KONSIKRASI
Pembacaan Alkitab: Keluaran 28:1-2, 40-41; 29:1-25; Imamat 8:14-28; Roma 6:13, 16, 19; 12:1; 1 Korintus 6:19-20; 2 Korintus 5:14-15
Marilah kita melihat satu masalah, yaitu masalah konsikrasi orang Kristen.
Bisa tidaknya seseorang berkonsikrasi, dapat dilihat dari baik tidaknya keadaan ia diselamatkan. Bila seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dan dengan ini seolah ia telah memberi muka kepada Tuhan, atau seolah telah memberi perlakuan yang istimewa kepada Allah, niscaya percuma kita membicarakan masalah konsikrasi dengannya. Apabila seseorang menganggap dirinya sebagai seorang promotor agama Kristen, dan menganggap dirinya menjadi orang Kristen adalah suatu kebanggaan besar bagi agama Kristen, niscaya juga tidak ada gunanya mengajak orang seperti ini berbicara tentang persembahan diri. Sikapnya atas hal percaya sudah keliru dan tidak benar, tidakkah akan mustahil jika ia disuruh mempersembahkan diri? Kita harus tahu bahwa Tuhan yang bermurah hati kepada kita, Tuhan yang merahmati kita, Tuhan yang mengasihi kita, Tuhan yang menolong kita, karena itulah kita wajib mempersembahkan segalanya kepada-Nya.
Ajaran-ajaran tentang konsikrasi dapat ditemukan baik dalam Perjanjian Baru maupun dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru, surat Roma 6 dan 12, mengungkapkan perihal konsikrasi. Kata-kata konsikrasi dalam Perjanjian Lama, khususnya ditujukan kepada Harun beserta keluarganya. Kitab Keluaran 28, 29 dan kitab Imamat 8, membahas bagaimana Harun bersama sekeluarganya dipersembahkan (Ditahbiskan dalam bahasa aslinya berarti konsikrasi). Meskipun konsikrasi merupakan pengalaman dasar yang pertama atas pelayanan terhadap Allah, namun dalam firman Allah tidak banyak yang menyinggungnya secara langsung. Karena itu, jika ingin memahami apakah konsikrasi itu, perlu melihat dengan jelas firman Alkitab yang disebutkan di atas tadi.
I. DASAR KONSIKRASI
Dua Korintus 5:14-15 mengatakan, “Sebab kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Ayat ini dengan jelas memperlihatkan kepada kita bahwa sebagai anak-anak Allah kita telah dikuasai oleh kasih Kristus sehingga kita dapat hidup bagi Dia yang telah mati untuk kita. Kata “menguasai” dalam bahasa aslinya boleh diterjemahkan sebagai “ditekan dari semua sisi”. Jadi, kita ini ditekan dari semua sisi dalam kasih, sehingga kita tak berdaya melarikan diri. Hal ini dapat dirasakan kapan seseorang telah terjamah oleh kasih, sehingga membuatnya tak berdaya lagi. Dia telah mati bagi kita, maka sekarang wajiblah kita hidup bagi Dia. Inilah dasar konsikrasi kita. Oleh kasih Tuhan inilah baru manusia dapat melakukan konsikrasi. Tanpa merasakan kasih Tuhan, manusia tidak mungkin melakukan konsikrasi. Kapan seseorang tampak kasih Tuhan ini, niscaya konsikrasi merupakan akibat yang timbul dengan sendirinya.
Selain berdasarkan kasih Tuhan, konsikrasi juga berdasarkan hak Tuhan. Ini tercantum dalam 1 Korintus 6:19-20 “Bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” Tuhan telah membeli kita dengan harga pengorbanan nyawa-Nya. Jadi kita adalah orang-orang yang telah dibeli oleh Tuhan. Karena kita telah ditebus oleh Tuhan, maka hak milik atas diri kita telah beralih kepada Tuhan. Kita bukan lagi milik kita sendiri, melainkan milik Tuhan. Sebab itu, kita wajib memuliakan Allah dengan tubuh kita. Dengan harga pencucuran darah-Nya di atas salib, Tuhan telah menebus kita. Maka berdasarkan hak Tuhan itulah kita sudah seharusnya menjadi milik-Nya.
Kita harus tampak dengan jelas bahwa kita adalah orang-orang yang telah dibeli oleh Tuhan dengan harga yang paling tinggi. Tuhan membeli kita bukan dengan emas atau perak, tetapi dengan darah-Nya. Dalam hal ini terkandunglah kasih dan hak Tuhan. Oleh karena kasih Tuhan, kita memilih melayani Dia; oleh karena hak Tuhan, kita tak dapat tidak berjalan mengikuti-Nya. Baik dari segi hak maupun kasih yang timbul dari penebusan-Nya, semuanya membuat kita mempersembahkan diri kepada-Nya. Karena itu, dasar konsikrasi adalah hak juga kasih. Konsikrasi berdasarkan hak Tuhan dan kasih yang melampaui perasaan manusia. Karena dua alasan inilah, mau tidak mau kita harus menjadi milik Tuhan.
II. ARTI KONSIKRASI
Hanya tergerak oleh kasih atau hanya mengenal hak yang sah, itu belum berarti sudah melakukan konsikrasi. Kalau kita telah digerakkan oleh kasih Tuhan dan telah menyadari hak Tuhan, maka seharusnyalah kita melaksanakan sesuatu, memenuhi suatu prosedur, yakni menaruh diri kita pada kedudukan yang baru. Karena kita telah digerakkan oleh kasih Tuhan dan telah dibeli oleh Tuhan dengan harga yang mahal, maka wajarlah kita menyisihkan diri dari segala sesuatu sambil menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Inilah yang disebut konsikrasi. Inilah yang disebut “ditahbiskan” dalam Perjanjian Lama. “Pentahbisan” berarti menerima jabatan untuk melayani Allah. Jabatan ini kudus. Jadi, konsikrasi berarti menerima jabatan untuk melayani Allah. Pernyataan kita kepada Tuhan ialah, “Ya Tuhan, karena Engkau telah mengasihi aku, maka aku kini menyisihkan diri dari segala sesuatu untuk melayani Tuhan saja.”
III. ORANG YANG BERKONSIKRASI
Terlebih dulu mari kita lihat Keluaran 28:1-2; 29:1, 4, 9-10.
“Engkau harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagi-Ku — Harun dan anak-anak Harun, yakni Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar. Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, sebagai perhiasan kemuliaan.”
“Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela. Lalu kausuruhlah Harun dan anak-anaknya datang ke pintu Kemah Pertemuan dan haruslah engkau membasuh mereka dengan air. Kauikatkanlah ikat pinggang kepada mereka, kepada Harun dan anak-anaknya, dan kaulilitkanlah destar itu kepada kepala mereka, maka merekalah yang akan memegang jabatan imam; itulah suatu ketetapan untuk selama-selamanya. Demikianlah engkau harus mentahbiskan Harun dan anak-anaknya. Kemudian haruslah kaubawa lembu jantan itu ke depan Kemah Pertemuan, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan itu.”
Setelah membaca ayat-ayat di atas, tentunya kita tampak bahwa konsikrasi adalah satu perkara yang sangat khusus. Seluruh umat Israel merupakan satu negara pilihan Allah (Kel. 19:5-6). Akan tetapi, seluruh umat Israel bukan merupakan negara yang berkonsikrasi.
Bani Israel terdiri dari 12 suku, namun bukan setiap suku bisa menerima “pentahbisan”. Dari 12 suku itu, Allah hanya memilih suku Lewi (Bil. 3:11-13). Di antara suku Lewi, hanya keluarga Harun yang bisa menerima “pentahbisan”. Jadi tidak keseluruhan dari bani Israel yang bisa menerima pentahbisan, tidak pula seluruh suku Lewi, melainkan hanya keluarga Harun yang bisa menerima “pentahhisan”. Jadi hanya orang milik keluarga ini yang bisa melakukan konsikrasi. Jika bukan orang dalam keluarga ini, ia tidak bisa berkonsikrasi. Hanya orang dalam keluarga Harun yang sebagai imam, baru bisa berkonsikrasi.
Syukur kepada Allah, hari ini kita adalah anggota keluarga ini. Orang yang percaya Tuhan adalah orang dalam keluarga ini. Semua orang yang beroleh karunia keselamatan adalah imam (Why. 1:5-6). Allah telah memilih kita untuk dijadikan imam. Dulu, hanya keluarga Harun yang boleh melaksanakan konsikrasi. Orang lain yang masuk ke dalam tempat konsikrasi akan dihukum mati (Bil. 18:7). Ingatlah, hanya imam-imam yang dipilih Allah, dan orang-orang yang termasuk keluarga inilah yang boleh melaksanakan konsikrasi. Hari ini, Allah justru telah memilih kita untuk menjadi imam-imam; kita adalah orang-orang dalam keluarga ini; kita adalah orang-orang yang dapat berkonsikrasi.
Ada satu hal lagi yang wajib kita ketahui, yaitu bukan manusia yang memilih Allah, kemudian melakukan konsikrasi; melainkan Allah yang memilih manusia dan menghendakinya melakukan konsikrasi. Siapa saja yang telah mengesampingkan dirinya untuk melayani Allah, lalu menganggap bahwa dengan ini ia telah memberi prioritas kepada Allah, ia adalah orang yang di luar pintu, bukan orang yang berkonsikrasi. Ketahuilah, bukan Anda yang menghargai atau menghormati Allah, lalu melayani Dia; juga bukan Anda yang membawakan diri Anda untuk melakukan pekerjaan Tuhan, melainkan Allah yang bermurah hati kepada Anda, sehingga Anda diberi bagian dalam pekerjaan Allah.
Allahlah yang mengaruniai Anda kemuliaan dan keelokan. Alkitab memberi tahu kita bahwa pakaian kudus yang dikenakan imam adalah untuk kemuliaan dan keindahan (Kel. 28:2). Konsikrasi adalah Allah memberi kemuliaan dan keelokan kepada Anda, Allah memilih dan mengizinkan Anda melayani Dia. Kita seakan-akan boleh bermegah bahwa kita memiliki Tuhan yang demikian! Tuhan mempunyai seorang hamba seperti aku ini, apa yang mengherankan? Yang mengherankan justru aku telah memiliki Tuhan yang demikian ini! Kita harus tampak bahwa konsikrasi berarti kita terpilih. Orang yang dapat melayani Allah adalah orang-orang yang beroleh kehormatan dari Allah. Sekali-kali bukan kita yang meninggikan Allah, seolah-olah kita telah mengorbankan apa-apa bagi-Nya, atau seolah-olah kita memiliki suatu kemuliaan. Konsikrasi adalah Allah mengaruniai kita kemuliaan. Kita wajib berlutut sambil berkata, “Syukur kepada Allah, karena aku mendapat bagian dalam melayani Allah. Betapa banyaknya orang di dunia ini, tetapi aku, orang yang demikian ini bisa beroleh bagian!” Konsikrasi berarti kita yang dijunjung tinggi oleh Allah, sekali-kali bukan kita yang berkorban. Memang kita harus berkorban sebesar-besarnya, tetapi dalam konsikrasi tidak ada rasa kurban, melainkan penuh dengan rasa dimuliakan oleh Allah.
IV. JALAN KONSIKRASI
Dalam kitab Imamat 8:14-28, mengisahkan seekor lembu jantan, dua ekor domba jantan dan sebakul roti. Lembu jantan untuk kurban tebusan dosa, domba jantan yang pertama untuk kurban bakaran, sedang domba jantan yang kedua serta roti dalam bakul untuk kurban pentahbisan.
1. Kurban Penebusan Dosa
Orang yang ingin menerima pentahbisan suci di hadapan Allah, ingin berkonsikrasi kepada Allah, maka persoalan yang pertama ialah tentang penebusan dosa. Ini sudah sepatutnya. Jadi, orang yang berkonsikrasi itu pasti adalah orang yang sudah beroleh selamat dan telah menjadi milik Tuhan. Kurban Penebusan dosa adalah dasar konsikrasi.
2. Kurban Bakaran
Selanjutnya diperlihatkan kepada kita dua ekor domba jantan. Kita perlu membaca dengan teliti kitab Imamat 8:18-28. Kedua domba ini, seekor dijadikan kurban bakaran, seekor lainnya dijadikan kurban pentahbisan, yang membuat Harun sejak saat itu dapat melayani Allah.
Kurban atau persembahan bakaran itu adalah suatu persembahan yang dibakar sampai habis. Daging dari persembahan ini tidak boleh dimakan oleh imam, ia harus dibakar sampai habis. Kurban penebusan dosa sekadar menanggulangi dosa kita, sedang kurban bakaran membuat kita diperkenan di hadapan Allah. Penanggulangan dosa di atas salib yang dilakukan Tuhan Yesus bagi kita ditujukan kepada pekerjaan-Nya sebagai kurban penebusan dosa; sedang di atas salib Tuhan membelah tirai dari atas ke bawah ditujukan kepada pekerjaan-Nya sebagai kurban bakaran, yang membawa kita memasuki tempat yang maha kudus. Titik tolak kedua persembahan tersebut adalah sama, namun tujuannya berbeda. Kedua kurban itu dimulai dari orang dosa, tetapi kurban penebusan dosa berhenti pada penebusan dosa saja, sedang kurban bakaran membawa orang dosa ke hadapan Allah dan diperkenan oleh-Nya.
Jadi kurban bakaran adalah kurban yang menyebabkan orang beroleh perkenan Allah di dalam Putra kesayangan-Nya. Kurban ini lebih maju daripada kurban penebusan dosa. Kurban bakaran juga berarti Tuhan sebagai bau-bauan wangi yang diperkenan oleh Allah, yang kini kita mempersembahkan-Nya ke hadapan Allah, sehingga Allah berkenan menerima kita. Kita tidak saja mendapat pengampunan demi kurban penebusan dosa, kita pun mendapat perkenan demi Tuhan Yesus.
3. Kurban Pentahbisan
Setelah seekor domba jantan itu disembelih, masih perlu menyembelih yang seekor lainnya.
a. Pembubuhan Darah
Apakah yang harus dilakukan setelah domba jantan yang kedua itu disembelih? Pertama-tama, darah domba itu dibubuhkan pada cuping telinga kanan, ibu jari tangan kanan dan jari kaki Harun beserta anak-anak-nya. Ini berarti setelah aku diperkenan oleh Allah di dalam Kristus, kini aku harus mengakui bahwa darah telah menyisihkan aku bagi Allah — telinga, tangan, dan kakiku bagi Allah. Aku wajib berdiri di atas kedudukan di mana telinga, tangan, dan kakiku semuanya menjadi milik Allah. Oleh karena penebusan-Nya, maka telingaku harus kupakai untuk mendengar suara Allah; tanganku harus kupakai untuk bekerja bagi Allah; kakiku harus kupakai untuk berjalan bagi Allah. Dengan membubuhkan darah pada cuping telinga kanan, maupun jari tangan kanan dan jari kaki kanan itu, aku menyatakan bahwa telinga, tangan dan kakiku semua telah dibeli dan menjadi milik Tuhan. Sewajarnyalah kita berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, karena penebusan-Mu, maka sejak kini telinga, tangan, dan kakiku semuanya bukan milikku lagi, melainkan milik-Mu; bahkan seluruh diriku adalah milik-Mu, bukan milikku.”
Darah adalah pertanda hak dan pertanda kasih. “Harga tunai” dalam 1 Korintus 6 tak lain ialah darah ini; sedang “kasih” dalam 2 Korintus 5 juga darah ini. Karena ada darah, ada kasih dan ada hak, maka seluruh diriku bukan lagi milikku. Tuhan telah mengalirkan darah-Nya, aku harus mengakui hak darah ini atas diriku. Ia mengasihi aku, aku pun wajib mengakui bahwa segenap diriku adalah milik-Nya.
b. Kurban Timangan
Setelah dibubuhi darah, menyusullah kurban timangan. Perhatikan, walaupun domba kedua sudah disembelih, darah sudah dibubuhkan pada cuping telinga, jari tangan dan kaki, namun saat itu masih belum terhitung sebagai konsikrasi. Semua itu hanya merupakan dasar konsikrasi. Pembubuhan darah baru berarti mengakui kasih itu, dan hak itu, yang memungkinkan kita melakukan konsikrasi; namun konsikrasinya sendiri masih berada di bawahnya.
Setelah domba jantan yang kedua disembelih dan darahnya dibubuhkan, kemudian diambillah paha kanan domba beserta lemaknya, di samping itu diambil pula roti dari dalam bakul, satu roti bundar yang tak beragi, satu roti bundar yang diolah dengan minyak, dan satu roti tipis. Semua benda itu mengibaratkan dua aspek Tuhan Yesus. Paha adalah bagian yang kuat. Paha domba mengibaratkan segala perkara pada aspek keilahian Tuhan. Lemak menunjukkan sesuatu yang tambun dan indah, ini mengacu kepada perkara-perkara pada aspek kemuliaan Allah. Sedang roti mengacu kepada sifat manusia-Nya yang paling luhur itu. Dia adalah roti yang tidak beragi, manusia yang sempurna, tanpa cacat dan cela. Dia penuh dengan minyak urapan, penuh dengan Roh Kudus. Sifat, perasaan hati, dan kesadaran rohani-Nya sangat halus, seperti roti yang tipis; kalau terbentur sedikit saja, segera pecah; Ia penuh dengan perasaan dan simpati. Semua itu ditaruh di tangan Harun untuk ditimang-timang di hadapan Allah, kemudian ditambahkan ke atas kurban bakaran serta dibakar habis. Inilah yang disebut konsikrasi.
Di sini perlu ditambahkan sedikit penjelasan. Istilah “ditahbiskan” dalam bahasa Ibrani berarti “tangan dipenuhi”. Demikian pula keterangan yang terdapat dalam Alkitab terjemahan J.N. Darby dan dalam Konkordansi Robert Young. Tadinya tangan ini kosong, sekarang dipenuhi sesuatu. Tatkala tangan Harun dipenuhi sebanyak itu, berarti saat itulah ia dipenuhi oleh Tuhan, itulah saat konsikrasi. Jika tangan Harun masih kosong, tiadalah konsikrasi. Namun saat tangan Harun penuh sehingga tidak bisa memegang benda lain kecuali Tuhan, barulah itu disebut konsikrasi
Jadi, apakah konsikrasi itu? Yaitu Allah menghendaki Harun sekeluarga menjadi imam yang melayani Dia. Akan tetapi Harun tidak boleh datang dengan sembarangan. Dosanya harus ditanggulangi terlebih dulu, dan ia wajib diperkenan di dalam Kristus, bahkan tangannya (tangan menandakan bekerja) harus penuh dengan Kristus. Tidak ada yang lain kecuali Kristus, sampai saat inilah baru disebut konsikrasi. Jadi, apa konsikrasi? Singkatnya, seperti yang dikatakan oleh Paulus, “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati” (Rm. 12:1).
Anda harus datang ke hadapan Tuhan dan melihat bahwa seumur hidup Anda hanya menempuh satu jalan, yakni melayani Allah. Aku tiada jalan lain kecuali melayani Allah. Demi untuk melayani Allah, aku mempersembahkan segenap tubuhku. Mulai sekarang dan seterusnya, telingaku mendengar untuk Tuhan, tanganku bekerja untuk Tuhan, kakiku berjalan untuk Tuhan. Dua telingaku ini untuk mendengar suara Tuhan, dua tanganku ini hanya menggarap pekerjaan Tuhan, dua kakiku ini hanya menempuh jalan Tuhan. Aku di sini hanya untuk melayani Allah. Aku persembahkan seluruh diri seolah kurban persembahan bagi-Nya. Dan maju selangkah lagi, kedua tanganku penuh dengan Kristus dan menjunjung tinggi Kristus. Kedua tanganku memperlihatkan Kristus, tindakan inilah yang disebut konsikrasi. Saat inilah Allah memandang itu sebagai konsikrasi. Yang penuh dengan Kristus inilah disebut Allah sebagai konsikrasi.
Jadi, konsikrasi itu adalah aku terjamah oleh kasih Tuhan, aku juga tampak hak Tuhan; berdasarkan dua faktor itu, aku datang ke hadirat Allah, mohon diperkenankan melayani Dia. Bukan sekadar aku dipanggil oleh Allah, tetapi juga aku sendiri mohon untuk melayani Dia. Aku berkata, “Ya Allah, aku kini milik-Mu, aku ini orang belian-Mu. Dulu aku mengharapkan di bawah meja-Mu, mengharapkan remah-remah roti yang terjatuh, namun sejak saat ini, aku ingin melayani Tuhan. Hari ini aku memilih melayani Engkau. Aku telah diperkenan bersandarkan Tuhan, sekarang perbolehkan aku mohon belas kasihan-Mu, kiranya oleh karena Tuhan pula, aku diperkenankan mengambil bagian dalam perkara yang mulia, yaitu melayani Engkau. Tatkala banyak orang diselamatkan, Engkau tidak melewatkan aku, Engkau tidak membiarkan aku, Engkau telah menyelamatkan aku juga; maka perbolehkanlah aku mengambil bagian di antara orang-orang yang melayani Engkau, jangan lewatkan aku!”
Begitulah Anda meletakkan diri di hadirat Tuhan, semuanya bagi Kristus. Tindakan penyerahan yang demikian inilah dinamakan konsikrasi. lnilah persembahan seluruh tubuh yang tercantum dalam Roma 12. Roma 6 mencantumkan persembahan anggota tubuh, ini sama seperti pembubuhan darah pada telinga, tangan, dan kaki. Roma 12 mengungkapkan persembahan seluruh tubuh, ini sesuai dengan ungkapan yang berbunyi, tangan penuh dengan Kristus. Demikianlah Perjanjian Lama berpadu dengan Perjanjian Baru.
V. TUJUAN KONSIKRASI
Tujuan konsikrasi bukanlah berkhotbah bagi Allah atau bekerja bagi Allah, melainkan melayani Allah. Jadi, tujuan konsikrasi adalah pelayanan. Istilah konsikrasi menurut bahasa aslinya mengandung makna melayani. Ingatlah, tujuan konsikrasi ialah melayani Allah. Melayani berarti berbuat menurut kehendak-Nya; melayani belum tentu selalu sibuk bekerja. Kalau Dia menyuruh berdiri, maka berdirilah. Kalau Dia menyuruh Anda berdiri saja di samping, maka berdirilah di samping. Kalau Dia menyuruh Anda berlari, maka berlarilah, itulah melayani.
Allah menghendaki agar semua orang Kristen mempersembahkan tubuhnya untuk melayani Dia. Belum tentu naik ke atas mimbar, belum tentu menuju ke daerah rawan atau perbatasan untuk menginjil di sana, melainkan melayani Allah. Ada yang ditugaskan Allah ke atas mimbar, tak boleh tidak. Ada yang ditugaskan Allah ke daerah yang rawan atau perbatasan, maka ia wajib ke sana, tak boleh tidak. Seluruh waktu bagi Allah, tetapi untuk pekerjaan apa, tidaklah tertentu. Semuanya melayani, namun untuk pekerjaan apa, tidaklah tertentu. Anda wajib belajar melayani Allah, Anda mempersembahkan tubuh Anda justru untuk menjadi orang yang melayani Allah.
Kecuali kita tidak mau menjadi orang Kristen. Kalau menjadi orang Kristen, hendaklah seumur hidup kita melayani Allah. Begitu seseorang melaksanakan konsikrasi, saat itu pula ia perlu tampak bahwa sejak detik itu dan seterusnya, tuntutan Tuhan yang pertama ialah melayani Allah sebagai jalan yang harus ditempuh sepanjang hidupnya. Semoga Allah merahmati kita, sehingga melihat bahwa melayani Allah adalah kewajiban kita. Semua orang yang percaya Tuhan hendaklah tampak bahwa sejak kini mereka harus melayani Allah. Kita perlu dibawa ke suatu tingkat sehingga tercelik bahwa setelah kita menjadi orang Kristen, maka segalanya tidak boleh sembarangan lagi. Ini bukan berarti kita tidak perlu bekerja dengan setia, tidak perlu bekerja dengan sungguh-sungguh dan boleh dengan santai pergi ke sana sini. Itu bukan yang saya maksudkan. Kita tetap perlu bekerja dengan setia dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Hanya kita perlu tahu di hadapan Allah: seumur hidupku ini berjalan pada jalan melayani Allah, segalanya adalah untuk melaksanakan kehendak Allah, untuk mencari perkenan Allah. lnilah realitas konsikrasi.
Jadi, konsikrasi bukanlah melihat berapa banyak orang memberi sesuatu kepada Allah; konsikrasi adalah kita telah diperkenan di hadirat Allah, dan Allah mengizinkan kita melayani Dia. Konsikrasi adalah khusus bagi orang Kristen, bukan siapa saja boleh. Hanya orang yang telah dirahmati, orang yang telah dimiliki oleh Tuhan, baru bisa melakukan konsikrasi. Konsikrasi berarti, “Ya Tuhan karuniailah aku kesempatan dan hak istimewa, agar aku boleh datang ke hadirat-Mu untuk melayani-Mu.” Konsikrasi juga berarti, “Aku ini milik-Mu, ya, Tuhan. Telingaku telah dibeli oleh darah, adalah milik Tuhan. Tanganku telah dibeli oleh darah, adalah milik Tuhan. Kakiku telah dibeli oleh darah, adalah milik Tuhan. Sejak kini dan seterusnya, aku tidak bisa memakainya untuk diri sendiri lagi.”
Kita bukan mohon atau meminta orang melakukan konsikrasi, melainkan memberi tahu orang bahwa di sini ada sebuah jalan yang memperbolehkan kita melakukan konsikrasi, ada sebuah jalan yang memperbolehkan kita melayani Allah. Di sini ada jalan yang memperbolehkan Anda melayani TUHAN Penguasa alam semesta. Kita harus jelas bahwa kita melayani “TUHAN Penguasa alam semesta”. Kalau mengira dengan konsikrasi kita telah mengistimewakan Allah, itu salah besar.
Dalam Perjanjian Lama, Allah dengan sangat jelas menunjukkan bahwa selain Allah mengizinkan, barulah orang bisa menjalani konsikrasi. Dalam Perjanjian Baru juga berkata: berdasarkan rahmat dan kemurahan Allah. Allah demikian mengasihi Anda, maka selayaknyalah Anda mempersembahkan diri Anda. Ini bukan permohonan tetapi hal yang sewajarnya, sudah sepatutnya. Konsikrasi bukanlah persoalan mau atau tidak. Kita bisa berkonsikrasi berarti karunia Allah yang betapa besar. Kiranya kita tercelik bahwa bisa mendapatkan hak sebagai hamba Allah, itu merupakan kemuliaan yang paling besar dalam seumur hidup kita. Beroleh selamat memang menggembirakan; namun bisa memperoleh bagian di dalam hal melayani Allah, perkara ini betapa besar! Coba pikirkan, siapakah Allah kita itu? Anda perlu tampak kebesaran-Nya, Anda perlu tampak kemuliaan-Nya, barulah Anda paham betapa besar dan mulianya perkara pelayanan ini. Kita diberi karunia sehingga boleh melayani Dia, sungguh besar perkara ini!