MASALAH PENUDUNGAN KEPALA
“Aku memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu. Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah. Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Lagi pula, laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa (taat kepada wewenang) di kepalanya oleh karena para malaikat. Sekalipun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah tanpa menudungi kepalanya? Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung. Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian.”
1 Korintus 11:2-16
Sekarang kita akan membahas satu masalah yang sangat penting, yaitu penudungan kepala.
Ayat-ayat Alkitab di atas tidak membicarakan masalah saudara, tidak pula membicarakan masalah saudari. Ayat-ayat di atas membicarakan masalah laki-laki dan perempuan. Sebab yang dibicarakan di sini bukan kedudukan di dalam Kristus, melainkan susunan atau pengaturan Allah dalam penciptaan.
Yang dikatakan di sini bukan “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30), melainkan “Allah adalah Kepala Kristus”. Di sini bukan masalah Bapa dan Anak, tetapi Allah dan Kristus, yaitu masalah Allah dan Sang Terurap-Nya. Bukan hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putra dalam ketritunggalan ke-Allahan, melainkan hubungan Allah dengan Kristus yang diutus dan diurapi Allah. Masalah penudungan kepala merupakan masalah Allah dengan Sang Terurap-Nya.
Masalah penudungan kepala bukan pula masalah Kristus dengan gereja. Bukan karena Kristus Kepala gereja, dan gereja Tubuh Kristus, maka perlu melakukan penudungan kepala. Ingatlah, sama sekali bukan masalah ini! Di sini Kristus adalah Kepala setiap orang; di antara sekian banyak manusia, Kristus adalah Kepala. Walau manusia begitu banyak, tetapi Kepalanya ialah Kristus. Kristus menjadi Kepala bukan berarti Dia menjadi Kepala gereja saja, melainkan menjadi Kepala setiap manusia. Itulah sebabnya di sini sama sekali bukan ditujukan kepada hubungan Kristus dengan gereja, melainkan Kristus dengan setiap manusia. Karena itu, dalam hal ini tidak ditujukan kepada hubungan di antara anak-anak Allah, atau hubungan di antara saudara saudari. Laki-laki menjadi kepala perempuan, itulah yang dipermasalahkan di sini! Kita harus menjernihkan masalah pokoknya dulu, barulah kita dapat memahami masalah penudungan kepala ini.
I. DUA SISTEM ALLAH DALAM ALAM SEMESTA
Saya ingin membahas masalah ini dari perspektif yang jauh. Sebab jika tidak, tak mudahlah kita mengerti 1 Korintus 11. Pasal ini hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mengenal Allah dan Alkitab, karena pasal ini sulit sekali dipahami. Di sini pertama-tama kita harus memahami satu perkara, yaitu Allah mempunyai dua sistem dalam alam semesta: pertama, sistem kasih karunia; kedua, sistem administrasi.
A. Sistem Kasih Karunia
Semua yang bertalian dengan gereja, keselamatan, saudara saudari, dan anak-anak Allah, tercakup dalam sistem kasih karunia; demikian juga segala yang berkaitan dengan Roh Kudus dan penebusan. Anda dapat tampak di hadapan Allah seorang perwira beroleh kasih karunia, seorang wanita Fenisia beroleh kasih karunia; Petrus beroleh kasih karunia, Maria beroleh kasih karunia; Lazarus boleh bangkit dari kematian, Marta dan Maria pun boleh melayani Tuhan. Demikianlah hubungan laki-laki dan perempuan dalam sistem kasih karunia.
B. Sistem Administrasi
Dalam Alkitab terdapat satu sistem lagi, yang dapat kita namakan “administrasi” (atau pemerintahan) Allah. Sistem administrasi ini sama sekali berbeda dengan sistem kasih karunia. Sistem administrasi Allah ini bersifat merdeka, sebab di dalam sistem tersebut Allah bertindak menurut kehendak-Nya sendiri.
1. Menciptakan Laki-laki dan Perempuan
Pada waktu Allah menciptakan dunia, Ia menciptakan laki-laki dan perempuan. Ini merupakan perkara administrasi Allah. Laki-laki diciptakan lebih dulu, kemudian baru perempuan; ini adalah administrasi Allah. Allah ingin berbuat demikian, maka Ia berbuat demikian. Ini kehendak Allah yang merdeka. Kemudian Allah menetapkan semua manusia menjadi keturunan perempuan, sampai-sampai Tuhan Yesus pun menjadi keturunan perempuan. Ini pun administrasi Allah. Tidak seorang pun yang diajak berunding oleh Allah dalam hal-hal tersebut.
2. Memberi Makanan kepada Manusia
Di Taman Eden, Allah menyediakan buah-buahan sebagai makanan manusia. Ini juga administrasi Allah. Setelah bencana air bah, Allah baru mengizinkan manusia memakan daging binatang; hal ini juga merupakan administrasi Allah.
3. Mengacaukan Bahasa
Bahasa manusia asalnya hanya satu macam. Tetapi manusia mendirikan menara Babel untuk memegahkan kekuasaan persatuan mereka. Karena itu, Allah mengacaukan bahasa mereka di Babel, agar manusia tidak menggunakan bahasa yang sama. Ini adalah administrasi Allah. Kemudian, setelah tiba hari Pentakosta, Allah menurunkan Roh-Nya, dan menyuruh orang berkatakata dengan bahasa lidah, itu juga sebagai tindakan administrasi Allah.
4. Terpecah Menjadi Berbagai Bangsa
Sampai pada masa menara Babel, umat manusia di bumi terpecah-belah menjadi banyak “bangsa”. Ini juga tindakan administrasi Allah. Setelah itu, dari sekian banyak bangsa, Allah memilih satu bangsa, yaitu bangsa Israel menjadi milik-Nya. Ini adalah kasih karunia. Tetapi adanya perbedaan “bangsa” di antara umat manusia, itulah administrasi Allah.
5. Mulai Ada Negara
Setelah lewat sekian tahun, berdirilah banyak negara. Menurut sejarah dalam Alkitab kita tampak bahwa permulaan negara lebih lambat daripada bangsa. Jadi negara muncul setelah ada bangsa. Setiap negara ada seorang raja yang memerintah dan mengatur. Ini pun merupakan perkara yang diizinkan dan ditetapkan dalam administrasi Allah.
6. Pembentukan Negara Israel
Ketika orang-orang Israel berada dalam zaman para hakim, mereka hanya sebagai satu bangsa, belum menjadi satu negara atau kerajaan. Sampai zaman Samuel, mereka masih sebagai satu bangsa, seperti bangsa-bangsa lainnya, sebab mereka belum memiliki raja yang memerintah mereka. Tetapi pada suatu hari, orang-orang Israel ingin mempunyai raja. Mereka ingin beralih dari kasih karunia Allah ke dalam administrasi Allah. Mereka berkata, “Kami juga ingin memiliki raja seperti bangsa-bangsa lainnya”. Allah memperingatkan mereka, “Jika kalian menginginkan raja, maka kalian kelak akan diperintah oleh raja itu” (1 Sam. 8:9).
7. Saul Menjadi Raja
Setelah itu, Allah memilih Saul menjadi raja mereka. Begitu Saul terpilih, sistem administrasi Allah mulai berlaku atas bani Israel. Ini tidak berarti kasih karunia Allah berakhir atau lenyap, melainkan orang Israel telah menaruh diri mereka ke bawah administrasi. Dan karena itu, orang Israel tidak dapat sembarangan menentang sang terurap mereka, sebab dialah raja mereka. Itulah sebabnya walaupun pada aspek karunia Saul telah meninggalkan Allah, tetapi pada aspek administrasi ia tetap sebagai raja. Di sini kita harus tampak adanya dua jalur yang berbeda, agar kita dapat tampak kedua kondisi dan situasi yang berbeda. Ditinjau dari segi administrasi, Saul tetap sebagai raja. Itulah sebabnya Daud tidak dapat menentang wewenang yang ditetapkan Allah.
II. SISTEM KASIH KARUNIA MENGGENAPKAN SISTEM ADMINISTRASI
Keadaan semacam ini berlangsung terus hingga kedatangan Tuhan Yesus. Di situ Anda tampak kedua aspek dari pekerjaan Allah. Sistem kasih karunia Allah berlangsung terus di bumi ini, demikian pula sistem administrasi Allah. Para imam dan nabi berada di pihak kasih karunia Allah demi memelihara sistem kasih karunia, sedangkan para raja Israel berikut pemimpin-pemimpin bangsa itu berada di pihak administrasi Allah demi mempertahankan sistem administrasi Allah.
Tatkala Tuhan Yesus berada di bumi, pada satu aspek Ia menjadi Juruselamat yang menyelamatkan manusia dari dosa, hal ini merupakan fungsi-Nya dalam sistem kasih karunia; pada aspek lain, Allah menghendaki Tuhan Yesus melalui pekerjaan salib menegakkan wewenang-Nya sendiri, dan mendirikan Kerajaan Surga-Nya, yaitu agar surga berkuasa di atas bumi. Allah selalu memusnahkan kekuasaan Iblis untuk mendatangkan Kerajaan Surga, mendatangkan langit baru dan bumi baru. Pada hari itu, kasih karunia dan administrasi akan tergabung menjadi satu sistem. Artinya, pada saat langit baru dan bumi baru tiba, sistem kasih karunia dan sistem administrasi akan berintegrasi menjadi satu sistem; keduanya akan manunggal pada diri Tuhan Yesus, Tuhan bekerja dalam kedua aspek itu. Pada satu aspek, Ia bekerja dalam sistem kasih karunia, pada aspek lain Ia pun bekerja dalam sistem administrasi.
Administrasi Allah bukan baru dimulai dari penciptaan manusia, melainkan sudah dimulai sejak penciptaan malaikat. Ini tercatat sangat jelas dalam Alkitab. Tatkala Iblis menjadi bintang fajar yang memegang kekuasaan, saat itulah sistem administrasi sudah mulai berlaku. Hingga penciptaan manusia, masalah pernikahan merupakan sesuatu yang ada dalam sistem administrasi Allah. Masalah suami dan istri adalah perkara dalam sistem administrasi, demikian pula pembentukan keluarga, termasuk hubungan antara orang tua dan anak. Struktur utama dari semuanya itu didirikan dalam sistem administrasi Allah.
Sekarang saya ingin menunjukkan kepada saudara saudari bahwa setiap orang yang beroleh kasih karunia dalam zaman ini perlu mempelajari satu pelajaran yang mendasar ini, yakni jangan sekali-kali membiarkan kasih karunia merongrong administrasi Allah. Saya ingin mengulangi kalimat ini dengan serius: Jangan sekali-kali membiarkan kasih karunia pada diri kita merongrong apa yang Allah tetapkan dalam administrasi-Nya. Allah menghendaki manusia menghormati administrasi-Nya, Ia tidak mengizinkan manusia menghapus administrasi-Nya. Jika kita tidak mengenal administrasi Allah, kita akan menjadi manusia yang ilegal di hadapan-Nya; dan kita sama sekali tidak tampak bahwa kecuali gereja masih ada satu kerajaan. Sebab itu, kita harus menyadari sistem administrasi Allah. Sistem kasih karunia bertujuan untuk menggenapkan sistem administrasi. Bukan sistem administrasi menggenapkan sistem kasih karunia, melainkan sebaliknya, sistem kasih karunia menggenapkan sistem administrasi.
Ada satu kekhilafan yang mendasar pada kebanyakan orang, yaitu mengira bahwa mereka dapat mengesampingkan administrasi lewat kasih karunia. Padahal Anda tidak mungkin menggunakan pekerjaan Allah dalam kasih karunia-Nya untuk mengubah administrasi-Nya. Pengampunan yang kita nikmati di hadapan Allah tidak mungkin mengubah pengampunan administrasi Allah. Tak peduli berapa banyak pengampunan yang Anda peroleh dalam kasih karunia-Nya, itu tidak mungkin mengubah pengampunan administrasi-Nya.
Administrasi Allah berdiri sebagai satu prinsip yang lain! Dari awal hingga akhir, Allah ingin menerapkan sistem administrasi-Nya. Kasih karunia selalu berdampingan dengan administrasi. Karena hari ini manusia tidak tunduk di bawah sistem administrasi, bahkan memberontak, maka barulah ada sistem kasih karunia. Sistem kasih karunia mendatangkan keselamatan dan damai sejahtera kepada Anda, sehingga Anda dapat tunduk kepada sistem administrasi Allah. Jadi kasih karunia justru menjadi pelengkap atau pembantu sistem administrasi Allah.
III. WAJIB BELAJAR MENGENAL ADMINISTRASI ALLAH
A. Adam Diusir dari Taman Eden
Kita tentu ingat kisah perbuatan dosa Adam. Setelah Allah membuat Taman Eden, diciptakan-Nya Adam dan Hawa dan disuruh-Nya mereka menjaga taman tersebut. Hal ini berarti Allah menyerahkan seluruh Taman Eden kepada mereka. “Eden” berarti “gembira”. Mereka tinggal dalam taman gembira. Tetapi kemudian mereka berdosa. Setelah mereka berdosa, Allah berjanji kepada mereka bahwa kelak Ia akan mendatangkan seorang penolong yang berasal dari keturunan perempuan. Walaupun mereka menerima satu janji untuk penebusan, tetapi mereka tetap diusir dari Taman Eden. Di sini Anda tampak, pertolongan adalah kasih karunia Tuhan, tetapi hal itu tidak dapat mencegah tindakan administrasi pengusiran-Nya.
Allah tidak saja mengusir Adam dari Taman Eden, bahkan menjaga taman itu dengan kerub, agar mereka berdua tidak dapat kembali ke situ, inilah administrasi Allah. Administrasi Allah itu satu perkara, kasih karunia Allah itu perkara yang lain. Kasih karunia-Nya memberikan janji seorang penolong, sedang administrasi-Nya mengusir manusia dari Taman Eden. Sejak hari itu, manusia tidak dapat memasuki taman Eden lagi, hal ini sangat jelas.
B. Bani Israel Tidak Dapat Masuk Kanaan
Bani Israel telah sampai di Kadesy, tetapi mereka enggan masuk ke tanah Kanaan; akibatnya Allah tidak memperkenankan mereka masuk. Walau mereka kemudian menyesal dan ingin masuk sendiri, tetapi banyak di antara mereka mati terbunuh oleh penduduk Kanaan. Orang-orang Israel meratap dan berseru kepada Allah, tetapi bagaimanapun Allah tidak mengizinkan mereka masuk (Bil. 13-14). Sekali mereka menyatakan tidak mau masuk, akhirnya mereka selamanya tidak dapat masuk. Allah tidak membiarkan manusia berbuat sembarangan terhadap administrasi-Nya. Allah mempunyai administrasi-Nya sendiri.
C. Musa Tidak Dapat Masuk Kanaan
Musa memukul bukit batu dua kali dengan tongkat; ia tidak menghormati kekudusan Tuhan, sehingga ia tidak dapat masuk tanah Kanaan (Bil. 20:7-12). Meskipun Allah membelaskasihaninya, membawanya ke puncak Gunung Pisga untuk memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu, tetapi Musa sendiri tidak dapat masuk bersama umat Allah ke negeri tersebut. Musa dapat bersama Allah memandang negeri Kanaan dari puncak Gunung Pisga, tetapi ia tidak dapat memasukinya (Ul. 34). Memandang batas tanah Kanaan dari puncak Pisga itulah kasih karunia, tetapi tidak dapat memasuki tanah Kanaan itulah administrasi Allah.
D. Pedang Tidak Terhalau dari Keluarga Daud
Setelah Daud berdosa, Allah merahmatinya dan mengampuni dosanya, bahkan memberkatinya, yaitu ia dapat bersekutu secara khusus dengan Allah. Namun pedang selamanya tidak terhalau dari keluarganya (2 Sam. 12:7-14). Itulah administrasi Allah.
E. Paulus Berpisah dengan Barnabas
Perpisahan antara Paulus dengan Barnabas dikarenakan Markus (Kis. 15:37-39). Markus adalah kerabat Barnabas (Kol. 4:10). Markus tidak patuh di tengah jalan, tetapi Barnabas tetap ingin mengajaknya, ini jelas karena mereka mempunyai hubungan keluarga. Sejak itu, Barnabas berpisah dengan Paulus. Barnabas mengajak Markus ke Siprus, kampung halaman mereka. Di sini mereka sama sekali bekerja menurut hubungan daging. Saya akui, Barnabas kemudian mungkin tetap dipakai Allah, dan melakukan pengabdiannya dengan baik, tetapi mulai saat itu Roh Kudus menghapus namanya dari Alkitab. Namanya memang masih tercantum dalam kitab hayat, tetapi tidak tercatat lagi dalam Kisah Para Rasul. Ini adalah administrasi Allah. Dalam administrasi Allah, Ia tidak dapat membiarkan manusia menempuh jalannya sendiri!
Sistem kasih karunia itu satu perkara, sistem administrasi itu perkara lain lagi. Semakin orang bersikap rendah hati, ia akan semakin maju dalam sistem administrasi Allah. Jangan sekali-kali mengira, karena Anda telah masuk ke dalam sistem kasih karunia Allah, maka Anda dapat membatalkan sistem administrasi Allah. Tidak!
Kasih karunia tidak bisa membatalkan administrasi, kasih karunia malah dapat menyuruh orang menaati administrasi. Saya mengatakan dengan serius: Kasih karunia justru memberi kita kekuatan, agar kita dapat menaati administrasi. Kasih karunia tidak menyuruh kita berontak untuk menggulingkan administrasi. Kedua sistem Allah ini saling melengkapi. Kasih karunia tidak dapat membatalkan administrasi. Hanya orang beballah yang berkata, “Aku telah menerima kasih karunia, maka aku boleh kendur dan boleh sembarangan.” Itu adalah perbuatan orang bebal!
Jika seorang hamba lebih banyak mengenal kasih karunia, ia akan menjadi hamba yang lebih baik. Kalau ia menjadi tuan, ia akan menjadi tuan yang lebih baik pula. Demikian juga, ia akan menjadi suami, orang tua, anak-anak, dan warga negara yang lebih baik, dan ia akan semakin tunduk kepada wewenang. Orang yang menerima kasih karunia Allah lebih banyak, ia akan semakin mengetahui bagaimana memelihara administrasi Allah. Saya tidak pernah melihat orang yang benar-benar mengenal kasih karunia Allah, malah merusak administrasi Allah.
IV. PENUDUNGAN KEPALA BERHUBUNGAN DENGAN
ADMINISTRASI ALLAH
Masalah penudungan kepala adalah masalah administrasi Allah, karena itu, hal ini berhubungan dengan administrasi Allah. Jika Anda tidak mengetahui administrasi Allah, saya tidak dapat menganjuri Anda melakukan penudungan kepala. Kalau orang tidak menyadari administrasi Allah, ia pun tidak menyadari betapa besar kaitannya dengan penudungan kepala. Dan kalau ia menyadari administrasi Allah, mengetahui adanya sistem administrasi Allah yang diwahyukan dalam firman Allah, ia akan menyadari besarnya hubungan antara penudungan kepala dengan administrasi Allah.
Dalam 1 Korintus 11:2-3 tercatat, “Aku memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu. Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.” Hal ini merupakan masalah administrasi Allah.
Di sini tidak dibicarakan hubungan antara Bapa dengan Anak, sebab hubungan itu merupakan hubungan dalam ke-Allahan. Di sini adalah hubungan Allah dengan Kristus. Menurut perkataan manusia zaman sekarang, Kristus adalah wakil Allah. Ditinjau dari aspek jabatan, atau aspek pengaturan dan administrasi Allah, Allah itu Allah, Kristus itu Kristus, Kristus itu utusan Allah. Yohanes 17:3 menerangkan, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Allah itu Allah, dan Tuhan Yesus itu Kristus yang diutus. Di sini Allah dan Kristus merupakan masalah dalam administrasi Allah. Kristus sebenarnya setingkat dengan Allah, tetapi Ia rela menjadi Kristus, utusan. Allah menjadi Allah di tempat yang mahatinggi, sedang Kristus diutus untuk melakukan pekerjaan Allah. Ini adalah masalah yang pertama dalam administrasi Allah.
Apakah tujuan Allah? Allah ingin mengangkat Kristus sebagai Kepala, semua manusia harus taat kepada-Nya. Karena Dia adalah buah sulung dalam ciptaan, adalah yang pertama dalam ciptaan, maka Dia menjadi Kepala setiap manusia, dan semua manusia harus tunduk di bawah-Nya. Dalam administrasi Allah, hal ini merupakan prinsip yang mendasar. Kristus adalah Kepala setiap manusia, ini bukan perkara dalam kasih karunia, melainkan dalam administrasi Allah. Demikian pula, laki-laki adalah kepala perempuan, itu pun administrasi Allah. Dalam administrasi-Nya, Allah mengangkat laki-laki menjadi kepala, sama halnya dengan Dia mengangkat Kristus menjadi Kepala, dan mengangkat diri-Nya sendiri menjadi Kepala.
Di sini Allah sendiri menjadi Kepala, Allah lalu mengangkat Kristus menjadi Kepala, dan juga mengangkat laki-laki menjadi kepala. Inilah tiga prinsip besar dalam administrasi Allah.
Allah sebagai Kepala Kristus, ini bukan masalah Allah lebih besar atau Kristus lebih besar, melainkan dalam administrasi Allah, Allahlah Kepala Kristus. Kemudian dalam administrasi Allah, Kristus adalah Kepala setiap laki-laki, dan laki-laki adalah kepala perempuan. Inilah yang Allah dirikan dan tetapkan.
Filipi 2 cukup jelas. Pada hakiki-Nya, Tuhan Yesus memang setara dengan Allah. Tetapi dalam administrasi Allah, Ia adalah Kristus. Karena Ia adalah Kristus, maka Allah menjadi Kepala-Nya. Karena itu, dalam Injil Yohanes Tuhan mengakui bahwa segala sesuatu Ia lakukan menurut apa yang Bapa lakukan (Yoh. 5:19). “Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 6:38). Aku hanyalah Kristus yang diutus. Aku tidak berani berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku baru berbuat setelah melihat Bapa berbuat (Yoh. 8:26, 28). Tuhan Yesus berada dalam pengaturan administrasi Allah. Ketetapan Allah ialah: Allah itu Allah, Dia adalah Kristus, maka Kristus wajib menurut perkataan Allah. Walau Allah Putra tidak harus menurut perkataan Allah Bapa, sebab ditinjau dari segi personalitas asasinya, Allah Putra sama besar-kecilnya dengan Allah Bapa, baik pada tingkatan maupun kehormatan. Akan tetapi, dalam administrasi Allah, Ia tidak berdiri pada posisi Allah Putra, melainkan di atas posisi Kristus yang menjadi utusan.
Pada suatu hari kelak manusia akan mengenal administrasi Allah. Umat manusia di seluruh dunia akan mengetahui bahwa Kristus adalah Kepala mereka. Itulah ketetapan administrasi Allah. Hari ini hanya gereja yang mengetahui Kristus menjadi Kepala setiap manusia, sedangkan orang-orang dunia tidak tahu. Tetapi, pada suatu hari kelak, manusia di seluruh dunia akan mengetahui bahwa Kristus itulah Kepala, Dialah yang pertama dari segala yang diciptakan. Dialah yang sulung dari segala yang diciptakan, seluruh manusia yang tercipta harus tunduk di bawah wewenang Kristus. Demikian pula, Allah menetapkan laki-laki menjadi kepala perempuan, hal ini juga baru diketahui di dalam gereja. Sudahkah Anda tampak hal ini? Hari ini hanya gereja yang tahu bahwa Kristus adalah Kepala setiap manusia, dan hanya gereja yang tahu bahwa laki-laki adalah kepala perempuan.
Kita telah tampak bahwa kasih karunia tidak dapat menggulingkan administrasi Allah. Saya rasa pelajaran yang kita pelajari makin lama makin jelas. Kasih karunia ialah untuk menopang administrasi Allah, bukan merusak administrasi Allah. Tak seorang pun boleh menjadi bebal sedemikian rupa sehingga ingin memperalat kasih karunia Allah untuk melanggar administrasi-Nya. Administrasi Allah sekali-kali tidak dapat dilanggar! Tangan Allah senantiasa mempertahankan administrasi-Nya. Hari ini tidak seorang pun boleh melawan wewenang ayahnya dengan alasan ia sudah percaya kepada Tuhan; tidak seorang pun boleh melawan wewenang tuannya atau melawan wewenang pemerintah dengan alasan telah percaya Tuhan. Hari ini tidak seorang pun boleh berkata, “Aku orang Kristen, maka aku tidak perlu membayar pajak.” Tidak ada perkara demikian! Setelah Anda menjadi orang Kristen, Anda harus semakin mempertahankan administrasi Allah.
Hari ini kita wajib mempertahankan kesaksian Allah di dunia ini. Karena itu, di sini Tuhan memperlihatkan kepada kita adanya tiga jenis kepala yang berbeda: Allah itu Kepala, Kristus itu Kepala, dan laki-laki pun kepala. Di sini sama sekali bukan masalah saudara saudari, bukan masalah dalam kasih karunia, melainkan dalam administrasi. Dalam kasih karunia, membicarakan hubungan antara saudara dan saudari, tetapi dalam administrasi Allah ada ketentuan yang lain. Inilah kehendak Allah; inilah kehendak Allah yang merdeka. Allah menetapkan diri-Nya sebagai Kepala, dan Kristus sebagai Yang taat kepada-Nya; Allah juga menetapkan Kristus sebagai Kepala, dan setiap manusia harus taat kepada-Nya; Allah pun menetapkan laki-laki menjadi kepala, dan perempuan harus mengenakan tanda ketaatan — tudung kepala.
V. MAKNA PENUDUNGAN KEPALA
Satu Korintus 11:4-5 mengatakan, “Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.” Melalui ayat ini kita tampak apa makna penudungan kepala itu.
Makna penudungan kepala ialah: aku tunduk di bawah administrasi Allah, aku menerima kedudukan itu. Aku sekali-kali tidak berani berkata, “Karena aku telah menerima kasih karunia, maka aku boleh menghapus administrasi Allah.” Hal itu bahkan kupikirkan pun tidak berani; malahan aku harus menerima ketetapan Allah itu. Bagaimana Kristus menerima Allah sebagai Kepala-Nya, setiap laki-laki juga menerima Kristus sebagai Kepala. Demikian pula, pada aspek perwakilan, perempuan menerima laki-laki sebagai kepalanya. Jadi, penudungan kepala berarti: seolah-olah aku tidak berkepala, aku menudungi kepala.
Ingatlah, pada praktiknya memang perempuan yang menudungi kepala, tetapi pada hakikatnya Kristus di hadapan Allah juga menudungi kepala, dan setiap laki-laki di hadapan Kristus pun menudungi kepala. Hanya saja, dalam praktiknya, Allah hanya menyuruh perempuan di hadapan laki-laki menudungi kepalanya. Ini sungguh perkara yang mengherankan! Justru ini merupakan prinsip yang sangat dalam, yang sangat besar sangkut pautnya; ini sekali-kali bukan perkara yang sepele.
Saya sering merasa ada saudara dan saudari yang sama sekali tidak dapat menerima perkara penudungan kepala, sebab mereka sama sekali tidak mengetahui administrasi Allah. Kecuali Anda mengetahui administrasi Allah, barulah Anda dapat memahami kebenaran penudungan kepala. Masalahnya, karena Kristus di hadapan Allah menudungi kepala-Nya, maka aku pun wajib menudungi kepala di hadapan Allah. Aku menudungi kepala sehingga kepalaku tidak kelihatan dan tidak tertampil. Allahlah Kepalaku. Pada hakikatnya, Allah menghendaki setiap orang menudungi kepalanya. Kristus itulah Kepalaku, maka kepalaku sendiri tidak boleh ditonjolkan, tidak boleh kelihatan.
Dalam kesempatan ini, saya ingin berkata kepada setiap wanita Kristen: Allah telah menetapkan laki-laki menjadi kepala kalian. Pada zaman manusia tidak mengenal wewenang Allah seperti dewasa ini, hanya di dalam gerejalah Tuhan meminta supaya penudungan kepala itu dipraktikkan. Karena itu, perkara ini adalah perkara kita mau menjadi orang Kristen atau tidak. Di dalam gereja, Allah menuntut agar setiap orang Kristen menerima sistem yang ditetapkan Allah dalam administrasi-Nya.
VI. KEWAJIBAN PARA SAUDARI
Jadi penudungan kepala yang dipraktikkan para saudari berarti mereka berdiri di atas kedudukan Kristus di hadapan Allah, dan di atas kedudukan laki-laki di hadapan Kristus. Allah menyuruh setiap perempuan menudungi kepala dengan maksud supaya administrasi-Nya terekspresi di bumi ini. Hanya perempuanlah yang diharuskan melakukan penudungan kepala. Penudungan kepala bukan hanya untuk perempuan itu sendiri, tetapi juga untuk perwakilan. Banyak perkara yang dilakukan untuk diri sendiri, tetapi banyak pula yang dilakukan untuk perwakilan. Untuk diri sendiri, sebab aku adalah seorang perempuan; untuk perwakilan, sebab aku mewakili Kristus. Karena itu, para saudari menudungi kepalanya di hadapan Allah, itu sama dengan Kristus menudungi kepala-Nya di hadapan Allah. Para saudari menudungi kepala di hadapan Kristus, itu sama dengan laki-laki menudungi kepalanya di hadapan Kristus.
Di hadapan Kristus semua manusia seharusnya tidak berkepala, harus menudungi kepala, dan membiarkan Kristus menjadi Kepala. Jika kita di hadapan Kristus tidak menudungi kepala, itu berarti mempunyai dua kepala. Kalau ada dua kepala, bagaimanapun, yang satu harus ditutupi. Kalau Allah dan Kristus ada di sini, maka satu kepala harus ditudungi. Demikian pula, kalau laki-laki dan perempuan ada di sini, maka satu kepala harus ditudungi. Kalau Kristus dan laki-laki ada di sini, satu kepala harus ditudungi pula. Jika yang satu tidak menudungi kepala, berarti ada dua kepala. Dalam administrasi Allah tidak boleh ada dua kepala. Jika Allah sebagai Kepala, maka Kristus tidak dapat menjadi Kepala; jika Kristus sebagai Kepala, maka laki-laki tidak dapat menjadi Kepala; dan jika laki-laki sebagai kepala, maka perempuan tidak dapat menjadi kepala.
Allah menetapkan para saudari sebagai wakil, maka para saudari diwajibkan mengenakan tanda ketaatan di atas kepalanya, yaitu memanifestasikan sistem administrasi Allah. Allah dengan khusus menuntut satu perkara ini, yakni ketika seorang perempuan berdoa atau bernubuat, haruslah ia menudungi kepalanya. Pada waktu mereka datang ke hadapan Allah, mereka harus menyadari administrasi Allah. Ketika mereka berkhotbah atau berdoa kepada Allah di hadapan manusia, atau pergi untuk Allah, atau datang ke hadapan Allah, semua yang bertalian dengan Allah, harus menudungi kepalanya. Perbuatan ini tidak lain bermaksud memanifestasikan administrasi Allah.
Para laki-laki tidak diperbolehkan menudungi kepala. Jika laki-laki menudungi kepala di hadapan perempuan, itu berarti ia menghina kepalanya sendiri. Laki-laki mewakili Kristus. Kalau laki-laki menudungi kepala, itu berarti mengakui setiap orang tidak seharusnya menudungi kepala di hadapan Kristus, dan Kristus menudungi kepala di hadapan setiap orang.
VII. HARUS MENGENAKAN
TANDA MENAATI WEWENANG KARENA MALAIKAT
Satu Korintus 11:6 mengatakan, “Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.” Dengan kata lain, Allah menghendaki para saudari bersikap tuntas dalam perkara ini.
Tak seorang pun yang boleh tidak menudungi kepalanya, dan meninggalkan rambutnya di kepala; jika perempuan tidak menudungi kepala, haruslah ia menggunting atau mencukur rambutnya. Tetapi, jika saudari merasa menggunting atau mencukur rambut adalah suatu kehinaan, maka haruslah saudari menudungi kepalanya. Itulah maksud Paulus. Jika perempuan tidak menudungi kepalanya, haruslah ia menggunting atau mencukur rambutnya. Pokoknya kita harus bersikap tegas dan tuntas, jangan kepalang tanggung.
Satu Korintus 11:7 mengatakan, “Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya; ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah.” Karena laki-laki mewakili gambar dan kemuliaan Allah, maka tidak seharusnya laki-laki menudungi kepalanya. “Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.” Sebab itu perempuan harus menudungi kepalanya. Kalau perempuan tidak menudungi kepalanya, tidak dapatlah ia menyatakan laki-laki sebagai kepala.
Ayat 8-9 sangat jelas, dan semua itu menyangkut administrasi Allah. Karena itu saya katakan, jika Anda tidak tahu masalah administrasi Allah, Anda tidak perlu membaca 1 Korintus 11. “Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.” Inilah perbuatan Allah. Pada waktu penciptaan, laki-laki bukan berasal dari perempuan; sebaliknya perempuan berasal dari sebuah tulang rusuk laki-laki. Di sini Anda tampak bahwa Adam itulah kepala, bukan Hawa. “Lagipula, laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.” Jadi demi penciptaan, juga harus ditaati.
Satu Korintus 11:10 mengatakan, “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa (taat kepada wewenang) di kepalanya oleh karena para malaikat.” Alkitab tidak menetapkan harus menudungi kepala dengan benda apa, hanya mengatakan harus menudungi kepala, yaitu menudungi kepala yang ada rambutnya. Mengapa harus berbuat demikian? “Oleh karena para malaikat”, itulah alasannya.
Saya sering merasa bahwa ini sungguh suatu pengajaran yang sangat ajaib. Adanya tanda wibawa (taat kepada wewenang) di atas kepala para saudari itu adalah karena para malaikat. Kita semua tahu sejarah perbuatan dosa yang dilakukan malaikat. Iblis adalah pemberontak. Bagaimana Iblis bisa memberontak? Sebab ia hendak meninggikan dirinya setara dengan Allah. Kitab Yesaya 14 mengatakan bahwa ia hendak meninggikan dirinya sendiri, hendak naik ke atas surga supaya dapat setingkat dengan Allah. Dengan kata lain, malaikat telah menonjolkan kepalanya di hadapan Allah, ia tidak tunduk di bawah wewenang Allah. Dalam Yesaya 14, Iblis terus mengatakan, “Aku hendak, aku hendak, aku hendak naik ke atas surga, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah. Aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, ingin menyamai Yang Maha Tinggi” (ayat 13-14). Iblis justru hendak melakukan hal-hal yang demikian. Itulah asal usul kejatuhan penghulu malaikat. Wahyu 12 menunjukkan, ketika Iblis jatuh, ia telah menyeret sepertiga malaikat lainnya bersama-sama dengannya (ayat 4). Ia tidak tunduk di bawah wewenang Sang Kepala di hadapan Allah, ia sendiri ingin menjadi kepala. Itulah kejatuhan malaikat!
Hari ini, tanda taat kepada wewenang yang dikenakan di atas kepala wanita ditujukan kepada para malaikat. Hari ini, hanya di dalam gereja terdapat tanda ketaatan itu di atas kepala para saudari. Ini berarti, “Aku menudungi kepalaku, aku tidak berkepala, aku tidak menjadi kepala. Kepalaku tidak tampil keluar, aku menerima laki-laki sebagai kepala, yaitu menerima Kristus sebagai Kepala, dan aku menerima Allah sebagai Kepala.” Tetapi, para malaikat telah memberontak. Itulah artinya “oleh karena para malaikat”.
Aku mengenakan tanda menaati wewenang di atas kepalaku. Aku adalah orang yang menudungi kepala. Hal ini merupakan satu kesaksian yang paling baik terhadap para malaikat yang telah jatuh; maka tidak heran kalau Iblis selalu menentang masalah penudungan kepala. Sebab perkara ini merupakan perkara yang memalukan dia. Kita telah melakukan perkara yang tidak Iblis lakukan di hadapan Allah. Di dalam gereja, Allah telah memperoleh apa yang tidak Ia peroleh dari antara para malaikat. Ada sebagian malaikat yang tidak tunduk di bawah wewenang Allah dan Kristus, sehingga seluruh dunia menjadi kacau balau. Masalah kejatuhan malaikat, kejatuhan Iblis, lebih gawat daripada kejatuhan manusia. Tetapi apa yang tidak dapat Allah peroleh atas para malaikat, telah diperoleh-Nya di dalam gereja. Puji Tuhan!
Dalam gereja, banyak saudari yang berdiri pada posisi perempuan untuk belajar menudungi kepala. Dengan demikian ada satu perkataan yang tidak terucapkan dan tidak perlu diucapkan, yaitu menyatakan satu kesaksian kepada para malaikat di surga, bahwa di dalam gereja Allah telah memperoleh apa yang ingin Ia peroleh. Itulah sebabnya perempuan harus mengenakan tanda menaati wewenang di atas kepalanya oleh karena para malaikat.
VIII. JANGAN EKSTREM
Namun dalam hal ini mungkin ada yang bertindak ekstrem, yaitu mengira laki-laki sebagai kepala, maka perempuan harus menaati wewenang laki-laki. Jika demikian, dalam segala perkara perempuan harus berada pada posisi taat secara membabi buta, dan mereka akan kehilangan fungsinya. Ini merupakan sikap yang ekstrem. Karena itu, Paulus mengatakan bahwa masalahnya tidak sesederhana itu. “Sekalipun demikian” ini hanya merupakan kesaksian pada lahiriahnya. Memang kesaksian luarannya begitu, tetapi bagaimanakah aspek dalamnya? Ayat 11 menerangkan, “Sekalipun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.” Ada yang bertanya: Apa artinya tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan? Paulus kemudian menjelaskan, “Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan.”
Di Taman Eden, perempuan berasal dari laki-laki. Hari ini, setelah Taman Eden, laki-laki harus dilahirkan oleh perempuan. Tidak ada seorang laki-laki pun yang bukan dilahirkan oleh perempuan. Pada hakikatnya, tidak ada laki-laki tanpa perempuan, dan tidak ada perempuan tanpa laki-laki. Laki-laki tidak dapat mengatakan dirinya mempunyai keistimewaan, demikian pula perempuan. “Dan segala sesuatu berasal dari Allah”. Penudungan kepala hanya menuntut Anda untuk mengenakan satu tanda ketaatan kepada wewenang di atas kepala Anda. Pokoknya, segala sesuatu berasal dari Allah. Pada hakikatnya, laki-laki dilahirkan oleh perempuan, sedang perempuan berasal dari laki-laki. Tak seorang pun dapat menyombongkan diri, dan tak seorang pun harus meremehkan diri.
Ayat 13 mengatakan, “Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah tanpa menudungi kepalanya?” Di sini Paulus bertanya kepada kita, khususnya kepada para saudari: Setelah kalian mendengar perkataan-perkataan ini, setelah kalian mengetahui administrasi Allah, setelah kalian mengetahui bahwa Allah adalah Kepala Kristus, Kristus adalah Kepala laki-laki, laki-laki adalah kepala perempuan, dan setelah kalian mengetahui bahwa Allah menetapkan perempuan sebagai wakil laki-laki, dan perempuan mewakili Kristus di hadapan Allah, maka kalian harus mempertimbangkan sendiri, patutkah perempuan berdoa kepada Allah tanpa menudungi kepalanya?
Ayat 14 mengatakan, “Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang.” Di sini Paulus memutuskan perkara ini dengan perasaan gereja. Perhatikan: “Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu.” Ayat 15 mengatakan, “Tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.”
Perempuan-perempuan di seluruh dunia semuanya mengindahkan dan menghargai rambutnya sendiri. Rambut merupakan kemuliaan mereka, dan perempuan justru senang memelihara rambutnya. Saya tidak pernah melihat perempuan membuang-buang rambutnya dengan mudah ke tempat sampah. Rambut adalah kemuliaan perempuan dan sesuatu yang sangat dihargainya. Dengan perkataan lain, Allah khusus memberikan rambut panjang kepada perempuan untuk menudungi kepalanya.
Di sini saya ingin menunjukkan dua perkara: Allah memberikan rambut panjang kepada perempuan untuk menudungi kepalanya. Paulus mengatakan, karena Allah menghendaki kita bertudung, maka perempuan harus menambahkan penudung kepala di atas tudungnya itu. Kalau Allah memberi Anda rambut panjang untuk menudungi kepala Anda, Anda masih harus menutupinya dengan benda penudung buatan manusia. Ayat 15 harus digabungkan dengan ayat 6. Ayat 6 mengatakan, “Jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.” Ayat 15, “Tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang. Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.” Kalau kedua ayat tersebut kita baca bersama, maka kita akan sangat jelas. Allah telah menudungi kepala perempuan dengan rambut, maka para penerima wewenang Allah haruslah menudungi lagi kepala mereka dengan suatu benda. Jika tidak, lebih baik Anda menggunting atau mencukur saja rambut pemberian Allah itu. Dengan kata lain, jika Anda menerima milik Allah, Anda harus menambahkan dengan milik Anda. Jika Anda tidak menerima milik Allah, Anda harus menghapus apa yang Allah berikan kepada Anda. Alkitab tidak mengatakan harus memelihara rambut panjang, tetapi berambut panjang tidak cukup, melainkan harus ditambah lagi dengan penudung kepala.
Hari ini, orang tidak menaati dua perintah Alkitab ini. Andaikata seorang saudari tidak menudungi kepala, melainkan ia menggunduli kepalanya, itu pun berarti ia menaati perkataan Alkitab. Tetapi hari ini kedua-duanya tidak dilakukan orang; tidak mencukur rambut, juga tidak menudungi kepalanya. Ayat 6 mengatakan, jika tidak menudungi kepala haruslah mencukur rambut; jika tidak mencukur rambut, haruslah menudungi kepala. Ayat 15 menunjukkan, kalau Allah telah menudungi Anda, maka Anda sendiri harus mengenakan sebuah penudung lagi.
Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang taat kepada Allah? Kalau Allah telah menudungi aku, aku sendiri juga harus menudungi lagi kepalaku. Jadi, orang yang mengenal Allah selalu menambahkan miliknya sendiri di atas perkara yang telah Allah lakukan. Anda harus menuruti jalan itu, bukan berlawanan dengan jalan itu.
IX. TIDAK ADA PERBANTAHAN
Ayat 16 mengatakan, “Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian.” Saya rasa perkataan Paulus ini sangat berat. Paulus sangat mengenal orang-orang Korintus. Orang-orang Korintus tidak hanya tinggal di Korintus, juga tinggal di banyak tempat! Orang-orang Korintus juga tinggal di gereja di tempat Anda berada.
Paulus mengatakan, “Jika ada orang yang mau membantah.” Apakah yang mau dibantah? Dari ayat 1 sampai 15 membicarakan masalah penudungan kepala, maka yang mau dibantah orang ialah masalah penudungan kepala. Tetapi di sini Paulus seolah mengatakan, kelirulah jika ada orang mau membantah masalah penudungan kepala. Sebab masalah penudungan kepala tidak dapat diperbantahkan dengan sembarangan.
Banyak orang ingin membantah, mereka mengatakan perempuan tidak perlu menudungi kepala. Allah menjadi Kepala Kristus tidak berlaku secara universal, melainkan hanya berlaku di Korintus. Demikian pula Kristus menjadi Kepala tiap-tiap laki-laki, dan laki-laki menjadi kepala perempuan. Tetapi puji Tuhan, menjadi orang Kristen adalah masalah universal, bukan masalah Korintus. Puji Tuhan, Kristus menjadi Kepala tiap laki-laki, Allah menjadi Kepala Kristus, dan laki-laki menjadi kepala perempuan. Ini semuanya merupakan masalah universal, bukan masalah Korintus.
Kalau ada saudari-saudari mengira tidak perlu menudungi kepalanya, dan karenanya mereka menentang perkataan dan ketetapan yang Paulus terima dan yang disampaikan kepada mereka, bagaimanakah kata Paulus? Paulus berkata, “kami . . . tidak mempunyai kebiasaan (peraturan) yang demikian.” “Kami” di sini ditujukan kepada Paulus sendiri dengan para rasul. Di antara para rasul tidak terdapat kebiasaan yang demikian, yaitu tidak ada saudari yang tidak menudungi kepala. “Jika ada orang yang mau membantah, kami tidak mempunyai kebiasaan yang demikian.” Anda tidak beralasan untuk membantah hal ini. Jika ada orang mau membantah lagi, “Gereja-gereja Allah” pun tidak ada kebiasaan yang demikian. Ini berarti masalah penudungan kepala tidak dapat dibantah.
Di sini Paulus menunjukkan kepada kita bagaimana kebiasaan gereja-gereja Allah pada masa itu. Menurut adat istiadat orang Yahudi waktu itu, jika mereka memasuki Sinagoge, haruslah menudungi kepala, baik laki-laki maupun perempuan. Laki-laki dan perempuan sama-sama harus menudungi kepala dengan sehelai kain penudung yang disebut “talis”, barulah dapat masuk ke dalam Sinagoge, tanpa penudung, tidak diperbolehkan masuk. Tetapi menurut adat istiadat orang Yunani waktu itu, (Korintus adalah satu kota di Yunani), ketika laki-laki maupun perempuan masuk ke kuil mereka, semuanya tanpa penudung kepala, yakni menampilkan kepala. Pada zaman Paulus, tidak ada satu bangsa atau negara di dunia ini yang para laki-lakinya tidak menudungi kepala dan para perempuannya harus menudungi kepala. Jadi pada waktu itu orang Yahudi seluruhnya (laki-laki dan perempuan) harus menudungi kepala, dan orang kafir sama sekali tidak menudungi kepala; tetapi anak-anak Allah, laki-laki tidak menudungi kepala, perempuan harus menudungi kepala.
Karena itu, ketetapan laki-laki tidak menudungi kepala dan perempuan harus menudungi kepala merupakan sebuah perintah unik yang diberikan para rasul Allah kepada anak-anak Allah. Kebiasaan ini dimiliki oleh gereja-gereja Allah secara unik. Dan kebiasaan ini tidak sama dengan kebiasaan orang Yahudi maupun kafir; ini adalah kebiasaan unik yang dimiliki gereja. Karena kebiasaan ini adalah perintah para rasul, maka hal ini adalah hal yang baru dan yang ilahi.
Semua rasul percaya bahwa perempuan harus menudungi kepala. Jika ada seorang rasul tidak percaya bahwa perempuan harus menudungi kepala, ia bukanlah di tengah-tengah kita, ia pasti di luar kita. Tiadalah kebiasaan itu di antara kita. Kalau ada gereja yang tidak percaya, Paulus mengatakan bahwa gereja-gereja Allah pun tidak ada kebiasaan yang demikian. Seluruh gereja tidak ada kebiasaan yang demikian. Setiap gereja lokal yang dilawat para rasul tidak ada kebiasaan yang demikian. Sampai di sini Paulus tidak lagi membicarakan alasan. Alasan Paulus dibicarakan sampai pada ayat 15 saja. Pada ayat 16, ia tidak lagi membicarakan alasan. Jika ada orang yang mau membantah, Paulus berkata, tidak ada seorang rasul yang menyetujui opini orang itu. Orang itu di luar rasul, dan di luar gereja. Semua rasul dan semua gereja percaya hal ini, maka Anda tidak dapat membantahnya.
Karena itu, kita harus membiarkan para saudari menudungi kepala ketika mereka menghadiri sidang, yaitu ketika berkhotbah dan berdoa. Mengapa harus demikian? Sebab hal ini bermaksud menyatakan bahwa Allah di dalam gereja ingin memperoleh apa yang tidak dapat Ia peroleh di dunia, dan menyatakan bahwa Allah ingin memperoleh apa yang tidak dapat Ia peroleh di dalam alam semesta. Apa yang tidak dapat Ia peroleh di antara malaikat dan dunia, kini telah diperoleh-Nya di dalam gereja. Karena itu, para saudari wajib mengetahui hal ini. Kata-kata dalam ayat 3 merupakan satu ajaran yang jelas. Allah adalah Kepala Kristus, Kristus adalah Kepala laki-laki, laki-laki adalah kepala perempuan, demikianlah perempuan bertudung kepala. Inilah ajaran pokok dari seluruh bagian Alkitab ini.
X. PRINSIP PERWAKILAN
Ada sebuah prinsip yang sangat besar dalam Alkitab, yakni prinsip perwakilan. Perkara ini pernah saya singgung, sekarang akan saya ulangi di sini.
Sebagai orang Kristen, kita memiliki dua prinsip yang berbeda: pertama ialah apa yang kita lakukan di hadapan Allah berdasarkan prinsip pribadi; kedua ialah apa yang kita lakukan di hadapan Allah menurut prinsip perwakilan. Kita menjadi orang Kristen di hadapan Allah tidak secara pribadi saja, tetapi juga secara perwakilan. Jika ini tidak salah, kelak ketika kita dihakimi, kita tidak saja dihakimi berdasarkan pribadi kita, tetapi juga dihakimi berdasarkan perwakilan kita itu.
A. Contoh sebagai Majikan
Misalkan di sini ada seorang majikan yang mempunyai beberapa pembantu rumah tangga. Majikan ini adalah seorang saudara, tetapi ia memperlakukan pembantu-pembantunya dengan sangat tidak adil, kejam dan tanpa aturan. Ketahuilah, kelak perlakuannya yang tidak benar itu akan dihakimi di hadapan Allah. Tetapi bukan itu saja, ia masih harus menerima penghakiman yang kedua. Karena saudara tersebut tidak saja berhubungan dengan pembantu-pembantunya, ia pun mewakili Tuhan untuk menjadi majikan di hadapan Allah. Karena itu, tiap kali Anda menjadi majikan, Anda harus pula menjadi majikan mewakili Tuhan. Bagaimana Anda memperlakukan pembantu-pembantu Anda, maka perlakuan Anda itu juga mewakili Tuhan. Jadi, Anda sendiri telah berdosa, Anda pun telah mewakili Tuhan melakukan dosa. Anda telah mewakili Tuhan dengan keliru. Jika saya tidak salah, saya ingin berkata, kelak ketika Anda menerima hukuman di hadapan Allah, Anda tidak saja akan dihukum karena pribadi Anda sendiri, Anda pun akan dihukum karena mewakili Tuhan dengan keliru.
B. Contoh sebagai Hamba
Misalkan Anda tidak menjadi majikan, tetapi sebagai hamba. Ketika Anda sebagai hamba, Anda mencuri, malas, berdusta, hanya melayani di hadapan orang, menipu tuan Anda. Jelas Anda telah melakukan dosa-dosa, dan perbuatan dosa itu harus menerima hukuman. Namun masalahnya tidak begitu saja. Karena Anda sebagai hamba, Anda pun mewakili semua hamba untuk menaati Tuan Anda yang di surga. Jika Anda melayani di hadapan manusia, Anda boleh jadi menipu, mencuri dan malas. Tetapi setiap kali Alkitab menyinggung soal hamba, selalu disebut bahwa kita masih ada satu Tuan di surga. Sebab itu, Anda tidak saja menjadi hamba di sini, Anda pun mewakili semua hamba. Anda tidak saja menjadi hamba secara pribadi, tetapi juga mewakili semua hamba di bumi ini. Ini merupakan hubungan yang lain.
C. Contoh Musa
Ketika bani Israel mencobai Allah di Meriba, Musa marah di hadapan bani Israel dan memukul bukit karang dua kali dengan tongkatnya, sehingga ia ditegur Allah. Musa marah, itu kesalahan Musa sendiri. Jika Musa berdiri di atas kedudukan pribadinya atau sebagai pemimpin orang Israel, mungkin ia masih dapat diampuni. Musa pernah sekali marah, lebih hebat dari kali itu. Ketika itu orang Israel menyembah patung lembu emas, karena itulah Musa menghancurkan kedua loh hukum yang ditulis oleh tangan Allah sendiri (Kel. 32:19). Tetapi pada waktu itu Allah tidak menegurnya. Sebab marahnya kali itu justru mewakili marah Allah. Kali itu Musa mewakili Allah untuk memarahi bani Israel, dan perwakilannya kali itu benar. Tetapi kali ini, Musa marah dan memukul bukit karang dua kali. Bagaimana kata Allah? Allah berkata, “Kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di hadapan bani Israel.” Dengan perkataan lain, “Kamu tidak memisahkan Aku, kamu telah mewakili Aku secara keliru.” Karena marah-marah Musa kali itu bisa membuat bani Israel mengira Allah yang marah, padahal Allah tidak marah.
Kedudukan Pribadi dan Kedudukan Wakil
Karena itu, dosa pribadi satu perkara, dan dosa perwakilan itu perkara yang lain. Hari ini kita telah membaca ayat 3, setiap saudari, setiap perempuan, (perempuan yang demikian tak dapat ditemukan di dalam dunia), harus tampak bahwa Anda mempunyai kedudukan pribadi, Anda pun mempunyai kedudukan perwakilan. Allah adalah Kepala Kristus, Kristus adalah Kepala setiap laki-laki, dan laki-laki adalah kepala perempuan. Karena itulah perempuan harus menudungi kepala. Perempuan harus menyadari bahwa dirinya masih mewakili orang lain, setidak-tidaknya mewakili pribadinya sendiri.
Menudungi Kepala Secara Pribadi
dan Menudungi Kepala Secara Perwakilan
Ketika para saudari berkhotbah atau berdoa sambil menudungi kepala, itu berarti mereka mengumumkan di hadapan Allah bahwa manusia di seluruh dunia tidak ada satu pun yang boleh menampilkan kepalanya; siapa pun tidak boleh menonjolkan kepalanya di hadapan Allah. Tak seorang pun yang boleh menjadi kepala di hadapan Kristus. Tak seorang pun yang boleh mengeluarkan pendapat atau opininya di hadapan Kristus. Semua orang di hadapan Kristus haruslah menudungi kepalanya sendiri; semua pendapat dan opini sendiri harus ditudungi, dan harus berkata kepada Tuhan, “Tuhan, Dikaulah Kepalaku!” Anda pribadi menudungi kepala, kedudukan perwakilan Anda pun menudungi kepala. Anda sebagai wakil dalam alam semesta ini. Para saudari di sini mengumumkan kepada dunia bagaimana semestinya posisi seluruh manusia di hadapan Allah.
Walau perkara menudungi kepala adalah perkara kecil, tetapi perkara ini merupakan kesaksian yang besar!