Daftar isi Dua Belas Bakul (10) ยท bab 3/12

Daud dan Mefiboset

Pembacaan Alkitab:

II Samuel 4:4, 9:1-13, 16:1-4, 19:24-30, 21:7

Dalam berita ini kita akan melihat satu perkara yang ajaib dari Perjanjian Lama, yaitu ada seorang anak yang timpang yang duduk di meja perjamuan seorang raja. Dalam Alkitab banyak kejadian-kejadian yang ajaib, ada tempat yang memberitahu kita, seorang sundal beroleh selamat; ada yang memberitahu kita seorang penyamun beroleh selamat; ada yang memberitahu kita seorang pemungut cukai beroleh selamat; ada juga yang memberitahu kita seorang Farisi yang jahat beroleh selamat. Kali ini sedikit berbeda, yaitu memberitahu kita kisah seorang timpang yang beroleh selamat.

Hari ini di antara semua yang duduk di sini, kebanyakan adalah orang-orang yang pernah membaca Alkitab. Ketika kita menyinggung tentang persahabatan antara teman yang sangat baik dalam Alkitab, sering kita menyinggung hubungan antara Daud dengan Yonatan. Banyak ahli sastra begitu menyinggung tentang kasih sayang persahabatan, mereka selalu menyinggung Daud dan Yonatan. Dalam berita ini kita akan membahas bagaimana perlakuan Daud kepada anak Yonatan yang bernama Mefiboset, kita tidak menyinggung bagaimana ungkapan terima kasih Mefiboset terhadap Daud.

Mefiboset Timpang (II Samuel 4:4)

"Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. la bernama Mefiboset."

Ada satu perkara yang perlu kita perhatikan, yaitu Saul, kakek Mefiboset, adalah musuh Daud. Berkali-kali Saul menindas Daud, ingin membunuh Daud, dia benar-benar adalah seorang musuh besar Daud. Kini Saul telah terbunuh, Yonatan juga terbunuh. Karena itu inang pengasuh Mefiboset segera menggendong anak itu dan melarikan diri. Dia mengira karena kakek dan ayah anak ini sudah mati, sekarang tinggal anak ini, maka kalau tidak cepat-cepat melarikan diri, mungkin Daud akan membalas dendam kepadanya dan membunuhnya. Namun, karena dia terburuburu melarikan diri, anak itu terjatuh sehingga ia menjadi timpang. Cobalah Anda renungkan, bukankah ini mirip dengan keadaan seorang dosa terhadap Allah?

Boleh saya katakan, bahwa manusia telah salah paham terhadap Allah! Sekali lagi saya katakan, manusia telah salah paham terhadap Allah! Karena dalam benak diri manusia sendiri terkandung angan-angan jahat terhadap Allah, maka manusia mengira Allah juga akan berlaku tidak baik kepada manusia. Karena manusia membenci Allah, lalu mengira Allah juga membenci manusia. Manusia tahu bahwa dirinya berdosa, lalu mengira karena itu Allah membenci mereka. Boleh jadi Mefiboset berpikir, "Kakekku adalah musuh Daud, karena itu Daud pasti membenci aku. Aku dengan Daud tidak ada hubungan yang baik, karena itu Daud tidak mungkin mengasihi aku." Demikian juga dengan anggapan kita, "Aku tidak ada hubungan baik dengan Allah, mungkinkah Allah akan mengasihi aku? Aku membenci Allah, mungkinkah Allah mengasihi aku?" Tetapi saya ingin memberitahu Anda, pandangan Allah tidak sama dengan pandangan Anda. Sebenarnya, sedikitpun Mefiboset tidak patut menerima karunia, tetapi faktanya, dia telah menerimanya. Demikian juga dengan Anda dan saya terhadap Allah.

Daud dengan Kasih Karunia Memperlakukan Mefiboset (9:1-13)

"Berkatalah Daud: Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan" (ayat 1). Hari ini Allah juga mengajukan pertanyaan yang sama, "Di bawah Adam, masih adakah orang yang kepadanya Aku boleh memperlakukannya dengan kasih karunia?" Karena Yonatan, Daud memperlakukan Mefiboset dengan kasih -karunia; demikian juga Allah, karena PutraNya Yesus, memperlakukan orang dosa dengan kasih karunia. Hari ini manusia telah menaruh sikap salah paham yang besar terhadap Allah, yaitu mengira Allah membenci manusia. Manusia mengira, entah berapa banyak perbuatan baik yang harus ia lakukan, baru bisa membuat Allah memalingkan muka memandangnya; entah berapa banyak perbuatan baik yang harus ia lakukan, baru bisa membuat Allah menghentikan amarahNya; entah berapa banyak kebajikan yang harus dilakukan, baru bisa membuat Allah mengenal dia; entah berapa banyak amal yang harus ia lakukan, baru bisa membuat Allah berkenan kepadanya. Tetapi ketahuilah, di hadapan Daud, Mefiboset sama sekali tidak memiliki kedudukan. Daud tidak mengenal Mefiboset, Daud hanya mengenal ayah Mefiboset, yaitu Yonatan. Karena Yonatan, Daud memperlakukan Mefiboset dengan kasih karunia. Mefiboset bukan melakukan berapa banyak perkara baik, sehingga Daud mempunyai perasaan yang positif terhadapnya. Di hadapan Daud, Mefiboset sama sekali tidak memiliki kedudukan. Mefiboset mendapatkan kasih karunia bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena orang ketiga. Satu orang dosa di depan Allah juga demikian. Banyak orang berpikir, "Aku harus terlebih dahulu melakukan pekerjaan baik baru bisa diperkenan oleh Allah." Tetapi Alkitab memberitahu kita, bahwa Allah tanpa alasan dan tanpa sebab mengasihi kita. Di hadapan Allah, kita sebenarnya sama sekali tidak mempunyai kedudukan, tidak patut mendapatkan rawatanNya, tetapi kita memiliki Yonatan kita, yaitu Yesus Kristus. Karena Dialah Allah memperlakukan kita dengan kasih karunia. Kita bisa beroleh selamat karena di hadapan Allah kita telah memiliki Tuhan Yesus Kristus. Karena telah memiliki Tuhan, kita bisa datang ke hadapan Allah.

Dulu di perguruan tinggi, selain masa belajar yang resmi, masih ada dua tahun masa persiapan. Fakultas kedokteran mempunyai persiapan tiga tahun. Tetapi saya ingin memberitahu Anda, orang yang ingin mendapatkan karunia keselamatan, tidak perlu memasuki satu masa persiapan. Banyak orang berpikir, bahwa dirinya harus mengadakan satu persiapan dulu baru bisa membuat hati Allah lunak. Tetapi ketahuilah, kita tidak memerlukan satu perkara apapun untuk mendapatkan perkenan Allah. Dalam Alkitab, tidak ada satu ayatpun yang mengatakan, bahwa Allah akan berdamai dengan kita, sebaliknya Alkitab mengatakan bahwa kita akan berdamai dengan Allah. Allah senantiasa damai dengan kita! Karena Allah mengasihi kita, maka la memberikan AnakNya kepada kita; Allah mengasihi kita bukan setelah memberikan AnakNya kepada kita. Ada orang berkata, "Untung Tuhan Yesus telah mati, sehingga Allah mengasihi kita." Tetapi saya akan berkata, bahwa tidak ada perkara demikian. Yang benar adalah karena Allah mengasihi kita, maka Dia memberikan PuteraNya kepada kita.

"Tanya raja kepadanya: Di manakah ia?" Jawab Ziba kepada raja: "Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar" (ayat 4). "Lodebar" adalah satu kata ibrani yang berarti "tempat yang tidak ada rumput". Dunia hari ini adalah Lodebar. Lodebar selamanya tidak bisa membuat manusia mendapatkan kepuasan, selamanya tidak bisa meleraikan kehausan manusia; Lodebar tidak bisa memuaskan hati Anda. Saudara saudari, tahukah Anda bahwa kita manusia diciptakan untuk Allah, bukan untuk diri kita sendiri. Barangsiapa tidak berbalik dan kembali kepada Allah, dia tidak akan mendapatkan kepuasan.

Anda mungkin bermimpi, bahwa kelak Anda akan sangat baik, memiliki damai sejahtera. Tetapi lewat sejangka waktu Anda menemukan bahwa semua janji dunia ini merupakan cek yang tidak bisa diuangkan. Sekali demi sekali hanya membuat Anda kecewa dan putus harapan; sekali demi sekali hanya membuat Anda merasakan bagaikan mimpi, hanya sebuah khayalan, adalah satu tempat kering yang tanpa rumput. O, saudara saudari, kehidupan yang tanpa Allah adalah satu kehidupan yang tanpa kepuasan. Kehidupan di luar Allah adalah kehidupan yang selamanya tidak mendapatkan kepuasan. Mefiboset yang meninggalkan Daud, pasti tinggal di tempat yang tanpa rumput; orang dosa yang meninggalkan Allah, pasti tinggal di tempat yang tanpa rumput.

Bagaimana reaksi Daud begitu mendengar bahwa Mefiboset tinggal di tempat yang tanpa rumput? Puji syukur kepada Allah, ayat 5 memberitahu kita, "Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar." Roma 3:11 mengatakan, "Tidak ada seorangpun yang mencari Allah." Lukas 19:10 mengatakan, "Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Ada orang berpikir, "Orang yang demikian tidak baik seperti aku, tentu saja mencari Allah; orang yang demikian jatuh seperti aku, dengan sendirinya pasti mencari Allah." Tetapi sebenarnya tidak demikian! Jika Allah menunggu sampai kita mencari Dia baru menyelamatkan kita, mungkin selamanya kita tidak akan mendapatkan keselamatan, karena kita tidak mungkin mencari Dia. Jika menunggu Mefiboset yang mencari Daud, Mefiboset pasti tidak memiliki keberanian untuk datang, karena kakeknya adalah musuh Daud. Mefibosetpun tidak mempunyal kekuatan untuk mencari dan datang kepada Daud, karena dia adalah orang yang timpang. O, bukan Mefiboset yang mencari Daud, melainkan Daud menyuruh orang mengambil Mefiboset; bukan kita yang mencari Allah, melainkan Allah yang mengutus AnakNya datang ke dunia mencari kita, membawa kita kembali ke hadapan Allah.

Di pihak Mefiboset, dia tidak berani berjumpa dengan raja, karena kakeknya adalah musuh raja; diapun tidak bisa berjumpa dengan raja, karena kedua kakinya timpang. Mungkin kita berpikir, "Pada suatu hari, setelah aku berbuat sedikit lebih baik, aku baru pergi mencari Allah, dengan tekun memohon Dia mengampuni dosa-dosaku, saat itu mungkin aku bisa mendapatkan keselamatan." Tetapi ketahuilah, bukan Mefiboset yang mencari Daud, melainkan Daud yang memanggil Mefiboset. Alkitab berkata, Allah yang mau Anda, Allah yang memanggil Anda, Allah yang mengutus orang untuk memberitakan kepada Anda bahwa Dia mau Anda. Roma 10:6-7 mengatakan, "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke surga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: Siapakah akan turun ke jurang maut? ; yaitu untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati." Ayat ini memberitahu kita, bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa naik ke surga untuk memohon Tuhan mati menggantikan manusia; juga tidak ada satu orangpun yang bisa pergi ke alam maut untuk memohon Tuhan bangkit dari kematian. Selanjutnya dikatakan, "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu . . . Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." Mefiboset tidak perlu mengeluarkan harga, rajalah yang mengutus orang menjemputnya. Hari ini di sini, jika ada orang yang tidak mendapatkan keselamatan, itu bukan karena Allah tidak menyelamatkan dia, melainkan karena dia menolak kasih karunia Allah.

Setelah Daud menyuruh membawa datang Mefiboset, apa yang ia katakan kepadanya? Ayat 6 mengatakan, "Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: Mefiboset!"Jawabnya: "Inilah hamba tuanku." O, di sini ada satu musik yang sangat merdu. "Mefiboset!" Begitu Daud melihat Mefiboset, dia tidak berkata sepatah kata yang lain; dia tidak berkata, "Mefiboset, engkau telah datang"; dia tidak berkata, "Hai cucu Saul, Mefiboset"; dia juga tidak berkata, "Anak Yonatan, Mefiboset"; juga tidak berkata, "Siapakah engkau?" "Mefiboset!" Pernahkah Anda merenungkan empat suku kata yang disebut oleh Daud ini? Bagaimana perasaan hatinya ketika Daud mengucapkannya? Dengan nada suara yang bagaimanakah ia mengucapkannya? O, di kedalaman kata-kata ini ada satu hati yang bergejolak, hati itu menyatakan bagaimana hati Allah. "Mefiboset!" menyatakan bahwa Allah tidak membenci Anda, Allah mau Anda, Allah mengasihi Anda. Hari ini, setiap kali ada orang yang memanggil nama Anda tanpa tambahan kata-kata yang lain, makna yang terkandung di dalamnya tidak bisa dipahami oleh orang lain, hanya orang yang mendengarnya yang bisa memahaminya.

Saya pernah menyinggung tentang Maria Magdalena. Dia pernah menganggap Tuhan sebagai tukang kebun dan bertanya kepadaNya tentang tuhan. Saat itu Tuhan tidak menjawab dengan mengatakan, "Aku bukan penjaga kebun", atau "Aku tidak mencuri mayatNya", atau "Kamu seorang perempuan, bagaimana bisa mengambil jenazah itu?" Tuhan hanya berkata sepatah kata, "Maria!" Begitu Maria mendengar perkataan ini yang baginya sangat dihafalnya, ia segera menyeru, "Rabi! Kita semua tahu, ketika seseorang hanya memanggil satu nama yang singkat, pastilah dalam panggilan itu penuh makna. Hari ini Daud melihat cucu dari musuhnya, namun ia berkata "Mefiboset!" Ini menyatakan bahwa di dalam hati Daud tidak ada rasa benci dan balas dendam, sebaliknya malah penuh dengan rasa kasih sayang.

Tetapi sayang, Mefiboset tidak mengetahui hati Daud. Ketika ia berangkat memenuhi panggilan Daud, mungkin hatinya bergetar bergejolak, dia berpikir bahwa hari ini dia harus menjumpai raja orang Yehuda, mungkin raja akan membunuh dia. Ketika dia berjumpa dengan Daud, begitu mendengar Daud memanggilnya, "Mefiboset," seharusnya ia tahu bahwa sikap Daud kepadanya bukan penuh kebencian melainkan penuh kebaikan. Tetapi karena hatinya sudah terlebih dahulu sangat takut, maka ia berkata "Inilah hamba tuanku." Mungkin Mefiboset berpikir, dahulu aku adalah seorang cucu raja, sekarang aku telah demikian rendah sebagai seorang hamba, melalui pernyataan ini mungkin bisa menyenangkan hati Daud sehingga dia tidak membunuhnya. Tetapi ketahuilah, tidak ada satu orangpun yang bisa bersandarkan dirinya sendiri melakukan pekerjaan hamba, dan melalui pekerjaan itu bisa mendapat perkenan Allah. Di sini Daud hendak menyatakan hati Allah, karena itu ia berkata kepada Mefiboset, "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku" (ayat 7). O, saudara saudari, ternyata semuanya betapa bagus. Saya tidak tahu di tengah-tengah kita, ada berapa orang yang benar-benar mengetahui bahwa Allah mengasihi dirinya. Mungkin ada orang yang telah bekerja bertahun-tahun, namun belum mengetahui bahwa Allah mengasihi dirinya. O, jika kita mengetahui betapa Allah mengasihi kita, kehidupan kita akan mengalami perubahan yang betapa besar.

Pada abad ke 19, di Amerika ada seorang sastrawan yang sangat terkenal, namun ia juga adalah seorang yang menentang kekristenan. Saat itu ia bekerja sebagai kepala redaktur dari suatu koran yang terkenal. Pada suatu hari, dia mendengar khotbah tuan Moody, dia bertobat dan percaya Tuhan. Begitu dia bertobat, banyak koran di Amerika yang memuat kisah pertobatannya. Pada suatu hari tuan Chapman pergi ke suatu kota, kebetulan ia tinggal di satu penginapan yang sama dengannya dan tepat bersebelahan dengan kamarnya. Tuan Chapman sudah mengenalnya karena itu ia lalu bertanya kepadanya tentang kebenaran berita mengenai keselamatannya. Dia menjawab, "Aku memang bertobat dan percaya Tuhan setelah aku mendengar khotbah tuan Moody, tetapi, ketika aku masih berumur 18 tahun, aku telah mengenal kasih Allah. Ketika aku masih kecil, aku seperti seorang anak yang hilang. Karena tidak terbiasa tinggal di rumah, maka ketika aku berumur sekitar 12 atau 13 tahun, aku meninggalkan rumah beberapa tahun lamanya. Menginjak usia remaja aku terkena suatu penyakit yang parah. Uangku habis, aku tak berdaya lagi. Demikianlah dengan lemah lesu dan penuh penderitaan aku kembali ke rumah. Ayahku sangat baik menyambut aku. Tetapi aku menyesal atas kepulanganku. Karena ayahku yang sudah tua, yang rambutnya sudah ubanan, saat itu juga sedang sakit. Namun setiap hari dia memaksa diri keluar untuk bekerja, mendapatkan beberapa potong roti untuk kumakan. Tetapi bagaimanapun karena pendapatannya sangat sedikit, maka apa yang dia dapat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga orang. Aku menyesal bahwa aku telah pulang. Aku berkeputusan tidak bisa demikian lagi makan roti yang dihasilkan oleh darah dan hati ayahku. Begitu tenagaku sedikit pulih, aku segera berkata kepada ayahku, bahwa aku akan pergi lagi. Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat dia begitu sedih seperti pada hari itu. Dia berkata, "Penyakitmu belum sembuh benar mengapa harus pergi? Di dalam rumah ini kalau ada sepotong roti, di dalamnya ada bagianmu; kalau ada sebuah genteng, engkau ada sebagian di dalamnya, mengapa engkau harus pergi?" Tetapi aku telah memutuskan untuk berangkat. Dia lalu berkata, "Anakku ketahuilah seumur hidupku aku belum pernah berpikir ingin menjadi orang kaya, tetapi hari ini karena kamu, betapa aku ingin menjadi orang kaya, memiliki lebih banyak uang untukmu, sehingga kamu tidak perlu mengembara di luar. Kelak mungkin ada orang yang membantu kita, mengapa engkau harus pergi sekarang?" Tetapi aku tidak bisa tidak pergi, aku tidak bisa dengan demikian tega terus makan roti hasil darah dan jerih payah ayahku. Akhirnya ayahku berkata, "Anakku, semoga Allah memberkatimu! Hari ini aku tidak bisa melihatmu, mungkin di surga bisa melihatmu!" Kemudian dia mengantar aku pergi. Berjalan sejauh setengah mil, dia tidak bercerita apa-apa, aku juga tidak berkata apa-apa. Berjalan lagi sampai satu mil, juga tetap membisu. Dia sudah lelah, dia tidak bisa berjalan lebih jauh lagi, dia terpaksa menerima perpisahan itu. Hari itu, aku baru tahu betapa sulitnya meninggalkan rumah! Setelah berpisah dan berjalan dua langkah, ayahku berbalik dan memanggilku, kedua matanya mengucurkan air mata, dari kantong bajunya ia mengeluarkan setengah dollar dan berkata, "Ini untukmu." Aku tahu, apa artinya setengah dollar itu. Aku tahu, bahwa segala milik ayahku di dunia saat itu terletak pada setengah dollar itu, aku benar-benar tahu arti setengah dollar itu. Saat itulah untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku, aku mengetahui kasih ayahku! Aku memandangi ayahku balik kembali pulang, meskipun saat itu cuaca dingin dan turun hujan, tetapi hatiku sangat panas membara, mulutku menyanyikan lagu, "Ayahku mengasihi aku!" Sejak hari itu, aku tidak lagi menjadi anak yang nakal, aku berkeputusan: satu perkara yang harus terlebih dahulu saya lakukan adalah mengurangi beban ayahku. Kalau aku mendapatkan sejumlah uang, aku harus mengirimkannya terlebih dulu kepada ayahku, karena dia mengasihi aku. Sejak hari itu aku berubah menjadi orang yang lain. lni bukan berarti bahwa dulunya ayahku tidak mengasihi aku, melainkan aku baru mengetahuinya ketika aku sangat melarat dan menderita. Demikianlah pada suatu hari, aku mendengar khotbah tuan Moody yang mengatakan, 'Orang selalu mengatakan anak yang hilang dari seorang ayah, tetapi hari ini aku akan mengatakan ayah dari seorang anak yang hilang.' Aku mendengar Bapa itu sama dengan ayahku. Karena itulah aku percaya, menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamatku."

O, saudara saudari, sedikitnya saya telah mengenal Allah ini belasan tahun, meskipun tidak bisa dihitung lama, tetapi saya tahu hatiNya adalah hati yang bagaimana. Janganlah Anda mengira Anda perlu melakukan sesuatu untuk mengambil hati Allah, melakukan sesuatu untuk mendapat perkenanNya. Ketahuilah, Dia mengasihi Anda, Dia mau Anda beroleh selamat, Dia tidak memerlukan Anda melakukan sesuatu untuk mendapatkan hatiNya. Banyak orang berkata, "Allah tidak berkata kepadaku bahwa Dia mengasihi aku." Tetapi, pandanglah kepada salib, Anda segera tahu bahwa Dia mengasihi Anda. Sebenarnya hukuman salib harus Anda yang menerima, tetapi karena Allah mengasihi Anda, Dia menyuruh Tuhan Yesus menggantikan Anda menerimanya.

Apakah kasih itu? Kasih bukan sekadar kata-kata. Kasih yang dalam tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. Anak yang hilang itu sudah mempersiapkan diri untuk berkata-kata kepada bapanya, "Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa." Tetapi ketika ia masih jauh dari rumahnya ia dilihat oleh ayahnya, maka tergeraklah hati ayahnya oleh belaskasihan, ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Berlari! O, hati seorang bapa benar-benar memperpendek jarak dosa. Ketika ayahnya menciumnya, anak yang hilang ini tahu bagaimana hati ayahnya. Ayahnya tidak berkata, "Aku mengasihimu." Namun begitu dia menciumi, sang anak segera tahu, bahwa hati bapanya adalah mengasihinya. Anak itu tidak bisa lagi berkata, "Pandanglah aku sebagai salah seorang upahanmu." la hanya bisa berkata dalam hati, "Ayahku mengasihi aku." Saudara saudari, hari ini janganlah Anda salah paham terhadap hati Allah. Datanglah ke bawah salib. Yesus sudah mati menggantikan Anda, fakta ini sudah menyingkapkan hati Allah kepada Anda. Begitu Anda melihat cucuran darah Tuhan Yesus, Anda sudah tahu betapa Allah mengasihi Anda.

"Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu. Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku" (ayat 9-10). Sungguh ajaib, di sini tidak ada satupun syarat, tidak ada satupun perintah. Semuanya adalah janji. Di sini tidak dikatakan, "Kamu harus melakukan sebanyak ini." Semuanya adalah "aku memberi kepadamu", inilah kasih karunia. Jika kita memahami hati Allah, kita tidak bisa tidak percaya kepadaNya.

Pertobatan Manusia

Mungkin ada orang akan bertanya, "Apakah orang begitu percaya Allah segera beroleh selamat, sedikitpun tidak perlu bertobat?" Ketahuilah, janganlah Anda memutar balikkan urutan dari firman Tuhan. Banyak orang mengira bahwa ia harus memiliki kebenaran mendasar tertentu, memiliki sesuatu yang baik, baru bisa membuat Allah memperlakukannya secara baik pula. Ketahuilah, itu adalah hukum Taurat, itu bukan kasih karunia. Bisakah Anda berkata kepada orang yang kedinginan, "Panasilah badanmu, kemudian nyalakanlah api?" Atau Anda akan berkata, "Nyalakanlah api, Anda tentu akan mendapatkan udara yang hangat." Bukan setelah tidak berbuat dosa lagi baru percaya, melainkan setelah percaya tidak bisa berbuat dosa lagi. Tadinya Mefiboset hanya memiliki ketakutan. Begitu dia sendiri mengenal perlakuan Daud yang penuh belaskasihan itu, barulah dia mengenal dirinya sendiri dan berkata, "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?" (ayat 8). Roma 2:4 mengatakan, "Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?" Karena mengenal kasih Allah, maka dengan sendirinya kita bertobat. Ketika Mefiboset pertama kali datang, dia sangat ingin segera kembali ke tempat yang tanpa rumput itu. Tetapi ketika dia telah mengecap rasa kasih karunia, dia segera bersujud di tanah dan bertobat. Mefibosetlah yang salah, karena itu ia perlu bertobat; Daud tidak bersalah, karena itu Daud tidak perlu bertobat. Allah tidak perlu bertobat, kitalah yang perlu bertobat. Mefiboset tidak mengenal bahwa Daud mengasihi dia, Daud sungguh-sungguh mengasihi dia. Begitu Mefiboset mengetahui kasih Daud, Daud tetap mengasihi dia. Demikian pula Allah terhadap kita. Setelah kita mengetahui kasih Allah, kita mengubah pikiran kita, kita mengubah konsepsi kita. Hari ini bukankah orang dosa sering berkata, "Alangkah baiknya jika aku bisa mendapat perkenan Allah?" Tetapi ketahuilah, kalaupun Anda bisa demikian, Allah sudah dari sejak dulu mengasihi Anda. Kalaupun Anda dengan hakiki Anda datang ke hadapan Allah, Allahpun tetap mengasihi Anda.

Sepasang Kaki di Bawah Meja

Sampai di sini mungkin ada orang berkata, "Memang beroleh selamat adalah bersandarkan kasih karunia, bukan bersandarkan kelakuan kita. Allah memperlakukan kita seperti Daud memperlakukan Mefiboset. Namun setelah aku beroleh selamat, bukankah aku harus melakukan perbuatan baik? Mengapa aku kadang-kadang merasa tinggi kadang-kadang merasa rendah, kadang-kadang baik kadang-kadang tidak baik?" Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita membaca ayat 13, yang mengatakan, "Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.โ€ Permulaan kita beroleh selamat adalah bersandarkan karunia, kita menjaga keselamatan ini juga bersandarkan karunia. Kesalahan banyak orang ialah mengira permulaan keselamatan adalah bersandarkan karunia, namun memelihara keselamatan ini adalah bersandarkan kelakuan. Tidak ada perkara demikian. Kita harus tahu, syarat beroleh selamat juga menjadi syarat menjaga keselamatan. Aku beroleh selamat karena Yesus, aku juga karena Yesus terjaga sampai pada akhirnya. Meskipun Mefiboset senantiasa makan sehidangan dengan raja, tetapi kedua kakinya timpang. Orang yang timpang salah satu kakinya masih bisa melompat, bergerak, namun orang yang kedua kakinya timpang, tidak saja tidak leluasa berjalan, bahkan sangat sulit melakukannya. Ketahuilah, duduk sehidangan dan makan bersama raja adalah satu fakta, tetapi kaki yang timpang juga adalah satu fakta. Raja tidak mungkin pada hari pertama membiarkan seorang yang timpang duduk makan bersamanya, lalu setelah lewat beberapa hari dia mengusir orang yang timpang itu. Tidak ada perkara demikian.

Memang kedua kakinya timpang, tetapi itu berada di bawah meja; yang ada di atas meja itulah yang harus Anda makan. Mengapa Anda ingin menaruh kaki Anda yang ada di bawah meja itu ke atas meja? Perhatikan saja apa yang dihidangkan di atas meja. Apa yang telah Allah hidangkan di sini sangat baik, sangat limpah, sangat manis, Anda hanya perlu memakannya. Anda tidak perlu melihat diri sendiri, lihatlah yang Allah berikan, betapa limpahnya! Setiap kali kita berpaling melihat diri kita sendiri, kita tidak akan memiliki damai sejahtera. Mata manusia adalah untuk melihat yang di luar, bukan untuk melihat yang di dalam. [introspeksi tidak seharusnya menjadi bagian kita Jika mata kita senantiasa memandang kepada Tuhan, kita akan makin mulia, berubah menjadi rupaNya. Sebaliknya, jika kita memandang diri kita sendiri, kita akan seperti Mefiboset yang timpang kedua kakinya. Begitu kita beroleh selamat, kita telah mendapatkan satu hayat yang baru, Roh Kudus tinggal di dalam kita, manusia kita sudah menjadi baru. Tetapi ego yang berasal dari Adam itu, selamanya tidak bisa berubah. Apa yang dirasakan oleh st. Augustine menjelang ajalnya? Dia berkata, "Benih dosa seluruh dunia, berada di dalam diriku." O, selama kita masih berada di dalam daging, kita adalah orang yang timpang kedua kakinya. Janganlah menengok ke dalam diri sendiri, pandanglah kelimpahan dan kasih karunia yang Allah bentangkan di hadapan kita. Dengan demikian, hati kita akan mendapatkan kepuasan.

Sikap Mefiboset Terhadap Daud

(pasal 16:1-4, 19:24-30)

Beberapa tahun kemudian, anak Daud (Absalom), memberontak. Daud melarikan diri, menghindari anaknya, Absalom. "Ketika Daud baru saja melewati puncak, datanglah Ziba, hamba Mefiboset, mendapatkan dia membawa sepasang keledai yang berpelana, dengan muatan dua ratus ketul roti, seratus buah kue kismis, seratus buah-buahan musim panas, dan sebuyung anggur. Lalu bertanyalah raja kepada Ziba: "Apakah maksudmu dengan semuanya ini?" Jawab Ziba: "Keledai-keledai ini bagi keluarga raja untuk ditunggangi; roti dan buah-buahan ini bagi orang-orangmu untuk dimakan; dan anggur ini untuk diminum di padang gurun oleh orang-orang yang sudah lelah." Kemudian bertanyalah raja: "Di manakah anak tuanmu?" Jawab Ziba kepada raja: "la ada di Yerusalem, sebab katanya: Pada hari ini kaum Israel akan mengembalikan kepadaku kerajaan ayahku." Lalu berkatalah raja kepada Ziba: "Kalau begitu, kepunyaanmulah segala kepunyaan Mefiboset" (ayat 1-4). Apakah kejadian yang sebenarnya adalah begitu? Mari kita membaca pasal 19, di sana kita akan mengetahui jawabannya.

Setelah kekacauan reda, Daud kembali ke Yerusalem, dan Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Sejak raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat, ada tiga perkara yang tidak dilakukan oleh Mefiboset: yaitu ia tidak membersihkan kakinya, ia tidak memelihara janggutnya, pakaiannya tidak dicucinya (ayat 24). Saudara saudari, tahukah Anda apakah artinya ini? Inilah seperti yang pernah kita singgung, yaitu hati seorang janda! Daud yang memperlakukan aku dengan kasih karunia sudah tidak di sini lagi, meskipun mereka tidak mencelakai aku, tetapi aku telah tidak berminat lagi. Apakah gunanya berdandan dan menghiasi diri agar kelihatan cantik? Dia tidak lagi ada di sini, siapa yang masih ada hati untuk berdandan? Kita tahu bahwa kita sebenarnya tidak layak mendapatkan karunia keselamatan. Dunia ini telah menolak Tuhanku, dunia telah memaku Tuhanku di kayu salib, karena itu hari ini di dunia ini hatiku adalah hati seorang janda. Kita bisa menolak dunia, bisa tidak mengasihi dunia, bukan karena dunia tidak menarik, melainkan karena orang yang kita cintai tidak ada lagi di sini. Yang Dia terima di bumi ini tidak lain sebuah kuburan, karena itu aku tidak bisa mengasihi dunia, aku merasa dunia adalah satu tempat yang bertentangan denganku.

Hati Mefiboset adalah hati seorang janda. Raja tidak ada lagi di sini, maka terhadap segalanya dia tidak berminat lagi. Seorang Kristen yang sangat berbobot pernah berkata, "Di mana Yesus berada, di sanalah surga. Jika Yesus ada di neraka, neraka itu menjadi surga; jika Yesus tidak ada di surga, surga itu tidak lagi terhitung sebagai surga." Mendengar perkataan itu, dulu saya merasa tidaklah demikian. Tetapi hari ini saya akan berkata, bahwa itu memang benar. Pada mulanya yang kita pikirkan semuanya adalah masalah dosa; sekarang yang kita pikirkan semuanya adalah diri Tuhan Yesus. Dulu persoalan yang kita pikirkan adalah bagaimana terlepas dari hukuman neraka, sekarang yang kita pikirkan adalah diri Tuhan sendiri. Karena itu, jika Tuhan ada di surga, surga sungguh menyenangkan; jika Tuhan ada di neraka, nerakapun akan menjadi tempat yang menyenangkan.

Dunia ini hanyalah satu padang belantara. Apakah padang belantara itu? Padang belantara adalah tempat yang gersang. Ini bukan berarti bahwa keindahan, seni, dan pemandangan alami dunia ini tidak baik, tetapi karena Dia tidak berada di sini, maka semuanya itu tidak lagi terhitung. Terhadap satu dunia yang demikian meremehkan Tuhan Yesus, bagaimana aku bisa mengasihiNya? Saya pernah berkata, bahwa di mana orang yang Anda kasihi berada, di sanalah tempat yang menyenangkan. Meskipun rumah, pakaian, makanan, semuanya boleh sama, tetapi jika orang yang Anda cintai tidak ada di sana, maka semuanya itu terasa berubah, berbeda. Kampung halaman saya ada di Foochow, saya sering berpikir ingin pulang ke Foochow. Tetapi yang saya pikirkan bukan kota Foochow, melainkan di sana ada saudara dan saudari yang sehati. Mereka dan saya bersama-sama mengalami penderitaan dan kekurangan, menerima tentangan orang. Jika di sana tidak ada mereka, saya tentu dengan mudah melupakan Foochow. Demikian pula sikap kita terhadap dunia ini. Hari ini Tuhan tidak ada lagi di sini, karena itu di dunia ini kita tidak lagi mendapatkan perhentian, tidak mendapatkan sukacita. Satu-satunya sikap kita terhadap dunia adalah sikap seorang janda.

Ketika Mefiboset dari Yerusalem menyongsong raja, bertanyalah raja kepadanya: "Mengapa engkau tidak pergi bersama-sama dengan aku, Mefiboset?" Jawabnya: "Ya tuanku raja, aku ditipu hambaku. Sebab hambamu ini berkata kepadanya: Pelanailah keledai bagiku, supaya aku menungganginya dan pergi bersama-sama dengan raja! -- sebab hambamu ini timpang. la telah memfitnahkan hambamu ini kepada tuanku raja. Tetapi tuanku raja adalah seperti malaikat Allah; sebab itu perbuatlah apa yang tuanku pandang baik. Walaupun seluruh kaum keluargaku tidak lain dari orang-orang yang patut dihukum mati oleh tuanku raja, tuanku telah mengangkat hambamu ini di antara orang-orang yang menerima rezeki dari istanamu. Apakah hakku lagi dan untuk apa aku mengadakan tuntutan lagi kepada raja?โ€ (ayat 25-28). Di sini kita tampak, bahwa Mefiboset tidak menyinggung tentang roti dan anggur, dia hanya mengisahkan sedikit tentang dia ditipu. Hatinya sudah merasa sentosa dengan kembalinya raja; membela diri sendiri tidaklah terhitung apa-apa.

Kita tahu, isi hati seseorang tidak tergantung pada perkataannya. Hati orang yang benar-benar telah menjadi tawanan kasih Tuhan, tidak bisa diutarakan melalui kata-kata. Makin dalam kasihNya, makinlah misteri. Jika Anda benar-benar mengasihi Tuhan, meskipun banyak orang menentang Dia, Anda masih bisa mempertahankan kebersihan diri Anda. Pada hari itu, ketika Anda berjumpa dengan Tuhan, Anda tidak akan bisa berkata kepada Tuhan, "Tuhan, ketika di dunia aku telah membuang sesuatu demiMu," pada hari itu Anda tidak bisa berkata sepatahpun tentang diri sendiri. Sebaliknya pada hari itu Anda akan berkata, "Aku menyesal, sewaktu di dunia aku tidak lebih dalam mengasihiMu, tidak lebih setia melayaniMu." Pada hari itu Anda akan merasa, meskipun Anda memiliki ribuan dunia, dan itu diberikan kepada Tuhan, masih sangat kurang.

Selain mengatakan dia ditipu oleh hambanya, Mefiboset tidak menyinggung hal yang lain lagi. Hatinya hanya memikirkan satu perkara, yakni rajaku sudah kembali, itu sudah cukup. Apalagi yang perlu diperhitungkan. Aku sudah duduk di meja perjamuan Daud, aku sudah cukup, aku tidak perlu mengadu, tidak perlu menjelaskan untuk mendapatkan simpati. Raja telah pulang, itu sudah cukup.

"Tetapi raja berkata kepadanya: "Apa gunanya engkau berkata-kata lagi tentang halmu? Aku telah memutuskan: Engkau dan Ziba harus berbagi ladang itu." Lalu berkatalah Mefiboset kepada raja: "Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat" (ayat 29-30). Setiap kali saya membaca sampai perkataan Mefiboset ini, saya selalu berkata, "Amin!" Jika raja sudah pulang dengan damai dan selamat, apakah artinya dengan kerugian -- kehilangan yang aku alami? Jika Tuhanku mendapatkan sesuatu, dan diriku kehilangan sesuatu, apalagi yang harus dipermasalahkan? Semua persoalannya terletak pada apakah dia selamat, bukan terletak pada apakah pemberiannya itu masih ada atau tidak.

Ayub berkata, "Meskipun dia membunuh aku, aku tetap akan percaya kepadaNya" (Ayub 13:15; terjemahan langsung). Ada seorang yang menjadi martir bagi Tuhan. Pada malam sebelum dia dibunuh, dia berkata, "Ya Allah, jika Engkau tidak campur tangan dalam hal ini, besok aku akan secara demikian membuta pergi. Datanglah surga! Datanglah neraka!" Inilah pahlawan iman. Tuhan tidak mungkin salah memperlakukan kita. Kalaupun Dia senang jika aku mengalami penderitaan, aku akan dengan sukacita menerima perlakuan ini. Jika Engkau senang, jika hatiMu berkenan, meskipun itu satu penderitaan, akan terasa sangat menyenangkan.

Keputusan Daud terhadap Mefiboset memang salah, tetapi Tuhan kita tidak bisa salah memperlakukan kita. Justru melalui perlakuan itu hati Mefiboset tersingkap. Tuanku raja telah pulang dengan selamat, maka meskipun semuanya diambil oleh Ziba itu tidak mengapa! Di sini kita tampak, bahwa Allah akan menyelamatkan kita sampai satu tahap, yaitu kita hanya memperhatikan kehilangan di pihak Allah, tidak memperhatikan kehilangan di pihak diri sendiri. Kehilangan di pihak Allah baru terhitung sebagai kehilangan yang sejati, kehilangan di pihak kita tidaklah terhitung apa. Pernah sekali, seharusnya saya taat kepada Allah, tetapi saya tidak bisa melaksanakannya. Akhirnya saya hanya bisa berkata kepada Allah, "Ya Allah, janganlah Engkau menyerah, tunggulah sampai aku menyerah." Yang harus menyerah adalah kita, bukan Allah. Dia yang pernah sekali mendapatkan hatiku, selamanya akan mendapatkan hatiku. Hatiku telah ditangkap olehNya, maka segalaku adalah milikNya. Saudara saudari, di hadapan Allah kita mempunyai pengharapan apa? Mempunyai tuntutan apa? Apakah masih memiliki perhitungan untuk diri sendiri? Atau semuanya untuk Dia? Semoga sejak hari ini kita tampak bahwa segala sesuatu kita adalah milikNya. Kita hanya memperhatikan kehilangan di pihakNya. Jika Dia mendapatkan sesuatu, itu sudah cukup.

Daud Melindungi Mefiboset (pasal 21:7)

"Tetapi raja merasa sayang kepada Mefiboset bin Yonatan bin Saul, karena sumpah demi TUHAN ada di antara mereka, di antara Daud dan Yonatan bin Saul." Inilah akhir dari orang yang timpang. Kisah ini terjadi dikarenakan pada masa Daud terjadilah kelaparan selama 3 tahun berturut-turut. Bencana ini timbul karena pada Saul dan keluarganya melekat utang darah, yaitu Saul telah membunuh orang-orang Gibeon. Untuk penebusan dosa ini, menurut tuntutan orang Gibeon, haruslah diserahkan tujuh anak laki-laki dari keturunan Saul. Jika dikeluarkan tujuh orang, yang pertama tentu haruslah Mefiboset. Tetapi Daud mengasihi Mefiboset, maka dia memberikan tujuh orang lainnya untuk memenuhi tuntutan orang Gibeon. Jadi boleh dikatakan, bahwa sampai ajalnya Mefiboset tidak mati terbunuh. Perkara ini memberitahu kita, bahwa setiap orang yang sudah beroleh selamat pasti tidak akan binasa lagi. Sebagaimana Daud tidak merugikan Mefiboset, bisakah Allah kita merugikan kita? Jika Daud bisa dari awal hingga akhir melindungi Mefiboset, apakah Allah tidak bisa melindungi kita sampai pada kesudahannya?

Yohanes 10:28-29 mengatakan, "Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa." Ayat-ayat ini sangat kita hafal, ini memperlihatkan dengan jelas kepada kita, bahwa kita tidak bisa direbut oleh siapapun dikarenakan "tanganKu . . . tangan BapaKu." Tangan Tuhan Yesus, tangan Bapa, telah memegang erat kita, siapakah yang dapat merebut kita dari tangan yang demikian? Tidak ada. Ada orang berpikir, ya memang tidak ada orang yang bisa merebutnya, tetapi kita bisa melarikan diri. Jika ada seorang Kristen yang berkata demikian, dia boleh dikatakan sebagai satu orang yang tidak mengerti Injil. Saya ingin bertanya, jika ada seorang ayah yang menggandeng tangan anaknya dan berjalan di jalanan, ketika sang ayah melihat satu bahaya atau si anak ingin melepaskan diri dari pegangan ayahnya, apakah yang akan diperbuat ayahnya? la akan melepaskannya atau memegangnya erat-erat?

Di Amerika ada seorang perempuan Negro, setelah ia beroleh selamat dengan sukacita ia menyanyikan lagu, "Sekali beroleh selamat, selamanya beroleh selamat." Seorang yang masih setengah percaya Tuhan bertanya kepadanya, "Anda demikian bernyanyi, dapatkah Anda menjamin bahwa Anda pasti masuk ke surga?" Perempuan ini lalu menghafalkan Yohanes 10:28-29 kepadanya. Orang itu berkata, "Ya, tetapi Anda jangan terlalu berbesar hati. Anda harus tahu, bahwa tangan yang besar, lubang di antara jari tangan juga besar. Begitu Anda tergelincir, Anda segera jatuh keluar." Perempuan ini menjawab, "Aku selamanya tidak bisa terjatuh keluar, karena aku justru satu bagian dari jari kelingking kecil dari Allah!" Perempuan ini mengenal Alkitab. Apa yang dia katakan sangatlah benar. Karena Tuhan adalah Sang Kepala, dan kita adalah TubuhNya. Antara kita dengan Dia ada hubungan hayat. Jika dikatakan bahwa orang Kristen bisa binasa kekal, maka Tubuh Kristus akan selamanya ada kekurangan -- cacat, selamanya tidak bisa lengkap sempurna. Semoga setiap orang Kristen bisa berkata kepada Tuhan, "Haleluya! Karena begitu aku beroleh selamat, selamanya aku beroleh selamat. Karena itu aku rela mempersembahkan segalaku kepada Tuhan."