PEMBELAAN PAULUS AKAN KUASA KERASULANNYA (3)
Pembacaan Alkitab: 2Kor. 11:1-15
Seperti yang ditunjukkan dalam 1Korintus, ada banyak masalah di antara orang-orang Korintus. Tetapi melalui Surat Kiriman Paulus yang pertama kepada orang-orang Korintus, banyak dari antara mereka yang dibawa kembali kepada Tuhan. Mereka mengalami pendamaian yang lebih lanjut kepada Allah. Ada yang bahkan sepenuhnya dibawa kembali kepada Allah. Meskipun banyak masalah yang telah dipecahkan, tetapi ada satu masalah yang masih ada masalah kerasulan Paulus. Hal yang paling “tajam” dalam satu gereja lokal adalah mempertanyakan rasul, yaitu orang yang meministrikan Kristus kepada gereja.
Paulus menyimpan butir ini sampai yang terakhir, karena penanggulangan masalah-masalah lainnya merupakan prasyarat untuk menanggulangi masalah ini. Jika kaum saleh masih memiliki banyak masalah dan jika situasi di antara mereka belum tenang, maka Paulus belum bisa membicarakan tentang kerasulannya. Bukanlah waktu yang tepat baginya untuk membela kuasa kerasulannya. Namun, karena kebanyakan orang Korintus itu telah tenang dan masalah-masalah di antara mereka telah dipecahkan, maka Paulus menyadari bahwa waktunya telah tiba untuk menanggulangi masalah yang terakhir, yaitu masalah kaum beriman dalam hubungannya dengan kerasulannya. Masalah yang terakhir di gereja lokal mana pun selalu adalah masalah dengan orang-orang yang meministrikan, yaitu dengan rasul-rasul.
Karena sulit bagi seseorang untuk membela dirinya, maka Paulus juga merasa sulit untuk membela kuasa kerasulannya. Jika ia membela kuasa kerasulan Petrus, itu akan jauh lebih mudah. Membicarakan orang lain selalu lebih mudah daripada membicarakan secara langsung diri sendiri.
Dalam pasal 10 sampai 13 Paulus melaksanakan tugas yang sulit untuk membela kerasulannya dan memecahkan masalah yang terakhir yang ada dalam gereja di Korintus. Jika masalah ini tidak terpecahkan, maka gereja di Korintus tetap akan sakit. Gereja mana pun yang memiliki masalah terhadap rasul, adalah gereja yang tidak sehat. Karena gereja di Korintus memiliki masalah dengan Paulus, yaitu orang yang meministrikan, maka gereja itu sakit. Karena itu, empat pasal yang terakhir dari 2Korintus ini ditulis dengan tujuan memecahkan masalah ini. Akan lebih baik lagi jika orang lain, seperti Timotius atau Petrus, yang melakukan hal ini bagi Paulus. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Paulus dalam menulis pasal-pasal ini.
DIPENGARUHI OLEH PENGAJARAN
AGAMA YAHUDI
Dalam pasal 10 sampai 13 Paulus sebenarnya sedang menanggulangi masalah yang disebabkan oleh para penganut agama Yahudi. Ini berarti di sini ia sedang menanggulangi para penganut agama Yahudi itu sendiri, yang merupakan satu masalah yang serius. Dalam menanggulangi para penganut agama Yahudi, pertama-tama Paulus mengatakan dalam pasal 10 bahwa senjata rasul-rasul dalam peperangan ini bukanlah senjata duniawi (daging), melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng-benteng. Di tempat lainnya dalam pasal 10, Paulus selanjutnya mengatakan bahwa ia tetap dalam batasannya, sedangkan para penganut Yahudi melampaui batasan mereka.
Dalam pasal 10 Paulus pertama-tama menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa mereka telah diindoktrinasi, dan sedikitnya mereka telah dipengaruhi oleh pengajaran-pengajaran agama Yahudi. Menurut perkataan Paulus dalam 2Korintus 10:5, pengajaran-pengajaran itu adalah siasat-siasat dan kubu-kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Pemikiran-pemikiran yang memberontak itu telah disuntikkan ke dalam orang-orang Korintus dan membuat mereka menjadi pemberontak. Karena itu, perlu ada peperangan rohani untuk merubuhkan benteng-benteng dari siasat-siasat itu dan membuat setiap pemikiran ditawan kepada ketaatan Kristus.
Sumber pemberontakan ini adalah para penganut agama Yahudi. Para penganut agama Yahudi itu jelas-jelas telah melampaui batas. Allah, menurut kedaulatan-Nya, tidak memberikan daerah Akhaya kepada penganut-penganut agama Yahudi. Sebenarnya, Allah tidak memberikan apa-apa kepada mereka. Meskipun demikian, dengan melampaui batas, mereka keluar dari daerah mereka sendiri dan akibatnya mereka mengganggu batas daerah kerja rasul.
Dalam membela dirinya terhadap para penganut agama Yahudi, Paulus sadar bahwa menyinggung mereka secara terbuka dalam tulisannya itu tidaklah pantas. Inilah sebabnya banyak orang Kristen merasa sulit untuk memahami pasal 10 ini. Semasih muda, saya berkali-kali membaca pasal ini tanpa memahami apa yang Paulus katakan. Pada waktu itu, saya tidak mengerti latar belakang dari pasal ini. Pada suatu hari saya tahu sejarah dan latar belakangnya, dan hal ini membuat saya mengenal perasaan Paulus dan menjamah rohnya dalam pasal ini. Kemudian saya mulai memahami 2Korintus 10 dengan cara yang dijelaskan di atas. Sekarang kita dapat melihat bahwa Paulus menulis pasal ini untuk menanggulangi para penganut agama Yahudi, yang telah membangkitkan pemberontakan di antara kaum beriman di Korintus. Dua Korintus 10:4-6 bukan mengacu kepada orang-orang yang tidak percaya, melainkan mengacu kepada kaum beriman di Korintus.
Para rasul pergi memberitakan Injil dan mengajarkan kebenaran di dalam pengukuran Allah dan menurut kapasitas-Nya. Aktivitas mereka benar-benar dari Allah. Akan tetapi para penganut agama Yahudi datang melampaui batas mereka dan melanggar batas daerah kerja rasul.
Melampaui batas seperti itu selalu mendatangkan pemberontakan. Inilah penyebab pemberontakan di dalam diri kaum beriman di Korintus, dan Paulus perlu berperang melawan pemikiran-pemikiran yang angkuh dan siasat-siasat yang memberontak ini. Dalam pasal 10 Paulus sebenarnya terlibat dalam peperangan melawan pemberontakan ini. Dalam pasal ini kita melihat pemberontakan dan juga perkara melampaui batas pengukuran yang tepat.
BEBERAPA KATA YANG TEGAS
Paulus tegas dalam pasal 10, tetapi dalam pasal 11 ia lebih tegas lagi. Dalam 2Korintus 11:13-15 ia mengatakan mengenai para penganut agama Yahudi itu, “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi, bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” Kata “menyamar” dalam ayat 13 juga berarti pura-pura. Para rasul palsu penuh dengan tipuan, menyamar sebagai para rasul sejati yang benar dalam segala hal.
Ayat 14 menunjukkan bahwa Iblis adalah sumber dari para rasul palsu. Mereka mengikuti Iblis untuk menipu, menghalangi ekonomi Allah. Allah adalah terang, para malaikat-Nya juga milik terang. Sebaliknya, Iblis adalah gelap, dan semua pengikutnya juga di dalam kegelapan. Tidak ada persekutuan antara terang dengan gelap (6:14).
Para minister (pelayan) kebenaran dalam ayat 15 adalah para rasul sejati, yang menjalankan ministri kebenaran (3:9). Apa saja yang dilakukan oleh utusan-utusan Iblis sama sekali tidak benar. Kebenaran tidak berpasangan dengan kedurhakaan (6:14).
Dalam 11:5 Paulus menyebut para penganut agama Yahudi sebagai rasul-rasul yang tak ada taranya: “Tetapi menurut pendapatku sedikit pun aku tidak kurang daripada rasul-rasul yang tak ada taranya itu.” Paulus menyebut rasul-rasul palsu yang disebut dalam ayat 13 dan 12:11 secara ironis dengan memakai istilah rasul-rasul yang tak ada taranya, yaitu para rasul dalam derajat yang tak terhingga. Rasul-rasul palsu itu melampaui derajat kesejatian para rasul. Para rasul palsu adalah para penganut agama Yahudi yang datang ke Korintus untuk memberitakan Yesus yang lain dengan roh yang lain dalam injil yang lain (ayat 4).
Orang-orang Korintus mengira bahwa para penganut agama Yahudi itu hebat dan bahwa mereka benar-benar melakukan satu pekerjaan yang sempurna dalam membantu orang-orang Korintus. Sesungguhnya, para penganut agama Yahudi itu melakukan pekerjaan yang sama persis dengan Iblis. Mereka menyamar sebagai para pelayan kebenaran, yaitu sebagai rasul-rasul Kristus. Karena itu, Paulus memakai empat istilah untuk menggambarkan mereka: rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, rasul yang tak ada taranya, dan pelayan Iblis.
Paulus juga menyinggung para penganut agama Yahudi dalam ayat 4: “Sebab kamu sabar saja, jika ada seseorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima.” Yesus yang lain berarti orang yang lain; roh yang lain berarti roh yang berunsur lain; dan injil yang lain berarti injil jenis lain.
Para penganut agama Yahudi ini memakai banyak istilah yang sama yang dipakai oleh para rasul: Yesus, roh, dan injil. Dengan menyatakan bahwa mereka adalah rasul-rasul Kristus, mereka memberitakan Yesus dan meminis-trikan roh tertentu. Selain itu, mereka menyatakan bahwa apa yang mereka ajarkan adalah injil. Namun, mereka memiliki Yesus yang lain, roh yang lain, dan injil yang lain.
Tidak diragukan lagi, para penganut agama Yahudi itu fasih dan sangat menarik. Mereka memiliki banyak pengetahuan tentang Perjanjian Lama, dan mereka juga tahu Injil Perjanjian Baru. Tetapi dalam membicarakan mereka, Paulus berani dan menyebut mereka rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, dan pelayan-pelayan Iblis. Ia bahkan menjuluki mereka “rasul-rasul yang tak ada taranya”.
Dalam ayat 4 Paulus memberi tahu orang-orang Korintus bahwa mereka sabar terhadap para penganut agama Yahudi itu. Kata “sabar” di sini juga berarti dengan indah, ideal. Di sini kata ini dipakai secara ironis. Dalam ayat 1 rasul menyatakan keinginannya supaya kaum beriman di Korintus, yang sabar terhadapnya, akan lebih bersabar lagi. Dalam ayat ini dia menunjukkan fakta bahwa mereka dengan sangat sabar menghadapi para rasul palsu. Maksudnya ialah, “Karena kamu begitu baik, begitu indah, begitu sabar terhadap para rasul palsu, maka bersabarlah juga terhadapku.” Inilah sebabnya Paulus memakai kata “sebab” pada permulaan ayat ini.
PENGANUT-PENGANUT AGAMA YAHUDI
PADA HARI INI
Apakah Anda mengira bahwa situasi yang kita hadapi pada hari ini berbeda dengan situasi yang dihadapi oleh Paulus? Situasi kita pada hari ini mirip sekali. Pada prinsipnya, pada hari ini ada penganut-penganut agama Yahudi, sama seperti pada zaman rasul-rasul.
Semasih muda, saya mengira bahwa zaman rasul itu pasti sempurna, menakjubkan dan hebat. Akhirnya saya tahu bahwa situasi pada waktu itu pada prinsipnya sama dengan situasi hari ini. Jika kita memahami hal ini, kita tidak akan putus asa bila kita menghadapi penentangan. Ada orang yang memuji Tuhan untuk pemulihan ini. Namun, ketika mereka memikirkan penentangan, mereka mungkin sangat terganggu. Saya ingin mendorong Anda agar tidak terganggu, karena situasi yang kita hadapi pada hari ini sama prinsipnya dengan situasi yang dihadapi oleh Paulus selama zaman kerasulannya.
BERPERANG UNTUK MENUNDUKKAN
PEMIKIRAN-PEMIKIRAN YANG MEMBERONTAK
Dalam 2Korintus 11, Paulus harus menanggulangi situasi di sebuah gereja yang didirikan olehnya. Ada rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, dan pelayan-pelayan Iblis, yang mengunjungi gereja di Korintus dan membangkitkan pemberontakan terhadap Paulus dan pengajarannya. Sekalipun Paulus telah lebih dulu datang ke Korintus dan telah membawa banyak orang Korintus kepada Tuhan melalui pemberitaannya, tetapi kaum beriman Korintus masih menerima rasul-rasul palsu itu.
Kisah Para Rasul 16 mencatat bagaimana Paulus datang ke Makedonia. Ia memberitakan di Asia Kecil, di daerah yang telah diukurkan Allah kepadanya. Pada suatu waktu, Paulus merasa bahwa ia harus meneruskan pemberitaannya ke mana-mana. Namun, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan atau ke mana ia harus pergi. Ia mungkin berpikir bahwa ia tidak seharusnya pergi ke Eropa, melainkan tetap tinggal di Asia. Kemudian ia bermimpi tentang seorang Makedonia yang berkata, “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!” (Kis. 16:9). Setelah mempertimbangkan mimpi itu, Paulus menyimpulkan bahwa Allah memanggilnya untuk melayani di Eropa. Maka, ia memberitakan Injil di Filipi, Tesalonika, Athena, dan Korintus. Hasil pemberitaan ini, ada sebuah gereja yang didirikan di Korintus. Setelah itu, para penganut agama Yahudi datang ke Korintus dan menimbulkan kesulitan.
Sulit dipercaya bahwa kaum saleh di Korintus akan menerima pengajaran dari para penganut agama Yahudi itu. Meskipun demikian, ini adalah satu fakta bahwa sedikitnya ada sebagian orang Korintus yang menerima pengajaran-pengajaran itu dan yang terangsang atau sedikitnya terpengaruh oleh mereka. Pengajaran-pengajaran itu membuat beberapa orang meragukan kerasulan Paulus dan menentang dia dan ministrinya.
Kita telah melihat bahwa Paulus telah membantu orang-orang Korintus untuk memecahkan sejumlah masalah. Tetapi masalah mengenai hubungan antara kaum beriman di Korintus dengan Rasul Paulus masih perlu dibereskan. Tentunya, tidak semua orang Korintus memiliki masalah dengan Paulus. Hanya beberapa dari antara mereka yang memiliki masalah. Tetapi ini pun membuat Paulus perlu memakai empat pasal untuk menanggulangi masalah ini.
Kita telah melihat bahwa dalam pasal 10 Paulus itu tegas dan dalam pasal 11 ia bahkan lebih tegas lagi, di mana ia membicarakan rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, pelayan-pelayan Iblis, dan rasul-rasul yang tak ada taranya. Jika Anda adalah seorang beriman di Korintus yang telah menerima pengajaran dari para penganut agama Yahudi, apakah Anda akan menerima perkataan Paulus mengenai rasul-rasul palsu itu? Belum tentu demikian. Inilah alasan Paulus berperang untuk menundukkan pemikiran-pemikiran yang memberontak di antara orang-orang Korintus.
CARA PAULUS BERPERANG
Sekarang marilah kita melanjutkan untuk melihat cara Paulus berperang melawan pengajaran-pengajaran agama Yahudi. Dalam 2Korintus 11:1 ia mengatakan, “Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu. Memang kamu sabar terhadap aku!” Pemakaian kata “kebodohan” secara ironis mengacu kepada pembelaan diri dan kemegahan diri yang terpaksa rasul lakukan. Di sini Paulus seolah-olah memberi tahu orang-orang Korintus, “Sabarlah terhadapku dalam hal kebodohanku yang kecil itu. Sebelumnya, aku bijaksana. Sekarang aku ingin berbicara dengan bodoh. Sebelum aku melakukan ini, aku meminta kamu agar bersabar terhadapku dalam kedodohanku yang kecil ini. Aku tidak akan bermegah atau berbicara dengan bodoh tanpa batas. Apa yang aku ingin katakan ada batasnya.”
Dalam ayat 2 Paulus melanjutkan, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Kecemburuan ini dapat dibandingkan dengan cemburunya seorang suami atas istrinya. Kata “perawan” dalam ayat ini berarti mempelai perempuan bagi mempelai laki-laki (Yoh. 3:29), istri Anak Domba (Why. 19:7).
Dengan menyatakan perkataan yang tercatat dalam ayat 2, Iblis dikalahkan, dan semua penganut agama Yahudi dijatuhkan. Baik di zaman Paulus atau di zaman kita, para penganut agama Yahudi tidak pernah menyuplaikan kepada kita sesuatu yang membuat kita dapat memustikakan Tuhan Yesus sebagai Dia yang terkasih dan mustika. Sebaliknya, apa yang disuplaikan oleh para penganut agama Yahudi merangsang gairah kita terhadap agama. Para penganut agama Yahudi hari ini mungkin akan berkata demikian: “Pengajaran ini bidah dan menghancurkan agama kita. Ini bertentangan dengan tradisi yang kita warisi dari nenek moyang kita.” Para penganut agama Yahudi sepanjang zaman dan abad selalu berusaha melindungi agama mereka dan berpegang kepada doktrin yang tradisional.
Para penganut agama Yahudi yang datang ke Korintus mungkin berkata, “Ya, kita harus percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi bagaimana kita dapat meninggalkan hukum Taurat yang diberikan oleh Allah melalui Musa? Manusia Paulus itu bidah. Ia telah menghancurkan hukum Taurat, dan ia menentang sunat. Ini berarti kesudahan dari agama kita. Apakah Allah salah dalam memberikan hukum Taurat? Apakah Musa, Yosua, Samuel, Daud, Elia, dan semua nabi lainnya itu salah? Apakah hanya Paulus saja yang benar? Paulus, yang datang kepada kamu sebagai seorang rasul itu, harus dipersalahkan.” Inilah cara para penganut agama Yahudi berbicara pada zaman Paulus, dan inilah cara mereka berbicara pada hari ini. Orang-orang yang menentang pemulihan Tuhan sering kali mengatakan sesuatu seperti ini: “Apakah menurut Anda setiap orang dan segala sesuatu itu salah kecuali Anda? Apakah hanya pengajaran-pengajaran Anda saja yang tepat? Kami akan bangkit melawan gereja lokal dan mengalahkannya. Hal ini harus diakhiri.”
MENGGUGAH ORANG
UNTUK MENGASIHI TUHAN YESUS
Karena Paulus bijaksana, ia tidak berdebat dengan para penganut agama Yahudi mengenai doktrin. Sebaliknya, ia memberi tahu orang-orang Korintus bahwa ia cem-buru kepada mereka dengan cemburu Allah. Ia selanjutnya mengatakan bahwa ia telah mempertunangkan mereka kepada seorang suami untuk membawa mereka sebagai perawan suci kepada Kristus. Satu pembicaraan yang menakjubkan! Perkataan Paulus dalam ayat 2 ini sangat menjamah. Perkataan ini sangat menjamah hati kita dan menggugah kasih kita terhadap Tuhan Yesus. Berita-berita pelajaran hayat sering kali menjamah hati kita secara demikian. Setelah membaca beberapa halaman dari suatu berita, perasaan yang lembut di dalam Anda terhadap Tuhan Yesus itu tergugah, dan Anda sadar betapa terkasihnya dan mustikanya Dia itu. Namun, kadang-kadang pikiran teologis dan doktrinal Anda mempersoalkan dan mem-pertanyakan tentang Trinitas atau tentang Kristus yang menjadi Roh itu. Anda mungkin berpikir tentang modalisme. Anda mungkin bertanya-tanya apakah ministri dalam pemulihan Tuhan ini dapat dipercaya. Tetapi setelah membaca satu bagian dari satu berita pelajaran hayat, Anda sekali lagi merasakan bahwa sebagai Mempelai Laki-laki, Tuhan Yesus itu menarik dan mustika. Dengan spontan Anda akan berkata, “O Tuhan Yesus, Mempelai Laki-laki yang terkasih, aku cinta kepada-Mu. Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu, untuk ministri-Mu, dan untuk pemulihan-Mu.” Tetapi setelah sejangka waktu Anda mungkin mulai berpikir tentang denominasi dan bertanya-tanya, “Apakah semua denominasi itu salah? Apakah benar bahwa seharusnya hanya ada satu gereja di satu kota? Lalu, bagaimana dengan semua orang Kristen lainnya?” Para penganut agama Yahudi itu merangsang timbulnya pertanyaan-pertanyaan, tetapi ministri yang sejati menggugah kasih kita terhadap Tuhan Yesus sebagai Mempelai Laki-laki kita.
Para penganut agama Yahudi pada hari ini berusaha menggoyahkan kaum beriman dari mengasihi Tuhan Yesus. Meskipun demikian, kita harus berpaling dari hukum Taurat Musa dan dari para nabi dan memusatkan perhatian kita kepada Tuhan. Kita perlu melihat dari 2Korintus 11:2 bahwa kita telah dipertunangkan kepada satu suami untuk membawa kita sebagai perawan yang suci kepada Kristus. Karena itu, kita harus berkata, “Tuhan Yesus yang terkasih adalah Suami kita satu-satunya, dan aku adalah bagian dari perawan suci-Nya. Aku tidak peduli dengan doktrin atau teologi. Aku hanya memperhatikan ministri yang menyuplaikan Kristus kepadaku. Dia adalah Persona yang menyenangkan dan yang terkasih yang aku cintai.”
Beban saya dalam berita ini adalah menanamkan ke dalam kaum saleh perkataan Paulus dalam ayat 2: “Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Kita telah melihat bahwa dalam pasal 11 Paulus memiliki beberapa hal yang tegas untuk dikatakan mengenai para penganut agama Yahudi, yaitu rasul-rasul palsu. Tetapi sebelum ia mengucapkan kata-kata itu, ia mengingatkan kaum beriman di Korintus bahwa ia telah mempertunangkan mereka kepada satu Suami, bukan mempersembahkan mereka sebagai pelajar-pelajar teologi, melainkan mempersembahkan mereka sebagai perawan yang suci kepada Kristus.
KESETIAAN DAN KEMURNIAN KEPADA KRISTUS
Dalam ayat 3 Paulus selanjutnya mengatakan, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Kata “kesetiaan” di sini juga dapat diterjemahkan “ketulus-an”. Ini mengacu kepada kesetiaan dan ketulusan kaum beriman terhadap Kristus. Paulus takut kalau-kalau pemikiran-pemikiran kaum beriman di Korintus akan disesatkan. Mereka adalah perawan yang suci bagi Kristus, tetapi sebagaimana ular itu memperdaya Hawa, maka pemikiran-pemikiran mereka juga dapat disesatkan dari ketulusan dan kemurnian mereka terhadap Kristus. Kenyataannya, ada beberapa orang Korintus yang telah disesatkan secara demikian. Maka, di sini Paulus seolah-olah berkata, “Orang-orang Korintus yang terkasih, apa yang kuperhatikan ialah agar kamu mau menjaga ketulusan dan kemurnianmu terhadap Kristus. Kamu harus melupakan pengajaran-pengajaran dan agama Yahudi, bersikaplah tulus terhadap Kristus. Kristus adalah Mempelai Laki-lakimu yang terkasih, dan kamu perlu mengasihi Dia.”
Memulihkan doktrin atau teologi itu bukanlah sasaran pemulihan Tuhan. Sasaran kita adalah memulihkan kasih kita terhadap Kristus sebagai Suami kita satu-satunya. Kita seharusnya hanya menjadi milik Dia. Asalkan kita dibawa sebagai perawan yang suci kepada Suami ini, mengasihi Dia, mengapresiasi Dia, dan menjadi milik-Nya, kita akan terpelihara. Ini akan menjaga kita, menguduskan kita, menjenuhi kita, dan mengubah kita. Seperti yang akan kita lihat, dalam empat pasal yang terakhir dari Surat Kiriman ini, tidak ada sesuatu pun yang doktrinal atau teologis. Yang kita miliki di sini adalah satu Persona yang terkasih, Suami yang unik, dan universal. Kita semua telah dipersembahkan sebagai satu perawan yang suci kepada-Nya. Kita adalah bagi Dia, dan kita harus tertarik kepada Dia, mengasihi Dia, mengapresiasi Dia, dan memustikakan Dia. Ini akan memelihara kita dan membantu kita untuk dikuduskan dan diubah.
Pemulihan Tuhan bukanlah perkara teologi, tradisi, agama, atau cara-cara. Sebaliknya, ini adalah perkara satu Persona yang hidup, yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai Mempelai Laki-laki kita. Dia telah menarik kita, dan kita telah dipersembahkan sebagai satu perawan yang suci kepada-Nya. Sekarang kita seharusnya memperhatikan Dia saja, mengasihi Dia, dan tidak membiarkan seorang pun menggantikan Dia dalam hati kita. Selain itu, kasih kita terhadap-Nya harus murni, pikiran kita harus tulus, dan seluruh diri kita harus dipusatkan kepada-Nya. Ini akan memelihara, menguduskan, menjenuhi, dan mengubah kita. Puji Tuhan, inilah pemulihan-Nya!