunakan banyak kata yang belum pernah Paulus pakai untuk mengutarakan maksud Paulus.

Empat macam usul yang saya sebut tadi, pertama membaca sejudul demi sejudul, kemudian meneliti istilah-istilah, lalu mengumpulkan data-data, dan yang terakhir belajar menyalin Alkitab. Ada 28 macam cara membaca Alkitab yang boleh dipraktikkan satu persatu. Demikian menetapkan dan membagi waktu untuk membaca Alkitab, merupakan latihan bagi diri Anda sendiri. Kita wajib mengikat pinggang, ada pengendalian, teratur, dan tidak acuh tak acuh di hadapan Allah. Jika Anda menetapkan membaca satu jam, kiranya Anda memegang waktu satu jam itu. Kecuali sakit atau waktu libur dan istirahat, Anda boleh mempersingkat atau memperpanjang waktu. Pada hari-hari biasa, Anda harus mempertahankan waktu yang telah Anda tetapkan. Bila setiap hari Anda melakukannya dengan berkesinambungan, tak lama kemudian Anda pasti akan memetik hasilnya.