Daftar isi Dua Belas Bakul (10) · bab 4/12

Pengampunan Dosa dan Pengakuan Dosa

Pengampunan Dosa Berasal dari Allah

Perkara mengampuni dosa adalah keinginan hati Allah. Allah mengasihi manusia, Allah senang mengampuni dosa manusia. Karena itu sejak manusia berbuat dosa, Allah sudah memikirkan cara untuk menebus dosa.

Dalam Perjanjian Lama, Allah memakai lembu, domba, dan barang-barang lain untuk pengampunan dosa bagi manusia. Sampai Perjanjian Baru, Allah menetapkan Tuhan Yesus -- Dia adalah Anak Domba Allah -- sebagai korban penebus dosa, agar melalui satu kali persembahanNya, manusia mendapatkan penebusan dosa sampai selama-lamanya. Dari sudut pandangan Allah, pencurahan darah Tuhan Yesus di kayu salib, mutlak telah membereskan persoalan dosa manusia. Tetapi dari sudut pandangan manusia, masih harus ditambah satu syarat lagi yaitu "percaya." Barangsiapa percaya pengaliran darah Tuhan Yesus adalah untuk dosanya, dia mendapatkan penebusan, dosanya mendapatkan pengampunan. Barangsiapa tidak percaya, dia tetap binasa, dan akan masuk ke dalam neraka. Karya penebusan dosa ini sudah genap, berasal dari Allah dan diprakarsai oleh Allah. Karya ini adalah pekerjaan yang ingin Allah kerjakan. Sewaktu Allah melaksanakannya, la bahkan mengorbankan AnakNya yang tunggal yang Ia kasihi. Betapa besar harga yang Allah keluarkan! Karena itu, hal mengampuni dosa manusia, menebus dosa manusia, bagi Allah tidak menjadi masalah. Hai orang dosa, apakah Anda masih takut dosa Anda tidak bisa mendapatkan pemberesan? Apakah Anda takut dosa Anda tidak bisa mendapatkan pengampunan? Allah mau mengampuni Anda, Allah senang mengampuni Anda, Allah bahkan telah mengeluarkan harga yang sangat besar untuk mengampuni Anda.

Allah Bisa Mengampuni Segala Dosa Manusia

Begitu seorang dosa percaya darah Tuhan Yesus di salib adalah untuk pengampunan dosanya, saat itu juga dia mendapatkan pengampunan. Satu orang yang sudah percaya, jika dia tidak hati-hati dan melakukan suatu dosa, asal dia mau dengan tulus hati bertobat, mengakuinya di hadapan Allah, dia juga pasti mendapatkan pengampunan dosa (I Yohanes 1:8). Harga darah yang Tuhan Yesus alirkan sangatlah besar, bisa mengampuni segala dosa manusia, mencuci bersih segala ketidakbenaran manusia. Karena itu tidak peduli dosa itu dosa orang yang belum percaya atau orang yang sudah percaya, Tuhan sanggup membereskannya.

Allah Selamanya Mengampuni Dosa Manusia

Pernah sekali Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, bahwa ia harus mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali. Artinya, ia harus selalu mengampuni orang, selamanya mengampuni orang; asal seseorang mau berpaling, bertobat, tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni. Kalau Tuhan bisa mengajarkan perkataan yang penuh kasih karunia ini kepada Petrus, apakah diri Tuhan sendiri tidak bisa melaksanakannya? Tentu tidak. Tuhan pasti mengampuni dosa orang yang mau bertobat dan bersedih atas dosanya, bahkan selamanya mengampuni dosanya.

Allah Mengampuni Dosa Manusia

Adalah Tanpa Bekas

Banyak orang mengira, bahwa orang yang berbuat dosa itu seperti orang yang salah menulis; dan mengampuni dosa seperti menutupi tulisan yang salah itu, sehingga di sana masih tertinggal suatu bekas atau suatu jejak. Ketahuilah, pengampunan dosa bukanlah demikian. Darah Tuhan Yesus mencuci bersih dosa manusia. Apakah artinya mencuci bersih? Mencuci bersih berarti mencuci sedemikian rupa, sehingga sedikitpun tidak ada noda lagi, seperti sediakala, yaitu seperti sebelum berbuat dosa, seperti Kristus yang kudus. Yesaya 1:18 mengatakan, "Firman Tuhan -- sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwama merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." Lihatlah salju dan bulu domba yang putih, padanya tidak ada noda merah sedikitpun. Semua dosa manusia yang dibasuh oleh Allah, pasti tidak meninggalkan bekas atau noda apapun.

Hati Allah yang Mau Mengampuni Dosa Manusia,

Melebihi Hati Manusia yang Ingin Mendapatkan Pengampunan Dosa

Perkara yang dilakukan oleh bapa terhadap anak yang hilang dalam Lukas pasal 15, benar-benar membuat kita mengenal bagaimana hati Allah Bapa yang di surga terhadap pengampunan dosa manusia. Ketika anak hilang masih dalam perjalanan pulang ke rumahnya, begitu dilihat oleh bapanya, bapanya segera berlari menyambut anak yang hilang ini. Bapa yang tua ini bukan menyambut dengan berjalan secara perlahan-lahan, melainkan berlari menyongsongnya. Karena begitu mendalam kasih bapa terhadap anaknya, maka berjalan baginya terlalu pelan, dia tidak bisa tidak berlari mendapatkannya. Hari ini, begitu orang dosa berpaling kepada Allah, maka "kaki" pengampunan dosa Allah segera berlari menyongsongnya, Dia sangat mengharapkan secepat mungkin mengampuni dosa manusia. Apakah anak yang hilang itu yang berlari kepada bapanya? Tidak. Anak yang hilang tidak berlari. Dari dua tindakan bapa dan anak ini, kita tampak, bahwa hati bapa yang mau mengampuni anaknya melebihi hati anak yang ingin mendapat pengampunan. Jika kita melihat kisah selanjutnya, ciuman bapa kepada anaknya, pelukan bapa terhadap anaknya, semuanya memberitahu kita, bahwa orang dosa yang berpaling kepada Allah sangat diperkenan Allah, sangat disenangi oleh Allah. Meskipun di sana sang anak membenci dosa yang telah ia lakukan, merasa telah berdosa terhadap bapa, telah berdosa terhadap surga, dan mau mengakui dosanya kepada bapanya, tetapi karena begitu mendalam kasih bapa terhadapnya, sang bapa tidak tahan lagi, dia tidak bisa menunggu sampai sang anak menyelesaikan pengakuan dosanya (perhatikan: perkataan pengakuan dosa yang dipersiapkan sang anak dalam Lukas 15:18-19 ada lima kalimat, namun dalam ayat 21 hanya sempat diucapkan empat kalimat, karena telah diputus oleh bapanya,) sang bapa segera menyuruh hamba-hambanya mengambil jubah yang terbaik, cincin yang terbaik, sepatu yang terbaik, dan mengenakannya kepadanya. O, hati Allah Bapa kita yang di surga yang rela mengampuni dosa kita, melebihi hati kita yang ingin mendapatkan pengampunan dosa. Tidak perlu menunggu sampai kita menangis selama tiga hari tiga malam, mengaku dosa dan mengaku lagi, baru kita mendapatkan pengampunan. Sering kali kita selalu mengaku dan mengaku, menangis dan menangis lagi, mengira bahwa diri sendiri harus dipukul sehingga hancur dan terluka baru bisa mendapatkan pengampunan dosa. O, kita telah salah paham terhadap hati Allah, bahkan telah melukai hatiNya. Ketahuilah, kasihNya terhadap orang yang dibeliNya, jauh melebihi kasih kita terhadap diri kita sendiri. Dia sangat ingin mengampuni kita, Dia "berlari" untuk mengampuni kita, Dia tidak menunggu kita selesai mengaku dosa, Dia sudah mengampuni kita!

Adakalanya, jika seorang anggota keluarga Anda yang Anda kasihi bersalah kepada Anda, bukankah Anda juga menunggu dan siap mengampuni dia? Begitu dia mau dengan hati tulus mengaku salah kepada Anda, atau memberi hadiah sebagai ganti rugi kepada Anda, bukankah Anda segera mengampuninya? O, di mana ada kasih, di sana ada hati yang mengampuni orang. Kalau yang terjadi di antara manusia saja sudah demikian, apa lagi dengan Allah Bapa yang di surga yang penuh dengan rahmat dan belaskasihan, bukankah la akan sampai selama-lamanya mengampuni dosa manusia?

Allah Tidak Bisa Tidak Mengampuni Dosa Manusia

Allah mengutus Tuhan Yesus datang ke bumi, bagi dosa manusia mengalirkan darah di kayu salib, untuk membereskan dosa manusia. Ini mutlak dikarenakan hati Allah yang penuh kasih. Tuhan Yesus telah mengalirkan darah adiNya, Allah sendiri bersaksi bagiNya: orang yang percaya, dosanya diampuni; orang yang mengaku dosa, dosanya dibasuh bersih. Asal percaya (jika Anda adalah seorang dosa), asal, mengaku (jika Anda seorang imani), Allah tidak bisa tidak mengampuni dosa Anda. Kalau tidak, Allah tidak bisa dipercaya, Allah bukanlah Allah yang adil. Tetapi dengan sangat khidmat kami akan berkata, "Bagaimana mungkin Allah yang Mahakudus tidak bisa dipercaya dan tidak adil?" Karena itu, bagaimanapun pengampunan dosa ini sudah merupakan satu perkara yang ada jaminannya. Kita harus bersukacita karena Allah, dosa tidak lagi bisa menjadi tuan di atas diri kita, kita bisa terlepas dari dosa, bisa mendapat pengampunan dosa.

Kasih Karunia Pengampunan Allah Akan Membimbing Orang Bertobat

Setiap kebenaran Allah beraspek dua. Yang kita katakan di atas, khusus menekankan pada aspek kasih karunia, hal ini sangat asal seseorang terpelihara di dalam kasih karunia Allah, ia boleh dengan penuh kelegaan tidak lagi khawatir terhadap persoalan "pengampunan dosa." Tetapi jika orang menganggap karunia Allah itu boIeh dengan seenaknya diboroskan, boleh "tetap hidup dalam dosa, agar kasih karunia Allah lebih ternyata," orang yang demikian harus memperhatikan kalimat selanjutnya, karena kalimat ini sangat serius. Allah berkata, "Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasanNya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahanNya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahanNya; . : . " (Roma 11:22).

Ada orang berkata, "Aku setiap hari berbuat dosa dengan bersembunyi di bawah darah adi Tuhan." Ada juga yang berkata, "Pada pagi hari aku berbuat dosa, pada malam hari aku datang ke hadapan Allah untuk mengaku dosa. Begitu aku mengaku dosa, dosaku diampuni. Esok harinya kembali berbuat dosa, malamnya kembali mengaku dosa, kembali mendapatkan pengampunan dosa. Kalau Tuhan Yesus pernah mengajar Petrus untuk mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali, tentu Dia pun harus mengampuni dosaku. Apalagi jika dilihat dari I Yohanes 1:9, Allah itu setia dan adil, Dia akan karena kematian penggantian Tuhan Yesus di salib tidak dapat tidak mengampuni dosaku. Walaupun dosa itu adalah dosa yang sudah pernah aku akui di hadapan Allah."

Hai orang yang bodoh! Ketahuilah, kasih karunia Allah adalah untuk membimbing Anda bertobat, bukan untuk mendorong Anda berbuat dosa. Jika Anda bermotivasi bahwa darah adi bisa Anda boroskan dengan sembarangan sesuai dengan kemauan Anda, darah adi selamanya tidak mungkin membasuh dosa yang Anda "akui secara demikian."

Syarat Orang Kristen Mendapat Pengampunan Dosa

Sekarang marilah kita berdasarkan Alkitab menjawab pertanyaan ini. Mari kita melihat I Yohanes 1:7: "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."

Ayat Alkitab ini menampakkan kepada kita satu syarat dan dua hasil. Jika telah ada satu syarat ini, pasti akan mendapatkan dua hasil. Syarat apakah yang tercantum di sini? Yaitu "jika kita hidup dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang." Ini berarti, jika kita (orang Kristen) hidup di dalam terang, atau dengan kata lain, kita hidup di dalam sorotan terang, maka kita tidak akan hidup di dalam kegelapan, tidak berbuat dosa; memiliki perbuatan terang, tidak memiliki perbuatan dosa kegelapan. Terang di sini adalah terang yang bagaimana? Atau, terang pada taraf yang bagaimana? Di sini dikatakan, "Sama seperti Dia ada di dalam terang." Menurut ayat 5, "Allah adalah terang," di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. (catatan: semua terang yang lain bercampur dengan gelap). Jadi hidup di dalam terang di sini adalah hidup di dalam terang Allah. Jika demikian, kita pasti mendapatkan dua hasil: pertama adalah "Kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain," inilah persekutuan di antara saudara saudari di dalam Tuhan. Setelah memiliki taraf yang di atas, dapatlah saling bersekutu. Jika tidak bisa saling bersekutu, pasti terhadap syarat di atas ada masalah. Tidak saja demikian, masih ada hasil yang kedua, yaitu "Darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." Jadi di sini berarti, setelah memiliki syarat "Hidup di dalam terang," maka pembasuhan dosa kita oleh darah adi akan berkhasiat. Sekarang kita telah melihat dengan jelas, "saling bersekutu" dan "pembasuhan dosa oleh darah adi," selalu mengikuti syarat "hidup di dalam terang." Orang Kristen yang tidak "hidup di dalam terang," akan kehilangan faedah "saling bersekutu" dan "mendapatkan pengampunan dosa." Sebaliknya, orang yang ingin memiliki persekutuan dan ingin mendapatkan pembasuhan dosa oleh darah, ia harus hidup di dalam terang. Jika tidak, meskipun dia ingin bersekutu, tidak akan bisa; ingin mendapatkan pembasuhan, juga tidak mungkin.

Hasil yang pertama -- persekutuan -- merupakan hal yang kelihatan, bisa dialami di bumi, dan terlihat di hadapan manusia. Hasil yang kedua -- pencucian darah adi -- merupakan hal yang tidak kelihatan, adalah satu fakta di surga, dan di hadapan Allah. Sebagaimana yang kelihatan di bumi adalah satu fakta, yang tidak kelihatan (yang di surga) juga adalah satu fakta. Karena itu, jika Anda sebagai seorang imani yang berdosa, yang di bumi ini tidak bisa dengan wajar bersekutu dengan saudara saudari lainnya, begitu melihat saudara saudari dalam Tuhan segera menyembunyikan diri, tidak ingin menemui mereka; dengan sangat serius saya berkata kepada Anda, "Anda adalah orang dosa yang hidup di dalam kegelapan. Begitu Anda kehilangan persekutuan dengan kaum saleh lainnya, maka khasiat penyucian darah adi Tuhan, di hadapan Allah di surga, tidak akan menimpa diri Anda." Sebagaimana Anda kehilangan hasil pertama karena Anda tidak hidup di dalam terang, maka hasil yang kedua pasti juga tidak akan Anda dapatkan. Meskipun Anda bisa di dalam mulut mengakui dosa Anda, tetapi darah adi tidak membasuh bersih dosa Anda itu. Ini bukan berarti bahwa darah adi telah kehilangan kekuatan pembasuhannya, melainkan karena keadaan Anda -- tidak hidup di dalam terang, -- tidak memenuhi syarat pembasuhan dosa oleh darah adi. Syarat pembasuhan dosa adalah "hidup di dalam terang," namun di sini Anda terus-menerus berbuat dosa, terus hidup di dalam kegelapan, karena itu darah adi tidak bisa membasuh dosa Anda; darah adi hanya bisa membasuh dosa orang yang "hidup di dalam terang."

Karena itu saudara saudari, janganlah menipu diri sendiri. Jika Anda berbuat dosa, jatuh, kehilangan persekutuan yang kelihatan, saya khawatir di dalam surga yang tidak kelihatan, darah juga tidak membasuh bersih dosa Anda. Izinkan saya memberitahu Anda, bahkan dengan sangat berat memberitahu Anda, "Jika Anda tidak mau dengan hati yang sedih, remuk, penuh penyesalan sungguh-sungguh menanggulangi dosa Anda, kelak di hadapan takhta pengadilan Kristus, Anda masih harus mengadakan perhitungan ini." Karena itu, hanya ada pengakuan di mulut, tetapi tidak ada tindakan "hidup di dalam terang," dengan satu hati yang bersedih dan bertobat (Mazmur 51:19), dosa ini pasti tidak mendapatkan pembasuhan.

Sekarang yang saya bahas adalah khusus tentang satu syarat ini, yaitu "hidup di dalam terang." Karena syarat ini telah sangat diabaikan oleh sekelompok orang yang dengan sembarangan memboroskan darah adi, (sebenarnya darah adi tidak bisa mereka boroskan). Sebenarnya syarat ini adalah satu-satunya obat yang menyelamatkan bagi mereka. Itulah sebabnya saya ingin khusus memperhatikan hal ini. Berdasarkan Alkitab, seorang imani yang berbuat dosa dan ingin mendapatkan pengampunan dosa, sedikitnya ia memerlukan tiga syarat di bawah ini: (1) Hati -- Hati yang duka dan bertobat (Mazmur 51:19; dikatakan hati yang patah dan remuk). (2) Mulut -- Mulut yang mengaku dosa (I Yohanes 1:9). (3) Perbuatan -- Hidup di dalam terang (I Yohanes 1:7). Karena itu, jika ada orang yang merasa bahwa dirinya bisa bersembunyi di bawah darah adi Tuhan dan setiap hari berbuat dosa, atau dengan kata lain pada pagi hari berbuat dosa, malamnya mengaku dosa, lalu bisa mendapatkan pengampunan dosa, saya dengan serius dan tegas berkata kepada mereka, "Tidak ada perkara demikian." Allah tidak bisa dipermainkan. Begitu Anda hidup di dalam kegelapan, saat itu juga darah adi tidak bisa membasuh bersih Anda. Dalam keadaan yang begitu, darah adi tidak bisa menjadi kota perlindungan Anda, tidak bisa menjadi benteng perlindungan Anda. Jika Anda ingin mendapatkan pembasuhan darah adi, terlebih dahulu Anda harus hidup di dalam terang, tidak lagi sembarangan berbuat dosa.

Pengakuan dosa yang sejati, pasti bersandarkan maksud Allah sehingga bersedih, dan kesedihan ini akan menimbulkan suatu penyesalan/pertobatan yang tadinya tidak ada. Penyesalan ini memiliki tujuh pernyataan: (1) Kesungguhan yang besar, (2) Pembelaan diri, (3) Kejengkelan (membenci diri), (4) Ketakutan, (5) Kerinduan, (6) Kegiatan (kegairahan), (7) Penghukuman (II Korintus 7:11). Orang yang memiliki tujuh keadaan di atas, adalah orang yang benar-benar mengaku dosa. Kalau tidak, pengakuannya hanyalah merupakan pengakuan di mulut, bukan pengakuan dosa di hati; hanya ada pengakuan dosa di mulut, tetapi hatinya tidak membenci dosa itu. Sekali lagi saya katakan, "Darah adi tidak akan berkhasiat terhadap orang semacam ini."

Ada orang berbuat dosa, namun tetap membiarkan dosa itu membelenggu dia, karena dia merasa tahu cara untuk mendapatkan pengampunan dosa; atau dengan kata lain, dia tahu jalan untuk mendapatkan pengampunan dosa. Dia tahu apa yang dikatakan dalam I Yohanes 1:9, "Jika kita mengaku dosa kita, maka la adalah setia dan adil, sehingga la akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Dia mengira Tuhan Yesus telah mengalirkan darah adi baginya, dan darah adi ini bisa menyuci bersih dosanya. Bersamaan dengan itu Allahpun adalah Allah yang setia dan adil, jika orang mau mengaku dosanya, maka Allah pasti mengampuni semua dosanya, juga menyucikan semua kejahatannya. Lalu, karena dia merasa sudah memiliki jaminan perlindungan ini, maka dia boleh sedikit kendor, boleh sembarangan; dia merasa ada cara untuk mendapatkan pengampunan. Demikianlah dia lalu berbuat dosa. Begitu ia berbuat dosa, lalu mengaku dosa, bukankah semuanya beres. Oh! Orang yang demikian sangatlah berbahaya!

Saya pernah mendengar satu kisah: saudara A membuka surat saudara B. Setelah si A membuka surat itu, ia berkata kepada saudara B dan mengakuinya, "Memang membuka surat pribadi orang itu tidak benar, tetapi aku tahu engkau bisa memaafkan aku, karena itu aku membuka dan melihat suratmu." O! Inilah contoh orang yang sudah mengetahui jalan mendapatkan pengampunan, lalu dengan sengaja melakukan dosa. Ini berarti telah terkena tipu muslihat Iblis. Orang yang demikian, dalam perjalanan rohani, merupakan batu sandungan, sangat berbahaya. Karena itu kalau hari ini ada orang yang hanya mengenal cara mendapatkan pengampunan dosa dalam I Yohanes 1:9 Mengaku dosa, -- namun tidak mengetahui syarat yang juga tercantum dalam pasal yang sama, ayat 7, "hidup di dalam terang," semoga saat ini juga Anda takut dan gentar, tidak berbuat dosa lagi sehingga berdosa kepada Allah. Izinkan saya berkata lagi, bahwa kasih karunia Allah adalah untuk memimpin Anda bertobat, bukannya mendorong Anda berbuat dosa.

Empat Keadaan Orang Kristen yang Dosanya Diampuni

Keadaan orang yang tampak bahwa dirinya berbuat dosa, kemudian mengaku dosa, (terhadap Allah atau terhadap manusia) berbeda-beda! Menurut pengamatan saya pribadi, sedikitnya ada empat keadaan seperti di bawah ini:

1. Karena Hati Nuraninya Tldak Damai

Begitu seseorang berbuat dosa, hati nuraninya segera merasa tidak damai, menyalahkannya. Orang yang telah mengakui dosa, hati nuraninya akan merasa damai, tidak lagi tertuduh. Orang boleh saja mengaku dosa karena ada tuduhan dalam hati nurani. Tetapi pengakuan dosa yang hanya karena tuduhan hati nurani, hanya karena supaya hati nurani ada damai, namun tidak melihat penyebab yang lebih dalam daripada ini, (penyebab yang lebih dalam ini ditujukan kepada hakiki dosa yang patut dibenci), hanyalah tindakan menyuap hati nurani. Hati nurani di dalam kita adalah satu organ yang memberitahu keadaan di dalam kita. Hati nurani menuduh, terus bersuara memberitahu kita, itu dikarenakan di dalam kita ada dosa yang patut dibenci. Boleh jadi Anda merasa kesal terhadap tuduhan hati nurani yang terus-menerus, karena itu Anda berusaha mencari satu akal supaya hati nurani tidak menuduh lagi; namun Anda telah melupakan dosa yang patut dibenci yang juga dibenci oleh hati nurani Anda. Anda hanya memperhatikan tuduhan hati nurani, namun mengabaikan penyebab tuduhan hati nurani, yaitu dosa. Akibatnya Anda tidak begitu membenci dosa, malahan merasa kesal terhadap tuduhan hati nurani, sehingga Anda tidak menanggulangi akar dari perkara itu (dosa), sebaliknya malah menanggulangi hati nurani yang mengeluarkan tuduhan. Demikianlah Anda memakai cara mengaku dosa untuk menyuap hati nurani Anda. Tetapi Allah menghendaki kita menanggulangi dosa, bukan menyuap hati nurani.

2. Takut Ada Tuduhan Dalam Hati Nurani Orang Lain

Kadangkala Anda bersalah, berdosa kepada orang. Di satu pihak Anda merasa bersalah kepada orang, di pihak lain Anda takut kalau orang itu membenci Anda, memikirkan ketidakbenaran Anda. Supaya hati nurani orang itu tidak menuduh Anda, bisa berdamai dengan Anda, Anda lalu mencari satu kesempatan mengaku dosa kepadanya. Bersamaan dengan itu Anda berpikir, jika orang itu telah mengampuni aku, maka aku berdamai dengan dia, dengan sendirinya ia tidak akan membenciku lagi, hati nuraninya tidak lagi menuduhku. Kalau orang itu tidak mau mengampuni aku, itu adalah urusannya di hadapan Allah, itu adalah tanggung jawabnya (Matius 6:15 mengatakan, "Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu"). Tindakan psikologis semacam ini, tidak jauh berbeda dengan tindakan yang pertama. Karena yang diperhatikan bukan hakiki dosa, melainkan hati nurani orang lain. Berdamai dengan orang adalah perkara yang baik. Tetapi kalau hanya memperhatikan ini lalu mengabaikan hakiki dosa yang patut dibenci, ini bukanlah satu tindakan yang Allah kehendaki kita lakukan dalam menanggulangi dosa.

Orang yang hanya karena dua alasan di atas lalu mengaku dosa, pasti akan menerima satu akibat, yaitu sangat mudah berbuat dosa, juga sangat mudah mengaku dosa. Hatinya tidak merasa bahwa setiap kali berdosa kepada orang, itu juga berdosa kepada Allah, seolah-olah tidak memerlukan darah adi lagi, hanya merasa berhubungan dengan manusia; asal hubungannya dengan manusia beres, sudah merasa cukup. Dia tidak memandang dosa sebagai hal yang patut dibenci, dan tidak memandang mengaku dosa sebagai satu perkara yang cukup serius. Bersamaan dengan itu, dia tidak merasakan memiliki satu hati yang benar-benar bersedih dan menyesal, sewaktu mengaku dosa juga tidak merasa begitu sulit. Pendek kata, terhadap perkara dosa, ia terlalu memandang remeh, akibatnya iapun mudah berbuat dosa lagi. Kadangkala dosa yang pertama belum dibereskan, ia sudah berbuat dosa yang sama lagi. Mohon Allah merahmati kita, agar terhadap dosa, kita memiliki penilaian yang sama dengan Dia!

3. Karena Takut Hukuman yang Akan Datang

Ada orang yang teringat akan firman yang tercatat dalam II Korintus 5:10 yang mengatakan, "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." Orang ini mengetahui penghakiman di depan takhta Kristus, tidak hanya akan menghakimi pekerjaannya, juga akan menghakimi kelakuannya. Perkara yang hari ini tidak dihakimi oleh Roh Kudus melalui hati nurani dan memperoleh pembasuhan darah adi, kelak pasti akan ditanya oleh Tuhan, karena itu timbullah rasa takut di dalam hatinya. Kalau dosa hari ini harus diperhitungkan kelak, maka mumpung sekarang lebih baik dibereskan terlebih dahulu, sehingga kelak bisa terhindar dari hukuman. Mengaku dosa berdasarkan keadaan ini juga tidak terhitung salah, bahkan lebih baik daripada dua keadaan yang di atas. Karena dua keadaan di atas hanya berhubungan dengan manusia, dan sekarang sedikitnya berhubungan dengan Allah, ada di hadapan Allah, mengaku dosa dikarenakan takut kepada Allah. Orang yang demikian mungkin memiliki dua aspek pengakuan dosa, pertama di hadapan Allah, kedua di hadapan manusia (jika dosa ini berkaitan dengan manusia). Setelah ia mengaku dosa, lalu merasa terhadap Allah maupun terhadap manusia tidak ada lagi tuduhan hati nurani. Pengakuan dosa semacam ini meskipun tidak salah, bahkan boleh dikatakan baik, tetapi masih belum merupakan standar pengakuan dosa yang paling tinggi yang Allah kehendaki ada pada diri kita.

4. Karena Tampak Hakiki Kenajisan Dosa

lnilah keadaan yang Allah inginkan ada pada kita sewaktu kita mengaku dosa. Allah telah menaruh hayatNya sendiri ke dalam kita. Kita telah memiliki hayat ini, maka kita memiliki satu sifat yang sangat kudus, kudus seperti Allah. Di hadapan Allah, dosa adalah satu barang yang sangat najis, yang mutlak tidak bisa berdampingan dengan kekudusan Allah. Allah memberikan hayatNya yang kudus kepada kita, adalah supaya kita membenci dosa sebagaimana Allah membencinya. Kalau orang membiarkan hayat Allah yang kudus bertumbuh, mengenal hakiki kenajisan dosa, dia akan bisa seperti Madame Guyon yang berkata, "Lebih baik aku masuk ke dalam neraka daripada aku berbuat dosa." Hayat Allah di dalam kita adalah untuk mengekspresikan Kristus. Semakin sifat Kristus terekspresikan, maka kita akan semakin membenci dosa, semakin menjauhinya (Ibrani 7:26,) melihat dosa seperti melihat penyakit kusta, merasa makin lega jika makin jauh dari dosa. Setiap orang yang mempunyai pengenalan sedemikian terhadap dosa, pasti tidak mudah berbuat dosa. Orang yang mempunyai keadaan yang demikian sewaktu mengaku dosa, kehidupannya sebagai manusia pasti beribadah, kudus, menempuh hari-harinya di hadapan Allah.

Bagaimana Bisa Memiliki Pengenalan yang Tepat Terhadap Dosa

Bagaimana kita bisa memiliki satu pengenalan yang tepat terhadap dosa? Ini memerlukan penerangan Roh Kudus, ketaatan kita terhadap terang, dan penolakan kita terhadap dosa yang telah dinyatakan. Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, senantiasa bergerak di dalam roh kita, di dalam kita menyingkapkan segala hakiki dosa, agar pikiran kita -- pikiran yang telah diperbarui oleh Roh Kudus --menjadi paham, benar-benar mengenal bahwa itu adalah dosa, adalah satu barang yang sangat najis, demikianlah hati nurani kita lalu menghakiminya sebagai dosa. Bersamaan dengan itu, hayat baru kita -- hayat Kristus -- dengan sendirinya membenci dosa itu. Kebencian semacam ini adalah satu fungsi yang otomatis dari sifat Allah (II Petrus 1:4). Baiklah dengan sederhana akan saya katakan lagi. Ketika Roh Kudus di dalam terang hayat menyingkapkan hakiki dosa kepada kita, (Yohanes 1:4, ". . . hidup itu adalah terang manusia." Hayat Kristus di dalam manusia adalah terang manusia, terang ini bukan terang yang bisa dilihat di luar manusia, orang yang menuntut melihat terang yang di luar, akan berada dalam bahaya tertipu, kita lalu berdasarkan sifat hayat Allah yang di dalam kita, taat kepada terang itu dan membenci dosa yang dinyatakannya. Semakin kita taat kepada terang, maka terang yang ada di dalam kita akan semakin memancar, kenajisan dosa akan semakin tersingkap, demikianlah hati yang membenci dosa akan bertumbuh. Sama seperti di bawah sinar matahari yang sangat terang, debu-debu di udara yang biasanya tidak tampak, saat itu bisa tertampak. Orang yang senantiasa hidup di dalam terang Allah, akan tampak suatu perkara sebagai dosa, sedangkan orang lain tidak tampak hal itu. Seperti Madame Guyon yang menyesal atas perbuatan baik yang dulu pernah ia lakukan -- berderma membantu orang, --dan ia merasa perlu darah adi Tuhan mencuci bersihnya. (Karena di bawah terang Allah dia tampak, bahwa yang dia lakukan dulu itu berasal dari kebaikannya sendiri, bukan berasal dari hayat Allah, karena itu perlu pembasuhan darah Tuhan). Demikianlah perasaannya terhadap dosa makin peka, standar kekudusannya (aspek pelaksanaan) juga makin bertumbuh.

Sungguh, sifat alamiah orang yang milik Adam (orang yang belum dilahirkan kembali), sangat condong kepada dosa. Sebaliknya, di dalam orang yang milik Kristus, ada sifat Allah yang sangat membenci dosa. Karena itu rasa benci terhadap hakiki dosa adalah pernyataan yang otomatis yang ada di dalam manusia karena ia memiliki sifat Allah. Hanya keadaan yang demikianlah yang berasal dari Allah, baru bisa diperkenan Allah.

Jika kita menganalisis keempat macam keadaan di atas, kita akan tampak, bahwa ketiga macam keadaan yang pertama adalah berintikan diri sendiri, berhubungan dengan kehebatan ego diri sendiri. Hanya satu macam yang berasal dari Allah, yang berintikan Allah. Kita harus berdiri di pihak Allah.

Terlebih Dulu Harus Mengaku Dosa kepada Allah

Terhadap perkara mengaku dosa, di tengah-tengah kaum imani ada satu kecenderungan yang sangat merusak, yaitu secara perlahan-lahan lebih menitikberatkan penanggulangan terhadap manusia daripada menanggulangi di hadapan Allah. Bahkan di kalangan kekristenan tertentu, darah adipun tidak disinggung lagi; asal hati nurani manusia bisa lewat dan merasa damai, maka Allah diabaikan. Keadaan demikian sangat menakutkan, hasilnya adalah membuat manusia kehilangan rasa takut kepada Allah. Dengan berat saya berkata, "Pengakuan dosa yang tidak memerlukan darah adi, pasti berasal dari alam maut." Setiap kali seseorang berbuat dosa, yang pertama disalahi adalah Allah, bukan manusia. Yang paling banyak disalahi oleh dosa itu adalah Allah, bukan manusia. (Misalnya ada orang merusak barang di rumah Anda. Yang pertama disalahi adalah diri Anda, bukan barang Anda.) Dalam Mazmur 51:6 Daud berkata, "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa." Daud tidak berkata, bahwa ia berdosa terhadap Uria, atau terhadap Batsyeba. Tetapi mengenai Yudas Iskariot yang menjual Tuhan Yesus; dosa telah ia akui, uang telah ia kembalikan, di hadapan manusia ia sudah beres, tetapi ia masih sebagai anak binasa. Saya berkata demikian bukan berarti tidak perlu saling mengaku dosa. Saling mengaku dosa (Yakobus 5:16) sudah sepatutnya, tetapi penanggulangan di hadapan Allah, harus melebihi penanggulangan di hadapan manusia. Jangan sekali-kali kita membalikkan urutannya, lebih-lebih janganlah kita mengesampingkan Allah dan darah adi. Mengaku dosa kepada Allah itu jauh lebih penting daripada membereskan di hadapan manusia. Tentu saja, pemberesan di hadapan manusia juga perkara yang tidak boleh diabaikan. Semoga Allah membelaskasihani kita!