← Daftar isi Berkuasa dalam Hayat, Pahala Kerajaan, dan Yerusalem Baru · bab 4/24

HUKUM HAYAT DAN TERANG HAYAT

Pembacaan Alkitab

Rm. 8:2; Ibr. 8:10; Yer. 31:33; Yeh. 36:23-28; Rm. 8:29; Fil. 2:8; Yoh. 1:4; 8:12; Mzm. 36:10; 119:105, 130; 2 Kor. 4:6; 3:16

Garis Besar

I. Hukum hayat

A. Definisi hukum hayat

B. Fungsi hukum hayat

C. Kedambaan Allah dirampungkan oleh hukum hayat

II. Terang hayat

A. Hayat berasal dari terang

B. Terang berada di dalam Firman Allah

C. Terang adalah perasaan hayat yang di dalam

D. Cara untuk diterangi

I. HUKUM HAYAT

Walaupun kita telah membicarakan hukum hayat di dalam pelajaran yang lampau, kita harus lebih memperhatikan hal ini, karena hukum hayat itu sangat penting bagi pengalaman hayat kita. Tanpa pengertian yang jelas tentang hukum hayat, kita mungkin berusaha untuk menjadi orang Kristen yang baik. Tanpa kekuatan hayat, atau kita mungkin tidak melakukan apa-apa dan hanya menunggu agar Allah mengerjakan segala sesuatu bagi kita.

A. Definisi Hukum Hayat

Istilah “Hukum Roh hayat” dalam Roma 8:2 hanya digunakan satu kali di dalam Alkitab. Namun hal ini juga diwahyukan di dalam ayat-ayat yang lain seperti Ibrani 8:10; 10:16; Yeremia 31:33; Yehezkiel 36:25-28. Hukum hayat di dalam kita dimulai pada saat kita dilahirkan kembali. Kelahiran kembali adalah menerima hayat Allah masuk ke dalam roh kita. Hayat ini memiliki hukum hayat.

Suatu hukum adalah suatu pengaturan alami, suatu peraturan yang konstan dan tak dapat diubah. Hukum hayat adalah suatu karakteristik alami, suatu fungsi sejenis hayat yang ada sejak lahir dan timbul secara otomatis; semakin tinggi suatu hayat, semakin tinggi juga hukumnya. Maka, hukum hayat ilahi adalah karakteristik alami, fungsi hayat Allah yang ada sejak lahir dan timbul secara otomatis; karena hayat Allah adalah yang tertinggi, maka hukumnya juga adalah yang tertinggi. Hukum hayat yang tertinggi ini adalah fungsi dan pekerjaan hayat ilahi. Fungsi dan pekerjaan ini sudah ada sejak lahir, spontan, alami, dan otomatis.

Segala jenis hayat memiliki suatu fungsi, baik itu tumbuh-tumbuhan, hewan, insani, atau ilahi. Segala sesuatu yang tidak memiliki fungsi pasti bukan hayat. Misalnya pohon persik (peach): fungsinya adalah untuk berbunga dan menghaslkan buah persik. Demikian juga, seekor anjing mempunyai fungsi untuk menyalak, dan seekor kucing mempunyai fungsi untuk menangkap seekor tikus. Setiap hayat memiliki fungsi yang otomatis dan sudah ada sejak lahir, dan fungsi ini adalah hukum dari hayat tersebut. Menghasilkan buah persik adalah hukum pohon persik. Petani tidak perlu mengajar pohon persik, dan berkata, “Hai pohon persik, kamu harus tahu bahwa saya ingin kamu memproduksi buah-buah persik. Saya tidak mau yang lainnya.” Bila pohon persik tersebut dapat berbicara, maka dia akan berkata, “Tuan, pulanglah dan beristirahatlah. Anda tidak perlu mengajar saya. Apakah Anda tidak tahu bahwa di dalam hayat pohon persikku, terdapat hukum menghasilkan buah persik? Di dalam hayat pohon persikku terdapat suatu hukum yang menyebabkan saya tidak menghasilkan jenis buah yang lain. Hukum ini menyebabkan saya menghasilkan buah-buah persik, yaitu buah yang anda inginkan.” Demikian juga, seekor kucing menangkap tikus karena di dalam hayatnya terdapat hukum menangkap tikus, dan seekor anjing menyalak karena di dalam hayatnya terdapat hukum menyalak. Apakah hukum hayat itu? Hukum hayat adalah fungsi hayat ilahi yang ada sejak lahir dan otomatis. Hayat ilahi ini hidup, aktif, dan agresif. Hayat ini selalu bertindak, dan setiap kali bertindak maka akan berfungsi menurut hukum hayat yang otomatis.

Kita harus ingat bahwa hayat ini adalah suatu persona (pribadi)---Allah Tritunggal, demikian juga hukum ini. Hukum Roh hayat adalah Allah Tritunggal sendiri yang bekerja, beroperasi, bergerak, dan mengurapi di dalam kita. Dia adalah hukum itu.

B. Fungsi Hukum Hayat

Hukum hayat tidak mengatur kita dari dalam, atau memberi tahu apa yang perlu dilakukan dan apa tidak boleh dilakukan. Fungsi hukum hayat yang terutama adalah untuk membebaskan kita dari hukum dosa dan maut (Rm. 8:2) dan untuk menyesuaikan kita dengan gambar Kristus (Rm. 8:29) sehingga kita dapat mengekspresikan apa adanya Allah di dalam kehidupan sehari-hari kita. Karena kita setiap hari ditawan oleh hukum dosa, maka kita perlu dibebaskan, diselamatkan. Sebelum kita menjadi seorang Kristen, kita tidak dapat membebaskan diri kita sendiri. Semakin kita berusaha untuk tidak berdosa, hukum hayat malah menjadi semakin aktif. Sebagai orang Kristen, hukum hayat membebaskan kita dari hukum dosa pada saat kita mengaktifkan roh kita. Menanggulangi hal-hal negatif adalah salah satu aspek dari fungsi hukum hayat. Di dalam segi positifnya, hukum hayat membentuk kita, yaitu menyesuaikan kita dengan gambar Kristus, yang adalah gambar dari Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15). Pada saat kita berpaling kepada roh kita setiap hari, Roh itu akan mentransformasi (mengubah) kita. Kita mungkin telah memberontak kepada orang tua kita sebelumnya, tetapi Kristus tidak memberontak kepada Bapa Nya (Fil. 2:8). Pada saat kita menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang memberontak, kita harus bertobat di hadapan Tuhan untuk diampuni. Lalu kita perlu senantiasa berdoa dan tinggal di dalam roh kita. Hukum hayat akan bekerja di dalam kita secara spontan, membawa masuk semua elemen Kristus ke dalam kita. Salah satu elemen ini adalah ketaatan. Oleh pekerjaan hukum hayat ini, kita ditransformasikan ke dalam gambarNya.

C. Kedambaan Allah Dirampungkan oleh Hukum Hayat

Hukum hayat adalah suatu anugerah yang ajaib yang telah kita terima dari Allah Bapa kita. Hukum ini akan menyelesaikan segala sesuatu yang ingin Allah rampungkan di dalam kita.

Allah bukan hanya Allah kita saja tetapi juga adalah Bapa kita. Oleh karena itu, Dia damba untuk menjadi Allah kita di dalam hukum hayat. Kita bukan hanya ciptaan-ciptaan Allah tetapi juga anak-anakNya. Oleh karena itu Dia mendambakan kita untuk menjadi umatNya di dalam hukum hayat. Allah tidak saja hanya mendambakan untuk menjadi Allah kita menurut hukum yang tertulis di luar; Dia damba menjadi Bapa kita menurut hukum hayat yang di dalam. Tidak ada seorangpun yang memelihara hukum yang tertulis di luar yang dapat memuaskan kedambaan Allah. Dia hanya dapat diperkenan oleh penghidupan kita yang menuruti hukum hayat yang di dalam. Dan Dia tidak hanya mendambakan kita sebagai ciptaan-ciptaanNya yang tidak memiliki hayatNya, tetapi bahkan menjadi anak-anakNya yang memiliki hayatNya. Oleh karena itu Dia menghendaki kita menjadi umatNya di dalam hukum hayat, dan tidak hidup menurut hukum yang tertulis di luar tetapi menurut hukum hayat yang di dalam. Hubungan Dia dengan kita, kita dengan Dia, haruslah merupakan suatu hubungan yang senantiasa berada di dalam hukum hayat. Hukum yang tertulis berada bersama -sama dengan kematian. Di dalam hukum hayat tidak ada kematian tetapi hayat. Hanya hayatlah yang dapat memuaskan kedambaan ilahi.

Puji Tuhan! Bahwa kita telah mempunyai suatu kelahiran baru, kelahiran ilahi, di dalam kelahiran baru ini tidak ada hal-hal yang lemah. Hanya ada hayat ilahi dengan sifat ilahi dan hukum ilahi yang membentuk dan menyesuaikan kita dengan gambar Kristus. Tetapi, pembentukan ini memerlukan pertumbuhan di dalam hayat karena hukum hayat hanya berfungsi karena hayat bertumbuh. Hukum hayat tidak mengatur kita dari dosa, karena hukum ini tidak berada di dalam alam dosa, melainkan berada didalam alam hayat ilahi dimana tidak ada dosa, dunia, daging, atau ego. Agar hayat bertumbuh, pekerjaan hukum ini terutama bukanlah untuk mengatur dan mengoreksi kita , melainkan untuk membentuk kita, menyesuaikan kita kepada gambar Putra Sulung Allah. Alhasil, melalui fungsi hukum hayat itu, kita semua akan menjadi putra-putra Allah yang matang, dan Allah akan mendapatkan ekspresi yang korporat.

II. TERANG HAYAT

Yohanes 1: 4 berkata, "Di dalam Dia ada hayat dan hayat itu adalah terang manusia." Dan di dalam Yohanes 8: 12 , Yesus berkata, "Akulah terang dunia ; barangsiapa mengikut Aku tidak akan berjalan dalam kegelapan melainkan akan memiliki terang hayat." Kita melihat bahwa terang benar-benar berhubungan dengan hayat.

A. Hayat Berasal dari Terang

Seluruh Alkitab mewahyukan bahwa hayat berasal dari terang yang bercahaya. Ketika terang masuk, hayat pun mengikutinya. Di mana ada terang, di sana ada hayat. Jumlah hayat berada di dalam perbandingan langsung dengan jumlah terang. Kejadian 1: 2 mengatakan bahwa sebelum Allah memulai pekerjaan pemulihanNya, seluruh bumi kosong dan gelap, yang berarti bahwa bumi itu dipenuhi dengan kematian , karena kegelapan lambang dari kematian. Karena itu langkah pertama pekerjaan Allah adalah memerintahkan supaya ada terang. Ketika terang datang, terang itu menghancurkan kematian yang berasal dari kegelapan dan mulai membawa masuk hayat. Maka hayat mengikuti terang dan hayat bermula dari terang.

Ada suatu garis di dalam seluruh Alkitab yang terus-menerus membicarakan hayat dan terang bersama-sama. Di mana ada terang, di situ ada hayat. Ini adalah suatu prinsip yang besar di dalam Alkitab. Mazmur 9:36 berkata, "Sebab padaMu ada sumber hayat, di dalam terangMu kami melihat terang." Ini dengan jelas membicarakan hubungan antara hayat dengan terang. Hayat selalu mengikuti terang dan hanya terang yang dapat menghasilkan hayat.

B. Terang Berada di dalam Firman Allah

Hayat selalu berada bersama-sama terang, lalu dimanakah terang? Dari Alkitab kita melihat bahwa terang bersama -sama dengan Firman Allah. Ini juga adalah prinsip yang besar di dalam Alkitab. Mazmur 119 : 105 berkata, "FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." dan ayat 130 berkata, "Bila tersingkap Firman-FirmanMu memberi terang." Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa terang sungguh-sungguh berada di dalam Firman Allah. Ketika kita memperoleh Firman Allah kita beroleh terang. Penyebab kita tidak memiliki terang adalah karena kita kekurangan Firman Allah.

Firman Allah yang kita bicarakan di sini bukanlah mengacu pada kata-kata yang tertulis di dalam Alkitab, melainkan Firman Roh Kudus yang berbicara kepada kita dari dalam. Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis. Tetapi Firman yang demikian, Bila hanya tersusun dari kata-kata yang mati, tidak mempunyai kekuatan terang yang memancar dan tidak dapat menerangi kita. Namun, bila Roh Kudus mengungkapkan kebaharuan Firman di dalam Alkitab, membukanya kepada kita, maka Firman itu akan memiliki terang yang memancar dan dapat menjadi terang kita.

C. Terang adalah Perasaan Hayat yang di Dalam

Di dalam ciptaan yang lama, Allah memerintahkan agar terang bersinar secara luaran, tetapi di dalam ciptaan yang baru Allah sendiri telah bersinar di dalam hati kita (2 Kor. 4:6). Bila kita membicarakan terang, kita tidak membicarakan tentang terang yang di luar kita, melainkan Allah sebagai terang yang bersinar di dalam kita. Terang ini sebenarnya adalah perasaan hayat.

Apa adanya diri kita berbeda dengan apa adanya Diri Allah. Dia mengasihi, saat kita membenci. Dia itu kudus saat kita duniawi. Dia itu benar, saat kita tidak benar. Dia menyoroti kita memperlihatkan apa adanya kita, yang berbeda dengan apa adaNya Dia. Ini adalah perasaan hayat yang di dalam. Misalnya, Anda mungkin mengatakan sesuatu untuk mengkritik atau bergurau tentang saudara Anda. Bukan Tuhan yang mengatakan hal itu, tetapi hukum dosa di dalam daging Anda yang mengatakannya. Pada saat itu juga Anda akan merasa bahwa Anda itu salah. Perasaan tersebut adalah terang, perasaan hayat yang di dalam. Jadi apa yang akan Anda lakukan sekarang? Yang harus Anda lakukan adalah berkata, "Oh Tuhan Yesus, ampuni saya. Saat itu bukan Engkau yang berbicara. Penuhi diriku dengan DiriMu." Pada saat Anda berdoa menurut terang itu, Tuhan akan mengampuni Anda, membersihkan Anda, dan bertumbuh di dalam Anda, sehingga Anda akan semakin serupa dengan gambar Kristus.

D. Cara untuk Diterangi

Pertama-tama kita harus rindu untuk diterangi. Karena Allah sudah berada di dalam kita, Ia senantiasa menerangi. Bila kita tidak menginginkan penerangan, berarti kita tidak mengacuhkannya atau menentangnya; tetapi bila kita menerima penerangan itu, maka kita akan diterangi.

Kedua, kita harus terbuka terhadap Tuhan dan berpaling kepadaNya. Dua Korintus 3:16 berkata,"Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil daripadanya." Saat kita berseru kepada Tuhan, mendoakan atau membacakan firmanNya, kita berpaling kepada Dia, dan kita akan menerima peneranganNya. Bila hati kita tertarik oleh hal-hal yang lain, kita masuk ke dalam kegelapan dan kita akan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan Tuhan, dan tidak dapat mengekspresikan Dia.

Ketiga, kita tidak boleh berbantahan dengan terang itu. Semakin kita membantahnya, semakin tinggal dalam kegelapan, dan perasaan kematian akan meresap. Bila Tuhan memperlihatkan bahwa Anda membantah ibu Anda, Anda tidak boleh berkata bahwa ibu Anda itu keterlaluan. Cukup hanya dengan mengaku dan menyetujui terang itu. Maka Tuhan akan mengampuni Anda dan bertumbuh di dalam Anda.

Bila kita belajar untuk mengalami hayat oleh terang itu, maka kita akan bertumbuh ke dalam Kristus di dalam segala hal, dan Allah akan terekspresikan melalui kita.