KEHIDUPAN KRISTIANI DAN PENDERITAANNYA (4)
Pembacaan Alkitab : 1Ptr. 3:1-6
LIMA ASPEK KRISTUS
Dalam 2Petrus 2:18-25 kita nampak lima perkara yang penting, yaitu lima aspek Kristus: anugerah, teladan, Juruselamat, Gembala, dan Penilik. Kristus adalah anugerah di dalam kita, juga teladan bagi kita, yang memimpin kita dalam hal rohani. Selain itu, Kristus juga adalah Juruselamat, Gembala, dan Penilik. Dia menyelamatkan, menggembalakan, dan memelihara kita. Dengan demikian, Dia merampungkan tiga pekerjaan penting yang berkaitan dengan kita. Kita semua memerlukan ketiga pekerjaan anugerah yang dilakukan Kristus. Kita memerlukan penyelamatan, penggembalaan, dan penilikan-Nya.
Petrus menulis surat ini tidak hanya berdasarkan pengetahuan dan doktrin, melainkan berdasarkan pengalamannya yang kaya atas Kristus. Petrus mengalami Kristus sebagai anugerah, teladan, Juruselamat, Gembala, dan Peniliknya. Ia telah mengalami dorongan dari hayat ilahi yang ada di dalam dirinya, dan ekspresinya dalam kehidupannya, menjadi satu anugerah dan yang diperkenan dalam pandangan Allah dan manusia. Seperti telah kita tunjukkan, ketika orang lain melihat ekspresi semacam itu dalam kehidupan kita, mereka mungkin berkata, “Ini adalah anugerah. Kita layak mengucap syukur kepada Allah atas hal ini.”
Dalam 2:21 Petrus berkata, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Kristus yang adalah anugerah di dalam kita telah menjadi teladan, master salinan, naskah asli, yang dipergunakan dalam proses fotokopi rohani. Seperti telah kita tunjukkan, melalui proses ini kita menjadi reproduksi Kristus.
Dalam 2:24 kita memiliki sebuah gambaran Kristus sebagai Juruselamat, dan dalam ayat 25 Petrus berkata, “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara (penilik) jiwamu.” Kristus telah mati terhadap dosa-dosa sehingga kita hidup terhadap kebenaran, yaitu hidup di bawah pemerintahan Allah. Selain itu karena bilur-bilur-Nya, yaitu penderitaan sampai mati, kita disembuhkan dari maut, sehingga kita dapat hidup dalam kebangkitan-Nya.
Sekarang kita memiliki Kristus sebagai Gembala dan Penilik untuk memelihara jiwa kita. Penggembalaan Kristus tidak dititikberatkan pada memelihara tubuh atau roh kita, melainkan memelihara jiwa kita. Namun sebagai Gembala dan Penilik, Kristus memelihara jiwa kita dari dalam roh kita. Ia tidak menggembala atau menilik kita dari surga. Hari ini Gembala dan Penilik kita berada da-lam roh kita, menjadi Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam roh kita. Penggembalaan dan penilikan-Nya dimulai dari roh kita lalu meluas hingga ke setiap bagian jiwa kita. Artinya, dari roh kita Kristus meluas terus hingga ke setiap bagian jiwa kita. Ini berarti dari roh kita Kristus mencapai bagian-bagian dari jiwa kita: pikiran, emosi, dan tekad; dan memperhatikan segala masalah, keperluan, dan luka kita. Sungguh ajaib! Inilah Kristus kita.
DUA MASALAH YANG SULIT
Berita ini membahas pasal 3, salah satu pasal yang paling sulit dimengerti dalam Alkitab, sebab dalam pasal ini Petrus menyinggung Kristus memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara (ayat 19-20), juga mengenai pembaptisan (ayat 20-21). Zaman demi zaman terdapat banyak perdebatan mengenai dua hal yang disinggung Petrus dalam pasal ini. Hingga kini perdebatan itu belum selesai, karena dalam dua hal ini masalah penafsirannya belum terselesaikan. Selain itu, kedua hal ini sangat dalam.
Dalam 3:19-20, Petrus memberi tahu kita sesuatu mengenai kematian Kristus, yang tidak disinggung oleh Paulus. Kita tahu bahwa Paulus membicarakan banyak hal mengenai kematian Kristus yang almuhit, namun sedikitnya masih ada satu aspek yang tidak disinggungnya. Ini bukan berarti Paulus tidak mengenal aspek ini. Saya tidak mengatakan demikian, karena ia telah mendapatkan wahyu yang lengkap dan universal. Ia tahu hal-hal itu di bumi dan menurut 2Korintus 12, ia pernah naik ke langit tingkat ketiga, juga turun ke alam maut, ke Taman Firdaus. Karena itu, Paulus telah melihat ketiga bagian alam semesta -- langit, bumi, dan wilayah di bawah bumi. Tetapi karena suatu alasan, dalam tulisannya, dia tidak menyinggung mengenai Kristus pernah memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara.
Dalam Surat Kirimannya, Paulus banyak mengajar orang mengenai baptisan. Namun, dalam 3:20-21 kita memiliki perkataan yang indah tentang baptisan yang tidak terdapat dalam Surat Kiriman Paulus.
Dalam berita selanjutnya kita akan membahas perkataan Petrus mengenai Kristus memberitakan (mengumumkan) kepada roh-roh yang di dalam penjara dan mengenai baptisan. Berita itu adalah tanda yang nyata dalam Pelajaran-Hayat Surat 1Petrus. Dalam berita ini dan selanjutnya, kita akan membahas 3:1-13.
PERNIKAHAN DAN ANUGERAH HAYAT
Satu Petrus 3:1-13 masih berada dalam bagian yang membahas “kehidupan dalam cara yang unggul terhadap semua orang dalam segala aspek” (2:11-3:13). Dalam bagian ini kita telah menyinggung tentang kehidupan kaum beriman sebagai pendatang di antara orang-orang bukan Yahudi (2:11-12), kaum beriman tunduk kepada lembaga manusia (2:13-17), ketaatan hamba kepada tuannya (2:18-20), dan teladan Kristus (ayat 21-25). Dalam 1Petrus 3:1-7 Petrus membicarakan kehidupan pernikahan, dan dalam 3:8-13 membicarakan kehidupan yang umum.
Dalam Efesus 5 Paulus menyinggung kehidupan pernikahan yang sangat dikenal para pembaca Perjanjian Baru. Tetapi pembicaraan Petrus dalam 3:1-7 tentang kehidupan pernikahan juga mempunyai butir-butir yang sangat baik, bahkan mencolok. Butir yang paling menonjol ialah Petrus mengatakan bahwa suami istri adalah “teman pewaris dari anugerah hayat”. Paulus tidak berkata apa-apa tentang anugerah hayat, lebih-lebih tidak membicarakan pasangan suami istri sebagai teman pewaris anugerah hayat. Dalam 3:7 Petrus berkata, “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari anugerah, hayat, supaya doamu jangan terhalang” (Tl.). Petrus mengharapkan suami istri tahu bahwa mereka adalah pewaris, tidak hanya sebagai pewaris harta benda, melainkan pewaris anugerah hayat.
Mungkin Anda telah menjadi orang Kristen bertahun-tahun, namun sedikit pun tidak mengerti maksud perkataan Petrus tentang anugerah hayat. Bahkan ada orang yang masih belum tahu ada perkataan ini dalam Perjanjian Baru. Orang Kristen sangat mengenal karunia penyelamatan dan karunia pengampunan. Sebenarnya tanpa membaca Alkitab, kita sudah mempunyai konsepsi tentang karunia pengampunan. Tetapi “anugerah hayat” adalah ungkapan alkitabiah yang unik. Masalahnya, ketika kita membaca tentang ini, pikiran kita mungkin tertutup atau kita tidak baik-baik memperhatikan hal ini. Bersandarkan belas kasihan Allah, kita memperhatikan hal ini, sehingga kita bisa mengapresiasinya. Saya berharap kita semua nampak perkara yang ajaib tentang anugerah hayat. Anugerah hayat ini adalah sesuatu yang nyata dan riil yang dapat kita warisi. Ini tidak hanya sekadar anugerah yang tidak layak didapat; melainkan sesuatu yang solid, konkret, dan rohani, yang dapat diwarisi oleh suami istri. Haleluya untuk anugerah hayat ini!
Kita telah menunjukkan bahwa dalam Surat Kiriman ini Petrus telah mengatakan banyak hal tentang anugerah. Dalam 1:2 dikatakan, “Kiranya anugerah dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.” Petrus tidak hanya mengharapkan anugerah menyertai kaum saleh, lebih-lebih mengharapkan anugerah makin melimpah atas mereka. Berdasarkan makin berlimpahnya anugerah, dalam 4:10 Petrus membicarakan mengenai berbagai anugerah: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengelola yang baik dari anugerah Allah.” Kita seharusnya menjadi pengelola yang baik dari anugerah, dalam berbagai aspek dan ragam. Selanjutnya dalam 5:10 Petrus mengatakan Allah sumber segala anugerah. Karena itu dalam Surat 1Petrus kita mempunyai empat macam perkataan khusus mengenai anugerah: makin melimpahnya anugerah, anugerah hayat, berbagai macam anugerah, dan karunia yang lengkap. Meskipun Paulus membicarakan banyak hal mengenai anugerah, tetapi ia tidak pernah menggunakan ungkapan unik yang Petrus gunakan dalam suratnya yang pertama. Saya sangat mengapresiasi anugerah dalam surat ini khususnya mengenai anugerah hayat.
ISTRI HARUS TUNDUK KEPADA SUAMINYA
Sekarang mari kita melihat 3:1-7. Ayat 1 mengatakan, “Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya.” “Demikian juga” mengacu kepada ketundukan hamba kepada tuannya seperti yang dilukiskan dalam 2:18. Seperti hamba taat kepada tuannya, istri seharusnya tunduk kepada suaminya. Hal ini bertentangan dengan gerakan emansipasi wanita. Gerakan emansipasi itu berlawanan dengan Alkitab, karena gerakan itu menyalahi ketetapan Allah dalam menciptakan laki-laki dan perempuan. Menurut pernyataan Petrus (3:7), Allah menciptakan perempuan sebagai bejana yang lemah. Negara mana yang menggunakan perempuan sebagai pasukan tempur utama dalam militer? Perempuan lebih lemah secara jasmani dan jiwani. Karena itu, perempuan mudah menangis, dan menangis adalah tanda kelemahan; selain itu pikiran dan emosi perempuan mudah terpengaruh. Semua ini menyatakan bahwa perempuan adalah bejana yang lemah.
Paulus dan Petrus mengatakan bahwa istri harus tunduk kepada suaminya. Namun, Paulus tidak mengatakan perempuan adalah bejana yang lemah. Mengenai ini, kembali Petrus menggunakan istilah khusus yang menunjukkan bahwa perempuan adalah bejana yang lemah.
Dalam ayat 1Petrus berpesan supaya istri tunduk kepada suami, demikian juga Paulus. Ada perempuan menemukan bahwa tunduk kepada suami orang lain lebih mudah daripada tunduk kepada suami sendiri. Mereka lebih mengapresiasi suami orang daripada suaminya sendiri. Bahkan dalam hidup gereja, saudara saudari juga menemukan bahwa tunduk kepada saudara lain lebih mudah daripada kepada suami sendiri. Ini karena istri mengetahui semua kelemahan dan kekurangan suaminya setelah mereka hidup bersama dalam kehidupan pernikahan. Tetapi mereka tidak tahu kelemahan dan kekurangan orang lain. Inilah yang menyebabkan mereka mengapresiasi saudara lain melebihi suaminya sendiri.
Begitu saudari mengetahui kelemahan dan kekurangan suaminya, ia mungkin merasa dirinya tertipu. Sebelum menikah, ia mengira calon suaminya sangat sempurna. Tetapi sekarang, ia khawatir bahwa dirinya telah salah memilih. Di tengah-tengah orang dunia, jika istri sampai tahap ini, sering kali akibatnya ialah perceraian. Tetapi karena anugerah Tuhan, saudari (orang Kristen) yang sebagai istri harus tunduk kepada suaminya.
Paulus berkata bahwa suami harus mengasihi istrinya, namun ketika Petrus membicarakan kehidupan pernikahan, ia tidak menyuruh suami mengasihi istri. Mula-mula ia berpesan agar istri tunduk kepada suami. Kemudian ia berpesan agar suami hidup bijaksana dengan istrinya (ayat 7).
CARA HIDUP YANG MENGGUGAH ORANG
Dalam ayat 1Petrus berkata kepada para istri, jika mereka tunduk kepada suaminya, para suami akan dimenangkan tanpa perkataan melalui kelakuan istrinya. “Perkataan” di sini mengacu kepada firman Allah (1Ptr. 1:23, 25; Rm. 10:8; Ef. 1:13). Karena kelakuan istrinya, seorang suami bisa didapatkan (dimenangkan) karena kelakukan istrinya yang menggugah orang. Saudari-saudari, tidak ada seorang pun yang dapat menggugah suami kalian seperti kalian. Kalian perlu memiliki cara hidup yang sedemikian rupa sehingga suami kalian tergugah olehnya. Kalau suami Anda tidak taat kepada firman, sang suami akan didapatkan oleh cara hidup Anda, bukan oleh khotbah.
Dalam ayat 2 Petrus melanjutkan, “Jika mereka melihat bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu.” Kata “murni” di sini juga berarti polos, suci. Dalam bahasa aslinya seakar dengan kata “kudus” dalam ayat 5 dan 1:15. Cara hidup yang polos dan suci tentu adalah cara hidup yang kudus (1:15), cara hidup yang unggul (2:12) dan cara hidup yang baik (3:16). Di sini Petrus mengatakan bahwa suami-suami akan mengamati cara hidup yang murni dari istri mereka.
Kata “saleh” secara harfiah berarti “dalam rasa takut”, menjelaskan kemurnian cara hidupnya. Rasa takut dalam ayat ini mengacu kepada rasa takut yang kudus (lihat Flp. 2:12). Ini adalah peringatan yang sehat, serius, agar kita berperilaku kudus. Rasa takut ini beberapa kali disebutkan dalam surat ini, karena ajaran Petrus dalam surat ini terutama mengenai pemerintahan Allah. Cara hidup saudari yang sudah menikah harus memiliki rasa takut yang kudus dan saleh.
PERHIASAN SAUDARI
Ayat 3 mengatakan, “Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah.” Rambut perempuan oleh Allah dimaksudkan sebagai kemuliaan mereka dan tanda ketaatan mereka (1Kor. 11:15; Kid. 4:1; 6:5; 7:5). Tetapi rambut itu telah disalahgunakan oleh banyak orang, khususnya mereka yang pa-da masa surat ini ditulis menempuh hidup dengan mewah dan cemar dalam Kekaisaran Romawi, untuk mempercantik daging mereka yang penuh nafsu dengan menghiasinya secara berlebihan, memakai emas dan barang-barang mahal lainnya. Istri-istri Kristen, sebagai perempuan-perempuan yang kudus, harus mutlak terpisah dari praktek yang disalahkan oleh Allah ini.
Beberapa tahun yang lalu, seorang wanita muda mengikuti sidang gereja di Chefoo. Dia seorang yang pandai, modern, kuliah di fakultas hukum. Kali pertama dia menghadiri sidang, rambutnya seperti menara yang tinggi. Saya memperhatikannya, setelah menghadiri sidang demi sidang, menaranya semakin rendah. Akhirnya, semakin sering dia menghadiri sidang, menaranya hilang. Dia bertobat dan beroleh selamat, dan Tuhan menjamah dia dalam hal tata rambutnya.
MANUSIA BATINIAH YANG TERSEMBUNYI —
ROH YANG LEMAH LEMBUT DAN TENTERAM
Dalam ayat 4 Petrus melanjutkan, “Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah (dalam hati) yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” Manusia batiniah (dalam hati) yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram ini menunjukkan bahwa roh yang lemah lembut dan tenteram di dalam kita adalah manusia batiniah yang tersembunyi. Hati kita tersusun dari semua bagian jiwa kita, yaitu pikiran, emosi, dan tekad, ditambah bagian utama dari roh kita, yakni hati nurani (Ibr. 4:12). Di antara semua bagian itu, roh kita berada di pusat. Karena itu, roh kita adalah manusia batiniah yang tersembunyi. Sebagai istri, saudari-saudari di dalam Tuhan seharusnya memiliki manusia batiniah seba-gai perhiasan mereka di hadapan Allah, yaitu apa adanya batiniah mereka yang tersembunyi, yang dihias dengan roh yang lemah lembut dan tenteram. Perhiasan rohani sedemikian ini sangat berharga dalam pandangan Allah, dan tidak dapat binasa, tidak seperti perhiasan materi dengan mengepang-mengepang rambut atau mengenakan emas dan pakaian yang dapat binasa.
Dalam tulisan Paulus tidak terdapat perkataan “manusia batiniah yang tersembunyi”. Apakah manusia batiniah yang tersembunyi itu? Itulah roh yang lemah lembut dan tenteram. Perhiasan yang seharusnya dimiliki oleh saudari sebagai istri adalah roh yang lemah lembut dan tenteram.
Saya yakin Petrus menulis surat ini berdasarkan pengalaman dan pengamatannya. Ia memakai 2 istilah “lemah lembut” dan “tenteram”, karena ia tahu kebanyakan saudari sebagai istri rohnya tidak lemah lembut dan tenteram.
Ketika kita marah-marah, emosi kita timbul. Begitu emosi kita timbul, roh kita terpengaruh. Inilah sebabnya ketika marah-marah, kita dapat dengan mudah membebaskan roh. Ketika seseorang marah-marah, ia dapat sungguh-sungguh membebaskan roh. Kebanyakan yang kita sebut membebaskan roh itu tidak sungguh-sungguh. Pembebasan roh yang sungguh-sungguh dapat kita lihat ketika sese-orang marah-marah. Saat itu rohnya keluar. Namun, itu bukan membebaskan roh yang lemah lembut dan tenteram.
Sering kali roh saudari sebagai istri Kristen tidak lemah lembut. Saudari-saudari, ketika kalian sedang bertengkar dengan suami, apakah roh kalian itu lemah lembut dan tenteram? Suami istri bertengkar adalah suatu perkara yang umum, bahkan keadaan semacam ini terdapat di mana-mana. Misalnya, suami mempunyai usul, tetapi istri tidak menyetujui. Suami ingin pergi ke tempat tertentu, tetapi istri malah berjalan ke tempat lain. Akibat ketidakcocokan ini adalah pertengkaran.
Sebagai orang berusia lanjut dengan banyak pengalaman dalam hidup manusia, saya dapat bersaksi bahwa pertengkaran istri dengan suami adalah tanda pemberon-takan. Tanpa disadari dalam lubuk sang istri ada roh yang memberontak. Karena roh yang memberontak ini, sang isteri tidak rela tunduk kepada suaminya. Jika istri rela tunduk kepada suaminya, mengapa ia bertengkar dengan suaminya? Mungkin ia merasa bahwa dirinya lebih tahu tentang situasi dan berbagai hal. Walaupun demikian, ia tidak perlu bertengkar dengan suaminya.
Bagi istri ada satu pelajaran yang serius yaitu jangan berdebat, jangan bertengkar dengan suami. Saudari-saudari perlu mengetahui, ketika bertengkar dengan suami, mereka tidak memiliki roh yang lemah lembut dan tenteram. Tetapi jika seorang saudari sebagai istri terus mempertahankan roh yang lemah lembut dan tenteram, ia tidak akan marah-marah, bahkan tidak bertengkar dengan suaminya. Dari pengalaman dan pengamatannya, Petrus mengenal keadaan yang riil dalam kehidupan penikahan, maka ia berpesan agar para istri berhias diri dengan roh yang lemah lembut dan tenteram.
Seperti telah kita tunjukkan, roh yang lemah lembut dan tenteram adalah manusia batiniah yang tersembunyi. Kita kaum beriman sesungguhnya mempunyai dua manusia. Yang pertama ada di dalam jiwa kita dengan tubuh kita, inilah manusia lahiriah. Yang kedua adalah manusia batiniah yang tersembunyi. Fakta bahwa manusia batiniah yang tersembunyi adalah roh yang lemah lembut dan tenteram menyatakan bahwa roh kita adalah inti dari diri kita, tersembunyi dalam hati kita. Hati ini tersusun dari pikiran, emosi, tekad, dan hati nurani. Karena itu, roh kita dikelilingi oleh pikiran, emosi, dan tekad. Jika roh kita lemah lembut dan tenteram, pikiran, emosi, dan tekad kita pasti terpengaruh olehnya. Tentu saja kalau roh kita lemah lembut, maka pikiran, emosi, dan tekad kita pasti juga lemah lembut. Ketika kita lemah lembut, kita tenteram. Roh yang lemah lembut dan tenteram adalah perhiasan yang indah di hadapan Allah.
GAMBARAN PENETAPAN ALLAH
BAGI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Yang dikatakan dalam 1Petrus 3:1-6 bukan hanya ajaran atau alasan manusia, melainkan sebuah gambaran tentang penetapan Allah bagi laki-laki dan perempuan. Pengalaman kelahiran kembali kita pun tidak dapat mengubah ketetapan Allah ini. Dalam hidup gereja hari ini, Allah tetap menjaga aturan yang ditetapkan-Nya dalam penciptaan-Nya. Allah menetapkan bahwa istri harus taat kepada suaminya. Selain itu, seperti telah kita nampak, perhiasan seorang istri seharusnya “janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, . . . melainkan manusia batiniah yang tersembunyi,” perhiasan semacam ini “sangat berharga di mata Allah”.
Dalam ayat 5-6 Petrus berkata, “Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menyebut dia tuannya. Kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut terhadap ancaman.” Saudari-saudari, perlu menjadi Sara hari ini. Namun kebanyakan suami merasa tidak nyaman dengan perkataan Petrus dalam ayat 6. Mungkin mereka merasa tidak patut disebut sedemikian oleh istri mereka. Alasannya adalah keadaan hari ini sama sekali tidak sesuai dengan Alkitab.
Pada akhir ayat 6, Petrus berkata bahwa istri harus berbuat baik dan tidak takut terhadap ancaman. Artinya tidak ketakutan atau bertindak dengan tegang (gugup).
Dalam berita ini kita membahas perkataan Petrus terhadap istri (3:1-6). Dalam berita selanjutnya kita akan membahas perkataan Petrus terhadap suami (ayat 7), serta beberapa perkataan dalam kehidupan pada umumnya.