PEMBELAAN PAULUS AKAN KUASA KERASULANNYA (4)
Pembacaan Alkitab: 2Kor. 11:1-15
Dalam 2Korintus 11:3 Paulus mengatakan, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Di sini Rasul Paulus menunjukkan bahwa pengajaran-pengajaran dari para penganut agama Yahudi itu dapat dibandingkan dengan perkataan tipu muslihat yang diucapkan oleh ular itu kepada Hawa dalam Kejadian 3. Dengan kata lain, Paulus menyamakan aktivitas para penganut agama Yahudi itu dengan pekerjaan ular itu atas diri Hawa. Dari Kejadian 3 kita tahu bahwa ular itu mengalihkan perhatian Hawa dari kenikmatan atas pohon hayat. Cara ular itu memalingkan Hawa dari pohon hayat adalah dengan menunjukkan kepadanya pohon yang lainnya, yaitu pohon pengetahuan baik dan jahat, yang menghasilkan maut.
DUA POHON
Kita telah berkali-kali menunjukkan bahwa pohon hayat itu sederhana. Pada pohon ini hanya ada satu unsur, dan unsur itu adalah hayat. Pohon hayat menghasilkan hayat. Pohon pengetahuan baik dan jahat, sebaliknya, rumit dan menyebabkan kerumitan. Pada pohon pengetahuan ini, ada kebaikan, kejahatan, pengetahuan, dan maut. Alkitab secara keseluruhan adalah perkembangan kedua pohon ini. Pohon hayat ini melambangkan Allah dalam Kristus sebagai Roh itu menjadi hayat bagi kita. Pohon pengetahuan baik dan jahat melambangkan Iblis sebagai maut. Iblis adalah penguasa maut. Pohon pengetahuan baik dan jahat melambangkan Iblis sebagai maut yang meliputi pengetahuan, baik, dan jahat. Ular itu menyimpangkan Hawa dari pohon hayat dengan pohon pengetahuan baik dan jahat beserta kerumitan-kerumitannya. Karena Hawa menyimpang dan terperangkap, ia kehilangan ketulusan dan kemurnian terhadap Allah. Akibatnya Hawa jatuh, dan maut masuk melalui kejatuhan itu. Inilah cerita tentang bagaimana ular itu menyimpangkan Hawa dari ekonomi Allah.
IBLIS DAN PARA PENGANUT AGAMA YAHUDI
Dalam 2Korintus 11 Paulus menerapkan apa yang dilakukan ular terhadap Hawa kepada para penganut agama Yahudi dan gereja di Korintus. Saya percaya bahwa di dalam rohnya, Paulus menyadari bahwa kedua perkara ini sebenarnya adalah satu dan apa yang terjadi di Korintus itu merupakan satu ulangan dari apa yang telah terjadi di Taman Eden. Hawa adalah seorang istri dan gereja di Korintus adalah seorang perawan yang suci, yang dipertunangkan kepada satu suami, yaitu Kristus. Karena alasan ini, maka dalam 2Korintus 11:2 Paulus mengatakan, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Selain itu, istri di Taman Eden ini telah diselewengkan oleh ular yang licik. Di Korintus, perawan suci itu diselewengkan oleh Iblis melalui para penganut agama Yahudi. Di tempat lainnya dalam pasal ini, Paulus menghubungkan para penganut agama Yahudi dengan Iblis.
“Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang” (ayat 13-14). Di sini Paulus menunjukkan bahwa para penganut agama Yahudi, rasul-rasul palsu itu, adalah pelayan-pelayan Iblis. Ayat 15 mengatakan, “Jadi, bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” Para penganut agama Yahudi adalah pelayan-pelayan Iblis, ini berarti mereka tidak menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Sebaliknya, apa yang mereka suplaikan sebenarnya adalah Iblis.
Paulus dapat melihat bahwa para penganut agama Yahudi itu memiliki Yesus yang lain, roh yang lain, dan injil yang lain. Dalam ayat 4 Paulus mengatakan kepada orang-orang Korintus, “Sebab kamu sabar saja, jika ada seseorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima.” Para penganut agama Yahudi menyatakan bahwa mereka memberitakan Yesus. Namun, Paulus melihat bahwa mereka memberitakan Yesus yang lain, bukan Tuhan Yesus yang diberitakan oleh Paulus. Selain itu, mereka menyatakan bahwa mereka memiliki roh; mereka mungkin menyatakan bahwa roh ini adalah Roh Kudus. Paulus kembali mendebat bahwa roh mereka bukanlah Roh Kudus; para penganut agama Yahudi memiliki roh yang lain. Selain itu, para penganut agama Yahudi itu menyatakan bahwa apa yang mereka beritakan adalah injil. Tetapi Paulus menyatakan bahwa injil mereka adalah injil yang lain.
Ketika ular itu datang kepada Hawa, ia tidak secara terbuka menyangkal firman Allah. Sebaliknya, ular itu mengatakan kepada perempuan itu, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej. 3:1). Di sini kita nampak bahwa ular itu bertanya, “Tentulah Allah berfirman?” Pertanyaan semacam ini, di satu pihak kelihatannya mengenal apa yang Allah katakan. Di pihak lain, pertanyaan ini menyangsikan firman Allah. Dengan mengajukan pertanyaan ini, ular itu menyuntikkan racun ke dalam Hawa untuk menyangsikan pembicaraan Allah.
Kaum beriman Korintus sulit membedakan Yesus yang diberitakan oleh Paulus dengan yang diberitakan oleh para penganut agama Yahudi. Namanya memang sama. Tetapi masih perlu ada pembedaan. Demikian juga mengenai Injil. Paulus datang kepada orang-orang Korintus dengan Injil. Para penganut agama Yahudi juga mengaku memberitakan Injil. Tetapi Paulus dapat membedakan bahwa injil yang diberitakan oleh para penganut agama Yahudi itu berbeda dengan Injil yang diberitakan oleh rasul-rasul. Itu bukanlah Injil seperti yang diberitakan oleh Paulus.
Dalam prinsipnya, situasi kita pada hari ini sama dengan situasi orang-orang Korintus. Istilah, definisi, dan judul dari berbagai perkara itu mungkin saja sama. Tetapi jika kita melatih pembedaan dengan tepat, kita akan sadar bahwa sebenarnya hal-hal itu tidak sama.
DIPISAHKAN DARI KENIKMATAN AKAN ALLAH
Saya ingin menunjukkan sesuatu yang penting yang berhubungan dengan Injil yang sejati, roh yang tulus, dan Yesus yang riil. Bila ada pemberitaan Injil yang sejati dan Yesus yang riil dengan roh yang tulus, Tuhan Yesus akan disuplaikan kepada orang lain sehingga mereka dapat mengapresiasi Dia, mengasihi Dia, mengikuti Dia, dan mengambil Dia sebagai segala sesuatu. Sepanjang abad, banyak orang telah memberitakan dari Alkitab dan mengajarkan Alkitab, meskipun demikian pemberitaan dan pengajaran mereka itu menyelewengkan kaum beriman dari Persona Tuhan Yesus Kristus yang mustika. Pada prinsip-nya, orang-orang semacam itu menyelewengkan kaum beriman dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh ular itu dalam Kejadian 3.
Sasaran Allah adalah hayat. Hayat ini, yang ditandai oleh pohon hayat, adalah Allah sendiri dalam Kristus sebagai Roh itu. Cara musuh, Iblis, ular itu, adalah menyelewengkan orang-orang dari hayat ini. Ia berusaha memalingkan mereka kepada pengetahuan, baik, dan jahat, yang hasilnya adalah maut. Maut adalah pemisah dari kenikmatan akan Allah.
Pemahaman yang tepat akan maut adalah bahwa maut menunjukkan pemisahan dari kenikmatan akan Allah. Ini berarti jika kita tidak memiliki kenikmatan akan Allah, kita berada dalam maut. Demikian juga, jika kita terpisah dari kenikmatan akan Allah, kita akan mati. Hal ini diwahyukan sepenuhnya dalam Roma 8. Roma 8:6 mengatakan, “Karena pikiran yang diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera” (Tl.). Dalam ayat ini maut adalah pemisah dari kenikmatan akan Allah. Hayat adalah lawannya, karena hayat adalah kenikmatan akan Allah. Ketika kita memiliki kenikmatan akan Allah, tidak ada pemisah antara kita dengan Allah, kita berada di dalam hayat dan hayat bekerja di dalam kita.
Dalam menyelewengkan orang beriman dari pohon hayat, Iblis berusaha memisahkan mereka dari kenikmatan akan Allah sebagai hayat mereka. Selama berabad-abad ular yang licik ini telah memakai pengajaran-pengajaran untuk menjauhkan umat pilihan Allah dari menikmati Dia sebagai hayat mereka. Sebagian besar pengajaran itu berhubungan dengan pengetahuan, baik, dan jahat. Tetapi pengajaran-pengajaran yang demikian menghasilkan pemisahan dari Allah.
Dari zaman para rasul sampai hari ini, ada banyak pengajaran yang berhubungan dengan doktrin, teologi, agama, praktek, liturgi, dan penyembahan terhadap Allah. Pengajaran-pengajaran semacam itu berada di garis pohon pengetahuan. Pengajaran-pengajaran itu tidak membawa kita ke dalam kenikmatan akan Allah. Sebaliknya, pengajaran-pengajaran itu memisahkan kita dari kenikmatan ini.
Pada zaman dulu ketika para penganut agama Yahudi datang ke gereja-gereja, mereka berpura-pura tulus dan jujur. Mereka dapat mengatakan bahwa mereka itu orang Ibrani, orang Israel, keturunan Abraham. Mereka juga menyatakan memberitakan Kristus dan menjadi minister-minister Kristus. Selain itu, mereka memiliki satu roh dan mengatakan bahwa apa yang mereka beritakan adalah Injil. Jika Anda berada di Korintus ketika para penganut agama Yahudi itu ada di sana, dapatkah Anda membedakan manakah Yesus yang sejati, roh yang murni, dan Injil yang benar dari yang palsu? Jika Anda ada di sana, sebagai salah satu dari orang beriman Korintus, Anda mungkin akan tertipu. Anda tidak boleh terlalu yakin bahwa Anda dapat membedakan seperti Paulus.
Dalam 2Korintus 11, Paulus itu tegas dan berani, dengan mengatakan bahwa para penganut agama Yahudi itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, dan pelayan-pelayan Iblis. Karena mereka bukanlah rasul yang sejati, maka Paulus menyebut mereka rasul yang tak ada taranya, yaitu orang-orang yang melampaui batas mereka dan yang menempatkan diri mereka sendiri pada tingkat yang super.
Hari ini, oleh belas kasihan Tuhan, kita dapat menyadari bahwa sesungguhnya Paulus adalah rasul yang terkemuka dan rasul yang berada pada tingkatan ministri yang paling tinggi. Meskipun demikian, para penganut agama Yahudi itu menyatakan bahwa mereka lebih unggul daripada Paulus. Sikap mereka adalah bahwa Paulus itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mereka, bahwa ia sedikit pengetahuannya bila dibandingkan dengan mereka. Dalam 2Korintus ada perkataan-perkataan yang menyiratkan bahwa para penganut agama Yahudi ini mengira diri mereka lebih tahu daripada Paulus. Karena itu tidak heran bila Paulus menyebut mereka rasul yang tak ada taranya. Tentunya, ini adalah satu istilah yang ironis. Paulus tidak memakai ekspresi ini secara positif. Sebenarnya, para penganut agama Yahudi itu bukanlah rasul yang tak ada taranya, karena mereka sama sekali bukanlah rasul yang sejati.
Tahukah Anda bahwa situasi kita pada hari ini sama prinsipnya dengan situasi di mana Paulus, para penganut agama Yahudi, dan orang-orang Korintus terlibat di dalamnya? Karena situasi kita sama, maka penting sekali bila kita dapat membedakan yang sejati dengan yang palsu.
RAHASIA MEMBEDAKAN
Cara yang terbaik untuk membedakan satu perkara adalah membedakannya menurut hayat atau maut. Kita perlu mengajukan pertanyaan seperti ini: Apakah pengajaran ini membantuku menikmati Tuhan lebih banyak dan membawaku ke dalam hayat atau menyuntikkan racun maut ke dalamku? Anda akan menemukan bahwa jika Anda menerima satu pengajaran atau pemberitaan ke dalam Anda, maka kenikmatan batini Anda terhadap Tuhan akan terputus. Ada beberapa hal yang berfungsi seperti penyekat yang menghentikan aliran listrik ilahi ini. Karena itu, kita harus belajar untuk membedakan, membandingkan, perkara-perkara berdasarkan hayat dan maut.
Misalnya para penganut agama Yahudi hari ini datang kepada Anda memberitakan Yesus yang lain. Apakah Anda yakin bahwa Anda dapat membedakan Yesus mereka dengan Yesus yang sesungguhnya, yaitu Yesus yang diberitakan oleh Paulus? Saya tidak yakin bahwa Anda dapat membedakan dengan tepat. Tetapi syukur kepada Tuhan untuk rahasia pembedaan yang riil. Rahasianya adalah membedakan satu pemberitaan atau pengajaran dengan melihat apakah pemberitaan atau pengajaran itu membantu kita untuk menikmati Tuhan dan mendapatkan lebih banyak suplai hayat atau tidak. Jika pengajaran seseorang memutuskan kita dari kenikmatan akan Tuhan, maka pengajaran itu pasti berasal dari ular, Iblis. Tetapi jika pemberitaan seseorang membantu kita menikmati Tuhan, maka pemberitaan itu berasal dari Allah. Karena itu, menurut cara yang diwahyukan dalam Roma 8, kita perlu membedakan menurut maut atau hayat. Banyak orang yang telah meninggalkan pemulihan Tuhan tidak memiliki suplai hayat ataupun kenikmatan. Ini adalah satu petunjuk bahwa mereka telah menelan sesuatu yang bukan berasal dari Tuhan.
Rahasia pembedaan ini adalah membedakan menurut hayat atau maut. Pengajaran mana pun yang membuat kenikmatan Anda terhadap Tuhan berhenti adalah pengajaran yang berasal dari maut, tidak peduli betapa baiknya pengajaran itu. Selama pengajaran atau pemberitaan seseorang mencabut kita dari kenikmatan akan Tuhan sebagai suplai hayat kita, maka pengajaran itu berasal dari ular itu. Namun, ministri Tuhan yang sejati selalu menguatkan kita dalam kenikmatan akan Dia sebagai suplai hayat kita.
Kita tidak boleh mengharapkan agar jumlah penganut agama Yahudi itu berkurang. Sebaliknya, jumlah mereka mungkin akan bertambah. Bila Anda mendengar mereka berbicara atau membacakan buku-buku mereka, ingatlah prinsip membedakan menurut hayat dan maut ini. Segala sesuatu yang memutuskan Anda dari kenikmatan akan Tuhan itu berasal dari si ular. Tetapi segala sesuatu yang membuat kenikmatan Anda akan Tuhan semakin bertambah itu berasal dari Roh itu dan dari ministri Perjanjian Baru.
STRATEGI IBLIS
Dua Korintus 11:2-3 sangat penting. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Paulus jelas mengenai strategi Iblis. Ia menyadari bahwa strategi Iblis adalah menyebarkan perangkap doktrin untuk menjerat kaum saleh. Karena itu, Paulus menjauhkan diri dari perangkap itu. Selain itu, ia berusaha menjauhkan kaum saleh dari perangkap itu dengan mengingatkan mereka bahwa ia cemburu kepada mereka dengan cemburu Allah, dan bahwa ia telah mempertunangkan mereka dengan satu Suami untuk membawa mereka sebagai perawan yang suci kepada Kristus. Ia memberi tahu kaum saleh bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka mengasihi apa pun atau siapa pun selain Dia, sebaliknya menghendaki mereka mengasihi Dia secara unik, tulus, dan sepenuhnya. Dalam ayat 3 Paulus mewahyukan perhatiannya kepada kaum beriman Korintus agar mereka tidak tertipu dan kehilangan ketulusan dan kemurnian mereka terhadap Tuhan. Dari ayat ini kita melihat bahwa kita perlu tulus dan murni. Jangan menjadi orang yang ruwet dalam pikiran Anda, dalam pemahaman Anda, dengan begitu banyak pengajaran atau isme-isme. Sebaliknya, peliharalah ketulusan dan kemurnian Anda untuk menikmati Tuhan sebagai suplai hayat Anda.
Dalam 2Korintus 11 Paulus membicarakan Yesus yang lain, roh yang lain, injil yang lain, rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, penyamaran Iblis menjadi malaikat terang, dan pelayan-pelayan Iblis yang menyamar menjadi pelayan-pelayan kebenaran. Jika kita mendoa-bacakan ayat-ayat ini dan bersekutu mengenainya, kita akan menerima lebih banyak terang, dan mendapatkan lebih banyak suplai hayat.