MELAWAN IBLIS
Pembacaan Alkitab:
1 Ptr. 5:8-9a: ”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh.”
Yak. 4:7: ”Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari hadapanmu.”
Ef. 4:27: ”Dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”
2 Kor. 2:11: ”Supaya Iblis jangan memperdaya kita, sebab kita tahu apa maksudnya.”
Iblis juga disebut ”Satan” (Why. 12:9). Ia asalnya adalah satu kerub ciptaan Allah (Yeh. 28:12-14), penghulu malaikat yang semula (Why. 12:7; Mat. 25:41). Karena ia ingin meninggikan diri supaya setingkat dengan Allah, ia memberontak kepada Allah. Itulah sebabnya ia menerima hukuman Allah (Yes. 14:12-15; Yeh. 18:15-19) sehingga menjadi Satan, lawan atau musuh Allah. Dalam bahasa aslinya kata ”Satan” berarti ”penentang”, yakni ”seteru”. Ia selalu menentang usaha Allah; ia pun berusaha memusuhi anak-anak Allah. Sekarang marilah kita tinjau sejenak, bagaimana sebenarnya Iblis menyerang anak-anak Allah, dan bagaimana seharusnya anak-anak Allah melawannya.
I. PEKERJAAN IBLIS
Pekerjaan Iblis boleh kita bagi ke dalam empat aspek:
1. Di dalam Pikiran Manusia
Dua Korintus 10:4-5 mengatakan, ”Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan (merebut) segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” Dalam ayat ini kita tampak bahwa Iblis akan menggunakan berbagai siasat sebagai benteng-benteng kokoh untuk menawan pikiran manusia. Sebab itu, jika Tuhan ingin mendapatkan manusia, benteng-benteng Iblis yang kokoh itu harus diruntuhkan terlebih dahulu, kemudian barulah Tuhan dapat menerobos ke dalam untuk merebut pikirannya.
A. Siasat dan Godaan Iblis
Istilah ”siasat” dalam bahasa Yunani dapat diterjemahkan menjadi ”alasan”, ”khayalan”, atau ”pikiran”. Sering kali Iblis dapat mengurung manusia dengan berbagai macam khayalan. Kita manusia sangat bodoh, mengira khayalan-khayalan itu berasal dari diri kita sendiri, padahal itu adalah benteng-benteng kokoh yang dibangun Iblis guna mencegah hati kita untuk tunduk kepada Kristus.
Sering kali Iblis menaruh satu khayalan ke dalam benak Anda, dan jika Anda mengira khayalan itu berasal dari diri Anda, Anda akan terjebak olehnya. Banyak keadaan yang berasal dari khayalan yang tidak berfakta; banyak pula dosa yang bersifat khayal, faktanya tidak ada. Problema di antara Anda dengan saudara saudari mungkin kebanyakan berasal dari khayalan belaka, tanpa fakta. Iblis adakalanya memberikan suatu fantasi yang sangat besar kepada kita di luar kesadaran kita. Kadang-kadang Iblis memberikan satu pikiran yang mendadak kepada kita. Bila kita menerima pikiran itu, kita menerima pekerjaannya. Tetapi jika kita menolak pikiran itu, kita menolak pekerjaannya. Banyak pikiran yang bukan berasal dari pemikiran kita, melainkan pemberian Iblis. Karena itu, kita harus belajar menolak pikiran-pikiran pemberian Iblis itu.
Godaan atau cobaan Iblis sebagian besar terdapat dalam pikiran. Iblis tahu, jika ia menyerang dengan terang-terangan, banyak anak-anak Allah akan bangkit dan menentangnya dengan tegas. Karena itu, ia selalu menggoda kita dengan diam-diam, tanpa mengejutkan kita sedikit pun. Ia meletakkan sebuah pikiran ke dalam benak kita di luar kesadaran kita. Setelah kita menerima pikiran itu, kita sendiri lalu memikirkan pikiran itu. Semakin Anda memikirkannya, semakin terasa masuk akal dan Anda makin mengira perkara itu benar. Demikian berarti Anda sudah terjebak olehnya. Pikiran yang Anda terima itu justru adalah cobaan atau godaan yang Iblis berikan kepada Anda. Jika pikiran Anda tidak menerima serangan Iblis itu, Iblis akan kehilangan sebuah jalan yang termudah untuk menyerbu Anda.
Banyak problema atau kesulitan yang timbul di antara anak-anak Allah sebetulnya bukan kesulitan yang bersifat fakta, melainkan bersifat mental. Kadang-kadang Anda melihat seorang saudara atau saudari, lalu Anda mengira ia mempunyai masalah dengan Anda dan ia seolah menjauhi Anda, karena itu timbullah sekatan di antara Anda dengannya; padahal tidak ada masalah itu. Itulah tipu daya Iblis di dalam pikiran Anda atau di dalam pikiran saudara saudari tersebut, yang mengakibatkan timbulnya suatu problema di antara saudara saudari. Sebenarnya problema itu sama sekali tidak seharusnya terjadi. Sebab itu, anak-anak Allah harus menolak pikiran-pikiran atau perasaan-perasaan yang mendadak, dan harus belajar tidak memberikan kesempatan atau kedudukan kepada Iblis di dalam pikiran kita.
Di sini kita harus menerima satu peringatan, yaitu janganlah kita terlalu memperhatikan pikiran yang berasal dari Iblis. Ada beberapa orang bersikap ekstrem, mereka sama sekali tidak menghiraukan pikiran-pikiran yang disuntikkan oleh Iblis; ada pula yang menjurus ke ekstrem lain, yaitu terlampau menghiraukan pikiran-pikiran yang dimasukkan oleh Iblis. Jika seseorang sama sekali tidak menghiraukan pikiran yang berasal dari Iblis, ia akan mudah tertipu, tetapi jika seseorang terus-menerus menghiraukan pikiran yang berasal dari Iblis, ia akan mudah mendapat penyakit saraf. Bila seseorang menghiraukan godaan Iblis dengan berlebih-lebihan, pikirannya akan kacau, dan ia malah mudah terkena muslihat Iblis. Karena begitu mata kita tidak memandang kepada Tuhan, pasti akan timbul problema. Sebab itu, di samping kita harus tampak betapa Iblis bisa menyerang pikiran kita, kita pun harus tahu, asal kita menolaknya saja, maka bereslah segalanya.
Andaikata seseorang dari pagi hingga petang terus-menerus menolak Iblis, ia akan menderita penyakit mental, dan ia akan tersesat. Karenanya, pada satu pihak kita tidak dapat tidak mengetahui, sebab jika tidak mengetahui, kita akan tertipu; tetapi pada pihak lainnya, kita pun tidak boleh terlalu memperhatikannya, sebab terlalu memperhatikan akan menyebabkan kita tertipu.
Siasat Iblis ialah: Kalau ia tidak menyuruh Anda sama sekali tak menggubrisnya, maka ia akan menyuruh Anda menghiraukannya secara berlebihan. Sebab jika mata Anda terus-menerus memperhatikannya, ia akan memperoleh peluang yang ia ingini, ia dapat membuat Anda menjadi tidak berguna, membuat Anda sehari suntuk terus-menerus memperhatikan pikirannya saja. Siapa saja yang memperhatikan pikirannya sendiri, ia akan tertipu oleh Iblis. Karenanya, kita harus belajar memelihara keseimbangan; perhatian yang berlebih-lebihan macam apa pun tidaklah benar. Jika pikiran seseorang selalu memperhatikan pikiran-pikiran yang berasal dari Iblis, hal itu malah akan membuka jalan bagi masuknya Iblis. Sebab itu, jangan sekali-kali menempuh jalan ekstrem.
B. Bagaimana Menolak Pikiran dari Iblis
Dengan cara apakah kita dapat menolak pikiran dari Iblis? Caranya sangat mudah. Kita harus tahu bahwa pikiran yang Allah karuniakan kepada kita adalah milik kita, bukan milik Iblis, dan hanya kitalah yang berhak memakainya, Iblis tidak berhak memakainya. Sebab itu, asalkan kita tidak memberikannya kepada Iblis, itu sudah beres. Iblis hanya dapat memakai pikiran kita dengan cara menipu. Ia memberikan satu pikiran kepada Anda, lalu menyuruh Anda menganggapnya sebagai pikiran Anda, padahal itu adalah pikiran yang ia berikan kepada Anda. Sebab itu, asalkan Anda mengenal bahwa itu bukan pikiran Anda, sudahlah cukup.
Dalam menggoda atau menyerang manusia, Iblis selalu menggunakan cara halus dan tidak secara terang-terangan. Ia tidak berteriak, ”Ha, sekarang saya datang!” Ia sering datang dengan cara menyemu atau memalsu agar Anda terkecoh. Ia tidak memberi tahu Anda bahwa itu adalah perbuatannya. Jika Anda tahu itu adalah serangan Iblis, Anda tahu keadaan sebenarnya, maka begitu Anda menyingkap kedoknya, Anda akan mudah sekali menentangnya.
Tuhan Yesus berkata, ”Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32). Kebenaran berarti keadaan sebenarnya dari suatu kenyataan. Bila Anda mengetahui keadaan sebenarnya, Anda akan beroleh kebebasan. Kuasa Iblis berada di dalam penipuannya; bila ia tidak dapat menipu, kuasanya pun akan lenyap. Sebab itu, bila Anda mengetahui bahwa kasus itu sebenarnya adalah serangan Iblis, Anda pasti akan beroleh kemerdekaan.
Ada anak-anak Allah yang hanya di mulutnya saja mengatakan bahwa itu adalah perbuatan Iblis, namun rohnya tidak jelas bahwa itu benar-benar perbuatan Iblis. Jika demikian, walaupun ia mengatakan bahwa ia sedang melawan Iblis, sebenarnya ia belum juga mengenal belangnya, dan ia tidak mungkin melawannya. Tetapi, bila ia tampak dengan sesungguhnya bahwa itu adalah perbuatan Iblis, begitu ia melawannya, pasti berhasil.
Iblis menyerang pikiran kita dengan cara menyemu, yaitu membuat Anda mengira pikiran Anda itu adalah yang Anda kehendaki sendiri. Tetapi bila Anda telah mengenal belangnya, Anda pasti akan menolak pikiran tersebut. Melawan berarti menolak. Kalau Iblis memberikan satu pikiran kepada Anda, Anda berkata, ”Tidak, saya tidak mau!” Itulah arti melawan. Jika ia memberi Anda ini, Anda berkata, ”Saya tidak mau”; ia memberi Anda itu, Anda pun berkata, ”Saya tidak mau”; pasti ia tidak berdaya.
Pada abad pertengahan, ada seorang hamba Tuhan pernah berkata demikian, ”Anda tidak dapat menghalang-halangi burung beterbangan di atas kepala Anda, tapi Anda dapat menghalang-halanginya untuk bersarang di atas kepala Anda.” Perkataan ini sangat indah. Iblis ingin menggoda Anda, Anda tidak dapat menghalang-halanginya, tetapi Anda dapat melarangnya membuat sarang, yaitu membuat tumpuan kaki di dalam Anda. Hak ini adalah milik Anda. Pikiran apa saja yang mendatangi Anda, jika Anda tidak mau memikirkannya, pasti akan terhenti.
Pada pihak lain, kita harus menggunakan pikiran kita secara positif. Ada banyak orang yang pikirannya sangat malas, karena itu, Iblis mudah sekali memasukkan pikirannya ke dalam mereka. Filipi 4:8 mengatakan, ”Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Kita boleh sering memikirkan perkara-perkara rohani, dalam perkara-perkara rohani kita harus banyak menggunakan pikiran. Tetapi sebaliknya, jika seseorang sering memakai pikirannya untuk memikirkan perkara-perkara yang condong kepada dosa, maka sangat mudahlah Iblis menjejali dengan pikirannya, sebab pikirannya tidak jauh berbeda dengan pikiran Iblis. Bila kita senantiasa memikirkan perkara-perkara rohani, maka Iblis tidak mudah menyuntikkan pikirannya ke dalam kita. Banyak orang yang karena dirinya sendiri selalu pasif, menganggur, atau selalu memikirkan hal-hal yang tidak bersih dan tidak berfaedah, maka Iblis mudah mendapat peluang untuk memasukkan pikirannya ke dalam mereka.
Ada satu hal lagi yang harus diperhatikan, yaitu hati Anda jangan menyukai pikiran Iblis. Banyak orang yang hatinya menyukai pikiran Iblis, mereka tidak merasa tertarik jika mendengar keadaan rohani saudara lain baik. Sebaliknya, mereka senang jika mendengar orang menceritakan atau mempergunjingkan orang lain. Orang yang demikian jelas menyukai pekerjaan Iblis, karenanya mereka tidak dapat menolak pikiran Iblis. Kita seharusnya membenci pekerjaan Iblis, barulah kita dapat menolak pikiran Iblis.
Semua pikiran yang keji, pikiran yang melukai atau menghambat persekutuan kita dengan Tuhan adalah pikiran yang berasal dari Iblis. Kalau Anda tidak menyukai perkara-perkara semacam itu, pikiran-pikiran itu tidak mungkin datang; tetapi jika Anda cenderung kepada perkara-perkara itu, maka mudahlah pikiran-pikiran itu hinggap pada diri Anda. Sebab itu, Anda harus belajar menolak segala perkara yang berasal dari Iblis.
Kita wajib memperhatikan dengan khusus, yaitu semua pikiran yang kotor harus ditolak. Iblis sering memberikan pikiran-pikiran atau angan-angan yang kotor kepada manusia untuk menggoda manusia dan menjerumuskannya ke dalam dosa. Pada mulanya, itu hanya sebuah pikiran yang kotor, tetapi jika Anda mentoleransinya, akan melahirkan dosa. Sebab itu, kita harus menolak pikiran-pikiran semacam itu, yang berasal dari Iblis.
Di sini ada satu masalah yang sangat besar, yaitu bagaimana jika setelah pikiran-pikiran yang tidak senonoh itu Anda tolak, tetapi ia tetap tidak mau pergi dari Anda? Kita harus tahu bahwa pikiran semacam itu cukup Anda tentang atau tolak sekali saja, tidak perlu kedua kalinya. Dalam surat Yakobus 4:7 dikatakan, ”Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari hadapanmu!” Kita harus percaya, bila kita melawan Iblis, ia pasti lari. Jika kita khawatir kalau-kalau Iblis masih tetap diam di sana, sehingga kita ingin melawannya sekali lagi, itu sudah salah.
Sebenarnya, Anda percaya kepada perkataan siapa? Kalau Alkitab mengatakan, ”Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari hadapanmu!”, tetapi dalam batin Anda mengira ia tidak akan lari, siapakah yang berkata demikian? Jelas, itu adalah perkataan Iblis! Banyak orang yang justru percaya kepada perkataan Iblis ini sehingga mereka tertipu dan dirugikan. Jika kita sudah melawan, wajiblah kita memaklumkan demikian, ”Saya telah melawan Iblis, dan ia telah lari!” Perasaan yang mengira Iblis ”masih berada di sini” adalah perasaan yang palsu dan semu; itu bukan fakta dan bukan yang berasal dari Tuhan. Iblis harus pergi, dan tidak boleh mempunyai kedudukan. Kita harus jelas: Perlawanan pertama benar, perlawanan kedua salah; perlawanan pertama dapat memuliakan nama Allah, perlawanan kedua berarti mencurigai firman Allah.
Kesalahan yang dilakukan kebanyakan orang ialah setelah mereka melawan sekali, mereka lalu bertanya kepada perasaan, ”Iblis sudah pergi atau belum?” Jika perasaan mereka mengatakan Iblis belum pergi, maka mereka akan melawan sekali lagi. Jika perlawanan kedua kalinya dilakukan, pastilah akan ada yang ketiga, keempat, bahkan keseratus dan keseribu kali, sehingga akhirnya Anda akan merasa kewalahan terhadap Iblis. Namun, jika Anda melawan sekali, dan setelah itu Anda sama sekali tidak menggubrisnya lagi, Anda pasti beroleh kemenangan. Kita harus mempercayai fakta firman Allah, jangan menghiraukan perasaan. Pada faktanya, sekali Anda melawan Iblis, ia sudah lari. Jika ia tidak lari, itu adalah perasaan Anda yang semu; dan kalau Anda mempercayai perasaan tersebut, Iblis akan muncul lagi. Sebab itu, kita wajib belajar mempercayai firman Allah yang mulia. Kalau Anda telah melawan Iblis, Anda tidak perlu mengulangi perlawanan Anda, sebab masalah itu telah berlalu.
Terhadap pekerjaan Iblis dalam pikiran manusia, kita harus menyadari bahwa Iblis dapat menyerang pikiran manusia, dan kita harus menolak pikiran-pikiran yang berasal dari Iblis. Bersamaan dengan itu, kita juga harus tahu bahwa begitu kita menolak pikiran-pikiran itu, ia pasti lenyap. Pada pihak lainnya, kita pun jangan terlampau menghiraukannya, agar pikiran kita tidak menjadi kacau, dan terjebak oleh tipu muslihat Iblis.
2. Di atas Tubuh Manusia
Dalam Alkitab kita dapat tampak dengan jelas bahwa banyak penyakit manusia yang berasal dari serangan Iblis. Demam yang diderita oleh ibu mertua Petrus, misalnya, jelas berasal dari serangan Iblis; sebab itu, Tuhan harus menghardik penyakit demam itu (Luk. 4:39). Penyakit itu pasti merupakan sesuatu yang mempunyai pribadi, karena itu Tuhan Yesus dapat menghardiknya. Kita tidak dapat menghardik sebuah gelas atau sebuah kursi, kita hanya dapat menghardik sesuatu yang berpribadi. Demam adalah suatu gejala penyakit, Tuhan tidak mungkin menghardik sebuah gejala penyakit. Di balik demam itu terdapat Iblis yang berpribadi, maka begitu Tuhan menghardik demam itu, ia segera sembuh.
Dalam Injil Markus 9, ada seorang anak yang bisu dan tuli. Menurut pandangan manusia, bisu dan tuli adalah suatu penyakit, tetapi Tuhan menghardik roh najis itu: ”Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau keluar dari anak ini dan jangan memasukinya lagi!” Ternyata tuli dan bisu pada anak itu adalah gejala termasuk setan, bukan penyakit biasa. Kita harus tahu, ada banyak penyakit yang bersifat medis, tetapi ada banyak pula yang berhubungan dengan serangan Iblis.
Alkitab mencatat dua macam penyembuhan Tuhan: penyembuhan penyakit yang bersifat medis dan penyembuhan penyakit yang berasal dari serangan Iblis. Untuk yang terakhir ini tidak disebut menyembuhkan melainkan menghardik. Barah yang tumbuh di sekujur tubuh Ayub bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan secara medis sebab itu bukan penyakit yang bersifat medis, melainkan serangan Iblis. Setelah Iblis ditanggulangi barulah penyakit itu dapat teratasi.
Kita mengakui, sering kali penyakit timbul karena kecerobohan manusia melanggar hukum alam, tetapi sering pula karena serangan Iblis. Penyakit semacam ini biasanya timbul dan lenyap secara tiba-tiba karena itu berasal dari serangan Iblis, bukan penyakit biasa. Karena itu, asalkan Anda mohon Tuhan menghardiknya saja, ia pasti segera berlalu.
Di sinilah persoalannya, penyakit-penyakit yang disebabkan oleh serangan Iblis itu takut ditelanjangi oleh kita, karena itu ia selalu menyelinap di belakang alam, supaya kita mengira penyakit itu timbul oleh faktor alam. Jika Anda membiarkannya bersembunyi di belakang alam, maka penyakit itu akan sukar meninggalkan diri Anda. Namun, jika Anda menelanjangi pekerjaan Iblis dan menghardiknya, Anda akan segera sembuh.
Dulu, pernah ada seorang Kristen, suhu badannya mendadak meningkat sangat tinggi, sehingga ia sangat menderita dan tidak dapat tidur. Ia merasa heran dan tidak mengerti apa sebabnya. Kemudian ia jelas bahwa itu adalah pekerjaan Iblis, lalu ia berdoa kepada Tuhan, dan keesokan hari panasnya sudah turun.
Sebab itu, bila orang Kristen jatuh sakit, ia harus menyelidiki sebab-musababnya, dan memeriksa apakah penyakit itu beralasan wajar. Apakah berasal dari alam, atau dari serangan Iblis. Jika tanpa alasan yang wajar dan ternyata itu adalah serangan Iblis, ia harus segera bangkit melawan dan menolaknya.
Iblis tidak saja membuat orang jatuh sakit, bahkan menyuruh orang mati. Iblis sejak semula adalah pembunuh, seperti halnya ia sejak semula adalah pendusta (Yoh. 8:55). Karenanya, kita tidak saja harus melawan penyakit yang berasal dari Iblis, juga harus melawan pembunuhnya. Setiap angan-angan yang mengira ”lebih baik mati” berasal dari Iblis, dan angan-angan apa pun yang mengira ”kalau sudah mati, beres sudah”, itu pun berasal dari Iblis.
Pekerjaan Iblis di atas diri Ayub justru membuat dia ingin mati, demikian pula di atas diri semua anak Allah. Karena itu, setiap angan-angan bunuh diri atau mengharap cepat-cepat mati adalah cobaan Iblis. Iblis menggoda manusia melakukan dosa, dia juga menggoda manusia supaya manusia ingin mati. Bahkan pikiran mengalami kecelakaan ketika kita sedang bepergian, itu pun merupakan godaan Iblis. Begitu timbul pikiran yang demikian, kita harus menolaknya, jangan menerimanya.
3. Di dalam Hati Nurani
Dalam Wahyu 12:10 tercatat, ”. . . pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.” Ayat ini memperlihatkan kepada kita bahwa Iblis mempunyai satu pekerjaan, yaitu mendakwa kita. Pekerjaannya ini ternyata dalam hati nurani manusia. Setelah seseorang beroleh selamat, hati nuraninya menjadi hidup, dan ia mulai mengenal dosa. Iblis mengetahui hal ini, ia juga tahu bahwa Roh Kudus sering menginsafkan hati nurani anak-anak Allah akan dosanya, agar ia mengaku dosa dan mohon pengampunan di hadapan Allah. Sebab itu, Iblis sering datang memalsukan pekerjaan Roh Kudus, sehingga dalam hati nurani manusia ada dakwaan-dakwaan Iblis. Ini adalah pekerjaan Iblis yang sangat umum dilakukan terhadap anak-anak Allah, dan hal ini menyebabkan anak-anak Allah sangat menderita.
Kebanyakan anak-anak Allah tidak dapat membedakan mana teguran Roh Kudus, mana dakwaan Iblis, karena itu mereka tidak berani menolak, dan Iblis dapat melaksanakan dakwaannya. Tidak sedikit anak-anak Allah yang sebenarnya bisa menjadi orang-orang yang berguna dalam tangan Allah, tetapi sayang, karena mereka menerima serangan Iblis dalam hati nurani mereka, mereka selalu terdakwa dan terus-menerus merasa bahwa dirinya berdosa dalam hal ini dan itu, sehingga hati nurani mereka menjadi sangat lemah, dan tak berdaya bangkit di hadapan Allah maupun manusia. Alhasil, mereka seumur hidup menjadi orang yang cacat rohani.
Memang, setelah kita percaya Tuhan, kita wajib menerima teguran Roh Kudus, tetapi kita harus melawan dakwaan Iblis. Kita harus memperhatikan perbedaan antara teguran Roh Kudus dengan dakwaan Iblis. Kita wajib tampak banyaknya ”teguran” palsu, yang sebenarnya adalah dakwaan Iblis belaka.
A. Dakwaan Iblis Berbeda dengan Teguran Roh Kudus
Kita harus tahu bahwa dakwaan Iblis mutlak berbeda dengan teguran Roh Kudus. Pertama, setiap teguran Roh Kudus pada mulanya memberikan sedikit perasaan di batin kita, kemudian batin kita menjadi semakin terang, hingga kita jelas akan kesalahan kita. Tetapi tidak demikian dengan dakwaan Iblis, ia membuat batin kita merengek-rengek tak henti-hentinya. Teguran Roh Kudus seolah-olah terus bertumbuh di dalam batin kita, tetapi dakwaan Iblis tidak berubah dari mula hingga akhir. Perasaan Roh Kudus di dalam batin manusia berasal dari bawah, dan perlahan-lahan meningkat ke atas, tetapi dakwaan Iblis sejak awal hingga akhir selalu merengek-rengek dan mengeluh terus di batin.
Kedua, jika kita taati teguran Roh Kudus, maka untuk seterusnya kuasa dosa atas diri kita akan semakin berkurang. Tiap kali Roh Kudus menegur, niscayalah kekuatan dosa akan terkikis sedikit. Jadi, teguran Roh Kudus dapat melemahkan dosa, sehingga kekuatan dosa menjadi semakin lemah. Tetapi dakwaan Iblis tidak demikian, ia membuat kekuatan Anda untuk berbuat dosa di kemudian hari tetap sekuat semula.
Ketiga, akibat teguran Roh Kudus selalu menghadapkan kita kepada Tuhan, tetapi akibat dakwaan Iblis selalu membuat kita tawar hati dan kecewa. Karenanya, semakin Roh Kudus menegur kita, batin kita menjadi semakin perkasa, dan mendorong kita untuk membereskannya di hadapan Tuhan; tetapi dakwaan Iblis malah membuat kita berpikiran pendek. Teguran Roh Kudus menyuruh kita berpikir untuk datang ke hadirat Tuhan, dan bersandar kepada-Nya; tetapi dakwaan Iblis menyuruh kita melakukan introspeksi, dan akhirnya membuat kita frustrasi, putus asa.
Keempat, jika itu adalah teguran Roh Kudus, setelah kita mengaku salah di hadapan Tuhan, kalaupun tidak ada sukacita, setidak-tidaknya pasti ada damai sejahtera. Mungkin adakalanya ada sukacita, mungkin adakalanya tidak ada, tetapi setidak-tidaknya pasti ada damai sejahtera. Namun, dakwaan Iblis sama sekali berbeda. Meskipun Anda sudah mengaku dosa, Anda tidak merasa ada sukacita dan damai sejahtera. Anda seperti orang yang melalui sakit keras, atau seperti habis main sandiwara, yang berlalu begitu saja, tanpa kelanjutan. Teguran Roh Kudus pasti ada kelanjutannya, kalaupun tidak ada sukacita, pasti ada damai sejahtera.
Kelima, teguran Roh Kudus selalu membawa kita memikirkan darah Tuhan; tetapi dakwaan Iblis, sekalipun membuat Anda teringat akan darah, ia juga akan berkata kepada Anda, ”Tidak ada gunanya, Tuhan mungkin tidak mau mengampuni Anda.” Dengan perkataan lain, teguran Roh Kudus membawa kita bersandar kepada darah Tuhan, sedangkan dakwaan Iblis membuat kita enggan bersandar kepada darah Tuhan. Ketika Anda memiliki perasaan itu, Anda boleh lihat apakah Anda teringat akan darah Tuhan atau semakin menjauhi darah Tuhan, dan Anda dapat mengetahui apakah itu teguran Roh Kudus atau dakwaan Iblis.
Keenam, setelah teguran Roh Kudus berlalu, Allah menguatkan Anda agar Anda berlari lebih cepat, lebih bergairah maju ke depan, dan tidak percaya kepada diri sendiri, melainkan semakin percaya kepada-Nya. Tetapi, dakwaan Iblis membuat hati nurani Anda lemah, tidak dapat berdiri di hadapan Allah, dan bukan hanya tidak percaya kepada diri sendiri, bahkan tidak begitu percaya kepada Tuhan. Kalau teguran Roh Kudus membuat kita lebih bersandar kepada Tuhan; tidak demikian dengan dakwaan Iblis, ia membuat kita tidak percaya kepada diri sendiri, juga tidak percaya kepada Tuhan, dan kita ibarat menjadi manusia yang mati rasa.
B. Bagaimana Mengalahkan Dakwaan Iblis?
Wahyu 12:11 menerangkan, ”Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai harus menghadapi maut.” Kata ”dia” dalam ayat ini ditujukan kepada ”Iblis” yang mendakwa kaum saleh. Bagaimanakah cara kita mengalahkannya?
Pertama, oleh darah Anak Domba. Jika kita nahas, melakukan dosa, pada satu pihak kita harus mengaku dosa di hadapan Allah, pada pihak lainnya kita harus berkata kepada Iblis, ”Kau tak usah mendakwa aku! Hari ini aku adalah manusia yang datang ke hadapan Allah bersandarkan darah Tuhan!” Jika kita ingin mengalahkan dakwaan Iblis, kita harus memperlihatkan kepadanya bahwa kita telah beroleh pengampunan melalui darah Anak Domba. Semua dosa kita, baik yang besar maupun yang kecil telah beroleh pengampunan melalui darah Anak Domba. Ini adalah firman Allah, ”Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa” (1 Yoh. 1:7).
Kita harus mengenal bahwa darah Anak Domba adalah dasar kita untuk menerima pengampunan di hadapan Allah, juga adalah dasar kita untuk beroleh perkenan Allah. Karena itu, janganlah kita bersikeras selalu menganggap diri sendiri baik, pula janganlah sehari suntuk selalu menganggap diri sendiri buruk. Seperti halnya kesombongan adalah kebodohan, demikian juga selalu memandang diri sendiri merupakan kebodohan. Orang yang menyangka diri sendiri baik, sama bodohnya dengan orang yang tidak tampak kuasa penyelamatan Tuhan atas dirinya. Orang yang percaya pada kekuatannya sendiri itulah kebodohan, orang yang tidak percaya pada kekuatan Tuhan itu pun suatu kebodohan. Kita wajib menyadari bahwa darah Anak Domba telah memenuhi semua tuntutan Allah, juga telah mengalahkan semua dakwaan Iblis.
Kedua, oleh perkataan kesaksian mereka sendiri. Perkataan kesaksian di sini berarti memaklumkan fakta rohani dan kemenangan Tuhan. Kita harus berkata kepada Iblis, ”Kau tak usah datang mengganggu aku! Dosaku telah mendapat pengampunan oleh darah Tuhan!” Kita mengumumkan dengan iman bahwa Yesus adalah Tuhan, dan dengan iman mengumumkan kemenangan Kristus. Kita wajib mengeluarkan suara kita untuk mengucapkan kesaksian-kesaksian ini kepada Iblis. Bukan saja percaya dalam hati, tetapi juga memaklumkannya kepada Iblis. Inilah yang dimaksud perkataan kesaksian.
Ketiga, tidak mengasihi nyawa walau sampai ke dalam maut. Frase ”oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian” merupakan dua syarat untuk mengalahkan dakwaan Iblis, dan frase ”tidak mengasihi nyawa walau sampai ke dalam maut” adalah sikap kita. Kita wajib mengambil sikap: Tidak peduli bagaimanapun Iblis bekerja, dan sekalipun ia ingin mencelakakan kita sampai ke dalam maut, kita tetap bersandar kepada darah Anak Domba, dan tetap mengumumkan kemenangan Tuhan kepadanya. Bila kita selalu bersikap demikian, niscayalah dakwaan Iblis akan punah; Iblis tidak berdaya mengalahkan kita, sebaliknya kita pasti mengalahkannya!
Adakalanya dakwaan Iblis yang diterima oleh seorang saudara atau saudari sangat banyak sehingga ia tidak dapat membedakan dengan jelas mana dakwaan Iblis, dan mana teguran Roh Kudus. Dalam keadaan demikian, untuk sementara waktu ia harus menghentikan pengakuan dosanya, sebab Tuhan tidak menghendaki kita bertindak sembrono. Ia boleh berdoa demikian di hadapan Tuhan, ”Tuhan, aku mengakui dosaku, ampunilah aku. Tetapi aku terdakwa oleh Iblis, tutupilah segala dosaku. Selanjutnya, di bawah darah-Mu, baik itu dosa maupun bukan dosa, semuanya tidak kuhiraukan lagi!” Dalam situasi demikian untuk sejangka waktu kita harus bersikap ”masa bodoh”, barulah kita dapat membedakan dakwaan Iblis dari teguran Roh Kudus.
C. Bagaimana Membantu Orang yang Didakwa Iblis
Jangan sekali-kali menambahkan keresahan hati nurani saudara saudari yang didakwa oleh Iblis. Pertama-tama, kita harus membantu mereka melakukan apa yang sesuai dengan kemampuan mereka. Jika tidak, setiap perbuatan yang di luar kemampuan mereka malah akan membuat mereka mudah terdakwa. Karena itu, kita harus terlebih dulu mengetahui apakah kemampuan mereka sudah cukup untuk berjalan di hadapan Allah, kemudian baru kita boleh memberikan sesuatu yang agak kuat guna membantu mereka maju selangkah ke depan.
Kedua, bila kita tampak Roh Kudus bekerja, kita boleh meningkatkan sedikit tuntutan kita. Karena ada Roh Tuhan, Roh kebangkitan yang telah bekerja, firman Tuhan dapat mempertinggi manusia. Kalau Roh Tuhan tidak bekerja, sedangkan tuntutan kita terhadapnya sangat tinggi, akibatnya bukan hanya tidak dapat membantu mereka maju, sebaliknya Iblis akan beroleh kesempatan untuk mendakwa mereka lagi.
Janganlah kita dengan sembarangan menunjukkan kegagalan orang. Misalnya, ada seorang saudara mengalami suatu kegagalan, tetapi ia masih dapat berdoa, membaca Alkitab, dan menghadiri sidang. Asalkan di dalam batin Anda berkeyakinan untuk membantunya, Anda dapat membawanya mengatasi kegagalannya. Jika Anda tidak yakin dan tidak mampu mengangkatnya, lalu Anda hanya menunjukkan kegagalannya saja, itu malah akan membuatnya tidak dapat berdoa, membaca Alkitab, dan bahkan bersidang pun tidak dapat lagi. Sumbu yang pudar nyalanya harus dikobarkan, jangan dipadamkan, dan buluh yang patah terkulai harus ditopang, jangan dipatahkan. Sebab itu, janganlah kita memakai diri kita sebagai standar untuk membuat hati nurani orang lain tertekan, melainkan kita wajib belajar tidak melakukan sesuatu yang dapat merusak hati nurani orang.
Kita harus memberitahukan orang yang didakwa Iblis perkataan dalam Ibrani 10:22, ”. . . oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat . . .” Karena itu, hati nurani kita tidak seharusnya merasa berdosa lagi. Hati nurani yang bebas dari perasaan berdosa merupakan prinsip kehidupan orang Kristen. Bila hati nurani orang Kristen tertekan oleh perasaan berdosa, ia akan menjadi lemah dalam masalah rohani. Tujuan Iblis justru ingin membuat kita tak berdaya mempertahankan prinsip kehidupan yang demikian. Sebab itu, kita wajib bersandar pada darah untuk mempertahankan prinsip ini. Jika Iblis semakin membuat Anda merasa berdosa, Anda harus semakin bersandar kepada darah untuk membersihkan semua dosa Anda. Anda dapat mengalahkan dia bukan bersandar pada keperkasaan diri sendiri, melainkan bersandar pada darah. Anda boleh memaklumkan kepada Iblis, ”Iblis, aku mengakui bahwa aku memang berdosa, tetapi aku masih mempunyai penebusan Tuhan! Bukannya aku tidak berutang, tetapi Tuhan telah melunasi semua utangku!” Kita bukan melawan dakwaan Iblis dengan tanpa berutang, melainkan dengan melunasi utang.
4. Di dalam Keadaan Lingkungan
Keadaan lingkungan kita adalah pengaturan Allah. Tetapi, boleh jadi ada banyak keadaan lingkungan yang walaupun diizinkan oleh Allah, namun yang bekerja secara langsung dan aktif adalah Iblis. Seperti halnya dengan pengalaman Ayub: ternaknya dirampas, rumahnya rubuh, anak-anaknya tertindih hingga mati, dan seterusnya. Semua keadaan lingkungannya itu, walaupun atas seizin Allah, tetapi pelakunya yang langsung adalah Iblis. Demikian pula kejatuhan Petrus, meskipun separuhnya disebabkan oleh dirinya sendiri, tetapi separuh lainnya disebabkan serangan Iblis dalam keadaan lingkungannya. Tuhan berkata, ”Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum” (Luk. 22:31). Jadi, kejatuhan Petrus juga merupakan perkara yang dilakukan Iblis secara aktif, hanya saja hal itu juga diizinkan oleh Tuhan.
Duri yang menusuk Paulus pun jelas adalah pekerjaan Iblis. Ia berkata, ”Maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menghantam aku” (2 Kor. 12:7). Ini juga pekerjaan Iblis, Iblis menyerang anak-anak Allah dalam keadaan lingkungan.
Contoh yang lebih gamblang lagi terdapat dalam Matius 8. Waktu itu Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menyeberangi danau. Tuhan tahu di seberang sana ada setan ganas yang harus diusir. Setelah Tuhan berada di perahu bersama murid-murid, angin ribut mendadak datang menyerang hingga perahu itu nyaris tergulung ombak. Saat itu Tuhan sedang tidur. Murid-murid datang membangunkan-Nya sambil berteriak, ”Tuhan tolonglah, kita binasa!” Di antara murid-murid itu, ada beberapa yang pernah menjadi nelayan kawakan dan sangat berpengalaman dalam berlayar, tetapi mereka merasa bahwa angin dan ombak kali ini tidak lazim. Tuhan lalu menegur mereka karena kekurang-percayaan mereka. Kemudian, Ia menghardik angin dan danau itu. Angin dan danau sebenarnya tidak berpribadi, tetapi Tuhan menghardik angin dan danau itu karena di balik angin dan danau itu ada Iblis; Iblislah yang membangkitkan angin dan ombak. Pendek kata, Iblis tidak saja menyerang tubuh kita, hati nurani kita, dan pikiran kita, ia pun menyerang kita dalam keadaan lingkungan kita.
Bagaimanakah kita menghadapi serangan-serangan Iblis dalam keadaan lingkungan kita? Pertama, tunduklah kepada Allah. Surat Yakobus 4 dan 1 Petrus 5 menerangkan kepada kita bahwa jika kita ingin melawan Iblis, kita harus tunduk kepada Allah. Ketika Iblis menyerang kita dalam keadaan lingkungan kita, sikap kita yang pertama ialah tunduk kepada Allah. Jika Anda tidak tunduk kepada Allah, tidak mungkin Anda dapat melawan Iblis. Kalau Anda tidak tunduk kepada Allah tetapi ingin melawan Iblis, dalam hati nurani Anda akan segera timbul penyakit. Karenanya, sikap kita yang pertama ialah tunduk kepada Allah.
Kedua, lawanlah Iblis. Bila anak-anak Allah dalam keadaan lingkungannya menjumpai perkara-perkara yang tak beralasan atau tanpa penyebab, dan jika jelas dalam batin Anda bahwa perkara itu berasal dari serangan Iblis, Anda harus melawannya. Bila Anda melawan, perkara itu akan segera berlalu. Pada satu pihak, Anda harus tunduk kepada Allah, pada pihak lainnya, Anda harus melawan pekerjaan Iblis dalam keadaan lingkungan Anda. Justru karena Anda tunduk dan sikap Anda di hadapan Allah sudah beres, Allah akan memperlihatkan kepada Anda bahwa yang menghendaki Anda demikian adalah Iblis, bukan Allah; dan akhirnya Anda dapat membedakan mana pengaturan Allah, mana serangan Iblis. Kalau Anda sudah jelas hal ini dan melawannya, masalahnya segera berlalu.
Ketiga, harus menolak ”rasa takut”. Ketika Iblis bekerja di atas diri anak-anak Allah, ia selalu mencari kesempatan dulu. Tanpa kesempatan, tidak mungkin ia melakukan pekerjaannya. Sebab itu, godaannya yang pertama ialah berusaha menemukan kesempatan; kemudian dari kesempatan itulah ia menyerang kita. Sebab itu, kemenangan kita adalah kita tidak memberinya kesempatan. Lalu, rasa takut adalah satu kesempatan yang terbesar bagi Iblis. Iblis selalu menyuruh kita merasa takut terlebih dulu sebelum ia menyuruh kita menjumpai suatu peristiwa. Seorang saudari yang berpengalaman pernah berkata, ”Semua perasaan takut adalah kartu nama Iblis.” Bila Anda menerima rasa takut itu, Iblis akan segera masuk; tapi bila Anda menolak rasa takut itu, Iblis tidak dapat masuk.
Semua pikiran atau perasaan takut adalah cobaan Iblis. Jika Anda menerima ketakutan itu, Anda akan menerima kejadian itu. Ayub pernah berkata, ”Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku” (Ayb. 3:25). Ini menyatakan bahwa semua kejadian yang menimpa Ayub adalah yang pernah ia takutkan sebelumnya. Serangan-serangan Iblis dalam keadaan sekitar Anda kebanyakan berasal dari ketakutan Anda. Jika Anda melawan ketakutan itu, kejadian-kejadian itu tidak akan terjadi; tetapi jika Anda menerima ketakutan itu, berarti Anda membiarkan Iblis mendapat kesempatan untuk berbuat demikian.
Sebab itu, jika anak-anak Allah ingin melawan pekerjaan Iblis, yang pertama ialah harus melawan segala ketakutan. Kalau Iblis memberikan sebuah angan-angan kepada Anda sehingga Anda takut akan kejadian tersebut, jangan sekali-kali menerima angan-angan tersebut. Anda harus berkata, ”Tidak, aku sama sekali tidak sudi menerima kejadian atau peristiwa yang bukan Tuhan kehendaki!” Bila seseorang terlepas dari ketakutan, ia akan terlepas pula dari lingkungan Iblis; dan bila seseorang menolak ketakutan yang berasal dari Iblis, berarti ia menolak pekerjaan Iblis dalam lingkungannya. Itulah makna perkataan Paulus dalam Efesus 4:27, ”Janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”
Mengapa kita bisa tidak merasa takut? Sebab yang diam di dalam kita lebih besar daripada yang di dunia (1 Yoh. 4:4). Jika kita merasa takut, itu adalah kebodohan kita.
II. MELAWAN IBLIS DENGAN IMAN
Satu Petrus 5:8-9a mengatakan, ”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh.” Dengan jelas firman Allah memperlihatkan kepada kita bahwa cara untuk melawan Iblis adalah dengan iman. Tanpa iman, kita tidak dapat melawannya. Jika demikian, apakah sebenarnya yang harus kita percayai, dan bagaimanakah kita melawannya dengan iman? Baiklah kita membaca bagaimana firman Allah tentang ini.
1. Percaya bahwa Tuhan Menyatakan Diri-Nya
Adalah untuk Membinasakan Perbuatan-perbuatan Iblis
Pertama, kita harus percaya bahwa Tuhan menyatakan diri-Nya adalah untuk membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis (1 Yoh. 3:8). Anak Allah sudah datang ke dunia ini, dan Dia telah menyatakan diri-Nya. Selama Dia berada di bumi, tiap kali Ia menjumpai perbuatan Iblis, pasti Ia membinasakannya. Perbuatan atau pekerjaan Iblis sering tidak dilakukan dengan terang-terangan, tetapi dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, Tuhan Yesus tidak pernah tidak menghardiknya. Ketika Tuhan menegur perkataan Petrus (Mat. 16:22-23), menghardik penyakit demam ibu mertua Petrus, dan menghardik angin ribut, jelas yang dihardik-Nya adalah Iblis. Walaupun Iblis dapat bersembunyi di belakang perkara-perkara alamiah, tetapi Tuhan Yesus selalu berhasil mengusirnya. Di mana Ia berada, di situ ada kebebasan dari kuasa Iblis. Tuhan berkata, ”Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat. 12:28). Dengan perkataan lain, di mana Tuhan berada, di situlah Iblis terenyah, dan di situlah Kerajaan Allah datang. Di mana ada Tuhan Yesus, di situ Iblis tidak dapat hadir. Itulah sebabnya dikatakan bahwa penyataan diri Tuhan adalah untuk membinasakan perbuatan Iblis.
Kita pun harus percaya satu perkara lagi, yakni tatkala Tuhan menyatakan diri-Nya di bumi, tidak saja Ia membinasakan perbuatan Iblis, Ia pun mengaruniakan kuasa kepada murid-murid-Nya, agar mereka juga dapat mengusir setan demi nama-Nya. Tuhan berkata, ”Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh . . .” (Luk. 10:19). Setelah Tuhan naik ke surga, Ia mengaruniakan nama-Nya kepada gereja, sehingga gereja-Nya dapat melanjutkan pekerjaan-Nya di bumi ini. Tuhan mengusir setan di bumi dengan kuasa, Dia pun menyerahkan kuasa itu kepada gereja-Nya.
Kita harus membedakan apa yang dimiliki Iblis dan apa yang kita miliki. Apakah yang dimiliki Iblis? Kekuatan. Apakah yang kita miliki? Kekuasaan. Yang dimiliki Iblis adalah kekuatan, sedangkan yang Tuhan karuniakan kepada kita adalah kekuasaan, yang dapat mengalahkan segala kekuatan Iblis. Kekuatan selamanya tidak mungkin mengungguli kekuasaan. Allah menyerahkan kekuasaan kepada kita, karena itu, Iblis pasti kalah dari kita.
Kita boleh menerangkan fakta kemenangan kekuasaan atas kekuatan ini dengan perumpamaan. Misalkan di persimpangan jalan terpasang lampu lalu lintas. Bila lampu merah menyala, semua kendaraan harus berhenti, siapa pun tidak boleh menerobos melewatinya. Ditinjau dari segi kekuatan, memang kekuatan manusia dan kendaraan jauh lebih besar daripada lampu lalu lintas itu; tetapi ditinjau dari segi kekuasaan, manusia pemakai jalan dan kendaraan tidak berani menerobos melewati lampu tersebut. Ini berarti kekuatan harus tunduk kepada kekuasaan, dan kekuasaan menaklukkan kekuatan.
Kekuasaan menaklukkan kekuatan adalah pengaturan dasar yang Allah tetapkan dalam alam semesta. Tidak peduli bagaimana hebatnya kekuatan Iblis, Tuhan telah menyerahkan nama-Nya kepada gereja, dan nama mewakili kekuasaan. Karena itu, gereja mampu mengusir setan demi nama Tuhan. Kita dapat memakai nama Tuhan untuk menanggulangi kekuatan Iblis. Syukur kepada Allah, tidak peduli berapa besarnya kekuatan Iblis, nama Tuhan sangat jauh lebih besar daripada kekuatannya, dan kekuasaan yang diwakili oleh nama Tuhan mampu mengalahkan segala kekuatan Iblis.
Tatkala murid-murid pergi, mereka pergi demi nama Tuhan, dan ketika mereka kembali, mereka dengan sangat heran berkata kepada Tuhan, ”Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Ini dikarenakan nama Tuhan adalah kekuasaan atau wewenang. Tuhan memberikan nama-Nya kepada kita itu sama dengan Tuhan memberikan wewenang-Nya kepada kita. Tuhan berkata, ”Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk. 10:19). Sebab itu, siapa saja yang ingin tahu bagaimana caranya melawan Iblis, ia harus belajar mengenal perbedaan antara wewenang Tuhan dengan kekuatan Iblis. Tidak peduli berapa besarnya kekuatan Iblis, wewenang Tuhan mampu mengalahkannya. Kita harus percaya bahwa Allah telah memberikan wewenang ini kepada gereja, dan gereja dapat mengusir setan dan melawan Iblis demi nama Tuhan Yesus.
2. Percaya bahwa Kematian Tuhan Telah Memusnahkan Iblis
Kedua, kita harus percaya bahwa Tuhan telah memusnahkan Iblis, si penguasa maut itu melalui kematian-Nya (Ibr. 2:14). Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya untuk membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis, dan kematian-Nya telah memusnahkan Iblis itu sendiri.
Kematian Tuhan Yesus merupakan kekalahan Iblis yang terbesar, sebab kematian Tuhan Yesus tidak saja merupakan penghukuman, bahkan penyelamatan. Allah sejak dini sudah mengatakan masalah kematian — ”Sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2:17). Kematian sesungguhnya adalah penghukuman. Iblis sangat gembira mendengar perkataan ini. Karena ”pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”, lalu ia berusaha sekuat tenaga untuk menggoda manusia memakan buah itu agar maut menimpa diri manusia, dan agar ia beroleh kemenangan. Tetapi, kematian Tuhan merupakan penyelamatan yang terbesar. Jika firman Allah mengatakan, ”Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”, maka kematian ini sungguh merupakan suatu penghukuman. Namun, Tuhan memiliki satu kematian yang lain, yakni kematian yang dapat menggenapkan penyelamatan. Kematian bisa menghukum manusia karena berbuat dosa, kematian pun bisa menyelamatkan manusia dari dosa. Iblis mengira kematian hanya dapat menghukum orang yang berdosa, karena itu ia mempergunakan kematian, dan ingin berkuasa melalui kematian manusia. Tetapi, Allah justru melalui kematian Tuhan Yesus menyelamatkan manusia dari dosa. Hal ini sungguh merupakan titik yang terdalam dari Injil.
Kematian Tuhan di atas salib tidak hanya menanggung dosa kita, bahkan melibatkan segenap ciptaan lama; manusia lama kita pun telah disalibkan bersama-Nya. Walaupun Iblis dapat berkuasa melalui kematian, tetapi semakin ia berkuasa melalui kematian, ia menjadi semakin celaka, sebab kuasanya hanya dapat menjangkau sampai kematian manusia. Setelah kita mati, dosa tidak berdaya memagut kita lagi, Iblis pun tidak mungkin berkuasa lagi atas diri kita.
”Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Perkataan Allah ini bertujuan agar manusia tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Tetapi manusia telah memakannya dan telah berbuat dosa, kalau begitu bagaimanakah seharusnya? Sudah tentu, upah dosa ialah maut, hal ini tidak dapat diubah. Tetapi di dalam kematian ada penyelamatan, yaitu ketika Tuhan Yesus mati di atas salib, segenap ciptaan lama dan manusia lama telah tercakup di dalamnya sehingga semua kuasa Iblis hanya bisa mencapai kematian saja. Itulah sebabnya, Alkitab mengatakan, ”... oleh kematian-Nya, Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.”
Puji syukur kepada Tuhan, kita semua adalah manusia yang telah mati. Bila Iblis datang menyerang Anda, Anda boleh menangkisnya dengan berkata, ”Aku telah mati!” Kalau kita telah mati, ia tidak berkuasa mengatur kita lagi, sebab kekuasaannya hanya sampai pada kematian.
Mati bersama Tuhan adalah satu fakta yang telah genap dan yang dikerjakan oleh Allah. Alkitab tidak mengatakan bahwa kematian kita bersama Tuhan adalah perkara yang akan datang, atau suatu pengalaman yang boleh kita harapkan kelak. Alkitab tidak mengatakan bahwa kita wajib menuntut kematian bersama itu, tetapi menampakkan bahwa kita telah mati. Jika kita masih harus menuntut kematian bersama, itu berarti kita masih belum mati bersama. Tetapi, kematian bersama itu adalah karunia Allah, seperti halnya dengan kematian penggantian Tuhan. Kalau seseorang menuntut kematian bersama, berarti ia berdiri di atas posisi daging; dan bila ia berdiri di atas posisi daging, niscayalah Iblis akan berkuasa atas dirinya.
Ingatlah, kita harus percaya akan kematian Tuhan Yesus, kita pun harus percaya akan kematian kita sendiri. Sebagaimana kita percaya Tuhan telah mati bagi kita, kita pun percaya bahwa kita telah mati di dalam Dia. Kedua hal ini harus dipercayai, bukan dituntut atau dikejar. Bila Anda mengejarnya, Iblis akan menyerang Anda. Sebab itu, Anda wajib berpegang pada fakta yang telah genap itu sambil mengumumkan, ”Puji syukur kepada Tuhan, aku sudah mati.”
Kita wajib menyadari di hadapan Allah bahwa kematian bersama dengan Kristus adalah satu fakta yang telah genap, dan hal inilah yang membuat Iblis sama sekali tidak berdaya terhadap kita. Iblis hanya mampu menghadapi orang yang belum mati, dan Iblis hanya mampu menangkap orang-orang yang sedang menuju maut, dan yang ingin menempuh jalan maut. Tetapi kita adalah orang-orang yang membelakangi maut. Karena kita telah mati, ia tidak berdaya sedikit pun terhadap kita.
Jadi, untuk melawan Iblis, pada satu pihak kita harus mengenal bahwa penyataan diri Tuhan Yesus adalah penyataan wewenang; pada pihak lainnya, kita harus mengenal bahwa tujuan pekerjaan salib Tuhan Yesus ialah melepaskan semua orang yang berada di bawah kuasa Iblis. Sekarang Iblis sudah tidak mempunyai kuasa di atas diri kita, kita sudah menjadi manusia-manusia yang melampaui dia, dan kita adalah orang-orang yang telah mati. Kematian telah memutuskan jalan Iblis, dan dia telah kehabisan jalan.
3. Percaya bahwa Kebangkitan Tuhan Membuat Iblis Malu
Ketiga, kita wajib percaya bahwa kebangkitan Tuhan membuat Iblis malu, dan membuatnya tak berdaya menyerang kita.
Kolose 2:12 mengatakan, ”Karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga melalui kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” Dalam ayat ini terdapat kematian dan kebangkitan. Selanjutnya, dalam ayat 13 dikatakan bagaimana kita mati dan bangkit. Ayat 14 menerangkan usaha yang dilakukan Tuhan ketika Ia mati. Ayat 15 mengatakan bahwa Tuhan Yesus menawan musuh dan ”menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” Ayat 20 mengatakan, ”Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus . . .” dan dalam pasal 3:1 dikatakan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama Kristus . . .” Dalam ayat-ayat ini, bagian depannya mengatakan kebangkitan, bagian belakangnya juga mengatakan kebangkitan, sedangkan bagian tengahnya adalah memegahkan kemenangan oleh salib. Jadi, kita berdiri di atas posisi kebangkitan dan memegahkan kemenangan oleh salib.
Mengapa demikian? Ini disebabkan kalimat yang dikatakan terdahulu, yaitu Tuhan telah mati, dan kita pun telah mati di dalam-Nya. Iblis, penguasa manusia lama kita hanya dapat mengikuti kita sampai di kayu salib. Pada pihak kebangkitan, kita sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Iblis. Sebagaimana Iblis tidak berkuasa sedikit pun atas diri Tuhan Yesus ketika Ia berada di bumi (Yoh. 14:30), begitu pula hari ini, dalam kebangkitan Iblis sama sekali tidak berkuasa. Karena Iblis dalam hayat baru sama sekali tidak berkedudukan dan tidak berkekuasaan, ia mustahil menyerang hayat baru kita.
Ketika Tuhan Yesus terpaku di atas salib, seolah-olah berlaksa-laksa setan mengitari salib-Nya, mengira Anak Allah telah berhasil mereka matikan, dan itu adalah kemenangan mereka yang terbesar. Tetapi tidak disangka, setelah Tuhan Yesus mati Ia lalu keluar lagi dari dalam maut, Ia telah mengalahkan kuasa maut! Di sinilah fakta yang mulia terjadi, Tuhan Yesus telah keluar dari dalam maut! Sebab itu, kita dapat berkata dengan penuh keyakinan dan penuh bukti bahwa hayat Allah mampu mengenyahkan maut!
Apakah hayat kebangkitan itu? Hayat kebangkitan adalah hayat yang tidak terjamah oleh maut, yang melampaui maut, yang melampaui alam lingkungan maut, yang dapat keluar dari maut, yang tidak dapat ditawan oleh maut. Kekuatan Iblis hanya dapat mencapai maut. Tuhan Yesus dengan kebangkitan-Nya membuktikan betapa besar kekuatan hayat-Nya, kekuatan-Nya telah mengalahkan Iblis. Karena itu, dalam Alkitab khusus disebut ”kuasa kebangkitan” (Flp. 3:10). Begitu kuasa kebangkitan ini ternyata di dalam batin kita, niscayalah semua yang berasal dari Iblis akan rontok berguguran.
Hayat kita adalah hayat kebangkitan yang tidak bersangkut paut dengan Iblis, maka kita sanggup melawan Iblis. Hayat kita adalah hayat yang berasal dari Allah, yaitu hayat yang keluar dari maut. Kekuatan Iblis hanya bisa mencapai batas maut, ia hanya berdaya menggarap kita sampai kita mati, namun hayat kita adalah hayat yang dapat keluar dari maut. Kita memiliki satu hayat yang mutlak tidak terjamah oleh Iblis. Kita berdiri di atas posisi kebangkitan, dan kita menoleh ke belakang sambil bermegah atas kemenangan oleh salib. Yang dikatakan oleh Kolose 2 adalah bermegah atas kemenangan dalam kebangkitan. Kolose 2 membicarakan kebangkitan, bukan kematian. Kita bukan bermegah atas kemenangan oleh kebangkitan dalam kematian, melainkan bermegah atas kemenangan oleh kematian dalam kebangkitan.
Sebab itu, ketika anak-anak Allah melawan Iblis, mereka harus dengan iman yang teguh mengumumkan, ”Syukur kepada Allah, aku telah bangkit! Iblis, apa lagi yang dapat kaulakukan? Engkau hanya dapat berbuat sampai pada batas kematian. Tetapi hayat yang kumiliki hari ini tidak bersangkut paut denganmu! Hayat ini telah kaucoba sendiri, apakah yang dapat kaulakukan terhadapnya? Engkau tidak berdaya! Hayat ini sudah melampaui engkau! Iblis, Enyahlah dari sini!”
Untuk menanggulangi Iblis, kita tidak dapat berdiri di atas posisi pengharapan, kita hanya dapat berdiri di atas posisi kebangkitan, yaitu di atas posisi Tuhan, inilah prinsip yang utama. Kolose 2 mengatakan bahwa kita harus percaya kepada ”kerja (fungsi) kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati”.
Kita harus mengetahui bahwa posisi yang harus kita pegang di hadapan Iblis dan posisi kita di hadapan Allah adalah persis sama. Alkitab menerangkan kepada kita bahwa kita harus mengenakan jubah kebenaran, barulah kita layak datang ke hadirat Allah (Yes. 61:10; Za. 3:4-5). Jubah kebenaran kita tidak lain adalah Kristus. Jadi, kita harus mengenakan Kristus, baru kita layak datang ke hadirat Allah. Demikian pula, kita pun harus mengenakan Kristus di hadapan Iblis. Dengan mengenakan Kristus, Allah tidak akan dapat menemukan dosa-dosa kita di dalam Kristus. Demikian pula, Iblis pun tidak berdaya menemukan dosa-dosa kita di dalam Kristus. Asalkan kita berdiri di atas posisi ini, niscaya Iblis tidak akan berdaya menyerang kita. Kita di hadapan Allah adalah mutlak sempurna, demikian pula di hadapan Iblis. Inilah suatu fakta yang mulia!
Karena itu, janganlah takut kepada Iblis. Jika kita takut kepada Iblis, ia akan mengejek kita, ”Oh, ternyata di dunia ada orang yang demikian bodohnya. Orang-orang ini benar-benar bodoh sekali!” Ketahuilah, setiap orang yang takut kepada Iblis adalah orang bodoh, ia melupakan posisinya di dalam Kristus. Tidak ada alasan bagi kita untuk takut kepada Iblis, sebab kita telah mengungguli kekuatannya. Kita dapat berdiri tegap di hadapannya dan berkata kepadanya, ”Iblis, kau tak berdaya menjamah aku! Tak peduli berapa banyaknya akalmu, dan tak peduli berapa besarnya kekuatanmu, kau selamanya tertinggal selangkah!” Pada hari Tuhan dibangkitkan, Ia telah menawan musuh dan telah memalukannya dengan terang-terangan. Hari ini kita berdiri di atas posisi kebangkitan sambil bermegah atas kemenangan oleh salib.
4. Percaya bahwa Kenaikan Tuhan Jauh Melampaui Kekuatan Iblis
Keempat, kita wajib percaya bahwa kenaikan Tuhan jauh melampaui kekuatan Iblis; hal ini tercantum dalam Efesus 1:20-22, ”. . . dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala . . . bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat (gereja) sebagai Kepala dari segala yang ada.” Ini berarti Tuhan Yesus telah duduk di surga, jauh melampaui segala kekuatan Iblis.
Efesus 2:6 mengatakan, ”Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga.” Inilah posisi atau kedudukan kita sebagai orang Kristen. Tuhan Yesus telah bangkit, duduk di surga dan jauh melampaui segala kekuatan Iblis! Kita pun telah bangkit bersama dengan Dia, duduk bersama-Nya di surga, dan kita juga bersama dengan-Nya jauh melampaui segala kekuatan Iblis.
Efesus 6:11-13 mengatakan, ”Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis . . . supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan (menggenapkan) segala sesuatu.” Pasal 2 memperlihatkan bahwa kita duduk bersama Tuhan di surga, sedangkan pasal 6 mengatakan bahwa kita harus tetap berdiri. Pasal 2 mengatakan, kita duduk; pasal 6 mengatakan, kita harus berdiri.
Apakah artinya duduk? Duduk berarti beristirahat, duduk berarti Tuhan telah menang, dan kita boleh menikmati perhentian di atas kemenangan Tuhan; ini berarti kita bersandar pada kemenangan Tuhan.
Apakah artinya berdiri? Berdiri berarti peperangan rohani ini bukan suatu penyerangan, melainkan suatu perlawanan. Melawan berarti bertahan secara defensif, bukan menyerang secara ofensif. Tuhan telah menang sepenuhnya, maka kita tidak perlu menyerang lagi. Kemenangan salib itu telah sempurna, sehingga kita tidak perlu melakukan penyerangan lagi.
Jadi, di sini kita tampak dua macam sikap: duduk dan berdiri. Duduk berarti kemenangan dengan bersandar pada Tuhan dan berdiri berarti melawan Iblis, yakni tidak membiarkan Iblis merebut kemenangan kita.
Jadi, peperangan orang Kristen adalah untuk menghindari kegagalan, bukan untuk merebut kemenangan. Kita telah menang, maka kita berperang dari posisi kemenangan demi memelihara kemenangan yang telah kita raih; bukan berperang untuk memperoleh kemenangan. Peperangan kita bertitik tolak dari kemenangan dan kemenangan itu telah berada di tangan kita. Jadi, peperangan yang tercantum dalam Surat Efesus adalah peperangan para pemenang, bukan ingin menjadi pemenang melalui berperang. Hal ini perlu kita bedakan.
Bagaimana Iblis menggoda Anda? Iblis justru menyuruh Anda melupakan kedudukan dan kemenangan Anda, atau membuat Anda tidak tampak kemenangan yang telah Anda miliki. Bila Anda menerima godaan yang demikian, Anda akan semakin merasa bahwa kemenangan itu masih jauh dari Anda, dan Anda akan semakin tidak dapat menjamah kemenangan itu. Kita wajib ingat bahwa kemenangan Tuhan Yesus telah sempurna sedemikian rupa sehingga mencakup seluruh hidup Anda. Asalkan Anda percaya saja, Anda pasti menang. Iblis telah kalah, dan kita di dalam Kristus telah menang. Iblis mencoba mencuri kemenangan kita, yakni kemenangan yang telah kita peroleh itu. Segala usaha Iblis tidak lain adalah menggoda kita dengan cara ”mencuri”, yaitu mencobai kita apakah kita beriman atau tidak. Jika kita tidak menyadari kemenangan yang telah kita peroleh, kita akan dikalahkan; tetapi jika kita sadar bahwa kita sudah menang, Iblis tidak akan berdaya melakukan apa-apa.
Jadi, kita dapat menanggulangi pekerjaan Iblis dan melawannya melalui karya Tuhan Yesus, yakni melalui penyataan diri-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya. Hari ini kita berdiri di atas seluruh karya yang telah digenapkan oleh Tuhan. Sebab itu, jika Iblis datang hendak menyerang Anda, jangan sekali-kali Anda menaruh pikiran ingin meraih kemenangan. Asalkan Anda memiliki sedikit saja perasaan ”aku ingin menang”, Anda sudah terkalahkan, sebab kedudukan itu keliru. Antara orang yang berkeinginan meraih kemenangan dengan orang yang telah mengetahui dirinya telah menang dan kemudian melawan musuh, terdapat perbedaan yang sangat besar. Makna melawan Iblis ialah melawan dengan bersandar pada kemenangan Tuhan.
Untuk ini, kita benar-benar memerlukan wahyu Tuhan. Kita harus memiliki visi penyataan diri Tuhan, kematian Tuhan, kebangkitan Tuhan, dan kenaikan Tuhan. Semuanya ini harus kita ketahui.
Sebagai orang Kristen, kita harus belajar melawan Iblis. Tak peduli dalam kondisi dan situasi bagaimanapun, kita harus selalu berkata kepada Iblis, ”Enyahlah engkau!”
Semoga Allah mengaruniai kita, agar kita semua memiliki iman yang demikian, percaya keempat perkara yang telah Tuhan genapkan bagi kita, dan melawan Iblis dengan iman yang teguh. Jangan biarkan Iblis bekerja di atas diri kita.