← Daftar isi Berkuasa dalam Hayat, Pahala Kerajaan, dan Yerusalem Baru · bab 7/24

PERASAAN DAN PERSEKUTUAN HAYAT

Pembacaan Alkitab

Rm. 8:6; Ef. 4:19; 2 Kor. 13:14; Flp. 2:1; 1 Yoh. 1:1-7; 2:27.

Garis Besar

I. Perasaan hayat

A. Dasar Alkitab

B. Sumber perasaan hayat

C. Fungsi perasaan hayat

II. Persekutuan hayat

A. Sumber persekutuan hayat

B. Perantara persekutuan hayat

C. Arti persekutuan hayat

D. Kita harus mempertahankan persekutan hayat

E. Fungsi persekutuan hayat

F. Siklus hayat

I. PERASAAN HAYAT

Setiap jenis hayat mempunyai perasaan. Setelah seorang bayi dilahirkan, dengan segera, dia mempunyai perasaan-perasaan hayat insani. Walaupun perasaan-perasaannya tidaklah kuat, akan tetapi, dia mulai memiliki dan membangun perasaan-perasaan hayat ini seperti perabaan, pendengaran, penglihatan, dan lain-lain.

Setelah kita dilahirulangkan, kita juga mempunyai perasaan hayat ilahi. Kita menyebut perasaan ini sebagai perasaan hayat. Perasaan ini hanya merupakan perasaan roh. Melalui perasaan ini, kita tahu bahwa kita telah diselamatkan. Pengalaman hayat banyak hubungannya dengan mengenal perasaan itu, pembangunan perasaan itu, dan hidup oleh perasaan hayat.

A. Dasar Alkitab

Walaupun Alkitab tidak menyinggung secara jelas perasaan hayat, tetapi sebenarnya Alkitab berbicara mengenai hal ini. Roma 8:6 mengatakan, "Pikiran yang diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera." Ayat ini dengan jelas mengatakan kepada kita mengenai perasaan hayat, karena damai sejahtera yang dikatakan di sini secara jelas merupakan perkara kesadaran. Damai sejahtera ini tidak mengacu kepada lingkungan yang di luar, tetapi kondisi yang di dalam; oleh karena itu, ini benar-benar merupakan perkara perasaan. Karena damai sejahtera yang disinggung di sini merupakan suatu perkara perasaan, maut dan hayat yang disinggung di sini juga merupakan perkara perasaan.

Perasaan maut berhubungan dengan kepedulian kita akan daging, sedangkan perasaan hayat dan damai sejahtera berhubungan dengan kepedulian kita terhadap roh. Ketika kita hidup di dalam roh, mengikuti roh, dan mempedulikan roh, kita akan merasa kuat dan puas di dalam kita. Pada saat yang sama kita juga merasa hidup, terang, nyaman, dan tenang. Sebagai contoh: jika Roh Kudus memberikan perasaan kepada Anda dan Anda mempedulikan dan mematuhinya, Anda akan merasa kuat dan puas di dalam, pada saat yang sama Anda akan merasa hidup, terang, nyaman, dan tenang. Demikianlah, Anda akan mendapatkan perasaan hayat dan damai karena Anda mempedulikan roh.

Catatan kedua dalam Alkitab mengenai perkara perasaan hayat adalah di dalam Efesus 4:19, yang menyinggung bahwa orang-orang kafir,"perasaan mereka telah tumpul sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran." Hal ini memberitahukan kita bahwa penyebab orang-orang dunia melakukan dosa dan kejahatan adalah karena mereka mengabaikan semua perasaan. Ketika seseorang berdosa dan melakukan kejahatan, kita tidak dapat mengatakan bahwa dia tidak mempunyai perasaan, tetapi setidaknya kita dapat mengatakan bahwa dia telah mengenyampingkan perasaan-perasaannya. Semakin seseorang melakukan dosa dan melakukan kejahatan, berarti dia semakin mengesampingkan kesadaran batiniahnya. Oleh karena itu, seorang manusia yang jahat dan keji, perasaannya kosong, sebaliknya seorang yang baik hati kaya akan perasaan.

Sekarang, perasaan batin siapakah yang lebih kuat? Orang Kristen atau orang kafir? Kita harus menjawab bahwa perasaan-perasaan kita lebih kuat, karena, kita bukan hanya memiliki perasaan-perasaan yang telah mereka miliki, kita juga telah memiliki perasaan hayat di dalam kita, yang mana mereka tidak memilikinya. Oleh karena itu, jika kita berdosa dan melakukan kejahatan, kita pasti telah mengesampingkan perasaan-perasaan kita lebih daripada mereka. Karena alasan inilah, Alkitab menasihati kita supaya tidak mengenyampingkan semua perasaan seperti yang dilakukan orang-orang kafir. Oleh karena itu, Alkitab meminta supaya kita memperhatikan perasaan batin kita. Tentu saja, ini menekankan supaya kita memperhatikan perasaan hayat batiniah.

Lebih jauh lagi, hampir setiap surat Rasul memiliki kata-kata berkat dan salam yang menyinggung kasih karunia dan damai sejahtera. Kasih karunia adalah Allah didapatkan oleh kita, dan damai sejahtera adalah perasaan yang kita dapatkan karena kita mendapat Allah. Kasih karunia adalah Allah kita dapatkan untuk menjadi hayat kita dan untuk kita nikmati. Kasih karunia ini di dalam kita menghasilkan damai sejahtera, ia menyebabkan kita memiliki perasaan damai di dalam. Ketika para Rasul mengharapkan orang-orang memiliki damai, artinya mereka mengharapkan orang-orang memiliki perasaan batiniah, atau damai di dalam. Perasaan batiniah akan damai sejahtera merupakan perasaan hayat. Oleh karena itu, ketika mereka mengemukakan kedambaan mereka bahwa orang-orang bisa mempunyai perasaan damai sejahtera di dalam, para Rasul ingin supaya orang-orang memperhatikan perasaan hayat batiniah.

B. Sumber Perasaan Hayat

Dari manakah datangnya perasaan hayat yang sedang kita bicarakan ini? Dari apakah perasaan hayat dihasilkan? Perasaan hayat dihasilkan dari hal-hal yang kita peroleh melalui kelahiran kembali hayat Allah, hukum hayat, Roh Kudus, Kristus, dan Allah. Hayat Allah, hukum hayat, Roh Kudus, Kristus, dan Allah menyebabkan kita mempunyai perasaan di dalam, dan perasaan ini adalah apa yang kita sebut perasaan hayat. Masing-masing hayat mempunyai perasaan hayat. Lebih jauh lagi, semakin kuat hayat, semakin tajam perasaannya. Hayat Allah merupakan hayat yang paling kuat. Oleh karena itu, ketika hayat ini ada di dalam kita ia menyebabkan kita bukan saja hanya memiliki perasaan-perasaan, tetapi mempunyai perasaan yang kuat.

Roh Kudus sebagai minyak urapan yang mengurapi dan begerak di dalam kita, Kristus tinggal di dalam kita dengan aktifitas; dan Allah sedang bekerja di dalam kita. Ketiganya berada di dalam kita dengan aktifitas dan tindakan. Mereka tidak diam dan membisu, oleh karena itu mereka semua menyebabkan kita memiliki perasaan-perasaan.

C. Fungsi Perasaan Hayat

Lalu apa fungsi atau kegunaan perasaan hayat ini? Fungsi atau kegunaan perasaan hayat adalah supaya kita mengetahui secara berkesinambungan di mana kita hidup. Apakah kita hidup di dalam hayat alamiah atau di dalam hayat dari Roh itu? Apakah kita hidup di dalam daging atau di dalam roh? Hal-hal inilah, melalui perasaan hayat, dapat kita ketahui secara berkesinambungan, dan untuk inilah kita memiliki perasaan hayat. Demikianlah perasaan hayat di dalam kita membimbing dan memberi petunjuk kepada kita. Jika kita mengikuti perasaan hayat, kita mengikuti bimbingan yang Allah berikan pada kita, dan pada saat yang sama, kita menerima suatu pembuktian di mana kita hidup.

Perasaan maut memberitahu kepada kita bahw kita tidak tinggal di dalam roh melainkan di dalam daging. Perasaan maut meliputi kelemahan-kelemahan, kekosongan-kekosongan, tekanan, kegelapan dan kesakitan. Begitu kita memiliki perasaan ini, ini berarti perasan hayat di dalam kita memberitahukan bahwa perasaan kita sudah tidak benar, bahwa kita sudah tidak tinggal di dalam roh, tetapi di dalam daging.

Perasaan (sense) hayat memberi kita perasaan (feeling) hayat yang damai atau dengan kata lain, ia membuat kita merasa kuat, puas, hidup, terang, dan nyaman. Ketika kita merasa kuat, puas, hidup, terang, dan nyaman di dalam, kita mempunyai bukti bahwa kita benar di hadapan Allah dan bahwa kita hidup di dalam roh. Hayat dan damai sejahtera merupakan perkara-perkara positif yang memberikan perasaan hayat ke dalam kita, sehingga membuktikan bahwa kondisi kita di dalam hayat adalah normal.

Apa yang kita lakukan ketika kita memiliki perasaan maut? Yang perlu kita lakukan adalah bertobat (berpaling) kepada Tuhan dengan menyeru namaNya. Kita juga perlu mengakui (setuju dengan) kepadaNya . Maka Dia akan mengampuni kita dan darahNya akan membasuh kita. Hasil akhirnya adalah perasaan hayat dan damai sejahtera. Allah menyediakan perasaan hayat ke dalam kita adalah supaya kita mengalami perasaan hayat secara mudah. Betapa baik dan mudahnya mengalami hayat berdasarkan perasaan hayat.

II. PERSEKUTUAN HAYAT

Yang berhubungan erat dengan perasaan hayat adalah persekutuan hayat. Maka marilah kita sekarang melihat persekutuan hayat.

A. Sumber Persekutuan Hayat

Dari manakah datangannya persekutuan hayat itu? Satu Yohanes 1:2-3 mengatakan: "Kami (para Rasul) ... memberitahu padamu (kaum imani) mengenai hayat kekal ... sehingga kamu juga dapat mempunyai persekutuan dengan kami, dan tentu saja persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa, den dengan AnakNya Yesus Kristus." Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa para Rasul memberitakan "hayat kekal" kepada kita sehingga kita dapat memiliki "persekutuan." Hayat kekal adalah hayat Allah, dan hayat Allah yang masuk kedalam kita menyebabkan kita mampu memiliki persekutuan. Karena persekutuan ini berasal dari hayat Allah, maka persekutuan ini merupakan persekutuan hayat. Oleh karena itu, hayat Allah merupakan sumber persekutuan hayat.

B. Perantara Persekutuan Hayat

Hayat Allah tinggal di dalam Roh Kudus Allah dan melalui Roh Kudus Allah-lah hayat Allah masuk ke dalam kita dan tinggal di dalam kita. Oleh karena itu, persekutuan dibawa kepada kita oleh hayat Allah, berasal dari hayat Allah, dan datang melalui Roh Kudus Allah. Maka, Alkitab juga menyebut persekutuan ini sebagai "persekutuan Roh Kudus" (2 Kor 13:14). Oleh karena itu, jika kita ingin memiliki persekutuan hayat, kita bukan saja harus memiliki hayat Allah, tapi juga hidup di dalam Roh Kudus Allah. Hayat Allah adalah sumber persekutuan hayat, dan Roh Kudus Allah adalah perantara persekutuan hayat itu.

C. Arti Persekutuan Hayat

Persekutuan artinya adalah partisipasi sendi (joint participation) dan partisipasi umum. Persekutuan itu adalah hasil dari hayat yang kekal, dan sebenarnya merupakan aliran hayat kekal di dalam semua orang percaya yang telah menerima dan memiliki hayat ilahi. Persekutuan hayat ini dilaksanakan oleh Roh itu yang ada di dalam roh kita yang telah dilahirulangkan. Sebab itu, ia disebut "persekutuan Roh Kudus" (2 Kor. 13:14) dan "persekutuan roh (kita)" (Flp. 2:1). Di dalam persekutuan hayat kekal inilah kita kaum imani berpartisipasi di dalam segala apa adanya Bapa dan Putra dan apa yang telah Bapa dan Putra lakukan bagi kita; yaitu, kita menikmati kasih Bapa dan kasih karunia Putra oleh kebajikan persekutuan Roh itu (2 Kor. 13:14).

Hayat ini mengalir keluar dari Allah, dan mengalir ke dalam beribu-ribu kaum imani, termasuk kita. Hayat yang mengalir ini berasal dari Allah, ia lewat melalui Allah, dan ia lewat melalui ribuan kaum imani termasuk kita. Demikianlah persekutuan ini menyebabkan kita memiliki persekutuan dengan Allah dan dengan ribuan kaum imani.

Makna lain daripada persekutuan hayat adalah aliran hayat. Aliran hayat ini tak terpisah dari hayat, malah ia merupakan persekutuan aliran hayat itu sendiri. Persekutuan aliran hayat ini memerlukan kita secara berkesinambungan berjalan dan hidup dengan mengikutinya dan berserah kepadanya. Ketika kita tidak mengikuti atau berserah padanya, ia berhenti mengalir. Sehingga persekutuan antara kita dengan Allah terputus dan persekutuan kita dengan kaum imani juga hilang.

Di dalam 1 Yohanes 1:6, Yohanes berkata, "Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran." Memiliki persekutuan dengan Allah adalah suatu hubungan yang intim dan hidup berkontak dengan Dia di dalam aliran hayat ilahi menurut pengurapan Roh itu di dalam roh kita (2:27). Ini memelihara kita di dalam partisipasi dan penikmatan akan terang dan kasih ilahi.

D. Kita harus Mempertahankan Persekutuan Hayat

Adalah sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa hubungan dalam hayat antara orang percaya dengan Allah tidak dapat putus (rusak). Akan tetapi, persekutuan mereka dengan Dia dapat putus. "Hubungan" bersifat mutlak, sedangkan "persekutuan" mempunyai syarat (tidak mutlak). Begitu kita telah dilahirulang, kita adalah anak-anak Allah, dan kita memiliki suatu hubungan di dalam hayat dengan Bapa kita. Hubungan kita dengan Allah berdasarkan hayat dan sudah diselesaikan sekali untuk selamanya. Oleh karena itu, hubungan hayat dengan Allah tidak mempunyai syarat dan tidak dapat putus. Tetapi persekutuan kita dengan Allah memiliki syarat-syarat tertentu, ia dapat terputus, dan ia dapat bergelombang naik turun. Oleh karena itu, kita harus memberi banyak perhatian untuk mempertahankan persekutuan hayat. Ketika kita merasa bahwa persekutuan telah putus, kita harus bertobat dan mengaku untuk memulihkan persekutuan ini.

E. Fungsi Persekutuan Hayat

Apa fungsi dari persekutuan hayat? Fungsinya adalah untuk menyuplai di dalam kita dengan segala sesuatu yang ada di dalam hayat Allah atau di dalam Allah. Segala kepenuhan di dalam Allah disuplaikan ke pada kita melalui persekutuan hayat. Semakin kita membiarkan aliran hayat mengalir di dalam kita, semakin kita tersuplai dengan kepenuhan Allah. Suplaian dan persekutuan hayat semacam ini adalah seperti peredaran darah sebagai suplaian bagi tubuh dan seperti aliran listrik sebagai suplaian bagi lampu.

Perasaan hayat menunjukkan apakah kita hidup di dalam Allah atau tidak. Dan persekutuan hayat secara berkesinambungan menyuplai kita dengan perkara-perkara hayat. Ketika suplaian hayat Anda terputus, itu berarti bahwa persekutuan hayat Anda terganggu. Jika kita secara berkesinambungan hidup di dalam persekutuan hayat, suplaian hayat kita akan datang secara berkesinambungan dan tanpa henti. Jenis suplaian ini menolong kita untuk hidup di dalam penghidupan orang Kristen yang normal.

F. Siklus Hayat

Di dalam 1 Yohanes 1:1-7 kita melihat suatu siklus di dalam kehidupan rohani kita yang terbentuk dari empat hal penting yaitu hayat kekal, persekutuan hayat kekal, terang ilahi, dan darah Yesus Putra Allah. Hayat kekal menghasilkan persekutuan hayat ilahi, persekutuan hayat kekal membawa masuk terang ilahi, dan terang ilahi meningkatkan perlunya darah Yesus Putra Allah sehingga kita bisa memperoleh lebih banyak hayat kekal. Semakin banyak kita mempunyai hayat kekal, semakin banyak persekutuan hayat kekal yang dibawa kepada kita. Semakin banyak persekutuan hayat ilahi yang kita nikmati, semakin banyak terang ilahi yang kita terima. Semakin banyak terang ilahi yang kita terima, semakin banyak kita berpartisipasi di dalam pembasuhan darah Yesus. Siklus semacam ini membawa kita maju di dalam pertumbuhan hayat ilahi hingga kita mencapai kedewasaan hayat. Jadi, kita melihat bahwa kita memiliki segala sesuatu yang kita butuhkan untuk mengalami hayat, untuk bertumbuh di dalam hayat, dan untuk dewasa di dalam hayat. Haleluya!