HAYAT ADALAH DIRI ALLAH SENDIRI
Pembacaan Alkitab
Yoh. 14:6; 1 Tim. 3:16; Yoh. 1:4; 10:10; Kol. 3:4; Yoh. 6:63; 2 Kor. 3:6; 1 Kor. 15:45b; Rm. 8:2.
Garis Besar
I. Hayat adalah Diri Allah sendiri.
II. Hayat adalah Kristus
III. Hayat adalah Roh Kudus
IV. Hayat adalah Allah Bapa di dalam Putra sebagai Roh yang mengalir ke dalam kita
I. HAYAT ADALAH DIRI ALLAH SENDIRI
Sebagai hasil dari kelahiran kembali, kita memiliki hayat ini dan kita harus bersyukur dan memuji Dia karena Dia memberikan kita hayat ini. Walaupun demikian, kita harus menggali lebih dalam untuk lebih mengerti hayat ini, sehingga pengalaman kita akan menjadi tepat dan diperkaya. Kita harus nampak bahwa hayat bukan hanya sesuatu yang berasal dari Allah atau sesuatu yang diberikan Allah, tetapi hayat adalah diri Allah sendiri.
Dalam Yohanes 4:16 Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah hayat. Sesudah mengatakan hal ini, dari ayat 7-11, Dia membuat para murid-murid-Nya tahu bahwa Dia dan Allah adalah satu---dan ketika Dia mengatakan perkataan ini, sebenarnya adalah Allah yang berbicara di dalam Dia. Dia adalah Allah yang menjadi daging; dan Dia adalah Allah di dalam daging (Yoh. 1:1, 14, 1 Tim. 3:16). Ketika Dia mengatakan bahwa Dia adalah hayat, itu adalah Allah yang mengatakan bahwa Dia adalah hayat. Maka perkataan-Nya menunjukkan bahwa hayat adalah benar-benar diri Allah sendiri.
Tepatnya, ketika kita menerima hayat, kita bukan menerima hayat Allah, tetapi Allah sebagai hayat. Bukan hanya Allah memberikan hayat-Nya; Dia sendiri datang untuk menjadi hayat kita. Karena Allah sendiri adalah hayat, hayat-Nya adalah benar-benar diri-Nya sendiri.
Jadi apakah hayat itu? Hayat adalah diri Allah sendiri. Apakah artinya memiliki hayat? Memiliki hayat adalah memiliki diri Allah sendiri. Apakah arti memperhidupkan hayat? Memperhidupkan hayat adalah memperhidupkan diri Allah sendiri. Hayat sama sekali tidak berbeda dengan Allah. Kalau berbeda, itu bukan hayat. Kita harus mengerti hal ini dengan jelas. Kita tidak perlu hanya mengetahui bahwa kita memerlukan hayat; kita perlu mengenal lebih dalam bahwa hayat yang kita miliki ini adalah diri Allah sendiri. Kita tidak cukup hanya mengenal bahwa kita perlu memperhidupkan hayat; kita juga perlu mengetahui bahwa hayat yang harus kita perhidupkan adalah diri Allah sendiri.
Allah itu kasih. Allah itu terang. Allah itu kudus. Allah itu benar. Ketika kita memiliki Allah sebagai hayat kita, kita dapat memperhidupkan Allah dan mengekspresikan Dia sebagai kasih, terang, kekudusan dan kebenaran. Ketika kita memiliki Allah sebagai hayat kita, kita tidak akan membenci musuh-musuh kita, bahkan kita akan mengasihi mereka (Mat. 5:44). Kita tidak akan berjalan dalam kegelapan dan melakukan hal-hal yang tersembunyi yang memalukan (2 Kor. 4:2); bahkan kita akan berjalan di dalam terang karena Dia adalah terang (1 Yoh. 1:7). Kita tidak akan duniawi, tetapi kita akan menjadi kudus, terpisah dari dunia, dan dipenuhi sifat kudus Allah (2 Kor. 5:21). Ini terlalu ajaib. Allah dapat menjadi hayat di dalam kita, sehingga kita dapat memperhidupkan seluruh apa adanya Allah.
II. HAYAT ADALAH KRISTUS
Allah adalah hayat. Ini ajaib. Tapi bagaimana kita orang-orang dosa yang telah jatuh dapat berkontak dan menerima Allah menjadi hayat kita? Allah tahu bagaimana caranya. Dia datang kepada kita di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Alkitab lebih jauh menyingkapkan kepada kita bahwa Allah menjadi daging, yaitu Kristus (Yoh. 1:1, 14). Karena Kristus adalah Allah (Ibr. 1:8), Dia memiliki hayat Allah di dalam-Nya (Yoh. 1:4), karena itu, Dia juga adalah hayat (1 Yoh. 5:12). Dia mengatakan berkali-kali bahwa Dia adalah hayat (Yoh. 11:25; 14:6) dan Dia datang ke bumi agar kita memiliki hayat (Yoh. 10:10). Oleh karena itu, kita yang telah percaya dan menerima Dia memiliki Dia sebagai hayat kita (Kol. 3:4).
Seperti hayat adalah diri Allah sendiri, demikian juga hayat adalah Kristus. Sama seperti memiliki hayat adalah memiliki diri Allah sendiri, demikian juga memiliki hayat adalah memiliki Kristus. Sama seperti memperhidupkan hayat adalah memperhidupkan diri Allah sendiri, demikian juga, memperhidupkan hayat adalah memperhidupkan Kristus. Sama seperti hayat sama sekali tidak berbeda dengan Allah, demikian juga hayat sama sekali tidak berbeda dengan Kristus. Sama seperti sedikit penyimpangan dari Allah adalah bukan hayat, demikian juga sedikit penyimpangan dari Kristus adalah bukan hayat. Karena Kristus adalah Allah sebagai hayat. Melalui Kristus dan sebagai Kristus, Allah diwujudkan sebagai hayat. Jadi, Kristus adalah hayat dan hayat adalah Kristus.
Tanpa Kristus, kita tidak memiliki Allah maupun hayat (Ef. 2:12; 1 Yoh. 5:12). Melalui menerima Kristus, kita menerima Allah sebagai hayat kita. Kemudian segala kekayaan Allah yang ada di dalam Kristus menjadi milik kita untuk dinikmati setiap hari.
III. HAYAT ADALAH ROH KUDUS
Setelah melihat bahwa Kristus---perwujudan dan manifestasi Allah---adalah hayat, kita mungkin bertanya dimanakah Kristus hari ini, dan bagaimana kita dapat berkontak dengan Dia dan menerima Dia sebagai hayat?
Walaupun Kristus adalah hayat, sulit bagi Kristus untuk memberikan hayat kepada Anda. Siapakah yang memberikan hayat? Roh itulah yang memberikan hayat (Yoh. 6:63; 2 Kor. 3:6). Kristus adalah hayat tetapi Roh itulah yang memberikan Kristus kepada kita sebagai hayat. Tanpa Roh itu, Kristus mungkin adalah hayat tetapi Kristus sebagai hayat tidak dapat diberikan pada kita. Dengan menjadi Roh itu, Kristus dibagikan ke dalam kita sebagai hayat. Hari ini, setelah melalui proses, Kristus itu adalah Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b). Jangan lupa bahwa Kristus adalah benar-benar Allah, Yehova Sang Juruselamat, Allah beserta kita. Kristus adalah Allah. Kristus ini, setelah melalui proses, sekarang menjadi Roh pemberi hayat. Kita perlu menikmati Dia dalam segala kepenuhan-Nya sebagai Roh itu.
Setelah Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah hayat dalam Yohanes 14:6, Dia membuat murid-murid-Nya tahu bahwa bukan saja Dia dan Allah adalah satu (ay. 7-11), tetapi juga bahwa Roh Kudus dan Dia adalah satu (ay. 16-20). Dalam ayat 16 dan 17, Tuhan menyebut Roh Kudus dengan menggunakan kata “Dia”, tapi dalam ayat 18, Dia mengubah kata gantiNya dari “Dia” menjadi “Aku”. Dengan mengubah “Dia” menjadi “Aku” Tuhan mengatakan bahwa “Dia” adalah “Aku”. Ini menyingkapkan bahwa Roh Kudus yang Dia bicarakan dalam ayat 16 dan 17 adalah diri-Nya sendiri. Dari ayat 7-11 Dia menunjukkan kepada kita bahwa Dia adalah perwujudan Allah---Dia ada di dalam Allah, dan Allah ada di dalam Dia. Jadi, Dia sebagai hayat berarti bahwa Allah adalah hayat. Dari ayat 16-20 Dia lebih jauh menyingkapkan bahwa Roh Kudus itu adalah perwujudan-Nya, bentuk-Nya yang lain; dan ketika kehadiran fisik-Nya meninggalkan kita, Roh Realitas yang adalah diri-Nya sendiri sebagai penghibur, masuk ke dalam kita dan tinggal dengan kita. Roh itu hidup di dalam kita dan tinggal dengan kita, sama seperti Dia sendiri hidup di dalam kita sebagai hayat kita sehingga kita dapat hidup. Kedua kutipan ini menunjukkan pada kita bahwa Kristus adalah hayat karena Allah berada di dalam Dia dan Dia adalah Roh Kudus. Allah berada di dalam Dia sebagai hayat, dan Dia adalah Roh Kudus sebagai hayat.
Satu Korintus 15:45 mengatakan, “Adam yang akhir telah menjadi Roh pemberi hayat.” Adam yang akhir adalah Tuhan Yesus yang tersalib untuk mengakhiri ras Adam yang telah jatuh. Dalam kebangkitan-Nya Dia menjadi Roh pemberi hayat; oleh karena itu, semua yang telah Kristus terima dari Bapa kini berada di dalam Roh itu. Roh ini disebut Roh hayat dalam Roma 8:2. Sebagai Roh hayat Dia dapat membebaskan kita dari Hukum dosa dan maut. Dia juga adalah hayat di dalam roh kita, dan dapat menjadi hayat di dalam pikiran kita, dan dapat memberi hayat kepada tubuh fana kita (Rm. 8:10, 6, 11).
Jalan untuk mendapatkan hayat adalah melalui Roh itu. Jalan untuk diselamatkan didalam hayat-Nya adalah melalui Roh itu. Jalan untuk memerintah di dalam hayat adalah melalui Roh itu. Jalan untuk berjalan di dalam pembaruan hayat adalah melalui Roh itu. Jalan untuk dikuduskan di dalam hayat adalah melalui Roh itu. Roh itu adalah jalannya. Hayat adalah kepunyaan Roh itu, dan Roh itu berasal dari hayat. Keduanya ini sebenarnya adalah satu. Kita tidak dapat memisahkan hayat dari Roh itu, atau Roh itu dari hayat. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dan hayat” (Yoh. 6:63). Dalam firman ini Tuhan Yesus menghubungkan Roh itu dan hayat. Kalau kita memiliki Roh itu, kita memiliki hayat; kalau kita tidak memiliki Roh itu, kita tidak memiliki hayat. Kalau kita berjalan dalam Roh, kita berjalan dalam hayat, tetapi kalau kita tidak berjalan di dalam roh, kita tidak berjalan dalam kebaruan hayat. Maka, jalan untuk mengalami hayat yang ilahi, kekal, dan tidak diciptakan adalah melalui Roh itu.
IV. HAYAT ADALAH ALLAH BAPA DI DALAM PUTRA SEBAGAI ROH YANG MENGALIR KE DALAM ROH KITA
Secara ringkas, hayat adalah Allah Tritunggal. tetapi didalam kita, hayat bukan Allah Tritunggal yang di surga, Tetapi Allah Tritunggal yang mengalir keluar. Pengaliran Allah Tritunggal ini berarti bahwa isi-Nya, yang adalah diri-Nya sendiri, mula-mula mengalir keluar melalui Kristus; kemudian mengalir keluar sebagai Roh itu untuk kita terima sebagai hayat. Maka jika kita menjamah Allah di dalam Kristus sebagai Roh itu, kita menjamah hayat, sebab hayat adalah Allah di dalam Kristus sebagai Roh itu.
Bapa adalah sumber hayat. Putra adalah saluran hayat. Roh itu adalah aliran hayat. Hayat adalah Bapa di dalam Putra sebagai Roh itu mengalir ke dalam kita untuk menjadi hayat kita dan suplaian hayat kita. Hayat adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses mengalir ke dalam kita bersama semua kekayaan ilahi-Nya, semua hal yang telah dirampungkan, dilalui, didapatkan, dan dihasilkan oleh-Nya, untuk membereskan semua hal negatif yang ada di dalam kita dan memenuhi kita dengan diri-Nya sendiri. Akhirnya, hayat ini sebagai Allah Tritunggal yang telah melalui proses mengalir keluar dari kita, sehingga kita dapat mengekspresikan Allah dalam kehidupan sehari-hari kita, untuk menghasilkan dan merawat buah melalui injil, dan untuk membangun gereja, Tubuh Kristus, yang disempurnakan dalam Yerusalem Baru.