← Daftar isi 1 Petrus (1) · bab 21/23

KEHIDUPAN KRISTIANI DAN PENDERITAANNYA (3)

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 2:21-25

Dalam berita yang terdahulu kita melihat makna dari Kristus menjadi teladan kita. Kita nampak bahwa Dia adalah master tulisan, naskah yang asli, dan melalui proses fotokopi rohani kita menjadi reproduksi Kristus. Dalam berita ini kita akan melihat hal-hal lain dalam 2:21-25.

Satu Petrus 2:21-22 mengatakan, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.”

Bukanlah satu hal yang mudah tidak memiliki tipu di dalam mulut. Perhatikanlah betapa banyak kesalahan yang Anda buat dalam satu hari karena hal-hal yang Anda katakan. Karena dalam diri kita sendiri tidak bisa tanpa tipu, Petrus secara khusus mengatakan bahwa tidak ada tipu di dalam mulut Tuhan.

KEHIDUPAN DI BAWAH

PEMERINTAHAN ALLAH

Dalam ayat 23 Petrus melanjutkan perkataannya mengenai Tuhan, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil.” Menurut penggunaan kata kerja “menyerahkan”, perlu “diri-Nya” disisipkan di sini sebagai obyeknya. Perkataan ini mengacu kepada semua penderitaan Tuhan. Tuhan menyerahkan semua penghinaan dan luka-luka yang diderita-Nya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil dalam pemerintahan-Nya, yaitu Allah yang adil, yang ditaati-Nya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan mengakui pemerintahan Allah ketika Dia menempuh hidup sebagai manusia di bumi.

Saya agak prihatin mungkin dalam membaca ayat ini Anda tidak memperhatikan kata “menghakimi”. Kita terbiasa mengatakan bahwa kita menyerahkan segala hal kepada Tuhan yang setia atau perahmat atau baik. Pernahkah Anda mengatakan, “Aku menyerahkan segala sesuatu kepada Allah yang menghakimi dengan adil”? Saya tidak yakin banyak di antara kita telah melaksanakan hal ini. Alasan kita tidak berdoa seperti ini adalah karena doa kita, ekspresi kita, dan pengutaraan kita masih terlalu tradi-sional. Hal itu menghalangi kita menerapkan banyak pemikiran dan pengutaraan dalam firman murni. Karena itu, dalam membaca ayat seperti 2:23, kita mungkin menganggapnya sudah seharusnya dan gagal untuk masuk ke dalam arti yang sebenarnya.

Ketika Tuhan Yesus menderita di bumi, Dia selalu menyerahkan semuanya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Perkataan pendek ini menunjukkan tidak hanya Tuhan menempuh suatu kehidupan yang merupakan suatu model bagi kita, tetapi juga menunjukkan bahwa Dia menempuh suatu kehidupan yang mutlak di bawah pemerintahan Allah. Dia sendiri selalu berada di bawah pemerintahan Allah, dan Dia menyerahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya kepada penghakiman Allah.

Petrus sudah menyebut penghakiman Allah dalam 1:17: “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Di sini Petrus “tidak berbicara tentang penghakiman akhir atas manusia. Maksudnya, ‘Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak’ (Yoh. 5:22). Yang dibicarakan di sini adalah penghakiman sehari-hari dari pemerintahan Allah di dunia ini, yang dilaksanakan terhadap anak-anak-Nya. Karena itu di sini dikatakan, ‘selama kamu menumpang di dunia ini’” (Darby). Inilah penghakiman Allah atas keluarga-Nya sendiri (4:17).

Karena kedua Surat Kiriman ini menyinggung tentang pemerintahan Allah, maka penghakiman Allah dan Tuhan disebut berkali-kali (2:23; 4:5-6, 17; 2Ptr. 2:3-4, 9; 3:7) sebagai salah satu dari hal utama. Penghakiman Allah dimulai dari malaikat-malaikat (2Ptr. 2:3-4) dan berlangsung terus melewati angkatan demi angkatan manusia dalam Perjanjian Lama (2Ptr. 2:5-9). Dalam zaman Perjanjian Baru, penghakiman Allah dimulai dari rumah Allah (1Ptr. 1:17; 2:23; 4:6, 17) dan berlangsung sampai datangnya hari Tuhan (2Ptr. 3:10), yang akan menjadi hari penghakiman atas orang Yahudi, orang beriman, dan orang kafir sebelum Kerajaan Seribu Tahun. Setelah Kerajaan Seribu Tahun, semua yang mati, termasuk manusia dan roh-roh, akan dihakimi dan binasa (1Ptr. 4:5; 2Ptr. 3:7), dan langit dan bumi akan dibakar habis (2Ptr. 3:10, 12). Hasil dari berbagai penghakiman itu tidak sama. Ada penghakiman yang mengakibatkan penanggulangan disipliner, ada yang mengakibatkan penghukuman sezaman, dan ada yang mengakibatkan kebinasaan kekal. Bagaimanapun, Tuhan Allah akan membersihkan dan memurnikan alam semesta dengan semua panghakiman itu, agar Dia bisa memiliki langit baru dan bumi baru bagi yang menjadi alam semesta baru yang penuh dengan kebenaran-Nya (2Ptr. 3:13) bagi perkenan-Nya.

KRISTUS, JURUSELAMAT KITA

Dalam 2:23 Petrus mengatakan bahwa Allah Bapa adalah Dia yang selalu menghakimi dengan adil. Ini berarti pemerintahan-Nya itu adil. Kristus berdasarkan dan percaya kepada Sang adil ini. Karena alasan ini, Petrus mengatakan bahwa ketika Kristus berada di bumi, Dia selalu menyerahkan semuanya kepada Allah Bapa, yang menghakimi dengan adil.

Ayat 24 mengatakan, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” Ayat ini berbicara tentang Kristus sebagai Juruselamat kita, Penebus kita. Sebagai Juruselamat kita, Kristus “memikul dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib.” “Kayu” adalah kayu palang yang terbuat dari batang pohon, alat penghukuman mati bangsa Romawi yang digunakan untuk menghukum mati para penjahat, seperti yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama (Ul. 21:23; Gal. 3:13).

Secara harfiah, “telah mati bagi dosa” berarti dilepaskan dari dosa; karena itu, berarti telah mati terhadap dosa. Di dalam kematian Kristus, kita telah mati terhadap dosa-dosa (Rm. 6:8, 10-11, 18). Kita telah mati terhadap dosa sehingga kita dapat hidup untuk kebenaran. Hidup untuk kebenaran adalah hidup dalam kebangkitan Kristus (Ef. 2:6; Yoh. 14:19; 2Tim. 2:11).

“Bilur-bilur” dalam ayat 24 mengacu kepada penderitaan yang mengakibatkan kematian. Menurut Kejadian 3:15, keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular, dan ular itu akan meremukkan tumit keturunan perempuan itu. Peremukan dalam Kejadian 3:15 berkaitan dengan bilur-bilur dalam 2:24.

Menurut 2:24, kita telah disembuhkan oleh bilur-bilur Kristus. Ini adalah penyembuhan dari kematian. Kita dahulu mati (Ef. 2:1), tetapi penderitaan kematian Kristus telah menyembuhkan kematian kita sehingga kita dapat hidup dalam kebangkitan-Nya.

DIJAUHKAN DARI DOSA-DOSA

DAN HIDUP TERHADAP KEBENARAN

Kita telah menunjukkan bahwa frase “telah mati terhadap dosa-dosa” secara harfiah berarti dilepaskan dari dosa-dosa. Ketika Kristus memikul dosa-dosa kita di kayu salib dan mati, kematian itu merampungkan banyak hal. Kematian Kristus mengakhiri kita, dan pengakhiran ini dapat menjauhkan kita dari dosa-dosa. Cara yang paling baik bagi orang untuk dijauhkan dari perbuatan dosa atau sifat dosa ialah dimatikan. Tidak peduli betapa banyak dosa yang dilakukan seseorang, ketika dia mati, kematian memisahkan dia dari dosa-dosa. Petrus berbicara tentang dilepaskan atau dijauhkan dari dosa-dosa, Paulus berbicara tentang orang yang mati telah bebas dari dosa. Melalui kematian Kristus, kita bisa dijauhkan dari dosa-dosa agar kita dapat hidup untuk (terhadap) kebenaran. Tampaknya, dijauhkan dari dosa-dosa mengakhiri kita; sesungguhnya, hal itu menghidupkan kita sehingga kita dapat hidup terhadap kebenaran.

Sebagaimana telah kita tunjukkan, oleh bilur-bilur Kristus kita telah disembuhkan. Ini berarti kematian-Nya menyembuhkan kematian kita.

Banyak dari kita terbiasa dengan istilah-istilah Paulus, tetapi tidak terbiasa dengan kebanyakan ungkapan Petrus. Dalam ayat 24 saja, Petrus telah menggunakan sejumlah ungkapan yang tidak biasa: Kristus memikul dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, dijauhkan dari dosa-dosa kita, hidup terhadap kebenaran, dan disembuhkan oleh bilur-bilur Kristus. Orang Kristen tidak menggunakan banyak ungkapan Petrus dalam percakapan. Saya harap setelah membaca berita-berita ini, kita akan mulai menggunakan istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan Petrus dalam persekutuan dan doa kita.

Ayat 24 menunjukkan bahwa sebagai manusia yang jatuh, kita mati dan penuh dengan dosa. Tetapi Kristus meletakkan dosa-dosa kita di atas diri-Nya sendiri dan memikulnya di kayu salib, di mana Ia menderita penghakiman keadilan Allah atas semua dosa kita. Kematian Kristus di kayu salib adalah semacam bilur, dan bilur itu, kematian itu, telah menyembuhkan kematian kita. Sekarang kita telah dihidupkan. Di satu pihak, bilur Kristus yang menyembuhkan kita menjauhkan kita dari dosa-dosa melalui kematian-Nya; di pihak lain, penyembuhan ini menghidupkan kita sehingga kita dapat hidup terhadap kebenaran.

Menurut sifat kita yang telah mati dan jatuh, kecen-derungan kita adalah terhadap dosa. Tetapi sekarang karena Kristus telah mati untuk menyembuhkan kematian kita dan membuat kita hidup, kita memiliki kecenderungan yang berbeda. Karena hayat Kristus ada di dalam kita, kita selalu hidup dengan suatu kecenderungan terhadap kebenaran, mengarah kepada kebenaran. Inilah Juruselamat kita, Orang yang mati di atas salib untuk mengakhiri kita dan menyembuhkan luka kematian kita.

Aspek subyektif dari salib berlanjut dalam pengalaman kita hari ini oleh Roh. Roh pemberi-hayat sedang bekerja di dalam kita secara terus-menerus untuk melaksanakan aspek subyektif dari salib Kristus di dalam diri kita. Setiap hari kita mengalami pekerjaan batini dari salib Kristus, dan setiap hari kita dihidupkan sehingga kita bisa hidup terhadap kebenaran. Karena itu, mengalahkan dosa tidaklah sulit, karena melalui kematian Kristus, kita telah dijauhkan dari dosa-dosa. Kematian-Nya telah membuat garis pemisah di antara kita dengan dosa-dosa. Karena dijauhkan dari dosa-dosa, sekarang kita dihidupkan. Kita tidak perlu berusaha atau mencoba menguatkan diri kita. Kita hidup saja secara sederhana, dan kehidupan ini selalu memiliki kecenderungan terhadap kebenaran. Inilah mengalami Juru-selamat kita menyelamatkan kita setiap hari. Pemahaman sedemikian ini terhadap perkataan Petrus sesuai dengan pengalaman kita.

Kita tidak seharusnya hanya memiliki salib yang obyektif, tetapi juga perlu memiliki salib yang subyektif. Salib yang obyektif perlu menjadi subyektif dalam peng-alaman kita. Hal ini tergantung pada pekerjaan Roh pemberi-hayat di dalam kita. Ketika kita menyeru nama Tuhan dan memiliki persekutuan dengan Dia, Roh pemberi-hayat beroperasi di dalam kita. Dengan spontan kita mengalami pekerjaan subyektif dari salib untuk membuat suatu pemisahan antara kita dengan dosa-dosa, sehingga kita secara otomatis hidup terhadap kebenaran.

MEMENUHI TUNTUTAN

PEMERINTAHAN ALLAH

Sekarang kita perlu bertanya mengapa Petrus menggu-nakan ungkapan “hidup terhadap kebenaran”. Hal ini berhubungan dengan memenuhi tuntutan pemerintahan Allah. Sesungguhnya, pemerintahan Allah hanya menuntut satu hal — kebenaran. Inilah alasan 2Petrus 3:13 mengatakan, “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebe-naran.” Dalam 1Petrus 2:23 kita nampak bahwa Tuhan Yesus senantiasa menyerahkan segala sesuatu kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Kemudian dalam ayat 24 Petrus menunjukkan bahwa kita harus hidup terhadap kebenaran. Konsepsi Petrus di sini adalah kepemerintahan; kebenaran adalah masalah pemerintahan Allah. Kita diselamatkan supaya kita bisa hidup dengan benar di bawah pemerintahan Allah, yaitu menempuh kehidupan yang memenuhi tuntutan kebenaran pemerintahan-Nya.

Allah adil dan pemerintahan-Nya didirikan di atas keadilan. Mazmur 89:15 mengatakan bahwa keadilan adalah tumpuan takhta Allah. Karena itu, sebagai umat Allah yang hidup di bawah pemerintahan-Nya, kita harus memiliki hidup yang benar. Kita harus hidup terhadap kebenaran. Tetapi karena dalam diri kita sendiri kita tidak mampu menempuh hidup semacam ini, Juruselamat menyelamatkan kita untuk menempuh kehidupan yang benar, kehidupan yang memenuhi tuntutan keadilan pemerintahan-Nya.

Kita perlu menyadari bahwa Kristus Juruselamat kita telah memikul seluruh dosa kita di kayu salib dan mati di sana bagi kita. Sekarang kematian-Nya telah memisahkan kita dari dosa-dosa dan menghidupkan kita sehingga kita bisa hidup terhadap kebenaran. Secara spontan, kita berada di bawah pemerintahan Allah dan tidak ada masalah dengan pemerintahan-Nya, sebab kita hidup terhadap kebenaran.

KRISTUS, GEMBALA KITA

Dalam ayat 25 Petrus melanjutkan perkataannya, “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara (penilik) jiwamu.” Kristus adalah Penebus kita dalam kematian-Nya di kayu salib. Kini Dia adalah Gembala dan Penilik jiwa kita dalam hayat kebangkitan di dalam kita. Karena itu, Dia mampu membimbing dan menyuplai kita dengan hayat agar kita bisa mengikuti jejak-Nya menurut teladan penderitaan-Nya (ayat 21). Menurut ayat 25, Kristus adalah Gembala dan Penilik jiwa kita. Jiwa kita adalah persona kita yang sejati, apa adanya batiniah kita. Tuhan adalah Gembala dan Penilik jiwa kita, menggembalakan kita dengan memperhatikan faedah setiap bagian batiniah kita dan menilik persona kita yang sejati.

Masalah kita adalah kita sama seperti domba yang tersesat. Tetapi sekarang kita telah kembali kepada Gembala dan Penilik jiwa kita. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa dalam ayat 25 Petrus menggunakan jiwa sebagai sinonim roh. Bukan ini masalahnya. Seorang gembala memperhatikan keperluan jasmani dari kawanan dombanya, dan Kristus Gembala kita memelihara keperluan jiwa kita. Dia bukan Gembala dari tubuh kita; Dia adalah Gembala dari jiwa kita, manusia batiniah kita. Kita semua memiliki roh, dan roh adalah organ batiniah kita. Tetapi diri kita adalah jiwa. Karena itu, Kristus terutama meng-gembalakan kita dengan memelihara jiwa kita. Dia memelihara pikiran, emosi, dan tekad kita.

Kita mungkin berpikir bahwa masalah kita berkaitan dengan tubuh. Tidak diragukan, tubuh memberi kita banyak masalah. Walaupun demikian, masalah kita yang utama adalah jiwa kita. Pikiran, emosi, dan tekad semuanya bermasalah. Orang yang tidak percaya adalah pengembara di dalam jiwa, dan mereka tidak memiliki gembala untuk memelihara mereka. Tetapi situasi kita berbeda karena kita memiliki seorang Gembala yang merawat jiwa kita. Kita tidak hanya memiliki hayat Allah di dalam kita, tetapi juga memiliki Dia sebagai Gembala kita. Dia sekarang menggembalakan kita di dalam jiwa kita.

Saya ingin menanyai Anda mengenai perkara penggembalaan Tuhan menurut pengalaman Anda. Apakah Anda mengalami penghiburan Tuhan dan merasakan penghiburan-Nya dalam roh Anda atau dalam jiwa Anda? Dengan kata lain, di manakah penghiburan Tuhan, dalam roh Anda atau dalam jiwa Anda? Jika Anda mengatakan bahwa penghiburan-Nya berada dalam roh, jawaban Anda tidaklah sesuai dengan Alkitab. Sebelum Anda datang ke dalam pemulihan Tuhan, Anda mungkin tidak tahu bahwa Anda memiliki roh manusia. Tetapi sejak Anda berada dalam hidup gereja, Anda telah melihat wahyu mengenai roh manusia. Tetapi wahyu ini mungkin sekarang telah menjadi suatu bentuk baru dari tradisi bagi Anda. Mengatakan bahwa penghiburan Kristus berada di dalam roh kita adalah berbicara berdasarkan tradisi yang baru mengenai roh. Sering kali kita membicarakan berpaling ke dalam roh, berharap dengan demikian segala sesuatu akan beres. Sesungguhnya, bahkan setelah kita kembali ke dalam roh, banyak hal mungkin tidak beres. Dari pengalaman Petrus bisa mengatakan bahwa Kristus adalah Gembala jiwa kita. Karena itu, Petrus tidak memberi tahu kita dalam ayat 25 bahwa Kristus adalah Gembala roh atau gembala tubuh kita; Dia dengan jelas mengatakan bahwa Dia adalah gembala jiwa kita.

Surat ini ditulis kepada orang Kristen Yahudi yang menderita banyak penganiayaan. Kelihatannya penganiayaan berkaitan dengan tubuh kita secara luaran. Sesungguhnya, penganiayaan ditujukan kepada jiwa kita. Karena yang menderita adalah jiwa kita, yang membutuhkan penggembalaan Tuhan adalah jiwa kita. Bukan tubuh kita yang memerlukan perawatan semacam ini, juga bukan roh kita. Jiwa kitalah — pikiran kita, emosi kita, dan tekad kita — yang memerlukan Tuhan sebagai Gembala.

Dalam pengalaman kita, kadang-kadang kita benar-benar tidak tahu apa yang harus dipikirkan. Kita tidak tahu harus mengarahkan pikiran kita ke mana. Ini adalah suatu petunjuk bahwa pikiran kita memerlukan Tuhan Yesus sebagai Gembala. Saya dapat bersaksi bahwa sering kali dalam situasi sedemikian Tuhan Yesus menjadi Gembala bagi saya. Sebagai hasil penggembalaan-Nya, pikiran kita diarahkan dan disetel ke jalan yang tepat.

Emosi kita yang rumit mudah sekali kacau. Hal ini terutama berlaku bagi emosi para saudari. Karena itu, kita memerlukan Tuhan Yesus menggembalakan kita di dalam emosi kita. Penggembalaan-Nya menghibur emosi kita.

Tekad kita juga memerlukan penggembalaan Tuhan. Sebagai manusia, kita sering kesulitan membuat keputusan yang benar. Kadang-kadang hal yang paling sulit untuk dilakukan adalah membuat keputusan. Orang yang tidak beriman tidak ada yang memimpin dan menuntun mereka mengambil keputusan. Tetapi kita memiliki Gembala yang memimpin kita dan menuntun kita. Pimpinan dan tuntunan Tuhan terutama berkaitan dengan tekad kita. Sebagai Gembala yang hidup, Tuhan terus-menerus mengarahkan tekad kita. Saya tidak dapat mengatakan kepada Anda berapa banyak saya telah mengalami hal ini. Tuhan sungguh-sungguh Gembala jiwa kita. Dia mengarahkan pikiran kita, menghibur emosi kita, memimpin dan menuntun tekad kita.

Menurut pengalaman saya, memimpin berbeda dengan menuntun. Memimpin berkaitan dengan tujuan. Misalkan Anda mengendarai mobil dari rumah ke kota tertentu. Peta perjalanan mungkin memimpin Anda kepada tujuan Anda. Tetapi begitu Anda tiba di kota itu, Anda akan memerlukan seorang penuntun, seseorang yang mengarahkan Anda ke tempat yang Anda tuju. Dalam Alkitab ada beberapa ayat berbicara tentang pimpinan Tuhan, dan yang lainnya membicarakan tuntunan-Nya. Di satu pihak, Tuhan akan memimpin umat-Nya ke tanah yang kudus. Tetapi begitu Dia memimpin mereka sampai di sana, Dia akan menuntun mereka ke Gunung Sion.

Sebagai Gembala kita, mula-mula Tuhan memimpin kita dan kemudian menuntun kita. Dia memimpin kita ke tempat yang tepat, dan Dia menuntun kita kepada titik yang tepat. Inilah Kristus, Gembala kita.

Untuk menjadi Gembala kita yang hidup, Kristus perlu berhuni di dalam kita. Jika Kristus hari ini bukan Roh pemberi-hayat di dalam kita, jika Dia hanya Tuhan yang ditinggikan secara obyektif di langit tingkat ketiga, bagaimana Dia bisa menjadi Gembala kita? Untuk menjadi Gembala kita, Kristus harus beserta dengan kita, bahkan tinggal di dalam kita. Sering kali Dia pergi bersama kita untuk membawa kita kembali. Renungkan bagaimana Tuhan menjadi Gembala terhadap dua orang murid yang menuju Emaus. Murid-murid itu pergi ke satu arah, tetapi Tuhan pergi bersama mereka untuk memalingkan mereka ke arah yang lain. Lukas 24:15 mengatakan, “Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.” Kemudian Dia menanyai mereka apa yang mereka perbincangkan. Dalam arti tertentu, murid-murid ini menegur Tuhan ketika mereka berkata, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari ini?” (ayat 18). Kemudian Tuhan bertanya, “Apakah itu?” (ayat 19). Setelah berjalan bersama, mereka mendesak Tuhan untuk tinggal bersama mereka (ayat 29). Kemudian, ketika Dia mengambil roti, memberkatinya, memecahkannya, dan memberikannya kepada mereka, “terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia” (ayat 30-31). Ini adalah contoh penggembalaan Tuhan.

Kadang-kadang Tuhan menggembalakan kita seperti Dia menggembalakan para murid pada jalan menuju ke Emaus. Kita juga mungkin berbicara dengan Dia dengan cara yang tidak masuk akal atau mengajukan pertanyaan yang tidak masuk akal kepada-Nya. Kita mungkin menegur Dia, dan Dia mungkin berpura-pura tidak tahu apa yang kita bicarakan. Banyak dari kita dapat bersaksi bahwa Tuhan Yesus menggembalakan kita secara demikian. Sebagai Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam kita, Dia adalah Gembala bagi kita dalam pengalaman kita.

KRISTUS, PENILIK KITA

Menurut perkataan Petrus dalam 2:25, Kristus juga adalah Penilik jiwa kita. Saya tidak tahu berapa banyak orang Kristen mengalami Kristus sebagai Penilik, sebagai Penatua.

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa penilik adalah penatua dan penatua adalah penilik. Dalam 5:1-3, Petrus memberikan perkataan kepada para penatua mengenai penggembalaan kawanan domba Allah. Apakah fungsi dari seorang penilik? Kata penilik dalam bahasa aslinya berarti orang yang menilik situasi atau kondisi tertentu. Perkataan ini kelihatannya menunjukkan orang di atas kita yang memandang dan mengawasi apa yang kita lakukan. Bagaimanapun, menurut pengalaman kita, Tuhan sebagai Penilik adalah Orang yang selalu memelihara kita. Dia menilik kita berarti Dia selalu merawat kita. Sebagai Penilik, Tuhan tidak memerintah atas kita. Sebaliknya, Dia merawat kita seperti seorang ibu memelihara anak-anaknya. Seorang ibu menilik anak-anaknya dengan tujuan memelihara anak-anaknya. Dia ingin memperhatikan setiap keperluan anak-anaknya. Begitu pula halnya dengan Kristus sebagai Penilik kita.

Ketika kita membaca 2:18-25, kita nampak bahwa Petrus sangat kaya dalam pengalaman. Dalam bagian ini dia membicarakan anugerah, master tulisan, Juruselamat, Gembala, dan Penilik. Kristus adalah hayat di dalam kita, dan Dia juga adalah teladan untuk kita teladani. Jika kita hidup oleh Kristus sebagai hayat batiniah, yaitu dengan Kristus yang berhuni, kita akan mengalami proses fotokopi rohani menjadi reproduksi Kristus. Pada saat yang sama, kita akan mengalami Dia sebagai Juruselamat yang menyelamatkan kita, sebagai Gembala yang memimpin dan menuntun kita, dan sebagai Penilik yang merawat kita. Oh, pengalaman Petrus sungguh kaya, dan tulisannya sangat indah! Semoga kita semua mempraktekkan menikmati Kristus menurut apa yang diwahyukan dalam ayat-ayat ini. Semoga kita semua menikmati Dia sebagai anugerah, sebagai teladan, dan sebagai Juruselamat yang Ajaib, Gembala, dan Penilik.